Monday 27 February 2012

My Monday Note – Berhadapan dengan balita 2 tahun

Dulu sewaktu Sera masih kecil, saya lebih merasakan capek secara fisik. Capek ikut melekan di malam hari bak sundel bolong, capek mencoba menidurkan, capek mengejar- ngejarnya untuk mengompres dahinya yang sedang demam, dan capek mencoba melarangnya memanjat berbagai benda yang ditemuinya; guci keramik, pagar besi, meja TV. Sekarang, semakin beranjak besar si Cekci, rasa capeknya berimbang, setara antara capek fisik (membantu mengangkat bokong semoknya ke atas seluncuran) dengan capek batin. Si anak pesut satu ini sekarang sudah bisa menggeleng, menolak perintah dan menggunakan teriakan melengkingnya sebagai senjata.

Saya sering merasa kewalahan juga jadinya dalam menghadapi 'kebandelan' Sera. Maklum saya kan bukan psikolog anak, hewan ternak, ataupun dukun beranak, jadi ilmu saya cetek adanya. Dangkal. Tapi, ada beberapa hal yang kemudian saya pelajari, hasil dari mengingat kesalahan yang saya lakukan saat menghadapi si genduk. This is what I have learnt, sebagian kecil yang sudah saya sadari dari pengalaman saya sendiri (sementara masih banyak hal lain yang masih gelap juga bagi saya)

1. Jangan Obral Kata JANGAN

Kemarin, saya makan siang di bakmi GM. Disebelah saya duduk seorang ibu dengan dua orang anak kecilnya. Sepanjang 15 menit saya menyantap mi saya, si ibu tanpa henti berkata- kata semacam ini "Jangan ditendang bangkunya", "Jangan diaduk- aduk mie nya", "Jangan berantakan makannya" dan sederet kata jangan untuk berbagai hal. Saya yang duduk disebelahnya, sampai risih mendengarnya. Si ibu ini teruuuuussss saja nyerocos melarang anaknya melakukan berbagai hal, baik yang memang nyata- nyata adalah kenakalan (seperti menendang- nendang kursi) sampai yang menurut saya hanya kenakalan imajiner. Saya sampai berpikir ni ibu hanya senang saja mendengar suaranya sendiri, makanya dia keep saying JANGAN. Nah, kalau saya risih mendengar si ibu, bagaimana dengan kedua anaknya? Saat saya melirik kearah mereka, si kakak dan si adik tampak tidak terpengaruh. Cuek. Contoh nyata peribahasa masuk telinga kanan keluar dengkul kiri.  

Okelah, saya sih jelas bukan orang sarap kayak si ibu bawel itu. Tapi kadang, saya juga senang 'iseng' mengatakan jangan atau nggak boleh kepada Sera. Misalnya nih, saat Sera meraih dompet saya dan mulai mengeluarkan kartu-kartu saya. Otomatis saya akan berkata "Jangan Ser." Tapi sebetulnya, saya tidak benar- benar keberatan dompet saya diacak- acak Sera. Jadi biasanya, dengan setengah hati saya akan berkata jangan, tetapi tidak menindaklanjuti larangan saya itu. Atau kemarin di bandara saya mendengar seorang ibu yang melarang anaknya berdiri di atas kursi ruang tunggu. Beberapa kali dia berkata jangan dan mencoba menurunkan anaknya. Tetapi saat anaknya kemudian naik lagi ke atas kursi, ibunya membiarkan saja karena memang sepertinya sih si ibu ini seperti saya; melarang dengan setengah hati.

Pertanyaan saya, lalu bagaimana kemudian saya berharap Sera akan menganggap serius saat saya dengan suara keras berkata "JANGAN" saat ia bersiap membanting gelas kaca atau memegang knalpot sepeda motor? Apa bedanya kata jangan 'iseng' saya saat melarangnya membuka dompet dengan kata jangan 'serius' saat ia hendak memukul ajah temannya? Mengharapkan anak dua tahun akan mampu membedakan antara kata jangan yang iseng dan yang serius, itu namanya emaknya yang bloon.

Dan saya memang bloon. Sampai kemudian saya sadar ini kenapa kata jangan yang saya lontarkan tidak terlalu memberi efek bagi Sera yah? Sejak saat itu, saya mencoba untuk tidak mengobral kata jangan. Saat Sera hendak membuka pintu lemari dapur yang berisi panci dan kaleng yang menarik hatinya dan relatif tidak berbahaya (tetapi di sebelahnya ada piring kaca yang bila dibanting ya pecah), ya saya harus memutuskan. Kalau saya melarang Sera karena takut dia memecahkan piring, ya saya harus dengan tegas melarang dan memastikan Sera mengerti bahwa dia tidak boleh membuka lemari dapur sama sekali. Atau jika saya memang membolehkan, ya sudah nggak usah iseng bilang jangan, tapi membiarkan saja (dan nanti saat Sera memecahkan piring kemudian mengomel "Udah dibilangin jangan dibuka ngeyel. Sekrang pecah kan!!!!")

