Monday 25 June 2012

My Monday Note -- Kehidupan Seorang Buruh Kontrak Berwajah Jelita

Kalau saja saya tidak pindah ke Ostrali, mungkin saya tidak akan pernah membayangkan akan mengalami bagaimana rasanya menjadi seorang buruh kontrak. Kalau saja saya tidak pindah ke Ostrali, mungkin Okhi tidak akan pernah bisa berdendang "Mega nyabutin bulu ayam, nang ning nang neng nong ♪♬♪♪♪♬♪♬♪♬♪."

Kalau saja saya bukanlah seorang penulis note kacangan, pasti saya gondok berat saat seorang buruh kontrak lainnya (tapi merasa sudah senior) dengan tandas menasehati saya "Don't waste your time to THINK!" Uh, setelah selama ini saya selalu dinasehati agar lebih menggunakan otak saya yang lelet, akhirnya ada yang dengan penuh pengertian meminta saya mengistirahatkan otak... Meskipun sempat tersentak, saya tersenyum simpul dan menyimpan kalimat keren itu di bagian belakang kepala untuk bahan bikin note.

Note ini adalah lanjutan dari note saya sebelumnya http://www.mymondaynote.com/2012/06/my-monday-note-it-is-well-with-my-soul.html yang mengisahkan kegalauan batin akibat lamaran saya untuk menjadi seorang buruh kontrak shift malam di sebuah pabrik pengolahan ayam diterima.

Mau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang buruh yang setiap hari buruh nasional tuntutannya selalu sama saja? "Hapuskan sistem outsourcing!!!!" Inilah kisah saya. Sejak awal, yang membuat saya penasaran adalah bagaimana perlakuan perusahaan terhadap saya yang hanya seorang buruh? Apakah saya akan dianggap sebelah mata karena yah, saya hanyalah salah satu buruh, yang merupakan pekerja paling rendah dalam rantai makanan di pabrik alias yang gajinya paling rendah? Dan kemudian saat hendak membalas telepon si ibu HRD, saya tanpa sadar memencet nomor extension seorang bapak yang lain. Si bapak dengan heran menjawab bahwa dia tidak tahu kenapa si ibu HRD memberi saya nomor extensionnya, tetapi alih- alih menyuruh saya menelpon ke nomor yang tepat, ia bangkit berdiri dan berkata akan mencarikan si ibu HRD untuk saya. Ia meminta saya mengeja nama saya agar ia tidak salah menyebutkannya. Beberapa menit kemudian, dia berkata bahwa si ibu HRD tidak ada di mejanya dan ia sudah meninggalkan memo bagi si ibu mengenai telepon dari saya dan meminta si ibu untuk menelpon saya kembali. Saya mengucapkan terima kasih dan menutup telepon dengan santai, berpikir mungkin saya salah menelepon ke petugas sekuriti atau salah satu resepsionis.

Monday 18 June 2012

My Monday Note -- Ssh, diamlah sejenak piring kotor, aku sedang berdendang bersama bayiku.....

"Come on ma, come on!!!!" Kalimat itu adalah kalimat yang sedang ngetren di rumah saya. Beberapa minggu yang lalu, Sera tiba- tiba saja bisa menirukan kalimat yang biasanya saya ucapkan saat mengajaknya keluar rumah "Come on Ser.

Awalnya, saya tentu terharu biru mendengar si genduk bisa mengucapkan suatu kata baru. Apalagi cara pengucapannya dengan gaya dramatis ala sinteron Korea. Bibir monyong- monyong dan nada ditarik "Come onnnnnn maaaaaa." Biasanya saya dan si Okhi akan terkekeh- kekeh geli mendengarnya.

