Sebetulnya jelas saya bukanlah seorang yang religius. Mungkin I will say
saya itu humanis nan manis. Dan saya tidak pernah terlalu tertarik
dengan segala hal yang berbau religi. Tetapi lucunya, saya sangat
menggemari mendengarkan Aa Gym.
Sama dengan ribuan ibu-ibu yang menyemut duduk dengan tekun di depan Aa
Gym, saya menyukainya karena gaya ceramahnya yang membumi, santai dan
santun. Dengan Aa Gym, saya enggak merasa sedang dijejali ayat-ayat
surgawi yang alot untuk dikunyah, tapi sesuatu yang ringan, manis tapi
mengena di hati. Mendengar dan melihatnya, saya merasa perdamaian dunia
bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Lihat saja, ia memanggil
dirinya Aa, suatu panggilan yang sangat bersahaja kan?
Dan satu lagi yang membuat banyak hati terkiwir-kiwir, pastinya saat ia
tampil bersama istrinya Teh Ninih. Bahkan saat ia sekedar menceritakan
sesuatu yang sepele terkait dengan istri dan rumah tangganya, saya ikut
tersenyum karena seolah ikut merasakan cinta membuncah yang ada di
dadanya, teruntuk istri tercintanya. Hebatnya, cinta itu terasa begitu
nyata bahkan saat ia tidak mengucapkan sepatahpun kata cinta pada sang
istri.
Sampai suatu hari, datang berita mengejutkan bahwa si Dai kondang nan
Dermawan (emang Paman Gober dermawan) memutuskan untuk beristri lagi.
Dengan perempuan yang lebih kinyis-kinyis dari istrinya yang sudah
memberi 7 anak. Jeder, efek berita ini sangat dahsyat. Saya ingat
beberapa hari kemudian, seorang teman sekantor saya bercerita bahwa pada
saat berita mengejutkan itu tersiar, teman saya itu sedang berwisata
rohani ke padepokannya Aa Gym. Saat itu, di padepokan banyak juga
rombongan ibu-ibu dari berbagai penjuru Indonesia yang sedang berwisata
rohani dan berdoa disana. "Tahu nggak," ceritanya ke kami di kantor,
"begitu dengar kabar Aa Gym kawin lagi, masak semua Ibu-Ibu itu
langsung melipat sajadahnya terus langsung cabut meninggalkan tempatnya
Aa Gym! Ada yang nangis ada yang ngomel, banyak yang menggumam
Astaghfirulah!"
Sayapun, yang bukan termasuk pengikutnya si Aa, mendesah kecewa. Yah,
segitu doang ternyata cinta agungnya si Aa ke istrinya. Dan sejalan
dengan waktu, kabarnya padepokan si Aa menjadi sepi, dan pengikutnya
yang kebanyakan kaum ibu menyusut.
Saya sepenuhnya melupakan peristiwa ini, sampai suatu hari saya membaca
tulisan di sebuah blog. Tulisan itu mempertanyakan 'hukuman' yang kejam
dari masyarakat untuk Aa Gym. Intinya, toh apa yang selama ini disiarkan
si Aa adalah hal yang benar, yang baik, dan dia mengajak kita semua ke
jalan kebaikan, jadi kenapa setelah peristiwa itu seolah si Aa sudah
enggak ada harganya lagi untuk ngasih ceramah? Kalaupun yang
dilakukannya dianggap suatu kesalahan, toh tidak ada dari ceramahnya
yang salah kan? Sama seperti perumpamaan bahwa emas yang keluar dari
mulut babi pun ya tetap saja emas.
Membaca tulisan itu, saya merenung. Iya ya, kenapa sih saya langsung
ilfil saat mengetahui berita ini? Kenapa saya langsung memblokade semua
hal yang berkaitan dengan Aa Gym hanya karena ada satu tindakannya yang
dalam pemikiran saya konyol dan ridiculous.Toh dia tetap saja berceramah
dengan apik.
Setelah beberapa saat, saya menemukan alasan kenapa saya, dan banyak
pengikut Aa pada saat itu jadi tidak mau lagi mendengarkan khotbahnya.
Karena kami manusia, dan manusiawi bila saya butuh tauladan, bukan hanya
kata-kata pepesan kosong. Contoh ekstrimnya, semisal ada acara talk
show di TV tentang bagaimana supaya kita terhindar dari melakukan
korupsi dan tindakan melanggar hukum, dan nara sumbernya si Nazrudin
sama Nunun. Meskipun mungkin mereka berdua bisa memberikan paparan yang
menakjubkan, ya siapa juga yang sudi mendengarkan? Lha elu aja begitu,
kok berani-beraninya sok banget memberi ceramah segala.
Nah si Aa ini kan dalam kebanyakan khotbahnya memposisikan diri sebagai
seorang yang mengerti perasaan kaum ibu. Di Wikipedia, saya baca
profilnya bahwa Aa Gym digemari oleh ibu-ibu rumah tangga karena ia
membangun citra sebagai sosok pemuka agama yang berbeda dengan ulama
lainnya. Ketika para ulama “konvensional” berdakwah tentang keutamaan
salat, puasa, dan kemegahan surga, Aa Gym memilih untuk bercerita
tentang pentingnya hati yang tulus, keluarga yang sakinah dengan
menggunakan bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan. Topik
pembahasannya seputar keluarga dan pemirsanya terkonsentrasi pada
ibu-ibu rumah tangga, citranya pun didaulat menjadi “ustad keluarga
bahagia.” (Source: Wikipedia yang 6 dari 10 artikelnya tidak akurat
:D:D:D).
