Dulu sewaktu Sera masih kecil, saya lebih merasakan capek secara
fisik. Capek ikut melekan di malam hari bak sundel bolong, capek mencoba
menidurkan, capek mengejar- ngejarnya untuk mengompres dahinya yang
sedang demam, dan capek mencoba melarangnya memanjat berbagai benda yang
ditemuinya; guci keramik, pagar besi, meja TV. Sekarang, semakin
beranjak besar si Cekci, rasa capeknya berimbang, setara antara capek
fisik (membantu mengangkat bokong semoknya ke atas seluncuran) dengan
capek batin. Si anak pesut satu ini sekarang sudah bisa menggeleng,
menolak perintah dan menggunakan teriakan melengkingnya sebagai senjata.
Saya
sering merasa kewalahan juga jadinya dalam menghadapi 'kebandelan'
Sera. Maklum saya kan bukan psikolog anak, hewan ternak, ataupun dukun
beranak, jadi ilmu saya cetek adanya. Dangkal. Tapi, ada beberapa hal
yang kemudian saya pelajari, hasil dari mengingat kesalahan yang saya
lakukan saat menghadapi si genduk. This is what I have learnt, sebagian
kecil yang sudah saya sadari dari pengalaman saya sendiri (sementara
masih banyak hal lain yang masih gelap juga bagi saya)
1. Jangan Obral Kata JANGAN
Kemarin,
saya makan siang di bakmi GM. Disebelah saya duduk seorang ibu dengan
dua orang anak kecilnya. Sepanjang 15 menit saya menyantap mi saya, si
ibu tanpa henti berkata- kata semacam ini "Jangan ditendang bangkunya", "Jangan diaduk- aduk mie nya", "Jangan berantakan makannya"
dan sederet kata jangan untuk berbagai hal. Saya yang duduk
disebelahnya, sampai risih mendengarnya. Si ibu ini teruuuuussss saja
nyerocos melarang anaknya melakukan berbagai hal, baik yang memang
nyata- nyata adalah kenakalan (seperti menendang- nendang kursi) sampai
yang menurut saya hanya kenakalan imajiner. Saya sampai berpikir ni ibu
hanya senang saja mendengar suaranya sendiri, makanya dia keep saying
JANGAN. Nah, kalau saya risih mendengar si ibu, bagaimana dengan kedua
anaknya? Saat saya melirik kearah mereka, si kakak dan si adik tampak
tidak terpengaruh. Cuek. Contoh nyata peribahasa masuk telinga kanan
keluar dengkul kiri.
Okelah, saya sih jelas bukan
orang sarap kayak si ibu bawel itu. Tapi kadang, saya juga senang
'iseng' mengatakan jangan atau nggak boleh kepada Sera. Misalnya nih,
saat Sera meraih dompet saya dan mulai mengeluarkan kartu-kartu saya.
Otomatis saya akan berkata "Jangan Ser." Tapi sebetulnya, saya
tidak benar- benar keberatan dompet saya diacak- acak Sera. Jadi
biasanya, dengan setengah hati saya akan berkata jangan, tetapi tidak
menindaklanjuti larangan saya itu. Atau kemarin di bandara saya
mendengar seorang ibu yang melarang anaknya berdiri di atas kursi ruang
tunggu. Beberapa kali dia berkata jangan dan mencoba menurunkan anaknya.
Tetapi saat anaknya kemudian naik lagi ke atas kursi, ibunya membiarkan
saja karena memang sepertinya sih si ibu ini seperti saya; melarang
dengan setengah hati.
Pertanyaan saya, lalu bagaimana
kemudian saya berharap Sera akan menganggap serius saat saya dengan
suara keras berkata "JANGAN" saat ia bersiap membanting gelas kaca atau
memegang knalpot sepeda motor? Apa bedanya kata jangan 'iseng' saya saat
melarangnya membuka dompet dengan kata jangan 'serius' saat ia hendak
memukul ajah temannya? Mengharapkan anak dua tahun akan mampu membedakan
antara kata jangan yang iseng dan yang serius, itu namanya emaknya yang
bloon.
Dan saya memang bloon. Sampai kemudian saya
sadar ini kenapa kata jangan yang saya lontarkan tidak terlalu memberi
efek bagi Sera yah? Sejak saat itu, saya mencoba untuk tidak mengobral
kata jangan. Saat Sera hendak membuka pintu lemari dapur yang berisi
panci dan kaleng yang menarik hatinya dan relatif tidak berbahaya
(tetapi di sebelahnya ada piring kaca yang bila dibanting ya pecah), ya
saya harus memutuskan. Kalau saya melarang Sera karena takut dia
memecahkan piring, ya saya harus dengan tegas melarang dan memastikan
Sera mengerti bahwa dia tidak boleh membuka lemari dapur sama sekali.
Atau jika saya memang membolehkan, ya sudah nggak usah iseng bilang
jangan, tapi membiarkan saja (dan nanti saat Sera memecahkan piring
kemudian mengomel "Udah dibilangin jangan dibuka ngeyel. Sekrang pecah kan!!!!")
Never
ever memberikan larangan pepesan kosong yang kalau diturutin ya syukur,
kalau enggak ya emaknya hanya bakal merepet ngomel "Nggak bisa dibilangin kok ini anak"
tanpa tindakan nyata untuk melarangnya. Saat saya berkata jangan kepada
Sera, saya harus dengan sepenuh hati memastikan Sera mematuhi. Sejak
saya menemukan 'pencerahan' itu, kata jangan yang terlontar dari mulut
saya berkurang drastis. Tapi, untuk setiap kata jangan yang saya
keluarkan, saya harus memberikan effort ekstra keras nan konsisten agar
Sera tahu her mom really means it when she says NO!
2. Okhi Tidak Mempedulikan Omelan Saya? Apalagi Sera
Ini
mungkin penyakit emak- emak, mengomel. Suatu ketika saya sedang keluar
masuk toko hendak mencari celana jins. Begitu mulai memasuki toko, Sera
mulai merengek. Menangis dan rewel, membuat saya tidak bisa memilih
dengan leluasa. Saat itu saya mengalah dan mengurungkan niat berbelanja.
Beberapa hari kemudian saya pergi ke Pasar Atom. Tidak seperti saat
mencoba membeli celana jins yang tidak urgen, kali ini saya memang
benar- benar butuh berbelanja cardigan dan mencarikan parfum nya si Okhi
yang sudah habis. Dan mulailah Sera kembali merengek dan bertingkah
menyebalkan setiap saya masuk ke salah satu toko dan memilih- milih
baju. Saya benar- benar jengkel dan habis kesabaran. Pergi ke Pasar Atum
itu membutuhkan usaha, dan saya memang benar- benar membutuhkan
barangnya. Kemudian di salah satu toko saya menuju ke kamar pas untuk
mencoba baju. Saya menggendong Sera yang menangis dan merengek, dan saat
saya hendak menurunkannya dari gendongan agar saya bisa mencoba baju,
ia menolak turun. Berusaha tetap berada di gendongan saya. Saya benar-
benar jengkel dan frustasi. Saya mulai mengomel dan dengan gemas merepet
soal betapa menyebalkannya Sera, betapa nggak pengertiannya Sera,
betapa jengkelnya saya padanya. Dan Sera tetap berusaha naik ke
gendongan dan menolak turun sambil menangis. Saking jengkelnya, saya
gebuk bokongnya (she used thick diapers) dan nyaris saya pluntir
tangannya saking frustasinya (saya menggertakkan gigi dan meninju tembok
demi mencegah saya membuat lengan kecilnya Sera membiru terkena cubitan
saya).
