"Mbak, itu anaknya embak sendiri ya?"
tanya seorang wanita berusia sekitar 35 tahun dengan badan subur kepada
saya. Pandangan matanya mengarah ke Serafim yang sedang bersiap meluncur
turun dari bukit karet berwarna- warni. Saya menganggukkan kepala
sambil tersenyum ke arah si penanya yang memakai hem dan celana berwarna
hijau muda dengan pinggiran putih dari bahan tipis yang tampak tidak
nyaman. "Oooooo," tanggapan si penanya kemudian.
Saya sebetulnya menyadari bahwa sudah beberapa menit lamanya beberapa
pasang mata menatap ke arah saya. Semua pemilik mata itu adalah
perempuan yang baru beranjak 17 tahun hingga yang sudah mid 30 seperti
si penanya. Hari Jumat malam di bulan Februari lalu, saya sedang
menemani Sera di sebuah area bermain yang terletak di salah satu mall di
Surabaya. Untuk bisa masuk dan menikmati arena bermain yang didalamnya
terdapat kolam bola, aneka mobil- mobilan, seluncuran dan jungkat-
jungkit itu, saya harus membayar tiket 35 ribu rupiah.
Kira- kira ada sepuluh anak yang lain yang juga sedang bermain di area
bermain itu. Semua anak balita itu ditemani seorang dewasa sebagai
pengawal, seperti juga Sera yang saya temani. Saat saya berusaha membuat
Sera berani memanjat tangga melingkar yang ada di situ, sambil sesekali
memberi semangat "Good job Sera. ayo, sedikit lagi,"
para pengawal anak lainnya sibuk ngerumpi sambil memencet- mencet layar
hapenya yang dibalut casing berwarna pelangi. Saat saya menelepon emak
saya bahwa kami akan menemuinya di restoran, seorang pengawal yang lain
sibuk menelepon entah siapa di hapenya, dua puluh menit tanpa henti,
kadang dengan nada manja kadang dengan nada ngambek. Saat saya menegur
Sera yang membuka tutup pintu mobil- mobilan dengan kasar, seorang
pengawal yang lain membiarkan saja anak balita asuhannya mengoles-
oleskan ludahnya ke dinding.
Beberapa pendamping balita di area bermain itu menggunakan baju dengan
warna yang matching; atasan- bawahan pink atau atasan bawahan hijau.
Beberapa mencatok rambutnya hingga ujung- ujungnya memerah seperti
penderita tipus menahun. Semua membawa hape yang sibuk diutak atik
setiap beberapa detik dengan penuh kebulatan tekad dan kesungguhan hati,
membuat saya yakin bahwa mereka adalah mata- mata NATO yang sedang
melakukan tugas surveilence terhadap situasi di tempat bermain anak yang
berpotensi membahayakan posisi Amerika di dunia. Semuanya berkulit sawo
matang seperti saya, dan ada dua orang yang rambutnya dikuncir ala
buntut kuda yang mencuat tidak beraturan ke segala arah, persis dengan
gaya rambut saya saat itu. Dari tampang mereka, cara berbicara, isi
obrolan mereka hingga baju seragam matching mereka, saya dengan yakin
bisa memastikan bahwa SEMUA pendamping balita di area bermain itu adalah
'Si Embak' atau biasa disebut "Si Yuk' yang beken dengan nama alias pembantu atau baby sitter.
Sejak menginjakkan kaki ke dalam area bermain ini, saya sudah menyadari bahwa "Hey, saya satu- satunya yang melahirkan si anak yang saya bawa kearea bermain ini!"
Yang lainnya adalah si embak yang tampaknya merupakan ibu ideologis
dari para balita itu, walau saya meragukan kalau mereka adalah ibu
biologisnya.
Sama seperti saya yang terkadang mencuri pandang ke arah mereka yang
asyik memamerkan layar hapenya ke arah ibu ideologis lainnya, para embak
ini juga beberapa kali melayangkan pandangan ke arah saya, yang mungkin
juga tampak serupa tapi tak sama di mata mereka. Penampilan fisik saya
dan gaya dandanan saya jelas serupa dengan mereka (mungkin saya perlu
membuat note khusus untuk menceritakan betapa seringnya saya disangka
pembantu, hingga digoda dan disuit-suitin tukang catering belakang rumah
*dan berakhir dengan si tukangnya yang mengalami trauma
berkepanjangan), tetapi cara saya berbicara dengan si balita yang berada
dalam penjagaan saya mungkin terdengar asing di telinga mereka.
