Monday 9 April 2012

My Monday Note -- Ngapain Nunggu Tua? Nunggu Kaya?

Sebulan yang lalu, mama mertua saya berwisata rohani ke daerah Timur Tengah. Beliau berjalan- jalan ke Petra yang mengagumkan, ke Mesir yang rungsep, ke Israel yang ijo royo- royo dan ke Palestina yang rada memelas. Mama kemudian menceritakan pengalamannya ke Okhi, dan terakhirnya Mama berpesan "Kamu harus kesana selagi muda. Selagi masih kuat. Jangan kayak mama gini, udah tua gak kuat mau kemana- mana."   

Mama berpesan begitu karena dengan kondisi fisiknya, ia jadinya tidak bisa ikut mendaki ke Gunung Sinai dengan naik unta, tidak bisa menikmati dengan leluasa perjalanan 4 kilometer menyusuri Petra, dan berbagai kegiatan yang menuntut kekuatan fisik. Beliau mampu membayar biaya tur kesana, tapi dengkulnya tidak mampu menopang tubuhnya. Mendengar nasehat mama, tentu saja respon spontan saya dan Okhi adalah "Lha duitnya ngerampok darimana untuk jalan- jalan ke sono?" Hehehehe. 

Anyway, tentu saja kami tidak kemudian dengan segera mengepak koper untuk pergi ke negerinya Firaun untuk menuruti nasehat mama, tetapi entah bagaimana, nasehatnya mama kok ya mengena di hati saya. Begini ceritanya. Mungkin saya dan Okhi saat ini adalah satu diantara ribuan pasangan muda diluar sana yang sedang 'berjuang'. Enggak, bukan berjuang dengan bambu runcing melawan penjajah, tetapi berjuang membayar tagihan listrik, kontrakan rumah, cicilan motor dan berusaha menabung untuk biaya pendidikan anak kelak.

Saat saya dulu masih lajang, belum nikah dan belum punya anak, hidup hanyalah untuk hari ini dan sebulan kedepan. Life was about amusement and laugh. Hidup adalah pengalaman yang harus dinikmati setiap harinya. Sepulang kantor, saya akan nongkrong dulu di kantor, santai- santai menunggu malam. Beli bakso dan gorengan seribu tiga, atau kalau duit lagi banyak ya bergaya nongkrong di Starbek. Masalah paling pelik yang menghadang hanya menentukan hendak kemana kah saya dan teman- teman sekantor ingin berakhir pekan bareng, ke Bandung kah, atau ke Yogya? Nonton ke bioskop? Tiap minggu pasti dilakoni, entah film yang diputar sekelas The Incredible Hulk ataupunThe Smiley Sundel Bolong. Dulu jaman saya lajang, setiap mengisi harta di kolom pajak, saya bingung harus diisi apa. Tempat tinggal ngekos, mobil atas nama orang tua, tabungan sekedarnya saja. Masak ya saya harus memasukkan kalkulator dan jam tangan saya sebagai harta saya sih? 

Saat saya menikah, hidup mulai bergeser. Mulai nyicil rumah, mulai nyicil motor, mulai harus nabung untuk keperluan mendadak semacam garasi longsor ke sungai dan berbagai iuran kampung (iuran kebersihan lah, iuran mengganti lampu jalan yang mati lah). Sebagian gaji jadinya dialokasikan untuk membeli harta yang layak masuk ke kolom harta di form pajak. Tapi, kami tentu saja masih seperti pasangan muda tanpa beban lainnya. Masih tetap nonton suster melorot dan pocong kesrimpet. Masih mencoba makan di restoran ini itu atas nama wisata kuliner, meniru Om Bondan. Life is in balance. Kolom harta mulai terisi, tapi ke bioskop pun dilakoni.

Dan kemudian datanglah Serafim. Dan kemudian pindahlah kami ke Australia. Setahun pertama, hidup menjadi semacam perlombaan. Lomba untuk secepatnya bisa mulai menyicil rumah sendiri, secepatnya punya tabungan dengan jumlah yang cukup, lomba untuk bisa segera mengisi rumah dengan perabotan, dan berlomba untuk secepatnya mencapai posisimapan. Dan dari yang tadinya hidup untuk hari ini, sekarang saya merasa menjadi hidup saya sepenuhnya didedikasikan untuk masa depan.

