Menjelang minggu final pada tayangan Masterchef Australia. Salah seorang peserta mengalami semacam mental breakdown. Rindu rumah yang teramat sangat. Berbulan- bulan terisolasi, jauh dari rumah dan semua orang yang disayangi, serta setiap hari selalu bersaing dan berkompetisi dalam ajang lomba masak- memasak ini membuat seorang peserta berada di titik jenuh. Dan ingin menyerah saja. Padahal minggu final sudah di depan mata, sedikit lagi si kontestan ini sudah akan tiba di garis akhir.
Mendengar penuturan si kontestan, seorang juri kemudian menceritakan kisah seorang pelari maraton yang pernah didengarnya. Pada suatu titik, sesudah berlari berkilo- kilometer jauhnya, si pelari akan merasakan bahwa ia sudah lelah, tenaganya sudah terkuras habis dan ia merasa tidak mampu untuk melanjutkan (dalam kasus si pelari, mungkin sesudah ia berlari sejauh 19,5 kilometer. Dalam kasus saya, ya sesudah berlari 90 meter lah).
Titik dimana si pelari benar- benar merasa sudah kehabisan tenaga dan siap untuk menyerah, itulah saat penentu. Bila pada titik itu ia mulai melambatkan langkah atau menghentikan larinya, maka selesai sudah. Pada titik siap menyerah itu, kata si pelari, maka kemudian ia akan menggertakkan gigi dan keep going. Think nothing. Pikiranmu hanya akan kosong, kamu mengabaikan tubuhmu yang lelah dan jantungmu yang siap meledak. You just keep going. Sampai kamu mencapai garis finis.
Mendengar cerita si juri mengenai pelari maraton yang berada pada titik “I can’t do it any longer, I have no energy left” ini, saya berpikir. Iya ya, seberapa sering dalam hidup ini kita berada dalam situasi yang sudah begitu melelahkan dan memenatkan. Sudah nggak tahan dan ingin give up saja.
Semua orang pasti memiliki ceritanya masing- masing. Saya pun pernah merasakan titik ingin menyerah ini beberapa kali; dalam pekerjaan, dalam membesarkan si genduk, dan saat hijrah ke negara yang baru.
Titik dimana si pelari benar- benar merasa sudah kehabisan tenaga dan siap untuk menyerah, itulah saat penentu. Bila pada titik itu ia mulai melambatkan langkah atau menghentikan larinya, maka selesai sudah. Pada titik siap menyerah itu, kata si pelari, maka kemudian ia akan menggertakkan gigi dan keep going. Think nothing. Pikiranmu hanya akan kosong, kamu mengabaikan tubuhmu yang lelah dan jantungmu yang siap meledak. You just keep going. Sampai kamu mencapai garis finis.
Mendengar cerita si juri mengenai pelari maraton yang berada pada titik “I can’t do it any longer, I have no energy left” ini, saya berpikir. Iya ya, seberapa sering dalam hidup ini kita berada dalam situasi yang sudah begitu melelahkan dan memenatkan. Sudah nggak tahan dan ingin give up saja.
Semua orang pasti memiliki ceritanya masing- masing. Saya pun pernah merasakan titik ingin menyerah ini beberapa kali; dalam pekerjaan, dalam membesarkan si genduk, dan saat hijrah ke negara yang baru.
Salah satu pengalaman dengan titik siap menyerah ini adalah saat saya bergabung menjadi pegawai negeri sipil. Berasal dari latar belakang swasta, saya sungguh tergoda untuk memanggul senjata api otomatis di bahu saya dan mulai menembaki semua PNS di kantor saya saat itu. Di perusahaan swasta tempat saya bekerja sebelumnya, tentu saya juga sering merasakan spaneng dan stres. Saya berkeringat dingin saat target penjualan tidak tercapai, jantung saya dag dig dug duer saat para supplier memberitakan bahwa mereka tidak bisa mencetak label karena pemadaman listrik melulu. Dan betapa seringnya saya merebahkan diri dengan penat di kubikel kerja saya pada pukul sembilan malam, berusaha mengais- ngais otak untuk menemukan alasan kenapa hasil survey yang dilakukan meleset jauh dari perkiraan.