Never ever memberikan larangan pepesan kosong yang kalau diturutin ya syukur, kalau enggak ya emaknya hanya bakal merepet ngomel "Nggak bisa dibilangin kok ini anak" tanpa tindakan nyata untuk melarangnya. Saat saya berkata jangan kepada Sera, saya harus dengan sepenuh hati memastikan Sera mematuhi. Sejak saya menemukan 'pencerahan' itu, kata jangan yang terlontar dari mulut saya berkurang drastis. Tapi, untuk setiap kata jangan yang saya keluarkan, saya harus memberikan effort ekstra keras nan konsisten agar Sera tahu her mom really means it when she says NO!

2. Okhi Tidak Mempedulikan Omelan Saya? Apalagi Sera

Ini mungkin penyakit emak- emak, mengomel. Suatu ketika saya sedang keluar masuk toko hendak mencari celana jins. Begitu mulai memasuki toko, Sera mulai merengek. Menangis dan rewel, membuat saya tidak bisa memilih dengan leluasa. Saat itu saya mengalah dan mengurungkan niat berbelanja. Beberapa hari kemudian saya pergi ke Pasar Atom. Tidak seperti saat mencoba membeli celana jins yang tidak urgen, kali ini saya memang benar- benar butuh berbelanja cardigan dan mencarikan parfum nya si Okhi yang sudah habis. Dan mulailah Sera kembali merengek dan bertingkah menyebalkan setiap saya masuk ke salah satu toko dan memilih- milih baju. Saya benar- benar jengkel dan habis kesabaran. Pergi ke Pasar Atum itu membutuhkan usaha, dan saya memang benar- benar membutuhkan barangnya. Kemudian di salah satu toko saya menuju ke kamar pas untuk mencoba baju. Saya menggendong Sera yang menangis dan merengek, dan saat saya hendak menurunkannya dari gendongan agar saya bisa mencoba baju, ia menolak turun. Berusaha tetap berada di gendongan saya. Saya benar- benar jengkel dan frustasi. Saya mulai mengomel dan dengan gemas merepet soal betapa menyebalkannya Sera, betapa nggak pengertiannya Sera, betapa jengkelnya saya padanya. Dan Sera tetap berusaha naik ke gendongan dan menolak turun sambil menangis. Saking jengkelnya, saya gebuk bokongnya (she used thick diapers) dan nyaris saya pluntir tangannya saking frustasinya (saya menggertakkan gigi dan meninju tembok demi mencegah saya membuat lengan kecilnya Sera membiru terkena cubitan saya).

Oh saya tahu bahwa menyakiti anak secara fisik itu tidak dibenarkan dan tidak mendidik. Tapi ada saatnya dimana seorang emak benar- benar kehabisan kendali dan kesabaran. Lalu kemarin, saya menemani mama ke Plaza Marina untuk mencari handphone. Eh tanpa sengaja kami melihat butik kecil yang memajang banyak kaus lengan panjang yang begitu imut- imut. Terus terang, mencari kaos lengan panjang untuk si Sera adalah perjuangan, karena ya nggak laku lah barang begituan di Indonesia yang panas, sementara di Australia mahal sekali harganya. Saya benar- benar merasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja saya membuka pintu butik dan melangkah masuk, Sera yang tadinya menyanyi- nyanyi dengan riang seketika mulai merengek. Saat saya tetap membawanya masuk ke dalam toko, dia benar- benar menangis dan menjerit. Impossible saya bisa meneruskan berbelanja. Tapi saya kemudian bergumam "Not this time Sera."

Saya gendong Sera keluar dari toko, dan tangisnya segera mereda. Oh she really used her scream as a weapon. Sambil tetap menggendongnya, tangan kanan saya memegang dagunya dan dengan raut wajah serius dan bersungguh- sungguh, saya berkata "Sera dengerin mama."

Sera berusaha menolak bertatapan dengan saya, tapi saya bergeming. Sambil tetap tangan saya memegang dagunya, dengan suara sangat tegas saya berkata "Mama butuh masuk ke toko ini. Mama butuh belanja baju untuk Sera dan untuk mama. Can you understand me? I'm only asking for couple minutes. No crying, no screaming. Do you understand? Are you a good girl? Do you understand what I'm saying? Now we're going back inside, and no screaming. You are a good girl." Setiap kata saya ucapkan dengan penekanan dan perlahan.  

Kemudian saya melangkah masuk sambil menggendong Sera. Sera menekuk bibirnya seperti yang biasa dilakukannya saat dimarahi. No crying and screaming whatsoever. Selang beberapa menit , saya tersenyum kearahnya dan berkata "You are a good girl. I'm so proud of you." Dan selanjutnya, saya memilih baju sementara Sera sibuk menjelajah ke seantero butik dengan riang.

