Monday 7 May 2012

My Monday Note -- Itu anaknya sendiri ya Mbak?

"Mbak, itu anaknya embak sendiri ya?" tanya seorang wanita berusia sekitar 35 tahun dengan badan subur kepada saya. Pandangan matanya mengarah ke Serafim yang sedang bersiap meluncur turun dari bukit karet berwarna- warni. Saya menganggukkan kepala sambil tersenyum ke arah si penanya yang memakai hem dan celana berwarna hijau muda dengan pinggiran putih dari bahan tipis yang tampak tidak nyaman. "Oooooo," tanggapan si penanya kemudian.

Saya sebetulnya menyadari bahwa sudah beberapa menit lamanya beberapa pasang mata menatap ke arah saya. Semua pemilik mata itu adalah perempuan yang baru beranjak 17 tahun hingga yang sudah mid 30 seperti si penanya. Hari Jumat malam di bulan Februari lalu, saya sedang menemani Sera di sebuah area bermain yang terletak di salah satu mall di Surabaya. Untuk bisa masuk dan menikmati arena bermain yang didalamnya terdapat kolam bola, aneka mobil- mobilan, seluncuran dan jungkat- jungkit itu, saya harus membayar tiket 35 ribu rupiah. 

Kira- kira ada sepuluh anak yang lain yang juga sedang bermain di area bermain itu. Semua anak balita itu ditemani seorang dewasa sebagai pengawal, seperti juga Sera yang saya temani. Saat saya berusaha membuat Sera berani memanjat tangga melingkar yang ada di situ, sambil sesekali memberi semangat "Good job Sera. ayo, sedikit lagi," para pengawal anak lainnya sibuk ngerumpi sambil memencet- mencet layar hapenya yang dibalut casing berwarna pelangi. Saat saya menelepon emak saya bahwa kami akan menemuinya di restoran, seorang pengawal yang lain sibuk menelepon entah siapa di hapenya, dua puluh menit tanpa henti, kadang dengan nada manja kadang dengan nada ngambek. Saat saya menegur Sera yang membuka tutup pintu mobil- mobilan dengan kasar, seorang pengawal yang lain membiarkan saja anak balita asuhannya mengoles- oleskan ludahnya ke dinding.


Beberapa pendamping balita di area bermain itu menggunakan baju dengan warna yang matching; atasan- bawahan pink atau atasan bawahan hijau. Beberapa mencatok rambutnya hingga ujung- ujungnya memerah seperti penderita tipus menahun. Semua membawa hape yang sibuk diutak atik setiap beberapa detik dengan penuh kebulatan tekad dan kesungguhan hati, membuat saya yakin bahwa mereka adalah mata- mata NATO yang sedang melakukan tugas surveilence terhadap situasi di tempat bermain anak yang berpotensi membahayakan posisi Amerika di dunia. Semuanya berkulit sawo matang seperti saya, dan ada dua orang yang rambutnya dikuncir ala buntut kuda yang mencuat tidak beraturan ke segala arah, persis dengan gaya rambut saya saat itu. Dari tampang mereka, cara berbicara, isi obrolan mereka hingga baju seragam matching mereka, saya dengan yakin bisa memastikan bahwa SEMUA pendamping balita di area bermain itu adalah 'Si Embak' atau biasa disebut "Si Yuk' yang beken dengan nama alias pembantu atau baby sitter

Sejak menginjakkan kaki ke dalam area bermain ini, saya sudah menyadari bahwa "Hey, saya satu- satunya yang melahirkan si anak yang saya bawa kearea bermain ini!" Yang lainnya adalah si embak yang tampaknya merupakan ibu ideologis dari para balita itu, walau saya meragukan kalau mereka adalah ibu biologisnya. 

Sama seperti saya yang terkadang mencuri pandang ke arah mereka yang asyik memamerkan layar hapenya ke arah ibu ideologis lainnya, para embak ini juga beberapa kali melayangkan pandangan ke arah saya, yang mungkin juga tampak serupa tapi tak sama di mata mereka. Penampilan fisik saya dan gaya dandanan saya jelas serupa dengan mereka (mungkin saya perlu membuat note khusus untuk menceritakan betapa seringnya saya disangka pembantu, hingga digoda dan disuit-suitin tukang catering belakang rumah *dan berakhir dengan si tukangnya yang mengalami trauma berkepanjangan), tetapi cara saya berbicara dengan si balita yang berada dalam penjagaan saya mungkin terdengar asing di telinga mereka.

