Beberapa saat yang lalu, saya pulang kampung ke Indonesia. Biasa,
memastikan bahwa nama saya masih tercantum di dalam surat wasiat emak
bapak saya, belum ditip-ex dan diganti namanya anjing saya.
Suatu hari, saya berkencan makan siang di restoran dengan seorang
sahabat lama, dan ia kemudian datang dengan membawa tiga temannya yang
lain. Saya mengenal ketiga temannya itu, tapi ya tidak kenal bangetlah.
Sambil menunggu makanan kami diantar, sahabat saya itu bertanya ke seorang temannya "Kamu masih kerja di kantor AA itu sampai sekarang?"
Yang bersangkutan menjawab bahwa ia sekarang sudah berpindah kantor,
karena bete dengan seringnya ia harus lembur di akhir pekan.
Dan percakapan pun berlangsung seputar masalah pekerjaan. Kemudian,
salah seorang diantara mereka bertanya dimana saya bekerja. Saya
menjawab bahwa saat ini saya sedang tidak bekerja, hanya di rumah saja
mengurus anak saya dan suami tetangga saya. "Sebelumnya kerja dimana?" tanyanya lagi. "Kerja di perusahaan importir farmasi di Jakarta,"
jawab saya. Dan kemudian sahabat saya tanpa diminta menambahkan
keterangan bahwa saat ini saya sedang bermukim di luar negeri, dan
karena suami saya sangat sibuk ngecengin mahasiswi sementara anak saya
yang seksi menolak untuk dititipkan di childcare, saya belum bisa
bekerja untuk saat ini.
Dan kemudian, tanpa dinyana, salah seorang dari temannya sahabat saya itu berkata " Apa
sih menariknya kerja di luar? Paling enak ya kerja di Indonesia, apa
enaknya tinggal di luar negeri. Biar dianggap kerenpun, biar gajinya
dolar kek, males aku kerja di luar. Mau nyari pecel susah, makanan
Indonesia kalau ada pun ya tetap mahal banget, nggak asyiklah. Aku hanya
mau kerja diluar kalau ada yang jual rujak cingur seenak di Surabaya."
Kami semua sedikit tertegun. Suasana menjadi sedikit sunyi dan tidak
nyaman. Kami semua menjadi sedikit salah tingkah sepertinya dengan
rangkaian kalimat yang dilontarkan dengan (seolah) sambil lalu dengan
suara yang (seolah) meremehkan. Setelah beberapa detik, saya membuka
mulut dan berkata "Oh iya memang makanan Indonesia mahal, tempe saja harganya empat puluh ribu sebungkus kecil."
Malam harinya, disaat saya merenung sebelum tidur (aka. pura- pura
berbaring dengan mata terpejam supaya si Sera mau berhenti melompat-
lompat dan ikut berbaring), saya teringat akan kejadian di restoran
siang tadi. Dan jadinya, saya terkagum- kagum sendiri pada diri saya.
Saat mengingat tanggapan saya akan kalimat provokatif yang disampaikan
si teman, mau tidak mau saya berpikir "Wow, gila, benar- benar sudah tua ya aku sekarang!"
If only seseorang melontarkan pernyataan seperti itu kearah saya
beberapa tahun yang lalu, saat saya masih duduk di bangku kuliah
misalnya, kemungkinan besar saya akan memberikan jawaban semacam "Ya iyalah. Kan kata pepatah seekor katak memang paling bahagia saat dia berada di dalam tempurung sempitnya."
Tetapi saat ini, alih- alih memberikan jawaban smart-mouth, saya
memberikan jawaban yang so plain, yang di telinga saya bahkan sangat
rendah hati. Padahal rendah hati dan kebaikan budi jelas tidak bisa
ditemukan di dalam DNA saya. Jadi kenapa ya pada saat itu saya tidak
memberikan jawaban yang pintar, yang bisa membuat si bastard itu memerah
mukanya dan merasa tersindir misalnya, dan saya bisa merasa puas
melihat senyum tertahan di wajah sahabat saya mendengar lidah tajam
saya?
Saat saya menceritakan kejadian itu pada si Okhi, dia juga dengan heran bertanya "Lha kenapa kok kamu nggak membalas dengan kejam seperti kebiasaanmu kalau ada orang yang nyebelin?"
Lima tahun yang lalu, kalau ada seseorang berkata dengan congkak bahwa
dia ENGGAK SUDI tinggal dan bekerja di luar negeri, kemungkinan besar
saya akan berpikir, "Lha emangnya siapa juga yang mau nawarin elu kerjaan di luar negeri? Ujian TOEFL kelas kampung aja belum tentu lulus."
Mungkin saya akan berpikir "Lha hanya sekedar ke Singapura saja
belum pernah, bentuknya paspor kayak gimana saja nggak tahu, kok ya sok
gaya bilang kalau tinggal di luar negeri itu nggak enak, kayak pernah
ngerasain aja!"
Karena saya tahu dia enggak bisa majang foto berski di Alpen di wall
FBnya, karena saya tahu dia enggak bisa ngomong londo, karena saya tahu
dia paling jauh juga baru pernah ke Bali, ya saya akan mengambil
kesimpulan bahwa dia itu semata (mengutip kamus EYD): SIRIK Ni Yeeeee, Sirik Tanda Tak Mampu.
Dan karena dia dengan congkak berkata kasar dan menyebalkan kearah
saya, unprovocated, maka adrenalin saya akan terpompa dan mulut saya pun
menyemburkan bisa. Belum lagi kalimat dimwit bahwa poin terpenting dan
satu-satunya penentu level kenyamanan hidup adalah seberapa enaknya
rujak cingur yang dijual di warteg terdekat rumah anda. Yeah right,
she's definitely the brain of her family.
