Monday 12 March 2012

Monday Note -- Catatan Pulkam

Selesai sudah my holiday bersama si cekci, satu setengah bulan bolak- balik Jakarta- Surabaya, menjalin tali silaturahmi dengan segala simbah, eyang dan opung dari berbagai pihak, memastikan nama kami tidak dicoret dari daftar ahli waris. Saya menepuk dada atas keberhasilan saya menempuh penerbangan long haul pertama saya hanya bersama si genduk. Bayangkan, 7 jam terkungkung di pesawat bersama si genduk yang setiap lima menit berteriak bosan! The food was yuck, the coffee was suck, hanya pemandangan breaking down from up above the horizon, melihat semburat merah pertama menghiasi cakrawala, dan langit dipenuhi berbagai pancaran cahaya warna- warni, cahaya pertama sebelum matahari nongol, yang menghibur hati.

Saya memilih terbang dengan Garuda, satu- satunya maskapai yang terbang ke Jakarta tanpa transit. Tentu saja saya memilih duduk di kelas ekonomi. Kalau saja kelas toilet dijual, saya pasti akan memilih duduk di dalam toilet saja demi menghemat rupiah. Saat memasuki bodi pesawat, saya melirik iri pada kursi kelas bisnis, yang selega kursi pesawat ulang alik. Tetapi meskipun saya dengki berat pada kursi mereka yang bisa diluruskan bak tempat tidur, makanan panas dan anggur yang tidak tersedia di kelas ekonomi, saya tidak jengkel. Itu adalah kewajaran dalam hidup. Siapa yang bisa membayar lebih mahal, berhak mendapatkan kemewahan dari maskapai BUMN yang profit oriented. Siapa suruh saya rada kere.

Tetapi saat saya mendarat di Jakarta, dan kemudian bersiap mengantri di imigrasi untuk minta paspor saya dicetok gambar Garuda, saya mengerutkan kening. Seorang cowok memegang papan bertuliskan G**UDA FAST TRACK, dan beberapa penumpang mengikuti arahan si mas untuk menuju ke loket imigrasi yang kosong melompong. Saat seorang ibu bertanya untuk siapa fasilitas fast track, si mas menjawab semacam untuk pemegang kartu eksekutif something. Saya jengkel. Karena ini adalah pelayanan imigrasi, pelayanan yang diberikan pemerintah kepada warga negaranya. Pelayanan yang seharusnya tidak diskriminasi. Apa hubungannya punya kartu berlian dari suatu maskapai dengan kemudahan mendapatkan pelayanan imigrasi? Tentu saya juga pernah mendapat kemudahan memotong antrian di imigrasi negara lain, tetapi itu karena saya membawa bayi, atau karena saya bersama nenek saya yang sudah tua. Bukan karena saya cukup kaya untuk bisa membeli kartu eksekutif (ini sih keluhannya orang munafik, karena beberapa tahun yang lalu saya sibuk memilih- milih mode pelayanan paspor di calo; 2 juta= 1 hari jadi, 1 juta= 1 minggu jadi, 100 ribu= setahun lagi semoga jadi :D:D:D:D)

Saya mengantri di imigrasi bersama rombongan TKW, karena kebetulan pesawat saya bersamaan mendaratnya dengan pesawat dari Malaysia. Dengan wajah jawa dan kulit coklat saya, apakah lalu saya disangka adalah seorang TKW? Hoho, tentu tidak. Mereka sangat trendi dengan handphone warna- warni, lipstik warna pelangi dan tas tangan kecil penuh bling- bling ala rapper Chihuahua. Sementara saya, mengantri dengan tas ransel besar yang penuh berisi pampers dan aneka crayon, dengan wajah kucel tanpa make-up, dengan menggendong anak yang tak kalah kucelnya. Tetapi meskipun saya rada tergeli- geli juga mendengar celotehan para mbak- mbak yang oh so yes dalam bahasa Inggris berlogat banyumasan, I respect them. Mereka itu hanya lulusan SMP tapi bisa menjadi pahlawan devisa lho, sementara banyak sarjana yang jadi pengangguran, membenalukan diri pada orang tua dan keluarga. Dan mereka tahu bahwa harus mengantri, tidak seperti seorang bapak berbaju safari beremblem garuda dengan gaya oh so penting yang ingin menyelak antrian. Too bad dia mencoba menyerobot antrian dari seorang emak yang menggendong bayi 12 kilo dan ransel jumbo. Jangankan bapak bersafari, badak bercula tiga pun kalah.

Selama di Indonesia, saya menikmati kemewahan yang nyaris saya lupakan selama setahun ini. Saya tidak harus menyapu, memasak, menyeterika. Saya punya sopir untuk mengantarkan saya. Saya bisa creambath di salon sementara Sera dijaga emak saya. Saya menikmati aneka makanan pinggir jalan dengan harga nggak sampai 1 dolar dan rasa yang yum yum.  Ah....nikmatnya hidup. Sebagai penyeimbangnya, saya juga kembali harus bertenggang rasa pada kemacetan jalan yang tidak manusiawi, pada listrik yang mati di tengah malam membuat Sera belingsatan kepanasan, dan pada nyamuk yang berseliweran tiada henti. 

