Monday 2 January 2012

My Monday Note -- Ouch

Beberapa jam menjelang pergantian tahun kemarin, saya baru saja meletakkan bokong saya di sofa, teler sehabis menyetir selama hampir sejam lamanya (kata orang Jakarta mah nyetir sejam doang itu biasa wae). Dengan berdesah lega saya mengambil air dingin dan menenggaknya dan kemudian membuka laptop mengecek akun Facebook saya. Satu status menarik perhatian saya. Status itu bercerita bahwa malam itu si teman dan keluarganya sedang makan malam di sebuah restoran. Eh, kemudian balita kecilnya tanpa sengaja menumpahkan Milkshakenya ke lantai. Belum sempat si ibu bertindak, lewatlah seorang pelayan dengan membawa nampan penuh berisi tumpukan gelas dan piring. Dan terpelesetlah si pelayan malang itu, dan berkerompyanganlah berbagai alat makan pecah belah yang dibawanya, berhamburan bertebaran di lantai restoran. Membaca status ini, saya bergumam"Ouch". Sebagai ibu seorang anak balita yang mempunyai tendensi untuk menciptakan kekacauan dimanapun ia berada, saya bisa merasakan bilamana saya yang berada di situasi itu.

Saya kemudian membaca komentar- komentar di bawahnya. Salah satu komentarnya berbunyi "Hahahaha, emang bayi Ana (nama samaran favorit saya) paling bisa deh mencuri perhatian." Komentar berikutnya berkata "Aduh, lucunya kayak di film- film...." (pasti si komentator ini humoris orangnya) Dan komentar- komentar lain yang bernada riang gembira, seperti bila status itu bertuliskan bahwa si bayi kecil bisa melambaikan tangan dan bernyanyi. Kemudian salah seorang temannya bertanya "Terus gimana habis itu?"

Jawaban si ibu dari bayi yang merupakan 'tersangka' penyebab huru-hara itu membuat hati saya sebal. Jawaban si ibu atas komentar temannya bahwa kejadian itu seperti di film- film adalah "Iya, kayak film Warkop aja. Pelayannya sampai doyong- doyong berusaha menahan badannya biar nggak jatuh. Pingin ngetawain tapi nggak tega. Kasian masnya langsung dipanggil bosnya :(." (Gak tega mau ngetawain, memang lembut hati... ).

Dan untuk pertanyaan temannya tentang apa yang terjadi selanjutnya, si ibu yang 'nggak tegaan' orangnya itu berkomentar "Untung nggak ketahuan kalau si Ana yang numpahin milkshakenya. Kita sih diem aja, pura- pura nggak salah, hehehehe."

Dan komentar terakhir si ibu ini yang berhasil membuat jari saya bergerak mengetuk keyboard dan mengirimkan komentar paling sarkasme yang pernah saya kirimkan pada seorang bukan teman dekat "Baguslah, biar pelayannya aja yang harus mengganti rugi semua piring yang pecah."

Sebelum ada yang menuduh saya sok mendramatisir, ada kejadian kira- kira sepuluh tahun lalu yang sangat saya ingat sampai sekarang. Ceritanya, beberapa saudara (atau teman papa???) berkunjung ke rumah kami di Surabaya. Saat makan siang, kami mengajak mereka ke restoran di Makro, yang hanya berjarak lima menit mengemudi dari rumah. Kemudian, makanlah kami semua dengan asyik, sibuk ngobrol ngalor ngidul, sambil mengganyang piring demi piring masakan di meja. Setelah selesai, kami semua beranjak pergi sambil tetap asyik berhaha hihi. Sesampainya di rumah, bapak saya tiba- tiba tersadar bahwa kami tadi langsung pergi tanpa membayar biaya makan siang. Sambil menepok jidatnya, bapak saya terburu- buru kembali ke restoran tadi.

Setengah jam kemudian, bapak saya pulang ke rumah dengan membawa cerita yang membekas di ingatan saya. Menurut bapak saya, sesampainya di restoran, ia menghampiri salah satu pelayan dan bercerita bahwa ia tadi makan di restoran itu dan kemudian pulang tanpa ingat untuk menyelesaikan pembayaran terlebih dulu. Menurut bapak saya, si pelayan langsung pucat pasi wajahnya, dan dengan terbata- bata berkata "Aduh Pak, untung bapak orang baik, jadi bapak balik lagi.... Kalau enggak Pak, kami semua ini yang harus menanggung biayanya......"

