Monday 9 January 2012

My Monday Note -- Working Mom vs Full time Mom

Masalah kalau sudah punya anak sebaiknya si ibu itu bekerja atau tinggal di rumah merawat anak sepertinya sudah menjadi perdebatan klasik. Akhir- akhir ini, entah kenapa saya sering membaca status angot di FB terkait hal ini. Emak yang bekerja ngomel karena dianggap bukan ibu sesungguhnya karena tidak merawat sendiri anaknya. Emak yang ngendon di rumah saja ngomel karena dianggap hanya 'diam saja' di rumah dan menyia-nyiakan ilmu yang sudah didapatnya di kuliah. Bagaimana dengan saya? Sebetulnya sih saya tidak peduli- peduli amat apapun pendapat orang lain soal diri saya, toh saya nggak minta makan dari dia. Suka- suka dialah mau mengganggap saya tidak mau berkorban demi anak dengan memilih tetap bekerja, atau sebaliknya hanya ingin jadi ibu- ibu tukang rumpi berdaster yang hanya senang ongkang- ongkang kaki di rumah. Tapi, karena saya butuh menulis note, sekarang saya akan berusaha peduli, hehehehehe.

Dulu, sewaktu saya masih tinggal di Jakarta, saya bekerja. Full time. Lima hari seminggu. Sering keluar kota, sering lembur juga. Bahkan setelah saya mempunyai Sera. Si Sera di rumah dijaga oleh seorang baby sitter yang dalam pandangan saya cukup pintar orangnya; tahu bagaimana caranya menentukan mana ASI perahan yang harus dikeluarkan dari freezer dan bagaimana memanaskannya, tahu bahwa saya mengharap Sera selalu makan dengan tertib di meja, dan yang terpenting, si embak ini sayang sekali sama Sera. Pokoknya, saya yakin embaknya Sera jauh lebih bermutu dari kebanyakan embak- embak lain. Kalau saja dia mempunyai kesempatan sekolah tinggi, dia bakal jadi orang yang sukses juga.

Sekarang, di Australia, sudah hampir setahun saya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Mengurus semua kebutuhan suami dan anak sendiri, dengan sepenuh hati saya. Juga merapikan rumah. Semua kegiatan mulia itu menghabiskan 50% waktu saya. Sisanya? Habis untuk bikin note, menulis status di FB, mengomentari statusnya teman, upload foto Sera, berusaha memotong poni si Sera biar lurus, wah pokoknya sibuk sekali deh hidup saya! Telapak kaki saya sekarang mulai kapalan yang berbentuk seperti surga kayaknya :D.

Sesudah merasakan menjadi seorang ibu karir dan ibu rumah tangga, saya berusaha obyektif bahwa masing- masing hal itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Seperti semua pilihan di dunia ini. Apa untungnya kalau saya sendiri yang merawat anak saya? Nah, si embaknya Sera yang saya puji pintar itu (dia bahkan lebih ahli mengoperasikan berbagai peralatan elektronik dan menyalakan generator dibanding saya) berteman dengan saya di FB (oh iya dong, jelas beliau punya akun FB). Dan kemarin, saya dan suami saya terbahak- bahak membaca percakapan mesra si embak dan suaminya. Untuk yang tertulis dalam bahasa Jawa, saya akan menterjemahkan. Yang dalam bahasa alay, saya ogah.

Embak : PuSiNg,,,,??
Suami : pusig knapa??
Embak : kepalaku psing honay
Suami : la gne oww,,mnm obat skrg??
Embak : emg udh ympk cxang ko fb an,,udh mnum obat ko cxangku,,,?
Suami : nak cepetkan penak to sygq? kalau cepat kan enak to sayang
Embak : ora penak,,,? enggak enak
Suami : truss,,,pye ben penak??? terus, gimana biar enak?
Embak : dipaske yo penak tho cxangku,, kalau dipaskan kan ya enak sayang
Suami : ayow kenthu to sygq?? (saya menoleh ke suami dan bertanya apa arti kenthu)
Embak : etr klo plg ya cxangku,,,

Pesan moralnya: sepandai- pandainya si embak, meskipun dia bisa mengikuti semua instruksi saya soal bagaimana memasak untuk Sera, pelembab dan sabun mana yang harus dia aplikasikan ke badan Sera, ya saya tidak bisa berharap bahwa dia akan mampu mendidik Sera dengan cerdas kan? Saya harus menerima nasib saat si embak memilih menyetelkan lagu ST12 sebagai lagu nina bobok bagi Sera (musik klasik bikin kepalanya pusing). Dan saya hanya bisa pasrah saat si embak dengan bangga memamerkan model rambut yang menurutnya 'keren banget' untuk Sera, kuncritan 1000 air terjun, yang dalam sekejap mengubah anak saya jadi mirip kucing kampung kecebur selokan. Dan tentu, what can I do saat si embak mengajak Sera berbicara dengan logat medoknya atau sibuk menelpon dan berantem dengan pacarnya di telepon.

