Monday 2 July 2012

My Monday Note -- Ada Kemiripan Antara Anak Saya Dan Sopir Bajaj

Saat strip tes kehamilan menunjukkan hasil positif, saya kemudian mengunjungi dokter kandungan. Saat itu, tentu saja belum terlihat apakah si bayi yang ada di kandungan berjenis kelamin laki- laki atau perempuan. Kemudian, si dokter menempelkan alat yang bisa mendengarkan detak jantung. Tak berapa lama, terdengar suara jantung berdegup. Si dokter mendengarkan sejenak, kemudian berkata pada suster di sebelahnya "Hayo, menurutmu ini bayinya laki- laki atau perempuan?" Suster menelengkan kepala sejenak, kemudian menjawab "Laki- laki dok sepertinya." Si dokter mengangguk dan kemudian nyengir ke arah saya "Detak jantungnya kuat banget. Biasanya bayi laki- laki yang begini!

Jadilah kami tersugesti bahwa bayi kami 'kemungkinan besar' laki- laki. Mengikuti saran di berbagai artikel, kami mulai memanggil namanya dan mengajaknya ngobrol (walau terus terang saya merasa hal tersebut konyol. Rasanya seperti mengelus- elus jempol kaki dan mengajaknya ngobrol "Halo jempol kaki, tumbuh yang besar dan kuat ya..."). Dan kemudian, hasil USG tidak segera menunjukkan hasil yang memuaskan, si bayi ngeruntel saja seperti cacing kremi. Sampai kemudian, akhirnya ketahuanlah bahwa jenis kelamin bayi kami adalah perempuan. Langsung banting setir memanggilnya dengan "Serafim", nama yang sudah kami persiapkan juga.

Saat baru saja dilahirkan, Sera langsung menangis keras sekali. Kemudian, saat proses IMD, sementara kebanyakan bayi lain akan tertidur dulu atau bermalas- malasan di dada ibunya, Serafim langsung merayap dengan cekatan. Tubruk sana tubruk sini mencari puting. Dan langsung menyusu dengan rakus. Susternya saja sampai terkagum- kagum "Wah, bersemangat sekali kamu ya Dek..." Dan tentu saja, dari sekitar 15 bayi yang dilahirkan pada waktu yang bersamaan, Sera jelas yang paling kuat menangisnya. Saya pernah mendengar seorang suster berkata "Itu pasti tangisannya bayi dari kamar 5." Saya pura- pura tidak peduli, bayinya siapa sih itu yang teriak- teriak kayak preman pasar gitu?

Bagaimana bentuknya bayi Serafim? Well, saya harus mengaku bahwa si bayi tampak perkasa dan lebih mirip calon petinju daripada balerina. Rambutnya jabrik, kulitnya kelam, hidungnya pesek, ekspresinya galak, tangisannya seperti peluit kapal dan rakusnya nggak ketulungan. Menilik bentuk emaknya yang juga jauh dari kesan Putri Solo, sepertinya memang saya dikaruniai bayi perempuan yang perkasa seperti Princess Xena.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Dan alih- alih membesarkan seorang anak perempuan perkasa calon preman pasar, anak gadis saya ternyata tumbuh menjadi balita pemalu yang suka bersembunyi di balik kaki emaknya. Dia takut pada orang asing, takut pada hewan apapun (bahkan anak ayam kecil mungil). Saat giliran bermainnya diserobot, dia tidak akan memukul si tukang serobot, tetapi lebih memilih untuk menghindar pergi saja. Kalau mainannya direbut dia hanya akan melongo dan menyingkir dengan wajah takut.

Dan alih- alih mempunyai seorang anak tomboy seperti perkiraan kami sebelumnya, Serafim menjelma menjadi gadis paling feminin sedunia. Warna favorit: pink. Koleksi tas tangan: sudah hampir menyaingi koleksinya Imelda Marcos. Setiap mau keluar rumah, Sera akan berteriak- teriak "Bag.. bag..." dan menolak keluar rumah tanpa menenteng si tas dengan gaya ibu- ibu dharma wanita mau arisan.

