Tetapi yang mungkin anda tidak percaya, saya sering mendengar cerita dan bahkan mengalami sendiri beberapa kali, bahwa wisatawan asal Indonesia banyak yang sedikit kecewa saat berkunjung ke kota ini. Nggak jelek sih, hanya kok ya tidak se-WOW yang dibayangkan. Bulan lalu, saya mendengar cerita seorang teman mahasiswa yang sampai menangis karena jengkel saat keluarganya datang berkunjung ke Melbourne. Dengan bersemangat ia mengajak keluarganya ke pantai, yang menghasilkan komentar “Masih bagusan pantai di Bali ya.”
Kemudian ia mengajak mereka ke area perbukitan, yang menimbulkan komentar “Mirip sama Puncak.” Dan tentu saja pertanyaan paling krusial “Disini nggak ada bangunan apa gitu yang terkenal, yang bisa jadi petunjuk kalau aku lagi di Melbourne?” Maksudnya tentu saja landmark semacam menara Eiffel atau Opera House, yang dengan berpose di depannya saja maka semua teman Facebook sudah ngeh bahwa si ono sedang berada di Paris dan Sydney.
Saya sih merasa banyak faktor yang menyebabkan kota saya yang indah dan nyaman ini sering dianggap kurang wow oleh turis. Alamnya kalah menakjubkan dibanding Indonesia, gedung- gedungnya kalah tua dan klasik dibandingkan Eropa dan mall serta pusat perbelanjaannya tidak bisa dibandingkan dengan Singapura. Jadi memang kota ini terlalu humble untuk seorang bocah petualang atau tipe turis tipikal Indonesia; berfoto dan berbelanja.
Salah satu sisi Melbourne yang membuat saya nyaman adalah kesantaian dan kesederhanaannya. Mungkin seperti gambaran umum Australia yang laid back banget, yang nyantai orang- orangnya. Musim panas yang lalu, saat sedang berkendara saya melihat sebuah mobil yang mogok. Disini, kalau mobil mogok, ya langsung saja panggil asuransinya untuk menderek si mobil. Nah, sambil menunggu si mobil derek, sopir mobil yang mogok tadi, seorang cewek pirang bercelana pendek, memutuskan untuk menikmati hawa yang sedang asoy. Digelarnya kursi lipat yang diambilnya di bagasi, buka sebotol coke dingin, ambil majalah, pasang kacamata hitam, dan jadilah dia duduk berjemur bersantai- santai. Di pinggir jalan raya. Tepat di pinggir perempatan dimana banyak mobil berhenti di lampu merah.
Karena Okhi mulai bekerja di kantor pada pukul 09.00, maka ia akan berangkat dari rumah kami yang di daerah suburban berjarak 17 kilometer pada pukul delapan pagi. Biasanya, setengah jam kemudian dia sudah akan memarkir mobil di basement kantor. Pukul lima, pulanglah Okhi dan sampai di rumah pada pukul setengah enam lebih. Jarang sekali ada pekerjaan lembur. Saat Okhi di kantor, ya dia harus benar- benar serius bekerja. Orang Australia tidak terbiasa mengobrol santai ngalor ngidul selama jam kerja. Tapi, mereka juga tidak mengharapkan pegawainya untuk lembur- lembur berjamaah tanpa dibayar.
Pukul enam sore, kebanyakan toko sudah tutup. Hanya beberapa supermarket besar yang buka sampai agak malam atau malah 24 jam. Yang disebut mall, yah well, mall di klaten saja masih lebih megah. Pusat perbelanjaan disini mah cemen banget, hanya toko- toko retail besar dan beberapa toko pakaian, dan food court kecil. Hanya beberapa mall yang cukup besar untuk tidak malu bersaing dengan Jakarta. Tetapi karena pada dasarnya saya tidak doyan nge-mall, jalan- jalan mencuci mata dengan menyusuri toko demi toko, I don’t mind dengan kurangnya tempat berbelanja ini. Toh saya tidak membutuhkan mall untuk menghibur si Sera.
Kalau tidak ada mall yang adekuat, tidak ada timezone atau kidzania, lalu dimana saya harus menghibur si Sera selama akhir pekan? Well, Melbourne adalah kota yang sangat mahal, SANGAT MAHAL. Tetapi luckily, untuk urusan menghibur balita, this city is number one. Mau yang gratis, BUANYAK. Mau yang mahal juga banyak B-). Tetapi jumlah dan jenisnya beragam. Kalau para emak disini disurvey tempat wisata favorit untuk anaknya, saya yakin tidak ada yang menjawab mall sebagai pilihannya.