Bagi saya, keuntungan terbesar saat seorang ibu memutuskan untuk mengurus anak kecilnya sendiri adalah dia bisa merawat dan mendidik sesuai hasratnya. Dan meskipun jaman SMA dulu saya juga selalu mengikuti ujian perbaikan matematika, at least kan saya tidak se-alay itu mengajak suami saya ngeseks di wall FB seperti si embak. Oh dear Lord..... Dan bahkan saat si anak dirawat oleh neneknya misalnya, bukan berarti akan bisa menyamai si ibu. Tetangga saya disini yang seorang nanny pernah berkata ke saya, bahwa nenek dan kakek cenderung memanjakan dan tidak pernah melarang cucunya. Akibatnya, ya si cucu mempunyai tendensi untuk manja dan lebih seenak udelnya. Entahlah teori itu benar atau salah, tapi tentu semua orang setuju bahwa orang tua adalah pendidik terbaik bagi anaknya.

Saya merasakan sendiri saat sekarang saya memegang Sera 100%. Saya jadi orang yang paling mengenal anak saya, dan saya bisa benar- benar menyelami kebutuhan si anak. Misalnya mendeteksi ketakutan Sera pada orang asing, dan segera mengambil langkah untuk mengajari Sera mengatasi ketakutannya. Sebetulnya, sejak masih di Jakarta dulu, Sera sudah memperlihatkan gejala takut yang berlebih pada orang lain, tapi karena saya hanya mendengar cerita dari si embak dan sekilas- sekilas melihat, saya tidak mendapatkan first hand experience. Saya tidak tahu seberapa parah masalah itu. Dan pendidikan di tiga tahun awal kehidupan si anak adalah yang paling penting bukan? Penentu pondasi masa depannya kelak.

Lalu, apa keuntungannya saat si ibu memilih menjadi wanita karir, terus bekerja mencari nafkah? Jelas, dari segi ekonomi dong. Dengan penghasilan yang dobel didapat dari dua orang, maka lebih banyak impian yang bisa diraih, dimana banyak dari impian itu ada hubungannya dengan anak juga. Di Indonesia, sekarang masuk TK saja bisa menghabiskan duit jutaan dalam sekejap. Belum membayangkan SD, SMP, apalagi impian kuliah di keluar negeri. Saat ini, saya tidak bekerja. Dan efeknya sudah langsung kami rasakan sekarang. Oh memang gaji Okhi lebih dari cukup, tapi kemarin saat kami menemui konsultan untuk berbicara masalah cicilan untuk membeli rumah, kami hanya bisa meminjam dari bank sejumlah uang, misal 5 juta rupiah. Kalau saja saya bekerja, dengan gaji hanya setengah gaji Okhi saja, maka kami akan bisa meminjam dari bank sebesar 7 juta rupiah. Emang apa efeknya? Dengan 5 juta, kami hanya mampu membeli rumah di daerah agak ke pinggir, dimana kualitas sekolah negeri (disini sekolah berdasar rayon) tidak terlalu bagus dan lingkungannya tidak terlalu kondusif. Dengan pinjaman 7 juta, kami akan mampu menyicil rumah di daerah yang bagus, dimana komposisi penduduknya sebagian besar pegawai kantoran, bukan pekerja kasar. Sekolah negerinya pun mempunyai kualitas setara sekolah swasta favorit. Again, toh ujung- ujungnya semua yang kita lakukan adalah untuk anak kita kan? Mampu menyekolahkan di tempat yang bagus, mampu membiayai kursus dan les piano, mampu membelikan mainan dan baju.

Dengan bekerja, kita juga akan mandiri dalam hal finansial. Jika di masa depan terjadi sesuatu yang menghalangi suami kita mencari nafkah (masa depan siapa yang bisa menebak... baru saja saya mendapat kabar suami seorang teman yang sebaya dengan saya meninggal dunia, ada juga suami seorang teman yang minggat bersama pacar gatelnya). Walau hati mungkin hancur, tapi paling tidak kita tenang karena masih bisa menghidupi anak kita.

Itu dari segi keuntungan masing- masing pilihan. Kalau kerugiannya ya tinggal dibalik, saat bekerja berarti kita harus menerima anak kita sebagian hidupnya dipelihara oleh mereka yang tidak sebaik emaknya, sementara kalau memilih tinggal di rumah ya berarti uang tabungan di bank akan lebih sedikit jumlahnya, dan mungkin nantinya si kecil tidak akan bisa kuliah di universitas yang bagus tapi mahal.