Sampai akhirnya saya secara otomatis berkata ke arah Sera "Ser, up the stairs down the slide",
dan kemudian salah satu embak yang sebetulnya sudah bukan embak- embak
lagi itu memberanikan diri bertanya apakah si balita cemplon itu adalah
anak saya. Ya iyalah anak saya, saya yakin 100% kalau si balita berperut
buncit ini anak saya. Kalau yang ditanya itu si Okhi, baru dia bakal
dengan sedih berkata "Kata emaknya sih aku bapaknya, tapi nggak tahu lagi ya....."
Kalau si embak itu perlu bertanya apakah Sera anak saya, berarti di
menit- menit sebelumnya ia sempat mengasumsikan bahwa saya bukan emaknya
Sera dong? Mari berbaik sangka bahwa ia menyangka saya adalah kakaknya
si Sera, karena tampang imut dan badan seksi saya :D:D:D.
Anyway, saya tentu sadar bahwa salah persepsi si embak itu terutama
dikarenakan bentuk fisik saya yang memang mengenaskan, tidak layak
menjadi ibu dari balita montok nan menggemaskan dengan hidung dan jempol
yang sebulat tomat. Tetapi saat saya memasuki arena bermain itu, kok ya
saya jadi merasa 'salah tempat' ya. Padahal siapa sih yang paling
berhak dan layak mendampingi anaknya bermain? Emaknya atau bapaknya kan?
Tapi hari itu, saya merasa menjadi alien di tengah gerombolan embak-
embak yang tampaknya sudah sangat familiar dan nyaman di tempat itu.
Mereka mengobrol sambil cekikikan antar sesamanya, sementara saya dengan
canggung lewat di depan mereka. Merekapun tampak canggung saat saya
kebetulan duduk di samping mereka sambil terkadang berujar "Ayo, kakinya diangkat satu demi satu" atau "Nggak usah takut, kan mama nungguin Sera dibawah."
Dan kemudian di kolam mandi bola, seorang anak balita yang lebih besar
dari Sera, dengan tampang penjahat dan mata menatap licik *in my opinion
seekor toddler Godzila, mulai melempar- lempar bola ke arah si embak
penjaganya. Tadinya sih si embak biasa- biasa saja, masih asyik dengan
hape dangdutnya, tapi lama-lama ya gelagapan juga dia. Dan semakin
brutallah si toddler godzila beraksi. Si Mbak berucap "Jangan dong Kak."
Jelas saja si godzila tidak menurut, lha dipanggilnya Kak. Coba
dipanggil Godzil, pasti bakal mengibas- ngibaskan ekornya. Setelah
beberapa kali ucapan jangan dong kak tidak membuahkan hasil dan bahkan
sekarang si godzil malah semakin kasar, marahlah si embak dan dengan
sangat kasar meraih si godzil dan berkata "Nuakal kok kamu itu, mbetik, nggak iso dikandani. Ancene arek setan!!!"
Oya, saya sempat bertanya ke embak pawang Godzila itu, dimanakah gerangan orang tua si balita? "Lagi muter- muter belanja Mbak," jawabnya. "Nanti saya ditelepon kalau mereka sudah mau makan,"
tambahnya lagi. Aha, jadi teringat pemandangan di food court tadi, ayah
dan ibu makan dalam damai sambil sesekali berbicara atau melirik ke
arah anaknya, sementara si anak balita berada dalam asuhan si embak
berbaju matching, disuapi dan dikejar- kejar agar mau makan.
Setelah dari Surabaya, saya kemudian terbang ke Jakarta, mengunjungi
bapak tua saya yang selalu sibuk mengurut boyoknya yang keseleo setiap
selesai main golf (emang sebetulnya cocoknya main kelereng kok bapak
saya itu). Pada suatu sore, saya mengajak Sera berjalan keliling
kompleks perumahan. Banyak anak kompleks yang sedang bermain sepeda, dan
mereka dengan ramah menyapa Sera. Mereka masih ingat pada Sera rupanya,
dan dengan terkagum- kagum berkomentar "Wah, Sera sekarang sudah punya rambut ya Tante...."