Sampai akhirnya saya secara otomatis berkata ke arah Sera "Ser, up the stairs down the slide", dan kemudian salah satu embak yang sebetulnya sudah bukan embak- embak lagi itu memberanikan diri bertanya apakah si balita cemplon itu adalah anak saya. Ya iyalah anak saya, saya yakin 100% kalau si balita berperut buncit ini anak saya. Kalau yang ditanya itu si Okhi, baru dia bakal dengan sedih berkata "Kata emaknya sih aku bapaknya, tapi nggak tahu lagi ya....."

Kalau si embak itu perlu bertanya apakah Sera anak saya, berarti di menit- menit sebelumnya ia sempat mengasumsikan bahwa saya bukan emaknya Sera dong? Mari berbaik sangka bahwa ia menyangka saya adalah kakaknya si Sera, karena tampang imut dan badan seksi saya :D:D:D.

Anyway, saya tentu sadar bahwa salah persepsi si embak itu terutama dikarenakan bentuk fisik saya yang memang mengenaskan, tidak layak menjadi ibu dari balita montok nan menggemaskan dengan hidung dan jempol yang sebulat tomat. Tetapi saat saya memasuki arena bermain itu, kok ya saya jadi merasa 'salah tempat' ya. Padahal siapa sih yang paling berhak dan layak mendampingi anaknya bermain? Emaknya atau bapaknya kan? Tapi hari itu, saya merasa menjadi alien di tengah gerombolan embak- embak yang tampaknya sudah sangat familiar dan nyaman di tempat itu. Mereka mengobrol sambil cekikikan antar sesamanya, sementara saya dengan canggung lewat di depan mereka. Merekapun tampak canggung saat saya kebetulan duduk di samping mereka sambil terkadang berujar "Ayo, kakinya diangkat satu demi satu" atau "Nggak usah takut, kan mama nungguin Sera dibawah."

Dan kemudian di kolam mandi bola, seorang anak balita yang lebih besar dari Sera, dengan tampang penjahat dan mata menatap licik *in my opinion seekor toddler Godzila, mulai melempar- lempar bola ke arah si embak penjaganya. Tadinya sih si embak biasa- biasa saja, masih asyik dengan hape dangdutnya, tapi lama-lama ya gelagapan juga dia. Dan semakin brutallah si toddler godzila beraksi. Si Mbak berucap "Jangan dong Kak." Jelas saja si godzila tidak menurut, lha dipanggilnya Kak. Coba dipanggil Godzil, pasti bakal mengibas- ngibaskan ekornya. Setelah beberapa kali ucapan jangan dong kak tidak membuahkan hasil dan bahkan sekarang si godzil malah semakin kasar, marahlah si embak dan dengan sangat kasar meraih si godzil dan berkata "Nuakal kok kamu itu, mbetik, nggak iso dikandani. Ancene arek setan!!!"

Oya, saya sempat bertanya ke embak pawang Godzila itu, dimanakah gerangan orang tua si balita? "Lagi muter- muter belanja Mbak," jawabnya. "Nanti saya ditelepon kalau mereka sudah mau makan," tambahnya lagi. Aha, jadi teringat pemandangan di food court tadi, ayah dan ibu makan dalam damai sambil sesekali berbicara atau melirik ke arah anaknya, sementara si anak balita berada dalam asuhan si embak berbaju matching, disuapi dan dikejar- kejar agar mau makan.

Setelah dari Surabaya, saya kemudian terbang ke Jakarta, mengunjungi bapak tua saya yang selalu sibuk mengurut boyoknya yang keseleo setiap selesai main golf (emang sebetulnya cocoknya main kelereng kok bapak saya itu). Pada suatu sore, saya mengajak Sera berjalan keliling kompleks perumahan. Banyak anak kompleks yang sedang bermain sepeda, dan mereka dengan ramah menyapa Sera. Mereka masih ingat pada Sera rupanya, dan dengan terkagum- kagum berkomentar "Wah, Sera sekarang sudah punya rambut ya Tante...."