Kemudian si pelayan mengajak Bapak ke kasir dan menceritakan kejadiannya ke si kasir. Si kasir, dengan wajah yang sama piasnya, menggeleng- gelengkan kepala sambil berkali- kali mengucapkan puji syukur alhamdulilah. "Kalau Bapak nggak balik... Aduh......". Saya masih ingat sekali ekspresi bapak saya saat mencoba menirukan si pelayan dan kasir (jadinya lebih mirip orang sembelit sih, tapi ya maklumlah, bapak saya kan bukan aktor), dan bahkan tanpa melihat wajah merekapun saya bisa ikut merasakan bagaimana 'bergejolaknya' hati mereka (oke, now I'm officially ababil).

Makan siang kami saat itu menghabiskan sekitar 300 ribu rupiah, dan pelayan yang bertugas berjumlah sekitar tujuh orang. Jadi, bila saja bapak saya tidak membayar makan kami, masing- masing pelayan harus dipotong gaji 40 rebu. Dan bahkan hanya prospek dipotong gaji 40 ribu saja sudah bisa membuat para pelayan itu terkencing- kencing di celana (tanpa satu orangpun menjadi tersangka tunggal yang menghadapi resiko dipecat karena ini adalah kesalahan berjamaah), maka anda sekarang bisa membayangkan kan, apa yang dihadapi oleh pelayan malang yang di depan semua tamu restoran menjatuhkan semua peralatan makan nan mahal?

Di malam menjelang pergantian tahun, dimana mungkin si pelayan malang berharap sepulangnya dari tugas di restoran ia akan bisa merayakan tahun baru dengan menyalakan kembang api bersama putri kecilnya yang mungkin seusia dengan Sera, dengan harapan di tahun yang akan datang ia akan bisa membelikan sepeda kecil berwarna pink yang diinginkan putrinya sebagai hadiah ulang tahun. Oh call me sinetron victim, tapi membayangkan somebody's dad, or somebody's husband harus kehilangan uang ratusan ribu untuk mengganti barang yang dipecahkannya (dengan gaji yang mungkin hanya 300 ribu sebulan), dipermalukan di depan puluhan pengunjung dan sesama pegawai, didamprat bos dan kesalahannya dimasukkan ke dalam penilaian kinerja, not to mention kemungkinan dipecat, somehow hal ini tidak menggelitik syaraf humor saya at all. Saya tidak bisa menemukan sisi yang lucu dalam kisah ini. Bahkan kalau itu bukan disebabkan kesalahan balita saya.

Okelah mungkin teman saya yang memasang status di FB ini tidak memiliki pengalaman seperti saya, yang kebetulan mengetahui betapa berat resiko yang harus dihadapi seorang pelayan atas kesalahan yang mengakibatkan kerugian material bagi tempat kerjanya (karena kemudian teman saya membalas komentar saya dengan nada bersalah "Mudah- mudahan sih enggak ya Meg, kan si pelayan nggak sengaja"),dan saya mencoba memahami sikap kurang kesatrianya yang diam saja pura- pura tidak bersalah (karena di Indonesia, menolong korban kecelakaan saja bisa membuat si ksatria penolong malah digebukin warga), tapi merasa geli saat melihat orang lain berada dalam kondisi bencana; berusaha keras menahan keseimbangan dan gagal? Is that decent? Dan kondisi bencana yang disebabkan oleh pihak kita? Oh great.

Dan bahkan disaat senyuman yang muncul saat melihat orang lain jatuh bisa dimaklumi sebagai reaksi refleks semata, tapi melihat si pelayan kemudian dipanggil bosnya, dan alih- alih merasa iba serta sulit tidur karena rasa bersalah sudah menyebabkan sesama manusia menderita, teman saya malah memilih untuk menceritakannya di FB dan mengakui bahwa ia geli akan kondisi si pelayan yang doyong, dan mengakui bahwa ia diam saja meskipun mengetahui seseorang harus menanggung resikonya. Seperti bercerita di FB bahwa tadi saya tanpa sengaja melindas anak kucing dengan mobil saya, dan saya menjadi geli saat melihat bola matanya yang keluar dari soketnya (tapi nahan ketawa sih soalnya kasihan), dan saat yang punya anak kucing datang saya diam saja pura- pura tidak bersalah. Ya, saya mungkin akan diam saja tidak mengaku, tapi saya pikir saya akan mendapat mimpi buruk di malam hari karena rasa bersalah sudah mencelakai makhluk lain. Menuliskan 'kekejaman' saya dengan bangga di FB? Saya tidak yakin saya seberani itu.

