Monday 6 August 2012

My Monday Note -- Menjadi Orang Tua

Hari rabu adalah hari favorit bagi Serafim. Itu adalah harinya Bumble Bee Class, kelas dansa dansi bagi balita. Dengan riang Sera berderap memasuki kelas sambil menyeret boneka lebah maskot kelas itu. Sambil menunggu kelas dimulai, saya menyapa seorang ibu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ternyata, ini adalah pertama kalinya si ibu membawa anak balitanya ke kelas ini. Si balita tampak malu dan mendekam ketakutan di pangkuan ibunya, lazimnya kelakuan balita di lingkungan baru. Melihat anaknya menolak turun dari gendongan dan menari mengikuti si guru seperti anak lainnya, si ibu sedikit kesal juga. Saya menenangkannya dan berkata bahwa itu wajar, it takes time for them to adapt with the class. "Dulu anakku juga nggak mau kok ikut menari kayak gitu," kata saya. "Berapa lama sampai dia bisa menikmati kelas ini?" tanya si ibu sambil memperhatikan Sera yang sedang duduk di depan si ibu guru, mendengarkan dengan tekun cerita tentang Daddy Duck. "Three terms," jawab saya, sambil mencoba mengingat- ingat bahwa anak saya yang penakut itu membutuhkan waktu hampir satu tahun untuk bisa merasa nyaman dengan kelasnya. 

"What? That long? I will only give it three weeks, and if she still like this, I will drop this class," jawab si ibu. Saat mendengar jawaban si ibu, saya merasa bangga pada diri saya. Kalau saja dulu saya hanya memberi Sera tenggat waktu tiga minggu alih- alih tiga term aka. sembilan bulan, maka saya tidak akan menyaksikan bahwa setelah satu tahun masa penuh penderitaan (mendengar Sera menangis sementara anak lain menyanyi), sekarang saya menyaksikan betapa bahagianya Sera di kelas musik ini. Betapa wajahnya langsung bersinar setiap saya menyebut Bumble Bee class. 

Being a parent: bersedia bertahan SEDIKIT lebih lama, disaat seluruh dunia dan logika sudah berseru agar kita menyerah saja.

Hari senin minggu yang lalu, untuk pertama kalinya saya mendapatkan lambaian dan ciuman dari Sera saat saya meninggalkannya di Childcare. A huge achievement bagi seorang anak yang takut pada orang asing terutama bule dan tidak bisa ditinggalkan emaknya barang sejenakpun. Sebelum mengalami 'keajaiban dunia' itu, selama dua bulan saya harus menyaksikan Sera menangis meraung- raung setiap saya hendak meninggalkannya di childcare. Satu minggu setelah saya mulai menitipkan Sera di childcare, kurang lebih dua jam setaip harinya, pihak Childcare berkata bahwa saya bisa memulai menitipkan Sera seharian penuh. Saya sedikit ragu sebenarnya, tetapi mereka meyakinkan bahwa Sera akan baik- baik saja.

Maka mulailah di minggu kedua saya menitipkan Sera selama enam jam dalam sehari. Hari pertama mencoba meninggalkannya lebih lama, saat kemudian saya menjemputnya, saya melihat wajah Sera dipenuhi air mata dan ingus. Menurut penjaganya, Sera sangat un-settle, dia tidak mau tidur dan jadinya kelelahan dan tak berhenti menangis. Langsung saya putuskan bahwa saya akan menitipkan Sera hanya selama tiga jam setiap harinya, hingga ia benar- benar settle. Tidak ada tenggat waktu. Sera akan siap saat ia memutuskan ia sudah siap. Dua minggu kemudian, Sera sudah mulai settle, masih menangis tetapi sudah mulai menikmati. Penjaganya berkata bahwa Sera sepertinya sudah siap untuk dititipkan seharian penuh. Dengan yakin saya menampik pendapat penjaganya, dan berkata saya akan meneruskan pola ini sampai saya yakin Sera sudah siap.

Being a parent: bersedia mundur SEDIKIT lebih cepat, meskipun seluruh dunia akan menganggap kita lebay. Alasannya? Hanya karena insting dan naluri.

