Monday 30 April 2012

My Monday Note -- FACE it, Don't FACEBOOK it

Memang sudah nggak bisa dipertahankan lagi... Pernikahan ini sudah di ujung tanduk"

Jangan dikira kalimat diatas adalah curahan hati di kolom artikel ratapan Oh Mama Oh Papa yang dimuat di majalah wanita, yang penulisnya sudah disamarkan namanya. Enggak, itu status seorang teman di akun FB pribadinya.

Walau rasanya sudah bukan hal aneh bagi saya untuk membaca status- status berkeluh kesah atau marah- marah di wall FB teman- teman saya, tetapi status yang ini jelas yang paling 'juara'. Gimana nggak juara kalau rencana perceraian ditulis secara dramatis dan blak- blakan begitu? Kalah deh Dewi Persik :D. 


Saking juaranya status ini, saya sampai tumben- tumbennya berbaik hati mengirim pesan secara pribadi ke si pembuat status, bertanya apa semuanya sudah dipikir dengan matang? (dalam pemikiran saya ya memang teman saya ini sudah siap tanda tangan akta cerai dengan suaminya). Lha kok jawabannya si teman adalah bahwa dia sudah capek dianggap nggak serius, jadi bikin status itu supaya suaminya sadar kalau dia serius! He? Agak melongo saya jadinya.

Dan ternyata, tidak hanya satu orang teman saya ini saja yang beranggapan bahwa menulis status mengeluhkan perilaku pasangan adalah salah satu cara membuat pasangannya sadar bahwa dia serius, bahwa dia sudah lelah mencoba memperbaiki keadaan. Dan ya, mayoritas yang menuliskan status- status yang menunjukkan bahwa mereka bukanlah the happiest couple on eart itu biasanya berjenis kelamin perempuan. Saya juga heran.

Saya sih bisa mengerti tujuan si teman. Bisa mengerti juga rasa frustasi seseorang saat pasangannya tidak mau diajak bekerja sama memperbaiki kondisi rumah tangga.  Hanya cara yang dipilih untuk menunjukkan keseriusannya yang membuat saya sangsi. Perumpamaannya misalnya saya sudah bolak- balik meminta Okhi membelikan sepatu baru bertahtakan berlian nan mahal, dan karena Okhi tidak merespon permintaan saya, maka saya memutuskan untuk membuat pernyataan serius. Tetapi, bukannya membuat pernyataan serius semacam langsung membobol kartu kredit untuk membeli si sepatu, saya memilih pergi ke rumah pak RT dan menunjukkan semua foto bagian tubuh suami saya ke Pak RT. Biar suami saya tahu bahwa saya serius, saya bawa foto bokong gendutnya ke hadapan Pak RT! Hah! Tahu rasa deh Pak RT, eh suami saya.

Saya sih bukan seorang pria (operasi transgender saya sudah sukses), jadi saya tidak tahu juga apa yang ada di pikiran para suami saat membaca status FB milik istrinya yang seperti itu. Hanya rasanya nih, tidak ada satupun manusia (apapun jenis kelaminnya) yang suka dijelek- jelekkan. Di depan umum pula. Kalau suami saya yang menulis status yang menampar muka seperti itu, alih- alih merasakan perasaan tersentuh dan akhirnya sadar bahwa suami saya butuh dianggap SERIUS, yang ada saya malah bakal murka dan bete. Gimana sih masalah rumah tangga diumbar di muka umum? Dan semakin hebatlah pertengkaran yang akan terjadi di hari selanjutnya.  

Selain agar dianggap serius oleh sang suami, alasan berikutnya seorang cewek memutuskan untuk mengumbar kejelekan perilaku suami di muka umum via wall FB adalah (mengutip jawaban seorang teman saat ada yang menasehati dirinya agar tidak mengumbar masalah pribadi di FB) "Biar sekalian seluruh dunia tahu kejelekannya suamiku." Berhasilkah taktik ini?
Saya mempunyai seorang teman yang hobi menuliskan perasaan sakit hati dan kecewanya terhadap keburukan suaminya. Misalnya, salah satu statusnya adalah "Terus menerus kau ungkapkan kalau aku ini bodoh dan kikuk, seperti itukah cara bicara seorang suami pada istrinya?