Oh saya tahu bahwa menyakiti anak secara fisik
itu tidak dibenarkan dan tidak mendidik. Tapi ada saatnya dimana seorang
emak benar- benar kehabisan kendali dan kesabaran. Lalu kemarin, saya
menemani mama ke Plaza Marina untuk mencari handphone. Eh tanpa sengaja
kami melihat butik kecil yang memajang banyak kaus lengan panjang yang
begitu imut- imut. Terus terang, mencari kaos lengan panjang untuk si
Sera adalah perjuangan, karena ya nggak laku lah barang begituan di
Indonesia yang panas, sementara di Australia mahal sekali harganya. Saya
benar- benar merasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja saya membuka
pintu butik dan melangkah masuk, Sera yang tadinya menyanyi- nyanyi
dengan riang seketika mulai merengek. Saat saya tetap membawanya masuk
ke dalam toko, dia benar- benar menangis dan menjerit. Impossible saya
bisa meneruskan berbelanja. Tapi saya kemudian bergumam "Not this time Sera."
Saya
gendong Sera keluar dari toko, dan tangisnya segera mereda. Oh she
really used her scream as a weapon. Sambil tetap menggendongnya, tangan
kanan saya memegang dagunya dan dengan raut wajah serius dan bersungguh-
sungguh, saya berkata "Sera dengerin mama."
Sera
berusaha menolak bertatapan dengan saya, tapi saya bergeming. Sambil
tetap tangan saya memegang dagunya, dengan suara sangat tegas saya
berkata "Mama butuh masuk ke toko ini. Mama butuh belanja baju untuk
Sera dan untuk mama. Can you understand me? I'm only asking for couple
minutes. No crying, no screaming. Do you understand? Are you a good
girl? Do you understand what I'm saying? Now we're going back inside,
and no screaming. You are a good girl." Setiap kata saya ucapkan dengan penekanan dan perlahan.
Kemudian
saya melangkah masuk sambil menggendong Sera. Sera menekuk bibirnya
seperti yang biasa dilakukannya saat dimarahi. No crying and screaming
whatsoever. Selang beberapa menit , saya tersenyum kearahnya dan berkata
"You are a good girl. I'm so proud of you." Dan selanjutnya, saya memilih baju sementara Sera sibuk menjelajah ke seantero butik dengan riang.
Saya
juga nggak tahu teori soal ini, hanya saat saya mengomel, saat saya
menghadapi Sera dengan frustasi hingga ingin menangis, entah kenapa Sera
tidak mendengarkan. Tapi saat saya berkata kepadanya dengan serius,
dengan bersungguh- sungguh, tidak dengan nada mengomel dan merepet, I
think she realizes that her mom means business. Dan bahwa emaknya
bersungguh- sungguh dengan ucapannya, bukan sekedar sedang berkicau.
Tentu
saya juga harus berkompromi. Saya tahu Sera benci kegiatan belanja,
maka saya juga harus bertenggang rasa. Paling banter saya masuk keluar
empat buah toko, tidak lebih. Karena kalau Sera sudah sangat bosan dan
bete, dia tidak akan lagi mempedulikan apapun yang saya katakan.
3. She's not Einstein (yet)
Minggu
lalu saya mengajak Sera berjalan- jalan di supermarket bersama neneknya
dan kakak sepupunya. Dengan riang gembira kedua bocah ini menjelajah
seantero rak. Tangan- tangan mereka menyentuh jeruk dan berucap "Orange"
lalu menyentuh strawberry sambil menyebutkan namanya. Begitu terus,
juga terhadap botol- botol sabun dan sampo yang berjajar di rak. Saya
membiarkan karena no harm done. Sampai kemudian kami beranjak menuju ke
rak yang memajang aneka jenis roti. Saat saya menoleh, saya melihat jari
kecil si Sera bergerak hendak meremas sebuah roti pisang yang ada di
hadapannya. Dengan spontan saya setengah berteriak "Jangan. Jangan dipegang."
Dengan
kaget Sera membalikkan badannya, dan saya melihat ekspresi terkejut dan
bingung di wajahnya, yang kemudian berganti menjadi patah hati. Sera
tidak mengerti kenapa ia dibentak saat hendak memegang sebuah barang,
sementara sedari tadi ia diijinkan menyentuh barang- barang yang lain.
Saya
mendesah dengan sedih, kesal pada diri saya sendiri. Saya memaksakan
logika seorang dewasa, yang berasumsi bahwa si balita ini sudah paham
bedanya botol sabun dengan roti pisang. Sebetulnya saya juga bukannya
marah yang bagaimana sih, hanya spontan berteriak saat melihat jarinya
akan membuat gepeng si roti.
Saya berjongkok dan mengulurkan tangan, lalu merengkuhnya ke pelukan saya sambil berbisik "Did I scare you? I'm so sorry, I'm sorry."
Dan terus mengulang- ulang permintaan maaf saya. Sera menyembunyikan
wajahnya di bahu saya, mellow dan sendu. Saat Sera melakukan kesalahan
yang dia juga tahu bahwa itu salah, biasanya dia akan menunjukkan wajah
bersalah atau sekalian membangkang. Tapi saat ia merasa diperlakukan
tidak adil,ekspresinya really heart-breaking.
Lesson
learnt : saat saya mengijinkan Sera memegang barang di toko, sebagai
orang yang dewasa dan pintar, sayalah yang harus sadar bahwa ada barang
yang bakalan rusak kalau dipegang. Pilihannya adalah melarang Sera
memegang semua barang atau mengawasinya untuk mencegahnya merusak
barang. Emak di Oz akan berucap begini saat melarang anaknya memegang "Just Looking, Not Touching please"
Sama
seperti saat saya mengijinkan Sera bermain dengan kacamata saya. Lucu
banget melihat dia memasang kacamata di hidungnya yang mungil. Tapi saat
kemudian dia melebarkan kedua gagangnya yang beresiko membuat kacamata
saya patah, saya boleh mengambil kacamata saya untuk menyelamatkannya,
tapi jelas saya tidak boleh memarahinya. Mana dia tahu yang ini boleh
yang itu enggak. Lha dari tadi toh emaknya membolehkannya bermain dengan
si kacamata?
4. Hati- Hati Belanja Belanji
Suatu hari seorang teman saya bertanya "Sera kalau diajak ke toko pernah merengek minta beliin mainan nggak?" Saya menjawab "Enggak tuh."
