Kemarin, saya membaca suatu buletin yang rupanya terselip di tumpukan majalah yang saya bawa dari Indonesia. Entah lembaga apa yang mengeluarkan buletin fotokopian yang bentuknya jauh dari menarik itu. Iseng- iseng, saya buka halaman si buletin dan membaca kolom tanya jawab nya.
Tanya : Saya dahulu bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan, tetapi karena perusahaan itu pailit, saya terkena PHK. Dengan tiga anak yang sekarang duduk di bangku sekolah (SD sampai SMA), beban hidup saya sangatlah berat. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari pekerjaan lain, apapun asal halal saya lakoni. Sayangnya, sampai saat ini usaha saya belum membuahkan hasil. Pekerjaan saya masih serabutan, mulai dari sopir taksi tembakan, penjual koran, bahkan pemulung sampah. Hasil dari usaha saya itu tidak pasti dan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari. Yang membuat hidup saya semakin berat, adalah karena istri saya terus mengomel, mengeluh, dan memaksa saya untuk segera mempunyai pekerjaan tetap. Setiap hari, tiada hentinya ia menyindir dan memarahi saya. Padahal saya sudah melakukan segala yang mungkin. Hanya saja mencari pekerjaan yang layak di usia saya yang sudah diatas 50 tahun dan tanpa pendidikan yang tinggi ini memang sulit sekali. Apa yang harus saya lakukan?
Nah, tergantung siapa penerbit buletin ini, saya bisa memprediksi jawaban untuk pertanyaan ini. Kalau buletinnya terbitan lembaga rohani, jawabannya bakalan gak jauh- jauh dari keep praying, God already prepare the best future for you, keep faith dan sejenisnya. Kalau buletinnya diterbitkan orang praktis seperti si Okhi, jawabannya bakal berkisar tips untuk mencari tambahan penghasilan dan kalau penerbitnya adalah orang nyinyir seperti saya, ya trik untuk meracun si istri bawel tukang ngomel.
Jawaban redaksi buletin, membuat saya menelengkan kepala. Dan membuat saya menggumam " I never thought about that before. Interesting indeed...."
Jawab : Yang pertama, saya ucapkan ikut prihatin akan kondisi yang bapak alami saat ini. Mencari pekerjaan di ibukota memang suatu tantangan yang besar. Apalagi di usia yang sudah tidak muda. Tetaplah berusaha mencoba segala jalan dan pikirkan cara- cara baru untuk mendapatkan penghasilan. Doa saya menyertai usaha Bapak (ini jawaban yang manis dan standar lah ya). Lanjutannya yang bikin saya berpikir.
Terkait permasalahan dengan istri Bapak yang tampaknya masih belum bisa menerima kondisi sekarang, saya bisa memahami bahwa mungkin ia juga panik akan situasi keuangan keluarga, sehingga membuatnya terus mengomel dan mendesak Bapak untuk segera mendapat pekerjaan yang mapan. Tetapi, dalam kondisi dimana Bapak juga sudah berusaha sekuat tenaga, sementara memang anak- anak harus tetap sekolah dan diberi makan, maka dalam kondisi seperti ini, keluarga Bapak tidak bisa tetap berpegang pada norma umum bahwa Bapak sebagai ayah dan suami adalah satu- satunya yang bertanggung jawab sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.
Dalam kondisi kritis seperti sekarang, sudah seharusnya semua anggota keluarga; istri dan anak-anak ikut serta memikirkan hal ini. Kenapa tidak disarankan istri Bapak untuk mencari tambahan penghasilan seperti membuat kue atau penganan lainnya? Kemudian hasilnya bisa diedarkan ke warung atau dijual di depan rumah misalnya. Dan anak- anak bisa dilibatkan ikut menjualnya di sekolah mereka misalnya. Atau misal istri bapak menerima jahitan.
