Kalau saja saya tidak pindah ke Ostrali, mungkin saya tidak akan pernah membayangkan akan mengalami bagaimana rasanya menjadi seorang buruh kontrak. Kalau saja saya tidak pindah ke Ostrali, mungkin Okhi tidak akan pernah bisa berdendang "Mega nyabutin bulu ayam, nang ning nang neng nong ♪♬♪♪♪♬♪♬♪♬♪."
Kalau saja saya bukanlah seorang penulis note kacangan, pasti saya gondok berat saat seorang buruh kontrak lainnya (tapi merasa sudah senior) dengan tandas menasehati saya "Don't waste your time to THINK!" Uh, setelah selama ini saya selalu dinasehati agar lebih menggunakan otak saya yang lelet, akhirnya ada yang dengan penuh pengertian meminta saya mengistirahatkan otak... Meskipun sempat tersentak, saya tersenyum simpul dan menyimpan kalimat keren itu di bagian belakang kepala untuk bahan bikin note.
Note ini adalah lanjutan dari note saya sebelumnya http://www.mymondaynote.com/2012/06/my-monday-note-it-is-well-with-my-soul.html yang mengisahkan kegalauan batin akibat lamaran saya untuk menjadi seorang buruh kontrak shift malam di sebuah pabrik pengolahan ayam diterima.
Mau tahu bagaimana rasanya menjadi seorang buruh yang setiap hari buruh nasional tuntutannya selalu sama saja? "Hapuskan sistem outsourcing!!!!" Inilah kisah saya. Sejak awal, yang membuat saya penasaran adalah bagaimana perlakuan perusahaan terhadap saya yang hanya seorang buruh? Apakah saya akan dianggap sebelah mata karena yah, saya hanyalah salah satu buruh, yang merupakan pekerja paling rendah dalam rantai makanan di pabrik alias yang gajinya paling rendah? Dan kemudian saat hendak membalas telepon si ibu HRD, saya tanpa sadar memencet nomor extension seorang bapak yang lain. Si bapak dengan heran menjawab bahwa dia tidak tahu kenapa si ibu HRD memberi saya nomor extensionnya, tetapi alih- alih menyuruh saya menelpon ke nomor yang tepat, ia bangkit berdiri dan berkata akan mencarikan si ibu HRD untuk saya. Ia meminta saya mengeja nama saya agar ia tidak salah menyebutkannya. Beberapa menit kemudian, dia berkata bahwa si ibu HRD tidak ada di mejanya dan ia sudah meninggalkan memo bagi si ibu mengenai telepon dari saya dan meminta si ibu untuk menelpon saya kembali. Saya mengucapkan terima kasih dan menutup telepon dengan santai, berpikir mungkin saya salah menelepon ke petugas sekuriti atau salah satu resepsionis.
Setengah jam kemudian, si ibu HRD menelepon saya. Dan sambil tergelak- gelak ia bertanya "Kamu tahu siapa yang kamu telepon tadi?" Nope, jawab saya. "Dia adalah direktur utama Victoria. Kamu baru saja menelpon orang nomor satu se-negara bagian."
Perusahaan tempat saya melamar ternyata adalah salah satu perusahaan besar di Australia, dengan manajemen dan peraturan yang jelas terhadap diskriminasi. Ditambah dengan budaya egaliter ala australia, perbedaan kelas tidak terlalu mencolok. Saya dipanggil Mega oleh semua orang dan saya memanggil semua orang mulai dari level direktur hingga satpam, dari mulai anak muda umur 18 tahun hingga supervisor saya yang sudah sepuh, dengan nama pertama mereka. Tanpa sir, ma'am, dan embel- embel lainnya. Sementara di Amerika anak- anak sekolah masih memanggil gurunya dengan Mrs atau Mr (seperti di film Glee itu lho), anak- anak SD disini memanggil gurunya dengan nama pertama si guru. Jadi saya tidak merasakan bahwa kelas saya lebih rendah dari para staf kantoran.
Saat saya memulai kerja untuk pertama kalinya, dan berganti baju di loker, saya tertegun. Rasanya hampir 99% buruh disitu adalah imigran juga. Saya menemui banyak orang dengan tampang ala bollywood movie star, cewek- cewek vietnam yang selalu membawa beraneka bekal untuk makan malam dan makan dengan gaya kuli kelaparan and yet tetap berpinggang langsing, dan para penduduk Samoa dari New Zealand yang semua beralasan bahwa gaji di Australia jauh lebih baik daripada di tempat mereka. Kemana nih orang bule Ostralinya? pikir saya.
