Tidak ada yang lebih membuat frustasi seorang emak daripada saat keinginannya mengajarkan 'rajin membaca' kepada anaknya tidak mendapat sambutan hangat. Umur enam bulan, saya mencoba membacakan Sera buku cerita yang penuh bergambar peri hutan sibuk bertualang. Sera menatap penuh minat, memasukkan ujung buku ke dalam mulutnya, dan mulai mengunyah dengan nikmat. Emaknya nggak kurang akal. Dibelilah buku bantal yang terbuat dari kain. Ha, nggak bakal bisa rusak deh ni buku terkena air liur yang belepotan. Sera menatap curiga, dan kemudian melihat bahwa buku ini sama sekali bukan barang keras yang bisa digunakan untuk mengasah gusinya yang gatal, dia melengos tidak peduli. Padahal si buku bantal dibeli dengan harga 90 ribu..... Yah sudahlah, mungkin Sera belum siap untuk buku.
Setelah usia Sera menginjak satu tahun, emaknya mulai lagi mengenalkan buku. Kali ini adalah board book, buku yang terbuat dari kertas tebal yang anti rusak. Haha, memang jenius emaknya Sera. Yap, buku itu memang tidak rusak, tetapi saat emaknya berusaha membacakan sekedar tiga baris kalimat pendek Cock-a-doodle-do--- Said the rooster at dawn -- And all the animals woke up with a yawn, Sera dengan gusar berusaha segera membalik halaman buku dengan kasar. Nggak sabar ah! Sebelum halaman terakhir, dia sudah bosan dan segera beranjak menjauh. Dengan mendengus kesal, saya berpikir "Ya sudahlah, Sera mungkin memang belum tertarik buku. Untung baru beli tiga buku, coba kalau sudah terlanjur beli banyak, kan rugi."
Sampai kemudian di suatu siang yang dingin bin kelabu, saat Sera sudah berusia satu setengah tahun, kami berpapasan dengan teman sekelasnya Sera di kelas musik. Saya menyapa si ibu dan bertanya apa isi tas plastiknya yang tampak penuh dan berat. "Ini buku perpustakaan. Si Lee (nama anaknya) bisa membaca belasan buku dalam sehari, jadi aku harus ke perpustakaan dua kali seminggu." Saya terbelalak tak percaya. Membaca belasan buku dalam sehari? Kok bisa? Shien, nama teman saya itu, kemudian mengajak saya untuk sekalian saja menuju ke perpustakaan. "Kamu bikin saja kartu anggota, nanti kamu bisa pinjam gratis 14 buku setiap kali," sarannya.
Ya sudahlah, pikir saya. Toh gratis ini. Jadilah saya membuat kartu perpustakaan dan saat itu juga saya sudah diijinkan meminjam 14 buku. Saya menggandeng tangan Sera, menyusuri rak buku yang penuh berisi aneka buku anak berwarna- warni. Bingung juga mau meminjam buku yang mana ya? Untungnya, Sera tampak menikmati perpustakaan, dia asyik bermain di karpet yang dipenuhi gambar aneka benda langit dan binatang. Saya memasukkan sekitar 10 buku ke dalam tas plastik, buku- buku yang tampak bagus dengan gambar indah bak lukisan. Lalu kamipun melangkah pulang.
Malamnya, saya mencoba membacakan sebuah buku. Ini contoh buku yang pertama saya pinjam untuk Sera. Buku bergambar lukisan yang soft dengan cerita yang sederhana dan manis (in my opinion)
Sera bersemangat sekali. Dan ini yang dia lakukan untuk menunjukkan semangatnya yang membara, merobek halaman dan mencoret- coret buku yang indah.
Dengan kelabakan saya mencoba menselotip halaman buku yang tersobek dan dengan berhati-hati berusaha menghapus coretan Sera. Lha buku pinjaman eee.
