Saat mudik kemarin, saya menumpang sebuah taksi blue bird melintasi
jalanan ibu kota. Dasar berwatak bawel, tentu saja perjalanan itu tidak
saya lalui dengan berdiam diri. Saya sibuk berceloteh kesana kemari,
memanfaatkan keterpaksaan bapak sopir yang sedang mengendara kuda supaya
laju jalannya untuk mendengarkan kicauan saya. "Keluarga sekarang dimana Pak?" tanya saya.
"Di Kediri Mbak. Istri sama empat anak saya," jawab si Bapak. "Kalau semua tinggal di Jakarta, ya mana tahan Mbak. Ngontrak yang paling murah saja sudah 300, tidur berenam ya jadi kayak pindang tumpuk- tumpukan," tambah si bapak sambil tertawa.
Saya ikut tertawa dan menimpali "Enak dong, biar musim hujan juga tetep anget tidurnya."
Perbincangan antara dua warga Jakarta. Memperbincangkan beratnya
kehidupan yang memaksa seorang ayah berpisah dari keluarganya. Hanya
bertemu setiap beberapa bulan sekali. Dan diobrolkan dengan ringan,
karena tiada guna juga diratapi dan disesali, lebih baik dijadikan bahan
guyonan saja.
Tetapi kemudian saya termenung; menikah tetapi tidak serumah, merindu
tetapi tidak memeluk, mencintai tetapi tidak bertemu muka........
Dulu,sewaktu saya masih belum uzur, masih kencang dan menawan, dan baru saja berpacaran dengan si Okhi, berpisah seminggu saja gara- gara Okhi harus ke Jogja sudah bisa membuat saya kelimpungan. Tiap hari menyuap sebakul nasi ke dalam mulut tanpa gairah (walau tetap habis juga sih nasi sebakul), menjelang tidur menatap langit- langit kamar yang bocor, dan kok ya rembesan air di eternit kamar membentuk seraut wajah si Okhi ya (mulai schizopren). Dengan kadar feromon di tubuh masih menjulang, yang membuat hati berdesir saat menggandeng tangannya dan lutut gemetar saat dibonceng naik motor honda bututnya, perpisahan yang hanya sesaat itu saja sudah bisa membuat saya belingsatan bak kodok bertelur.
Seiring berjalannya waktu, feromon pun mulai menguap. Rasanya kok saya tidak pernah mendengar kalau ada pasangan yang sudah bersama selama sepuluh tahun lebih, dan saat bergandengan tangan hatinya masih berdebar- debar dag dig dug dan saat berboncengan motor masih gemetaran salah tingkah. Ah, ke-alay an tidak bertahan selama itu I believe :D. But yet, saat kami sudah bersama selama 10 tahun, sudah menikah selama dua tahun, dan bahkan disaat lutut sudah tidak gemetar saat melihatnya, perpisahan tidaklah menjadi lebih mudah.
Bulan Juni 2010, di saat si genduk Sera baru berusia enam bulan,
pergilah Okhi bermigrasi ke Australia. Membabat alas mempersiapkan
kehidupan bagi keluarga kami. Langkah yang benar secara logika, tetapi
tidak berarti mudah. Tentu Okhi tahu bahwa pada bulan September gigi
Sera tumbuh satu lagi, tentu Okhi tahu bahwa pada hari Selasa itu Sera
untuk pertama kalinya bisa duduk di atas bokongnya atas usahanya
sendiri! Shocking breaking news dalam jagad perbalitaan. Saya
menceritakan dengan detil setiap pekembangan yang dialami Sera, selain
bercerita akan kamar mandi yang lagi- lagi mengeluarkan bau tak enak.
Dan Okhi pun tak lupa bercerita bahwa malam ini dia membeli sandwich
subway tuna dan bahwa weekend depan dia akan pergi berenang. Saya
menceritakan hari saya dan hari Sera pada Okhi, dan ia menceritakan
harinya pada saya melalui skype.
