Monday 23 April 2012

My Monday Note -- Tauladan Bagi Si Suri

Sebetulnya jelas saya bukanlah seorang yang religius. Mungkin I will say saya itu humanis nan manis. Dan saya tidak pernah terlalu tertarik dengan segala hal yang berbau religi. Tetapi lucunya, saya sangat menggemari mendengarkan Aa Gym. 
Sama dengan ribuan ibu-ibu yang menyemut duduk dengan tekun di depan Aa Gym, saya menyukainya karena gaya ceramahnya yang membumi, santai dan santun. Dengan Aa Gym, saya enggak merasa sedang dijejali ayat-ayat surgawi yang alot untuk dikunyah, tapi sesuatu yang ringan, manis tapi mengena di hati. Mendengar dan melihatnya, saya merasa perdamaian dunia bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Lihat saja, ia memanggil dirinya Aa, suatu panggilan yang sangat bersahaja kan?
Dan satu lagi yang membuat banyak hati terkiwir-kiwir, pastinya saat ia tampil bersama istrinya Teh Ninih. Bahkan saat ia sekedar menceritakan sesuatu yang sepele terkait dengan istri dan rumah tangganya, saya ikut tersenyum karena seolah ikut merasakan cinta membuncah yang ada di dadanya, teruntuk istri tercintanya. Hebatnya, cinta itu terasa begitu nyata bahkan saat ia tidak mengucapkan sepatahpun kata cinta pada sang istri.
Sampai suatu hari, datang berita mengejutkan bahwa si Dai kondang nan Dermawan (emang Paman Gober dermawan) memutuskan untuk beristri lagi. Dengan perempuan yang lebih kinyis-kinyis dari istrinya yang sudah memberi 7 anak. Jeder, efek berita ini sangat dahsyat. Saya ingat beberapa hari kemudian, seorang teman sekantor saya bercerita bahwa pada saat berita mengejutkan itu tersiar, teman saya itu sedang berwisata rohani ke  padepokannya Aa Gym. Saat itu, di padepokan banyak juga rombongan ibu-ibu dari berbagai penjuru Indonesia yang sedang berwisata rohani dan berdoa disana. "Tahu nggak," ceritanya ke kami di kantor, "begitu dengar kabar Aa Gym kawin lagi, masak semua Ibu-Ibu itu langsung melipat sajadahnya terus langsung cabut meninggalkan tempatnya Aa Gym! Ada yang nangis ada yang ngomel, banyak yang menggumam Astaghfirulah!"
Sayapun, yang bukan termasuk pengikutnya si Aa, mendesah kecewa. Yah, segitu doang ternyata cinta agungnya si Aa ke istrinya.  Dan sejalan dengan waktu, kabarnya padepokan si Aa menjadi sepi, dan pengikutnya yang kebanyakan kaum ibu menyusut.

