Monday 27 February 2012

My Monday Note – Berhadapan dengan balita 2 tahun

Dulu sewaktu Sera masih kecil, saya lebih merasakan capek secara fisik. Capek ikut melekan di malam hari bak sundel bolong, capek mencoba menidurkan, capek mengejar- ngejarnya untuk mengompres dahinya yang sedang demam, dan capek mencoba melarangnya memanjat berbagai benda yang ditemuinya; guci keramik, pagar besi, meja TV. Sekarang, semakin beranjak besar si Cekci, rasa capeknya berimbang, setara antara capek fisik (membantu mengangkat bokong semoknya ke atas seluncuran) dengan capek batin. Si anak pesut satu ini sekarang sudah bisa menggeleng, menolak perintah dan menggunakan teriakan melengkingnya sebagai senjata.

Saya sering merasa kewalahan juga jadinya dalam menghadapi 'kebandelan' Sera. Maklum saya kan bukan psikolog anak, hewan ternak, ataupun dukun beranak, jadi ilmu saya cetek adanya. Dangkal. Tapi, ada beberapa hal yang kemudian saya pelajari, hasil dari mengingat kesalahan yang saya lakukan saat menghadapi si genduk. This is what I have learnt, sebagian kecil yang sudah saya sadari dari pengalaman saya sendiri (sementara masih banyak hal lain yang masih gelap juga bagi saya)

1. Jangan Obral Kata JANGAN

Kemarin, saya makan siang di bakmi GM. Disebelah saya duduk seorang ibu dengan dua orang anak kecilnya. Sepanjang 15 menit saya menyantap mi saya, si ibu tanpa henti berkata- kata semacam ini "Jangan ditendang bangkunya", "Jangan diaduk- aduk mie nya", "Jangan berantakan makannya" dan sederet kata jangan untuk berbagai hal. Saya yang duduk disebelahnya, sampai risih mendengarnya. Si ibu ini teruuuuussss saja nyerocos melarang anaknya melakukan berbagai hal, baik yang memang nyata- nyata adalah kenakalan (seperti menendang- nendang kursi) sampai yang menurut saya hanya kenakalan imajiner. Saya sampai berpikir ni ibu hanya senang saja mendengar suaranya sendiri, makanya dia keep saying JANGAN. Nah, kalau saya risih mendengar si ibu, bagaimana dengan kedua anaknya? Saat saya melirik kearah mereka, si kakak dan si adik tampak tidak terpengaruh. Cuek. Contoh nyata peribahasa masuk telinga kanan keluar dengkul kiri.  

Okelah, saya sih jelas bukan orang sarap kayak si ibu bawel itu. Tapi kadang, saya juga senang 'iseng' mengatakan jangan atau nggak boleh kepada Sera. Misalnya nih, saat Sera meraih dompet saya dan mulai mengeluarkan kartu-kartu saya. Otomatis saya akan berkata "Jangan Ser." Tapi sebetulnya, saya tidak benar- benar keberatan dompet saya diacak- acak Sera. Jadi biasanya, dengan setengah hati saya akan berkata jangan, tetapi tidak menindaklanjuti larangan saya itu. Atau kemarin di bandara saya mendengar seorang ibu yang melarang anaknya berdiri di atas kursi ruang tunggu. Beberapa kali dia berkata jangan dan mencoba menurunkan anaknya. Tetapi saat anaknya kemudian naik lagi ke atas kursi, ibunya membiarkan saja karena memang sepertinya sih si ibu ini seperti saya; melarang dengan setengah hati.

Pertanyaan saya, lalu bagaimana kemudian saya berharap Sera akan menganggap serius saat saya dengan suara keras berkata "JANGAN" saat ia bersiap membanting gelas kaca atau memegang knalpot sepeda motor? Apa bedanya kata jangan 'iseng' saya saat melarangnya membuka dompet dengan kata jangan 'serius' saat ia hendak memukul ajah temannya? Mengharapkan anak dua tahun akan mampu membedakan antara kata jangan yang iseng dan yang serius, itu namanya emaknya yang bloon.

