Monday 11 June 2012

My Monday Note -- Berdosakah membaca buku gratisan di Gramedia?

Saya punya teman seorang seniman. Sumpah. Serius. Nggak boong ini. Kenalan saya ini sudah menelurkan beberapa karya komik strip yang bisa ditemui di toko buku terdekat di RT anda.

Suatu kali, saya membaca status FB nya yang mengabarkan bahwa dia sudah menerbitkan sebuah komik baru dan sudah beredar di pasaran. Kemudian, banyak komentar yang diberikan, mengucapkan selamat, menanyakan dimana komik itu bisa dibeli, dan lain sebagainya. Satu komentar membuat saya tersenyum kecut. Begini komentarnya. "Aku udah baca lho komikmu. Tapi nggak beli dong. Kan ada tuh komik yang nggak diplastikin, ya tinggal baca itu aja di toko. Jadi nggak usah beli deh!"

Mungkin karena adik saya kebetulan juga pernah menerbitkan novel, saya sedikit tahu bagaimana cerita di balik layar dunia tulis menulis dan penerbitan. Jangan bayangkan Andrea Hirata atau JK. Rowling, yang kaya raya banyak harta hanya dari hasil menggoreskan pena (atau memencet keyboard mengetik di Words sih :D). Dari setiap buku yang terjual, rata- rata para pengarang itu mungkin hanya mendapatkan beberapa ribu rupiah saja. Jadi, agar bisa menjadi seorang milyuner seperti si Andrea, seorang penulis atau pengkomik harus menjual a huge amount of books. Millions books. Atau berharap novelnya difilmkan dan booming. Di lain pihak, daya beli dan minat baca masyarakat Indonesia itu masih rendah. Jadi yah, mengutip kalimat seorang teman saya yang lain yang memasarkan sendiri bukunya dengan cara 'door to door', jangan jadi penulis kalau mau kaya. Mending jadi anggota DPR.


Saya yang hanya menulis note bulukan seminggu sekali saja merasakan bahwa ya nggak segampang itu bikin tulisan, apalagi bikin novel atau komik. Sayapun butuh merenung untuk menggoreskan bait demi bait karya saya. Hiks, jadi terharu nih malahan *srott, elap ingus.... Jadi kok ya saya rada ngenes juga membaca komentar yang dengan bangga memproklamirkan "Ngapain beli? Kan aku bisa baca bukumu gratis di toko buku."   

Apa saya nggak pernah seperti itu sih, nongkrong di Gramedia demi membaca buku gratis? Ya seringlah. Toh Gramedia juga menyediakan contoh buku yang terbuka, yang bisa dengan santai saya baca di tengah hembusan AC yang sejuk di ruang toko yang terang dan nyaman. Bahkan saya pernah membaca komiknya Beny & Mice dari awal sampai akhir, dan kemudian berlenggang santai meninggalkan Gramedia tanpa membawa sebuah bukupun. Lha sudah dibaca sampai tuntas ini. Ngapain amat mengeluarkan duit 80 ribu perak?

Hanya setelah melihat adik saya berjibaku menerbitkan novelnya, melihat seorang teman saya yang mencoba menerbitkan sendiri bukunya dengan modal pas- pas an, dan kemudian mengingat bahwa saya toh tidak keberatan untuk membeli makan siang di McDonald seharga 50 ribu sekali makan, dan kemudian saya segitu sok miskinnya sampai memutuskan tidak ma(MP)u membeli buku seharga 80 ribu, ya jadinya malu juga hati saya. 

Kepuasan seorang penulis yang terutama adalah saat orang lain menyukai karyanya. Saat si teman mengupload komiknya di link FB nya, ia pasti merasa puas hati bila banyak yang mengomentari dan menyukai karyanya. Tetapi saat sebuah karya itu sudah naik cetak, maka dimensinya berbeda. Tentu kepuasan tertinggi tetap didapat dari 'berapa banyak orang yang suka akan karyanya', tetapi alat pengukurnya berbeda. Bukan lagi komentar di FB, tetapi dari berapa banyak buku mereka yang terjual di toko buku. Setiap tiga bulan sekali (biasanya), para penulis ini mendapatkan laporan sudah berapa banyak bukunya terjual. Saya membayangkan bahwa semisal saya menerbitkan buku, saya kok ya bakal bermuram durja kalau kemudian buku saya hanya terjual 50 buah di seantero Indonesia. Apa buku saya jelek ya? Apa nggak ada yang suka dengan karya saya ya? Dan kemudian, bila penjualan buku itu terus menerus rendah, si buku akan diretur, 'dikembalikan dengan tidak hormat' untuk kemudian didaur ulang menjadi tisyu toilet (hahaha becanda ding). 