Setelah beberapa hari berlalu, kata- kata yang tadinya lucu itu berubah menjadi kata- kata yang membuat emak bapaknya terkadang kepingin menjitak kepalanya si Serafim. Saat emaknya sedang sibuk mencuci tumpukan piring dan panci (yang dijanjikan Okhi akan dicuci olehnya, tetapi apalah arti janji seorang pria-- "Aku tidak akan pernah membuatmu bersedih dan menangis!!!" Yeah right), maka Sera sambil mengyeret si boneka teletubbies ungu bertanduk segitiga miliknya akan berderap mendekat sambil mengucapkan kalimat sakti "Come on maaaaaaa." Dan emaknya akan diseret untuk bergandengan tangan menari berputar- putar seturut lagu berjudul "Kurang kerjaan muterin semak belukar"

Atau disaat bapaknya baru saja mengeluarkan penyedot debu dan mulai membersihkan karpet, maka Serafim akan berderap mendekat, menarik tangan bapaknya dan berkata "Come on Paaaaaa..... Duduk! Duduk!"

Rasanya semua emak bakal setuju bahwa menyapu rumah, mengepel, mencuci piring, menyeterika sekeranjang baju, memasak dan segedambreng pekerjaan rumah tangga lainnya itu mah kecil. Biasa aja, nggak susah, sekejap mata saja bisa kelar *hiperbola. Yang membuat urusan membereskan rumah menjadi berat adalah karena segala macam boneka kuda dan jerapah yang tersebar di penjuru ruangan, yang saat baru saja diangkat maka pemiliknya kemudian segera berteriak histeris "No maaaaa. Gajah! Gajah!" dan kemudian membawa si boneka berlari berputar- putar (untuk kemudian dilempar sembarangan di belakang sofa). Yang membuat urusan menyapu rumah kecil berkamar dua saja menjadi tugas maha pelik adalah karena di saat emaknya sibuk menyapu di dalam kamar, ternyata si unyil menemukan serok yang dipakai emaknya untuk menampung hasil sapuan, dan dengan riang gembira menghamburkan isi si serok ke seluruh lantai dapur. Yang membuat menyeterika menjadi tugas yang berat adalah karena disaat baru saja berhasil menyeterika dua buah kemeja, lalu si dinosaurus ungu Barney di TV mulai mendendangkan lagu "I love you, you love me, we are a happy family." Alamat dengan panik si Sera segera berderap untuk memaksa emaknya meninggalkan seterika nya untuk kemudian berpelukan, berciuman dan bergandengan tangan menirukan kelakuan si dino alay. Kapan kelarnya neh? 


"Come on Ma!!!!" perintah si tiran kecil

Itu sebabnya saat si balita berbaik hati untuk tidur siang selama dua jam, saya dengan segera menyabet seterika dan secepat kilat menyelesaikan tumpukan cucian dua ember, lalu dilanjut mencuci tumpukan piring di wastafel dapur. Masih belum bangun si bayi? Segera memulai prosesi memasak makan malam.

Saya bukanlah seorang perfeksionis yang gila kebersihan dan kerapian, tetapi saya juga ingin dong urusan rumah tangga ini segera kelar. Siapa sih yang senang melihat tumpukan piring bernoda atau lusinan kemeja yang butuh diseterika? Risih juga mata saya melihat pemandangan sudut rumah yang amburadul. Hanya sepertinya, rumah yang rapi dan balita yang 'bersemangat tinggi' itu tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Sudah si balita ini selalu bisa menemukan cara untuk merungsepkan rumah yang sedang dicoba ditata oleh emaknya (saya masuk ke dalam kamar dan terhenyak saat melihat Sera sedang duduk di depan laci, lusinan pembalut sudah terbuka dari pembungkusnya dan tertempel dengan erat di lantai. "Hai mama, aeroplane!"), mereka juga sepertinya paling tidak bisa membiarkan emaknya menyelesaikan satu pekerjaan dengan tuntas. Setiap sepuluh menit, Sera akan menarik emaknya. Minta dibacakan buku lah, atau minta emaknya duduk mendengarkan dia yang membaca buku dalam bahasa Klingon, atau minta emaknya menolongnya mencetak malam warna warni nya, atau memerintahkan emaknya mengayun- ayun si Tinky Winky di atas serbet dapur. Kalau saya menolak ikut, maka dengan mengangkat bahu dengan gaya heran Sera bertanya "Wa yu duing?" alias what are you doing sih ma, kok sampai nggak bisa nemenin aku main?