Saya juga nggak tahu teori soal ini, hanya saat saya mengomel, saat saya menghadapi Sera dengan frustasi hingga ingin menangis, entah kenapa Sera tidak mendengarkan. Tapi saat saya berkata kepadanya dengan serius, dengan bersungguh- sungguh, tidak dengan nada mengomel dan merepet, I think she realizes that her mom means business. Dan bahwa emaknya bersungguh- sungguh dengan ucapannya, bukan sekedar sedang berkicau.

Tentu saya juga harus berkompromi. Saya tahu Sera benci kegiatan belanja, maka saya juga harus bertenggang rasa. Paling banter saya masuk keluar empat buah toko, tidak lebih. Karena kalau Sera sudah sangat bosan dan bete, dia tidak akan lagi mempedulikan apapun yang saya katakan.

3. She's not Einstein (yet)

Minggu lalu saya mengajak Sera berjalan- jalan di supermarket bersama neneknya dan kakak sepupunya. Dengan riang gembira kedua bocah ini menjelajah seantero rak. Tangan- tangan mereka menyentuh jeruk dan berucap "Orange" lalu menyentuh strawberry sambil menyebutkan namanya. Begitu terus, juga terhadap botol- botol sabun dan sampo yang berjajar di rak. Saya membiarkan karena no harm done. Sampai kemudian kami beranjak menuju ke rak yang memajang aneka jenis roti. Saat saya menoleh, saya melihat jari kecil si Sera bergerak hendak meremas sebuah roti pisang yang ada di hadapannya. Dengan spontan saya setengah berteriak "Jangan. Jangan dipegang."

Dengan kaget Sera membalikkan badannya, dan saya melihat ekspresi terkejut dan bingung di wajahnya, yang kemudian berganti menjadi patah hati. Sera tidak mengerti kenapa ia dibentak saat hendak memegang sebuah barang, sementara sedari tadi ia diijinkan menyentuh barang- barang yang lain.

Saya mendesah dengan sedih, kesal pada diri saya sendiri. Saya memaksakan logika seorang dewasa, yang berasumsi bahwa si balita ini sudah paham bedanya botol sabun dengan roti pisang. Sebetulnya saya juga bukannya marah yang bagaimana sih, hanya spontan berteriak saat melihat jarinya akan membuat gepeng si roti.

Saya berjongkok dan mengulurkan tangan, lalu merengkuhnya ke pelukan saya sambil berbisik "Did I scare you? I'm so sorry, I'm sorry." Dan terus mengulang- ulang permintaan maaf saya. Sera menyembunyikan wajahnya di bahu saya, mellow dan sendu. Saat Sera melakukan kesalahan yang dia juga tahu bahwa itu salah, biasanya dia akan menunjukkan wajah bersalah atau sekalian membangkang. Tapi saat ia merasa diperlakukan tidak adil,ekspresinya really heart-breaking.

Lesson learnt : saat saya mengijinkan Sera memegang barang di toko, sebagai orang yang dewasa dan pintar, sayalah yang harus sadar bahwa ada barang yang bakalan rusak kalau dipegang. Pilihannya adalah melarang Sera memegang semua barang atau mengawasinya untuk mencegahnya merusak barang. Emak di Oz akan berucap begini saat melarang anaknya memegang "Just Looking, Not Touching please"

Sama seperti saat saya mengijinkan Sera bermain dengan kacamata saya. Lucu banget melihat dia memasang kacamata di hidungnya yang mungil. Tapi saat kemudian dia melebarkan kedua gagangnya yang beresiko membuat kacamata saya patah, saya boleh mengambil kacamata saya untuk menyelamatkannya, tapi jelas saya tidak boleh memarahinya. Mana dia tahu yang ini boleh yang itu enggak. Lha dari tadi toh emaknya membolehkannya bermain dengan si kacamata?


4. Hati- Hati Belanja Belanji

Suatu hari seorang teman saya bertanya "Sera kalau diajak ke toko pernah merengek minta beliin mainan nggak?" Saya menjawab "Enggak tuh." Saya kemudian berpikir- pikir, iya ya, kenapa ya Sera kok relatif tidak pernah rewel minta dibelikan ini dan itu saat saya ajak berbelanja ya? Padahal saya ya tidak pernah secara khusus mendidik Sera soal ini. Kenapa ya?

Sampai suatu ketika saya mengajak Sera ke swalayan untuk membeli buah jeruk. Saat melewati kios yang menjual sushi, Sera menghentikan langkahnya dan sambil menunjuk ke arah kios berucap "Please, please." Wah, heran juga saya, kok tumben Sera minta dibelikan begini ya? Padahal dia tidak pernah minta dibelikan mainan atau es krim misalnya. Ada apa apa ada?

