Monday 10 September 2012

My Monday Note -- The Day My sister Met Ana

Saya tumbuh besar dengan membaca buku- buku karangan penerbit Kanisius. Bersekolah di sebuah SD katolik, buku- buku yang menceritakan berbagai kisah santo dan santa menjadi makanan saya sehari- hari (note: santo/santa = orang kudus yang dijadikan teladan karena kesetiaannya terhadap Tuhan atau pengabdiannya terhadap sesama).

 
 
Sewaktu kecil, saya kerap berkhayal bagaimana ya rasanya menjadi seorang santo? Menjadi orang yang demikian suci dan pemberani, hingga rela mengorbankan nyawa demi menolong orang lain. Saya membayangkan diri saya seperti seorang santo, yang meskipun berasal dari keluarga kaya raya tetapi memilih mengabdikan diri dengan menolong para penderita kusta yang dijauhi orang. Atau seorang santo yang lain yang memilih dirajam daripada mengkhianati imannya. Wah, betapa kerennya hidup saya bila diberi kesempatan menjadi martir, mati demi membela iman dan sesama!
 
Pernah juga saya melihat rekaman adegan dimana seorang bapak menolong satu keluarga yang terjebak di dalam mobil mereka yang terbakar. Dengan gagah berani tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, si bapak kembali lagi ke mobil setelah meletakkan si bayi kecil di rumput, untuk kemudian menolong si ibu yang masih terperangkap. Api semakin membesar. Berhasil mengeluarkan si ibu, dan saat mereka berdua terhuyung- huyung menjauhi mobil, api mencapai tangki bensin dan BUMMM, meledaklah mobil tersebut. Telat barang 30 detik saja, hancur sudah mereka berdua. Saya jadi terbayang- bayang, bagaimana rasanya ya menjadi pahlawan seperti itu, mengabaikan keselamatan diri sendiri demi menolong sesama.
 
Sayangnya (atau untungnya?), sejak saya dilahirkan hingga usia yang sudah menginjak kepala tiga ini, saya tidak pernah mengalami peristiwa antara hidup dan mati. Saya tidak pernah mengalami situasi dimana saya harus mengorbankan nyawa bagi orang lain ataupun orang lain harus kehilangan sebelah kakinya demi menyelamatkan saya. Hidup saya biasa- biasa saja. Tidak heroik sama sekali.


 
Sampai di suatu siang yang sepi, di hari dimana saya baru saja menginjakkan kaki di Melbourne, saya merasakan suatu kebaikan hati yang luar biasa. Tidak, bukan suatu kebaikan nan heroik yang layak masuk ke dalam tayangan dunia dalam berita, tetapi hanya suatu tindakan kecil yang bahkan mungkin si pelaku tidak akan menyadari bahwa yang dilakukannya sangatlah berarti bagi diri saya.
 
Siang itu, saya sedang berada di dalam rumah saya yang masih kosong melompong. Sudah seminggu lamanya saya berada di kota yang asing ini. Dan seminggu itu adalah tujuh hari tersunyi dalam kehidupan saya. Tidak ada teman, saudara atau sekedar kenalan. Tidak ada seorangpun. Setiap pukul tujuh pagi, saat Okhi mencium saya sambil mengucapkan good bye, adalah tanda dimulainya rasa sepi dalam hidup saya. Selama dua belas jam kedepan, saya hanya akan berada di dalam rumah kecil berkamar dua ini. Hanya bersama si Sera, yang mungkin juga mengalami stres, sehingga selama seminggu itu ia merengek tiada henti. Tidak mau turun dari gendongan saya. Tidak mau menyentuh makanan apapun sama sekali. Dan tidur dengan sangat gelisah setiap malamnya. Rasa sepi dan terasing really can kill. Saya ingat bahkan pernah menghempaskan Sera ke atas kasur, lelah mendengar tangisan dan rengekannya yang gak jelas juntrungannya.
 
