Dulu sewaktu Sera masih kecil, saya lebih merasakan capek secara
fisik. Capek ikut melekan di malam hari bak sundel bolong, capek mencoba
menidurkan, capek mengejar- ngejarnya untuk mengompres dahinya yang
sedang demam, dan capek mencoba melarangnya memanjat berbagai benda yang
ditemuinya; guci keramik, pagar besi, meja TV. Sekarang, semakin
beranjak besar si Cekci, rasa capeknya berimbang, setara antara capek
fisik (membantu mengangkat bokong semoknya ke atas seluncuran) dengan
capek batin. Si anak pesut satu ini sekarang sudah bisa menggeleng,
menolak perintah dan menggunakan teriakan melengkingnya sebagai senjata.
Saya
sering merasa kewalahan juga jadinya dalam menghadapi 'kebandelan'
Sera. Maklum saya kan bukan psikolog anak, hewan ternak, ataupun dukun
beranak, jadi ilmu saya cetek adanya. Dangkal. Tapi, ada beberapa hal
yang kemudian saya pelajari, hasil dari mengingat kesalahan yang saya
lakukan saat menghadapi si genduk. This is what I have learnt, sebagian
kecil yang sudah saya sadari dari pengalaman saya sendiri (sementara
masih banyak hal lain yang masih gelap juga bagi saya)
1. Jangan Obral Kata JANGAN
Kemarin,
saya makan siang di bakmi GM. Disebelah saya duduk seorang ibu dengan
dua orang anak kecilnya. Sepanjang 15 menit saya menyantap mi saya, si
ibu tanpa henti berkata- kata semacam ini "Jangan ditendang bangkunya", "Jangan diaduk- aduk mie nya", "Jangan berantakan makannya"
dan sederet kata jangan untuk berbagai hal. Saya yang duduk
disebelahnya, sampai risih mendengarnya. Si ibu ini teruuuuussss saja
nyerocos melarang anaknya melakukan berbagai hal, baik yang memang
nyata- nyata adalah kenakalan (seperti menendang- nendang kursi) sampai
yang menurut saya hanya kenakalan imajiner. Saya sampai berpikir ni ibu
hanya senang saja mendengar suaranya sendiri, makanya dia keep saying
JANGAN. Nah, kalau saya risih mendengar si ibu, bagaimana dengan kedua
anaknya? Saat saya melirik kearah mereka, si kakak dan si adik tampak
tidak terpengaruh. Cuek. Contoh nyata peribahasa masuk telinga kanan
keluar dengkul kiri.
Okelah, saya sih jelas bukan
orang sarap kayak si ibu bawel itu. Tapi kadang, saya juga senang
'iseng' mengatakan jangan atau nggak boleh kepada Sera. Misalnya nih,
saat Sera meraih dompet saya dan mulai mengeluarkan kartu-kartu saya.
Otomatis saya akan berkata "Jangan Ser." Tapi sebetulnya, saya
tidak benar- benar keberatan dompet saya diacak- acak Sera. Jadi
biasanya, dengan setengah hati saya akan berkata jangan, tetapi tidak
menindaklanjuti larangan saya itu. Atau kemarin di bandara saya
mendengar seorang ibu yang melarang anaknya berdiri di atas kursi ruang
tunggu. Beberapa kali dia berkata jangan dan mencoba menurunkan anaknya.
Tetapi saat anaknya kemudian naik lagi ke atas kursi, ibunya membiarkan
saja karena memang sepertinya sih si ibu ini seperti saya; melarang
dengan setengah hati.
Pertanyaan saya, lalu bagaimana
kemudian saya berharap Sera akan menganggap serius saat saya dengan
suara keras berkata "JANGAN" saat ia bersiap membanting gelas kaca atau
memegang knalpot sepeda motor? Apa bedanya kata jangan 'iseng' saya saat
melarangnya membuka dompet dengan kata jangan 'serius' saat ia hendak
memukul ajah temannya? Mengharapkan anak dua tahun akan mampu membedakan
antara kata jangan yang iseng dan yang serius, itu namanya emaknya yang
bloon.
