Monday 30 January 2012

My Monday Note -- Ketika Serafim Menyerah

Di hari minggu sore, Serafim dan neneknya pergi ke Giant di dekat rumah. Melihat tempat bermain anak yang tersedia di sana, mata Serafim langsung berbinar- binar. Dengan pekikan perang, larilah ia menghambur menuju arena bermain. Neneknya dengan tergopoh- gopoh berusaha mengejar.

Di dalam arena bermain, Sera langsung merangkak memasuki sebuah terowongan kecil. Baru dapat setengah jalan, dua orang anak menyundulnya dari belakang. Serafim meringkuk diam, tergencet oleh anak- anak yang menyerobot berusaha mendahuluinya.

Segera setelah kedua anak itu lewat, Sera keluar dari terowongan, dan berderap menaiki tangga seluncuran. Di atas seluncuran, ia berdiri menunggu gilirannya, karena masih ada anak lain di depannya yang meluncur. Satu demi satu anak- anak dari belakangnya menyerobot Serafim, mendorongnya ke samping, dan berlomba saling mendahului untuk meluncur. Akhirnya, Serafim berhasil juga duduk di atas seluncuran, siap untuk meluncur. Lagi- lagi seorang anak melompat mendahului Sera yang sudah siap meluncur. Dan saat akhirnya Sera nyaris meluncur, seorang anak memanjat naik dari bagian bawah seluncuran. Serafim membalikkan badan dan membatalkan niatnya meluncur. Dia menuruni tangga dan mencari tempat lain.

Serafim kemudian hendak mencoba jembatan gantung, yang jika kita berjalan di atasnya maka jembatan itu akan bergoyang- goyang. Saat ia mulai melangkahkan kaki, dari ujung jembatan satunya dua anak SD menggoyang- goyangkan jembatan dan melompat- lompat sambil memekik- mekik. Bergoyang- goyanglah jembatan dengan hebohnya, dan Sera nyaris terjungkal. Kembali Sera membalikkan badan mencari mainan lain.

Dengan sabar Sera menunggu di depan mainan kereta- keretaan. Ada seorang anak yang sudah duduk disitu. Tunggu punya tunggu, si anak ini tidak juga turun. Serafim menyandarkan tubuhnya ke tiang. Kaki kecilnya mulai capek berdiri. Setelah waktu yang serasa seabad, si anak akhirnya turun juga. Dengan senyum riang, Sera meminta neneknya menaikkan badannya ke dalam kereta. Baru saja neneknya menggoyang- goyang kereta barang lima detik, seorang anak melompat masuk ke samping Sera dengan ribut. Dan menggencet Sera. Kontan Sera mengulurkan tangan meminta dikeluarkan dari dalam kereta.

Kemudian, Serafim menggandeng tangan neneknya. Neneknya berpikir ia ingin mencoba mainan lainnya lagi. Dengan langkah pasti, Sera mengarah ke pintu keluar. Neneknya berpikir Sera salah jalan nih, dan mencoba menggendong Sera serta mengarahkannya kembali ke area bermain. Sera dengan tegas menggelengkan kepala, dan menyeret neneknya ke arah pintu keluar. Begitu menuruni tangga keluar, Sera menuju ke tempat dimana tadi neneknya menaruh sandal mereka. Diambilnya sandal neneknya, dan diangsurkan ke arah neneknya. Kemudian diambilnya sandalnya sendiri, lalu ia meminta bantuan neneknya untuk memasangkan di kakinya sendiri.

Tanpa sekalipun menolehkan kepala ke arah tempat bermain yang awalnya membuatnya sangat bergairah, Serafim melangkah pergi. Tanpa kata, tanpa tangisan, tanpa rengekan. Neneknya dan ibunya berpandangan sambil menghela nafas.

No comments:

Post a Comment