Setelah mengelus- elus dengkul selama beberapa menit, sepertinya saya sedikit mengerti. Saat saya mengajak Sera berbelanja di swalayan, saya tidak pernah menawarkan apapun pada Sera. Kalaupun saya membeli es krim atau biskuitnya Sera misalnya, ya saya langsung  mengambilnya dan memasukkannya ke dalam troli. Begitu juga dengan mainan. Sera tentu saja senang sekali memegang dan bermain dengan aneka boneka dan mainan yang dipajang, tetapi saya kebetulan juga tidak pernah membelikan mainan yang Sera pegang secara spontan di toko. Jadi sepertinya Sera berasumsi mainan di toko itu sama statusnya dengan mainan di playgroup; untuk main di tempat.

Berbeda dengan kasus si sushi. Sushi itu dijual di kios  kecil. Bukannya saya sering- sering amat membelinya sih, tetapi begini cara saya membelinya. Saya mendatangi kios, menunjuk sushi yang saya inginkan, membayarnya, kemudian langsung saya serahkan si sushi kepada Sera. Berdua, kami menikmatinya di bangku depan kios. Akibatnya, Sera membuat mental note dengan logika sederhananya, kios sushi= sushi enak= minta emak beliin.

Untuk Sera yang masih sekecil dua tahun, salah satu hal sederhana agar dia tidak merengek mau ini mau itu disaat belanja adalah dengan tidak membuat kegiatan belanja diasosiasikan dengan membeli mainan dan jajan. Kalaupun hendak membelikan es krim, ya langsung saja ambil dan masukkan ke dalam troli bersama telur dan kangkung. Enggak usah ditunjukkan ke Sera sambil berkata "Nih Ser, mama beliin es krim." Biarlah Sera mengasosiasikan es krim dengan gelas kecil dan sendok yang tahu- tahu terhidang di depan matanya di meja makan kuning kecil miliknya di rumah. Jangan sampai deh ke indomaret = beli es krim, ke Carefour = beli mainan, dst dst.

Tentu itu trik untuk anak yang masih kecil. Besar sedikit, ya Sera bakal ngerti juga bentuknya es krim dan biskuit beras kesukaannya. Mungkin pada saat itu, saya harus beralih pada taktik lain, negosiasi mungkin? Mungkin saya nantinya harus berembug dengan Sera soal  berapa jatah es krim yang boleh dibelinya seminggu, atau berapa kali dalam sebulan ia boleh membeli mainan. Entahlah, saya belum perlu juga sih taktik ini, hehehe. Hanya intinya sih bakalan sama kali ya, enggak ada yang namanya beli ini itu dengan spontan. Enggak ada ceritanya tunjuk mainan dan langsung beli, tunjuk permen dan langsung ambil (ya bolehlah sekali- kali). Entahlah, tahun depan baru mungkin deh saya punya pengalaman soal tarik ulur dengan si balita abege :D soal kuota jajannya.

5. Biasa Sebelum Mengerti

Apapun itu, bila dilakukan sejak dini, akan membekas lebih dalam. Ceritanya, sejak Sera belum genap berusia satu tahun, saya membiasakan dia untuk duduk di toilet dan untuk sikat gigi. Seiring berjalannya waktu, saya mulai malas mendudukkan Sera secara rutin di atas toilet. "Ah, toh dia masih pake diapers ini," pikir saya. Sebaliknya, karena saya sangat suka mencium bau mulutnya Sera yang manis khas bayi dan sekaligus saya benar- benar senang melihat giginya yang putih bersih, saya tidak pernah alpa untuk menyikat giginya. At least sebelum dia tidur malam.

Sekarang Sera dua tahun. Dia menolak duduk di atas toilet, menangis menjerit- jerit setiap saya berusaha mendudukkannya. Panik, seolah bokongnya bakal meluncur kecemplung ke dalam toilet. Padahal dulunya dia biasa- biasa saja. Berbagai cara saya tempuh, berusaha menasehatinya, berusaha menunjukkan bahwa aman kok duduk di atas toilet. Gagal. Dia tetap panik. Dan masalahnya adalah Sera masih terlalu kecil untuk bisa saya ajak berpikir secara  logis, untuk bisa saya ajak mengerti apa fungsi duduk di atas toilet dan bahwa hal tersebut aman. Pokoknya yang ada di benaknya adalah dia takut duduk di atas toilet dan dia meronta dengan panik.

Sebaliknya dengan kegiatan sikat gigi. Sama juga Sera belum memahami kenapa dia harus menggosok gigi. Tapi karena hal itu sudah dilakukan sejak dulu secara rutin, ya dia menerima hal tersebut sebagai suatu hal yang biasa saja. Sama biasanya dengan memakai baju sehabis mandi. Ada saatnya dia menangis tidak mau, mungkin karena mengantuk atau lelah atau bad mood. Tapi saat saya tetap dengan tegas memintanya membuka mulut agar bisa menyikat giginya, ya sambil sesenggukan dia tetap membuka mulutnya. Dia tidak mengerti apa kegunaan menyikat gigi, tapi dia sudah menerimanya sebagai keharusan yang wajib dijalaninya.