Saya kemudian berpikir- pikir, iya ya, kenapa ya Sera kok relatif tidak
pernah rewel minta dibelikan ini dan itu saat saya ajak berbelanja ya?
Padahal saya ya tidak pernah secara khusus mendidik Sera soal ini.
Kenapa ya?
Sampai suatu ketika saya mengajak Sera ke
swalayan untuk membeli buah jeruk. Saat melewati kios yang menjual
sushi, Sera menghentikan langkahnya dan sambil menunjuk ke arah kios
berucap "Please, please." Wah, heran juga saya, kok tumben Sera
minta dibelikan begini ya? Padahal dia tidak pernah minta dibelikan
mainan atau es krim misalnya. Ada apa apa ada?
Setelah
mengelus- elus dengkul selama beberapa menit, sepertinya saya sedikit
mengerti. Saat saya mengajak Sera berbelanja di swalayan, saya tidak
pernah menawarkan apapun pada Sera. Kalaupun saya membeli es krim atau
biskuitnya Sera misalnya, ya saya langsung mengambilnya dan
memasukkannya ke dalam troli. Begitu juga dengan mainan. Sera tentu saja
senang sekali memegang dan bermain dengan aneka boneka dan mainan yang
dipajang, tetapi saya kebetulan juga tidak pernah membelikan mainan yang
Sera pegang secara spontan di toko. Jadi sepertinya Sera berasumsi
mainan di toko itu sama statusnya dengan mainan di playgroup; untuk main
di tempat.
Berbeda dengan kasus si sushi. Sushi itu
dijual di kios kecil. Bukannya saya sering- sering amat membelinya sih,
tetapi begini cara saya membelinya. Saya mendatangi kios, menunjuk
sushi yang saya inginkan, membayarnya, kemudian langsung saya serahkan
si sushi kepada Sera. Berdua, kami menikmatinya di bangku depan kios.
Akibatnya, Sera membuat mental note dengan logika sederhananya, kios
sushi= sushi enak= minta emak beliin.
Untuk Sera yang
masih sekecil dua tahun, salah satu hal sederhana agar dia tidak
merengek mau ini mau itu disaat belanja adalah dengan tidak membuat
kegiatan belanja diasosiasikan dengan membeli mainan dan jajan. Kalaupun
hendak membelikan es krim, ya langsung saja ambil dan masukkan ke dalam
troli bersama telur dan kangkung. Enggak usah ditunjukkan ke Sera
sambil berkata "Nih Ser, mama beliin es krim." Biarlah Sera
mengasosiasikan es krim dengan gelas kecil dan sendok yang tahu- tahu
terhidang di depan matanya di meja makan kuning kecil miliknya di rumah.
Jangan sampai deh ke indomaret = beli es krim, ke Carefour = beli
mainan, dst dst.
Tentu itu trik untuk anak yang masih
kecil. Besar sedikit, ya Sera bakal ngerti juga bentuknya es krim dan
biskuit beras kesukaannya. Mungkin pada saat itu, saya harus beralih
pada taktik lain, negosiasi mungkin? Mungkin saya nantinya harus
berembug dengan Sera soal berapa jatah es krim yang boleh dibelinya
seminggu, atau berapa kali dalam sebulan ia boleh membeli mainan.
Entahlah, saya belum perlu juga sih taktik ini, hehehe. Hanya intinya
sih bakalan sama kali ya, enggak ada yang namanya beli ini itu dengan
spontan. Enggak ada ceritanya tunjuk mainan dan langsung beli, tunjuk
permen dan langsung ambil (ya bolehlah sekali- kali). Entahlah, tahun
depan baru mungkin deh saya punya pengalaman soal tarik ulur dengan si
balita abege :D soal kuota jajannya.
5. Biasa Sebelum Mengerti
Apapun
itu, bila dilakukan sejak dini, akan membekas lebih dalam. Ceritanya,
sejak Sera belum genap berusia satu tahun, saya membiasakan dia untuk
duduk di toilet dan untuk sikat gigi. Seiring berjalannya waktu, saya
mulai malas mendudukkan Sera secara rutin di atas toilet. "Ah, toh dia masih pake diapers ini,"
pikir saya. Sebaliknya, karena saya sangat suka mencium bau mulutnya
Sera yang manis khas bayi dan sekaligus saya benar- benar senang melihat
giginya yang putih bersih, saya tidak pernah alpa untuk menyikat
giginya. At least sebelum dia tidur malam.
Sekarang
Sera dua tahun. Dia menolak duduk di atas toilet, menangis menjerit-
jerit setiap saya berusaha mendudukkannya. Panik, seolah bokongnya bakal
meluncur kecemplung ke dalam toilet. Padahal dulunya dia biasa- biasa
saja. Berbagai cara saya tempuh, berusaha menasehatinya, berusaha
menunjukkan bahwa aman kok duduk di atas toilet. Gagal. Dia tetap panik.
Dan masalahnya adalah Sera masih terlalu kecil untuk bisa saya ajak
berpikir secara logis, untuk bisa saya ajak mengerti apa fungsi duduk
di atas toilet dan bahwa hal tersebut aman. Pokoknya yang ada di
benaknya adalah dia takut duduk di atas toilet dan dia meronta dengan
panik.
Sebaliknya dengan kegiatan sikat gigi. Sama juga
Sera belum memahami kenapa dia harus menggosok gigi. Tapi karena hal
itu sudah dilakukan sejak dulu secara rutin, ya dia menerima hal
tersebut sebagai suatu hal yang biasa saja. Sama biasanya dengan memakai
baju sehabis mandi. Ada saatnya dia menangis tidak mau, mungkin karena
mengantuk atau lelah atau bad mood. Tapi saat saya tetap dengan tegas
memintanya membuka mulut agar bisa menyikat giginya, ya sambil
sesenggukan dia tetap membuka mulutnya. Dia tidak mengerti apa kegunaan
menyikat gigi, tapi dia sudah menerimanya sebagai keharusan yang wajib
dijalaninya.
Mau hidup anda lebih mudah nantinya?
Biasakan si kecil disikat giginya atau dipotong kukunya atau didudukkan
di atas toilet atau berdoa sebelum makan atau apapun kegiatan baik yang
ingin anda terapkan sejak sedini mungkin, sebelum dia mengerti apa
gunanya dan hanya melakukannya sebagai ritual semata. Be consistent.
Memang terkadang malas sih, tapi rewardnya besar juga. Saya sekarang
tidak pernah perlu bersusah payah berantem saat hendak menyikat gigi
Sera. Sementara upah kalau bermalas- malasan? Ya seperti saya yang masih
harus berjuang lagi (dengan lebih susah payah) membuat Sera mau
didudukkan di atas toilet :(.
Omogn- omong, ini sih
hanya hasil saya mengingat- ingat kesalahan dan keberuntungan saya saat
menghadapi Sera. Mungkin juga sih tidak sesuai teori para psikiater,
atau mungkin tidak cocok diterapkan bagi anak lain. Saya tidak menerima
protes yah :D:D:D. Dan terus terang saya juga masih puyeng dengan
sikapnya Sera saat sedang bad mood, yang merengek dan minta gendong
tanpa mau turun. Nggak bisa dimarahin, nggak mempan dibilangin.
