" Memang sudah nggak bisa dipertahankan lagi... Pernikahan ini sudah di ujung tanduk"
Jangan dikira kalimat diatas adalah curahan hati di kolom artikel ratapan Oh Mama Oh Papa yang dimuat di majalah wanita, yang penulisnya sudah disamarkan namanya. Enggak, itu status seorang teman di akun FB pribadinya.
Walau rasanya sudah bukan hal aneh bagi saya untuk membaca status-
status berkeluh kesah atau marah- marah di wall FB teman- teman saya,
tetapi status yang ini jelas yang paling 'juara'. Gimana nggak juara
kalau rencana perceraian ditulis secara dramatis dan blak- blakan
begitu? Kalah deh Dewi Persik :D.
Saking juaranya status ini, saya sampai tumben- tumbennya berbaik hati
mengirim pesan secara pribadi ke si pembuat status, bertanya apa
semuanya sudah dipikir dengan matang? (dalam pemikiran saya ya memang
teman saya ini sudah siap tanda tangan akta cerai dengan suaminya). Lha
kok jawabannya si teman adalah bahwa dia sudah capek dianggap nggak
serius, jadi bikin status itu supaya suaminya sadar kalau dia serius! He? Agak melongo saya jadinya.
Dan ternyata, tidak hanya satu orang teman saya ini saja yang
beranggapan bahwa menulis status mengeluhkan perilaku pasangan adalah
salah satu cara membuat pasangannya sadar bahwa dia serius, bahwa dia
sudah lelah mencoba memperbaiki keadaan. Dan ya, mayoritas yang
menuliskan status- status yang menunjukkan bahwa mereka bukanlah the
happiest couple on eart itu biasanya berjenis kelamin perempuan. Saya
juga heran.
Saya sih bisa mengerti tujuan si teman. Bisa mengerti juga rasa frustasi
seseorang saat pasangannya tidak mau diajak bekerja sama memperbaiki
kondisi rumah tangga. Hanya cara yang dipilih untuk menunjukkan
keseriusannya yang membuat saya sangsi. Perumpamaannya misalnya saya
sudah bolak- balik meminta Okhi membelikan sepatu baru bertahtakan
berlian nan mahal, dan karena Okhi tidak merespon permintaan saya, maka
saya memutuskan untuk membuat pernyataan serius. Tetapi, bukannya
membuat pernyataan serius semacam langsung membobol kartu kredit untuk
membeli si sepatu, saya memilih pergi ke rumah pak RT dan menunjukkan
semua foto bagian tubuh suami saya ke Pak RT. Biar suami saya tahu bahwa
saya serius, saya bawa foto bokong gendutnya ke hadapan Pak RT! Hah!
Tahu rasa deh Pak RT, eh suami saya.
Saya sih bukan seorang pria (operasi transgender saya sudah sukses),
jadi saya tidak tahu juga apa yang ada di pikiran para suami saat
membaca status FB milik istrinya yang seperti itu. Hanya rasanya nih,
tidak ada satupun manusia (apapun jenis kelaminnya) yang suka dijelek-
jelekkan. Di depan umum pula. Kalau suami saya yang menulis status yang
menampar muka seperti itu, alih- alih merasakan perasaan tersentuh dan
akhirnya sadar bahwa suami saya butuh dianggap SERIUS, yang ada saya
malah bakal murka dan bete. Gimana sih masalah rumah tangga diumbar di
muka umum? Dan semakin hebatlah pertengkaran yang akan terjadi di hari
selanjutnya.
Selain agar dianggap serius oleh sang suami, alasan berikutnya seorang
cewek memutuskan untuk mengumbar kejelekan perilaku suami di muka umum
via wall FB adalah (mengutip jawaban seorang teman saat ada yang
menasehati dirinya agar tidak mengumbar masalah pribadi di FB) "Biar sekalian seluruh dunia tahu kejelekannya suamiku." Berhasilkah taktik ini?