Sounds familiar? Saya yakin kebanyakan pasangan muda seumur saya yang sudah punya buntut menjalani hidup yang sama. Menapaki kehidupan karir dan finansial, mulai serius membuat pondasi untuk masa depan. Di bayangan saya, nanti 10 tahun lagi, saya akan mampu membeli rumah dengan halaman belakang yang luas dan asri, tidak seperti halaman belakang rumah saya sekarang yang sempit dan pagarnya baru saja ambruk. Bayangkan betapa nikmatnya berpesta barbekyu di halaman belakang yang nantinya dihias bunga dan ayunannya si Sera. Lima tahun lagi, bila kami menabung dengan giat, kami akan mampu melakukan road trip ke New Zealand selama dua minggu. That would be fabulous! Atau mendaki Machu Pichu di Peru atau ke rumahnya si Anne From Green Gable di pulau terpencil di Kanada sana. Dan Sera nanti akan mempunyai kamar yang luas dan indah, dengan rak buku putih bergaya Victoria yang penuh diisi berbagai buku cerita bergambar nya si Enyd Blyton. Itu alasan kami bekerja keras dan menabung setiap sen nya. Dan memelototi tagihan gas yang sebentar lagi akan naik karena mulai berlakunya carbon tax (note: saya kurang bisa bersimpati masalah kenaikan BBM di Indonesia karena sayapun sebentar lagi akan mengalami kenaikan harga semua barang karena adanya tax ini).

Saya kenal seorang teman yang mempunyai impian serupa dengan saya di Jakarta sana. Membeli rumah mungilnya sendiri agar ia tidak harus hidup menumpang orang tua lagi. Menabung agar beberapa tahun ke depan bisa mengajak anaknya berwisata ke Lombok, menginap di vila yang dilihatnya di brosur. Dan berharap mampu menyicil mobil yang membuat mereka bisa mengadakan acara jalan- jalan seru sekeluarga.

There is nothing wrong with preparing our future I guess. Hanya, jadinya saya terkadang merasa seperti semut, yang setiap hari sibuk bekerja tanpa lelah mengumpulkan makanan. Terus kapan dong bersenang- senangnya? Menunggu makanannya sudah menggunung dulu? Atau seperti kasus saya, menunggu sudah punya rumah yang besar dulu? Atau menunggu duit sudah terkumpul untuk bisa plesir keren keluar negeri? Ya kalau saya masih hidup juga 10 tahun kedepan? Umur manusia siapa yang tahu kan.

Dan nasehat mama yang sedikit banyak menyesali kenapa beliau menunggu sampai tua dulu sebelum bersenang- senang memecut saya. Iya, kenapa saya put aside the thrill of life demi mengumpulkan cadangan makanan bagi masa depan keluarga saya? Kenapa harus menunggu mampu beli rumah bagus dan jalan- jalan ke luar negeri agar bisa bersenang- senang? Kenapa menunggu punya taman bagus dulu sebelum berpiknik?

Dan minggu kemarin, udara Melbourne sedang bersahabat. Sejuk seperti udara Malang beberapa belas tahun yang lalu (kalau sekarang sih sudah panas lah, kebanyakan dosa :D). Saya memanggang ayam di oven dengan bumbu barbekyu siap pakai, membuat puding stroberi memanfaatkan sisa buah yang mulai layu, merebus jagung dan menumis wortel. Dengan bantuan doa dari Sera, saya mengeluarkan meja kuning kecil miliknya, menata ketiga kursi kuning kecil di halaman belakang rumah saya. Dan kamipun berpiknik di halaman belakang kami yang sempit.
Papah kok ganteng yah mirip bret piiiit



Memang jauh dari gambaran piknik cantik yang sering ditampilkan di majalah Home and Garden, foto piknik keluarga di tengah halaman belakang rumah mereka yang luas dan penuh dikelilingi bunga rhododendron. Sang ayah memanggang beraneka daging tumpukan di atas alat barbekyu mereka yang besar dan lux. Si ibu menata tumpukan salad di atas meja kayu beralas taplak kotak- kotak dengan hiasan vas bunga segar di tengahnya. Si anak bermain di rumah kayu yang dibangun di samping pohon besar yang teduh. Rumah kayu berwarna- warni dengan seluncuran dan tangga yang berharga 2500 dolar.    