Belum lagi kalau Sera sudah bosan, terpaksalah ambil jaket, pasang sepatu dan menemani si ndoro ratu berjalan- jalan memutari kompleks. Acara berjalan- jalan yang sebetulnya bisa ditempuh dalam waktu sepuluh menit saja, biasanya molor hingga setengah jam; berhenti dulu memetik bunga, menghitung lubang kotak pos milik tetangga, memperhatikan Mister Worm yang perlahan menggeliyur di tanah basah "Uh, hiding!" "Iya Sera, cacingnya sembunyi." "Uh, bobok!" "Iya, itu cacingnya bobok. Ssttt, jangan berisik, yuk kita pergi. Bye bye worm!"   

Sering juga saya tergoda untuk 'nyuekin' Sera, sehingga saya bisa membereskan rumah dan merapikan semuanya. Ada kepuasan tersendiri kalau di sore hari rumah sudah rapi, setrikaan sudah kelar, makan malam yang beraneka ragam sudah terhidang. Jadi saya bisa menjustifikasi ngapain saja sih saya di rumah seharian. Ada hasil nyatanya gitu lho. Sementara kalau waktu saya dihabiskan dengan menemani Sera mendorong gerobak buahnya keliling rumah dan mengayun- ayun si iggle piggle sampai tertidur, ya berasa nggak jelas apa saja sih aktivitas saya seharian? Ngapain saja berjam- jam ngendon di rumah, kok kerjaan pada belum selesai? Nggak ada hasil nyatanya gitu lho.

Apalagi disaat saya baru saja mencoba bekerja lagi, betapa waktu itu sangat sempit. Tenaga juga terbatas. Betapa geregetannya saya untuk membereskan dapur sementara si genduk memohon untuk ditemani bermain. Saat untuk kesekian kalinya Sera menarik celana saya sambil berucap "Please ma... Help... Orange!!" (minta tolong untuk menemaninya bermain malam berwarna oranye yang bisa dibentuk aneka rupa), saya akhirnya mengangkat bahu dan menggulung lagi kabel seterika dan beranjak ke meja tempat si orange menunggu untuk dipotong kecil- kecil.

Oh well, rumah saya jelas bukanlah contoh sempurna kerapian. Mainan bertebaran di segala penjuru, dan buku bergambar yang terbuka berada di tengah ruang tamu. Noda- noda berminyak berbentuk tangan kecil tersebar di dinding rumah dan noda bekas air menghiasi sofa. Tetapi, bila kaca jendela rumah saya tidaklah berkilau, biarlah sebagai gantinya mata si Serafim yang berkilau saat asyik menari berputar- putar bersama emaknya mengikuti lagu nya si Barney. Bila handle pintu di rumah kami tampak kusam, biarlah cengiran lebarnya Sera yang sedang sibuk mendaki punggung bapaknya yang mencerahkan suasana.

Ma, dengerin ya. Sera mau baca dongeng buat mama!

Ayo Pah, bergoyang kayak Sera!!!

"Ayo ma kita ke pesta!" (bukan, ini bukan sarung untuk sunatan)

Toh masih ada belasan tahun di masa yang akan datang yang bisa saya habiskan untuk puas mencuci dan menyapu dan menggosok rumah hingga mengkilat. Masih ada belasan tahun kedepan untuk mencoba meningkatkan kemampuan saya memanggang aneka kue atau mencoba aneka resep dari Masterchef. Sementara bayi saya, sebentar lagi ia sudah menjadi abege, tahun depan ia sudah masuk ke preschool. Saya berharap disaat si Sera mengingat kembali masa balitanya, ia akan mengingat emak dan bapaknya sebagai orang tua yang selalu sempat bermain dengannya, menari bersamanya dan bertepuk tangan sehabis ia selesai mementaskan satu lagu berbahasa Pluto di depan lemari TV. 