Saya mempunyai seorang teman yang hobi menuliskan perasaan sakit hati
dan kecewanya terhadap keburukan suaminya. Misalnya, salah satu
statusnya adalah "Terus menerus kau ungkapkan kalau aku ini bodoh dan kikuk, seperti itukah cara bicara seorang suami pada istrinya?"
Mungkin status ini akan membuat nama si suami menjadi buruk di mata
sahabat si istri galau yang menulis status itu, dan berhasillah tujuan
status itu ditulis. Tapi saat yang membaca status itu adalah saya, yang
hanya sekedar teman satu angkatan jaman kuliah dulu misalnya, yang
kebetulan simpati dan empati bukanlah sifat baik saya, inilah yang akan
saya lakukan:
1. Saya akan dengan seksama membaca komentar atas status itu. Biasanya
kawan dekat si pembuat status akan bertanya dengan nada penuh kasih
sayang semacam "Kenapa say, ada masalah apa? Yang sabar yah...." Lalu si pembuat status akan menjawab semacam "Nggak papa, hanya lagi capek dengan perlakuan suamiku."
Dan go on ke komentar berbalasan seterusnya. Tujuan saya membaca
komentar atas status itu? Saya ingin mencari tahu lebih dalam apa sih
masalah yang dihadapi si istri galau ini. Apakah keingin tahuan saya itu
didasari keinginan untuk bisa memberikan nasehat yang sesuai? Haha, you
wish. Saya hanya sedang ingin memuaskan hasrat ingin tahu dan haus
gosip saya kok. Yah, serupa dengan alasan saya duduk di depan layar TV
mendengarkan siaran infotaiment yang memberitakan suami si artis Ono
ketahuan selingkuh dengan PSK di Dolly. Emang saya peduli sama nasib si
artis atau PSK beruntung yang mendadak beken? Bodo amat.
2. Mungkin saya juga akan tergerak untuk berkomentar penuh kasih sayang
juga, terutama jika dari komentar yang saya baca masih belum memuaskan
keingin tahuan saya. Misalnya lebih spesifik semacam " Kamu
sudah pernah bicarakan baik- baik dengan suamimu? Apa tanggapan suamimu
kalau kamu mengutarakan rasa tidak senangmu dibilang bodoh dan kikuk?"
Dan apa tujuan saya bertanya seperti itu? Yah, mungkin memang ada unsur
simpati sih, tapi ya tidak 100% karena dilandasi simpati lah. Ada unsur
saya ingin tahu juga, penasaran dengan sudah sampai mana sih episode
telenovela Istri Yang Tertindas ini berlangsung. Apakah sudah sampai
saling melempar panci misalnya atau baru taraf bertangis- tangisan
sambil memeluk- meluk pohon sambil muter- muter?
3. Di akhir hari, saya akan merasa senang membaca status memelas itu.
Kenapa saya senang? Karena membaca status yang menunjukkan seseorang
tidak beruntung, punya suami brengsek dan hidupnya dipenuhi isak tangis
membuat saya merasa puas dengan hidup saya. "Alhamdulilah, suami gue kagak brengsek kayak gitu."
Dan membuat saya bisa feels good karena saya lebih bahagia dari dia.
Meringankan beban saya saat melihat tumpukan setrikaan yang menggunung
dan jumlah tabungan yang tidak bertambah juga.
Wow, brengsek sekali ya diri saya. Bisa- bisanya bersenang- senang di
atas penderitaan orang lain.... Yah, itulah resikonya saat seseorang
menulis status berkeluh kesah di wall FB yang bisa dibaca umum, baik
orang yang merupakan sahabat baiknya, orang yang hanya sekedar kenal
atau malah orang yang tidak kenal sama sekali. Dan manusia itu makhluk
yang lemah. Karena kita adalah makhluk lemah, kita suka mencium bau
makhluk yang lebih lemah dari kita. Makes us feel better.
Bahkan semisal pengguna FB yang lain tidaklah sejahat saya yang senang
melihat penderitaan orang lain, I believe 90% dari pembaca status
menyedihkan itu TIDAK PEDULI akan penderitaan si istri galau. Ngapain
harus peduli? Kenal dekat saja enggak, plus setiap orang sudah punya
problema hidupnya masing- masing. Ngapain repot- repot ikut bersedih
akan masalah orang lain? Dan membenci suami si pembuat status? Ya nggak
mungkinlah, kenal aja enggak. Bentuk mukanya aja nggak tahu.