Mau hidup anda lebih mudah nantinya? Biasakan si kecil disikat giginya atau dipotong kukunya atau didudukkan di atas toilet atau berdoa sebelum makan atau apapun kegiatan baik yang ingin anda terapkan sejak sedini mungkin, sebelum dia mengerti apa gunanya dan hanya melakukannya sebagai ritual semata. Be consistent. Memang terkadang malas sih, tapi rewardnya besar juga. Saya sekarang tidak pernah perlu bersusah payah berantem saat hendak menyikat gigi Sera. Sementara upah kalau bermalas- malasan? Ya seperti saya yang masih harus berjuang lagi (dengan lebih susah payah) membuat Sera mau didudukkan di atas toilet :(.

Omogn- omong, ini sih hanya hasil saya mengingat- ingat kesalahan dan keberuntungan saya saat menghadapi Sera. Mungkin juga sih tidak sesuai teori para psikiater, atau mungkin tidak cocok diterapkan bagi anak lain. Saya tidak menerima protes yah :D:D:D. Dan terus terang saya juga masih puyeng dengan sikapnya Sera saat sedang bad mood, yang merengek dan minta gendong tanpa mau turun. Nggak bisa dimarahin, nggak mempan dibilangin. Pucingggg :D:D:D:D.

Monday 6 February 2012

My Monday Note – Mantan pejabat dan sarjana hukum

Sebal pada pelayanan publik? Ayo angkat tangan!!!! Ngacung!!!! Mungkin mayoritas warga Indonesia pernah merasakan ingin membakar saja kantor kelurahan beserta bapak lurahnya, atau kantor polisi bersama semua calo SIMnya. Baru kemarin saya menemani mertua saya ke kantor kecamatan. Ceritanya, mertua saya mendapat panggilan untuk proses e-KTP. Sehabis dari rumah sakit untuk membersihkan luka papa mertua yang penderita diabetes, kami langsung menuju ke kantornya pak camat. Lha kok sesampainya disana, boro- boro disambut dengan hangat karena kami sudah taat memenuhi panggilan, eh salah seorang petugasnya malah langsung nyerocos bawel bahwa hari ini sudah terlalu banyak warga yang datang. Bahwa tumpukan dokumennya sudah segunung. Nah, siapa yang nggak jengkel coba? Yang mengirimkan undangan supaya kami datang untuk difoto hari itu siapa? Kan kami datang ke kecamatan juga karena diperintahkan, bukannya karena kegenitan pingin ngajak kencan pak camat? Sengak amat nih ibu pegawai. Ckckck. Pasti nggak dikasih jatah sama suaminya semalam :D.

Nah, meskipun saya tentu saja pernah jengkel banget dengan pelayanan setengah hati para aparat pemerintah, tapi saya mempunyai pengalaman hidup yang terbilang unik, merasakan menjadi penikmat pelayanan publik sekaligus sebagai aparat pemberi pelayanan. Selama setahun sebelum hijrah ke negerinya Crocodile Dundee, saya pernah juga lho menjadi abdi masyarakat. Dan saya kebagian untuk bertugas di tempat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, bertugas di bagian pendaftaran alat kesehatan. Jadi, semua produk alat kesehatan baik produksi lokal atau impor haruslah diregistrasi dulu di kantor saya sebelum boleh diedarkan ke masyarakat. Dan saya ketiban sampur sebagai salah satu petugas di loket pendaftaran. Jadilah saya melayani ribuan perusahaan yang ingin mendaftarkan jutaan produknya.

Awalnya, lokasi loket pendaftaran itu berada dalam ruangan nan sesak yang membuat para pendaftar terpaksa berhimpit bak ikan sarden pakai korset. Sistem pemanggilan antriannya acakadut, pejabat yang ingin ditemui tidak jelas jadwal kedatangannya, ada yang rajin dan ada yang telat melulu. Petugas loketnya kadang baik kadang galak. Pokoknya menyebalkan.

Sampai kemudian seseorang (entah siapa) mempunyai ide cerdas membuat pelayanan publik satu atap. Namanya, loket pelayanan terpadu. Semua pelayanan publik di departemen kami dikumpulkan dalam satu ruangan, sehingga masyarakat tidak harus berlari kesana kemari untuk mendapatkan pelayanan. Semua petugas loket harus datang tepat waktu, dan harus selalu ada pejabat di loket agar para pendaftar bisa berkonsultasi. Ruangan dibuat transparan tanpa sekat, jadi jangan harap bisa menyogok petugas dengan sekaleng krupuk atau sekardus bandeng. Bakal ketahuan.