For when at times I'm forced to choose
the one job or the other;
I like to be a housewife but
I love to be a mother

So be quiet now mop; dust go to sleep 
I'm busy laughing with my baby, and babies don't keep
Children grow up while you're not looking

Ssshhh, be quiet dirty dish! I'm rocking my baby....


Monday 11 June 2012

My Monday Note -- Berdosakah membaca buku gratisan di Gramedia?

Saya punya teman seorang seniman. Sumpah. Serius. Nggak boong ini. Kenalan saya ini sudah menelurkan beberapa karya komik strip yang bisa ditemui di toko buku terdekat di RT anda.

Suatu kali, saya membaca status FB nya yang mengabarkan bahwa dia sudah menerbitkan sebuah komik baru dan sudah beredar di pasaran. Kemudian, banyak komentar yang diberikan, mengucapkan selamat, menanyakan dimana komik itu bisa dibeli, dan lain sebagainya. Satu komentar membuat saya tersenyum kecut. Begini komentarnya. "Aku udah baca lho komikmu. Tapi nggak beli dong. Kan ada tuh komik yang nggak diplastikin, ya tinggal baca itu aja di toko. Jadi nggak usah beli deh!"

Mungkin karena adik saya kebetulan juga pernah menerbitkan novel, saya sedikit tahu bagaimana cerita di balik layar dunia tulis menulis dan penerbitan. Jangan bayangkan Andrea Hirata atau JK. Rowling, yang kaya raya banyak harta hanya dari hasil menggoreskan pena (atau memencet keyboard mengetik di Words sih :D). Dari setiap buku yang terjual, rata- rata para pengarang itu mungkin hanya mendapatkan beberapa ribu rupiah saja. Jadi, agar bisa menjadi seorang milyuner seperti si Andrea, seorang penulis atau pengkomik harus menjual a huge amount of books. Millions books. Atau berharap novelnya difilmkan dan booming. Di lain pihak, daya beli dan minat baca masyarakat Indonesia itu masih rendah. Jadi yah, mengutip kalimat seorang teman saya yang lain yang memasarkan sendiri bukunya dengan cara 'door to door', jangan jadi penulis kalau mau kaya. Mending jadi anggota DPR.


Monday 4 June 2012

My Monday Note -- It is well with my soul

Minggu ini adalah minggu yang berat. Berat bagi saya, berat bagi Okhi dan pastinya berat bagi Serafim.  

Semuanya bermula dari tiga minggu yang lalu. Tiba- tiba kami mendapat kabar bahwa opungnya si Okhi meninggal. Situasi yang menimbulkan kepelikan, apakah ini berarti kami sekeluarga kemudian harus segera mudik ke Surabaya? Atau hanya Okhi saja? Atau malah kami tidak perlu balik saja? Menimbang- nimbang bahwa harga tiket akan menguras tabungan kami dan yang meninggal 'hanyalah' opung. You know what I mean. Kalau yang sakit atau mendapatkan musibah adalah orang tua atau saudara kandung kita misalnya, ngutang di rentenir pun dilakoni demi bisa membeli tiket mudik. Sementara kalau tetangga yang meninggal misalnya, ya jelas saja nggak perlu lah melintasi samudera dan membelanjakan 1000 dolar untuk membeli tiket demi menghadiri pemakaman si tetangga. Wong ya sudah meninggal ini, mau kita datang juga nggak bakalan bangun lagi kan. Opung adalah wilayah abu- abu, antara perlu dan tidak untuk melintasi benua untuk memberikan penghormatan terakhir.

Anyway, secara mendadak Okhi memutuskan bahwa ia akan mudik ke Surabaya, keputusan yang diambilnya karena adanya suatu pertimbangan. Dan karena semua serba mendadak, jadilah kalang kabut semuanya. Paspor entah berada dimana, uang rupiah terselip, ATM bank Mandiri mendadak dangdut lenyap. Perjalanan ke airport pun dilalui dengan hati gundah karena waktu yang mepet dan karena sebetulnya saya ketakutan akan prospek menyetir pulang sendirian tengah malam. Hati saya kecut membayangkan kalau ada apa- apa dengan si mobil, sementara saya hanya berdua dengan si balita.