Saya tumbuh besar dengan membaca buku- buku karangan penerbit Kanisius. Bersekolah di sebuah SD katolik, buku- buku yang menceritakan berbagai kisah santo dan santa menjadi makanan saya sehari- hari (note: santo/santa = orang kudus yang dijadikan teladan karena kesetiaannya terhadap Tuhan atau pengabdiannya terhadap sesama).
Sewaktu kecil, saya kerap berkhayal bagaimana ya rasanya menjadi seorang santo? Menjadi orang yang demikian suci dan pemberani, hingga rela mengorbankan nyawa demi menolong orang lain. Saya membayangkan diri saya seperti seorang santo, yang meskipun berasal dari keluarga kaya raya tetapi memilih mengabdikan diri dengan menolong para penderita kusta yang dijauhi orang. Atau seorang santo yang lain yang memilih dirajam daripada mengkhianati imannya. Wah, betapa kerennya hidup saya bila diberi kesempatan menjadi martir, mati demi membela iman dan sesama!
Pernah juga saya melihat rekaman adegan dimana seorang bapak menolong satu keluarga yang terjebak di dalam mobil mereka yang terbakar. Dengan gagah berani tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, si bapak kembali lagi ke mobil setelah meletakkan si bayi kecil di rumput, untuk kemudian menolong si ibu yang masih terperangkap. Api semakin membesar. Berhasil mengeluarkan si ibu, dan saat mereka berdua terhuyung- huyung menjauhi mobil, api mencapai tangki bensin dan BUMMM, meledaklah mobil tersebut. Telat barang 30 detik saja, hancur sudah mereka berdua. Saya jadi terbayang- bayang, bagaimana rasanya ya menjadi pahlawan seperti itu, mengabaikan keselamatan diri sendiri demi menolong sesama.
Sayangnya (atau untungnya?), sejak saya dilahirkan hingga usia yang sudah menginjak kepala tiga ini, saya tidak pernah mengalami peristiwa antara hidup dan mati. Saya tidak pernah mengalami situasi dimana saya harus mengorbankan nyawa bagi orang lain ataupun orang lain harus kehilangan sebelah kakinya demi menyelamatkan saya. Hidup saya biasa- biasa saja. Tidak heroik sama sekali.