Minggu ini adalah minggu yang berat. Berat bagi saya, berat bagi Okhi dan pastinya berat bagi Serafim.
Semuanya bermula dari tiga minggu yang lalu. Tiba- tiba kami mendapat kabar bahwa opungnya si Okhi meninggal. Situasi yang menimbulkan kepelikan, apakah ini berarti kami sekeluarga kemudian harus segera mudik ke Surabaya? Atau hanya Okhi saja? Atau malah kami tidak perlu balik saja? Menimbang- nimbang bahwa harga tiket akan menguras tabungan kami dan yang meninggal 'hanyalah' opung. You know what I mean. Kalau yang sakit atau mendapatkan musibah adalah orang tua atau saudara kandung kita misalnya, ngutang di rentenir pun dilakoni demi bisa membeli tiket mudik. Sementara kalau tetangga yang meninggal misalnya, ya jelas saja nggak perlu lah melintasi samudera dan membelanjakan 1000 dolar untuk membeli tiket demi menghadiri pemakaman si tetangga. Wong ya sudah meninggal ini, mau kita datang juga nggak bakalan bangun lagi kan. Opung adalah wilayah abu- abu, antara perlu dan tidak untuk melintasi benua untuk memberikan penghormatan terakhir.
Anyway, secara mendadak Okhi memutuskan bahwa ia akan mudik ke Surabaya, keputusan yang diambilnya karena adanya suatu pertimbangan. Dan karena semua serba mendadak, jadilah kalang kabut semuanya. Paspor entah berada dimana, uang rupiah terselip, ATM bank Mandiri mendadak dangdut lenyap. Perjalanan ke airport pun dilalui dengan hati gundah karena waktu yang mepet dan karena sebetulnya saya ketakutan akan prospek menyetir pulang sendirian tengah malam. Hati saya kecut membayangkan kalau ada apa- apa dengan si mobil, sementara saya hanya berdua dengan si balita.
Karena sudah terlanjur memutuskan pulang, karena harga tiketnya kan ya lumayan, akhirnya Okhi memutuskan untuk tinggal di Surabaya sedikit lama. Jadilah saya menghabiskan hari- hari di musim dingin yang kelabu hanya berdua dengan Sera. Life was suck. Dan kemudian, saya mendapatkan email dari suatu perusahaan, yang mengabarkan bahwa mereka menerima lamaran saya untuk menjadi buruh di perusahaan mereka. Syaratnya, saya harus segera datang ke pabrik mereka untuk mengisi formulir langsung disana, dan kemudian baru mereka bisa menentukan apakah mereka akan mewawancarai saya. Kepala saya langsung migren. Nggak ada Okhi, si pabrik berada di bagian kota yang lain, saya adalah pengemudi yang payah dan bisa kesasar hanya saat sekedar pergi ke toko kelontong sebelah gang. Saya menghubungi Okhi, mengabarkan perkembangan ini, dan jawaban yang saya terima hanyalah "Ya udah kamu bawa aja Sera sekalian ke pabriknya." Saya mendengus kesal. Usul macam apa itu untuk membawa anak balita biang ribut ke pabrik?
Okhi was out of reach, he was as useful as a tipsy dog. Saya bergumul sendiri memikirkan bagaimana saya bisa sampai ke pabrik tanpa nyasar dan yang lebih penting, pada siapa saya harus menitipkan si balita? Akhirnya saya menemukan seorang teman yang sedang libur kuliah untuk menjaga Sera. Menyetir dengan galau karena takut nyasar dan kepikiran si genduk di rumah, tak dinyana sampai juga saya ke si pabrik. Disana, saya hanya diminta mengisi formulir untuk kemudian dihubungi lagi proses selanjutnya. Menyetirnya membutuhkan waktu satu setengah jam pp, mengisi formulir 15 menit. Baru saja mobil saya berhenti di garasi rumah, telepon berdering dan si penelpon mengabarkan bahwa dua hari lagi saya diminta hadir untuk interview. Another headache.