Meskipun tugas saya menjadi lebih berat dengan adanya loket tersebut, tapi sejujurnya saya senang. Saya senang karena sekarang tidak ada lagi kesempatan bagi orang yang merasa berteman dengan bos besar untuk menyerobot antrian. Saya senang karena tidak ada lagi amplop dan sebangsanya yang disodorkan ke saya. Saya senang karena semua orang mendapat hak yang sama dalam memperoleh pelayanan. Dan loket terpadu ini, menyisakan kenangan yang lucu dan menyenangkan bin menyebalkan juga di benak saya. Anda pikir para aparat pemerintah itu menyebalkan dan bikin makan hati? Hah, masyarakat yang dilayanipun banyak juga yang bertingkah menyebalkan dan membuat perut para petugas mulas. Vice versa deh :D. Ini cerita dibalik layar loket.

Loket dibuka pukul delapan. Dan biasanya, saya sudah datang sebelum pukul delapan. Saya senang bercanda- canda dulu dengan petugas yang lain, atau menyempatkan memompa ASI di toilet kantor. Biasanya, beberapa pendaftar sudah ada disitu, dan mereka yang mengenal saya akan menyapa dan mengajak saya ngobrol. Suatu hari, datanglah seorang bapak yang dari tampangnya saja sudah mirip bakpia berjamur. Dengan kasar dan setengah memaksa dia meminta saya untuk mulai saja membuka loket dan melayaninya. Saya dengan tenang menolak, karena sudah tertulis dengan jelas di peraturan bahwa loket dibuka jam 8 pagi. Marahlah dia, mengatakan bahwa saya adalah gambaran PNS pada umumnya yang ogah- ogahan melayani. Dengan menyunggingkan senyum riang saya menjawab “Saya takut dosa pak kalau harus melayani bapak di luar jam kerja. Tapi kalau di dalam jam kerja, nah baru saya berani.

Ada alasannya saya menolak melayani lebih cepat. Oke saya memang sudah datang, tapi petugas yang membawa kunci laci tempat dokumen disimpan belum datang. Petugas di kantor belakang belum siap. Kepala seksi tempat berkonsultasi belum datang. Jadi percuma juga saya membuka loket lebih cepat, karena kelengkapan loket belum siap. Plus, ngapain juga saya harus menyenangkan hati seseorang yang memandang saya dengan tatapan melecehkan dan kata- kata kasar?

Suatu hari, ada orang yang marah- marah dan dengan lantang mengatakan loket terpadu ini malah bikin pelayanan tambah buruk! Makin lambat! Masak dia sudah duduk menunggu selama dua jam dan masih belum dilayani (padahal menunggunya juga di kursi empuk di ruang ber-AC. Ada aqua untuk minum pula). Dia mengomel pada saya, padahal saya sedang melayani pendaftar lain. Dengan galak saya berkata kepadanya “Emangnya kalau bapak antri di bank atau di kantor telkomsel enggak nunggu juga apa? Atau kalau ke dokter? Dan apa saya kelihatan santai- santai sambil ngopi sih sejak pagi tadi?

Masalahnya adalah, ternyata si bapak ini dulu biasa main selonang selonong saja, karena merasa dekat dengan para petinggi. Kalau dulu dia bisa langsung srudak- sruduk, sekarang dia terpaksa ikut antri dengan tertib. Ngambeklah dia. Dan berusaha mencari cara supaya bisa dilayani lebih cepat. Dia kemudian berkata bahwa produknya dia sudah datang di pelabuhan dan dia mau ada rapat penting. Lha emang gue pikirin? Mending juga kalau dia lalu mencantumkan nama saya dalam surat wasiatnya, baru deh saya mau ikut memikirkan betapa malang nasibnya yang bakal terlambat rapat. Bagi orang yang tidak terbiasa menuruti aturan, ternyata memang berat berubah menjadi tertib.

Selain para pelanggar budaya antri, ada lagi dua jenis pendaftar yang bikin saya meringis. Sepanjang karir singkat saya sebagai penjaga loket, sudah lima kali saya kedatangan pendaftar, yang saat saya tunjukkan dimana letak kesalahan dokumennya, atau saya beritahukan bahwa berkasnya belum jadi, lalu akan menjawab dengan tarikan wajah keras dan suara berwibawa “Saya ini sarjana hukum lho!” Lalu kemudian dilanjutkan dengan variasi ancaman semacam “Jangan main- main sama saya!” atau “Jangan memperumit persyaratan ya!

Nah lho, jadi bingung saya, padahal rasanya saya tidak mengedipkan mata atau tersenyum menggoda, kenapa si sarjana hukum ini menuduh saya mengajaknya bermain- main ya? Dan masalah berkas belum selesai, saya sudah menunjukkan kemana dia harus protes atau bertanya; ke kepala seksi yang duduk di sebelah saya. Tinggal geser duduk doang euy! Hm, mungkin para pria sarjana hukum ini kesal karena jadinya mereka harus dilayani oleh para kepala seksi yang sudah renta, bukan gadis cantik jelita seperti saya. Biasanya sih, sebagai warga negara yang sopan, saat seseorang menyatakan bahwa dia adalah sarjana hukum, saya dengan ramah akan menjawab ajakan perkenalannya “Ohya? Kalau saya sarjana farmasi. Lulusan Airlangga.” Ah, memang saya itu paling nggak bisa menolak cowok yang minta berkenalan, padahal ya saya sudah bersuami dan beranak....