Dan saya memang bloon. Sampai kemudian saya
sadar ini kenapa kata jangan yang saya lontarkan tidak terlalu memberi
efek bagi Sera yah? Sejak saat itu, saya mencoba untuk tidak mengobral
kata jangan. Saat Sera hendak membuka pintu lemari dapur yang berisi
panci dan kaleng yang menarik hatinya dan relatif tidak berbahaya
(tetapi di sebelahnya ada piring kaca yang bila dibanting ya pecah), ya
saya harus memutuskan. Kalau saya melarang Sera karena takut dia
memecahkan piring, ya saya harus dengan tegas melarang dan memastikan
Sera mengerti bahwa dia tidak boleh membuka lemari dapur sama sekali.
Atau jika saya memang membolehkan, ya sudah nggak usah iseng bilang
jangan, tapi membiarkan saja (dan nanti saat Sera memecahkan piring
kemudian mengomel "Udah dibilangin jangan dibuka ngeyel. Sekrang pecah kan!!!!")
Never
ever memberikan larangan pepesan kosong yang kalau diturutin ya syukur,
kalau enggak ya emaknya hanya bakal merepet ngomel "Nggak bisa dibilangin kok ini anak"
tanpa tindakan nyata untuk melarangnya. Saat saya berkata jangan kepada
Sera, saya harus dengan sepenuh hati memastikan Sera mematuhi. Sejak
saya menemukan 'pencerahan' itu, kata jangan yang terlontar dari mulut
saya berkurang drastis. Tapi, untuk setiap kata jangan yang saya
keluarkan, saya harus memberikan effort ekstra keras nan konsisten agar
Sera tahu her mom really means it when she says NO!
2. Okhi Tidak Mempedulikan Omelan Saya? Apalagi Sera
Ini
mungkin penyakit emak- emak, mengomel. Suatu ketika saya sedang keluar
masuk toko hendak mencari celana jins. Begitu mulai memasuki toko, Sera
mulai merengek. Menangis dan rewel, membuat saya tidak bisa memilih
dengan leluasa. Saat itu saya mengalah dan mengurungkan niat berbelanja.
Beberapa hari kemudian saya pergi ke Pasar Atom. Tidak seperti saat
mencoba membeli celana jins yang tidak urgen, kali ini saya memang
benar- benar butuh berbelanja cardigan dan mencarikan parfum nya si Okhi
yang sudah habis. Dan mulailah Sera kembali merengek dan bertingkah
menyebalkan setiap saya masuk ke salah satu toko dan memilih- milih
baju. Saya benar- benar jengkel dan habis kesabaran. Pergi ke Pasar Atum
itu membutuhkan usaha, dan saya memang benar- benar membutuhkan
barangnya. Kemudian di salah satu toko saya menuju ke kamar pas untuk
mencoba baju. Saya menggendong Sera yang menangis dan merengek, dan saat
saya hendak menurunkannya dari gendongan agar saya bisa mencoba baju,
ia menolak turun. Berusaha tetap berada di gendongan saya. Saya benar-
benar jengkel dan frustasi. Saya mulai mengomel dan dengan gemas merepet
soal betapa menyebalkannya Sera, betapa nggak pengertiannya Sera,
betapa jengkelnya saya padanya. Dan Sera tetap berusaha naik ke
gendongan dan menolak turun sambil menangis. Saking jengkelnya, saya
gebuk bokongnya (she used thick diapers) dan nyaris saya pluntir
tangannya saking frustasinya (saya menggertakkan gigi dan meninju tembok
demi mencegah saya membuat lengan kecilnya Sera membiru terkena cubitan
saya).
Oh saya tahu bahwa menyakiti anak secara fisik
itu tidak dibenarkan dan tidak mendidik. Tapi ada saatnya dimana seorang
emak benar- benar kehabisan kendali dan kesabaran. Lalu kemarin, saya
menemani mama ke Plaza Marina untuk mencari handphone. Eh tanpa sengaja
kami melihat butik kecil yang memajang banyak kaus lengan panjang yang
begitu imut- imut. Terus terang, mencari kaos lengan panjang untuk si
Sera adalah perjuangan, karena ya nggak laku lah barang begituan di
Indonesia yang panas, sementara di Australia mahal sekali harganya. Saya
benar- benar merasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja saya membuka
pintu butik dan melangkah masuk, Sera yang tadinya menyanyi- nyanyi
dengan riang seketika mulai merengek. Saat saya tetap membawanya masuk
ke dalam toko, dia benar- benar menangis dan menjerit. Impossible saya
bisa meneruskan berbelanja. Tapi saya kemudian bergumam "Not this time Sera."
