Monday 30 July 2012

My Monday Note -- Three months to go tu summer, DOH!


Musim panas di Australia. Bikini dan hotpants bertebaran di segala penjuru. Okhi sudah siap dengan kacamata hitamnya, dengan cengiran jumawa tak lepas dari mulutnya. Tujuan kami hari itu: St. Kilda Beach, pantai terpopuler di Melbourne, walau bukannya yang terindah. Kami memarkir mobil di kantornya Okhi, dan melanjutkan perjalanan dengan trem. Di dalam trem yang menuju ke pantai, mayoritas penumpang sibuk mengoleskan sunblock, atau membenahi tali bikini yang melorot, atau berciuman mesra sambil tangan yang lain sibuk mengelap keringat yang bercucuran karena panasnya udara.

Semuanya berjalan dengan normal dan lancar. Semua orang sibuk dengan urusan masing- masing. Tidak ada yang repot mengurusi urusan orang lain atau memandangi baju orang yang melorot, apalagi iseng bersuit- suit melihat kaki- kaki jenjang bertaburan di segala penjuru. Okhi duduk dalam damai dalam balutan kaca mata hitam pekatnya, yang entah kenapa selalu dikenakannya selama musim panas. Sera sudah tertidur dengan nyenyak di strolernya. Kemudian, trem berhenti dan pintu trem membuka. Beberapa penumpang melangkah turun, digantikan oleh para calon penumpang yang sedari tadi menunggu di halte.

Tadinya, bangku di depan kami diduduki dua orang cewek kuliahan dengan baju yang saya yakin berukuran lebih kecil daripada bajunya Serafim. Setelah trem berhenti, bangku tersebut diisi oleh dua orang cowok amat sangat tampan. Yang satu berambut cokelat dengan bulu dada yang lebih lebat daripada bulu dadanya anjing saya. Tampangnya mengingatkan saya pada Keith Urban, suaminya si Nicole Kidman. Cowok yang satunya lagi berambut pirang, berwajah dingin yang hot (if you know what I mean) dengan badan bak pahatan Dewa Yunani, yah seperti batu menhirnya si Obelisk gitu deh.

Saya terkagum- kagum dan setengah meratap kenapa bukan mereka saja yang menjadi suami saya. Dan kemudian mereka duduk di hadapan kami, mengobrol santai dan mulai berciuman dengan mesra. Mata saya melebar di balik kacamata hitam, terpesona akan pemandangan di depan mata saya. Dan kemudian saya menoleh ke samping saya dan nyaris tersedak melihat ekspresinya si Okhi. Merana sekali ekspresinya suami saya.


Itulah Melbourne. Disini everybody can kiss in public, sementara di Jakarta everybody can pee in public. Asyik dong bisa melihat orang ciuman? Ya asyik kalau kebetulan preferensi seksual nya serupa dengan kita. Kalau kebetulan yang berciuman cowok sama cowok, ya si Okhi menderita sementara saya mendapatkan kebahagiaan yang dobel- dobel. Giliran yang memadu bibir adalah cewek sama cewek, ya saya yang eneg dan Okhi yang meneteskan air liur. Kalau yang berciuman sepasang manula, ya kami berdua yang tersipu- sipu.

Selain permasalahan cium mencium, hal yang membuat saya agak tertegun- tegun di awal kedatangan saya kesini adalah soal sapa menyapa dan basa basi wizi wazi. Anda pikir orang Indonesia senang berbasa- basi? Try australian. Butuh waktu beberapa saat sebelum saya bisa membiasakan diri dan tidak tergagap- gagap menjawab saat semua orang, mulai dari kasir di toko hingga pemilik anjing yang berpapasan di jalan menyapa "How is it going?" Saya benar- benar harus bekerja keras dengan kemampuan saya untuk ber-small chat dengan semua orang.

How is it going?
* Great, and how are you today?
Very good. It's very cold today, isn't it?
* I know! And it will be even worse tomorrow!
Really? It is officially winter now, isn't it?

and go on and go on. Dan ini terjadi di kasir supermarket saat saya sekedar ingin membayar apel seharga dua dolar.

Dan tentu saja saya terbiasa berbahasa Inggris ala Amerika, sehingga saat seseorang menanyakan kabar saya, saya akan menjawab "I'm fine, and you?" Yeah, no one understand apa maksud pertanyaan saya "And you?" Dan tentu saja saya terbiasa meminta sesuatu dengan "Can you help me with this?" Sialnya, sebagai negara persemakmuran Inggris, orang- orang disini menganggap kata Can itu tidak sopan. Seharusnya saya menggunakan bahasa Inggris kromo inggil "Could you please" atau "Would you mind." Seorang sopir trem sempat bertengkar dengan penumpangnya yang orang Asia, karena si penumpang meminta tolong dengan kata- kata Can dan menurut si sopir tu penumpang tidak sopan.