Tetapi berhubung saya bisa meminjam dengan gratis, berhubung Sera menyukai suasana perpustakaan yang berwarna- warni ceria dengan bean bag dan karpet bintangnya, saya terus datang ke perpustakaan, again and again setiap minggu. Plus, saya kan bisa ikut nebeng meminjam novel :P. Walaupun Sera tidak pernah tampak mendengarkan cerita saya, walau ia tidak sabar untuk membalik halamannya dengan kasar, saya tetap meminjam belasan buku setiap minggunya. Lha gratis ini :D. Lokasinya juga disebelah kelas musiknya Sera, jadi sekali nyetir, dua pulau terlampaui.
Perlahan, tanpa saya sadari, Sera semakin menggemari kegiatan membaca buku. Bukan berarti ia kemudian mau berbaik hati dengan sabar mendengarkan saya membacakan cerita berbaris- baris, tetapi ia mulai tampak menikmati, tidak lagi bosan dan kabur. Walau ia tetap saja cuek bebek saat saya bercerita. Selain Sera yang bertambah pintar, ternyata saya pun jadinya lebih berpengalaman. Sekarang, inilah tipe buku yang biasanya saya pinjam, menyesuaikan dengan selera Tante Sera. Berbeda sekali kan dengan tipe buku yang pertama saya pinjam?
| Saya butuh meminjam puluhan buku sebelum menemukan tipe buku yang sesuai dengan selera dan usia Sera; gambar dengan garis yang tegas, cerita sangat sederhana dan kontur yang bisa diraba |
Semakin lama, saya semakin berpengalaman memilih buku yang kira- kira sesuai untuk Sera. Binatang adalah tema buku favoritnya Sera, jadi setengah dari jumlah buku yang saya pinjam biasanya bertema binatang. Tetapi tentu saya tidak mau Sera hanya mengenal zebra, gajah dan jerapah, jadi saya juga meminjam buku yang berisi tentang mobil, kapal, segitiga dan warna. Buku yang menuntut peran aktif Sera, juga sangat menarik minatnya. Buku si kelinci yang dihiasi pita warna- warni yang menggambarkan warna pelangi yang bisa ditarik, atau buku tentang bengkel mobil dimana pintu garasi, kap mobil dan kotak perkakas bisa dibuka, membuat Sera riang gembira. Ada tekstur bulu, kulit, dan ban mobil yang bergerigi, bisa membuat Sera meringis senang. Walau tidak semua efek ini menyenangkan dan perlu. Kebanyakan efek suara misalnya, malah bikin Sera terlalu sibuk memencet- mencet tombolnya. Mending mulut saya saja deh yang menirukan suara singa.
| Hanya karena daun pintu sederhana yang menutupi gambar si gajah buntek, buku ini jadi sangat menarik di mata Sera. Dia senang bisa membuka si pintu dan waaa, ada pak gajah di dalamnya |
Bahkan walau Sera sudah 'agak mendingan', saya masih sering bertanya- tanya "Ni anak mendengarkan nggak sih kalau saya bercerita? Dia mengerti nggak sih yang saya bacakan? Kok kayaknya cuek bebek begitu." Sampai di suatu hari, setelah selama berminggu- minggu tampak tidak menyimak dan cuek bebek, Sera memberikan reaksi. Reaksi pertamanya pada sebuah buku. Saya membuka halaman yang berisi gambar si burung, sapi dan kuda sedang berbaris ingin menengok bayi pak domba. Jari Sera menunjuk si burung, dan dia berkata "Cuit..cuit..cuit." Ia kemudian menunjuk si sapi, dan berucap "Mooooo..." Dan terakhir ia menunjuk pak kuda dan berkata "Heiiiii..."
| Gambar bersejarah yang membuat saya terharu, bukti pertama bahwa cerita saya tidak diabaikan mentah- mentah oleh Sera :D |
Pelajaran: kalau cerita di buku itu masih belum menarik minat si bayi, it's fine. Tirukan saja suara masing- masing hewan sambil berkespresi ala singa atau melompat ala kodok. Apa saja yang bisa membuat si bayi tertarik pada buku.