Dan kemudian di suatu siang, pintu rumah saya diketuk orang. Huh? Siapa yang bertamu ke rumah saya? Saya tidak sedang menunggu siapapun dan jelas saya tidak mengenal seorangpun disini. Panik juga saya. Saya membuka pintu dan di depan pintu berdiri seorang wanita berambut cokelat yang menggendong seorang balita. Si wanita itu kemudian berkata "Hi, aku Bron, tetangga sebelah. Aku menebak kamu pasti belum punya banyak mainan untuk anakmu karena baru pindah. Ini aku pinjemin mainannya si Rohan. Dan kalau kamu butuh apa- apa atau mau bermain bareng, tinggal ketuk pintuku saja ya."
 
Setelah mengucapkan terima kasih dan menutup pintu, saya menatap kantong plastik putih yang penuh berisi aneka mainan. Sera langsung dengan girang menyerbu mobil dan boneka badut yang ada di kantong tersebut. Mendapatkan sekantong mainan dengan cum- cuma pastinya menyenangkan, dan mungkin tetangga saya si Bron juga merasa puas dengan dirinya karena sudah berbaik hati meminjamkan sekantong mainan. Tetapi yang Bron tidak tahu, pada siang itu ia melakukan lebih dari sekedar memberikan saya sekantong mainan untuk menghibur si balita biang ribut. Siang itu, lebih dari sekedar boneka badut, Bron menawarkan uluran tangan pertemanan pada saya yang sedang kesepian. Dengan satu ketukan di pintu saya, Bron membuat rasa kesepian dan keterasingan total yang saya rasakan jauh berkurang. Siang itu, untuk pertama kalinya senyum saya terkembang kembali.
 
Hari demi hari selanjutnya, saya menerima kebaikan demi kebaikan sederhana, yang mungkin si pemberi kebaikan pun hanya akan menganggapnya sepele. Seperti ajakan makan siang sambil ngopi oleh seorang ibu yang sudah lama menetap disini. Tiga jam yang saya habiskan dengan menyantap makanan 10 dolar yang nggak enak rasanya dan sekedar nongkrong di cafe di suatu mall, mengentaskan saya dari depresi yang mulai melanda. Mungkin bagi si ibu, dia hanya sekedar mentraktir saya makan siang. She will never know how big that simple lunch meant for me.
 
Bertahun- tahun yang lalu, saya membaca sebuah kisah yang pada saat itu tidak sepenuhnya saya mengerti. Alkisah, seorang anak SMP berjalan dengan kepala tertunduk. Tangannya penuh membawa berbagai buku dan barang. Sibuk dengan pikirannya sendiri, dia tidak melihat sebuah batu dan tersandung jatuh. Berhamburanlah semua barangnya. Seorang anak lelaki lain, melihat kejadian itu, bergegas menghampiri dan membantu si anak memunguti barang- barangnya. Kemudian mereka bertegur sapa singkat dan semenjak itu perlahan- lahan hubungan mereka berkembang menjadi sebuah persahabatan. Saat keduanya sudah dewasa, si anak yang dahulu barangnya jatuh berhamburan bercerita kepada sahabatnya itu. “Kamu ingat hari dimana kamu membantu memunguti barangku? Hari itu sebetulnya aku sedang berjalan pulang dari sekolah dengan niat akan untuk bunuh diri. Semua barang yang kubawa adalah barang dari lokerku yang kukosongkan. Aku sudah menulis surat perpisahan untuk kedua orang tuaku, menjelaskan bahwa hidupku sangatlah sepi karena tidak memiliki seorang teman pun. Dan kemudian kamu datang, membantuku, tersenyum padaku, menyapaku dengan ramah, tidak menertawakan dan mengolokku. Sesampainya di rumah, kupandangi surat bunuh diriku. Teringat sapaanmu, kurobek surat itu dan kubatalkan niatku untuk bunuh diri.
 