Tentu, tentu, saya ya nggak berniat munafik sok suci mengklaim bahwa saya sudah menjadi seseorang yang menghargai hak cipta. Saya belum mampu juga untuk konsisten. Laptop saya masih menggunakan berbagai software bajakan, saya masih mendownload lagunya Maroon 5 secara ilegal. Dan saya hanya mau membaca novel Alistair McLean yang saya pinjam dengan gratis di perpustakaan daerah disini.

Tetapi, kalau saya memang belum mampu untuk menghargai dunia, saya ingin mulai berusaha sekuat tenaga untuk menghargai karya anak bangsa, karya saudara setanah air. Saya masih membaca gratis bukunya John Grisham tanpa rasa bersalah, karena dia toh sudah kaya dan bukunya diterbitkan dari Atlanta sampai Atlantis. Tetapi sekarang saya berusaha berpikir bahwa suatu komik dan novel itu dibuat dalam tempo berbulan- bulan, bolak- balik diedit dan diperbaiki, dan jelas tidaklah mudah. Membuat satu note sederhana ini saja membuat saya harus meluangkan waktu berjam- jam, mencari ide dan berpikir bagaimana harus menuliskannya. Jadi, apakah uang 100 ribu rupiah itu bukannya suatu harga yang sangat pantas untuk saya keluarkan demi membaca hasil jerih payah anak- anaknya Ibu dan bapak Pertiwi? Demi mengganti ribuan jam yang mereka habiskan untuk menggoreskan sketsa atau menulis dan menghapus ratusan paragraf dari novel mereka? Alih- alih berpikir bahwa 100 ribu itu terlalu mahal untuk sebuah karya yang toh akan habis saya nikmati dalam tempo beberapa hari saja.

Saya boleh mendownload gratis lusinan albumnya Maroon 5, tetapi sekarang saya selalu berusaha membeli kaset dan CD asli dari musisi Indonesia. Saya terkadang mencoba blazer impor di mall, dan kemudian memotret bentuknya di kamar pas untuk kemudian saya contek dan jahitkan sendiri agar lebih murah. Tetapi saya tidak sampai hati membuka websitenya Quinsha batik, melihat model- modelnya, dan kemudian menjahitkannya sendiri. Itu tidak fair. Itu namanya mencuri ide orang lain, mencuri nafkah rekan- rekan sebangsa kita.

Tentu, note ini tidak dimaksudkan bagi mereka yang memang tidak mampu secara ekonomi. Saya yakin para pengarang Indonesia juga tidak keberatan karyanya dibaca gratis oleh mereka yang gajinya dibawah UMR misalnya. Karena kita yang tahu besar gaji kita masing- masing, ya kita juga sih yang masing- masing bisa berkaca apakah kita membaca gratis semua buku dan membeli kaset Dewa bajakan dikarenakan kita tidak mampu, atau tidak mau.

Jadi apakah membaca buku gratis di toko buku itu berdosa? Etis? Bagi saya sih itu nilai moral yang berbeda- beda bagi setiap orangnya. Sama seperti apakah meng-update status FB di jam kantor adalah haram atau halal. Bagi saya pribadi, saya harus fair bahwa untuk setiap karya orang lain yang saya nikmati, saya juga harus berkorban untuk membelinya. Karena karya tulis atau karya musik atau karya busana seseorang itu adalah sumber nafkah mereka, sama seperti gaji yang saya terima setiap bulannya dari perusahaan. Tetapi, sesuai dengan kondisi kantong, saya baru mampu membeli dua buah novel setiap bulannya, jadi saya akan mengeluarkan uang untuk membeli dua novel, dan dengan 'menyesal' terpaksa membaca gratis lima buah novel lainnya setiap bulannya.  

