Monday 28 May 2012

My Monday Note -- Bertemu pria brengsek? Coba cek istrinya

"Saya minta uangnya dulu dong mbak. Persekot dulu.

Saya memandang dengan sebal pada si bapak yang berdiri di hadapan saya. Si bapak yang belum mulai bekerja saja sudah rebyek minta uang muka segala. Tentu, tentu saya menyadari bahwa mungkin si bapak itu memang sangat membutuhkan uang hari ini juga untuk membeli beras. Tentu saya harus memiliki kadar maklum lebih besar pada bapak pesuruh kompleks ini, karena tentunya cash flownya dia lebih seret daripada saya, sehingga wajar masalah duit seratus ribu saja bisa membuat dia meneror saya untuk segera memberikannya padanya.

Tetapi bapak pesuruh kompleks yang satu ini memang paling juara. Bukan hanya saya yang sebal dan tidak tahan akan sifat mata duitannya, tetapi rasanya hampir semua orang yang tinggal di kompleks itu juga tidak tahan ingin menggablok. Bayangkan, baru ditanya "Bisa bantuin benerin talang air?" langsung dia menagih "Ibu bakal ngasih saya berapa?" Kerjaan belum beres, sudah menagih- nagih agar upahnya dibayarkan dulu. Kata orang jawa, ngono yo ngono, neng ojo ngono. Akibatnya, semua orang malas minta bantuan ke dia. Mending minta bantuan pesuruh lainnya saja. Wong ya sebetulnya kita minta tolong ke pesuruh itu dalam rangka membantu dia juga kok, supaya dia bisa mendapat penghasilan tambahan.    

Kemudian pada suatu hari, saya tanpa sengaja melintas di samping rumahnya yang terletak di pojokan kompleks. Dan dari arah rumah si pesuruh ini saya mendengar suaranya dengan nada yang tinggi "Emangnya aku belum dibayar sama Bu Ana! Lha kalau belum dibayar gimana? Masak harus kutodong sih!!! 


Monday 21 May 2012

My Monday Note -- Setumpuk Buku Bergambar Bagi Balita Saya

Tidak ada yang lebih membuat frustasi seorang emak daripada saat keinginannya mengajarkan 'rajin membaca' kepada anaknya tidak mendapat sambutan hangat. Umur enam bulan, saya mencoba membacakan Sera buku cerita yang penuh bergambar peri hutan sibuk bertualang. Sera menatap penuh minat, memasukkan ujung buku ke dalam mulutnya, dan mulai mengunyah dengan nikmat. Emaknya nggak kurang akal. Dibelilah buku bantal yang terbuat dari kain. Ha, nggak bakal bisa rusak deh ni buku terkena air liur yang belepotan. Sera menatap curiga, dan kemudian melihat bahwa buku ini sama sekali bukan barang keras yang bisa digunakan untuk mengasah gusinya yang gatal, dia melengos tidak peduli. Padahal si buku bantal dibeli dengan harga 90 ribu..... Yah sudahlah, mungkin Sera belum siap untuk buku.
 
Setelah usia Sera menginjak satu tahun, emaknya mulai lagi mengenalkan buku. Kali ini adalah board book, buku yang terbuat dari kertas tebal yang anti rusak. Haha, memang jenius emaknya Sera. Yap, buku itu memang tidak rusak, tetapi saat emaknya berusaha membacakan sekedar tiga baris kalimat pendek Cock-a-doodle-do--- Said the rooster at dawn -- And all the animals woke up with a yawn, Sera dengan gusar berusaha segera membalik halaman buku dengan kasar. Nggak sabar ah! Sebelum halaman terakhir, dia sudah bosan dan segera beranjak menjauh. Dengan mendengus kesal, saya berpikir "Ya sudahlah, Sera mungkin memang belum tertarik buku. Untung baru beli tiga buku, coba kalau sudah terlanjur beli banyak, kan rugi."
 

Monday 14 May 2012

My Monday Note-- Makin Tua, Makin Montok Dan Seksi

Beberapa saat yang lalu, saya pulang kampung ke Indonesia. Biasa, memastikan bahwa nama saya masih tercantum di dalam surat wasiat emak bapak saya, belum ditip-ex dan diganti namanya anjing saya.

Suatu hari, saya berkencan makan siang di restoran dengan seorang sahabat lama, dan ia kemudian datang dengan membawa tiga temannya yang lain. Saya mengenal ketiga temannya itu, tapi ya tidak kenal bangetlah. 