Jadi, saat ia melakukan satu tindakan yang yah sebut saja bukan
merupakan gambaran keluarga bahagia versi para istri pada umumnya, wajar
saja para pengikutnya bereaksi. Siapa yang sudi mendengarkan ceramahnya
tentang membentuk keluarga bahagia kalau dia (di mata para pengikutnya)
mengecewakan istrinya. Saya ingat seorang ibu cablak di kantor saya
dalam logat betawi berkata "Ya masih mendingan suami gue dong, meski kagak pernah romantis sama gue tapi kagak maduin gue." Dan kami semua para wanita mengangguk- angguk takzim.
Saya sih, pastinya tidak akan pernah merasakan dihujat dan dijauhi
sedahsyat Aa Gym, secara saya juga kagak terkenal. Paling yang bisa
jengkel dan benci sama saya ya keluarga saya dan kalian-kalian yang baca
note saya. Hanya masalah keteladanan dan memberi contoh ini, sekarang
saya baru menyadari bahwa satu tindakan yang dianggap kurang tepat,
membuat semua nasihat berbusa-busa yang sudah saya sampaikan jadi
kehilangan artinya. Suatu malam saya memandang Serafim dan melihat dia
untuk pertama kalinya MENGUPIL. Dengan heran saya bilang ke Okhi, "Lihat tuh, si Sera sudah bisa ngupil." Okhi dengan wajah bersalah menjawab "Lho, dia niruin aku berarti... Tadi aku ngupil di depannya dia..."
Saya selalu memaksa Sera untuk makan sambil duduk. Saya tidak suka
melihat anak makan sambil lari kesana kemari. Dan rasanya saya cukup
berhasil menerapkannya. Sampai suatu ketika saya tanpa sadar makan
sambil mengangkat piring saya, dan kemudian jalan ngider ke dapur.
Maksud saya, sekalian makan sekalian menyelesaikan pekerjaan. Langsung
deh, Sera mengikuti contoh saya dan ngider kesana kemari. Dan untuk
memperbaiki perilakunya itu, saya harus bekerja keras lagi. Hanya karena
satu contoh salah.
Tapi saya juga belajar, meskipun Sera seperti spons yang langsung
menyerap semua perilaku saya dan serta merta menirunya, toh saya kan
bukan seorang bayi lagi seperti dia. Jadi saya enggak boleh juga
langsung dengan serta merta meniru semua perilaku seseorang yang saya
kagumi. Misalkan orang tua saya, meskipun saya mencintai dan menghargai
mereka, kalau ada perilaku mereka yang tidak sesuai hati saya, ya jangan
saya ikuti. Tapi, karena saya sudah dewasa, berarti saya harus memiliki
kadar maklum tinggi juga bahwa orang tua saya, atau Aa Gym, atau
siapapun orangnya yang kita idolakan, hanyalah manusia biasa. Mereka
mungkin salah, mungkin jatuh dalam dosa. Tidak perlu juga serta merta
membenci mereka. Kan mereka bukan Tuhan.
Makanya, jangan terlalu mengidolakan seorang manusia biasa. Sewajarnya
aja. Ikuti yang baik, tinggalkan yang kurang baik (Gile, udah kayak guru
PPKn aja saya). Toh mereka semua manusia biasa. Okhi pernah punya
seorang pendeta yang amat sangat dia kagumi dan dipuja. Dan saat pendeta
itu melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hatinya, dia kecewa
berat, hingga sempat malas ke gereja. Nah lho, sebelnya sama manusia kok
acara berdoa ke Tuhan dibawa-bawa. Dari situ dia belajar, jangan pernah
mengidolakan seseorang sampai terbutakan. Dikasih Tuhan kepala dan otak
diletakkan paling atas itu supaya kita tetap berpikir jernih sepanjang
waktu.
Makanya saya heran saat melihat ada semacam demo ormas. Pemimpinnya
teriak A, semua anak buahnya ikut teriak A lebih lantang. Teriak B, ikut
teriak B. Apa mereka benar-benar ngerti yang diteriakkan pemimpinnya?
Gak peduli, yang penting teriak. Pemimpinnya gak pake helm, anak buahnya
ikutan gak pake helm. Kok ya nggak takut kepalanya bakal kelindes truk
gitu lho. Kalau pemimpinnya memang nggak takut mati karena mungkin sudah
punya susuk kekebalan, kok ya anak buahnya ikut-ikutan tanpa mikir.
Trus kalau sampeyan mati kelindes truk, yang membiayai anakmu sekolah
iku sopo Paklik? Mungkin pemimpinnya masuk sumur juga anak buahnya
langsung berebut ikut nyebur. Saya merasa melihat segerombolan kerbau
yang dicokok hidungnya, bukannya manusia yang berakal budi. Aneh juga,
sementara anjing saya si Sarden yang begonya gak ketulungan aja bisa
mikir. Saya mandi, dia kagak mau ikutan mandi. Kalau saya nyebur sumur,
dia juga nggak bakalan sudi ngikutin saya.
Jadi sesudah membuat note panjang lebar, sesudah menasehati semua orang
supaya berpikir jernih dan tidak menghakimi orang lain, sesudah bergaya
bisa memilah- milah, apa saya akhirnya bisa menikmati lagi ceramah si
Aa? Huf, dengan menghela nafas saya mengaku bahwa bagaimanapun saya
mencoba, saya sudah tidak bisa lagi memandangnya dengan respek yang sama
dengan sebelumnya. Keterbatasan saya sebagai manusia juga. Kalau sudah
begini, saya bersyukur karena Tuhan saya yang pengasih tidak picik
seperti saya. Meski saya berdosa mulu setiap detik, Ia masih mencintai
dan mengampuni saya. Dan mau mendengarkan segala doa permohonan dan
keluh kesah saya yang panjang lebar dan nggak penting.
![]() |
| kalau menurut saya, inilah versi keluarga yang bahagia |

No comments:
Post a Comment