Pucingggg :D:D:D:D.
Hanya berpegang pada keyakinan "Semua diciptakan Tuhan dengan sempurna" untuk mencegah bunuh diri setiap habis berkaca
Monday 27 February 2012
Monday 6 February 2012
My Monday Note – Mantan pejabat dan sarjana hukum
Sebal pada pelayanan publik? Ayo angkat tangan!!!! Ngacung!!!! Mungkin mayoritas warga Indonesia pernah merasakan ingin membakar saja kantor kelurahan beserta bapak lurahnya, atau kantor polisi bersama semua calo SIMnya. Baru kemarin saya menemani mertua saya ke kantor kecamatan. Ceritanya, mertua saya mendapat panggilan untuk proses e-KTP. Sehabis dari rumah sakit untuk membersihkan luka papa mertua yang penderita diabetes, kami langsung menuju ke kantornya pak camat. Lha kok sesampainya disana, boro- boro disambut dengan hangat karena kami sudah taat memenuhi panggilan, eh salah seorang petugasnya malah langsung nyerocos bawel bahwa hari ini sudah terlalu banyak warga yang datang. Bahwa tumpukan dokumennya sudah segunung. Nah, siapa yang nggak jengkel coba? Yang mengirimkan undangan supaya kami datang untuk difoto hari itu siapa? Kan kami datang ke kecamatan juga karena diperintahkan, bukannya karena kegenitan pingin ngajak kencan pak camat? Sengak amat nih ibu pegawai. Ckckck. Pasti nggak dikasih jatah sama suaminya semalam :D.
Nah, meskipun saya tentu saja pernah jengkel banget dengan pelayanan setengah hati para aparat pemerintah, tapi saya mempunyai pengalaman hidup yang terbilang unik, merasakan menjadi penikmat pelayanan publik sekaligus sebagai aparat pemberi pelayanan. Selama setahun sebelum hijrah ke negerinya Crocodile Dundee, saya pernah juga lho menjadi abdi masyarakat. Dan saya kebagian untuk bertugas di tempat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, bertugas di bagian pendaftaran alat kesehatan. Jadi, semua produk alat kesehatan baik produksi lokal atau impor haruslah diregistrasi dulu di kantor saya sebelum boleh diedarkan ke masyarakat. Dan saya ketiban sampur sebagai salah satu petugas di loket pendaftaran. Jadilah saya melayani ribuan perusahaan yang ingin mendaftarkan jutaan produknya.
Awalnya, lokasi loket pendaftaran itu berada dalam ruangan nan sesak yang membuat para pendaftar terpaksa berhimpit bak ikan sarden pakai korset. Sistem pemanggilan antriannya acakadut, pejabat yang ingin ditemui tidak jelas jadwal kedatangannya, ada yang rajin dan ada yang telat melulu. Petugas loketnya kadang baik kadang galak. Pokoknya menyebalkan.
Sampai kemudian seseorang (entah siapa) mempunyai ide cerdas membuat pelayanan publik satu atap. Namanya, loket pelayanan terpadu. Semua pelayanan publik di departemen kami dikumpulkan dalam satu ruangan, sehingga masyarakat tidak harus berlari kesana kemari untuk mendapatkan pelayanan. Semua petugas loket harus datang tepat waktu, dan harus selalu ada pejabat di loket agar para pendaftar bisa berkonsultasi. Ruangan dibuat transparan tanpa sekat, jadi jangan harap bisa menyogok petugas dengan sekaleng krupuk atau sekardus bandeng. Bakal ketahuan.
Meskipun tugas saya menjadi lebih berat dengan adanya loket tersebut, tapi sejujurnya saya senang. Saya senang karena sekarang tidak ada lagi kesempatan bagi orang yang merasa berteman dengan bos besar untuk menyerobot antrian. Saya senang karena tidak ada lagi amplop dan sebangsanya yang disodorkan ke saya. Saya senang karena semua orang mendapat hak yang sama dalam memperoleh pelayanan. Dan loket terpadu ini, menyisakan kenangan yang lucu dan menyenangkan bin menyebalkan juga di benak saya. Anda pikir para aparat pemerintah itu menyebalkan dan bikin makan hati? Hah, masyarakat yang dilayanipun banyak juga yang bertingkah menyebalkan dan membuat perut para petugas mulas. Vice versa deh :D. Ini cerita dibalik layar loket.
Loket dibuka pukul delapan. Dan biasanya, saya sudah datang sebelum pukul delapan. Saya senang bercanda- canda dulu dengan petugas yang lain, atau menyempatkan memompa ASI di toilet kantor. Biasanya, beberapa pendaftar sudah ada disitu, dan mereka yang mengenal saya akan menyapa dan mengajak saya ngobrol. Suatu hari, datanglah seorang bapak yang dari tampangnya saja sudah mirip bakpia berjamur. Dengan kasar dan setengah memaksa dia meminta saya untuk mulai saja membuka loket dan melayaninya. Saya dengan tenang menolak, karena sudah tertulis dengan jelas di peraturan bahwa loket dibuka jam 8 pagi. Marahlah dia, mengatakan bahwa saya adalah gambaran PNS pada umumnya yang ogah- ogahan melayani. Dengan menyunggingkan senyum riang saya menjawab “Saya takut dosa pak kalau harus melayani bapak di luar jam kerja. Tapi kalau di dalam jam kerja, nah baru saya berani.”
Ada alasannya saya menolak melayani lebih cepat. Oke saya memang sudah datang, tapi petugas yang membawa kunci laci tempat dokumen disimpan belum datang. Petugas di kantor belakang belum siap. Kepala seksi tempat berkonsultasi belum datang. Jadi percuma juga saya membuka loket lebih cepat, karena kelengkapan loket belum siap. Plus, ngapain juga saya harus menyenangkan hati seseorang yang memandang saya dengan tatapan melecehkan dan kata- kata kasar?
Suatu hari, ada orang yang marah- marah dan dengan lantang mengatakan loket terpadu ini malah bikin pelayanan tambah buruk! Makin lambat! Masak dia sudah duduk menunggu selama dua jam dan masih belum dilayani (padahal menunggunya juga di kursi empuk di ruang ber-AC. Ada aqua untuk minum pula). Dia mengomel pada saya, padahal saya sedang melayani pendaftar lain. Dengan galak saya berkata kepadanya “Emangnya kalau bapak antri di bank atau di kantor telkomsel enggak nunggu juga apa? Atau kalau ke dokter? Dan apa saya kelihatan santai- santai sambil ngopi sih sejak pagi tadi?”