Mungkin status ini akan membuat nama si suami menjadi buruk di mata sahabat si istri galau yang menulis status itu, dan berhasillah tujuan status itu ditulis. Tapi saat yang membaca status itu adalah saya, yang hanya sekedar teman satu angkatan jaman kuliah dulu misalnya, yang kebetulan simpati dan empati bukanlah sifat baik saya, inilah yang akan saya lakukan:

1. Saya akan dengan seksama membaca komentar atas status itu. Biasanya kawan dekat si pembuat status akan bertanya dengan nada penuh kasih sayang semacam "Kenapa say, ada masalah apa? Yang sabar yah...."  Lalu si pembuat status akan menjawab semacam "Nggak papa, hanya lagi capek dengan perlakuan suamiku." Dan go on ke komentar berbalasan seterusnya. Tujuan saya membaca komentar atas status itu? Saya ingin mencari tahu lebih dalam apa sih masalah yang dihadapi si istri galau ini. Apakah keingin tahuan saya itu didasari keinginan untuk bisa memberikan nasehat yang sesuai? Haha, you wish. Saya hanya sedang ingin memuaskan hasrat ingin tahu dan haus gosip saya kok. Yah, serupa dengan alasan saya duduk di depan layar TV mendengarkan siaran infotaiment yang memberitakan suami si artis Ono ketahuan selingkuh dengan PSK di Dolly. Emang saya peduli sama nasib si artis atau PSK beruntung yang mendadak beken? Bodo amat. 

2. Mungkin saya juga akan tergerak untuk berkomentar penuh kasih sayang juga, terutama jika dari komentar yang saya baca masih belum memuaskan keingin tahuan saya. Misalnya lebih spesifik semacam " Kamu sudah pernah bicarakan baik- baik dengan suamimu? Apa tanggapan suamimu kalau kamu mengutarakan rasa tidak senangmu dibilang bodoh dan kikuk?" Dan apa tujuan saya bertanya seperti itu? Yah, mungkin memang ada unsur simpati sih, tapi ya tidak 100% karena dilandasi simpati lah. Ada unsur saya ingin tahu juga, penasaran dengan sudah sampai mana sih episode telenovela Istri Yang Tertindas ini berlangsung. Apakah sudah sampai saling melempar panci misalnya atau baru taraf bertangis- tangisan sambil memeluk- meluk pohon sambil muter- muter?  

3. Di akhir hari, saya akan merasa senang membaca status memelas itu. Kenapa saya senang? Karena membaca status yang menunjukkan seseorang tidak beruntung, punya suami brengsek dan hidupnya dipenuhi isak tangis membuat saya merasa puas dengan hidup saya. "Alhamdulilah, suami gue kagak brengsek kayak gitu." Dan membuat saya bisa feels good karena saya lebih bahagia dari dia. Meringankan beban saya saat melihat tumpukan setrikaan yang menggunung dan jumlah tabungan yang tidak bertambah juga.

Wow, brengsek sekali ya diri saya. Bisa- bisanya bersenang- senang di atas penderitaan orang lain.... Yah, itulah resikonya saat seseorang menulis status berkeluh kesah di wall FB yang bisa dibaca umum, baik orang yang merupakan sahabat baiknya, orang yang hanya sekedar kenal atau malah orang yang tidak kenal sama sekali. Dan manusia itu makhluk yang lemah. Karena kita adalah makhluk lemah, kita suka mencium bau makhluk yang lebih lemah dari kita. Makes us feel better. 

