Suatu siang di hari Lebaran, saya duduk dengan santai di pendapa depan rumah nenek saya di desa. Hari itu adalah lebaran hari kedua. Banyak sekali tamu yang silih berganti berdatangan mengunjungi (almarhum) nenek saya, karena beliau adalah salah satu sesepuh di desa. Kebanyakan tamu datang berombongan dengan sepeda motor, tetapi ada juga yang berjalan kaki atau naik sepeda kumbang. Nenek saya duduk sendirian di kursi singgasananya, menerima sungkem dari puluhan orang. Bapak dan Pakde- pakde saya duduk disekeliling simbah.
Sedang asyik ongkang- ongkang kaki di pelataran yang sebesar lapangan futsal, tiba- tiba secara beriringan datanglah mobil- mobil sedan Toyota bercat kinclong. Ada lima buah mobil memasuki halaman rumah nenek. Untuk ukuran desa pucuk gunung, yang penduduknya kebanyakan masih bersepeda kumbang, yang jalannya belum tersentuh aspal dan toiletnya masih, ehm, yah begitulah, mobil Toyota bercat metalik mengkilap itu rasanya sudah semewah kereta kuda kencana Ratu Inggris. Semua orang yang kebetulan berada di halaman segera menepi, dan dengan tergesa- gesa meminggirkan sepeda kumbang mereka, untuk memberi ruang pada barisan kendaraan ajaib dari bulan.
Satu demi satu penumpang mobil tersebut kemudian keluar. Sama seperti mobilnya, dandanan para penumpang ini juga sama kinclongnya. Rombongan ini adalah rombongan keluarga Embah Soka, adik dari nenek saya. Dan memang anak- anak Embah Soka ini adalah orang- orang sukses yang kebanyakan tinggal di Jakarta. Om Tarman adalah petinggi di Toyota (dia memulai karir dari menjadi satpam, can you believe it?), om ono bekerja di Pertamina, tante ini dokter kandungan. Pokoknya mereka adalah sekumpulan orang kaya. Dan mereka adalah orang- orang kaya yang sangat santun, rendah hati dan sangat menyenangkan. Rumah nenek saya langsung dipenuhi gelak tawa yang hangat dengan kedatangan mereka.
Saat semua orang dewasa sudah berada di dalam rumah, tinggallah kami anak- anak yang berada di luar. Dan kemudian, salah seorang anak melemparkan kerikil ke arah bodi mobil nan kinclong itu. Saya berkata "Jangan, nanti rusak mobilnya." Saya pikir sepupu saya itu hanya sedang iseng dan ia tidak menyadari bahwa melempari bodi mobil bisa membuat catnya tergores.
Alih- alih menghentikan perbuatannya, sepupu saya dengan suara yang sengit berkata "Alah, paling juga mobil sewaan. Sok banget bawa mobil bagus biar kelihatan kaya." Dan kemudian dia kembali melempari si mobil kinclong dengan kerikil. Mendengar kesengitan dalam suara saudara saya, saya menjadi heran. Otak anak kecil saya bisa menangkap bahwa sepupu saya itu sedang marah, tetapi saya tidak bisa mengerti kenapa dia harus merasa marah. Mobil itu memang mobilnya Om Tarman, jadi tentu wajar dong kalau Om Tarman menggunakan mobilnya sendiri untuk bepergian. Masak dia harus meminjam kerbaunya tetangga untuk pergi ke rumah nenek saya? Atau kalaupun dia memang menyewa mobil itu sekalipun, lalu kenapa? Emang dosa? Tentu lebih masuk akal bila seseorang menyewa sedan Toyota daripada bila ia menyewa traktor kan?
Sampai kemudian beberapa tahun lalu, saya mempunyai seorang teman. Si teman ini mempunyai tiga orang anak. Suatu ketika, saya mendengar pembicaraan teman saya dengan anaknya yang berumur sepuluh tahun. "Ma, aku pingin beli sepatu keds Anu (sepatu keds yang lagi populer di kalangan anak SD kala itu)."
Jawabannya teman saya adalah "Yah, sepatu itu kan mahal. Kita kan bukan orang kaya, mana sanggup beli. Papamu ya mampunya beli sepatu diskonan kayak sepatumu sekarang."
Um, nggak ada yang salah sih dengan jawaban teman saya, hanya kok saya merasa nggak sreg ya jadinya? Jadilah saya sering memperhatikan ucapan teman saya karena penasaran. Saya tidak bisa mengingat- ingat apa saja kalimat yang ia sampaikan, tetapi saya bisa menangkap kesan yang dipancarkan teman saya ini. Bahwa keluarga mereka itu kurang mampu, nggak bisalah hidup dengan mewah. Saya ingat teman saya berucap (di depan anaknya) bahwa ia sedih juga karena tidak bisa membawa anak- anaknya naik pesawat untuk berwisata ke Bali. Lalu yah, bahwa dia hanya mampu membelikan baju dan sepatu yang murah bagi anaknya. Semacam itulah.
Sebagai seseorang yang sudah bosan naik pesawat (bosan delay nya, bosan bangkunya yag sesempit metromini), awalnya tentu saya bersimpati akan keinginan teman saya yang ingin merasakan bagaimana sih naik pesawat. Dan tentu saya juga bersimpati akan keinginannya mengajak anaknya berlibur ke Bali.
