"Saya minta uangnya dulu dong mbak. Persekot dulu."
Saya memandang dengan sebal pada si bapak yang berdiri di hadapan saya. Si bapak yang belum mulai bekerja saja sudah rebyek minta uang muka segala. Tentu, tentu saya menyadari bahwa mungkin si bapak itu memang sangat membutuhkan uang hari ini juga untuk membeli beras. Tentu saya harus memiliki kadar maklum lebih besar pada bapak pesuruh kompleks ini, karena tentunya cash flownya dia lebih seret daripada saya, sehingga wajar masalah duit seratus ribu saja bisa membuat dia meneror saya untuk segera memberikannya padanya.
Tetapi bapak pesuruh kompleks yang satu ini memang paling juara. Bukan hanya saya yang sebal dan tidak tahan akan sifat mata duitannya, tetapi rasanya hampir semua orang yang tinggal di kompleks itu juga tidak tahan ingin menggablok. Bayangkan, baru ditanya "Bisa bantuin benerin talang air?" langsung dia menagih "Ibu bakal ngasih saya berapa?" Kerjaan belum beres, sudah menagih- nagih agar upahnya dibayarkan dulu. Kata orang jawa, ngono yo ngono, neng ojo ngono. Akibatnya, semua orang malas minta bantuan ke dia. Mending minta bantuan pesuruh lainnya saja. Wong ya sebetulnya kita minta tolong ke pesuruh itu dalam rangka membantu dia juga kok, supaya dia bisa mendapat penghasilan tambahan.
Kemudian pada suatu hari, saya tanpa sengaja melintas di samping rumahnya yang terletak di pojokan kompleks. Dan dari arah rumah si pesuruh ini saya mendengar suaranya dengan nada yang tinggi "Emangnya aku belum dibayar sama Bu Ana! Lha kalau belum dibayar gimana? Masak harus kutodong sih!!! "
Saya menghentikan langkah dan menajamkan telinga (ciri khas emak- emak tukang gosip). Dan terdengar balasan yang tidak kalah gahar, yang dari suaranya saya tebak adalah milik istri si pesuruh, dalam bahasa Jawa "Ya ditagih lagi dong! Penakut banget sih jadi laki!!!!"
Uh oh, saya segera bergegas mempercepat langkah. Kan gawat kalau tahu- tahu si pesuruh bergegas keluar rumah untuk menodong si Bu Ana agar segera membayar upahnya, bisa- bisa saya dianggap saksi mata yang harus dimusnahkan. Dan kemudian saya mendengar cerita dari tetangga sebelah rumah si pesuruh, bahwa memang istrinya pak pesuruh itu mata duitan, dan bawelnya nggak ketulungan. "Wajar lah si bapak juga jadinya mata duitan gitu. Pusing kali dicerewetin bininya," komentar si tetangga. Oh ya, meskipun statusnya sebagai 'pesuruh', tetapi saat istri si pesuruh menjadi tuan rumah acara arisan, makanan yang dihidangkan selalu paling wah dibandingkan semua tetangga se kompleks. Hebat kan? Mungkin sama dengan cerita duta besar dari Eropa yang terkaget- kaget saat melihat betapa istana presiden di satu negara di Afrika jauh lebih mewah daripada di negaranya (padahal miskin anjrit si negara Afrika itu).
Melihat balada si pesuruh dan istri bawelnya itu, saya mendecakkan lidah. Bagaimana ceritanya sih ada istri yang bisa sebawel itu, dan bagaimana bisa ada pria yang tidak berdaya menyuruh istrinya diam.
Sampai kemudian, baru beberapa minggu yang lalu,seorang teman pria saya bercerita bahwa di awal- awal perkawinannya dulu ia pernah meminjam uang. Saya membelalakkan mata tidak percaya. "Untuk apa kamu minjem duit?"
Cerita punya cerita, saat itu si teman baru mulai bekerja di sebuah perusahaan milik negara. Namanya masih taraf probation, gajinya ya seikhlasnya begitulah. Tentu bukannya jadi jatuh miskin atau se-memelas para buruh kontrak, hanya biaya hidup di Jakarta kan juga besar. Setiap hari dia harus mengeluarkan uang sekitar 30 ribu HANYA untuk biaya tol, belum bensin dll. "Aku hanya nggak pingin istriku harus merubah gaya hidupmu. Aku nggak tega kalau dia harus hidup susah," kata teman saya itu.
"Apa istrimu pernah protes sih? Apa dia pernah menuntut ini itu kah?" tanya saya bingung, karena kebetulan saya juga mengenal istri si teman. Dan dia tampaknya adalah seorang cewek yang logis bak buah manggis.