Bahkan semisal pengguna FB yang lain tidaklah sejahat saya yang senang melihat penderitaan orang lain, I believe 90% dari pembaca status menyedihkan itu TIDAK PEDULI akan penderitaan si istri galau. Ngapain harus peduli? Kenal dekat saja enggak, plus setiap orang sudah punya problema hidupnya masing- masing. Ngapain repot- repot ikut bersedih akan masalah orang lain? Dan membenci suami si pembuat status? Ya nggak mungkinlah, kenal aja enggak. Bentuk mukanya aja nggak tahu. 

Dan saat kemudian si istri galau lalu meneruskan membuat status- status memelas dan marah- marah atau frustasi, saya akan mencibir. Memenuhi wall FB saya dengan status nggak enak bin menyedihkan itu hanya bikin saya bete. Plus, gini lho, saya hanya akan mempersepsikan si penulis status adalah manusia cengeng tanpa kemampuan untuk mengendalikan hidupnya sendiri, seorang manusia yang memilih menjadi korban keadaan tanpa kemampuan untuk berjuang bagi dirinya dan kebahagiaannya sendiri. A pathetic bin annoying soul. Apalagi kalau kemudian dia menulis status galau "Tidak ada yang membelaku..." Yaelah, masih musimnya main bela- belaan gitu ya? Kenapa orang lain harus bersusah payah membela seseorang yang hanya terpuruk sedih menghadapi masalah dalam hidupnya? 

Saya mengerti sih bahwa orang membutuhkan orang lain untuk mendengarkan curhatannya, atau sekedar berbagi cerita untuk meringankan beban. Saya nggak bilang bahwa kita tidak boleh bercerita mengenai masalah kita ke orang lain. Dan ya, memang cewek biasanya butuh bercerita, enggak seperti cowok yang memilih untuk memendam masalahnya sampai tahu- tahu stroke karena stres. Tapi kenapa harus di status FB sih? Bisa dibaca keluarganya si suami, mertuanya atau bahkan anak kita sendiri lho. Dan makin ruwetlah masalah kalau orang lain atau keluarga mulai ikut campur. 

Biasanya, saya selalu mencoba mengerti dan berempati akan situasi yang dihadapi seseorang. Saya mencoba menempatkan diri dalam posisi mereka. Tapi saya tetap tidak bisa memahami kenapa seseorang ingin membuat dirinya tampak sebagai seorang pecundang yang menyedihkan di hadapan seluruh isi dunia sih? Saya sendiri tidak pernah merasakan keinginan untuk memberitakan ke seluruh dunia bahwa gaji suami saya nyaris tidak cukup untuk membayar tagihan sehingga kami masih harus dibantu orang tua misalnya. Untuk apa? Toh ya tidak membuat orang lain jatuh iba dan bersedia menghibahkan hartanya pada saya. 

Okelah, mungkin memang situasinya berbeda yah. Saya alhamdulilah belum pernah (dan jangan pernah) merasakan disakiti suami sampai segitunya hingga ingin menulis sesuatu yang jelek tentang dirinya. Saya belum pernah dikuasai semangat balas dendam penghancuran nama baik sedahsyat itu. Tapi coba baca ini wahai para istri yang memilih untuk memamerkan kesengsaraan mereka ke seluruh dunia hanya karena suaminya tidak mau mendengarkan keluh kesahnya.

Seorang teman cewek saya baru saja disakiti oleh suaminya dalam taraf yang paling rendah. Suaminya selingkuh dengan seorang tante gatel, memaksa istrinya untuk bersedia diceraikan, abai terhadap anak balitanya yang setiap malam masih merengek merindukan bapaknya, mengusir istrinya keluar dari rumah dan memamerkan kemesraan french kiss dengan si pacar di FB. Apakah teman cewek saya itu sakit hati? Jelas dong. Dia sakit hati, terhina, merasa dilecehkan, you name it. Dan dari status FB nya saya bisa menebak bahwa teman saya ini memang sedang dalam kesusahan, bahkan sebelum ia bercerita pada saya. Kenapa? Karena statusnya berubah menjadi seperti usaha menguatkan diri, mengutip berbagai kalimat bijaksana, dan berbagai status yang Mario Teguh banget deh. Sebagai teman dekatnya, saya bisa merasakan bahwa ia sedang bermasalah.