Nah, berhubung saya belum pernah menerbitkan apapun, jadi saya tidak bisa juga menghimbau orang lain untuk membeli karya saya (karya yang mana pula, yang ada juga hanya note- note ngalor ngidul seenak dengkul). Tetapi seperti semua manusia yang lain, saya juga senang hati bila ternyata tulisan saya menarik minat orang lain, dan dikomentari juga. So big hug untuk para pembaca yang sudah bersusah payah menuliskan pendapat, saran atau pujian mereka akan note saya (saya tidak menerima kritikan :D. I'm a tyrant). Tengkyu untuk Diara, Luh, Teripang, Siamang, Tini, Wida, dkk yang sudah berbaik hati mengeposkan komen. Kalau boleh usul, mungkin sehabis ini komennya harus lebih penuh puja puji, supaya hati saya melambung senang, huahahahha (nope, saya nggak suka pendapat jujur, saya lebih memilih pujian kosong :D) 

Dan saya sekarang sudah belajar caranya accept comment dan membalasnya via blog (sampai berasap otak saya belajar caranya), jadi coba dong tulis komennya di blog saya, biar rada keliatan berisi gitu lho blog saya, biar bisa pamer ke mertua bahwa menantunya ini banyak yang ngefans *pasang muka berharap dan memelas.

<><> <><> <><>
Mohon bantuan dana bagi penulis note miskin ini.....


Note: to be honest, beberapa bulan yang lalu saya masih berada dalam tahap dimana saya menunggu- nunggu berapa banyak orang nyang bakal me-like atau memuji note saya. Hati saya senang saat yang berkomentar mencapai belasan orang atau traffic blog saya mencapai ratusan seharinya. Tetapi dengan berlalunya waktu, saya tidak lagi deg- deg an apakah orang menyukai karya saya. Menulis note setiap minggu berarti sangat besar bagi diri saya. Tidak ada lagi yang namanya pengalaman yang 'sia-sia'. Pengalaman yang menarik, membosankan, mendebarkan, menakutkan atau bertemu orang yang sebaik malaikat dan semenyebalkan mak lampir, berarti ide bagi note saya. Karena menulis note, semua hal kecil dalam hidup menjadi penuh arti.

9 comments:

  1. ini saya komen disini lho... bukan di fb lho... catet... :)

    baca gratisan itu tidak berdosa kalo yang dibaca itu notenya mymonday...
    baca gratisan itu tidak berdosa kalo yang dibaca itu iklan pasta gigi yang ditempel di tembok ruko atau tiang listrik...
    tapi yakinlah jangan pernah membandingkan note ini dengan iklan pasta gigi tadi... bisa sengsara dunia akhirat...

    hehehe...
    salam damai dari hutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini contoh komen yang kurang sempurna. Puja puji kurang gamblang, malah ada kemungkinan menggiring orang untuk membandingkan note saya dengan iklan pasta gigi. Berlatih lagi lebih giat ya kang!

      Delete
  2. komen yaaaaa...semoga mymondaynote bisa diubah jadi scripts trus casting bintang filmnya trus syuting kejar tayang dan segera beredar di televisi tanah air...jadinya khan tinggal tunggu setoran aja jeng..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiinnnn *mulai beli menyan dan sesajen utk memuluskan mimpi.

      Delete
  3. Ditulis ribuan bahkan ratusan ribu jam, dibaca hanya 3 jam, eh...gratisan pula. Ditambahi dgn ejekan bahwa bukunya jelek, ceritanya berantakan. Nasib..nasib..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu akibat kurang menyan. Harus diruwat dengan air tujuh comberan baru bisa sukses

      Delete
  4. makin keren nih blog nya :D
    tapi saya jadi batal hunting novel bajakan di senen :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohoho, kalau emang ada uang lebih, ya belilah buku yg asli biar yg nulis kecipratan rejeki. Tapi kl belum bisa beli buku asli ya dimaklumi beli yg bajakan, hehehehe

      Delete
  5. Namaku belum disebut sebagai pembaca setiaaaa,,,uugghhh..wkwkkk :))
    Sori lama ga aktif FB jadi byk jg notes mu yg blm kebaca, yg ini aja barusan kebacanya, hehehe.
    Sukses selalu deh bwt mak Sera,,sapa tau someday bisa bikin buku ky Chicken Soup gt,,eitz tp jgn lupa cantumin nama penggemarmu yg satu ini ya,,wakakakak,,eh serius loh..ak baca semua note mu tp udh jarang komen,hihihi

    ReplyDelete