Saya
gendong Sera keluar dari toko, dan tangisnya segera mereda. Oh she
really used her scream as a weapon. Sambil tetap menggendongnya, tangan
kanan saya memegang dagunya dan dengan raut wajah serius dan bersungguh-
sungguh, saya berkata "Sera dengerin mama."
Sera
berusaha menolak bertatapan dengan saya, tapi saya bergeming. Sambil
tetap tangan saya memegang dagunya, dengan suara sangat tegas saya
berkata "Mama butuh masuk ke toko ini. Mama butuh belanja baju untuk
Sera dan untuk mama. Can you understand me? I'm only asking for couple
minutes. No crying, no screaming. Do you understand? Are you a good
girl? Do you understand what I'm saying? Now we're going back inside,
and no screaming. You are a good girl." Setiap kata saya ucapkan dengan penekanan dan perlahan.
Kemudian
saya melangkah masuk sambil menggendong Sera. Sera menekuk bibirnya
seperti yang biasa dilakukannya saat dimarahi. No crying and screaming
whatsoever. Selang beberapa menit , saya tersenyum kearahnya dan berkata
"You are a good girl. I'm so proud of you." Dan selanjutnya, saya memilih baju sementara Sera sibuk menjelajah ke seantero butik dengan riang.
Saya
juga nggak tahu teori soal ini, hanya saat saya mengomel, saat saya
menghadapi Sera dengan frustasi hingga ingin menangis, entah kenapa Sera
tidak mendengarkan. Tapi saat saya berkata kepadanya dengan serius,
dengan bersungguh- sungguh, tidak dengan nada mengomel dan merepet, I
think she realizes that her mom means business. Dan bahwa emaknya
bersungguh- sungguh dengan ucapannya, bukan sekedar sedang berkicau.
Tentu
saya juga harus berkompromi. Saya tahu Sera benci kegiatan belanja,
maka saya juga harus bertenggang rasa. Paling banter saya masuk keluar
empat buah toko, tidak lebih. Karena kalau Sera sudah sangat bosan dan
bete, dia tidak akan lagi mempedulikan apapun yang saya katakan.
3. She's not Einstein (yet)
Minggu
lalu saya mengajak Sera berjalan- jalan di supermarket bersama neneknya
dan kakak sepupunya. Dengan riang gembira kedua bocah ini menjelajah
seantero rak. Tangan- tangan mereka menyentuh jeruk dan berucap "Orange"
lalu menyentuh strawberry sambil menyebutkan namanya. Begitu terus,
juga terhadap botol- botol sabun dan sampo yang berjajar di rak. Saya
membiarkan karena no harm done. Sampai kemudian kami beranjak menuju ke
rak yang memajang aneka jenis roti. Saat saya menoleh, saya melihat jari
kecil si Sera bergerak hendak meremas sebuah roti pisang yang ada di
hadapannya. Dengan spontan saya setengah berteriak "Jangan. Jangan dipegang."
Dengan
kaget Sera membalikkan badannya, dan saya melihat ekspresi terkejut dan
bingung di wajahnya, yang kemudian berganti menjadi patah hati. Sera
tidak mengerti kenapa ia dibentak saat hendak memegang sebuah barang,
sementara sedari tadi ia diijinkan menyentuh barang- barang yang lain.
Saya
mendesah dengan sedih, kesal pada diri saya sendiri. Saya memaksakan
logika seorang dewasa, yang berasumsi bahwa si balita ini sudah paham
bedanya botol sabun dengan roti pisang. Sebetulnya saya juga bukannya
marah yang bagaimana sih, hanya spontan berteriak saat melihat jarinya
akan membuat gepeng si roti.
Saya berjongkok dan mengulurkan tangan, lalu merengkuhnya ke pelukan saya sambil berbisik "Did I scare you? I'm so sorry, I'm sorry."
Dan terus mengulang- ulang permintaan maaf saya. Sera menyembunyikan
wajahnya di bahu saya, mellow dan sendu. Saat Sera melakukan kesalahan
yang dia juga tahu bahwa itu salah, biasanya dia akan menunjukkan wajah
bersalah atau sekalian membangkang. Tapi saat ia merasa diperlakukan
tidak adil,ekspresinya really heart-breaking.