Tapi apabila kemudian saya ditanya, misalnya nih si Okhi tuh gajinya sudah dua kali lipat gajinya dia sekarang, dan kami bisa membeli rumah di area yang bagus disini (kesimpulannya secara ekonomi kami sudah berlebih lah tanpa saya perlu bekerja), apakah saya kemudian akan tinggal di rumah saja? Mungkin bila dilihat semata dari masalah keuntungan saja, akan lebih menguntungkan bila saya tinggal di rumah saja. Anak saya terurus, toh ekonomi keluarga sudah terjamin. Tapi, walaupun dilihat dari kacamata logika saya seharusnya menjawab bahwa saya akan tinggal di rumah saja, tapi kemungkinan besar saya akan menjawab bahwa saya tetap ingin bekerja. Karena, disamping soal untung dan rugi, ada satu faktor lagi yang sering terlupakan dalam menjatuhkan pilihan apakah sebaiknya seorang ibu tinggal di rumah atau bekerja; bagaimana perasaan si ibu, apa keinginannya?

Apakah saya mencintai anak saya? More than world.But sometimes, I hate being a mom. Salah seorang teman pria saya pernah berkomentar, kan enak jadi ibu rumah tangga, hanya di rumah mengurus anak, dan mendapatkan uang dari suami. Tapi kenapa banyak wanita yang tidak mau menjadi ibu rumah tangga? Jawaban saya untuk pertanyaannya adalah: Kamu coba deh, kamu hanya tinggal di rumah selama sebulan saja, mengurus anak, mengurus rumah, dan mengurus istrimu. Nanti kamu akan menemukan jawaban kenapa menjadi ibu rumah tangga saja itu bukan suatu pilihan yang mudah.

Menghabiskan waktu seharian hanya dengan memberi makan anak, memandikan, memarahi saat dia salah, menenangkan saat dia menangis, menceboki sehabis dia pup, menyapu dan mengepel rumah, mencuci piring, menyetrika segunung cucian, apakah itu terdengar sangat menarik? Iya, dengan tinggal di rumah kita berkesempatan 'mengembangkan' kepandaian dan kemampuan anak kita. Ya mungkin memang dengan dididik ibunya si anak akan menjadi jauh lebih cerdas, tapi dalam penerapannya di kehidupan nyata, tujuan heroik semacam itu terkadang terkubur dalam rentetan pekerjaan rumah tangga yang 'menantang banget....'.

Sebagai seorang manusia dengan pendidikan yang tinggi, dengan pengalaman bekerja sebagai seorang profesional, saya butuh berinteraksi dengan sesama orang dewasa. Bukan sekedar mencoba memahami ocehan si balita (Dis dis, itu berarti Sera minta cium). Saya rindu berdiskusi mengenai produk yang mana ya yang sebaiknya diluncurkan bulan ini setelah melihat kompetitor meluncurkan produk baru, bukan sekedar obrolan "Si Sera lagi doyannya makan melon nih hari ini." Saya rindu bercanda dan menjadi bagian dari suatu komunitas profesional, bukan hanya memasang sepatu keds saya dan mengantar Sera ke kelas bermain, dan kemudian mengobrol dengan emak yang lain soal tupperware lagi promo lho, Childcare yang di Ferntre Gully itu bagus deh.... Dan iya sekarang Sera masih butuh saya banget, lha nanti kalau dia sudah SMA? Kan hanya mlongo sendirian di rumah saya jadinya (mana ada juga perusahaan yang mau menerima wanita paruh baya yang sudah tidak bekerja selama belasan tahun)

Apakah saya egois karena memikirkan kesenangan saya sendiri? Mungkin. Tapi memang keluarga saya kan bukan keluarga Budi di buku pelajaran bahasa Indonesia jaman SD dulu. Yang ibunya selalu bangun paling awal, tidur paling akhir, dan selalu paling sibuk menyiapkan semua kebutuhan Bapak Budi, anak Budi, dan adik Budi. Yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, dan hidupnya memang hanya diabadikan untuk keluarganya.