And it was SUCK. Karena menceritakan kehidupan saya padanya tidaklah sama dengan menjalani kehidupan bersamanya. Not even close. Dan sebagus apapun sambungan si skype yang membuat bekas jerawat di jidat saya terlihat dengan jelas nun jauh di Australia sana, sayangnya layar laptop tetap terlalu datar dibandingkan perut Okhi yang six rounds. Bercerita sambil berhadapan di depan layar 18 inci jelas tidak bisa dibandingkan dengan bercerita sambil duduk melungker dengan nyaman berdampingan di sofa. Dan hanya 'diceritain' bahwa Sera sekarang bisa ngomong "Mama", alih- alih membuat si Okhi senang, terkadang malah membuatnya sedih karena tidak bisa menyaksikan sendiri saat anaknya untuk pertama kalinya bisa ini, bisa itu, bisa ono.
Sesudah beberapa bulan berlalu, rasa kangen dan kesepian karena tinggal berjauhan jadi berkurang. Dan pada suatu hari, Okhi mengaku bahwa jadinya, dia sekarang malah mulai terlalu terbiasa tinggal membujang. Pulang dari kantor ke rumah yang kosong, yang tadinya merupakan siksaan, sekarang menjadi biasa. Enak juga, sepi, bisa nyantai nonton Naruto berjilid-jilid tanpa direcokin istrinya yang bosen dicuekin atau balitanya yang cari perhatian dan menangis. Kalau biasanya pulang kantor selalu cepat- cepat pulang, sekarang jadi bisa santai- santai dulu nongkrong di kota sambil ngopi. Hidup jadi lebih simpel dan mudah.
Saya akhirnya mengaku juga sih, bahwa saya juga jadinya sedikit banyak
mulai menikmati hidup tanpa suami. Apalagi kemudian saya dan Sera
tinggal di rumah bapak saya yang gede, dengan pembantu dan sopir. Ah,
life was so easy then. Dan jadinya kami berdua ketakutan. Takut jadi
terbiasa membujang, sehingga lama- lama merasa tidak masalah hidup
terpisah.
Itu sih masa lalu. Sekarang kami sudah makan gak makan yang penting
kenyang. Hanya pengalaman mengajarkan bahwa berpisah dengan pasangan itu
suck, not to mention berpisah dari anak. The suckest suck. Dan rasanya,
kalau bisa memilih, tidak ada pasangan manapun (yang normal) yang lebih
memilih untuk hidup terpisah.
Tapi yang namanya hidup, realita seringkali jauh dari idealita. Seperti si bapak supir taksi. Mungkin kalau pilihannya antara berpisah atau nggak makan, lebih gampanglah memilihnya. Jelas logika akan membuat siapapun orangnya memilih merantau demi bisa menghidupi anaknya dan menyekolahkan mereka. Dan tidak ada juga orang lain yang bakal usil menyalahkan keputusan itu. Karena itu pilihan antara berpisah atau mati kelaparan.
Tetapi, banyak juga teman saya yang memilih berpisah dari pasangannya dan anaknya bukan untuk alasan antara hidup dan mati begitu. Salah seorang teman cewek saya sekarang menjabat manager marketing di suatu perusahaan multinasional dan tinggal di Jakarta. Suaminya menjadi kepala cabang di salah satu bank milik pemerintah, dan tugasnya membuatnya harus berpindah kota setiap periode tertentu. Mending kalau pindahnya berkisar di kota- kota besar semacam Surabaya atau Semarang, namanya kepala cabang ya harus siap dipindahkan ke pelosok Papua atau Kalimantan sekalipun. Pilihan yang mereka ambil: hidup berpisah. Masing- masing tetap dengan karir masing- masing. Padahal kalau misalnya salah satu berhenti kerja dan mereka kemudian berkumpul di satu kota, gajinya juga masih cukup untuk membeli sandang pangan papan dengan layak.
Atau seorang teman saya yang memutuskan untuk menerima tawaran beasiswa
ke negara lain, yang harus membuatnya berpisah dari suami dan anaknya
yang baru berumur empat bulan. Meninggalkan bayi yang seharusnya masih
diberi ASI, demi sekolah master yang kalau tidak dijalani juga bukannya
mati kelaparan.