Masalahnya adalah, ternyata si bapak ini dulu biasa main selonang selonong saja, karena merasa dekat dengan para petinggi. Kalau dulu dia bisa langsung srudak- sruduk, sekarang dia terpaksa ikut antri dengan tertib. Ngambeklah dia. Dan berusaha mencari cara supaya bisa dilayani lebih cepat. Dia kemudian berkata bahwa produknya dia sudah datang di pelabuhan dan dia mau ada rapat penting. Lha emang gue pikirin? Mending juga kalau dia lalu mencantumkan nama saya dalam surat wasiatnya, baru deh saya mau ikut memikirkan betapa malang nasibnya yang bakal terlambat rapat. Bagi orang yang tidak terbiasa menuruti aturan, ternyata memang berat berubah menjadi tertib.
Selain para pelanggar budaya antri, ada lagi dua jenis pendaftar yang bikin saya meringis. Sepanjang karir singkat saya sebagai penjaga loket, sudah lima kali saya kedatangan pendaftar, yang saat saya tunjukkan dimana letak kesalahan dokumennya, atau saya beritahukan bahwa berkasnya belum jadi, lalu akan menjawab dengan tarikan wajah keras dan suara berwibawa “Saya ini sarjana hukum lho!” Lalu kemudian dilanjutkan dengan variasi ancaman semacam “Jangan main- main sama saya!” atau “Jangan memperumit persyaratan ya!”
Nah lho, jadi bingung saya, padahal rasanya saya tidak mengedipkan mata atau tersenyum menggoda, kenapa si sarjana hukum ini menuduh saya mengajaknya bermain- main ya? Dan masalah berkas belum selesai, saya sudah menunjukkan kemana dia harus protes atau bertanya; ke kepala seksi yang duduk di sebelah saya. Tinggal geser duduk doang euy! Hm, mungkin para pria sarjana hukum ini kesal karena jadinya mereka harus dilayani oleh para kepala seksi yang sudah renta, bukan gadis cantik jelita seperti saya. Biasanya sih, sebagai warga negara yang sopan, saat seseorang menyatakan bahwa dia adalah sarjana hukum, saya dengan ramah akan menjawab ajakan perkenalannya “Ohya? Kalau saya sarjana farmasi. Lulusan Airlangga.” Ah, memang saya itu paling nggak bisa menolak cowok yang minta berkenalan, padahal ya saya sudah bersuami dan beranak....
Jenis pendaftar yang lain sepertinya adalah sepupunya si sarjana hukum. Mereka adalah orang yang tanpa diminta mengumumkan “Saya ini mantan pejabat lho!” Saya rada heran, kenapa juga hal itu harus diumum-umumkan? Itu kan sama saja bilang “Saya ini mantan konglomerat lho” atau “Saya ini mantan ustad lho”. Lha ya kan orang malah jadi tahu bahwa dia sekarang bukan pejabat lagi. Tapi untuk kasus yang ini, saya biasanya menahan mulut untuk tidak membanyol. Saya tidak tega melihat seorang bapak sepuh yang masih mencoba berpegangan pada masa lalunya yang gemilang. Dan kalau seorang mantan pejabat tinggi, kemudian di usia pensiunnya ternyata masih harus menjadi karyawan junior yang antri sambil membawa- bawa berkas setumpuk, yah hati ini tidak tega untuk menjahati.
Bahkan saat seorang bapak mantan pejabat datang untuk mendaftarkan pendirian pabrik, dan kemudian saya menerangkan bahwa dia seharusnya mengantri di loket sebelah karena loket saya adalah untuk mendaftarkan produk ( loketnya berjarak sepuluh meter to the left dan kosong melompong nggak ada antrian), dan kemudian dengan merah padam si bapak berkata “Kamu jangan bikin saya seperti orang bodoh ya. Seolah saya nggak ngerti hal sepele kayak gitu. Saya ini dulu Kasubdit lho!” Bahkan untuk orang yang semenyebalkan itu, saya paling banter hanya memasang wajah tegas dan tidak meladeni celotehannya. Kasihan, contoh nyata bahwa kejamnya ibu tiri masih kalah dengan kejamnya post power syndrome.....
Sistem di loket saya pastilah jauh dari sempurna. Karena keterbatasan sarana dan personil (meski jumlah PNS buanyak, anehnya yang diletakkan di pelayanan publik sangatlah minim, saya sendiri heran), memang pelayanan kami jauh dari efisien. Seorang bapak marah setelah saya menerangkan bahwa dia tidak bisa bertanya lewat email atau telepon (percayalah, kami pernah mencobanya, dan dengan personil yang terbatas, jadinya kami malah sibuk membalas email dan menerima telepon, nggak sempat memeriksa berkas). Saya, yang pernah bekerja di perusahaan swasta, tahu betapa pentingnya efisiensi waktu. Karena itu saya berusaha membantunya, mencari celah supaya kedatangan si bapak ini menjadi lebih efisien, tanpa harus melanggar aturan. Saya tidak mungkin memberikan nama atau nomer telepon petugas pemeriksa berkasnya. Itu melanggar aturan. Dan jelas saya tidak mau memberikan nomor telepon saya. Saya kan wanita baik- baik. Dan dia kan bapak paruh baya bertampang lele.
Saya memberitahunya bahwa seksi yang akan memeriksa berkasnya biasanya mendapat giliran jaga di hari rabu, dan sesuai peraturan, berkas itu membutuhkan waktu dua minggu untuk diperiksa. “Jadi, bapak datang lagi hari rabu dua minggu lagi. Bapak bisa langsung bertemu dengan petugas yang memeriksa berkas Bapak, dan bisa sekalian berkonsultasi tentang kekurangannya."
Karena rupanya ini pertama kalinya si Bapak mendaftar, akan sangat membantu jika ia bisa sekaligus bertanya apa kekurangan berkasnya dan bagaimana perbaikan yang diinginkan langsung ke si pemeriksa. Saya berani bertaruh bahwa pasti berkas si Bapak masih banyak salahnya. Maklum, namanya juga malam pertama, eh berkas pertama. Si bapak marah, dan mengata- ngatai kami tidak efisien, tidak tahu betapa sibuknya dia, betapa macetnya Kuningan, betapa susahnya mencari parkir. Saya memahami. Sungguh memahami. Tapi dengan tegas saya berkata “Bapak boleh marah- marah ke saya kalau itu bikin Bapak lega. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah Bapak. Saya berusaha menunjukkan celah agar kedatangan Bapak bisa optimal. Kalau Bapak memang keberatan dengan sistem kami, di bawah meja TV itu ada kotak saran. Silahkan Bapak ajukan kritik dan saran.”
Dan kemudian saya mendapatkan ancaman “Saya kenal banyak orang TV! Hati- hati kamu!” Ah sial, tahu begitu saya luluran dan make-up an dulu tadi pagi >:( .
Beberapa pendaftar, mungkin karena pengalaman pahit di masa lalu dengan instansi lain, belum apa- apa sudah langsung berburuk sangka. Mereka datang dengan pikiran bahwa kami akan mempersulit prosedur, bahwa kami akan morotin dompet mereka sampai kering, dan bahwa para petugas loket itu adalah keponakannya para sundel bolong. Saat saya menerangkan syarat dokumen yang harus dipenuhi, ada yang dengan marah berkata bahwa syarat yang diminta mengada- ada dan hanya untuk mempersulit perusahaan. Katanya "Coba kalau di Eropa atau Amerika, pasti nggak serumit ini, dan nggak bertele- tele begini prosesnya." (Note: Indonesia mengikuti prosedur yang diterapkan di Eropah sana. Dan kalau si pendaftar sudah merasa pening dengan syarat kami, dia bakalan muntah darah kalau tahu apa saja syarat yang diminta FDAnya Amrik).