Seperti lazimnya semua negara, di Australia juga terdapat beberapa anekdot yang populer untuk dipakai. Si Okhi sudah lebih terbiasa dengan aneka ungkapan dan anekdot yang ada disini, seperti "I'm not teaching you to suck egg." Suami saya yang gagah berani kemudian ingin juga dong berpartisipasi untuk mengucapkan anekdot. Suatu kali bosnya si Okhi mengirimkan SMS, bertanya bagaimana liburannya si Okhi ke gunung salju. Dengan pede si Okhi membalas SMS si bos dengan anekdot yang menurutnya baru saja didapatnya dari tabloid "I'm Larry," yang artinya "Sangat senang dan bahagia." Tak dinyana si bos kemudian mengirimkan sms lagi, meminta maaf karena sudah salah mengirimkan sms ke nomer hapenya orang lain. Bingunglah Okhi. Dan selidik punya selidik, si bos berpikir bahwa alih- alih mengirimkan sms ke nomer anak buahnya yang bernama Okhi, ia telah mengirimkan sms ke seseorang asing yang bernama Larry. Karena sesungguhnya anekdot yang tepat adalah I'm as happy as Larry, bukannya I'm Larry.... And my husband is the brain of his family!Doh.

Sementara di Jakarta saya mengenal banyak musim; musim duku, musim jambu, musim rambutan, di Melbourne hanya terdapat empat musim. Banyak orang yang bertanya- tanya kepada saya, enak nggak sih bisa merasakan musim dingin, semi, dan gugur yang tidak ada di Indonesia? Hm, menurut saya sih ada nggak enaknya dan ada enaknya. Enaknya dengan musim yang berbeda, gaya bajunya bisa berganti- ganti dong. Kalau dulu di Jakarta saya memakai sepatu boot setinggi lutut, bisa- bisa saya dituduh sebagai tukang bersih- bersih gorong- gorong. Lha ngapain amat panas- panas pakai sepatu boot? Disini, selama musim dingin semua orang bisa bergaya dengan aneka jas, jaket tebal, topi kupluk, sarung tangan dan sepatu boot. Kayak di pilem- pilem mafia gitu.

Saat musim semi menghampiri, dengan cuaca yang semilir, mulailah semua orang memakai jaket tipis dan menanggalkan baju empat lapisnya. Sementara di musim panas, mulailah semua makhluk hidup menggunakan aneka baju nggak niat pakai. Dulu saya sempat heran juga karena begitu musim panas tiba, semua orang langsung dengan bergegas menanggalkan semua bajunya. Tetapi sekarang, setelah berbulan- bulan terkungkung dalam kebekuan jiwa dan raga, setelah berbulan- bulan harus bergegas menyalakan pemanas untuk menghangatkan bokong yang sudah meng-gangren, setelah berbulan- bulan tidur dengan balutan kaus kaki sementara lingerie seksi teronggok tak terpakai di sudut lemari, saya jadinya bisa mengerti kenapa banyak penduduk Melbourne yang kalap untuk menanggalkan bajunya saat matahari bersinar dengan indahnya. Karena bisa keluar rumah tanpa harus melilitkan syal dan mantel itu adalah suatu kemewahan yang jarang terjadi.

Jadi enak dong banyak pemandangan aduhai selama musim panas? Iya juga sih. Makanya agenda wajibnya si Okhi di musim panas adalah menaiki trem yang menuju ke arah pantai. Orang Melbourne tidak percaya pada konsep memakai baju biasa selama perjalanan menuju pantai untuk kemudian menggantinya dengan bikini di pantai. Nope. Why should I? Kurang kerjaan banget. Nambah-nambahin bawaan saja. Mending langsung berbikini saja mulai dari depan pintu rumah sampai kembali lagi ke rumah.

Tetapi masalahnya, tidak hanya para seksiwan dan seksiwati yang dengan riang gembira mengenakan tiga buah segitiga di badannya (dua segitiga diatas, satu dibawah), tetapi semua orang. Mulai dari yang sebungkring ikan teri hingga yang bobot tubuhnya bisa membuat ikan paus minder. Mulai dari yang kulitnya semulus pantat bayi, hingga yang bertekstur ala kulit buaya. Tidak ada urusannya lingkar pinggang dengan hak memakai bikini. Disini, orang memakai bikini untuk menyenangkan hatinya sendiri, untuk menikmati terpaan matahari di kulitnya yang tertutup mantel selama setengah tahun. Masalah matanya si Okhi belekan karena terpaksa melihat dada keriput seorang nenek yang tampak jelas dibalik baju transparannya, ya itu urusannya Okhi sendiri. Siapa suruh duduk di sebelahnya si nenek, huehehehe.

Note: tetapi sampai hari ini saya masih tetap terkagum- kagum pada para siswi SMA, yang bahkan di musim dingin dengan suhu yang anjlok di bawah 5 derajat, dan mereka tetap dengan gagah berani hanya memakai seragam mini mereka. Kaki dan paha? Dibelai hembusan angin kutub, telanjang tanpa stocking wool lima lapis seperti yang saya kenakan. Kekuatan darah muda....


Gimana si Cekci nggak emosi, masak ke pantai harus pakai baju lengkap berlapis lima dengan syal??? Pantai ini, pantai!!!!

3 comments:

  1. Di negeri kita matahari bukan suatu kemewahan. Setiap hari matahari bersinar dengan genitnya bahkan kadang terasa liar saking panasnya. Maka wajarlah kalau yg jarang menemukan matahari ingin menikmati sepuasnya.

    ReplyDelete
  2. okiiiikkkk..... kirimin foto foto yang di hape doonngggg...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua foto kurang senonoh sudah disita Ttd. Nyonya Okhi

      Delete