Dan saya memang bloon. Sampai kemudian saya sadar ini kenapa kata jangan yang saya lontarkan tidak terlalu memberi efek bagi Sera yah? Sejak saat itu, saya mencoba untuk tidak mengobral kata jangan. Saat Sera hendak membuka pintu lemari dapur yang berisi panci dan kaleng yang menarik hatinya dan relatif tidak berbahaya (tetapi di sebelahnya ada piring kaca yang bila dibanting ya pecah), ya saya harus memutuskan. Kalau saya melarang Sera karena takut dia memecahkan piring, ya saya harus dengan tegas melarang dan memastikan Sera mengerti bahwa dia tidak boleh membuka lemari dapur sama sekali. Atau jika saya memang membolehkan, ya sudah nggak usah iseng bilang jangan, tapi membiarkan saja (dan nanti saat Sera memecahkan piring kemudian mengomel "Udah dibilangin jangan dibuka ngeyel. Sekrang pecah kan!!!!")

Never ever memberikan larangan pepesan kosong yang kalau diturutin ya syukur, kalau enggak ya emaknya hanya bakal merepet ngomel "Nggak bisa dibilangin kok ini anak" tanpa tindakan nyata untuk melarangnya. Saat saya berkata jangan kepada Sera, saya harus dengan sepenuh hati memastikan Sera mematuhi. Sejak saya menemukan 'pencerahan' itu, kata jangan yang terlontar dari mulut saya berkurang drastis. Tapi, untuk setiap kata jangan yang saya keluarkan, saya harus memberikan effort ekstra keras nan konsisten agar Sera tahu her mom really means it when she says NO!

2. Okhi Tidak Mempedulikan Omelan Saya? Apalagi Sera

Ini mungkin penyakit emak- emak, mengomel. Suatu ketika saya sedang keluar masuk toko hendak mencari celana jins. Begitu mulai memasuki toko, Sera mulai merengek. Menangis dan rewel, membuat saya tidak bisa memilih dengan leluasa. Saat itu saya mengalah dan mengurungkan niat berbelanja. Beberapa hari kemudian saya pergi ke Pasar Atom. Tidak seperti saat mencoba membeli celana jins yang tidak urgen, kali ini saya memang benar- benar butuh berbelanja cardigan dan mencarikan parfum nya si Okhi yang sudah habis. Dan mulailah Sera kembali merengek dan bertingkah menyebalkan setiap saya masuk ke salah satu toko dan memilih- milih baju. Saya benar- benar jengkel dan habis kesabaran. Pergi ke Pasar Atum itu membutuhkan usaha, dan saya memang benar- benar membutuhkan barangnya. Kemudian di salah satu toko saya menuju ke kamar pas untuk mencoba baju. Saya menggendong Sera yang menangis dan merengek, dan saat saya hendak menurunkannya dari gendongan agar saya bisa mencoba baju, ia menolak turun. Berusaha tetap berada di gendongan saya. Saya benar- benar jengkel dan frustasi. Saya mulai mengomel dan dengan gemas merepet soal betapa menyebalkannya Sera, betapa nggak pengertiannya Sera, betapa jengkelnya saya padanya. Dan Sera tetap berusaha naik ke gendongan dan menolak turun sambil menangis. Saking jengkelnya, saya gebuk bokongnya (she used thick diapers) dan nyaris saya pluntir tangannya saking frustasinya (saya menggertakkan gigi dan meninju tembok demi mencegah saya membuat lengan kecilnya Sera membiru terkena cubitan saya).

Oh saya tahu bahwa menyakiti anak secara fisik itu tidak dibenarkan dan tidak mendidik. Tapi ada saatnya dimana seorang emak benar- benar kehabisan kendali dan kesabaran. Lalu kemarin, saya menemani mama ke Plaza Marina untuk mencari handphone. Eh tanpa sengaja kami melihat butik kecil yang memajang banyak kaus lengan panjang yang begitu imut- imut. Terus terang, mencari kaos lengan panjang untuk si Sera adalah perjuangan, karena ya nggak laku lah barang begituan di Indonesia yang panas, sementara di Australia mahal sekali harganya. Saya benar- benar merasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Baru saja saya membuka pintu butik dan melangkah masuk, Sera yang tadinya menyanyi- nyanyi dengan riang seketika mulai merengek. Saat saya tetap membawanya masuk ke dalam toko, dia benar- benar menangis dan menjerit. Impossible saya bisa meneruskan berbelanja. Tapi saya kemudian bergumam "Not this time Sera."