Ada juga yang kemudian menuduh saya "Embak minta disogok duit dulu ya baru mau kerja?" Lha ya, dia kira saya sudah ngendon mengerami loket sejak jam delapan pagi sampai jam empat sore itu dalam rangka ngeceng cari jodoh kali ya? Memang sih senyum saya semanis madu dan betis saya sehalus beledu, tapi saya ini lagi kerja mas, bukan cari selingkuhan. Hadew, memang nasib jadi cewek seksi...
Suatu ketika saya kedatangan seorang embak- embak perlente dari biro konsultasi besar. Dia bertanya ini dan itu untuk kliennya. Embaknya sopan, baunya wangi, cantik, dan pintar. Tapi saya nyaris migren saat mencoba memahami perkataannya. Masalahnya adalah, si embak keren ini berbahasa Indonesia dengan logat ala Cinta Laura keselek kedondong, dan untuk setiap kalimat sederhana yang ingin ia sampaikan, ia harus menyusunnya dengan susah payah. Melihat ekspresinya yang seperti siamang hendak bertelur saat berusaha keras menyusun kata untuk mengucapkan “Jadi produk saya ini membutuhkan permohonan khusus ya?” membuat hati saya miris. Belum lagi melihat ekspresinya saat dia mencoba memahami penjelasan saya. Akhirnya, saya tidak tahan dan berucap “Can we just talk in English?” Tapi si embak langsung menjawab “Oh tidak perlu. Saya bisa kok mengerti penjelasan ibu.” Terpaksalah selama sepuluh menit berikutnya kami berdua berkomunikasi dengan tarikan wajah bak kungkang sembelit.
Lalu apakah semua pendaftar itu membuat saya siap mengasah golok? Tentu tidak. Banyak juga yang membuat saya mengelus dada karena kasihan. Seorang ibu tua sudah bolak- balik harus datang ke loket karena CD yang dia buat salah lagi salah lagi. Saya sudah memohon agar si ibu membawa orang lain yang mengerti soal per-CD-an, karena bahkan saya tidak yakin si ibu ini tahu caranya menyalakan komputer. Dan bahkan syaratpun sudah saya perlonggar, asal semua dokumen ada, mau susunannya berantakan pun saya terima deh! Kemudian si ibu membawa seorang anak muda yang tampak polos dan lugu. Dan ternyata si anak muda ini tetap tidak mengerti penjelasan saya (plus penjelasan yang diberikan teman saya yang lain, karena saya sudah tergeletak lemas dengan mulut berbusa persis anjing rabies, setelah selama setengah jam berusaha membuat mereka paham). Inilah salah satu bukti kesenjangan yang besar di masyarakat. Perusahaan- perusahaan besar datang dengan karyawan yang sekece Manohara, sementara industri rakyat hanya mampu menyewa pegawai yang sepintar Manohara.
Apalagi kalau menghadapi orang dari luar kota. Yang datang sambil menenteng koper. Untuk mereka ini, apalagi kalau itu industri rakyat, segala daya upaya saya kerahkan untuk membantu mereka. Dengan tekun saya ajari mereka, agar jangan sampai harus berulang kali salah. Bahkan saya bersedia mengorbankan jam makan siang saya demi mengantarkan berkas itu sendiri ke gedung sebelah, tempat bos saya bisa langsung meng-ACC nya. Berhadapan dengan seorang bapak yang datang dari pelosok, yang mendaftarkan produk 'kelas terinya', ah hati ini luluh rasanya. Di akhir sesi 'kultum', si bapak dengan halus menyodorkan selembar uang sepuluh ribu rupiah sambil berbisik "Makasih ya Dek, ini untuk beli jus." Ahh.... saya mengangsurkan kembali uangnya kepada si bapak sambil melirik gelas Frapuccino Java Chip Venti di hadapan saya.....
Ah, kangen juga saya sama loket saya, dan para sarjana hukum fans saya.....
Nah, meskipun saya tentu saja pernah jengkel banget dengan pelayanan setengah hati para aparat pemerintah, tapi saya mempunyai pengalaman hidup yang terbilang unik, merasakan menjadi penikmat pelayanan publik sekaligus sebagai aparat pemberi pelayanan. Selama setahun sebelum hijrah ke negerinya Crocodile Dundee, saya pernah juga lho menjadi abdi masyarakat. Dan saya kebagian untuk bertugas di tempat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, bertugas di bagian pendaftaran alat kesehatan. Jadi, semua produk alat kesehatan baik produksi lokal atau impor haruslah diregistrasi dulu di kantor saya sebelum boleh diedarkan ke masyarakat. Dan saya ketiban sampur sebagai salah satu petugas di loket pendaftaran. Jadilah saya melayani ribuan perusahaan yang ingin mendaftarkan jutaan produknya.
Awalnya, lokasi loket pendaftaran itu berada dalam ruangan nan sesak yang membuat para pendaftar terpaksa berhimpit bak ikan sarden pakai korset. Sistem pemanggilan antriannya acakadut, pejabat yang ingin ditemui tidak jelas jadwal kedatangannya, ada yang rajin dan ada yang telat melulu. Petugas loketnya kadang baik kadang galak. Pokoknya menyebalkan.
Sampai kemudian seseorang (entah siapa) mempunyai ide cerdas membuat pelayanan publik satu atap. Namanya, loket pelayanan terpadu. Semua pelayanan publik di departemen kami dikumpulkan dalam satu ruangan, sehingga masyarakat tidak harus berlari kesana kemari untuk mendapatkan pelayanan. Semua petugas loket harus datang tepat waktu, dan harus selalu ada pejabat di loket agar para pendaftar bisa berkonsultasi. Ruangan dibuat transparan tanpa sekat, jadi jangan harap bisa menyogok petugas dengan sekaleng krupuk atau sekardus bandeng. Bakal ketahuan.
Meskipun tugas saya menjadi lebih berat dengan adanya loket tersebut, tapi sejujurnya saya senang. Saya senang karena sekarang tidak ada lagi kesempatan bagi orang yang merasa berteman dengan bos besar untuk menyerobot antrian. Saya senang karena tidak ada lagi amplop dan sebangsanya yang disodorkan ke saya. Saya senang karena semua orang mendapat hak yang sama dalam memperoleh pelayanan. Dan loket terpadu ini, menyisakan kenangan yang lucu dan menyenangkan bin menyebalkan juga di benak saya. Anda pikir para aparat pemerintah itu menyebalkan dan bikin makan hati? Hah, masyarakat yang dilayanipun banyak juga yang bertingkah menyebalkan dan membuat perut para petugas mulas. Vice versa deh :D. Ini cerita dibalik layar loket.