Singkat cerita, setelah wawancara, mereka memberitahukan bahwa mereka mempunyai satu posisi lowong untuk shift sore. Saya diminta datang untuk induksi pada hari Rabu. Dan kemudian memulai bekerja pada hari Senin minggu berikutnya. Si teman sudah pulang kampung balik ke Indonesia, jadi saya harus memutar otak mencari orang lain yang bisa dititipi. Okhi sudah balik ke Melbourne. Hari rabu pukul enam pagi, kami angkut Sera yang masih tertidur lelap dalam balutan baju dinosaurus ungu, dan melaju menuju ke rumah teman yang arahnya berlawanan dengan pabrik saya. Berat sekali rasanya meninggalkan Sera yang masih terkantuk- kantuk (walaupun setelah menangis barang 10 detik kemudian Sera mengalihkan perhatiannya ke si Iggle Piggle). Induksi berlangsung seharian, dan kemudian dengan badan benar- benar loyo saya menyetir ke rumah teman saya untuk menjemput Sera.
Shift sore dimulai pukul setengah empat sore, sementara si Okhi baru pulang kerja jam empat sore. What shall we do? Kelabakan kami mencari orang yang bisa dititipi Sera barang tiga jam, untuk kemudian dijemput oleh si Okhi. Orangnya dapat (walau kami sebetulnya benar- benar sungkan juga), masalah berikutnya adalah kami hanya punya satu mobil. Mau nggak mau, weekend ini harus beli mobil satu lagi. Busyet, lha emangnya beli mobil kayak beli kerupuk apa? Bisa asal tunjuk dan ambil? Termangu- mangu saya dan Okhi berpandang- pandangan. Kuras tabungan sana- sini, dan dengan bantuan kartu kredit, terkumpullah uang yang cukup untuk membeli mobil setengah rongsok. Malam dilalui dengan membuka website yang memajang aneka mobil bekas yang dijual, dan di hari Sabtu pergilah Okhi membeli mobil.
Hari sabtu malam, saya membuka- buka dokumen rencana pensiun yang harus saya isi. Okhi sudah terkapar di tempat tidur, batuk- batuk tiada henti dan terserang migren. Sera sudah tertidur di samping saya (saya mengungsi ke kamarnya Sera karena takut ketularan Okhi). Dan saya merasa overwhelming. Ketenggengen. Begitu banyak hal yang terjadi dengan tempo yang kilat. Sabtu malam itu saya membuka laptop dengan mata lelah, sendirian dan merasa overwhelming. Above all, saya ketakutan membayangkan hari Senin. Apakah Sera akan menangis saat dititipkan, apakah ia akan merepotkan teman saya, apakah saya akan kuat bekerja labor alias memburuh di malam hari, apakah saya tahan berada di lingkungan pabrik (saya yakin sama seperti kebanyakan pembaca note saya, kita belum pernah kan merasakan bagaimana menjadi buruh pabrik) dan apakah orang- orang pabrik akan baik atau pada judes- judes?
Saya juga lelah mental karena begitu banyak keputusan harus diambil saat itu juga. Siapa yang bisa saya titipi Sera, mobil apa yang harus kami beli, apakah mobil yang sudah dibeli ini bagus, lalu bagaimana cara mengambil mobil itu ke dealer nanti? Belum lagi child care tempat saya mendaftarkan Sera (yang sebelumnya diperkirakan baru akan lowong tahun depan) tiba- tiba menelepon, mengabarkan bahwa mereka membuka cabang baru dan saya harus segera mendaftar sebelum kehabisan tempat. Dan terutama, karena saya tidak bisa membagi beban ini dengan si Okhi, yang sedang bengek dan terbatuk- batuk seperti orang sekarat. Dan Sera tampaknya juga sedikit tidak enak badan. Meskipun tidak rasional, saya sempat 'menyalahkan' Opung yang harus meninggal disaat yang tidak tepat, yang membuat Okhi tidak bisa mengambil cuti lagi dan malah sekarang sakit parah karena kecapekan.
Dan tentu saja saya bertanya- tanya apakah keputusan saya menerima pekerjaan memburuh ini tepat? Pabriknya lumayan jauh dari rumah, saya harus keluar uang juga untuk menitipkan Sera karena jam masuk yang payah, pekerjaannya lumayan menuntut fisik. Dan banyak orang lain yang juga mempertanyakan hal ini. Kenapa sih harus kerja malam- malam (karena Sera belum bisa dititipkan siang), kenapa nggak nunggu aja tahun depan sampai Sera bisa dititipkan (panjang ceritanya, mungkin satu note sendiri), kenapa harus milih pabrik yang jauh (karena saya nggak nemu kerjaan yang lebih dekat), kenapa mau menerima pekerjaan dengan gaji hanya segitu (karena nggak ada pekerjaan dengan gaji lebih tinggi yang bisa saya temukan). Perasaan ragu apakah keputusan yang saya ambil ini tepat menyiksa saya.