Saya gendong Sera keluar dari toko, dan tangisnya segera mereda. Oh she really used her scream as a weapon. Sambil tetap menggendongnya, tangan kanan saya memegang dagunya dan dengan raut wajah serius dan bersungguh- sungguh, saya berkata "Sera dengerin mama."

Sera berusaha menolak bertatapan dengan saya, tapi saya bergeming. Sambil tetap tangan saya memegang dagunya, dengan suara sangat tegas saya berkata "Mama butuh masuk ke toko ini. Mama butuh belanja baju untuk Sera dan untuk mama. Can you understand me? I'm only asking for couple minutes. No crying, no screaming. Do you understand? Are you a good girl? Do you understand what I'm saying? Now we're going back inside, and no screaming. You are a good girl." Setiap kata saya ucapkan dengan penekanan dan perlahan.  

Kemudian saya melangkah masuk sambil menggendong Sera. Sera menekuk bibirnya seperti yang biasa dilakukannya saat dimarahi. No crying and screaming whatsoever. Selang beberapa menit , saya tersenyum kearahnya dan berkata "You are a good girl. I'm so proud of you." Dan selanjutnya, saya memilih baju sementara Sera sibuk menjelajah ke seantero butik dengan riang.

Saya juga nggak tahu teori soal ini, hanya saat saya mengomel, saat saya menghadapi Sera dengan frustasi hingga ingin menangis, entah kenapa Sera tidak mendengarkan. Tapi saat saya berkata kepadanya dengan serius, dengan bersungguh- sungguh, tidak dengan nada mengomel dan merepet, I think she realizes that her mom means business. Dan bahwa emaknya bersungguh- sungguh dengan ucapannya, bukan sekedar sedang berkicau.

Tentu saya juga harus berkompromi. Saya tahu Sera benci kegiatan belanja, maka saya juga harus bertenggang rasa. Paling banter saya masuk keluar empat buah toko, tidak lebih. Karena kalau Sera sudah sangat bosan dan bete, dia tidak akan lagi mempedulikan apapun yang saya katakan.

3. She's not Einstein (yet)

Minggu lalu saya mengajak Sera berjalan- jalan di supermarket bersama neneknya dan kakak sepupunya. Dengan riang gembira kedua bocah ini menjelajah seantero rak. Tangan- tangan mereka menyentuh jeruk dan berucap "Orange" lalu menyentuh strawberry sambil menyebutkan namanya. Begitu terus, juga terhadap botol- botol sabun dan sampo yang berjajar di rak. Saya membiarkan karena no harm done. Sampai kemudian kami beranjak menuju ke rak yang memajang aneka jenis roti. Saat saya menoleh, saya melihat jari kecil si Sera bergerak hendak meremas sebuah roti pisang yang ada di hadapannya. Dengan spontan saya setengah berteriak "Jangan. Jangan dipegang."

Dengan kaget Sera membalikkan badannya, dan saya melihat ekspresi terkejut dan bingung di wajahnya, yang kemudian berganti menjadi patah hati. Sera tidak mengerti kenapa ia dibentak saat hendak memegang sebuah barang, sementara sedari tadi ia diijinkan menyentuh barang- barang yang lain.

Saya mendesah dengan sedih, kesal pada diri saya sendiri. Saya memaksakan logika seorang dewasa, yang berasumsi bahwa si balita ini sudah paham bedanya botol sabun dengan roti pisang. Sebetulnya saya juga bukannya marah yang bagaimana sih, hanya spontan berteriak saat melihat jarinya akan membuat gepeng si roti.

Saya berjongkok dan mengulurkan tangan, lalu merengkuhnya ke pelukan saya sambil berbisik "Did I scare you? I'm so sorry, I'm sorry." Dan terus mengulang- ulang permintaan maaf saya. Sera menyembunyikan wajahnya di bahu saya, mellow dan sendu. Saat Sera melakukan kesalahan yang dia juga tahu bahwa itu salah, biasanya dia akan menunjukkan wajah bersalah atau sekalian membangkang. Tapi saat ia merasa diperlakukan tidak adil,ekspresinya really heart-breaking.