Saat cuaca sedang cerah dan cukup panas, saya akan mengepak anggur di tupperware, mebuatkan telur ceplok sebagai bekal untuk Sera, baju ganti, dan pergilah kami, menyetir selama 30 menit menuju Royal Botanic Garden, taman kota tertua yang sekelas dengan kebun raya bogor. Sesampainya disana, saya akan membuka gerbang kecil untuk menuju The Ian Potter Garden, taman kecil sumber kegembiraan bagi balita saya
Dan saat kami ingin sekedar bersantai- santai menghirup udara segar saat cuaca sedang berpihak pada kenyamanan manusia, tinggal gelar tikar dan jadilah berpiknik di taman terdekat
Pantai di Melbourne sangat jauh kurang indah bila dibandingkan pantai- pantai di Indonesia. Plus hanya nikmat untuk dinikmati di musim panas. Tetapi, semua pantai adalah gratis. Tidak ada ceritanya saya harus membayar tiket seperti untuk masuk ke ancol @.@ atau kalau menjelang senja diusir seperti teman saya di Kenjeran *karena tampangnya mesum. Pantai disini menyediakan hak dasar bagi setiap anak untuk bahagia; pasir, air, ombak, matahari dengan gratis tanpa batas waktu (hanya dibatasi cuaca).
Atau kebun binatang yang sumpeh lu kagak ada apa- apanya dibandingkan kebun binatang di Indonesia in term of koleksi binatangnya. Tetapi ditata baik dan nyaman untuk dijadikan tempat berjalan- jalan. Mahal sih masuk ke kebun binatang ini, 30 dolar sekali masuk, tetapi saya bisa membeli tiket berlangganan seharga 160 dolar untuk satu keluarga, bebas keluar masuk selama setahun di tiga kebun binatang di Victoria.
Kalau saja diusahakan, museum bisa menjadi tempat yang sangat menarik bagi anak- anak, mulai dari balita hingga manula. Melbourne Museum adalah contohnya. Ada bagian yang diperuntukkan bagi para penggemar serius sejarah dan sains, dengan layar besar yang menerangkan sejarah kota ini dengan detil. Biasanya pria dan wanita paruh baya yang akan duduk mendengarkan dengan tekun. Tetapi museum tidaklah berarti harus penuh hal serius dan ‘berilmu’, sama seperti belajar tidak melulu dengan duduk diam membaca buku.
Saya biasanya memulai penjelajahan museum dari bagian yang serius dulu. Sejarah kota Melbourne misalnya. Dan bahkan di bagian ini, terdapat replika rumah dan ruangan jaman baheula yang bisa dimasuki.
Tak berselang lama, mulai bosanlah Sera, dan kami harus berpindah ke bagian lain. Tentang bagian tubuh manusia. Banyak materi serius, tetapi tak ketinggalan hal- hal ringan bagi para pengunjung cilik. Seperti sekedar cermin yang bisa membuat pantulan bayangan aneh- aneh hingga alat pengukur berat dan tinggi badan.
Sayap bagian kanan museum saya sebut fun area. Ada ruang yang penuh diisi fosil aneka dinosaurus (siapa sih yang nggak suka T-rex) dan ruangan penuh hewan awetan. Panel- panel penuh tarantula dan ratusan kupu- kupu. Semua pameran, dilengkapi aneka tombol yang bila disentuh entah mengeluarkan bunyi atau gambar yang bergerak atau apalah. Sera membutuhkan beberapa saat sebelum puas memencet semua tombol.
Not to mention hutan tempat hiking yang berada di sebelah kampung
Saat hanya ingin sekedar makan siang tapi bosan makan di meja makan di rumah, tinggal menyetir sebentar, cari tempat enak, dan buka bekal. Segala ruang lapang agar si Sera bisa berbahagia berlari- lari kesana kemari dan melompat- lompat di genangan lumpur.
| Street Performance di daerah pinggir sungai |
So yes, kalau anda hanya sempat berkunjung ke satu kota di Australia, pergilah ke Sydney. Mereka lebih indah dan metropolitan dan glamor. Karena Melbourne itu seperti anggur mahal, semakin lama tinggal barulah semakin enak untuk dinikmati (langsung di-ban sama departemen pariwisatanya Victoria).
Kalau saya mengajak anak saya ke museum atau kebun binatang atau taman, itu sih biasa saja. Habis fasilitasnya memang berlimpah dan harganya murah meriah berhadiah. Kalau saya tidak mengajak anak saya ke mall ya nggak hebat, lha emangnya mall disini cemen adanya. Oleh sebab itu, saya menaruh respek pada para orang tua di Indonesia, yang dengan keterbatasan fasilitas dan sarana, dan mereka masih berusaha keras memperkenalkan aneka kegiatan yang menyenangkan untuk anaknya di luar pusat perbelanjaan.
Note: yak, semua foto keluarga lain saya comot tanpa ijin. Berani protes, pentung !!!!
Ayo sini, siapa punya ide kegiatan yang asyik dilakukan bareng si Sera di Jakarta atau Surabaya atau manalah di Indonesia? Saya mau pamer bahwa di Indonesia pun emak bapaknya bocah- bocah pada kreatif juga ^_^



Kebun bibit surabaya Mbak.....