Dan saat kemudian si istri galau lalu meneruskan membuat status- status
memelas dan marah- marah atau frustasi, saya akan mencibir. Memenuhi
wall FB saya dengan status nggak enak bin menyedihkan itu hanya bikin
saya bete. Plus, gini lho, saya hanya akan mempersepsikan si penulis
status adalah manusia cengeng tanpa kemampuan untuk mengendalikan
hidupnya sendiri, seorang manusia yang memilih menjadi korban keadaan
tanpa kemampuan untuk berjuang bagi dirinya dan kebahagiaannya sendiri. A
pathetic bin annoying soul. Apalagi kalau kemudian dia menulis status
galau "Tidak ada yang membelaku..."
Yaelah, masih musimnya main bela- belaan gitu ya? Kenapa orang lain
harus bersusah payah membela seseorang yang hanya terpuruk sedih
menghadapi masalah dalam hidupnya?
Saya mengerti sih bahwa orang membutuhkan orang lain untuk mendengarkan
curhatannya, atau sekedar berbagi cerita untuk meringankan beban. Saya
nggak bilang bahwa kita tidak boleh bercerita mengenai masalah kita ke
orang lain. Dan ya, memang cewek biasanya butuh bercerita, enggak
seperti cowok yang memilih untuk memendam masalahnya sampai tahu- tahu
stroke karena stres. Tapi kenapa harus di status FB sih? Bisa dibaca
keluarganya si suami, mertuanya atau bahkan anak kita sendiri lho. Dan
makin ruwetlah masalah kalau orang lain atau keluarga mulai ikut
campur.
Biasanya, saya selalu mencoba mengerti dan berempati akan situasi yang
dihadapi seseorang. Saya mencoba menempatkan diri dalam posisi mereka.
Tapi saya tetap tidak bisa memahami kenapa seseorang ingin membuat
dirinya tampak sebagai seorang pecundang yang menyedihkan di hadapan
seluruh isi dunia sih? Saya sendiri tidak pernah merasakan keinginan
untuk memberitakan ke seluruh dunia bahwa gaji suami saya nyaris tidak
cukup untuk membayar tagihan sehingga kami masih harus dibantu orang tua
misalnya. Untuk apa? Toh ya tidak membuat orang lain jatuh iba dan
bersedia menghibahkan hartanya pada saya.
Okelah, mungkin memang situasinya berbeda yah. Saya alhamdulilah belum
pernah (dan jangan pernah) merasakan disakiti suami sampai segitunya
hingga ingin menulis sesuatu yang jelek tentang dirinya. Saya belum
pernah dikuasai semangat balas dendam penghancuran nama baik sedahsyat
itu. Tapi coba baca ini wahai para istri yang memilih untuk memamerkan
kesengsaraan mereka ke seluruh dunia hanya karena suaminya tidak mau
mendengarkan keluh kesahnya.
Seorang teman cewek saya baru saja disakiti oleh suaminya dalam taraf
yang paling rendah. Suaminya selingkuh dengan seorang tante gatel,
memaksa istrinya untuk bersedia diceraikan, abai terhadap anak balitanya
yang setiap malam masih merengek merindukan bapaknya, mengusir istrinya
keluar dari rumah dan memamerkan kemesraan french kiss dengan si pacar
di FB. Apakah teman cewek saya itu sakit hati? Jelas dong. Dia sakit
hati, terhina, merasa dilecehkan, you name it. Dan dari status FB nya
saya bisa menebak bahwa teman saya ini memang sedang dalam kesusahan,
bahkan sebelum ia bercerita pada saya. Kenapa? Karena statusnya berubah
menjadi seperti usaha menguatkan diri, mengutip berbagai kalimat
bijaksana, dan berbagai status yang Mario Teguh banget deh. Sebagai
teman dekatnya, saya bisa merasakan bahwa ia sedang bermasalah.