Terkadang, melihat keputusan yang diambil teman- teman saya untuk hidup terpisah dari keluarganya, saya jadi ingin bertanya juga, apa yang kamu kejar sih? Apa iya sih si suami kepala cabang nggak bisa mencari pekerjaan yang membuatnya bisa terus tinggal di Jakarta? Apa iya sih sekolah di Inggris nggak bisa ditunda dulu sampai anakmu sudah lebih besar?
Tetapi saat saya ingin mempertanyakan dan mungkin menyalahkan keputusan
teman- teman saya untuk berpisah dengan keluarganya, lha bukannya dulu
pun saya dan Okhi mengambil langkah serupa? Berpisah saat usia si Sera
baru setahun kurang. Masih lucu- lucunya. Kenapa kami akhirnya
memutuskan Okhi berangkat dahulu saat itu juga? Kenapa kami memutuskan
saya tidak langsung ikut pindah ke Oz bersama Okhi? Kenapa, kenapa? Kan
seharusnya bisa diatur supaya si Okhi menunda kepergiannya atau saya
seharusnya langsung saja ikut boyongan ke Oz? Kenapa harus berpisah?
Saya dan Okhi tentu punya alasan untuk keputusan kami itu. Keputusan itu
sudah kami ambil setelah mempertimbangkan masak- masak di kuali, nyonya
minta dansa, dansa empat kali. Dan bahkan untuk keputusan yang kami
yakin sudah paling tepat, yang sudah disetujui bersama, rasa bersalah
itu masih ada. Perasaan bersalah karena harus meninggalkan anak dan
pasangan. Perasaan bersalah karena membiarkan suami saya sendirian
kesepian luntang lantung di negeri orang. Dan perasaan bersalah itu akan
membuat saya bakal angot saat ada orang yang mempertanyakan keputusan
saya (iya kan, kita selalu cenderung paling marah pada saat kita sadar
kita 'salah').
Makanya saya tidak heran juga saat teman saya yang memilih untuk
meninggalkan bayinya, dengan garang membentak orang yang berani bertanya
"Kok kamu tega sih ninggalin bayimu?"
Karena deep down inside dia juga merasa sangat bersalah, deep down
inside dia juga tersiksa dengan keputusannya. Keputusan yang membuatnya
harus berlapang dada kalau nanti anaknya tidak akan mengenali dirinya
sebagai ibunya.
Toh orang lain tidak mengerti alasan kenapa teman saya itu memilih untuk
mengambil tawaran beasiswa SEKARANG juga. Toh orang lain tidak mengerti
kenapa teman saya itu tidak membawa saja bayi dan suaminya untuk
menemaninya ke Inggris. Toh orang lain nggak ngerti berapa utang teman
saya, apa warna kaos kaki kesukaannya atau posisi tidur favoritnya. Jadi
kenapa ada orang yang berani mempertanyakan dan menghakimi
keputusannya?
Melihat para teman saya yang harus mengambil keputusan untuk hidup berpisah dengan pasangan dan anaknya, saya tentu menaruh simpati. Pasti itu keputusan yang harus diambil dengan susah payah, keputusan yang penuh dilema. Antara menyiapkan masa depan yang lebih cerah atau bisa berada di samping keluarga sepanjang waktu. Walau kalau kemudian mereka terus menerus meratap dengan galau akan kepedihan hatinya, ya memang bikin jengkel juga. Ya itu kan keputusan yang kamu ambil sendiri, jadi nggak usah mengeluh terus dong! Suck it dude!
Dan bagi saya dan pasangan lain yang realita hidup tidak menuntut kita
untuk berpisah dari keluarga kita tercinta, yah well, sudahkah kita
mengucap syukur pada Gusti Allah atas kemewahan tiada tara dalam hidup
kita; bisa menatap wajah pasangan dan anak kita every single day. 24/7.
No skype or SMS needed. We are trully the wealthy human being.
No comments:
Post a Comment