Tapi kami juga berpiknik, walau itu berarti saya harus bersusah payah membawa meja kecil nya si Sera keluar. Karena tidak punya alat barbekyu, kami hanya sekedar memanggang ayam di oven dengan saus siap pakai. Dan terkadang Okhi harus memegangi kaki meja yang sering bergoyang- goyang di atas paving yang tidak rata. Dan si Sera sibuk berteduh di dalam mobil- mobilan 50 dolarnya, sambil berceloteh menyuruh boneka- bonekanya duduk dan bobok. Di samping kiri kami, jemuran baju dan celana melambai- lambai, dan di samping kanan kami, beberapa bilah pagar yang terlepas disangga dengan genteng dan batu. Masalahnya, kalau saya menunggu 10 tahun lagi, saat halaman rumah saya sudah seindah taman Buckingham, jangan- jangan si Sera sudah menjadi abg yang mengecat merah rambutnya, memakai sepatu boot berpaku, dan menolak untuk berpiknik bersama emak bapaknya. 

Kata pujangga, jangan lupa berhenti sejenak untuk mencium wangi mawar. Saya sih nggak sekurang kerjaan itu, tapi janganlah halaman yang rungsep, rumah yang masih ngontrak, tagihan yang datang bergiliran dan acara ngelembur berjamaah di kantor yang sangat romusha-isme menghalangi saya menikmati hari ini. 

Dan masalah jalan- jalan ke luar negeri, nggak usah nunggu sampai kita sudah bungkuk dan sudah rematik. Meskipun sekarang keuangan masih kembang- kempis, jangan menunggu puluhan tahun lagi untuk melanglang  buana. Kalau sekarang belum mampu ke Kanada atau ke Mesir, kenapa enggak melirik Vietnam atau Kamboja? Seorang teman saya hanya menghabiskan duit kurang dari tiga juta untuk berjalan- jalan di Vietnam, dengan tiket air asia yang sedang promo. Note: teman saya ini jelek, mukanya mirip ayam dan bentuk tubuhnya tidak proporsional. Dia kere dan kuliah master nya nggak lulus- lulus. Tapi dia tidak membiarkan keburukan fisik dan nasibnya menghalanginya bersenang- senang. Dengan modal tiga juta, sudah puas dia berkeliling Saigon.

Masak anda kalah dengan makhluk bertampang tripang ini


Dan ya, pernah pergi ke luar negeri itu bagus bagi jiwa. Rhenald Khasali menulis bahwa dia memerintahkan mahasiswanya untuk at least pernah sekali pergi sendiri ke luar negeri. Sepulangnya dari wisata mereka, kata Pak Rhenald, biasanya mahasiswanya akan mempunyai kadar kepercayaan diri dan kepuasan batin yang meningkat. Dan kan ya memang kelihatan keren kan foto kita di depan patung singa mangap atau Angkor Wat kalau dipamerkan di FB? Huahahahha...... Padahal untuk kesana nggak lebih mahal dari ke Bali. 

Well, I may not young, and free and wild anymore. Tapi saya juga belum sejompo itu untuk tidak bisa go have fun and live the fullest life. Masukkan dulu bon- bon tagihan ke laci, dan let's go to the Kebun Raya dengan tikar dan rantang untuk berpiknik! Jangan lupa pakai Autan yah :D:D:D:D

Meja kuning kecil pinjeman (punyanya Sera ini)
Easy to make, looks good in the picture
Lompat- lompat sebelum kesrimpet rok panjangnya
Mobil kemahnya Sera
pagar yang ambruk di sebelah kanan
pake rok panjang asli Pakistan untuk berpiknik Sidoarjo style
Saus instan pun bisa tampak lezat, wekekeke
Untung gak ada beha nya, jadi saya berani masang foto si jemuran

No comments:

Post a Comment