Saya merasa kewalahan secara mental, ditambah kelelahan secara fisik. Pukul sebelas malam, dengan mata sulit terpicing meskipun badan sudah remuk, saya membuka youtube dan memilih satu lagu. Satu lagu yang pernah sekali dulu juga menjadi batu karang saya, saat skripsi saya tampak buntu karena dosennya yang ajaib. Saat saya khawatir tidak bisa lulus kuliah tepat waktu sehingga tidak bisa mengambil program apoteker bersama teman seangkatan. Saat saya melihat teman- teman saya yang secara akademik jauh di bawah saya sudah melenggang lulus dengan lancar jaya. Saat saya ingin memenggal kepala si dosen yang sifatnya tak terkatakan.
Sambil mendengarkan lantunan liriknya, mata saya berair.
When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou has taught me to say,
It is well, it is well, with my soul
Terjemahan bebasnya semacam
Ketika kedamaian tidak kurasakan
Ketika penderitaan datang bergelung- gelung seperti ombak laut yang tiada henti
Apapun bebanku, Tuhan engkau mengajarkan padaku untuk berkata
It is well, it is well dengan segenap jiwaku.
Saya terus menyetel lagu itu. Sampai hati saya merasa lebih damai. Dan kemudian saya baru menyadari bahwa di klipnya terdapat cerita yang melatar belakangi si pencipta lagu. Cerita yang membuat saya paham kenapa lagu ini seolah benar- benar mengerti perasaan tak berdaya yang saya rasakan.
Si pengarang lagu adalah seorang pengacara yang tinggal di Amerika bersama istri dan lima orang anaknya. Tak berapa lama, satu- satunya anak laki- lakinya meninggal dunia secara tiba- tiba. Beberapa saat kemudian, kebakaran besar melanda kota Chicago dan ia kehilangan seluruh harta dan simpanan seumur hidupnya. Dua tahun kemudian, ia mengajak istri dan keempat anak perempuannya untuk berlibur ke Eropa. Karena urusan yang mendadak, ia terpaksa menunda keberangkatannya. Ia kemudian mengantarkan istri dan keempat anak gadisnya menuju kapal yang akan membawa mereka berlibur, dan berjanji akan menyusul beberapa hari kemudian. Kapal itu kemudian karam, dan 226 penumpangnya meninggal. Beberapa hari kemudian, para penumpang yang selamat medarat di Eropa. Istrinya mengirimkan telegram yang berbunyi "Hanya aku yang selamat. Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Si suami segera meninggalkan Chicago untuk menjemput istrinya. Di tengah kabut penderitaannya, ia berlayar melintasi tempat dimana keempat anak gadisnya mati tenggelam. Dan di tempat dimana keempat gadis kecilnya meregang nyawa, ia menuliskan lirik lagu ini.
Sayapun nggak suka diberi ujian kehidupan atau situasi yang berat. Tetapi disaat hidup serasa berat, disaat tidak ada orang lain yang bisa diandalkan atau diajak berbagi beban, disaat itu saya dipaksa untuk menyandarkan diri pada yang diatas. Membagi beban pada pencipta saya. Dan sekali lagi mengingat bahwa there is a bigger power, yang mencintai saya dan akan menjaga saya.
So, be strong and take courage
Do not fear or be dismayed
For the Lord will go before you
And His light will show the way
Hari Senin pagi, meskipun hati masih berdebar, tetapi satu demi satu masalah teratasi. Mobil sudah terbeli, seorang teman baik menawarkan menjaga Sera, dan yah, minggu ini saya akan mengalami petualangan baru, yang tidak semua orang bisa mengalaminya. I guess I'm a lucky bastard indeed.
Note: tak sabar membagi cerita bagaimana rasanya menjadi buruh di negeri orang :D

No comments:
Post a Comment