Ingat Pak, jangan biarkan norma umum peran suami dan istri yang seolah sudah baku di masyarakat membuat kita menjadi kaku dan tidak fleksibel. Tugas suami dan istri adalah untuk bersama- sama mengisi dan mendukung semua fungsi yang ada dalam berumah tangga, entah mencari nafkah, atau mengurus rumah dan membesarkan anak.
Nah, saya tidak tahu apa respon si bapak sopir, mungkin langsung melempar buletin itu ke arah istrinya sambil bilang"Mulai besok, lu ikut nyari duit!". Tapi yang jelas, saya terpesona juga pada sudut pandang si penulis buletin. Bukan, bukan pada idenya untuk jualan kue, tapi pada sudut pandangnya yang rada beda. Jangan biarkan norma umum yang seolah sudah baku membuat kita ikut menjadi kaku.
Memang sih, rumah tangga saya sekarang adalah rumah tangga yang bisa dikata lumrah dan normal lah. Okhi setiap pagi berangkat kerja ke kantor, dan gajinya untuk membayar semua cicilan dan tagihan. Saya menghabiskan hari untuk merawat anak, mendidiknya dan mengurus rumah tangga (sumpah, saya nggak bohong :D). Seperti lumrahnya suami istri, suami saya yang secara otomatis mengganti lampu yang mati, atau membawa mobil ke bengkel atau mendandani pagar yang jebol. Sementara saya yang sewajarnya memasak, menyeterika, dan mengganti nappy nya Sera.
Tetapi kalau misalnya gajinya Okhi sekarang lalu tidak cukup untuk membayar tagihan, atau karena satu dan lain hal dia tidak bisa mendapatkan gaji lagi (jangan sampai lah ya), masakan terus saya ceraikan saja dia untuk mencari pria lain yang bisa memenuhi kodratnya sebagai pencari nafkah utama? Ya kalau ada cowok lain juga yang bisa khilaf untuk diajak kawin sama saya :(.
Atau seperti kasusnya seorang dokter teman saya. Si dokter cowok ini adalah seorang penderita asma yang cukup berat. Boro- boro buka praktek di malam hari, bisa bernafas dengan lega di malam dingin berselimut hujan saja sudah merupakan mukjizat buatnya. Namanya hidup itu adil, si teman cowok ini mendapat pasangan seorang istri yang sudah diterima menjadi PNS. Jadilah teman cowok saya itu bekerja sebagai tenaga honorer di puskesmas yang jam 2 siang juga sudah kelar urusannya. Sementara si istri, setiap malam pergi bertugas, entah menjadi satpam di UGD nya rumah sakit atau ke tempat praktek pribadinya. Jadinya ya rumah tangga mereka rada berkebalikan dari rumah tangga pada normalnya. Bapaknya yang memasak makan malam, membantu anaknya mengerjakan PR, dan menemani mereka tidur. Emaknya, sibuk mencari nafkah sampai tengah malam.
Mereka berdua sih baik- baik saja dengan kondisi itu. Tapi, disuatu siang saya mendengar beberapa rekan kantor teman cowok saya itu bergosip. Intinya, mereka berkata bahwa kasihan amat yang jadi istrinya si cowok itu, harus banting tulang sehari semalam. "Nggak kebalik tuh?" kata mereka.
Atau ada juga sepasang teman saya. Si suami bekerja dari rumah, utak atik program digital apalah gitu dari laptopnya. Si istri pegawai negeri. Dan ya, banyak pegawai negeri jaman sekarang (apalagi yang masih muda- muda) benar- benar pekerja keras. Ngelembur sampai larut malam dan akhir pekan adalah hal biasa. Si istri senang karena suaminya bekerja di rumah dan bisa leluasa mengurus si kecil, si suami senang karena bisa bekerja dengan cara yang ia sukai; di kamarnya yang nyaman. Yang nggak senang adalah para keluarga, saudara, kenalan. Yang mencibir mengatakan seolah suami apaan itu, kerja kok hanya ndekem aja di rumah.