Dalam tempo setengah tahun, selera si Sera juga perlahan berubah. Dulu ia tidak peduli akan cerita sama sekali, hanya asal menunjuk gambar, tetapi sekarang dia suka dengan cerita yang sederhana. Buku favoritnya sekarang adalah tentang si bayi singa yang bertualang di padang rumput, dan mengucapkan halo pada bayi- bayi binatang yang lain. Saya sudah bisa membacakan dua baris kalimat cerita tanpa harus terburu- buru karena takut dibalik halamannya, dan Sera dengan ceria akan ikut menyapa para bayi binatang "Halooooo Hippo!!!!"
Dulu Sera hobi merusak semua buku. Dirobek, dicoret- coret, pokoknya pusing deh. Dulu saya hanya berani meminjamkan buku dari karton tebal untuknya, tetapi sekarang saya sudah bisa memberikan buku kertas pada Sera. Perlahan dia makin menyadari bahwa buku itu lebih menarik untuk dibaca, bukan dicoret- coret (plus sering dinasehatin emaknya, kalau mau menggambar itu di kertas kosong, bukan di buku atau dinding), dan bahwa pintu garasi bisa dibuka dengan lembut, tidak harus disentak kasar yang membuatnya copot dalam sekali baca.
Dan sekarang saya menyadari, bahwa buku itu hanyalah sebuah media. Saya tidak harus membacakan semua ceritanya, sesuai yang tercetak di buku. Dan bahwa anak saya juga berhak menentukan seperti apa ia ingin mempersepsikan suatu buku. Suatu buku yang berisi gambar aneka hewan, dan alih- alih membiarkan saya membacakan cerita bahwa si kambing mengejar si babi, Sera langsung mendendangkan lagu Old McDonald. Jadilah saya membalik halaman demi halaman si buku sambil berdendang Old McDonald Had A Farm, and on his farm he had a... CHICKEN, iya iya ooooo....
Suatu kali, saya mendengarkan Okhi yang menceritakan sebuah buku mengenai kuda. Dasar si Okhi orang tehnik, di setiap halamannya, selain membacakan cerita, ia mengajak Sera menghitung. Satu dua tiga kuda!!! Sementara kalau saya yang membacakan buku itu, saya akan membacakan dengan gaya berdendang, sesuai kegemaran Sera akan musik. Dan Sera menikmati tuh dua cara membacakan buku yang berbeda 180 derajat itu. Buku itu hanya media, terserah yang menceritakan mau seperti apa.
Dan karena saya merasa sangat diberkati karena saya bisa meminjam buku sebanyak yang saya suka di perpustakaan, karena Sera bisa mengikuti story telling dengan gratis , I would like to spread the blessing. Saya sempat mengunjungi Gramedia, mencari buku berbahasa Indonesia yang cocok dengan seleranya Sera. Syok juga saya karena harga buku di Indonesia ternyata cukup mahal, bisa mencapai 40 ribu. Ditambah lagi pilihannya sangat terbatas, dan kebanyakan (in my opinion) tidak cocok untuk bayi- bayi dibawah tiga tahun. Kebanyakan adalah buku cerita yang sudah cukup panjang, mungkin untuk anak berusia diatas lima tahun, dengan muatan moral yang berat amit :(. Lupakan saja niat mulia membelikan buku berjudul "Menjadi anak yang patuh kepada ayah dan ibu" bagi seorang batita. Yeah, itu sama saja seperti berusaha membuat saya tertarik membaca pasal demi pasal UUD 45.