Lesson learnt : saat saya mengijinkan Sera memegang barang di toko, sebagai orang yang dewasa dan pintar, sayalah yang harus sadar bahwa ada barang yang bakalan rusak kalau dipegang. Pilihannya adalah melarang Sera memegang semua barang atau mengawasinya untuk mencegahnya merusak barang. Emak di Oz akan berucap begini saat melarang anaknya memegang "Just Looking, Not Touching please"

Sama seperti saat saya mengijinkan Sera bermain dengan kacamata saya. Lucu banget melihat dia memasang kacamata di hidungnya yang mungil. Tapi saat kemudian dia melebarkan kedua gagangnya yang beresiko membuat kacamata saya patah, saya boleh mengambil kacamata saya untuk menyelamatkannya, tapi jelas saya tidak boleh memarahinya. Mana dia tahu yang ini boleh yang itu enggak. Lha dari tadi toh emaknya membolehkannya bermain dengan si kacamata?


4. Hati- Hati Belanja Belanji

Suatu hari seorang teman saya bertanya "Sera kalau diajak ke toko pernah merengek minta beliin mainan nggak?" Saya menjawab "Enggak tuh." Saya kemudian berpikir- pikir, iya ya, kenapa ya Sera kok relatif tidak pernah rewel minta dibelikan ini dan itu saat saya ajak berbelanja ya? Padahal saya ya tidak pernah secara khusus mendidik Sera soal ini. Kenapa ya?

Sampai suatu ketika saya mengajak Sera ke swalayan untuk membeli buah jeruk. Saat melewati kios yang menjual sushi, Sera menghentikan langkahnya dan sambil menunjuk ke arah kios berucap "Please, please." Wah, heran juga saya, kok tumben Sera minta dibelikan begini ya? Padahal dia tidak pernah minta dibelikan mainan atau es krim misalnya. Ada apa apa ada?

Setelah mengelus- elus dengkul selama beberapa menit, sepertinya saya sedikit mengerti. Saat saya mengajak Sera berbelanja di swalayan, saya tidak pernah menawarkan apapun pada Sera. Kalaupun saya membeli es krim atau biskuitnya Sera misalnya, ya saya langsung  mengambilnya dan memasukkannya ke dalam troli. Begitu juga dengan mainan. Sera tentu saja senang sekali memegang dan bermain dengan aneka boneka dan mainan yang dipajang, tetapi saya kebetulan juga tidak pernah membelikan mainan yang Sera pegang secara spontan di toko. Jadi sepertinya Sera berasumsi mainan di toko itu sama statusnya dengan mainan di playgroup; untuk main di tempat.

Berbeda dengan kasus si sushi. Sushi itu dijual di kios  kecil. Bukannya saya sering- sering amat membelinya sih, tetapi begini cara saya membelinya. Saya mendatangi kios, menunjuk sushi yang saya inginkan, membayarnya, kemudian langsung saya serahkan si sushi kepada Sera. Berdua, kami menikmatinya di bangku depan kios. Akibatnya, Sera membuat mental note dengan logika sederhananya, kios sushi= sushi enak= minta emak beliin.

Untuk Sera yang masih sekecil dua tahun, salah satu hal sederhana agar dia tidak merengek mau ini mau itu disaat belanja adalah dengan tidak membuat kegiatan belanja diasosiasikan dengan membeli mainan dan jajan. Kalaupun hendak membelikan es krim, ya langsung saja ambil dan masukkan ke dalam troli bersama telur dan kangkung. Enggak usah ditunjukkan ke Sera sambil berkata "Nih Ser, mama beliin es krim." Biarlah Sera mengasosiasikan es krim dengan gelas kecil dan sendok yang tahu- tahu terhidang di depan matanya di meja makan kuning kecil miliknya di rumah. Jangan sampai deh ke indomaret = beli es krim, ke Carefour = beli mainan, dst dst.