Lesson
learnt : saat saya mengijinkan Sera memegang barang di toko, sebagai
orang yang dewasa dan pintar, sayalah yang harus sadar bahwa ada barang
yang bakalan rusak kalau dipegang. Pilihannya adalah melarang Sera
memegang semua barang atau mengawasinya untuk mencegahnya merusak
barang. Emak di Oz akan berucap begini saat melarang anaknya memegang "Just Looking, Not Touching please"
Sama
seperti saat saya mengijinkan Sera bermain dengan kacamata saya. Lucu
banget melihat dia memasang kacamata di hidungnya yang mungil. Tapi saat
kemudian dia melebarkan kedua gagangnya yang beresiko membuat kacamata
saya patah, saya boleh mengambil kacamata saya untuk menyelamatkannya,
tapi jelas saya tidak boleh memarahinya. Mana dia tahu yang ini boleh
yang itu enggak. Lha dari tadi toh emaknya membolehkannya bermain dengan
si kacamata?
4. Hati- Hati Belanja Belanji
Suatu hari seorang teman saya bertanya "Sera kalau diajak ke toko pernah merengek minta beliin mainan nggak?" Saya menjawab "Enggak tuh."
Saya kemudian berpikir- pikir, iya ya, kenapa ya Sera kok relatif tidak
pernah rewel minta dibelikan ini dan itu saat saya ajak berbelanja ya?
Padahal saya ya tidak pernah secara khusus mendidik Sera soal ini.
Kenapa ya?
Sampai suatu ketika saya mengajak Sera ke
swalayan untuk membeli buah jeruk. Saat melewati kios yang menjual
sushi, Sera menghentikan langkahnya dan sambil menunjuk ke arah kios
berucap "Please, please." Wah, heran juga saya, kok tumben Sera
minta dibelikan begini ya? Padahal dia tidak pernah minta dibelikan
mainan atau es krim misalnya. Ada apa apa ada?
Setelah
mengelus- elus dengkul selama beberapa menit, sepertinya saya sedikit
mengerti. Saat saya mengajak Sera berbelanja di swalayan, saya tidak
pernah menawarkan apapun pada Sera. Kalaupun saya membeli es krim atau
biskuitnya Sera misalnya, ya saya langsung mengambilnya dan
memasukkannya ke dalam troli. Begitu juga dengan mainan. Sera tentu saja
senang sekali memegang dan bermain dengan aneka boneka dan mainan yang
dipajang, tetapi saya kebetulan juga tidak pernah membelikan mainan yang
Sera pegang secara spontan di toko. Jadi sepertinya Sera berasumsi
mainan di toko itu sama statusnya dengan mainan di playgroup; untuk main
di tempat.
Berbeda dengan kasus si sushi. Sushi itu
dijual di kios kecil. Bukannya saya sering- sering amat membelinya sih,
tetapi begini cara saya membelinya. Saya mendatangi kios, menunjuk
sushi yang saya inginkan, membayarnya, kemudian langsung saya serahkan
si sushi kepada Sera. Berdua, kami menikmatinya di bangku depan kios.
Akibatnya, Sera membuat mental note dengan logika sederhananya, kios
sushi= sushi enak= minta emak beliin.
Untuk Sera yang
masih sekecil dua tahun, salah satu hal sederhana agar dia tidak
merengek mau ini mau itu disaat belanja adalah dengan tidak membuat
kegiatan belanja diasosiasikan dengan membeli mainan dan jajan. Kalaupun
hendak membelikan es krim, ya langsung saja ambil dan masukkan ke dalam
troli bersama telur dan kangkung. Enggak usah ditunjukkan ke Sera
sambil berkata "Nih Ser, mama beliin es krim." Biarlah Sera
mengasosiasikan es krim dengan gelas kecil dan sendok yang tahu- tahu
terhidang di depan matanya di meja makan kuning kecil miliknya di rumah.
Jangan sampai deh ke indomaret = beli es krim, ke Carefour = beli
mainan, dst dst.
Tentu itu trik untuk anak yang masih
kecil. Besar sedikit, ya Sera bakal ngerti juga bentuknya es krim dan
biskuit beras kesukaannya. Mungkin pada saat itu, saya harus beralih
pada taktik lain, negosiasi mungkin? Mungkin saya nantinya harus
berembug dengan Sera soal berapa jatah es krim yang boleh dibelinya
seminggu, atau berapa kali dalam sebulan ia boleh membeli mainan.