Teman saya menjelaskan bahwa memang istrinya tidak pernah protes atau menuntut, hanya kan mereka terbiasa keluar makan di restoran di akhir minggu, terbiasa kemana- mana naik mobil, dan terbiasa 'tidak terlalu mikir soal duit'. "Suami mana sih Meg yang tega ngelihat istrinya hidup prihatin?"
Saya tercenung juga jadinya. Sama seperti saya, istri si teman ini ya bukan tipe istri bawel yang menuntut ini itu. Kami mempunyai penghasilan sendiri. Kami wanita logis yang enggak makan gengsi. Kami tidak pernah mengeluarkan kata- kata "Aku minta cincin berlian pokoknya! Soalnya Bu RT kemarin pamer cincinnya yang baru dibeliin sama Pak RT. Pokoknya kamu harus beliin aku!!!!"
Tetapi meskipun istri si teman jelas bukan tipe perempuan tukang merengek, saya dan istri si teman itu mungkin terbiasa berkata "Sabtu ini kita nyoba restoran baru disitu yok." Atau sekedar"Males masak nih, ke KFC yok." Dan bahkan ajakan yang tampak biasa dan tanpa maksud merongrong ini bisa membuat suami kami sampai merasa perlu meminjam uang. Demi supaya "Ya masak aku tega sih nyuruh istriku naik bis ke kantor?"
Tapi itulah. Itulah kelakuan si suami. Lebih memilih meminjam uang daripada mengabarkan pada istrinya bahwa "Sori, kamu terpaksa harus hidup lebih prihatin." Campuran ketidak tegaan, rasa cinta dan gengsi :D. Dan bahkan dengan seorang istri yang bukannya seorang lintah penghisap darah mata duitan, sang suami sudah tergugah untuk berusaha mempertahankan standar hidup yang terbiasa dijalani istrinya. Bayangkan bila istri teman saya itu adalah seorang istri sebawel dan berisik seperti istri si pesuruh. Mungkin teman saya akan berubah menjadi seperti pak pesuruh. Hanya mau bekerja dimana ada duit, sangat perhitungan sampai ke sen terkecil, mengejar- ngejar bosnya supaya saat itu juga uang hasil perjalanan dinasnya diberikan kepadanya. Atau bahkan foto si suami dengan rambut jabriknya akan terpampang di koran karena menjadi seorang pegawai junior dengan rekening bank yang sim salabim abakadabra tahu- tahu sudah berisi 25 trilyun.
Dan saat saya memikirkan lagi kehidupan keluarga saya selama ini, walaupun sekali lagi saya bukannya istri perengek dan bawel, I have to admit bahwa sadar atau tidak sadar, saya ternyata juga memberikan pengaruh terbesar dalam keputusan yang diambil suami saya. Entah dengan one way or another, saya bisa mempengaruhi keputusan yang diambil suami saya dan arah kehidupan kami. Mulai dari hal sepele seperti membuat suami saya yang pertamanya menolak mentah- mentah untuk les bahasa Inggris untuk kemudian luluh dan mau mengikuti les (di tempat yang saya inginkan pula). Hingga ke hal besar seperti membuat suami saya meninggalkan pekerjaannya yang sangat disukainya (dengan gaji tiga kali lipat gaji saya) demi bekerja di kota yang sama dengan saya (suatu keputusan yang membuat saya menyesal sampai sekarang). Sebaliknya, saya tidak bisa berkata bahwa Okhi memberikan pengaruh sebegitu besarnya bagi keputusan yang saya ambil. Nope.
Apa ini hanya berlaku bagi saya dan Okhi? Entahlah. Tetapi saya ingat suatu pepatah yang berkata jika kita ingin mempengaruhi seorang pria, cara paling jitu adalah dengan mempengaruhi istrinya. Saat saya menginginkan Okhi untuk ikut les bahasa Inggris dan kemudian ia menolak mentah- mentah, saya tidak menyerah. Saya menginginkan hal itu, jadi saya mencari cara untuk mewujudkannya. Saya membujuknya dengan "Coba deh ikut placement test. Kalau nanti kamu memutuskan untuk nggak mau les, aku nggak bakal maksa lagi. Tapi coba dulu dong ikut tes penempatannya ya." Tentu saja saya bohong. Kalau Okhi memutuskan untuk tidak mau les setelah mengikuti tes, I would find another way :D.
Kemudian dengan tekun saya menelepon tempat les, membuatkan janji untuk tes penempatan. Saya membujuk dan memaksa agar suami saya yang katrok bin penakut itu mau mengikuti ujian. Dan saya tidak keberatan untuk menjemputnya pada pukul 10 malam di tempat kursus. Saya ingat suami saya bercerita bahwa ia berkata kepada guru bahasa Inggrisnya bahwa pacarnya yang menjemputnya. "Kenapa pacarmu nggak ikut kursus sekalian?" tanya sang guru. "Dia sudah lulus dari dulu," jawab Okhi.