Saat memperhatikan si Serafim, saya seolah melihat pantulan diri saya sendiri. Di playgroup, Sera akan memilih bermain di sudut yang sepi, jauh dari keributan dan keramaian hiruk pikuk anak lainnya. Dengan tenang ia akan bermain dengan playdoughnya, membentuknya menjadi bulan, bintang dan bunga. Dan kemudian saya melihat betapa tersiksanya Sera saat ia berada di tengah tempat bermain yang hiruk pikuk dengan lalu lalang manusia. Saya serasa melihat diri saya sendiri, yang tidak nyaman dengan keramaian, yang lebih memilih untuk mendekam membaca novel daripada harus berinteraksi dengan orang asing. Dan saat petugas di chidcare melaporkan bahwa si Sera lebih memilih membaca belasan buku daripada bermain dengan ayunan, saya menganggukkan kepala. Sayapun juga begitu, saya akan memilih membaca buku daripada bermain.

Tetapi saat melihat Sera, lucunya saya juga terkadang merasa seperti melihat makhluk asing saja. Sementara saya adalah orang yang tidak pernah membawa tas kemanapun saya pergi (kunci mobil dan handphone di saku celana, dompet di saku jaket), anak saya yang modis tidak bersedia keluar rumah tanpa membawa tas yang matching dengan bajunya. Sementara saya hanya menyisir rambut sekali dalam seminggu, anak saya selalu sibuk memasang pita di rambutnya, dan dengan kenes menelengkan kepalanya dan bergumam sendiri "Cantikkkkk...."  Dan sementara emak saya bercerita betapa saya dulu pernah menarik lepas ekor milik seorang anak anjing dan hobi di masa kecil saya adalah bermain dengan kaki seribu, anak saya ternyata sangatlah takut terhadap hewan manapun. Dia akan menjerit dan menangis bila seekor anjing kecil mungil mendekat kearahnya.

Terkadang saya memandang Sera dengan ngenes dan berpikir kenapa anak saya harus meniru sifat jelek saya. Kenapa Sera harus merasa tidak nyaman berada di antara orang lain, sama seperti saya. Karena tentu saya berharap ia menjadi anak yang easy going, yang gampang bergaul, tidak seperti emaknya yang hanya punya sedikit teman. Tetapi terkadang saya berpikir kenapa anak saya tidak seperti saya, yang bisa santai dan tidak peduli akan penampilan. Betapa enaknya kalau ia meniru diri saya yang tidak pernah merasa harus heboh memilih sepatu dan tas. Yang bisa merasa nyaman dengan bentuk lahiriah diri saya yang acakadut. 

Tadinya saya berpikir dikaruniai anak cewek yang perkasa dan mungkin saya akan dipanggil oleh gurunya karena anak saya nabokin anak orang (jujur aja, saya lebih memilih anak saya jadi tukang pukulnya daripada jadi korban pemukulan), eh ternyata kehidupan mengkaruniakan anak cewek manis modis fotogenik binti cengeng dan pemalu untuk saya. Tadinya saya berharap ia tidak akan meniru sifat jelek saya yang canggung di tengah keramaian, eh ternyata anak saya bahkan lebih parah lagi dibanding saya dalam hal membenci keramaian. Tadinya saya berharap ia meniru sifat saya yang enggak mikirin urusan penampilan, lha kok saya dikaruniai anak cewek yang selalu sibuk memilihkan sepatu untuk emaknya setiap hendak bepergian. 

Beberapa saat yang lalu, seorang teman dengan bangga menulis di facebook bahwa anaknya memenangkan semacam lomba menari dan wajah fotogenik. Saya tentu ikut senang mendengar keberhasilan anaknya teman, tetapi kalau boleh memilih, sebetulnya saya akan lebih senang bila nantinya si Sera memenangkan olimpiade sains atau lomba debat misalnya. Memenangkan lomba foto atau dance atau modelling simply tidak menarik bagi saya. Saya tidak ingin mempunyai anak perempuan yang menjadi peragawati atau penari, saya ingin anak perempuan saya menjadi perempuan tangguh dan pintar, seorang business woman atau peneliti. Saya tidak ingin anak saya menjadi pramugari, tetapi saya ingin ia menjadi seorang pilot.