Dan out of sudden, saya seperti tidak lagi berada di Australia, tetapi berada di kerumunan para pembantu kompleks yang sedang merumpi. Semua orang tampak tertarik untuk bertanya darimana asal saya (Thailand? bukan. Filipina? nope. Vietnam? geleng-geleng kepala. Malaysia? amit- amit). Semua dengan ramah bertanya apakah saya sudah menikah, berapa anak saya, tinggal dimana saya, apa pekerjaan saya sebelumnya dan seabrek pertanyaan- pertanyaan personal yang bila saja ditanyakan ke tetangga saya yang orang asli sini, dia bakal dengan sebal berteriak "That's not your F**k*n business!!!!" Untung saya orang Asia juga, jadi masih bertenggang rasa terhadap pertanyaan- pertanyaan private semacam itu.
Pekerjaan saya? Mengepak berbagai produk olahan ayam sebangsa nugget. Gampang? In term of brain usage mah gampang banget, pekerjaan brain-dead istilahnya. Nggak pakai otak pun bisa. Tapi, jangan dikira ini pekerjaan mudah. Di depan saya adalah mesin berkecepatan kilat, dan siapa sangka mengepak enam potong dada ayam kedalam wadah styrofoam bisa merupakan pekerjaan maha sulit (sulit karena harus menatanya dan memperkirakan beratnya dalam tempo kurang dari lima detik). Saya tercengang melihat kelihaian jemari para buruh lainnya, yang dengan kekuatan bintang akan mengepakmu! Oh wow, kalau ada orang yang berani bilang memburuh itu pekerjaan sepele, yah, dia harus mencoba berdiri selama lima jam nonstop dengan tangan terus bekerja dengan kecepatan kilat yang bisa bikin jempol bergetar grogi, di suhu yang dingin menggigil.
Dan ketakutan saya bahwa para pekerja lainnya akan sinis dan menyebalkan tidaklah terbukti. Kebanyakan orang memaklumi bahwa sebagai buruh baru saya masih kaku, sering melewatkan bagian saya (yang menyebabkan mereka harus bekerja dobel untuk mengisi wadah mereka dan wadah saya). Kebanyakan orang tersenyum dan menyapa saya dengan ramah. Dan kadang, sebuah senyuman sekilas atau sapaan yang hangat benar- benar bisa membuat hari seseorang menjadi lebih baik. Nggak perlu segala bantuan yang muluk- muluk, tersenyum ke orang lain saja benar- benar sudah bisa mencerahkan hati seseorang.
Bekerja dengan puluhan orang dari berbagai bangsa dan ras, saya teringat pada satu peribahasa: Di manapun kau berada, selalu ada orang yang baik dan orang yang jahat. Nggak ada urusannya dengan bangsanya, rasnya, agamanya atau jenis kelaminnya. Ada yang nyinyir dan ada yang ramah. Saat saya sedang terpontal- pontal berusaha memasukkan sepasang dada ayam berbentuk hati, seorang ibu tambun dengan wajah berwibawa mengawasi pekerjaan saya, dan menyalahkan cara saya meletakkan si ayam. Seorang cowok jangkung bertampang bule disebelah saya mengedipkan mata, dan berbisik "You can put your chicken however you like. As long as it fit in the box." Dan dia mencontohkan bagaiamana dia langsung menggabrukkan si dada ayam ke dalam boks. Si cowok kemudian mengedipkan mata ke arah si ibu tambun yang dengan wajah cemberut lalu berlalu dari hadapan saya, mencari mangsa lain mungkin.
Saat istirahat, seorang cewek muda bertampang India yang rupanya tadi berdiri disamping saya menjelaskan bahwa memang banyak buruh- buruh yang sudah bertahun- tahun bekerja di pabrik ini kemudian merasa bahwa mereka berhak bossing around, sok ngatur- ngatur buruh- buruh baru. "Just ignore them," kata si cewek muda ini. Dan jadinya saya malah cukup berteman dengan si cewek yang ternyatanya berasal dari Mauritius (where the heck is that?) dan kelahiran Paris. "Eh, common sava? Bien?" tanya saya kearah si cewek Paris, membuatnya nyengir lebar.
"What the hell a Parisien young lady doing in a chicken farm like this?" saya bertanya sambil nyengir ke arahnya. Ternyata ceritanya hampir serupa dengan cerita saya, mengikuti suami kesini, berpendidikan tinggi di negara asal, dan merasa rada terperangkap dengan pekerjaan brain dead yang kami lakukan.