Jenis pendaftar yang lain sepertinya adalah sepupunya si sarjana hukum. Mereka adalah orang yang tanpa diminta mengumumkan “Saya ini mantan pejabat lho!” Saya rada heran, kenapa juga hal itu harus diumum-umumkan? Itu kan sama saja bilang “Saya ini mantan konglomerat lho” atau “Saya ini mantan ustad lho”. Lha ya kan orang malah jadi tahu bahwa dia sekarang bukan pejabat lagi. Tapi untuk kasus yang ini, saya biasanya menahan mulut untuk tidak membanyol. Saya tidak tega melihat seorang bapak sepuh yang masih mencoba berpegangan pada masa lalunya yang gemilang. Dan kalau seorang mantan pejabat tinggi, kemudian di usia pensiunnya ternyata masih harus menjadi karyawan junior yang antri sambil membawa- bawa berkas setumpuk, yah hati ini tidak tega untuk menjahati.

Bahkan saat seorang bapak mantan pejabat datang untuk mendaftarkan pendirian pabrik, dan kemudian saya menerangkan bahwa dia seharusnya mengantri di loket sebelah karena loket saya adalah untuk mendaftarkan produk ( loketnya berjarak sepuluh meter to the left dan kosong melompong nggak ada antrian), dan kemudian dengan merah padam si bapak berkata “Kamu jangan bikin saya seperti orang bodoh ya. Seolah saya nggak ngerti hal sepele kayak gitu. Saya ini dulu Kasubdit lho!” Bahkan untuk orang yang semenyebalkan itu, saya paling banter hanya memasang wajah tegas dan tidak meladeni celotehannya. Kasihan, contoh nyata bahwa kejamnya ibu tiri masih kalah dengan kejamnya post power syndrome.....

Sistem di loket saya pastilah jauh dari sempurna. Karena keterbatasan sarana dan personil (meski jumlah PNS buanyak, anehnya yang diletakkan di pelayanan publik sangatlah minim, saya sendiri heran), memang pelayanan kami jauh dari efisien. Seorang bapak marah setelah saya menerangkan bahwa dia tidak bisa bertanya lewat email atau telepon (percayalah, kami pernah mencobanya, dan dengan personil yang terbatas, jadinya kami malah sibuk membalas email dan menerima telepon, nggak sempat memeriksa berkas). Saya, yang pernah bekerja di perusahaan swasta, tahu betapa pentingnya efisiensi waktu. Karena itu saya berusaha membantunya, mencari celah supaya kedatangan si bapak ini menjadi lebih efisien, tanpa harus melanggar aturan. Saya tidak mungkin memberikan nama atau nomer telepon petugas pemeriksa berkasnya. Itu melanggar aturan. Dan jelas saya tidak mau memberikan nomor telepon saya. Saya kan wanita baik- baik. Dan dia kan bapak paruh baya bertampang lele.

Saya memberitahunya bahwa seksi yang akan memeriksa berkasnya biasanya mendapat giliran jaga di hari rabu, dan sesuai peraturan, berkas itu membutuhkan waktu dua minggu untuk diperiksa. “Jadi, bapak datang lagi hari rabu dua minggu lagi. Bapak bisa langsung bertemu dengan petugas yang memeriksa berkas Bapak, dan bisa sekalian berkonsultasi tentang kekurangannya."

Karena rupanya ini pertama kalinya si Bapak mendaftar, akan sangat membantu jika ia bisa sekaligus bertanya apa kekurangan berkasnya dan bagaimana perbaikan yang diinginkan langsung ke si pemeriksa. Saya berani bertaruh bahwa pasti berkas si Bapak masih banyak salahnya. Maklum, namanya juga malam pertama, eh berkas pertama. Si bapak marah, dan mengata- ngatai kami tidak efisien, tidak tahu betapa sibuknya dia, betapa macetnya Kuningan, betapa susahnya mencari parkir. Saya memahami. Sungguh memahami. Tapi dengan tegas saya berkata “Bapak boleh marah- marah ke saya kalau itu bikin Bapak lega. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah Bapak. Saya berusaha menunjukkan celah agar kedatangan Bapak bisa optimal. Kalau Bapak memang keberatan dengan sistem kami, di bawah meja TV itu ada kotak saran. Silahkan Bapak ajukan kritik dan saran.

Dan kemudian saya mendapatkan ancaman “Saya kenal banyak orang TV! Hati- hati kamu!” Ah sial, tahu begitu saya luluran dan make-up an dulu tadi pagi >:( .