ReplyDeleteLumayan ada perosotan, ayunan dll, ada perpustakaan mini, ada rusa-rusa, tulisannya sih dilarang memberi makan, tapi tepat di sebelahnya ada yang jual sayuran buat kasi makan si rusa2. ada arena outbondnya juga lho...
wahaha, jadi yang buta huruf yg jual sayuran atau yang beli sayuran dong? ^_^. Iya, aku denger2 surabaya sekarang lumayan membanggakan ya, banyak taman kotanya. Oke, noted kebun bibit surabaya, tengkyu tipsnya
Deletehuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.............kok isok keren gini tulisanmuuuu....!
ReplyDeleteYa kan menyesuaikan dengan tampang ane yang keren ini dong B-). Di-share dong kalau keren, kali2 ada yang mau nemenin jalan2 di Surabaya
DeletePlayground di Indo juga cukup banyak tapi bayar (di mall), kalau yang gratis harus adu otot agar kebagian main. Pantai juga ada yg gratis spt Kuta, Senggigi. Tapi untuk ke Bali/Mataram nya gak gratis.
ReplyDeleteMakjleb. Selama ini jalan ke mall mulu. Kudu nyari alternatif sebelum Aaqil gede nih *buka google*. Maturnuwun Mbakyu. :)
ReplyDeleteWaktu kemarin lagi pulkam, jatuhnya juga bawa Sera main ke mall juga mas, lha habis mau kemana lagi? Tapi ternyata ada juga sih tempat lain, asal emak bapaknya mau repot googling, nyetir agak jauh dengan perencanaan yg rada ribet. Nggak kayak nge-mall yg tinggal mancal mobil beres. Dan sebetulnya main di mall juga bukannya jelek sih, hanya kemarin aku kewalahan krn bahkan hanya sekedar jalan ke hypermarket aja bikin si Sera jadi so konsumtif. Minta jajan makan di luar, beli coklat dan permen (brengsek juga nih toko2, jajanan sama mainan anak sengaja dipajangdengan menggoda, sementara kl disini enggak sengaja dipamer2in gitu). Jadi I guess sisi paling negatifnya adl anak jadi konsumtif, jalan2 keluar identik dengan makan di luar dan beli mainan
DeleteKlo saya belakangan ini seneng bawa keluarga ke gelora bung karno (jkt), minggu atau sabtu pagi.
ReplyDeleteIsinya orang-orang olahraga lari pagi ngelilingin gbk. Sangat sederhana sih, Tapi cukup menghibur, karena biasanya ada rombongan ibu-ibu yang senam pagi (istri bisa join), atau kadang2 ada anak2 remaja sedang atraksi sepeda bmx, atau juga ada rombongan dari stasiun radio bikin acara on-air, dari metro-tv juga pernah. Ada anak usia sd-smp yg seliweran latihan sepatu roda (roll-skate?)
Walaupun kaya'nya belum bisa dihitung sebagai objek wisata, setidaknya kalau di gbk lumayan jadi alternatif selain ke mall yg udah pasti keluar duit, minimal parkirnya. Bandingkan dengan gbk, parkirnya seribu dua ribu (kalau pulangnya terlalu siang, bisa ga bayar, soalnya tukang parkirnya udah bubar duluan :P). Tambahannya, jajan ke mbok2 yg jualan pecel. Kalaupun mahal (misal mau dibanding2kan sama jualannya tetangga sekitar rumah yg lebih murah) setidaknya lebih ikhlas daripada ke mall, karena para mbok ini biasanya dari kalangan menengah ke bawah.
Mau yang keluar duit lebih (lima ribu rupiah), bisa ke taman krida loka. Saya baru sekali ke sini, dua hari yg lalu. Isinya jogging track sepanjang satu kilometer di tengah hutan kota. Tamannya berisi pohon-pohon tua, yg akar-akarnya segede lengan.
Waktu saya ke sana sih agak sepi, sekitar 5 - 10 orang yang berbarengan sedang jogging. Kalau sabtu minggu pastinya lebih rame.
Bagusnya, di sini (kridaloka) udah ada fasilitas kamar mandi. Kalau bawa perlengkapan mandi bisa sekalian mandi selesai olahraga.
Kurang bagusnya, kok rasanya saya ga mudah nemu informasi ini ya?
Jadi ingat salah seorang temen yg asli Jakarta dan skr tinggal di Melbourne cerita, pas dia pulkam kemarin, GBK adl satu2nya tempat yg cukup representatif untuk melakukan hobi jogingnya di Jakarta. Sebetulnya tempat2 kayak gini ini ya yang dibutuhin warga untuk menjadi pusat aktivitas (apalagi kl ada embak instruktur senam bercelana ketat ^^)
DeleteDan ya, beli di pedagang kecil itu lebih membuat happy daripada di retail besar atau resto waralaba. Cause we really help somebodies life...