Kemarin, saya dan Okhi ngobrol- ngobrol tentang rencana kami di masa depan. Saya berkata saya ingin memasukkan Sera ke kursus bahasa Perancis, karena saya ingin ia bisa menguasai bahasa- bahasa lain. Kami sepakat. Lalu saya berkata saya ingin memasukkan sera ke kelas piano dan menyanyi karena tampaknya Sera menyukai musik. Kami sepakat. Tetapi lalu kami sama- sama ragu. Tentu kami ingin Sera bisa bermain piano dan menyanyi dengan indah, apalagi itu sesuai dengan hobinya Sera, tetapi kami takut kalau kami mendukung hobinya itu, ia nantinya akan memilih menjadi pemain musik atau penyanyi. Bukannya kami menganggap remeh pekerjaan itu, tetapi kalau boleh memilih saya lebih ingin Sera menjadi peneliti atau pengusaha yang bisa bermain piano, bukannya berprofesi sebagai pemain piano. Dan mulailah pemikiran melantur lainnya. Kami ingin Sera bisa berdansa, tetapi kalau nanti ia dimasukkan kelas tari dan tahu- tahu ia malahan ingin menajdi penari profesional bagaimana? Kami ingin sera bisa bermain ski dan menyelam, tetapi kalau nantinya kami masukkan ia ke kelas menyelam dan jadinya ia malah mau jadi penyelam laut dalam profesional gimana? Kan maunya kami ia menjadi pengusaha atau peneliti atau CEO perusahaan multinasional yang BISA main piano, mahir menyelam dan gape berdansa.  Duh, betapa sempurnanya dunia!

Sambil menulis note ini, saya membuka- buka album foto Sera semenjak hari kelahirannya. Geli juga melihat metamorfosis si Sera dari yang tadinya perkasa dan tampak macho sekarang berubah menjadi feminin dan cantik. Dan yah, mau tidak mau saya mengakui bahwa anak saya bukanlah milik saya sepenuhnya. Saya tentu memiliki andil untuk membentuk Sera menjadi anak yang sopan misalnya, tetapi saya tidak memiliki kuasa menentukan apa yang menjadi hobinya si Sera. Saya tentu punya andil membantu Sera agar tidak lagi terlalu takut pada orang asing, tetapi ya saya harus menerima fakta bahwa sifatnya anak saya itu ya begitu, lebih suka sendiri daripada diantara orang lain.Dan saya tentu bisa sedikit banyak mempengaruhi Sera agar ia menganggap dunia akdemik itu penting, tetapi ya kalau nantinya Sera yang modis dan menyukai musik lebih memilih menjadi peragawati atau pemain piano daripada menjadi peneliti atau CEO, ya sudahlah. Paling emaknya geleng- geleng kepala karena frustasi.

Memang membesarkan anak itu paling pas menggunakan filosofi naik bajaj. Kita yang menentukan kemana tujuannya, kita yang membayar biayanya, kita yang menentukan rute mana yang harus diambil, kita yang merasa berhak menentukan kecepatan per jamnya, tetapi begitu kita naik ke atas bajaj, yah, hanya Tuhan dan si sopir yang tahu. Walau kita yang membayar, terakhirnya tetap saja kita yang hanya bisa pasrah saat si sopir memilih melewati jalan tikus di tengah kampung. Dan hanya Tuhan dan si sopir yang tahu kapan ia ingin berbelok dan berjalan melawan arus :(.

Akhirnya kembali lagi deh saya pada janji yang saya ucapkan saat ulang tahun pertamanya si Serafim. Serafim, we will love you unconditionally, we'll push you to reach your fullest potency. We'll save every penny to send you to any Ivy League univ, but we'll support you if college turns out not your pathway. This we promise you !


Melihat bentuk dan perangainya bayi Serafim, ya wajar kan emaknya berpikir punya anak yang tomboy, mungkin galak, gak suka dandan dan perkasa


Dan tada... ternyata si bayi menjelma menjadi cewek paling feminin, modis, fotogenik, centil dan cengeng bin pemalu....



1 comment:

  1. Kita menganggap anak kita seperti playdough yg bisa kita bentuk sesuka kita dan Kita frustasi karena ternyata anak kita tdk seperti yang kita inginkan.

    ReplyDelete