Tapi apa pernah terlontar satu saja kalimat yang menunjukkan pada dunia
bahwa suaminya adalah douchebag yang disetir selangkangannya? Not a
single word. Hanya kepada teman- teman terdekatnya ia menceritakan
kepedihannya. Tidak pernah kepada dunia. Saya bukan orang baik, kalau
saya yang dibegitukan suami, saya akan balas dendam dengan lebih
dahsyat. Akan segera saya balik nama semua harta, dan bahkan mungkin
saya akan memikirkan taktik untuk mempermalukan suami di depan semua
koleganya. Mungkin saya pasang CCTV, dan saya sebar foto si suami yang
lagi telanjang mandi misalnya, biar seluruh dunia tahu bokongnya penuh
kutil. Dan semua orang akan tersenyum geli setiap berpapasan dengannya.
Tetapi serupa dengan teman saya, saya tidak akan memasang status sedih
dan terluka di FB.
Kalau saja teman saya menulis status "Dasar bejat, teganya kamu berselingkuh dengan tante gatel jelek itu!"
Tentu semua teman FB nya akan bertanya ada apa, kenapa, dan mulai
menduga- duga apa yang terjadi. Lalu mulai mencari tahu siapa sih teman
selingkuh si suami, lalu mulai membandingkan fotonya, cantik mana ya
antara si istri dan si selingkuhan. Dan kalau ternyata si selingkuhan
lebih jelek, akan mulai menduga- duga apa ya yang salah dengan si istri,
kenapa suaminya berpaling dari istrinya yang cantik? Apa karena si
selingkuhan lebih hot di ranjang? Atau si istri ini biar cantik tapi
menyebalkan? Believe me, everybody loves gossip. Saat lalu banyak yang
berkomentar dengan nada prihatin dan iba, sebagian motifnya pastilah
seperti piranha mencium bau darah, haus akan sensasi. Dan nantinya, di
malam hari, si komentator yang iba akan bercerita ke suaminya saat makan
malam "Tahu nggak, si Ana ternyata
diselingkuhin sama suaminya. Gila ya, padahal Ana kan cantik gitu. Kira-
kira kenapa ya? Jangan- jangan si Ana itu aslinya bencong kali ya?"
Dan teman saya sudah bertindak bijaksana. Bercerita hanya kepada teman-
teman terdekatnya, karena ia yakin mereka akan menjaga mulutnya. Dan
yang terpenting, teman terdekatnya mengasihinya, dan benar- benar akan
ikut menderita mendengar penderitaannya, bukannya menjadikannya ajang
gosip di meja makan di malam hari atau saat arisan bersama teman
seangkatan. I burst in tears mendengar cerita sahabat saya terkasih.
Kalau memilih curhat, curhatlah in private. 90% orang tidak peduli akan
masalahmu, sisanya senang mendengar penderitaanmu (saya termasuk yang
sisanya, huahahaha).
Kalau memilih balas dendam, balas dendamlah yang tuntas. Sewalah mafia
Sisilia untuk mematahkan jari jemari nya nya dan menembak lututnya
(tobat...tobat).
Jangan menggabungkan curhat dan niat balas dendam. It never worked.
Oya, dan kalau mau marah pada seseorang, misuh- misuh dan
mengata-ngatainya, say it in front of him/ her. Dengan menuliskan status
marah- marah di FB, mengata- ngatai seseorang tanpa menyebut namanya,
itu hanya menunjukkan (kurangnya) level keberanian anda :D.
Dan biasanya pembelaan diri favorit si 'pemberani' ini saat ditegur temannya adalah "Ini kan wall ku, hakku dong mau nulis apaan."
Ya iyalah, elu mau ciuman sama kambing di depan alun- alun juga suka-
suka elu kok. Hanya ya jadinya orang lain bakalan lebih senang berteman
dengan si kambing daripada sama situ.
| Kalau saya sih lebih senang bikin orang iri akan kehidupan saya, daripada bikin
mereka kasihan pada saya
punya anak cekci dan suami montok...
|
No comments:
Post a Comment