Saat saya pulang kampung kemarin, kebetulan saat itu adalah hari rabu abu, tanda dimulainya masa pra paskah. Apa itu pra paskah? Ya masa sebelum paskah :D. Sama seperti pra koso ya artinya sebelum koso (halah garing). Di rabu abu, saya pergi ke gereja, meskipun bukan di hari minggu. Salah satu hal yang khas dari perayaan rabu abu adalah pemberian tanda abu di dahi kita. CMIIW, kayaknya sih pemberian abu di dahi itu maksudnya sebagai lambang pertobatan.
Saya ingat dulu, waktu saya masih sekolah. Saya selalu berharap pastor yang menorehkan abu di dahi saya akan melakukannya dengan mantap. Jadi, saya bisa berderap masuk ke dalam kelas dengan dahi masih tampak jelas hitam kelam seperti habis ditendang kuda. Tujuan saya? Jelas pamer bahwa saya ini habis dari gereja lhooooo. Saya menikmati saat teman- teman saya bertanya kenapa dahi saya sehitam gagak begitu. Dan dengan bersemangat saya jadi bisa menjelaskan kenapa saya kok tumben- tumbennya suci dan pergi ke gereja. Pokoknya saya pingin semua orang melihat bahwa saya punya tanda abu. Anda menganggap saya konyol dan sombong? Ah sampai sekarang saya masih sering lihat juga kok orang yang hendak berdoa atau beribadat pakai acara menulis status di FB, biar seluruh dunia tahu bahwa ane ini alim lho, lihat nih ane mau berdoa. Mau berdoa saja pakai woro- woro.
Saat itu, saya datang ke misa dengan emak saya, Serafim, serta pembantu saya dan anaknya yang berusia 16 tahun. Saya sering lupa kalau pembantu saya itu juga orang kristen yang pergi ke gereja, jadi saat di rabu sore dia sudah rapi berdandan, saya bertanya dengan heran "Emang Yuk mau kemana?"
Masalahnya adalah, anak si Yuk yang namanya Umi ini terbelakang mental. Dan tampang serta bentuk fisiknya juga aduhai kurang indahnya. Saat suasana gereja sedang hening, mulailah si Umii mengeluarkan ocehan- ocehan nggak jelas. Kalau yang mengoceh itu seumur Sera, ya masih lucu lah. Tapi kalau yang mengoceh dengan nada membentak kayak kucing lagi beranak ini adalah anak abg dengan gigi tonggos dan ekspresi wajah tidak normal, ya mulailah orang- orang melirik. Saya juga ikut melirik sebal dan beberapa kali meletakkan tangan saya di depan bibir menyuruh diam.
Orang yang duduk di sebelah si Umi adalah pasangan muda yang istrinya sedang hamil. Beberapa kali mereka melayangkan pandangan dengan tatapan gimana gitu ke arah Umi. Bernyanyi dengan lantang dan berdoa dengan keras, semua orang juga bisa. Gampang atuh. Menyebut nama Tuhan berulang kali dengan mata terpejam dan telapak tangan ditengadahkan ke atas dengan wajah tampak sakaw juga gampang. Kelihatan suci mah gampang urusannya. Tetapi bertahan tetap duduk dan memusatkan perhatian pada Pastor yang sedang berkotbah, saat duduk di samping seorang idiot dengan badan kurus penuh bercak dan luka lecet, yang dari mulutnya setiap beberapa menit terlontar gerutuan Eeeeee atau Awaawawawa dan air liurnya bertebaran, nah itu barulah ujian iman yang sesungguhnya.
Apakah anda sudi menjabat tangan si idiot yang bocel dan penuh liur? Apakah anda takut keidiotannya menular ke jabang bayi di kandungan? Apakah anda terganggu dengan celotehannya yang tidak sedap didengar? Saya, tentu saja juga jengkel mendengar suaranya si Umi. Pingin saya selotip saja mulutnya. Gimana bisa beribadah dengan khusuk kalau saya harus mendengar suaranya si bocah idiot ini?
Tetapi saya terbayang kalau pada detik itu kebetulan saya dan si Umi sama- sama dicabut nyawanya di dalam gereja misalnya, saya kok curiga bahwa dia yang bakal masuk surga dan saya yang bakal berbagi tempat dengan Hitler di neraka. Sederhana saja, Umi datang ke gereja dengan hati gembira dan dia menikmati nyanyian pujian yang didendangkan, walau dengan gaya idiotnya. Sementara saya, sibuk merengut karena terpaksa mendengar celotehannya si Umi. Boro- boro mendengarkan khotbahnya romo, wong saya sibuk mendelik ke arah si Umi. Si Umi yang bodoh, yang bungkring, yang nggak berguna, yang miskin, yang selalu berceloteh dengan idiot. Umi, Umi....
Selama di gereja, pastinya banyak gangguan yang membuat kekhusyukan saya berkurang. Balita disebelah saya merengek terus. Simbah di depan saya bersin terus. Cowok di sebelah saya cakep banget. Pembaca liturginya membaca alkitab seperti orang yang nggak dikasih makan tujuh hari. Dan anggota koornya menyanyi dengan cengkok ala kaset kesiram air mendidih.
Saya bisa memilih merengut dan menyalahkan mereka karena mengganggu ibadat saya. Seperti yang dilakukan seorang ibu yang saya tahu sangat aktif datang ke gereja dan rajin melakukan pelayanan. Dan sepanjang ibadah, dia sibuk mengomentari koor yang sumbang, pembaca alkitab yang nggremeng, dan bahkan sempat- sempatnya mengomentari seorang simbah tua di bangku depan yang kalau berdoa selalu dengan suara keras dan telat banget (orang lain sudah selesai berdoa, si simbah baru sampai baris ketiga).
Umi.. Umi, kalau saya yang normal, yang pinter, yang ganep, menyalahkanmu atas ketidakkhusyukan ibadat saya, bagaimana saya bisa mengharapkan surga yah..... Sama seperti menyalahkan pembaca kitab yang parau, yang membuat saya tidak bisa dengan khusyuk meresapi firman Tuhan. Sama seperti menyalahkan saudara yang mengajak berpesta di hari Minggu saat saya seharusnya ke Gereja (emang saya nggak bisa nolak?). Godaan itu akan selalu ada, entah berupa si Umi yang idiot atau si Adam Levine yang berpose telanjang di majalah Vogue yang bikin saya ngiler berhari- hari.
Menyalahkan si godaan sebagai penyebab saya gagal menjadi orang suci, itu tolol pada tingkat yang terendah. Bukannya dunia ini adalah panggung godaan?
![]() |
| Ya, saya menyalahkanmu Alexander Skarsgard, karena sudah memberikan pikiran kotor ke otak saya!!! |

Haduh fotonya Alexander Skarsgard emg distracting bgt mbak..bikin mupeng :D *out of topic* hihihi ;)
ReplyDelete