 
Saya sepenuhnya melupakan peristiwa ini, sampai suatu hari saya membaca tulisan di sebuah blog. Tulisan itu mempertanyakan 'hukuman' yang kejam dari masyarakat untuk Aa Gym. Intinya, toh apa yang selama ini disiarkan si Aa adalah hal yang benar, yang baik, dan dia mengajak kita semua ke jalan kebaikan, jadi kenapa setelah peristiwa itu seolah si Aa sudah enggak ada harganya lagi untuk ngasih ceramah? Kalaupun yang dilakukannya dianggap suatu kesalahan, toh tidak ada dari ceramahnya yang salah kan? Sama seperti perumpamaan bahwa emas yang keluar dari mulut babi pun ya tetap saja emas.
Membaca tulisan itu, saya merenung. Iya ya, kenapa sih saya langsung ilfil saat mengetahui berita ini? Kenapa saya langsung memblokade semua hal yang berkaitan dengan Aa Gym hanya karena ada satu tindakannya yang dalam pemikiran saya konyol dan ridiculous.Toh dia tetap saja berceramah dengan apik.
Setelah beberapa saat, saya menemukan alasan kenapa saya, dan banyak pengikut Aa pada saat itu jadi tidak mau lagi mendengarkan khotbahnya. Karena kami manusia, dan manusiawi bila saya butuh tauladan, bukan hanya kata-kata pepesan kosong. Contoh ekstrimnya, semisal ada acara talk show di TV tentang bagaimana supaya kita terhindar dari melakukan korupsi dan tindakan melanggar hukum, dan nara sumbernya si Nazrudin sama Nunun. Meskipun mungkin mereka berdua bisa memberikan paparan yang menakjubkan, ya siapa juga yang sudi mendengarkan? Lha elu aja begitu, kok berani-beraninya sok banget memberi ceramah segala.
Nah si Aa ini kan dalam kebanyakan khotbahnya memposisikan diri sebagai seorang yang mengerti perasaan kaum ibu. Di Wikipedia, saya baca profilnya bahwa Aa Gym digemari oleh ibu-ibu rumah tangga karena ia membangun citra sebagai sosok pemuka agama yang berbeda dengan ulama lainnya. Ketika para ulama “konvensional” berdakwah tentang keutamaan salat, puasa, dan kemegahan surga, Aa Gym memilih untuk bercerita tentang pentingnya hati yang tulus, keluarga yang sakinah dengan menggunakan bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan. Topik pembahasannya seputar keluarga dan pemirsanya terkonsentrasi pada ibu-ibu rumah tangga, citranya pun didaulat menjadi “ustad keluarga bahagia.” (Source: Wikipedia yang 6 dari 10 artikelnya tidak akurat :D:D:D).
Jadi, saat ia melakukan satu tindakan yang yah sebut saja bukan merupakan gambaran keluarga bahagia versi para istri pada umumnya, wajar saja para pengikutnya bereaksi. Siapa yang sudi mendengarkan ceramahnya tentang membentuk keluarga bahagia kalau dia (di mata para pengikutnya) mengecewakan istrinya. Saya ingat seorang ibu cablak di kantor saya dalam logat betawi berkata "Ya masih mendingan suami gue dong, meski kagak pernah romantis sama gue tapi kagak maduin gue." Dan kami semua para wanita mengangguk- angguk takzim.
Saya sih, pastinya tidak akan pernah merasakan dihujat dan dijauhi sedahsyat Aa Gym, secara saya juga kagak terkenal. Paling yang bisa jengkel dan benci sama saya ya keluarga saya dan kalian-kalian yang baca note saya. Hanya masalah keteladanan dan memberi contoh ini, sekarang saya baru menyadari bahwa satu tindakan yang dianggap kurang tepat, membuat semua nasihat berbusa-busa yang sudah saya sampaikan jadi kehilangan artinya. Suatu malam saya memandang Serafim dan melihat dia untuk pertama kalinya MENGUPIL. Dengan heran saya bilang ke Okhi, "Lihat tuh, si Sera sudah bisa ngupil." Okhi dengan wajah bersalah menjawab "Lho, dia niruin aku berarti... Tadi aku ngupil di depannya dia..."
Saya selalu memaksa Sera untuk makan sambil duduk. Saya tidak suka melihat anak makan sambil lari kesana kemari. Dan rasanya saya cukup berhasil menerapkannya. Sampai suatu ketika saya tanpa sadar makan sambil mengangkat piring saya, dan kemudian jalan ngider ke dapur. Maksud saya, sekalian makan sekalian menyelesaikan pekerjaan. Langsung deh, Sera mengikuti contoh saya dan ngider kesana kemari. Dan untuk memperbaiki perilakunya itu, saya harus bekerja keras lagi. Hanya karena satu contoh salah.
Tapi saya juga belajar, meskipun Sera seperti spons yang langsung menyerap semua perilaku saya dan serta merta menirunya, toh saya kan bukan seorang bayi lagi seperti dia. Jadi saya enggak boleh juga langsung dengan serta merta meniru semua perilaku seseorang yang saya kagumi. Misalkan orang tua saya, meskipun saya mencintai dan menghargai mereka, kalau ada perilaku mereka yang tidak sesuai hati saya, ya jangan saya ikuti. Tapi, karena saya sudah dewasa, berarti saya harus memiliki kadar maklum tinggi juga bahwa orang tua saya, atau Aa Gym, atau siapapun orangnya yang kita idolakan, hanyalah manusia biasa. Mereka mungkin salah, mungkin jatuh dalam dosa. Tidak perlu juga serta merta membenci mereka. Kan mereka bukan Tuhan.
Makanya, jangan terlalu mengidolakan seorang manusia biasa. Sewajarnya aja. Ikuti yang baik, tinggalkan yang kurang baik (Gile, udah kayak guru PPKn aja saya). Toh mereka semua manusia biasa. Okhi pernah punya seorang pendeta yang amat sangat dia kagumi dan dipuja. Dan saat pendeta itu melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hatinya, dia kecewa berat, hingga sempat malas ke gereja. Nah lho, sebelnya sama manusia kok acara berdoa ke Tuhan dibawa-bawa. Dari situ dia belajar, jangan pernah mengidolakan seseorang sampai terbutakan. Dikasih Tuhan kepala dan otak diletakkan paling atas itu supaya kita tetap berpikir jernih sepanjang waktu.
Makanya saya heran saat melihat ada semacam demo ormas. Pemimpinnya teriak A, semua anak buahnya ikut teriak A lebih lantang. Teriak B, ikut teriak B. Apa mereka benar-benar ngerti yang diteriakkan pemimpinnya? Gak peduli, yang penting teriak. Pemimpinnya gak pake helm, anak buahnya ikutan gak pake helm. Kok ya nggak takut kepalanya bakal kelindes truk gitu lho. Kalau pemimpinnya memang nggak takut mati karena mungkin sudah punya susuk kekebalan, kok ya anak buahnya ikut-ikutan tanpa mikir. Trus kalau sampeyan mati kelindes truk, yang membiayai anakmu sekolah iku sopo Paklik? Mungkin pemimpinnya masuk sumur juga anak buahnya langsung berebut ikut nyebur. Saya merasa melihat segerombolan kerbau yang dicokok hidungnya, bukannya manusia yang berakal budi. Aneh juga, sementara anjing saya si Sarden yang begonya gak ketulungan aja bisa mikir. Saya mandi, dia kagak mau ikutan mandi. Kalau saya nyebur sumur, dia juga nggak bakalan sudi ngikutin saya.
Jadi sesudah membuat note panjang lebar, sesudah menasehati semua orang supaya berpikir jernih dan tidak menghakimi orang lain, sesudah bergaya bisa memilah- milah, apa saya akhirnya bisa menikmati lagi ceramah si Aa? Huf, dengan menghela nafas saya mengaku bahwa bagaimanapun saya mencoba, saya sudah tidak bisa lagi memandangnya dengan respek yang sama dengan sebelumnya. Keterbatasan saya sebagai manusia juga. Kalau sudah begini, saya bersyukur karena Tuhan saya yang pengasih tidak picik seperti saya. Meski saya berdosa mulu setiap detik, Ia masih mencintai dan mengampuni saya. Dan mau mendengarkan segala doa permohonan dan keluh kesah saya yang panjang lebar dan nggak penting.
kalau menurut saya, inilah versi keluarga yang bahagia

No comments:

Post a Comment