Kemarin, saya baru saja chating (apa sih bahasa Indonesianya Chatting?)
dengan seorang sahabat baik saya yang sekarang tinggal nun jauh di ujung
dunia. Sahabat saya itu adalah seorang warrior, sejak kuliah sudah
tinggal di kota yang jauh dari ortu, lalu kemudian bekerja di kapal
keliling dunia, lalu sekul lagi di Denmark, lalu sekarang kerja di
Norway. Benar- benar cewek berhati Xena the warrior princess.
Percakapan kami kemudian berlanjut ke adik ceweknya si Princess Xena. Adik cewek yang cantik, yang baik, yang manis, yang ingin ikut kakaknya sekolah di Norway. Duit ada, kakaknya siap menampung, si adik bersemangat pergi. Masalah muncul dalam diri si emak. Emak yang sangat protektif, emak yang sudah pensiun, emak yang sudah di tinggal si bapak ke surga. Emak yang sudah beranjak tua dan kesepian. Dan sabda si emak adalah "Kamu jangan pergi sekolah ke tempat jauh gitu. Nanti Ibu sama siapa disini? Kamu nggak kasihan sama Ibu?"
Ouch. That's hard. Saya rasa dari situasi semacam inilah timbul peribahasa "Bak Makan Buah Simalakama". Kata teman saya "Kalau aku yang digituin sama Ibu sih aku bakal cuek aja Meg. Ini kan hidupku. Tapi adikku cewek yang sensitif, dan dia selalu berusaha melakukan apapun permintaan Ibu."
Saya mengangguk. Saya pun tidak pernah terpikir bahwa saya bakal mengurungkan niat saya melanglang buana ke tempat asing, semata karena tidak mendapat restu dari orang tua. Kalau orang tua saya keberatan saya pergi, saya akan melawan. Tapi itu juga tidak pernah terjadi, karena kebetulan emak bapak saya tidak pernah menggunakan senjata "Kamu nggak kasihan sama mama papa yang sudah tua dan kesepian?"
Tapi saya mencoba menempatkan diri pada sepatu adik teman saya ini. Tidak semua orang bisa dengan mudah mengabaikan perasaan bersalah karena menolak permintaan orang tuanya kan, meskipun permintaan itu tampak tidak adil, mengada- ada dan mengekang. Dan saya mencoba menempatkan diri pada posisi si ibu, yang sendirian tanpa suami, yang seorang anaknya sudah minggat ke negeri antah berantah, yang kesepian tanpa aktivitas bekerja yang biasanya dilakoninya. Dan sekarang anak bungsu kesayangan berkata bahwa ia ingin pergi jauh, dan hanya akan bertemu setahun sekali. Iya kalau anntinya enggak kecantol bule Nordic, atau malah keterima kerja di negeri antah berantah tadi.
Nah, saya sih sekarang baru punya anak balita. Boro- boro Sera minta ijin mau ngeluyur keliling dunia, lha wong saya tinggal 5 menit untuk buang sampah saja dia sudah nangis kok. Jadi masalah berpisah dengan Sera masih belum menjadi isu pelik deh. Yang ada malah saya yang harus bersusah payah membuat dia mau saya titipkan ke orang lain. Tapi saya sudah merasakan juga bagaimana pedihnya ditinggal si kecil.
Setelah dua tahun Sera tidur di tempat tidur yang sama dengan saya dan Okhi, melungker di tengah- tengah bapak ibunya, akhirnya kami memutuskan bahwa sudah saatnya Sera tidur di kamarnya sendiri. Sebetulnya, sudah berbulan- bulan bapaknya Sera menggerutu karena selalu ditendang- tendang sama si Genduk yang tidurnya mirip kuda lumping kesurupan. Tempat tidur queen size kami juga tampak sempit karena dihuni seekor badak, pesut dan anak pesut. Kami berangan- angan "Duh enaknya kalau si Sera sudah tidur sendiri ya.... Kita bisa tidur sambil pelukan lagi... Nggak ditendang- tendang lagi.... Luas tempatnya...."
Dan kemudian, kami mendengar cerita seorang teman yang sampai sekarang masih kesulitan memisah tidur anaknya yang sudah menginjak usia 7 tahun. "Dulu aku telat Meg misah tidurnya, dia sudah terlanjur besar, jadi susah banget disuruh tidur di kamarnya sendiri."
Setelah mendengar pengalaman 'mengerikan' teman kami yang masih harus berbagi kasur dengan anaknya yang sudah duduk di bangku SD, semakin bulatlah niat kami menyingkirkan Sera. Kami kemudian pergi ke toko bed, dan memilih- milih bed kecil untuk Sera. Tentu sebagai orang tua yang demokratis kami menanyakan pendapat Sera, bed mana yang ia inginkan. Tetapi saat Sera kemudian merangkak naik ke atas sebuah bed pink berbunga- bunga dan berperi dengan kanopi putih berharga 1500 dolar, kami memutuskan bahwa Sera masih terlalu kecil untuk diberi tanggung jawab memilih. Jadi kami bantu ia memilih; bed diskon seharga 300 dolar....