Tentu itu trik untuk anak yang masih kecil. Besar sedikit, ya Sera bakal ngerti juga bentuknya es krim dan biskuit beras kesukaannya. Mungkin pada saat itu, saya harus beralih pada taktik lain, negosiasi mungkin? Mungkin saya nantinya harus berembug dengan Sera soal  berapa jatah es krim yang boleh dibelinya seminggu, atau berapa kali dalam sebulan ia boleh membeli mainan. Entahlah, saya belum perlu juga sih taktik ini, hehehe. Hanya intinya sih bakalan sama kali ya, enggak ada yang namanya beli ini itu dengan spontan. Enggak ada ceritanya tunjuk mainan dan langsung beli, tunjuk permen dan langsung ambil (ya bolehlah sekali- kali). Entahlah, tahun depan baru mungkin deh saya punya pengalaman soal tarik ulur dengan si balita abege :D soal kuota jajannya.

5. Biasa Sebelum Mengerti

Apapun itu, bila dilakukan sejak dini, akan membekas lebih dalam. Ceritanya, sejak Sera belum genap berusia satu tahun, saya membiasakan dia untuk duduk di toilet dan untuk sikat gigi. Seiring berjalannya waktu, saya mulai malas mendudukkan Sera secara rutin di atas toilet. "Ah, toh dia masih pake diapers ini," pikir saya. Sebaliknya, karena saya sangat suka mencium bau mulutnya Sera yang manis khas bayi dan sekaligus saya benar- benar senang melihat giginya yang putih bersih, saya tidak pernah alpa untuk menyikat giginya. At least sebelum dia tidur malam.

Sekarang Sera dua tahun. Dia menolak duduk di atas toilet, menangis menjerit- jerit setiap saya berusaha mendudukkannya. Panik, seolah bokongnya bakal meluncur kecemplung ke dalam toilet. Padahal dulunya dia biasa- biasa saja. Berbagai cara saya tempuh, berusaha menasehatinya, berusaha menunjukkan bahwa aman kok duduk di atas toilet. Gagal. Dia tetap panik. Dan masalahnya adalah Sera masih terlalu kecil untuk bisa saya ajak berpikir secara  logis, untuk bisa saya ajak mengerti apa fungsi duduk di atas toilet dan bahwa hal tersebut aman. Pokoknya yang ada di benaknya adalah dia takut duduk di atas toilet dan dia meronta dengan panik.

Sebaliknya dengan kegiatan sikat gigi. Sama juga Sera belum memahami kenapa dia harus menggosok gigi. Tapi karena hal itu sudah dilakukan sejak dulu secara rutin, ya dia menerima hal tersebut sebagai suatu hal yang biasa saja. Sama biasanya dengan memakai baju sehabis mandi. Ada saatnya dia menangis tidak mau, mungkin karena mengantuk atau lelah atau bad mood. Tapi saat saya tetap dengan tegas memintanya membuka mulut agar bisa menyikat giginya, ya sambil sesenggukan dia tetap membuka mulutnya. Dia tidak mengerti apa kegunaan menyikat gigi, tapi dia sudah menerimanya sebagai keharusan yang wajib dijalaninya.

Mau hidup anda lebih mudah nantinya? Biasakan si kecil disikat giginya atau dipotong kukunya atau didudukkan di atas toilet atau berdoa sebelum makan atau apapun kegiatan baik yang ingin anda terapkan sejak sedini mungkin, sebelum dia mengerti apa gunanya dan hanya melakukannya sebagai ritual semata. Be consistent. Memang terkadang malas sih, tapi rewardnya besar juga. Saya sekarang tidak pernah perlu bersusah payah berantem saat hendak menyikat gigi Sera. Sementara upah kalau bermalas- malasan? Ya seperti saya yang masih harus berjuang lagi (dengan lebih susah payah) membuat Sera mau didudukkan di atas toilet :(.

Omogn- omong, ini sih hanya hasil saya mengingat- ingat kesalahan dan keberuntungan saya saat menghadapi Sera. Mungkin juga sih tidak sesuai teori para psikiater, atau mungkin tidak cocok diterapkan bagi anak lain. Saya tidak menerima protes yah :D:D:D. Dan terus terang saya juga masih puyeng dengan sikapnya Sera saat sedang bad mood, yang merengek dan minta gendong tanpa mau turun. Nggak bisa dimarahin, nggak mempan dibilangin. Pucingggg :D:D:D:D.

No comments:

Post a Comment