Tetapi semua stres itu terkait dengan pekerjaan dan tugas saya. Capek pikiran dan tenaga namanya. Dan saat saya kemudian beralih menjadi seorang umar bakri, bukan pikiran dan tenaga yang lelah, tetapi hati saya. Dikritik karena saya lambat dalam membuat laporan misalnya, meskipun jengkel saya bisa menerima. Tetapi disindir- sindir karena dianggap tidak sopan karena kok ya anak baru berani duduk di kursi kepala seksi (padahal kepala seksinya yang jelas- jelas memerintahkan saya duduk disitu membantunya mengetik selama dia tugas luar), itu membuat lelah hati. Punya bos tukang perintah itu bikin jengkel, tetapi saat semua orang yang lebih senior aka. sekedar sudah bergabung 24 jam lebih lama dari saya merasa boleh bebas main tunjuk dan perintah untuk aneka tugas gak jelas, itu beyond logic. Di swasta, sejak hari pertama bekerja saya sudah diserahi lusinan tugas untuk langsung dipelajari. Di pemerintahan, berminggu- minggu saya dianggurin, tetapi dimarahi saat tampak menganggur.
Setiap pagi saya berangkat ke kantor dengan malas. Dan setiap sore, saya pulang dari kantor dengan wajah membara karena marah. Disalahkan dan disindir untuk hal- hal yang tidak terkait kinerja, oleh orang- orang yang juga nggak jelas apa sih statusnya di kantor itu, sungguh membuat hati saya panas. Disalah- salahkan untuk hal yang bahkan saya tidak tahu duduk perkaranya. Pada titik itu, saya siap menyerah. Bodo amatlah, emang gue kagak bisa cari kerja yang lebih bermutu apa? Gaji nggak sampai dua juta ini, ngapain juga harus dipertahankan?
Tetapi akhirnya saya memutuskan bertahan. Harga diri saya terusik. Kalaupun saya memutuskan untuk keluar, maka itu karena saya memang ingin keluar atau karena ada pekerjaan lain yang lebih baik. I won’t give up hanya gara- gara segerombolan cecunguk nyinyir tukang fitnah. Dan setelah beberapa bulan berlalu, saya mendapatkan imbalannya. My boss liked me, my big boss liked me, my real colleagues respected me, dan saya sepenuhnya tidak mempedulikan yang the rest. Setiap pagi saya berjalan masuk ke ruangan dengan cengiran di bibir, menyapa bos saya, menyapa rekan- rekan saya, dan sepenuhnya mengabaikan sisanya. Mereka membenci saya mungkin, tetapi I couldn’t care less.
Salah satu titik lainnya dimana saya siap menyerah terkait dengan makhluk 70 senti yang bisa bikin emak bapaknya pusing kepala. Sejak awal saya bertekad untuk menyusui Sera secara full. Dan bulan pertama semenjak kelahirannya, benar- benar berasa neraka bagi saya. Saya tidak merasakan yang namanya kebahagiaan dan kedamaian saat menyusui bayi saya. Setiap Sera membuka suaranya berteriak minta disusui, saya selalu ingin menangis juga. Kedua puting saya babak belur parah sekali. Sakitnya minta ampun. Dan bayi saya rakusnya minta ampun. Setiap 30 menit dia minta disusui. Ditambah lagi Sera was a very bad sleeper. Saya hanya bisa tidur dengan tenang antara jam 7 hingga jam 10 malam. Sehabis itu, mulailah acara bergadang sambil menggigit bibir karena kesakitan.
Pada titik itu, saya siap menyerah. Tenaga saya terkuras dan saya sungguh kesakitan. Tetapi kemudian saya memutuskan untuk bertahan. Karena membayangkan akan menyusui selama dua tahun hanya memperburuk perasaan, akhirnya setiap malam saya hanya berkata pada diri saya sendiri “One more night. Satu malam lagi saja. Kalau sehabis itu saya ingin menyerah, maka ya sudah.” Dan kemudian malam berikutnya kembali mengulang janji yang sama “Satu malam ini saja. Besok, saya baru akan menyerah.” Dan setelah dua bulan berlalu, hidup menjadi lebih mudah.
Dan tentu saja saat dimana saya ingin menyerah adalah saat saya memutuskan untuk berpindah ke Australia. Dua minggu pertama berasa neraka. Saya kesepian, tanpa teman atau seseorang untuk sekedar diajak mengobrol. Bayi saya juga ternyata stres hingga ia menolak makan, rewel dan terus menerus minta digendong. Sekedar bepergian untuk berbelanja pun sulit, karena kami belum mempunyai mobil sementara bayi saya tidaklah terbiasa naik angkutan umum. Tidak seperti para bayi di sini yang dengan tenang duduk di atas stroler, Sera memutuskan untuk ribut berteriak setiap naik bis atau trem. Belum lagi kemudian percobaan dengan childcare berakhir dengan kekecewaan dan trauma, baik bagi saya maupun Sera. Dan tentu saja, keterpaksaan untuk tidak bekerja membuat saya stres berat.