Meskipun saya dihantui ketakutan akan prospek Sera tidur sendiri di ruangan yang terpisah untuk pertama kalinya, nyatanya semua berjalan dengan damai. Sekali dua kali Sera memang jatuh, nyungsep dari tempat tidurnya, tetapi semuanya aman terkendali karena kami sudah melapisi lantai tempat tidurnya dengan karpet tebal. Dan Sera memang masih terbangun sekali dua kali dan menjerit histeris saat menyadari emaknya tidak ada di sampingnya, tetapi dia kemudian akan segera tertidur lagi setelah saya mendatanginya. Dan enggak, ketakutan saya bahwa Sera akan sesak nafas karena terjerat selimut tidak menjadi kenyataan :D.
Seminggu setelah Serafim hijrah, saya kemudian mengeluh ke Okhi, kok sekarang saya seperti penderita insomnia yah. Sampai jam dua malam mata masih terpicing. Jangan- jangan kebanyakan minum kopi atau kebanyakan lihat film turquoise inih! Pukul 3 dinihari, biasanya Sera akan terbangun dan menangis ketakutan karena tidak melihat emaknya. Saya kemudian akan berlari ke arah kamarnya, dan kemudian membaringkan diri disebelahnya, menarik kepalanya ke pelukan lengan saya, dan kemudian melingkarkan lengan saya ke tubuh kecilnya yang dengan segera tertidur kembali dalam damai. Dan anehnya, saya akan segera ikut tertidur dengan pulas sambil tetap memeluk si genduk. Padahal bed nya Sera sempit. Padahal leher saya jadinya pegal karena tertekuk dalam posisi yang tidak nyaman. Padahal betis kiri saya seringnya setengah melayang di udara. Tapi anehnya, saya tertidur dengan damai, lebih lelap dari saat saya berbaring di tempat tidur besar yang tiba- tiba tampak kosong melompong tanpa Sera diatasnya.
Dan bahkan meskipun Okhi tidak mengalami gangguan tidur seperti saya, ternyata ia pun merindukan keberadaan Sera di tengah- tengah bed kami. Disuatu minggu, tante saya datang berkunjung kesini dan tidur di kamar Sera, sehingga Sera harus kembali tidur di bed kami. Pukul sembilan malam, Sera sudah tertidur lelap. Beberapa saat kemudian, ia membalikkan tubuhnya ke arah bapaknya, dengan mulut mecucu lima senti. Okhi melingkarkan lengannya mendekap Sera, dan kemudian mencium bibirnya yang melongo. "It just feels so right to have her in our arms, isn't it?" Saya menganggukkan kepala. It just feels so damn right to hold her tight.
Kalau berpisah kamar dari Sera saja sudah bikin saya insomnia, tentu saya bisa sedikit membayangkan perasaan si Ibu yang sudah tidak punya siapa- siapa di dunia ini selain si anak wedok bungsu nya. But again, saat dimasa depan nanti Sera berkata kepada saya bahwa ia ingin menjadi peneliti di Kutub Utara, yang membuatnya hanya akan bertemu saya setahun sekali. Di masa depan dimana saya sudah terlanda encok, sudah pensiun, sudah kesepian karena siapa tahu suami saya sudah mendahului menghadap dewa bumi. Lalu apa jawaban saya?
Well, jawaban yang saya berikan bagi Sera, tentunya tergantung pada jawaban saya pada pertanyaan filosofis untuk apa saya melahirkan Sera? Apa tujuan saya membesarkannya? Apakah untuk menjadi penjaga dan perawat saya di usia tua, menemani saya dan menghibur saya saat encok melanda? Atau agar anak saya bisa memandang dunia dengan mata berbinar, menikmati masa muda yang penuh gairah, bertualang kemana imaji membawanya, meskipun mungkin saja itu berarti tidak disamping saya? Apa yang saya inginkan Sera tulis di blog nya dia? Hari demi harinya di samping saya menemani saya belanja, atau mungkin pengalamannya bersalaman dengan pinguin di kutub selatan?
Apapun jawaban saya nantinya, sekarang saya nikmati dulu lah, masa- masa dimana saya adalah makhluk terpenting dimata Sera, masa dimana ibunya jauh lebih penting daripada dunia dan segala isinya. Sebelum masa ini berganti, dan kemah bersama geng nya atau menonton konser boyband Korea akan menjadi jauh lebih penting daripada ibu tuanya. Saat dimana seorang cowok pirang bertato dengan telinga bertindik akan jauh lebih menarik minat Sera daripada emak uzurnya :D.