Begitu juga saat ada seorang ibu yang pintar otaknya, berkemampuan tinggi, dan kemudian memilih untuk menjadi ibu rumah tangga saja. Padahal mungkin penghasilan suaminya juga bukannya tinggi sekali, yah rata- rata gaji orang Indonesia lah. Padahal mungkin toh ia hidup bersama ibunya, jadi sebetulnya anaknya bisa dititipkan ke ibunya. Tapi kemudian dia memilih menjadi ibu rumah tangga saja, tidak bekerja sama sekali. Kalau dipikir dengan logika, kalau saja ia bekerja, mungkin jadinya keluarga ini akan lebih mampu secara ekonomi, tidak seketat sekarang dalam mengatur pengeluaran. Tapi itulah pilihan hidup, mungkin si ibu memang tipe orang yang tidak bisa berpisah dari anaknya, yang selalu merasa bersalah setiap meninggalkan anaknya. Mungkin ia memang bahagia kalau dia sendirilah yang 100% mengurus anaknya, dan menjadi orang yang pertama kali menyaksikan saat si anak bisa duduk sendiri.

Selama saya yakin bahwa pilihan yang saya ambil adalah pilihan yang sudah dipikirkan dengan matang, sudah disetujui oleh diri saya dan suami saya, sudah dipikirkan efeknya bagi semua pihak di masa kini dan masa depan, ya itulah keputusan yang terbaik. Entah apakah itu berarti saya bekerja full time, atau berbisnis dari rumah, atau sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga.

Tentu saya akan merasa bersalah kalau saat saya bekerja, yang berarti saya sudah memilih mengorbankan waktu untuk mendidik si anak, dan kemudian semua gaji saya habis untuk belanja baju misalnya, bukannya ditabung untuk kuliah si Sera. Atau sepulang bekerja, saya selalu nongkrong dulu atau jalan- jalan sampai larut ke mall, sehingga saya tidak sempat melihat anak saya sebelum ia tidur. Dan sebaliknya, saat saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja, yang berarti mengorbankan ekonomi keluarga, dan kemudian di rumah saya menghabiskan waktu hanya untuk chatting dan FB an, dan membiarkan anak saya diasuh oleh televisi dan berbagai sinetron suster ngesot minta keramas (kalau begitu sih apa lebihnya saya dibanding si embak).

Kalau saya masih sangat terganggu dengan pendapat dan anggapan orang akan pilihan yang saya ambil, mungkin saya harus berkaca pada diri saya sendiri. Mungkin yang membuat saya masih jengkel akan pendapat orang adalah karena deep down inside saya belum yakin bahwa keputusan yang saya ambil itu sudah tepat. Mungkin saya sebetulnya masih merasa bersalah karena sudah memutuskan untuk bekerja (yang berarti 'menelantarkan' anak) atau bersalah karena hanya tinggal saja di rumah dan menyia-nyiakan pendidikan saya. Kalau saya memang sudah mantap dengan pilihan saya, seharusnya saya tidak perlu merasa terganggu dengan apapun pendapat orang. Jadi, yang perlu saya lakukan adalah berdamai dengan suara hati saya, agar saya tidak harus naik darah setiap ada yang menanyakan pilihan saya.

Note: butuh waktu beberapa bulan bagi saya untuk berdamai dengan diri saya sendiri, saat kondisi memaksa saya untuk tinggal di rumah. Dulu awalnya, saat ada orang bertanya apakah saya bekerja, saya selalu menjawab dengan panjang lebar kenapa saya tidak bekerja, menekankan bahwa saya tidak bekerja karena si Sera yang tidak bisa ditinggal (bukan karena saya malas atau tidak bisa menemukan pekerjaan). Sekarang, saya sudah bisa menjawab dengan santai saat ditanya "Ya kan enak, si Okhi sibuk kerja di kantor, aku di rumah bisa selingkuh sama tukang2 ganteng." Tidak ada lagi kebutuhan untuk melakukan pembelaan atas pilihan hidup saya, jadi saya juga tidak merasa perlu menulis di status pekerjaan di FB "A happy full time dedicated house wife". I'd rather say "Stay at home parent".

Oya, pesan sponsor, kalau yang bekerja memang hanya suami kita, I think it's wise to have a life insurance. Bila sesuatu yang buruk terjadi, masa depan anak kita tidak harus menjadi kelabu karena kekurangan duit.

Bukti bahwa saya adl pendidik terbaik bagi Sera, kekekeke

1 comment:

  1. Mungkin hampir semua ibu rumah tangga merasakan hal yang sama seperti yang pernah dialami Ibu. Memilih peran ibu rumah tangga fulltime karena merasa itulah yang terbaik untuk anak, tapi di sisi lain, khawatir dipandang rendah dan aneh karena di masyarakat, arus untuk menjadi wanita karir lebih besar. Saya juga punya blog yang saya tujukan untuk mendukung ibu-ibu rumah tangga. Semoga kita bisa saling dukung ya... www.iburmhtangga.blogspot.com

    ReplyDelete