"Saya minta uangnya dulu dong mbak. Persekot dulu."
Saya memandang dengan sebal pada si bapak yang berdiri di hadapan saya. Si bapak yang belum mulai bekerja saja sudah rebyek minta uang muka segala. Tentu, tentu saya menyadari bahwa mungkin si bapak itu memang sangat membutuhkan uang hari ini juga untuk membeli beras. Tentu saya harus memiliki kadar maklum lebih besar pada bapak pesuruh kompleks ini, karena tentunya cash flownya dia lebih seret daripada saya, sehingga wajar masalah duit seratus ribu saja bisa membuat dia meneror saya untuk segera memberikannya padanya.
Tetapi bapak pesuruh kompleks yang satu ini memang paling juara. Bukan hanya saya yang sebal dan tidak tahan akan sifat mata duitannya, tetapi rasanya hampir semua orang yang tinggal di kompleks itu juga tidak tahan ingin menggablok. Bayangkan, baru ditanya "Bisa bantuin benerin talang air?" langsung dia menagih "Ibu bakal ngasih saya berapa?" Kerjaan belum beres, sudah menagih- nagih agar upahnya dibayarkan dulu. Kata orang jawa, ngono yo ngono, neng ojo ngono. Akibatnya, semua orang malas minta bantuan ke dia. Mending minta bantuan pesuruh lainnya saja. Wong ya sebetulnya kita minta tolong ke pesuruh itu dalam rangka membantu dia juga kok, supaya dia bisa mendapat penghasilan tambahan.
Kemudian pada suatu hari, saya tanpa sengaja melintas di samping rumahnya yang terletak di pojokan kompleks. Dan dari arah rumah si pesuruh ini saya mendengar suaranya dengan nada yang tinggi "Emangnya aku belum dibayar sama Bu Ana! Lha kalau belum dibayar gimana? Masak harus kutodong sih!!! "