Tetapi kemudian saya teringat, bahwa di masa saya kecil dulu, saya juga tidak pernah tuh naik pesawat. Tidak pernah juga untuk sekedar berwisata ke luar kota. Boro- boro ke Bali, wisata terjauh keluarga saya hanyalah ke daerah Tawangmangu saat saya sudah duduk di bangku SMP. Kemana- mana, kami bepergian dengan sepeda motor yamaha merah, dan bokong saya selalu sakit karena hanya mendapat tempat duduk di ujung depan jok motor. Saat saya melihat foto- foto masa kecil saya, baju saya juga bukannya jelek sih, tapi jelas bukan baju bermerek.
Berarti sebetulnya masa kecil saya juga dilalui dengan hidup yang pas- pas an juga. Tetapi toh tidak pernah sekalipun terlintas di pikiran saya tentang betapa miskinnya keluarga saya. Sementara sepupu saya iri pada mobil kinclong om Tarman, saya tidak merasakan apa- apa saat melihat mobil mulus si Om yang harganya mungkin belasan kali lipat dari Yamaha butut bapak saya. Tidak kagum tetapi juga tidak iri. Dan saya juga tidak kepikiran bahwa si Om memakai mobil mewahnya dengan maksud untuk sok bergaya di depan kami yang hanya mampu naik vespa dan sepeda motor bebek. Ya si om punyanya mobil itu, sementara bapak saya punyanya yamaha butut. That's it.
Setelah saya dewasa dan mendengar cerita emak bahwa dulu dia pernah harus meminjam uang dari tetangga untuk membayar biaya dokter, atau bahwa kami dulu hanya punya empat buah piring, kok ya tampaknya memang emak bapak saya itu cukup kere ya dulunya? Dan jadinya saya teringat bahwa perjalanan mudik dengan kereta api berarti saya akan mendapat jatah tempat tidur di kolong antara dua kursi kereta, beralaskan tikar atau koran. Dan terkadang dilintasi oleh kecoa kecil. Kalau sekarang saya disuruh mengulangi tidur sambil ditongkrongin kecoa seperti dulu, ya jelas ogahlah. Tetapi dulu, saya berpikir ya memang begitulah cara bepergian dengan kereta.
Setelah saya dewasa dan mendengar cerita emak bahwa dulu dia pernah harus meminjam uang dari tetangga untuk membayar biaya dokter, atau bahwa kami dulu hanya punya empat buah piring, kok ya tampaknya memang emak bapak saya itu cukup kere ya dulunya? Dan jadinya saya teringat bahwa perjalanan mudik dengan kereta api berarti saya akan mendapat jatah tempat tidur di kolong antara dua kursi kereta, beralaskan tikar atau koran. Dan terkadang dilintasi oleh kecoa kecil. Kalau sekarang saya disuruh mengulangi tidur sambil ditongkrongin kecoa seperti dulu, ya jelas ogahlah. Tetapi dulu, saya berpikir ya memang begitulah cara bepergian dengan kereta.
Saya jadi teringat sebuah cerita yang saya baca di buku Chicken Soup. Seorang wanita bercerita bahwa saat itu kehidupan keluarganya sangatlah sulit karena suaminya baru saja meninggal. Suatu kali, anak kecil si wanita ini pulang dari sekolah dan berkata bahwa gurunya meminta masing- masing anak untuk membawa sesuatu dari rumah yang nantinya akan disumbangkan kepada orang miskin. Dengan pahit si wanita ini bergumam "Boro- boro mau menyumbang untuk orang lain, wong kita saja MISKIN."
Si nenek yang kebetulan mendengar gumaman si ibu bergegas mengambil sebotol selai buah buatan sendiri. Dengan rapi si nenek membungkus botol selai itu dengan sehelai kertas dan mengikatnya dengan pita. Kemudian diserahkannya botol selai itu kepada cucunya. Lalu kata si nenek kepada wanita itu "Kalau kamu mengatakan pada anakmu bahwa kita ini orang miskin, maka seumur hidup ia akan merasa rendah dan miskin. Dengan sebotol selai itu, anakmu akan merasa bahwa ia adalah orang yang kaya dan beruntung karena masih bisa memberi pada orang lain."
Miskin atau tidak, itu tergantung duit di kantong. Merasa miskin atau tidak, itu tergantung sudut pandang orang tuanya. Kalau orang-tuanya merasa hidupnya nelongso dan mengeluh miskin, ya anaknya akan melempari mobil orang lain karena sirik. Kalau orang tuanya merasa biasa saja dengan kehidupannya, ya anaknya bakal merasa naik motor rungsep berempat menuju rumah kakak sepupu untuk menghabiskan akhir pekan dengan bermain petak umpet adalah suatu kewajaran, bukan suatu bentuk kesengsaraan karena tidak mampu berakhir pekan di Bali dengan naik pesawat.
| "Mah, ngapain sih kita ke pantai melulu tiap weekend?" "Mama pingin Sera mencintai laut dan mencintai alam..... Bukan karena ke pantai itu gratis....." |
No comments:
Post a Comment