Sudah beberapa lama saya selalu membawakan oleh- oleh berupa buku bekas yang saya beli di aneka bazar atau toko buku second bagi para sahabat dan saudara saya (banyak bazar kebutuhan balita atau buku yang dijual oleh perpustakaan). Dan sekarang, I'll offer to anyone yang ingin mendapatkan buku anak- anak second hand (buku baru mahal beeng harganya). Kemarin saya mendapatkan sekitar 20an buku yang (again in my opinion, sesuai pengalaman dengan Sera) sepertinya cocok bagi anak- anak bayi ini. Awalnya saya membelikan buku- buku itu untuk pesanan sahabat- sahabat saya, tetapi if anyone interested, please do tell me. Saya sudah mencoba membacakannya untuk Sera, sehingga bisa sharing apa reaksi si Sera terhadap buku- buku itu. Please check album saya di https://www.facebook.com/media/set/?set=a.294590427296828.64706.100002376195917&type=1
Apakah saya akan memberikan gratis buku- buku itu? Tidak. Alasan pertamanya, ya karena saya kan masih kere, mana mampu memodali anak lain :D. Tetapi, ada alasan lain juga yang membuat bahkan kalau saya sudah kaya pun saya tidak akan memberikan buku secara cuma- cuma. Karena barang yang didapatkan dengan gratis, biasanya akan cenderung disia-siakan (seperti saya yang tidak pernah bolos ke kelas musiknya Sera yang harganya 200 dolar per 3 bulan, tetapi sering bolos playgroup yang gratis). Saya ingin buku- buku yang sudah saya pilih dengan penuh kesungguhan, mendapatkan rumah yang layak. Dan bila para emak dan bapak ini sudah merasa mengeluarkan duit yang cukup lumayan untuk membeli si buku, semoga mereka kemudian bakalan berprinsip tidak mau rugi, sehingga mencari cara agar anak- anaknya mau membaca buku itu :D:D:D:D.
Seperti kebanyakan orang, saya mengaku bahwa saya pun lebih memilih membelikan Sera banyak baju lucu daripada banyak buku (punya koleksi baju anak selemari tapi buku hanya lima biji). Kalau saja saya tidak bisa meminjam puluhan buku dengan gratis di perpustakaan, mungkin saya juga akan berhenti berusaha menjadikan acara membaca buku sebagai ritual yang menyenangkan bagi Sera. Saat ketiga buku yang saya beli ditolak Sera, ya sudah saya bakal menyerah. Saya mungkin tidak merasa sayang membelikan jaket seharga 100 ribu untuk Sera tetapi eman untuk sekedar membeli buku seharga 20 ribu. Padahal baju sebanyak dan sebagus apapun hanya akan membuat foto si Sera tampak bagus untuk dipamerkan di FB emaknya, sementara anaknya sendiri juga nggak peduli. Di lain pihak, buku bergambar adalah gerbang pertama untuk membuka kecintaan bayi kita terhadap dunia tanpa batas yang ditawarkan sebuah buku. Dan saat anak kita tiba- tiba mengambil buku dan berlagak membaca sendiri, itu sesuatu banget deh.
Oh ya, seorang teman saya menggerutu bahwa dia sudah meletakkan setumpuk buku di depan anaknya dengan harapan si anak akan sibuk sendiri dengan bukunya, sehingga dia bisa memasak. Nope, buku tidak menyediakan waktu bebas buat orang tua para balita. Kalau anda butuh waktu bebas, taruh saja si bayi di depan TV yang lagi menyiarkan sinetron penuh iklan. Dijamin dia bakal diam. Atau sekalian saja pentung kepalanya dengan wajan teflon, dijamin anda masuk penjara :D. Kalau anaknya tertib hukum, ya dia bakal langsung membaca sendiri dengan tekun. Tapi kalau anaknya semodel Sera, ya emaknya harus bersusah payah membacanya, dan gagal, dan kemudian mikir- mikir bagaimana ya supaya si Sera tertarik, kemudian mencoba lagi dengan menambah sound system suara badak (oye, bagaimana pula suara si badak, saya juga nggak yakin) plus meletakkan pensil di hidung saya (pura- puranya cula gitu lho). Cabe deeehhhh.