Itu bedanya seorang pria dan wanita. Saya rasa seorang wanita mempunyai karunia untuk mempunyai kemampuan persuasi yang hebat dan kesabaran ekstra untuk pelan- pelan mempengaruhi suaminya. Saat saya ingin mempengaruhi Okhi, saya akan dengan gigih memperjuangkannya. Dengan halus saya akan pantang menyerah agar keinginan saya terwujud. Saya bersedia repot, membuatkan berbagai email dan surat lamaran agar Okhi diterima di tempat yang saya inginkan misalnya. I would do anything.
Sementara saat Okhi yang ingin saya bersekolah lagi, dia akan berkata "Kamu nggak mau sekolah lagi ta Meg?" Dan kemudian saya menjawab "Enggak ah, males aku," maka Okhi akan berhenti sampai disitu. Mana kepikiran dia untuk berusaha membujuk saya atau mencari cara untuk mengubah pikiran saya. Mana sabar dia untuk kemudian bersusah payah membuatkan saya surat referensi dan kemudian menyodorkannya ke hadapan saya sambil berkata "Tuh udah aku buat, kamu tinggal kirim ke universitas. Atau kamu mau sekalian aku yang mencet tombol SEND?" Atau kemudian mencari- cari berbagai pilihan program master, dan kemudian dengan halus menyodorkannya ke depan saya, sehingga pertanyaannya tidak lagi kamu mau sekolah Meg? Tetapi tanpa sadar berganti dengan "Menurutmu kamu bakal lebih tertarik mengambil program bisnis atau klinik?"
Gara- gara pengakuan teman saya bahwa dia pernah meminjam uang, saya menyadari bahwa seorang istri adalah pengaruh terbesar bagi suaminya (si teman tidak pernah menceritakannya kepada istrinya). And with that great power, comes big responsibility. Apakah karena pengaruh saya maka suami saya menjadi orang yang lebih baik? Ataukah dia menjadi orang yang mata duitan demi memenuhi keinginan saya yang tiada habisnya? Apakah saya sudah menjadi suporter terbaiknya untuk mencapai potensi terbesarnya? Atau sayalah yang justru menghambat karirnya?
Okhi pernah memohon pada saya untuk tidak merengek memintanya agar pulang tepat waktu. "Karena Meg, kalau kamu yang minta, meskipun kerjaanku belum selesai dan aku jengkel sama kamu, aku bakal nurutin kemauanmu. So please jangan meminta aku untuk segera pulang." Saat itu adalah saat- saat genting di pekerjaannya Okhi, suatu proyek besar yang mempertaruhkan reputasi. Disatu pihak, saya tidak suka sendirian di rumah. Maka mengeluhlah saya, keluhan yang asal- asalan saja sebetulnya, bukannya serius, diturutin ya syukur enggak ya nggak papa. Tetapi ternyata rengekan saya tetap bisa membuat suami saya langsung mengepak ranselnya dan bergegas pulang, walau dengan hati jengkel setengah mati. Kadang saya juga heran pada ketidakmampuan pria menolak rengekan istrinya :D.
Selalu dikatakan seorang suami adalah nahkoda bagi kapal keluarganya. Well, it may be true, tetapi ada satu sosok yang tanpa kentara bisikannya menjadi penentu kemana si nahkoda akan mengarahkan kemudi kapal. Mungkin dunia luar akan lebih mengenal si nahkoda, tetapi seorang yang pintar akan bisa mengetahui bahwa apapun pilihan si nahkoda, apakah ingin pergi ke utara atau selatan, ke surga atau ke neraka, itu tergantung pada si sosok pembujuk di belakangnya.
Jadi saya bertanya pada diri saya, apakah saya sudah memaksakan pengaruh saya untuk hal- hal yang tidak seharusnya saya campuri (seperti istri- istri yang ikut campur urusan pekerjaan suaminya di kantor, yang membuat anak buah suaminya jengkel dan menertawakan si suami sebagai pria di bawah ketiak istri) dan sebaliknya apakah saya sudah menggunakan pengaruh saya semaksimal mungkin untuk hal- hal yang memang seharusnya saya pengaruhi demi kebaikan keluarga saya. Apakah saya sudah berhasil 'meyakinkan' suami saya bahwa meskipun penghasilan kami masih kecil, tetapi itu cukup bagi keluarga kami, dan dia nggak perlu korupsi deh.
Seorang pria brengsek? Ada dua kemungkinan. Memang pada dasarnya dia brengsek, atau karena istrinya membuatnya menjadi brengsek.
Seorang wanita brengsek? Ah, dia pasti seorang pria yang menyamar. Nggak ada itu namanya wanita brengsek :D
mba saya salut dengan dirimu...
ReplyDeletesalam kenal yaaa..