Percakapan kami kemudian berlanjut ke adik ceweknya si Princess Xena. Adik cewek yang cantik, yang baik, yang manis, yang ingin ikut kakaknya sekolah di Norway. Duit ada, kakaknya siap menampung, si adik bersemangat pergi. Masalah muncul dalam diri si emak. Emak yang sangat protektif, emak yang sudah pensiun, emak yang sudah di tinggal si bapak ke surga. Emak yang sudah beranjak tua dan kesepian. Dan sabda si emak adalah "Kamu jangan pergi sekolah ke tempat jauh gitu. Nanti Ibu sama siapa disini? Kamu nggak kasihan sama Ibu?"
Ouch. That's hard. Saya rasa dari situasi semacam inilah timbul peribahasa "Bak Makan Buah Simalakama". Kata teman saya "Kalau aku yang digituin sama Ibu sih aku bakal cuek aja Meg. Ini kan hidupku. Tapi adikku cewek yang sensitif, dan dia selalu berusaha melakukan apapun permintaan Ibu."
Saya mengangguk. Saya pun tidak pernah terpikir bahwa saya bakal mengurungkan niat saya melanglang buana ke tempat asing, semata karena tidak mendapat restu dari orang tua. Kalau orang tua saya keberatan saya pergi, saya akan melawan. Tapi itu juga tidak pernah terjadi, karena kebetulan emak bapak saya tidak pernah menggunakan senjata "Kamu nggak kasihan sama mama papa yang sudah tua dan kesepian?"
Tapi saya mencoba menempatkan diri pada sepatu adik teman saya ini. Tidak semua orang bisa dengan mudah mengabaikan perasaan bersalah karena menolak permintaan orang tuanya kan, meskipun permintaan itu tampak tidak adil, mengada- ada dan mengekang. Dan saya mencoba menempatkan diri pada posisi si ibu, yang sendirian tanpa suami, yang seorang anaknya sudah minggat ke negeri antah berantah, yang kesepian tanpa aktivitas bekerja yang biasanya dilakoninya. Dan sekarang anak bungsu kesayangan berkata bahwa ia ingin pergi jauh, dan hanya akan bertemu setahun sekali. Iya kalau anntinya enggak kecantol bule Nordic, atau malah keterima kerja di negeri antah berantah tadi.
Nah, saya sih sekarang baru punya anak balita. Boro- boro Sera minta ijin mau ngeluyur keliling dunia, lha wong saya tinggal 5 menit untuk buang sampah saja dia sudah nangis kok. Jadi masalah berpisah dengan Sera masih belum menjadi isu pelik deh. Yang ada malah saya yang harus bersusah payah membuat dia mau saya titipkan ke orang lain. Tapi saya sudah merasakan juga bagaimana pedihnya ditinggal si kecil.
Setelah dua tahun Sera tidur di tempat tidur yang sama dengan saya dan Okhi, melungker di tengah- tengah bapak ibunya, akhirnya kami memutuskan bahwa sudah saatnya Sera tidur di kamarnya sendiri. Sebetulnya, sudah berbulan- bulan bapaknya Sera menggerutu karena selalu ditendang- tendang sama si Genduk yang tidurnya mirip kuda lumping kesurupan. Tempat tidur queen size kami juga tampak sempit karena dihuni seekor badak, pesut dan anak pesut. Kami berangan- angan "Duh enaknya kalau si Sera sudah tidur sendiri ya.... Kita bisa tidur sambil pelukan lagi... Nggak ditendang- tendang lagi.... Luas tempatnya...."
Dan kemudian, kami mendengar cerita seorang teman yang sampai sekarang masih kesulitan memisah tidur anaknya yang sudah menginjak usia 7 tahun. "Dulu aku telat Meg misah tidurnya, dia sudah terlanjur besar, jadi susah banget disuruh tidur di kamarnya sendiri."
Setelah mendengar pengalaman 'mengerikan' teman kami yang masih harus berbagi kasur dengan anaknya yang sudah duduk di bangku SD, semakin bulatlah niat kami menyingkirkan Sera. Kami kemudian pergi ke toko bed, dan memilih- milih bed kecil untuk Sera. Tentu sebagai orang tua yang demokratis kami menanyakan pendapat Sera, bed mana yang ia inginkan. Tetapi saat Sera kemudian merangkak naik ke atas sebuah bed pink berbunga- bunga dan berperi dengan kanopi putih berharga 1500 dolar, kami memutuskan bahwa Sera masih terlalu kecil untuk diberi tanggung jawab memilih. Jadi kami bantu ia memilih; bed diskon seharga 300 dolar....