Pada titik itu saya siap menyerah. Apa sih yang saya cari hingga harus merantau ke tempat ini? Hanya kemudian, saya memutuskan untuk terus bertahan. Entah apa alasannya, rasanya pada saat itu saya tidak berpikir. Hanya memutuskan bertahan sehari lebih lama. Kemudian seminggu lebih lama. Kemudian sebulan. Setahun. Dan sekarang sepenuhnya menyukai tinggal di sini.
Dalam setiap perjalanan hidup, pastilah ada masa- masa yang terasa paling berat. Tetapi seperti kata pepatah, it's always darkest before the dawn, masa sebelum fajar adalah saat yang tergelap. Pada saat tergelap itu, we can only keep going. Keep going karena setelah saat- saat yang paling gelap itu, akan datang matahari. Life will be easier setelah kita melewati titik tergelap dan terberat itu.
Dalam setiap aspek kehidupan saya; pekerjaan, kehidupan sosial, bahkan urusan anak, sering saya merasakan jalan yang terjal, titik yang gelap dan keinginan untuk berhenti saja karena lelah. Kecuali dalam satu hal. Okhi Oktanio. Dia adalah satu bab dalam kehidupan saya yang sejak pertama kali kami bergandengan tangan hingga detik setelah bersama selama 12 tahun, selalu terasa begitu mudah. Tidak pernah saya merasakan titik dimana saya siap untuk menyerah atau ingin berhenti saja. With him, everything is just so easy. And right.
Kami menghadapi persoalan keuangan juga, serupa dengan banyak pasangan muda lainnya. Kami bertengkar hampir setiap jam. Kami saling menghina hampir setiap detik. Dan tak tehitung berapa sering saya menyinggung perasaannya atau dia membuat saya jengkel dengan membicarakan dada montok rekan sekantornya.
Tetapi, meskipun dengan segala masalah dan pertengkaran, hidup bersamanya bukanlah suatu perjuangan. Hidup disampingnya adalah suatu kemudahan, yang dikaruniakan semesta bagi saya. Ketika semua hal dalam hidup terasa berat dan sulit, he is the easy fun part of my life.Kalau saya diminta mendeskripsikan hubungan kami dalam satu kata, it’s definitely EASY. Too easy. Loving him feels so right.
Satu- satunya hal yang masih perlu kami pelajari (dan selalu gagal) adalah bagaimana let others’ hand go, saat tiba saatnya bagi kami untuk berpisah for eternity.
Sometimes people just click, I guess.
Happy anniversary my very dear best friend and hot sexy lover. I love you. You know that.
![]() |
| Sudah jelek semenjak muda -___- |

Happy aniversary...
ReplyDeletesemoga bahagia selamanya...
amin
Seksi dan cantik selamanya itu lebih tepat.....
DeleteWhat a story :) everybody has it's own story. Reading yours makes me realize this is how the world turns around to prove that we are a worthy for our own Winning track. And realize it wasn't just me who persevere and grow. God bless you and your family. Happy anniversary.Thank you for posting it. -Rendy Alfonsus-
ReplyDeleteI was about to tag you honey... You also did a great job. It just a blink away now, keep moving your ass and catch the prize :D
Deletehaha Megaaa udah berapa kali aku nulis, suka banget sama tulisannya.. jd tambah semangat mengarungi bahtera kehidupan *halah!
ReplyDeleteEniwei happy anniversary ya mama dan papa pesut.. semoga selalu berbahagia sampai akhir hayat. Aku udah kenal sm Okhi wkt di BRI, tp dengan baca tulisannya Mega kyk udah kenal aja.. *kecuuupss*
Sebelum dikau memiliki pandangan yang terlanjur salah, ingatlah bahwa lebih banyak orang yg sebel padaku, dan hanya emakku yg tahan dengan diriku, huahahaha
DeleteSelamat anniversary Bu. BTW, Okhi inget ga kalo ada anniversary?
ReplyDeleteMakasih ya Nang... I don't really care dia inget atau enggak, selama setiap aku menadahkan tangan, uang meluncur datang
Deletehahaha pasangan yang serasi.....
ReplyDeleteselamat untuk kalian...
always believe in GOD that you both have the best gift in your life....
Makasih ya mbak/ mas anonymous...
Deletehappy anniversary yaaa pak okhi & bu mega..semoga happily ever after..:)
ReplyDeleteDitunggu kadonya ya....
DeleteHappy Anniversary buat mas Okhi n Mba Mega.. Semoga bahagia selalu n sehat2 sekeluarga..
ReplyDeleteMakasih ya No... semoga semua juga selalu sehat ya di Jakarta...
DeleteMbak dukunnya sudah ke alam baka sayangnya....
ReplyDeleteBelum nemu yang baru....
Okhi akan mempertahankan kegilaannya, saya mempertahankan keseksian saya...