"Emangnya sekarang masih jaman megalitikum apa? Yang namanya kerja itu harus lari- lari keliling sabana sambil mengacung- acungkan kapak berburu T-rex?" cerita si istri dengan kesal. "Wong suamiku ya bukannya pengangguran, dia dapat dolar lho! Dan emangnya nggak boleh kalau secara pendapatanpun aku lebih tinggi dari dia karena sering dinas luar? Aku tu bahagia karena anakku dijaga bapaknya, bukan sekedar pembantu yang jangan- jangan malah ngasih obat tidur ke anakku!" tambah si si istri lagi dengan berapi- api.
Saya mengambil seember air untuk bersiap mengguyur kepalanya yang mengeluarkan asap.
Suatu norma disebut norma umum tentu karena dilakukan oleh mayoritas orang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi rasanya kebanyakan keluarga di dunia (bahkan di Australia sekalipun yang ateis) memang terbiasa dengan norma bahwa Bapak adalah pencari nafkah utama, yang kerjanya berjibaku di kehidupan liar malam hari yang ganas dan panas *lho... Sementara si Ibu adalah penjaga rumah yang lebih imut dari anjing doberman, atau kalaupun bekerja adalah sebagai tambahan semata bagi gaji suami. Si ibu akan lebih terampil mengurus anak, sementara si bapak lebih gape mengurus istri tetangga *eh?
Saya jadi ingat cerita seorang teman yang sekarang sedang mendapat beasiswa untuk studi disini. Anaknya yang duduk di bangku SD sempat bertanya kepada seorang temannya yang lain "Is your mother dead?" Dan alasan untuk pertanyaan sadis itu adalah karena anaknya teman saya itu bingung melihat teman sekelasnya yang selalu diantar jemput bapaknya dan selalu bapaknya yang datang ke acara pertemuan sekolah. Masalahnya, dulu di kampung mereka, yang namanya sekolah anak ya urusan ibu, jadi ya si anak ini tidak terbiasa melihat si bapak yang repot mengurus anak. Jadilah menurut logikanya pasti ibunya temannya sudah meninggal :D.
Setiap individu adalah jiwa yang beragam. Mereka tercipta dengan cetakan yang unik, ada yang sebantat bolu kukus bikinan saya, dan ada yang semekar lubang hidung suami saya. Dan setiap jiwa ini mempunyai cerita kehidupannya masing- masing. Memaksa semua jiwa ini untuk berbentuk bunga tulip karena itu adalah cetakan mayoritas dan tampak indah adalah suatu kesia- siaan yang bisa menimbukan penderitaan. Kenapa harus memaksakan agar satu kunci cocok untuk semua gembok? Kenapa harus memaksakan satu norma harus cocok dengan situasi semua orang?
Setiap individu adalah jiwa yang beragam. Mereka tercipta dengan cetakan yang unik, ada yang sebantat bolu kukus bikinan saya, dan ada yang semekar lubang hidung suami saya. Dan setiap jiwa ini mempunyai cerita kehidupannya masing- masing. Memaksa semua jiwa ini untuk berbentuk bunga tulip karena itu adalah cetakan mayoritas dan tampak indah adalah suatu kesia- siaan yang bisa menimbukan penderitaan. Kenapa harus memaksakan agar satu kunci cocok untuk semua gembok? Kenapa harus memaksakan satu norma harus cocok dengan situasi semua orang?
Dan tentu saja setiap pasangan mempunyai cara dan metodenya sendiri. Selama si suami dan si istri baik- baik saja dengan cara itu, ya berarti itu cara yang tepat bagi mereka. Memang kenapa kalau si istri yang lebih hobi dinas luar sementara suaminya hobi mendekam di kamar? Memang kenapa kalau suami saya yang lebih doyan pake celana dalam renda- renda? Ha? Siapa berani protes?????
![]() |
| Emang kenapa kalau gaya suami saya makan es loli kayak gini? Siapa nggak terima??? Siapa berani protes??? :D |

note yang sangat bagus... sayang diakhiri dengan foto yang sangat mengganggu hari saya yang indah...
ReplyDeletepiss..
Yin dan yang so... Semua seimbang di bumi ini.... Amitaba...
Delete