Suatu kali saya menjemput Sera di childcare. Ternyata para bocah sedang bermain di playground di halaman belakang childcare. Jadilah saya menunggu di ruang depan sampai acara bermain mereka selesai. Dari pintu kaca, saya bisa melihat pemandangan di playground. Anak saya yang pemalu berdiri di pinggir taman, memperhatikan kesibukan di sekitarnya. Kemudian, seorang anak cowok mendorong si Sera sampai jatuh terduduk. Tampaknya penjaganya tidak melihat kejadian itu. Sera tetap terduduk, tidak bangkit berdiri, tidak membalas, tidak menangis. Hanya melongo bingung dengan tatapan "What did I do? Kenapa aku didorong?"

Saya menahan diri saya untuk segera bergegas menghambur ke arah gadis cilik saya. Menahan diri untuk tidak menjungkalkan si anak cowok dan menggantungnya terbalik di dahan pohon dan memelorot celananya. Toh Sera tidak terluka, toh anak itu tidak mengulangi lagi perbuatannya. 

Being a parent: bersedia melawan insting untuk segera bangkit membela gadis kecil saya dari dunia yang kejam, atau anak cowok yang minta digampar

Suatu hari, seorang ibu tua berkomentar dengan judes saat Sera menjabat tangannya dengan tangan kiri. Dia berusaha memaksa Sera untuk menggunakan tangan kanannya. Dan kemudian entah sudah berapa kali orang berkomentar saat Sera makan dengan menggunakan tangan kirinya. Saya bergeming dan dengan galak menggonggong ke arah siapa saja yang berusaha mengintervensi Sera saat menggunakan kedua belah tangannya.

Being a parent: bersedia mengijinkan si anak untuk melakukan sesuatu yang tidak disetujui dunia, walau dengan resiko dituduh tidak mengajarkan sopan santun 

Suatu siang, di tengah- tengah kerumunan keluarga dan kerabat, Sera memutuskan bahwa ia tidak bersedia mengembalikan sepatunya ke rak sepatu. Saat saya memintanya meletakkan kembali sepatu yang dipakainya ke rak, ia mulai menolak, menangis dan meronta. Bermenit- menit lamanya saya menunggu Sera sambil meyodorkan sepatu yang harus dikembalikannya. Setelah drama lima menit, sambil terisak- isak kemudian Sera beranjak mengembalikan sepatunya. Kalau saja tatapan tajam dan gumaman ketidaksetujuan bisa membunuh, saya pasti sudah tergeletak berdarah- darah sekarat.

Being a parent: berkeras memaksakan norma pada si anak, walau dengan resiko dituduh ibu kandung yang sekejam ibu tiri

Selama masa kehamilan Sera, saya membuka lebar- lebar mata dan telinga. Saya membuka ratusan laman, meng klik ribuan link, bertanya kepada puluhan orang, mengikuti berbagai kelas persiapan sebelum membuat keputusan masalah pemberian ASI dan makanan tambahan. Setelah saya membuat keputusan, saya menutup rapat- rapat mata dan telinga terhadap semua pendapat sumbang yang menyerang keputusan saya.

Being a parent: Membuka telinga sebelum membuat keputusan, menutupnya rapat- rapat saat menjalankan keputusan 

Bertahan sedikit lebih lama, Mundur sedikit lebih cepat, 
Bertindak seturut insting, Berusaha melawan insting 
Membebaskan dari norma, Berkeras menerapkan norma
Membuka telinga sebelum memutuskan, Menutupnya rapat- rapat sesudahnya

Karena menjadi orang tua berarti,
bersiap memiliki nasib yang sama dengan presiden. Apapun keputusanmu, kamu akan selalu salah.
bersiap berbeda pendapat dengan dunia.   
bersiap menulikan telinga dan mengeraskan hati

Karena sebagai orang tua berarti saya,
mengenal anak saya lebih baik dari semua orang lain,
menyadari bahwa melindungi anak saya adalah penting, tetapi mempersiapkannya menghadapi dunia adalah lebih penting lagi.

Cause things grow differently





No comments:

Post a Comment