Tinggal di Australia membuat saya menghargai satu hal yang sedari dulu lolos dari pengamatan. Saat anda memasuki restoran atau bank atau grapari, pernahkan anda mendapatkan senyuman dari satpam yang berjaga, membukakan pintu dan dengan sangat sopan menyapa "Selamat pagi bu. Ada yang bisa saya bantu?

Lalu apa tanggapan anda? Saya dulu, hanya akan mengangguk sekilas atau tersenyum gak niat atau dengan cuek berlalu. Seperti mayoritas para pengunjung yang lain. Ah, toh pak satpam juga hanya basa- basi mengucapkan selamat paginya. Tapi setelah saya tinggal di Oz, saya menyadari bahwa senyum dari pak satpam adalah suatu kemewahan hidup. Di oz, para petugas di bandara, pelayan di restoran, pegawai bank, sangat manner dan helpful. Mereka tidak jutek juga sih. Tapi mereka tidak juga melayani dengan senyum dan kesantunan ala Indonesia, yang menempatkan pelanggan sebagai raja. Dan kemarin di Indonesia, saya akhirnya mengubah cara saya membalas sapaan bapak satpam dan pelayan restoran. Saat pak satpam membukakan pintu dan mengucapkan selamat pagi selamat datang, saya menyempatkan diri menghentikan langkah saya, menatap bapak satpam dan dengan bersungguh- sungguh mengucapkan "Terima kasih Pak." Dan gantian bapak satpamnya yang agak bingung, mungkin dia mikir tumben- tumben amat ada yang mengucapkan terima kasih padanya. Dan saat saya turun dari pesawat, dan tiga pramugari mengucapkan terima kasih dan selamat jalan, tiga kali pula saya menghentikan langkah sejenak dan berkata "Terima kasih mbak."

Selama saya di Indonesia, saat saya berpapasan dengan orang di mall, atau menunggu busway bersama, atau bahkan duduk berdampingan dengan seorang bapak di gereja, saya tidak pernah mendapatkan sapaan. Lu lu gue gue. Jadi, sapaan selamat pagi dari pak satpam, pelayan dan pramugari adalah satu- satunya sapaan ramah yang saya dapatkan dari orang asing di sekitar saya. Sapaan itu kemewahan, karena tidak ada di negara lain pelayan yang begitu ramah dan hangat menyambut anda. Atau sopir taksi yang sesopan di Indonesia. Blue bird is still the best.

Dan tentu saja kemewahan humor yang tidak akan ditemui selain di Indonesia. Melintas di sebuah gerobak bertuliskan DOWO LEMES (panjang lemas). Hanya orang nggak normal yang tidak akan tergelitik saraf nakalnya membaca tagline itu. Ternyata itu adalah trade mark untuk roti tawar panjang dan lemas, hehehehe. Mungkin besok saya akan berjualan di sebelahnya dengan tagline CENDHEK ATOS (pendek keras). Dan kemudian di perempatan Cilandak, saya dan adik saya tergelak- gelak saat membaca iklan yang ditempel di tiang listrik, mengiklankan "Perpanjang Alat Vital, Instan, Keras PERMANEN." Hm, pasti si pemasang iklan sekarang masih bingung, bertanya- tanya kenapa pelanggannya malah berkurang drastis sesudah ia memasang iklan yang menjanjikan efek permanen itu :D. 

Oya, saya sempat berlibur ke Bali, dan Sera mendapatkan liburan termewahnya, berguling- guling di pantai dan bermain ombak. Tampak biasa mungkin bagi kebanyakan anak Indonesia. Tetapi bagi Sera yang selama ini hanya menikmati pantai Oz yang airnya sedingin es, yang pasirnya jelek, yang hanya menarik minat si Okhi di musim panas dengan tebaran cewek toplesnya, berguling- guling di pantai benar- benar barang mewah.

Saat awalnya saya sampai di Indonesia, saya kangen Melbourne. Saya merindukan suasananya yang tenang, hawanya yang dingin, dan pasarnya yang enak. Tetapi saat hendak kembali ke Melbourne, saya enggan berpisah dari Indonesia, tempat keluarga saya bermukim, tempat bakso pak gondrong bisa dinikmati hanya dengan 9000 rupiah, tempat saya dikellilingi oleh orang- orang sebangsa saya. Di Melbourne, saya kangen sahabat- sahabat saya, teman SMA dan kuliah. Tetapi saat saya di Jakarta, saya jadi kangen juga pada teman gereja di Melbourne dan sahabat baru saya disini. Dilema seorang perantau. Atau sisi positif merantau; punya dua tempat called home, hehehehe. 

Cara si okhi menikmati hari selama kepergianku

No comments:

Post a Comment