Mereka kemudian memutuskan bahwa mereka ingin mengajak Sera berjalan- jalan, bergantian menggandeng tangan Sera, mengelus rambutnya dan bahkan mencoba menggendongnya. Sera tertawa riang merasa menjadi pusat perhatian. Saya mengikuti dari belakang. Kemudian sampailah rombongan ondel- ondel ini ke depan pagar sebuah rumah. Di dalam pagar terdapat halaman yang cukup luas, sebuah ayunan tergantung di pohon, dan beberapa buah sepeda berwarna- warni tertumpuk di sudut. Seorang anak kemudian masuk ke dalam pagar, dan memamnggil teman- temannya yang lain untuk ikut masuk. Si Sera masih berada dalam gandengan tangan seorang anak. "Ikut yuk Dek Sera," kata si penggandeng. Saya ragu. Dan kemudian memutuskan untuk berkata "Udah sore, Dek Sera harus makan dulu. Besok main lagi ya....." Dan kemudian saya mengajak Sera kembali ke rumah, sambil sibuk melambai- lambaikan tangan ke arah para ondel- ondel centil yang dengan ceria berucap "Dadah Dek Sera, besok main lagi yaaaaaaaa."

Sebetulnya saya sih senang saja menemani Sera bermain di halaman rumah itu, biar dia punya teman juga. Hanya saya tadi jadi ragu dan akhirnya memutuskan untuk mengajak Sera pulang sajalah, karena saya melihat di teras depan rumah dipenuhi barisan embak- embak yang sudah mandi dan berbedak. Tentu saja semuanya membawa hape. Kalau Sera bermain di halaman itu, berarti saya harus ikut duduk menunggu di teras itu. Duduk diantara para embak? Nggak masalah bagi saya, hanya terus saya harus berbincang apa? "Er, kalian enggak ada yang diperkosa majikan kan ya?"

Satu- satunya saat dimana saya sempat 'berbincang' dengan pembantu tetangga adalah saat salah seorang dari mereka dengan dikawal ibu majikannya datang ke rumah saya, dan kemudian si pembantu dengan wajah marah dan berurai air mata menuduh pembantu saya jahat padanya. Membuang muka dan bahkan meludah ke jalan saat melewatinya. Saya mengusap mata tidak percaya. Jadi saya dibangunkan dari tidur siang saya yang damai setelah semalaman menggendong bayi saya yang rewel hanya untuk menyaksikan taburan air mata ala film India? Kalau itu pembantu saya yang melapor bahwa pembantu tetangga sebelah jahat, bakal saya suruh dia jangan mempedulikan, toh nggak penting- penting amat berteman dengan si pembantu jahat itu. Kalau si pembantu jahat memukulnya, baru dia boleh lapor ke saya dan nantinya kita lapor hansip biar dipentungin itu makhluk laknat. Berhubung si pembantu alay itu punya majikan yang alay juga, terpaksalah saya mendengarkan cerita sedihnya di antara derai air mata (saya harus menahan diri dari keinginan memutar bola mata dan tertawa terbahak- bahak).

Next time saya pulang kampung, mungkin ide yang bagus untuk memanggil bekas baby sitter nya Sera untuk menemani Sera. Jadi Sera tidak harus tersisih dari pergaulan kampung karena emaknya yang minder untuk bergaul dengan para embak yang tampaknya akan jauh lebih mudah saya temui saat menggembalakan anak saya, daripada emak dan bapaknya anak- anak itu. Atau sekalian saja saya membawa bekal sebuah hape genjreng dan menyamar menjadi pembantu. Tentu saya harus berlatih bagaimana caranya berbicara di hape selama 20 menit dengan tone suara yang berubah setiap menit "Kamu tu nggak cinta kok sama aku! Nggak perhatian! Benci aku!!!!!" Dan kemudian dilanjutkan "Yang, jadi kapan kita kawinnya????"

"Mak, lagi ngapain mak?"
"Lagi baca buku panduan bagaimana menjadi pembantu Ser, biar mama bisa nemenin kamu main di kampung...."

"Muka mama udah genit- genit menggoda belum Ser?"
"Kayak orang cacingan Mak..."

No comments:

Post a Comment