Tetapi kemarin, mendengar kalimat yang sedikit banyak membuat saya sebal
dan tersinggung juga karena seolah saya goblok banget sih, kok sampai
bisa- bisanya minggat dari kota dengan penjual rujak cingur terenak di
dunia, toh saya tidak serta merta memikirkan cara untuk membalasnya. She
hurt me, so I have right to stab her dong. Kan saya hanya membela diri?
Lima tahun yang lalu, pengetahuan bahwa dia itu 'kagak mungkinlah bakal
mampu tinggal di negara lain seumur hidupnya' membuat saya menemukan
amunisi untuk membalas kata- kata sengaknya. And yet saat ini, pemikiran
bahwa lawan bicara saya itu mungkin tidak akan memperoleh kesempatan
untuk tinggal di negara lain, entah kenapa membuat saya jadinya bisa
memahami kenapa dia mengeluarkan komentar kasar begitu. Mungkin dia
sedang berada dalam fase sulit dalam hidupnya, mungkin dia sedang
frustasi karena untuk sekedar berlibur ke Bali saja dia tidak mampu,
atau mungkin dia sekedar sewot karena meskipun tampang saya mirip pantat
babon, tetapi saya sudah bisa merasakan bagaimana amazingnya pengalaman
mengantri di imigrasi bandara Sukarno Hatta yang asoy geboy. Entahlah
saya juga tidak tahu pasti.
Tetapi yang jelas, saya sekarang secara otomatis mengerti bahwa biasanya
penyebab seseorang bersikap menyebalkan dan kasar terhadap orang lain
adalah karena ia sendiri tidak bahagia dengan kehidupannya. Dan saya
jadinya tidak ingin lagi membuat hidupnya semakin sengsara dan tidak
bahagia dengan komentar jahat saya.
Dulu di saat saya masih muda belia, seperti lazimnya ababil lainnya,
saya selalu berpegangan bahwa hidup ini hanya sekali, hiduplah yang
berarti. Dan saya akan mengangguk- angguk setuju pada kalimat alay "Andai
Hati bisa diasuransi, sudah tak terhitung berapa kali kita bisa
mendapat uang pertanggungan karena terlalu sering patah hati." Dan
karena saya harus menjaga hati saya yang mudah retak bin sensitif, maka
saya berhak membalas orang yang menyakiti hati saya, berhak mensarkasme
mereka yang membuat hidup saya yang hanya sekali ini menjadi tidak
bahagia. Aku kan berhak untuk bahagia!!!!
Seiring dengan bertambahnya jumlah selulit di paha, entah bagaimana si
hati yang dulunya begitu rapuh dan mudah sakit hati, kok ya sekarang
sudah tidak sebegitu alay nya. Iya sih saya hanya hidup sekali saja,
tetapi ternyata orang lain pun juga hanya hidup sekali saja di dunia
ini. Iya sih saya nggak suka hati saya disenggol (mending pipi saya aja
yang dicolek bang...), tetapi orang lain juga punya hati yang bisa
sakit, dan perasaan mereka itu juga does matter.
And at the end of the day, I really don't fancy to make somebody feel
miserable about themselves and their life. Kalau saja saya bisa membaca
pikiran orang lain, saya kok ya tidak ingin menemukan bahwa nama saya
terpateri di otak mereka sebagai orang yang membuat mereka merasa rendah
diri, dipermalukan dan merasa hidup mereka tidak berharga.
Mungkin disaat saya masih abege, saya itu seperti pohon cabe yang sedang
tumbuh. Semua energi dan daya upaya saya kerahkan untuk menusukkan akar
menghujam ke tanah yang keras, meninggikan dan membesarkan batang
supaya tidak rubuh tertiup angin, serta merimbunkan daun supaya bisa
membuat ulat bulu kenyang *eh? Jadi ya mana sempat memikirkan perasaan
si pohon toge yang saya gusur dari samping saya. Sekarang, disaat saya
sudah hampir menginjak usia kepala 3 (walau bodi masih sweet seventeen
dong), saya sudah mulai menghasilkan buah cabai yang bisa dinikmati
orang lain juga.
Kok saya malah jadi bingung sendiri sih dengan segala perumpamaan cabai
dan toge ini :(. Ya sudahlah, pada intinya usia yang bertambah memberi
saya kebijaksanaan untuk memilih pertempuran mana yang layak untuk
dimenangkan, dan yang mana yang sebaiknya saya relakan saja untuk
'menyerah sebelum kalah'. Mungkin ilustrasinya seperti saat seorang
abege menyalip mobil saya dengan ugal- ugalan. Jaman muda dulu, bakal
saya kebut mobil saya untuk bisa memenangkan balapan dan merasa senang
karena saya sudah menang. Tetapi sekarang, ya paling saya hanya
tersenyum simpul saja melihat gaya si abege. Sekarang yang terpenting
bagi saya adalah memenangkan pertempuran untuk bisa menginjakkan kaki di
rumah dengan selamat, kembali bertemu dengan si Cekci dan Bapaknya yang
buntek. Biarlah si abege menemukan kebahagiaan dan nyengir lebar karena
sudah berhasil mengalahkan embah- embah uzur berematik yang menyetir
selambat siput pincang.
![]() |
| Ser, kecantikan, kekayaan, keseksian, kepintaran itu bukan hal yang utama dalam hidup... "Oh, makanya mama jelek, peyot, miskin dan nggak pinter yah ma..." |

No comments:
Post a Comment