Tetapi yang mungkin anda tidak percaya, saya sering mendengar cerita dan bahkan mengalami sendiri beberapa kali, bahwa wisatawan asal Indonesia banyak yang sedikit kecewa saat berkunjung ke kota ini. Nggak jelek sih, hanya kok ya tidak se-WOW yang dibayangkan. Bulan lalu, saya mendengar cerita seorang teman mahasiswa yang sampai menangis karena jengkel saat keluarganya datang berkunjung ke Melbourne. Dengan bersemangat ia mengajak keluarganya ke pantai, yang menghasilkan komentar “Masih bagusan pantai di Bali ya.”
Hanya berpegang pada keyakinan "Semua diciptakan Tuhan dengan sempurna" untuk mencegah bunuh diri setiap habis berkaca
Monday 27 August 2012
My Monday Note -- Kota Ternyaman, Not Necessarily Ter-WOW
Setelah satu tahun merasakan tinggal di Melbourne, saya tentu harus bersyukur karena telah memilih kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Abaikan cuaca Melbourne yang se-moody abege PMS dan harga rambutan yang dua dolar per biji, ibukota Victoria ini sangatlah menyenangkan. Entah sudah berapa kali saya mendengar cerita para mahasiswa disini yang jadinya sangat kerasan dan enggan pulang, atau anak- anak mereka yang tidak ingin meninggalkan SD nya disini. Jadi, saya tidak protes juga saat tahun ini Melbourne dianugerahi gelar The Most Liveable City in the world, kota ternyaman di dunia. Mengalahkan Viena, Toronto dan bahkan Syndey tetangganya.
Monday 20 August 2012
Monday 13 August 2012
My Monday Note -- Satu Bab Yang Teramat Mudah
Menjelang minggu final pada tayangan Masterchef Australia. Salah seorang peserta mengalami semacam mental breakdown. Rindu rumah yang teramat sangat. Berbulan- bulan terisolasi, jauh dari rumah dan semua orang yang disayangi, serta setiap hari selalu bersaing dan berkompetisi dalam ajang lomba masak- memasak ini membuat seorang peserta berada di titik jenuh. Dan ingin menyerah saja. Padahal minggu final sudah di depan mata, sedikit lagi si kontestan ini sudah akan tiba di garis akhir.
Mendengar penuturan si kontestan, seorang juri kemudian menceritakan kisah seorang pelari maraton yang pernah didengarnya. Pada suatu titik, sesudah berlari berkilo- kilometer jauhnya, si pelari akan merasakan bahwa ia sudah lelah, tenaganya sudah terkuras habis dan ia merasa tidak mampu untuk melanjutkan (dalam kasus si pelari, mungkin sesudah ia berlari sejauh 19,5 kilometer. Dalam kasus saya, ya sesudah berlari 90 meter lah).
Titik dimana si pelari benar- benar merasa sudah kehabisan tenaga dan siap untuk menyerah, itulah saat penentu. Bila pada titik itu ia mulai melambatkan langkah atau menghentikan larinya, maka selesai sudah. Pada titik siap menyerah itu, kata si pelari, maka kemudian ia akan menggertakkan gigi dan keep going. Think nothing. Pikiranmu hanya akan kosong, kamu mengabaikan tubuhmu yang lelah dan jantungmu yang siap meledak. You just keep going. Sampai kamu mencapai garis finis.
Mendengar cerita si juri mengenai pelari maraton yang berada pada titik “I can’t do it any longer, I have no energy left” ini, saya berpikir. Iya ya, seberapa sering dalam hidup ini kita berada dalam situasi yang sudah begitu melelahkan dan memenatkan. Sudah nggak tahan dan ingin give up saja.
Semua orang pasti memiliki ceritanya masing- masing. Saya pun pernah merasakan titik ingin menyerah ini beberapa kali; dalam pekerjaan, dalam membesarkan si genduk, dan saat hijrah ke negara yang baru.
Titik dimana si pelari benar- benar merasa sudah kehabisan tenaga dan siap untuk menyerah, itulah saat penentu. Bila pada titik itu ia mulai melambatkan langkah atau menghentikan larinya, maka selesai sudah. Pada titik siap menyerah itu, kata si pelari, maka kemudian ia akan menggertakkan gigi dan keep going. Think nothing. Pikiranmu hanya akan kosong, kamu mengabaikan tubuhmu yang lelah dan jantungmu yang siap meledak. You just keep going. Sampai kamu mencapai garis finis.
Mendengar cerita si juri mengenai pelari maraton yang berada pada titik “I can’t do it any longer, I have no energy left” ini, saya berpikir. Iya ya, seberapa sering dalam hidup ini kita berada dalam situasi yang sudah begitu melelahkan dan memenatkan. Sudah nggak tahan dan ingin give up saja.
Semua orang pasti memiliki ceritanya masing- masing. Saya pun pernah merasakan titik ingin menyerah ini beberapa kali; dalam pekerjaan, dalam membesarkan si genduk, dan saat hijrah ke negara yang baru.
Monday 6 August 2012
My Monday Note -- Menjadi Orang Tua
Hari rabu adalah hari favorit bagi Serafim. Itu adalah harinya Bumble Bee Class, kelas dansa dansi bagi balita. Dengan riang Sera berderap memasuki kelas sambil menyeret boneka lebah maskot kelas itu. Sambil menunggu kelas dimulai, saya menyapa seorang ibu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ternyata, ini adalah pertama kalinya si ibu membawa anak balitanya ke kelas ini. Si balita tampak malu dan mendekam ketakutan di pangkuan ibunya, lazimnya kelakuan balita di lingkungan baru. Melihat anaknya menolak turun dari gendongan dan menari mengikuti si guru seperti anak lainnya, si ibu sedikit kesal juga. Saya menenangkannya dan berkata bahwa itu wajar, it takes time for them to adapt with the class. "Dulu anakku juga nggak mau kok ikut menari kayak gitu," kata saya. "Berapa lama sampai dia bisa menikmati kelas ini?" tanya si ibu sambil memperhatikan Sera yang sedang duduk di depan si ibu guru, mendengarkan dengan tekun cerita tentang Daddy Duck. "Three terms," jawab saya, sambil mencoba mengingat- ingat bahwa anak saya yang penakut itu membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk bisa merasa nyaman dengan kelasnya.
"What? That long? I will only give it three weeks, and if she still like this, I will drop this class," jawab si ibu. Saat mendengar jawaban si ibu, saya merasa bangga pada diri saya. Kalau saja dulu saya hanya memberi Sera tenggat waktu tiga minggu alih- alih tiga term aka. sembilan bulan, maka saya tidak akan menyaksikan bahwa setelah satu tahun masa penuh penderitaan (mendengar Sera menangis sementara anak lain menyanyi), sekarang saya menyaksikan betapa bahagianya Sera di kelas musik ini. Betapa wajahnya langsung bersinar setiap saya menyebut Bumble Bee class.
Being a parent: bersedia bertahan SEDIKIT lebih lama, disaat seluruh dunia dan logika sudah berseru agar kita menyerah saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)