Loket dibuka pukul delapan. Dan biasanya, saya sudah datang sebelum pukul delapan. Saya senang bercanda- canda dulu dengan petugas yang lain, atau menyempatkan memompa ASI di toilet kantor. Biasanya, beberapa pendaftar sudah ada disitu, dan mereka yang mengenal saya akan menyapa dan mengajak saya ngobrol. Suatu hari, datanglah seorang bapak yang dari tampangnya saja sudah mirip bakpia berjamur. Dengan kasar dan setengah memaksa dia meminta saya untuk mulai saja membuka loket dan melayaninya. Saya dengan tenang menolak, karena sudah tertulis dengan jelas di peraturan bahwa loket dibuka jam 8 pagi. Marahlah dia, mengatakan bahwa saya adalah gambaran PNS pada umumnya yang ogah- ogahan melayani. Dengan menyunggingkan senyum riang saya menjawab “Saya takut dosa pak kalau harus melayani bapak di luar jam kerja. Tapi kalau di dalam jam kerja, nah baru saya berani.”
Ada alasannya saya menolak melayani lebih cepat. Oke saya memang sudah datang, tapi petugas yang membawa kunci laci tempat dokumen disimpan belum datang. Petugas di kantor belakang belum siap. Kepala seksi tempat berkonsultasi belum datang. Jadi percuma juga saya membuka loket lebih cepat, karena kelengkapan loket belum siap. Plus, ngapain juga saya harus menyenangkan hati seseorang yang memandang saya dengan tatapan melecehkan dan kata- kata kasar?
Suatu hari, ada orang yang marah- marah dan dengan lantang mengatakan loket terpadu ini malah bikin pelayanan tambah buruk! Makin lambat! Masak dia sudah duduk menunggu selama dua jam dan masih belum dilayani (padahal menunggunya juga di kursi empuk di ruang ber-AC. Ada aqua untuk minum pula). Dia mengomel pada saya, padahal saya sedang melayani pendaftar lain. Dengan galak saya berkata kepadanya “Emangnya kalau bapak antri di bank atau di kantor telkomsel enggak nunggu juga apa? Atau kalau ke dokter? Dan apa saya kelihatan santai- santai sambil ngopi sih sejak pagi tadi?”
Masalahnya adalah, ternyata si bapak ini dulu biasa main selonang selonong saja, karena merasa dekat dengan para petinggi. Kalau dulu dia bisa langsung srudak- sruduk, sekarang dia terpaksa ikut antri dengan tertib. Ngambeklah dia. Dan berusaha mencari cara supaya bisa dilayani lebih cepat. Dia kemudian berkata bahwa produknya dia sudah datang di pelabuhan dan dia mau ada rapat penting. Lha emang gue pikirin? Mending juga kalau dia lalu mencantumkan nama saya dalam surat wasiatnya, baru deh saya mau ikut memikirkan betapa malang nasibnya yang bakal terlambat rapat. Bagi orang yang tidak terbiasa menuruti aturan, ternyata memang berat berubah menjadi tertib.
Selain para pelanggar budaya antri, ada lagi dua jenis pendaftar yang bikin saya meringis. Sepanjang karir singkat saya sebagai penjaga loket, sudah lima kali saya kedatangan pendaftar, yang saat saya tunjukkan dimana letak kesalahan dokumennya, atau saya beritahukan bahwa berkasnya belum jadi, lalu akan menjawab dengan tarikan wajah keras dan suara berwibawa “Saya ini sarjana hukum lho!” Lalu kemudian dilanjutkan dengan variasi ancaman semacam “Jangan main- main sama saya!” atau “Jangan memperumit persyaratan ya!”
Nah lho, jadi bingung saya, padahal rasanya saya tidak mengedipkan mata atau tersenyum menggoda, kenapa si sarjana hukum ini menuduh saya mengajaknya bermain- main ya? Dan masalah berkas belum selesai, saya sudah menunjukkan kemana dia harus protes atau bertanya; ke kepala seksi yang duduk di sebelah saya. Tinggal geser duduk doang euy! Hm, mungkin para pria sarjana hukum ini kesal karena jadinya mereka harus dilayani oleh para kepala seksi yang sudah renta, bukan gadis cantik jelita seperti saya. Biasanya sih, sebagai warga negara yang sopan, saat seseorang menyatakan bahwa dia adalah sarjana hukum, saya dengan ramah akan menjawab ajakan perkenalannya “Ohya? Kalau saya sarjana farmasi. Lulusan Airlangga.” Ah, memang saya itu paling nggak bisa menolak cowok yang minta berkenalan, padahal ya saya sudah bersuami dan beranak....
Jenis pendaftar yang lain sepertinya adalah sepupunya si sarjana hukum. Mereka adalah orang yang tanpa diminta mengumumkan “Saya ini mantan pejabat lho!” Saya rada heran, kenapa juga hal itu harus diumum-umumkan? Itu kan sama saja bilang “Saya ini mantan konglomerat lho” atau “Saya ini mantan ustad lho”. Lha ya kan orang malah jadi tahu bahwa dia sekarang bukan pejabat lagi. Tapi untuk kasus yang ini, saya biasanya menahan mulut untuk tidak membanyol. Saya tidak tega melihat seorang bapak sepuh yang masih mencoba berpegangan pada masa lalunya yang gemilang. Dan kalau seorang mantan pejabat tinggi, kemudian di usia pensiunnya ternyata masih harus menjadi karyawan junior yang antri sambil membawa- bawa berkas setumpuk, yah hati ini tidak tega untuk menjahati.
Bahkan saat seorang bapak mantan pejabat datang untuk mendaftarkan pendirian pabrik, dan kemudian saya menerangkan bahwa dia seharusnya mengantri di loket sebelah karena loket saya adalah untuk mendaftarkan produk ( loketnya berjarak sepuluh meter to the left dan kosong melompong nggak ada antrian), dan kemudian dengan merah padam si bapak berkata “Kamu jangan bikin saya seperti orang bodoh ya. Seolah saya nggak ngerti hal sepele kayak gitu. Saya ini dulu Kasubdit lho!” Bahkan untuk orang yang semenyebalkan itu, saya paling banter hanya memasang wajah tegas dan tidak meladeni celotehannya. Kasihan, contoh nyata bahwa kejamnya ibu tiri masih kalah dengan kejamnya post power syndrome.....
Sistem di loket saya pastilah jauh dari sempurna. Karena keterbatasan sarana dan personil (meski jumlah PNS buanyak, anehnya yang diletakkan di pelayanan publik sangatlah minim, saya sendiri heran), memang pelayanan kami jauh dari efisien. Seorang bapak marah setelah saya menerangkan bahwa dia tidak bisa bertanya lewat email atau telepon (percayalah, kami pernah mencobanya, dan dengan personil yang terbatas, jadinya kami malah sibuk membalas email dan menerima telepon, nggak sempat memeriksa berkas). Saya, yang pernah bekerja di perusahaan swasta, tahu betapa pentingnya efisiensi waktu. Karena itu saya berusaha membantunya, mencari celah supaya kedatangan si bapak ini menjadi lebih efisien, tanpa harus melanggar aturan. Saya tidak mungkin memberikan nama atau nomer telepon petugas pemeriksa berkasnya. Itu melanggar aturan. Dan jelas saya tidak mau memberikan nomor telepon saya. Saya kan wanita baik- baik. Dan dia kan bapak paruh baya bertampang lele.