Mereka kemudian memutuskan bahwa mereka ingin mengajak Sera berjalan-
jalan, bergantian menggandeng tangan Sera, mengelus rambutnya dan bahkan
mencoba menggendongnya. Sera tertawa riang merasa menjadi pusat
perhatian. Saya mengikuti dari belakang. Kemudian sampailah rombongan
ondel- ondel ini ke depan pagar sebuah rumah. Di dalam pagar terdapat
halaman yang cukup luas, sebuah ayunan tergantung di pohon, dan beberapa
buah sepeda berwarna- warni tertumpuk di sudut. Seorang anak kemudian
masuk ke dalam pagar, dan memamnggil teman- temannya yang lain untuk
ikut masuk. Si Sera masih berada dalam gandengan tangan seorang anak. "Ikut yuk Dek Sera," kata si penggandeng. Saya ragu. Dan kemudian memutuskan untuk berkata "Udah sore, Dek Sera harus makan dulu. Besok main lagi ya....."
Dan kemudian saya mengajak Sera kembali ke rumah, sambil sibuk
melambai- lambaikan tangan ke arah para ondel- ondel centil yang dengan
ceria berucap "Dadah Dek Sera, besok main lagi yaaaaaaaa."
Sebetulnya saya sih senang saja menemani Sera bermain di halaman rumah
itu, biar dia punya teman juga. Hanya saya tadi jadi ragu dan akhirnya
memutuskan untuk mengajak Sera pulang sajalah, karena saya melihat di
teras depan rumah dipenuhi barisan embak- embak yang sudah mandi dan
berbedak. Tentu saja semuanya membawa hape. Kalau Sera bermain di
halaman itu, berarti saya harus ikut duduk menunggu di teras itu. Duduk
diantara para embak? Nggak masalah bagi saya, hanya terus saya harus
berbincang apa? "Er, kalian enggak ada yang diperkosa majikan kan ya?"
Satu- satunya saat dimana saya sempat 'berbincang' dengan pembantu
tetangga adalah saat salah seorang dari mereka dengan dikawal ibu
majikannya datang ke rumah saya, dan kemudian si pembantu dengan wajah
marah dan berurai air mata menuduh pembantu saya jahat padanya. Membuang
muka dan bahkan meludah ke jalan saat melewatinya. Saya mengusap mata
tidak percaya. Jadi saya dibangunkan dari tidur siang saya yang damai
setelah semalaman menggendong bayi saya yang rewel hanya untuk
menyaksikan taburan air mata ala film India? Kalau itu pembantu saya
yang melapor bahwa pembantu tetangga sebelah jahat, bakal saya suruh dia
jangan mempedulikan, toh nggak penting- penting amat berteman dengan si
pembantu jahat itu. Kalau si pembantu jahat memukulnya, baru dia boleh
lapor ke saya dan nantinya kita lapor hansip biar dipentungin itu
makhluk laknat. Berhubung si pembantu alay itu punya majikan yang alay
juga, terpaksalah saya mendengarkan cerita sedihnya di antara derai air
mata (saya harus menahan diri dari keinginan memutar bola mata dan
tertawa terbahak- bahak).
Next time saya pulang kampung, mungkin ide yang bagus untuk memanggil
bekas baby sitter nya Sera untuk menemani Sera. Jadi Sera tidak harus
tersisih dari pergaulan kampung karena emaknya yang minder untuk bergaul
dengan para embak yang tampaknya akan jauh lebih mudah saya temui saat
menggembalakan anak saya, daripada emak dan bapaknya anak- anak itu.
Atau sekalian saja saya membawa bekal sebuah hape genjreng dan menyamar
menjadi pembantu. Tentu saya harus berlatih bagaimana caranya berbicara
di hape selama 20 menit dengan tone suara yang berubah setiap menit "Kamu tu nggak cinta kok sama aku! Nggak perhatian! Benci aku!!!!!" Dan kemudian dilanjutkan "Yang, jadi kapan kita kawinnya????"
| "Mak, lagi ngapain mak?" "Lagi baca buku panduan bagaimana menjadi pembantu Ser, biar mama bisa nemenin kamu main di kampung...." |
| "Muka mama udah genit- genit menggoda belum Ser?" "Kayak orang cacingan Mak..." |
No comments:
Post a Comment