Berapa jumlah buku yang memadai? I will say, you must have at least 10 books for your private collection. Kalau mau oke, ya at least 20 buku. Mampu membeli 50 buku? Wah, anda pasti orang kaya! Besanan yuk? Serafim cantik dan seksi kok, nggak kayak emaknya :D.
Ohya, apa ada yang mempunyai buku bergambar dalam bahasa Indonesia yang digemari batita anda? Saya pingin sekali membelikan untuk Sera, tetapi haven't found one yet. Kali- kali ada yang bisa memberikan referensi.


Hai mbak.. menarik sekali tulisan mbak :) Very happy saya membacanya :) Saya sendiri kurang tau bagaimana perkembangan buku anak2 di Indonesia, tetapi memang sangat disayangkan (at least 3 thn yg lalu) saya mencoba mencari2 buku anak2 di sana, kurang variatif dan kurang cocok dgn usia. Tetapi, baru2 ini, melalui bbrp FB teman saya yg di Indonesia, sepertinya sudah mulai ada softbook untuk anak2. dari foto2 yg diupload ttg softbook, gambarnya menarik dan mirip dgn bbrp ilustrasi yg mbak upload di catatan mbak, hanya saja bahannya berbeda dan tentunya dalam bhs indonesia... harganya sekitar 60-70 ribu. dimana belinya saya kurang tau, apakah di toko buku seperti Gramedia ada, krn itu jualan teman saya ^^
ReplyDeleteIya mbak, kemarin aku juga sempat lihat yg softbook, hanya ya kalau softbook mah udah gak 'level' sama si Sera, hehehe. Masalah variatif, mungkin juga karena pasar buku belum berkembang ya, jadinya belum banyak juga yang melirik. Tapi kayaknya sih sekarang sudah mendingan, saya sempat lihat di mall ada taman bacaan gitu (tapi sepi pengunjung padahal gratis, bingung juga saya)
Deletememang siy, klo softbook cenderung utk usia 0-2 thn.. sangat disayangkan negara kita masih kurang perhatian thd dunia anak. tapi drpd ngedumel dgn semua itu, mending kita mulai dr keluarga sendiri, whaterver it is :) sepertinya alternatif lain, bisa dgn audiobook. metode ini sepertinya jg menarik utk dicoba, utk mengambangkan kognitif anak :)
Deletesalam kenal... menarik bgt pengalamannya...
ReplyDeletewaaaahhh, senasib qta mbak.. soal "menjejali" anak dg buku.. bukan berniat buruk, tp mau membiasakan anak utk cinta ilmu, biar gak keblinger ama tontonan tv yg (menurut q) banyak yg gak mutu, alias sia2 aja nontonnya, ato bahkan, bs bikin efek jelek di perilaku or bahasanya...
mulai 1 tahunan, royyan (5th) suka aq ajak ke toko buku (maklum gak ada perpustakaan kyk sera disini hikss).. trus aq beliin buku yg murmer, lalu sampe rumah q bacain..
waktu berlalu dia lebih seneng ama buku (meski males banget baca sendiri, maunya didongengin, sembari dia yg ngamati gambar2nya..)
ya setidaknya, dia "suka" buku :)
Ngenalin anak ke buku dengan modal sendiriu thumbs up banget :D. Kalau saya nggak bisa minjem di perpus dulu, mungkin saya bakalan mikir udahlah nggak usah diterusin. Ngelihat anak menikmati bukunya itu 'sesuatu banget ya' :D:D:D
DeleteSetuju mbak..
ReplyDeleteIt's really a process to make them love books..tp bgitu liat mreka ambil buku sendiri n bergaya baca, emg sesuatu bgt ya :)
Duh, kapan2 jd pngn mampir ke rumah Sera di Melbourne deh..pasti lucu liat Sera baca buku brg Arthas, hehehe..