Tapi apa pernah terlontar satu saja kalimat yang menunjukkan pada dunia bahwa suaminya adalah douchebag yang disetir selangkangannya? Not a single word. Hanya kepada teman- teman terdekatnya ia menceritakan kepedihannya. Tidak pernah kepada dunia. Saya bukan orang baik, kalau saya yang dibegitukan suami, saya akan balas dendam dengan lebih dahsyat. Akan segera saya balik nama semua harta, dan bahkan mungkin saya akan memikirkan taktik untuk mempermalukan suami di depan semua koleganya. Mungkin saya pasang CCTV, dan saya sebar foto si suami yang lagi telanjang mandi misalnya, biar seluruh dunia tahu bokongnya penuh kutil. Dan semua orang akan tersenyum geli setiap berpapasan dengannya. Tetapi serupa dengan teman saya, saya tidak akan memasang status sedih dan terluka di FB. 

Kalau saja teman saya menulis status "Dasar bejat, teganya kamu berselingkuh dengan tante gatel jelek itu!" Tentu semua teman FB nya akan bertanya ada apa, kenapa, dan mulai menduga- duga apa yang terjadi. Lalu mulai mencari tahu siapa sih teman selingkuh si suami, lalu mulai membandingkan fotonya, cantik mana ya antara si istri dan si selingkuhan. Dan kalau ternyata si selingkuhan lebih jelek, akan mulai menduga- duga apa ya yang salah dengan si istri, kenapa suaminya berpaling dari istrinya yang cantik? Apa karena si selingkuhan lebih hot di ranjang? Atau si istri ini biar cantik tapi menyebalkan? Believe me, everybody loves gossip. Saat lalu banyak yang berkomentar dengan nada prihatin dan iba, sebagian motifnya pastilah seperti piranha mencium bau darah, haus akan sensasi. Dan nantinya, di malam hari, si komentator yang iba akan bercerita ke suaminya saat makan malam "Tahu nggak, si Ana ternyata diselingkuhin sama suaminya. Gila ya, padahal Ana kan cantik gitu. Kira- kira kenapa ya? Jangan- jangan si Ana itu aslinya bencong kali  ya?"

Dan teman saya sudah bertindak bijaksana. Bercerita hanya kepada teman- teman terdekatnya, karena ia yakin mereka akan menjaga mulutnya. Dan yang terpenting, teman terdekatnya mengasihinya, dan benar- benar akan ikut menderita mendengar penderitaannya, bukannya menjadikannya ajang gosip di meja makan di malam hari atau saat arisan bersama teman seangkatan. I burst in tears mendengar cerita sahabat saya terkasih. 

Kalau memilih curhat, curhatlah in private. 90% orang tidak peduli akan masalahmu, sisanya senang mendengar penderitaanmu (saya termasuk yang sisanya, huahahaha).

Kalau memilih balas dendam, balas dendamlah yang tuntas. Sewalah mafia Sisilia untuk mematahkan jari jemari nya nya dan menembak lututnya (tobat...tobat).

Jangan menggabungkan curhat dan niat balas dendam. It never worked. 

Oya, dan kalau mau marah pada seseorang, misuh- misuh dan mengata-ngatainya, say it in front of him/ her. Dengan menuliskan status marah- marah di FB, mengata- ngatai seseorang tanpa menyebut namanya, itu hanya menunjukkan (kurangnya) level keberanian anda :D.

Dan biasanya pembelaan diri favorit si 'pemberani' ini saat ditegur temannya adalah "Ini kan wall ku, hakku dong mau nulis apaan." Ya iyalah, elu mau ciuman sama kambing di depan alun- alun juga suka- suka elu kok. Hanya ya jadinya orang lain bakalan lebih senang berteman dengan si kambing daripada sama situ. 

Kalau saya sih lebih senang bikin orang iri akan kehidupan saya, daripada bikin mereka kasihan pada saya
punya anak cekci dan suami montok...

No comments:

Post a Comment