Musim panas di Australia. Bikini dan hotpants bertebaran di segala penjuru. Okhi sudah siap dengan kacamata hitamnya, dengan cengiran jumawa tak lepas dari mulutnya. Tujuan kami hari itu: St. Kilda Beach, pantai terpopuler di Melbourne, walau bukannya yang terindah. Kami memarkir mobil di kantornya Okhi, dan melanjutkan perjalanan dengan trem. Di dalam trem yang menuju ke pantai, mayoritas penumpang sibuk mengoleskan sunblock, atau membenahi tali bikini yang melorot, atau berciuman mesra sambil tangan yang lain sibuk mengelap keringat yang bercucuran karena panasnya udara.
Semuanya berjalan dengan normal dan lancar. Semua orang sibuk dengan urusan masing- masing. Tidak ada yang repot mengurusi urusan orang lain atau memandangi baju orang yang melorot, apalagi iseng bersuit- suit melihat kaki- kaki jenjang bertaburan di segala penjuru. Okhi duduk dalam damai dalam balutan kaca mata hitam pekatnya, yang entah kenapa selalu dikenakannya selama musim panas. Sera sudah tertidur dengan nyenyak di strolernya. Kemudian, trem berhenti dan pintu trem membuka. Beberapa penumpang melangkah turun, digantikan oleh para calon penumpang yang sedari tadi menunggu di halte.
Tadinya, bangku di depan kami diduduki dua orang cewek kuliahan dengan baju yang saya yakin berukuran lebih kecil daripada bajunya Serafim. Setelah trem berhenti, bangku tersebut diisi oleh dua orang cowok amat sangat tampan. Yang satu berambut cokelat dengan bulu dada yang lebih lebat daripada bulu dadanya anjing saya. Tampangnya mengingatkan saya pada Keith Urban, suaminya si Nicole Kidman. Cowok yang satunya lagi berambut pirang, berwajah dingin yang hot (if you know what I mean) dengan badan bak pahatan Dewa Yunani, yah seperti batu menhirnya si Obelisk gitu deh.
Saya terkagum- kagum dan setengah meratap kenapa bukan mereka saja yang menjadi suami saya. Dan kemudian mereka duduk di hadapan kami, mengobrol santai dan mulai berciuman dengan mesra. Mata saya melebar di balik kacamata hitam, terpesona akan pemandangan di depan mata saya. Dan kemudian saya menoleh ke samping saya dan nyaris tersedak melihat ekspresinya si Okhi. Merana sekali ekspresinya suami saya.