Mau jadi buruh atau pekerja kantoran, ternyata masalahnya sama wae, perintah yang berganti- ganti dan lain bos lain maunya. Saya gemas saat satu orang mencontohkan bahwa saya harus meletakkan dua dada ayam dengan posisi saling membelakangi, dan lima belas menit kemudian orang lain datang dan mengatakan seharusnya si dada diletakkan saling berhadapan. Dan terakhir seorang cewek lain lagi berkata seharusnya si dada saling ditumpuk. Darn, ini sebetulnya saya disuruh ngepak dada ayam beku atau mempraktekkan gerakan Kama Sutra sih????
Dan seperti kehidupan pada umumnya, kebanyakan orang tidak peduli akan penderitaanmu dan malah akan senang melihat kebodohanmu. Supervisor saya meminta saya untuk membuang plastik sampah hitam yang hampir setinggi badan saya. Jadilah saya menyeret- nyeret si plastik melewati berbagai mesin dan berkelok- kelok berusaha melewatkan si kantong di gang- gang sempit. Setelah beberapa kali melakukan hal ini, akhirnya ada orang yang memberitahu bahwa sebetulnya saya tidak usah menyeret- nyeret si plastik. Ikat saja dan lemparkan ke seberang mesin. Minta orang di sebelah untuk menerima si plastik, beres urusan. Hello, I've done it several times and nobody said anything! Minta disantet kok memangnya ni orang sepabrik :D.
Oh ya, untuk bekerja di area pabrik kami harus memakai baju perang, alias seragam, sepatu bot, penutup rambut dan sarung tangan. Saya dengan sangat tegas di awal- awal langsung meminta ukuran seragam yang terkecil. JAdilah saya memakai seragam berukuran S dan itu masih juga rada kedodoran, walaupun saya sudah memakai baju berlapis- lapis di dalamnya. Itu masih oke lah. Yang nggak oke adalah urusan sepatu. Dan bahkan sepatu boot ukuran terkecil masih terlalu besar bagi saya. Jadilah saya menyeret- nyeret si boot seperti si Sera yang lagi sok gaya memakai sepatu bapaknya. Padahal ukuran kaki saya yang 37 kan ya ukuran orang Indonesia yang normal kan ya? Tiba- tiba saya merasa bak kurcaci.
Oya, pengalaman bekerja ini mengingatkan saya akan satu hal: Saya sekarang berada di Australia, bukan lagi di Indonesia. Saat petugas kesehatan yang kebetulan cowok sedang mengetes apakah saya cukup fit, dia dengan santai meraih tangan saya, memegang lengan dan bahu saya. Nggak minta ijin atau minta maaf dulu. Ya karena dalam pikirannya dia ya dia semata sedang menjalankan tugasnya, bodo amat dengan kenyataan bahwa saya ini cewek genit yang rada- rada merinding kalau dipegang cowok ganteng kayak dia :D. Dan saat supervisor saya kebetulan ingin membenahi penutup kepala saya, dengan santai ia menepuk pundak saya, dan sambil tersenyum berkata "Hi darling, let me fix your cap." Sambil masih termangu- mangu karena ada pria yang menyapa saya dengan sebutan darling, saya merasa topi saya ditarik ke belakang dan dirapatkan ke kepala saya.
Bukan berarti orang sini lebih tidak bermoral dari orang Indonesia. Sebut saja budaya yang berbeda. Tidak lebih baik atau lebih buruk dari Indonesia, hanya berbeda. Sama seperti saya masih berusaha membiasakan diri bahwa saat bertemu atau berpisah maka alih- alih menjabat tangan maka mereka akan menyorongkan pipi. Berasa aneh saat seorang pria menyorongkan pipinya ke anda yang berjenis kelamin perempuan? Yah well, orang sini juga berkomentar betapa maho nya SBY saat mencium pipi seorang menteri prianya. It's all about different culture I guess.
Okeh, minggu depan saya lanjutkan lagi kuliah "Bagaimana menjadi buruh yang ber-Pancasila", sekarang saya harus ganti bajunya Serafim yang basah kuyup sehabis mencuci tangannya.
![]() |
| Kok seragam saya nggak se-unyu ini sih warnanya? Nggak asik ah! |

Salut.
ReplyDeleteNggak merasa risih untuk terjun dan nyemplung menjadi buruh.
Jangan capek capek ya.
Buruhnya suka demo gak? Jangan2 kamu demo naik truk ke balai kota.
ReplyDeletewikiki, hanya menjalankan konsep bekerja apapun boleh selama halal. Nggak halal juga nggak papa sih, selama gak ketahuan polisi :D
ReplyDeletejangan sakit ya babe
ReplyDeletePasti sehat walafiat kalau ditransfer dolar :D
Delete