Saya memberitahunya bahwa seksi yang akan memeriksa berkasnya biasanya mendapat giliran jaga di hari rabu, dan sesuai peraturan, berkas itu membutuhkan waktu dua minggu untuk diperiksa. “Jadi, bapak datang lagi hari rabu dua minggu lagi. Bapak bisa langsung bertemu dengan petugas yang memeriksa berkas Bapak, dan bisa sekalian berkonsultasi tentang kekurangannya."
Karena rupanya ini pertama kalinya si Bapak mendaftar, akan sangat membantu jika ia bisa sekaligus bertanya apa kekurangan berkasnya dan bagaimana perbaikan yang diinginkan langsung ke si pemeriksa. Saya berani bertaruh bahwa pasti berkas si Bapak masih banyak salahnya. Maklum, namanya juga malam pertama, eh berkas pertama. Si bapak marah, dan mengata- ngatai kami tidak efisien, tidak tahu betapa sibuknya dia, betapa macetnya Kuningan, betapa susahnya mencari parkir. Saya memahami. Sungguh memahami. Tapi dengan tegas saya berkata “Bapak boleh marah- marah ke saya kalau itu bikin Bapak lega. Tapi itu tidak akan menyelesaikan masalah Bapak. Saya berusaha menunjukkan celah agar kedatangan Bapak bisa optimal. Kalau Bapak memang keberatan dengan sistem kami, di bawah meja TV itu ada kotak saran. Silahkan Bapak ajukan kritik dan saran.”
Dan kemudian saya mendapatkan ancaman “Saya kenal banyak orang TV! Hati- hati kamu!” Ah sial, tahu begitu saya luluran dan make-up an dulu tadi pagi >:( .
Beberapa pendaftar, mungkin karena pengalaman pahit di masa lalu dengan instansi lain, belum apa- apa sudah langsung berburuk sangka. Mereka datang dengan pikiran bahwa kami akan mempersulit prosedur, bahwa kami akan morotin dompet mereka sampai kering, dan bahwa para petugas loket itu adalah keponakannya para sundel bolong. Saat saya menerangkan syarat dokumen yang harus dipenuhi, ada yang dengan marah berkata bahwa syarat yang diminta mengada- ada dan hanya untuk mempersulit perusahaan. Katanya "Coba kalau di Eropa atau Amerika, pasti nggak serumit ini, dan nggak bertele- tele begini prosesnya." (Note: Indonesia mengikuti prosedur yang diterapkan di Eropah sana. Dan kalau si pendaftar sudah merasa pening dengan syarat kami, dia bakalan muntah darah kalau tahu apa saja syarat yang diminta FDAnya Amrik).
Ada juga yang kemudian menuduh saya "Embak minta disogok duit dulu ya baru mau kerja?" Lha ya, dia kira saya sudah ngendon mengerami loket sejak jam delapan pagi sampai jam empat sore itu dalam rangka ngeceng cari jodoh kali ya? Memang sih senyum saya semanis madu dan betis saya sehalus beledu, tapi saya ini lagi kerja mas, bukan cari selingkuhan. Hadew, memang nasib jadi cewek seksi...
Suatu ketika saya kedatangan seorang embak- embak perlente dari biro konsultasi besar. Dia bertanya ini dan itu untuk kliennya. Embaknya sopan, baunya wangi, cantik, dan pintar. Tapi saya nyaris migren saat mencoba memahami perkataannya. Masalahnya adalah, si embak keren ini berbahasa Indonesia dengan logat ala Cinta Laura keselek kedondong, dan untuk setiap kalimat sederhana yang ingin ia sampaikan, ia harus menyusunnya dengan susah payah. Melihat ekspresinya yang seperti siamang hendak bertelur saat berusaha keras menyusun kata untuk mengucapkan “Jadi produk saya ini membutuhkan permohonan khusus ya?” membuat hati saya miris. Belum lagi melihat ekspresinya saat dia mencoba memahami penjelasan saya. Akhirnya, saya tidak tahan dan berucap “Can we just talk in English?” Tapi si embak langsung menjawab “Oh tidak perlu. Saya bisa kok mengerti penjelasan ibu.” Terpaksalah selama sepuluh menit berikutnya kami berdua berkomunikasi dengan tarikan wajah bak kungkang sembelit.
Lalu apakah semua pendaftar itu membuat saya siap mengasah golok? Tentu tidak. Banyak juga yang membuat saya mengelus dada karena kasihan. Seorang ibu tua sudah bolak- balik harus datang ke loket karena CD yang dia buat salah lagi salah lagi. Saya sudah memohon agar si ibu membawa orang lain yang mengerti soal per-CD-an, karena bahkan saya tidak yakin si ibu ini tahu caranya menyalakan komputer. Dan bahkan syaratpun sudah saya perlonggar, asal semua dokumen ada, mau susunannya berantakan pun saya terima deh! Kemudian si ibu membawa seorang anak muda yang tampak polos dan lugu. Dan ternyata si anak muda ini tetap tidak mengerti penjelasan saya (plus penjelasan yang diberikan teman saya yang lain, karena saya sudah tergeletak lemas dengan mulut berbusa persis anjing rabies, setelah selama setengah jam berusaha membuat mereka paham). Inilah salah satu bukti kesenjangan yang besar di masyarakat. Perusahaan- perusahaan besar datang dengan karyawan yang sekece Manohara, sementara industri rakyat hanya mampu menyewa pegawai yang sepintar Manohara.
Apalagi kalau menghadapi orang dari luar kota. Yang datang sambil menenteng koper. Untuk mereka ini, apalagi kalau itu industri rakyat, segala daya upaya saya kerahkan untuk membantu mereka. Dengan tekun saya ajari mereka, agar jangan sampai harus berulang kali salah. Bahkan saya bersedia mengorbankan jam makan siang saya demi mengantarkan berkas itu sendiri ke gedung sebelah, tempat bos saya bisa langsung meng-ACC nya. Berhadapan dengan seorang bapak yang datang dari pelosok, yang mendaftarkan produk 'kelas terinya', ah hati ini luluh rasanya. Di akhir sesi 'kultum', si bapak dengan halus menyodorkan selembar uang sepuluh ribu rupiah sambil berbisik "Makasih ya Dek, ini untuk beli jus." Ahh.... saya mengangsurkan kembali uangnya kepada si bapak sambil melirik gelas Frapuccino Java Chip Venti di hadapan saya.....
Ah, kangen juga saya sama loket saya, dan para sarjana hukum fans saya.....
Subscribe to:
Posts (Atom)