Entahlah, saya belum perlu juga sih taktik ini, hehehe. Hanya intinya
sih bakalan sama kali ya, enggak ada yang namanya beli ini itu dengan
spontan. Enggak ada ceritanya tunjuk mainan dan langsung beli, tunjuk
permen dan langsung ambil (ya bolehlah sekali- kali). Entahlah, tahun
depan baru mungkin deh saya punya pengalaman soal tarik ulur dengan si
balita abege :D soal kuota jajannya.
5. Biasa Sebelum Mengerti
Apapun
itu, bila dilakukan sejak dini, akan membekas lebih dalam. Ceritanya,
sejak Sera belum genap berusia satu tahun, saya membiasakan dia untuk
duduk di toilet dan untuk sikat gigi. Seiring berjalannya waktu, saya
mulai malas mendudukkan Sera secara rutin di atas toilet. "Ah, toh dia masih pake diapers ini,"
pikir saya. Sebaliknya, karena saya sangat suka mencium bau mulutnya
Sera yang manis khas bayi dan sekaligus saya benar- benar senang melihat
giginya yang putih bersih, saya tidak pernah alpa untuk menyikat
giginya. At least sebelum dia tidur malam.
Sekarang
Sera dua tahun. Dia menolak duduk di atas toilet, menangis menjerit-
jerit setiap saya berusaha mendudukkannya. Panik, seolah bokongnya bakal
meluncur kecemplung ke dalam toilet. Padahal dulunya dia biasa- biasa
saja. Berbagai cara saya tempuh, berusaha menasehatinya, berusaha
menunjukkan bahwa aman kok duduk di atas toilet. Gagal. Dia tetap panik.
Dan masalahnya adalah Sera masih terlalu kecil untuk bisa saya ajak
berpikir secara logis, untuk bisa saya ajak mengerti apa fungsi duduk
di atas toilet dan bahwa hal tersebut aman. Pokoknya yang ada di
benaknya adalah dia takut duduk di atas toilet dan dia meronta dengan
panik.
Sebaliknya dengan kegiatan sikat gigi. Sama juga
Sera belum memahami kenapa dia harus menggosok gigi. Tapi karena hal
itu sudah dilakukan sejak dulu secara rutin, ya dia menerima hal
tersebut sebagai suatu hal yang biasa saja. Sama biasanya dengan memakai
baju sehabis mandi. Ada saatnya dia menangis tidak mau, mungkin karena
mengantuk atau lelah atau bad mood. Tapi saat saya tetap dengan tegas
memintanya membuka mulut agar bisa menyikat giginya, ya sambil
sesenggukan dia tetap membuka mulutnya. Dia tidak mengerti apa kegunaan
menyikat gigi, tapi dia sudah menerimanya sebagai keharusan yang wajib
dijalaninya.
Mau hidup anda lebih mudah nantinya?
Biasakan si kecil disikat giginya atau dipotong kukunya atau didudukkan
di atas toilet atau berdoa sebelum makan atau apapun kegiatan baik yang
ingin anda terapkan sejak sedini mungkin, sebelum dia mengerti apa
gunanya dan hanya melakukannya sebagai ritual semata. Be consistent.
Memang terkadang malas sih, tapi rewardnya besar juga. Saya sekarang
tidak pernah perlu bersusah payah berantem saat hendak menyikat gigi
Sera. Sementara upah kalau bermalas- malasan? Ya seperti saya yang masih
harus berjuang lagi (dengan lebih susah payah) membuat Sera mau
didudukkan di atas toilet :(.
Omogn- omong, ini sih
hanya hasil saya mengingat- ingat kesalahan dan keberuntungan saya saat
menghadapi Sera. Mungkin juga sih tidak sesuai teori para psikiater,
atau mungkin tidak cocok diterapkan bagi anak lain. Saya tidak menerima
protes yah :D:D:D. Dan terus terang saya juga masih puyeng dengan
sikapnya Sera saat sedang bad mood, yang merengek dan minta gendong
tanpa mau turun. Nggak bisa dimarahin, nggak mempan dibilangin.
Pucingggg :D:D:D:D.
No comments:
Post a Comment