Sambil menunggu makanan kami diantar, sahabat saya itu bertanya ke seorang temannya "Kamu masih kerja di kantor AA itu sampai sekarang?" Yang bersangkutan menjawab bahwa ia sekarang sudah berpindah kantor, karena bete dengan seringnya ia harus lembur di akhir pekan.

Dan percakapan pun berlangsung seputar masalah pekerjaan. Kemudian, salah seorang diantara mereka bertanya dimana saya bekerja. Saya menjawab bahwa saat ini saya sedang tidak bekerja, hanya di rumah saja mengurus anak saya dan suami tetangga saya. "Sebelumnya kerja dimana?" tanyanya lagi. "Kerja di perusahaan importir farmasi di Jakarta," jawab saya. Dan kemudian sahabat saya tanpa diminta menambahkan keterangan bahwa saat ini saya sedang bermukim di luar negeri, dan karena suami saya sangat sibuk ngecengin mahasiswi sementara anak saya yang seksi menolak untuk dititipkan di childcare, saya belum bisa bekerja untuk saat ini.

Dan kemudian, tanpa dinyana, salah seorang dari temannya sahabat saya itu berkata " Apa sih menariknya kerja di luar? Paling enak ya kerja di Indonesia, apa enaknya tinggal di luar negeri. Biar dianggap kerenpun, biar gajinya dolar kek, males aku kerja di luar. Mau nyari pecel susah, makanan Indonesia kalau ada pun ya tetap mahal banget, nggak asyiklah. Aku hanya mau kerja diluar kalau ada yang jual rujak cingur seenak di  Surabaya."

Kami semua sedikit tertegun. Suasana menjadi sedikit sunyi dan tidak nyaman. Kami semua menjadi sedikit salah tingkah sepertinya dengan rangkaian kalimat yang dilontarkan dengan (seolah) sambil lalu dengan suara yang (seolah) meremehkan. Setelah beberapa detik, saya membuka mulut dan berkata "Oh iya memang makanan Indonesia mahal, tempe saja harganya empat puluh ribu sebungkus kecil."

Monday 7 May 2012

My Monday Note -- Itu anaknya sendiri ya Mbak?

"Mbak, itu anaknya embak sendiri ya?" tanya seorang wanita berusia sekitar 35 tahun dengan badan subur kepada saya. Pandangan matanya mengarah ke Serafim yang sedang bersiap meluncur turun dari bukit karet berwarna- warni. Saya menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah si penanya yang memakai hem dan celana berwarna hijau muda dengan pinggiran putih dari bahan tipis yang tampak tidak nyaman. "Oooooo," tanggapan si penanya kemudian.

Saya sebetulnya menyadari bahwa sudah beberapa menit lamanya beberapa pasang mata menatap ke arah saya. Semua pemilik mata itu adalah perempuan yang baru beranjak 17 tahun hingga yang sudah mid 30 seperti si penanya. Hari Jumat malam di bulan Februari lalu, saya sedang menemani Sera di sebuah area bermain yang terletak di salah satu mall di Surabaya. Untuk bisa masuk dan menikmati arena bermain yang didalamnya terdapat kolam bola, aneka mobil- mobilan, seluncuran dan jungkat- jungkit itu, saya harus membayar tiket 35 ribu rupiah. 

Kira- kira ada sepuluh anak yang lain yang juga sedang bermain di area bermain itu. Semua anak balita itu ditemani seorang dewasa sebagai pengawal, seperti juga Sera yang saya temani. Saat saya berusaha membuat Sera berani memanjat tangga melingkar yang ada di situ, sambil sesekali memberi semangat "Good job Sera. ayo, sedikit lagi," para pengawal anak lainnya sibuk ngerumpi sambil memencet- mencet layar hapenya yang dibalut casing berwarna pelangi. Saat saya menelepon emak saya bahwa kami akan menemuinya di restoran, seorang pengawal yang lain sibuk menelepon entah siapa di hapenya, dua puluh menit tanpa henti, kadang dengan nada manja kadang dengan nada ngambek. Saat saya menegur Sera yang membuka tutup pintu mobil- mobilan dengan kasar, seorang pengawal yang lain membiarkan saja anak balita asuhannya mengoles- oleskan ludahnya ke dinding.