Meskipun saya dihantui ketakutan akan prospek Sera tidur sendiri di ruangan yang terpisah untuk pertama kalinya, nyatanya semua berjalan dengan damai. Sekali dua kali Sera memang jatuh, nyungsep dari tempat tidurnya, tetapi semuanya aman terkendali karena kami sudah melapisi lantai tempat tidurnya dengan karpet tebal. Dan Sera memang masih terbangun sekali dua kali dan menjerit histeris saat menyadari emaknya tidak ada di sampingnya, tetapi dia kemudian akan segera tertidur lagi setelah saya mendatanginya. Dan enggak, ketakutan saya bahwa Sera akan sesak nafas karena terjerat selimut tidak menjadi kenyataan :D.
Seminggu setelah Serafim hijrah, saya kemudian mengeluh ke Okhi, kok sekarang saya seperti penderita insomnia yah. Sampai jam dua malam mata masih terpicing. Jangan- jangan kebanyakan minum kopi atau kebanyakan lihat film turquoise inih! Pukul 3 dinihari, biasanya Sera akan terbangun dan menangis ketakutan karena tidak melihat emaknya. Saya kemudian akan berlari ke arah kamarnya, dan kemudian membaringkan diri disebelahnya, menarik kepalanya ke pelukan lengan saya, dan kemudian melingkarkan lengan saya ke tubuh kecilnya yang dengan segera tertidur kembali dalam damai. Dan anehnya, saya akan segera ikut tertidur dengan pulas sambil tetap memeluk si genduk. Padahal bed nya Sera sempit. Padahal leher saya jadinya pegal karena tertekuk dalam posisi yang tidak nyaman. Padahal betis kiri saya seringnya setengah melayang di udara. Tapi anehnya, saya tertidur dengan damai, lebih lelap dari saat saya berbaring di tempat tidur besar yang tiba- tiba tampak kosong melompong tanpa Sera diatasnya.
Dan bahkan meskipun Okhi tidak mengalami gangguan tidur seperti saya, ternyata ia pun merindukan keberadaan Sera di tengah- tengah bed kami. Disuatu minggu, tante saya datang berkunjung kesini dan tidur di kamar Sera, sehingga Sera harus kembali tidur di bed kami. Pukul sembilan malam, Sera sudah tertidur lelap. Beberapa saat kemudian, ia membalikkan tubuhnya ke arah bapaknya, dengan mulut mecucu lima senti. Okhi melingkarkan lengannya mendekap Sera, dan kemudian mencium bibirnya yang melongo. "It just feels so right to have her in our arms, isn't it?" Saya menganggukkan kepala. It just feels so damn right to hold her tight.
Kalau berpisah kamar dari Sera saja sudah bikin saya insomnia, tentu saya bisa sedikit membayangkan perasaan si Ibu yang sudah tidak punya siapa- siapa di dunia ini selain si anak wedok bungsu nya. But again, saat dimasa depan nanti Sera berkata kepada saya bahwa ia ingin menjadi peneliti di Kutub Utara, yang membuatnya hanya akan bertemu saya setahun sekali. Di masa depan dimana saya sudah terlanda encok, sudah pensiun, sudah kesepian karena siapa tahu suami saya sudah mendahului menghadap dewa bumi. Lalu apa jawaban saya?
Well, jawaban yang saya berikan bagi Sera, tentunya tergantung pada jawaban saya pada pertanyaan filosofis untuk apa saya melahirkan Sera? Apa tujuan saya membesarkannya? Apakah untuk menjadi penjaga dan perawat saya di usia tua, menemani saya dan menghibur saya saat encok melanda? Atau agar anak saya bisa memandang dunia dengan mata berbinar, menikmati masa muda yang penuh gairah, bertualang kemana imaji membawanya, meskipun mungkin saja itu berarti tidak disamping saya? Apa yang saya inginkan Sera tulis di blog nya dia? Hari demi harinya di samping saya menemani saya belanja, atau mungkin pengalamannya bersalaman dengan pinguin di kutub selatan?
Apapun jawaban saya nantinya, sekarang saya nikmati dulu lah, masa- masa dimana saya adalah makhluk terpenting dimata Sera, masa dimana ibunya jauh lebih penting daripada dunia dan segala isinya. Sebelum masa ini berganti, dan kemah bersama geng nya atau menonton konser boyband Korea akan menjadi jauh lebih penting daripada ibu tuanya. Saat dimana seorang cowok pirang bertato dengan telinga bertindik akan jauh lebih menarik minat Sera daripada emak uzurnya :D.
| siap- siap.... Sera mau tinggal landas |
| sori Mak, sera banyak urusan nih!!! |
| Untung emaknya Sera menemukan hiburan stl ditinggal kabur sm sera |
Hua..I feel you!! :)
ReplyDeleteRasanya kaya berkaca stlh baca ini mbak, apalagi bagian tidur yg lbh nyenyak klo smbl meluk si bocah...
Soalnya si bocah kan nggak ngorok kayak bapaknya.. Hiks.. #curcol
Delete