Beberapa pendaftar, mungkin karena pengalaman pahit di masa lalu dengan instansi lain, belum apa- apa sudah langsung berburuk sangka. Mereka datang dengan pikiran bahwa kami akan mempersulit prosedur, bahwa kami akan morotin dompet mereka sampai kering, dan bahwa para petugas loket itu adalah keponakannya para sundel bolong. Saat saya menerangkan syarat dokumen yang harus dipenuhi, ada yang dengan marah berkata bahwa syarat yang diminta mengada- ada dan hanya untuk mempersulit perusahaan. Katanya "Coba kalau di Eropa atau Amerika, pasti nggak serumit ini, dan nggak bertele- tele begini prosesnya." (Note: Indonesia mengikuti prosedur yang diterapkan di Eropah sana. Dan kalau si pendaftar sudah merasa pening dengan syarat kami, dia bakalan muntah darah kalau tahu apa saja syarat yang diminta FDAnya Amrik).

Ada juga yang kemudian menuduh saya "Embak minta disogok duit dulu ya baru mau kerja?" Lha ya, dia kira saya sudah ngendon mengerami loket sejak jam delapan pagi sampai jam empat sore itu dalam rangka ngeceng cari jodoh kali ya? Memang sih senyum saya semanis madu dan betis saya sehalus beledu, tapi saya ini lagi kerja mas, bukan cari selingkuhan. Hadew, memang nasib jadi cewek seksi...

Suatu ketika saya kedatangan seorang embak- embak perlente dari biro konsultasi besar. Dia bertanya ini dan itu untuk kliennya. Embaknya sopan, baunya wangi, cantik, dan pintar. Tapi saya nyaris migren saat mencoba memahami perkataannya. Masalahnya adalah, si embak keren ini berbahasa Indonesia dengan logat ala Cinta Laura keselek kedondong, dan untuk setiap kalimat sederhana yang ingin ia sampaikan, ia harus menyusunnya dengan susah payah. Melihat ekspresinya yang seperti siamang hendak bertelur saat berusaha keras menyusun kata untuk mengucapkan “Jadi produk saya ini membutuhkan permohonan khusus ya?” membuat hati saya miris. Belum lagi melihat ekspresinya saat dia mencoba memahami penjelasan saya. Akhirnya, saya tidak tahan dan berucap “Can we just talk in English?” Tapi si embak langsung menjawab “Oh tidak perlu. Saya bisa kok mengerti penjelasan ibu.” Terpaksalah selama sepuluh menit berikutnya kami berdua berkomunikasi dengan tarikan wajah bak kungkang sembelit.

Lalu apakah semua pendaftar itu membuat saya siap mengasah golok? Tentu tidak. Banyak juga yang membuat saya mengelus dada karena kasihan. Seorang ibu tua sudah bolak- balik harus datang ke loket karena CD yang dia buat salah lagi salah lagi. Saya sudah memohon agar si ibu membawa orang lain yang mengerti soal per-CD-an, karena bahkan saya tidak yakin si ibu ini tahu caranya menyalakan komputer. Dan bahkan syaratpun sudah saya perlonggar, asal semua dokumen ada, mau susunannya berantakan pun saya terima deh! Kemudian si ibu membawa seorang anak muda yang tampak polos dan lugu. Dan ternyata si anak muda ini tetap tidak mengerti penjelasan saya (plus penjelasan yang diberikan teman saya yang lain, karena saya sudah tergeletak lemas dengan mulut berbusa persis anjing rabies, setelah selama setengah jam berusaha membuat mereka paham). Inilah salah satu bukti kesenjangan yang besar di masyarakat. Perusahaan- perusahaan besar datang dengan karyawan yang sekece Manohara, sementara industri rakyat hanya mampu menyewa pegawai yang sepintar Manohara.

Apalagi kalau menghadapi orang dari luar kota. Yang datang sambil menenteng koper. Untuk mereka ini, apalagi kalau itu industri rakyat, segala daya upaya saya kerahkan untuk membantu mereka. Dengan tekun saya ajari mereka, agar jangan sampai harus berulang kali salah. Bahkan saya bersedia mengorbankan jam makan siang saya demi mengantarkan berkas itu sendiri ke gedung sebelah, tempat bos saya bisa langsung meng-ACC nya. Berhadapan dengan seorang bapak yang datang dari pelosok, yang mendaftarkan produk 'kelas terinya', ah hati ini luluh rasanya. Di akhir sesi 'kultum', si bapak dengan halus menyodorkan selembar uang sepuluh ribu rupiah sambil berbisik "Makasih ya Dek, ini untuk beli jus." Ahh.... saya mengangsurkan kembali uangnya kepada si bapak sambil melirik gelas Frapuccino Java Chip Venti di hadapan saya.....

Ah, kangen juga saya sama loket saya, dan para sarjana hukum fans saya.....