Diluar insiden pelayan terpeleset diatas, seorang bule guru bahasa inggris di tempat kursus saya dulu pernah melontarkan pertanyaan di kelas. Dia mengutarakan keheranannya kenapa di sini, saat seseorang terpeleset saat hendak naik ke angkot, atau terantuk atap angkot saat hendak turun, maka reaksi mayoritas orang- orang disekitarnya adalah tersenyum atau tertawa. Orang yang terpeleset itu kan sakit atau paling tidak kaget, seharusnya ditanya apakah dia baik- baik saja dong, bukan ditertawakan. Pertanyaan itu sempat membuat saya berpikir, "Iya ya, kenapa kita suka menertawakan kesialan orang lain?"

Seorang teman saya berargumen bahwa kejadian kepleset di angkot itu kan hanya perkara kecil, jadi belum sampai taraf perlu dikasihani. Masih ada lucunya lah. Saya bisa mengerti argumennya, tapi masalahnya, kita kan tidak mengenal si orang asing yang sial terantuk atap bemo di sore hari ini. Mungkin di pagi hari ia sudah terlambat masuk kantor karena melekan semalam suntuk begadang menunggui anaknya yang sakit muntaber, kemudian di siang hari terpaksa membeli makan siang karena istrinya tidak sempat membuatkan bekal, kemudian di sore hari dimarahin bos karena tidak konsen saat bekerja. Beberapa meter di depan rumahnya, dengan pikiran kalut memikirkan biaya untuk menebus obat bagi anaknya, terantuklah ia karena kurang waspada. Dan kemudian orang se-angkot tertawa melihat kesialannya yang tampak lucu. Haha, tertawa itu menyehatkan dan membuat bahagia lho. Life's beautiful, isn't it? For us.

Seorang teman saya yang lain berargumen bahwa hidup itu kan susah dan berat, jadi melihat hal lucu seperti itu menimpa orang lain ya bisa bikin ketawa dan meringankan beban hidup (I offer no comment now).

Di majalah sains terbitan Australia, saya membaca satu artikel yang memuat penelitian mengenai alasan orang tertawa saat melihat kesialan orang lain. Saya tidak ingat keseluruhan artikelnya, tapi saya ingat kalimat ini : Coba anda ingat- ingat apa reaksi anda saat melihat seorang asing jatuh terpeleset atau menumpahkan kopi di kemeja putih mereka. Bila anda tertawa atau tersenyum atau merasa kejadian itu lucu, maka itu tandanya anda memiliki tingkat kebahagiaan dan kepercayaan diri yang rendah. Bahagia melihat kemalangan orang adalah salah satu indikasi kepercayaan diri yang rendah.

Saya sendiri pernah juga sih tertawa saat seseorang terantuk atap angkot atau saat teman saya tersandung batu. Terkadang hal itu memang lucu, apalagi kalau si korban juga nyengir dan menganggap apa yang menimpanya adalah suatu kelucuan (bayangkan kalau yang tersandung teman saya si Putri yang cantik jelita, disaat cowok- cowok berbondong- bondong menolong, saya akan tertawa-- iya saya sirik karena tidak akan ada cowok yang menolong saya bila saya jatuh). Tapi mungkin at least saya harus memperhatikan reaksi si korban dulu. Kalau ia tertawa, maka bolehlah saya tertawa. Kalau dia tidak tampak menikmati kesialannya, yah lebih baik pasang tampang netral kalau toh saya tidak bisa memaksa diri menunjukkan wajah prihatin dan berucap "Nggak apa-apa kan Mbak?"

Note : biarlah si ibu ini saja yang berkomitmen untuk menjadi ibu yang lebih baik di tahun yang baru, berusaha membahagiakan orang lain, dan menjadi warga negara yang taat pajak serta istri teladan. Resolusi tahun baru saya hanya sederhana sajalah, sekedar meningkatkan level kebahagiaan dan kepercayaan diri saya sendiri, jadi saya tidak perlu melihat kemalangan orang lain untuk bisa membuat saya tertawa...

Hayo, anda kasihan atau tertawa melihat ekspresi 'kebeletnya' Sera?

No comments:

Post a Comment