 
Pada saat membaca kisah itu dulu, saya terharu sih, tapi tidak benar- benar bisa memahami. Karena pada saat itu kehidupan sangatlah menyenangkan bagi saya. Saya mempunyai banyak teman, meskipun jelas bukan anak paling populer di sekolah. Saya mempunyai beberapa sahabat. Saya mempunyai saudara, adik dan orang tua yang selalu tersedia di samping saya. Saya bukanlah anak gendut berkacamata berkawat gigi dengan suara aneh yang dijauhi semua teman sebayanya. Jadi saya tidak sepenuhnya memahami arti kesepian dan keterasingan. Baru setelah tinggal di Melbourne, saya mendapat kesempatan merasakan langsung apa yang dirasakan si bocah yang ingin bunuh diri itu (walau tentu saya tidak mengalami fase ingin bunuh diri, ingin membunuh orang lebih mungkin). 
 
 
Dan baru sekarang saya mengerti, kenapa seorang guru SMA dulu pernah memeluk saya dan bersimbah air mata hanya karena satu karangan bunga yang saya berikan kepadanya di suatu hari ibu. Padahal karangan bunga itu saya beli bersama seorang teman sambil tertawa- tawa dan sesekali dengan jahat (mana ada sih anak SMA yang lurus hatinya) berkata "Mending kita beliin kaktus aja kali ya, biar sesuai dengan perawakan si Ibu Guru."
 

Dan pada saat saya dan Lynda teman saya dengan canggung mengangsurkan si kembang, tak disangka si Ibu Guru menangis tersedu- sedu, sungguh- sungguh banjir air mata. Dan dengan terbata- bata, sembari memeluk kami dengan erat, si Ibu Guru berkata "Seumur hidup saya menjadi guru, belum pernah sekalipun ada yang memberikan saya hadiah seperti ini. Yang ada semua anak hanya bersikap jahat terhadap saya (yah well, let just say she wasn't the most popular teacher :D).
 
Pada saat itu, saya dan Lynda hanya berpandangan sambil nyengir salting, dalam hati berpikir "Is she crazy or something?
 
Lalu apa hubungannya note ini dengan judul The Day My Sister Met Ana? Well, saya kemarin melihat sebuah video di youtube dengan judul The Day She Met Ana. Sebuah video yang dibuat oleh seorang kakak untuk mengenang adiknya yang telah meninggal. Si adik adalah seorang anak berusia tiga belas tahun yang tidak sepenuhnya bahagia (yah, abege mana sih yang bahagia, wong alay semua begitu) tetapi sehat. Hingga suatu hari, seorang gadis di kelasnya berkata “Kamu gemuk.” Dan kemudian, si 13 tahun ini mulai berpikir “Iya ya, aku gemuk. Mungkin kalau aku mengurangi beratku beberapa kilo saja, aku bakal cantik.
 
Mulailah perjalanan panjang menuju kematian. Dari sekedar berdiet dan berolahraga, akhirnya si 13 tahun ini semakin sering melewatkan waktu makan. Kemudian, disaat ia merasa ia sudah makan terlalu banyak, mulailah ia memasukkan jari ke mulutnya, memaksa dirinya memuntahkan kembali makanan yang sudah ditelannya. Tak berselang lama, ia hanya mengkonsumsi air saja. Menstruasinya berhenti, rambutnya rontok dan ia divonis tidak akan mampu memiliki anak di masa depan. Tetapi ia berpikir “Asal aku kurus, semua pengorbanan itu tak sia- sia.

 
Orang tua dan temannya dengan putus asa melakukan berbagai cara untuk membantunya. Tetapi tak satupun membuahkan hasil. Tepat sebelum ulang tahunnya yang ke lima belas, meninggallah si adik. Keluarganya bertanya- tanya, apa yang terjadi pada si 13 tahun yang sehat ini? Apa yang mengubahnya menjadi seorang anoreksik? Kapan semua hal gila ini bermula? Dan di diarynya ditemukan jawabannya. The day she met Ana.
 
Kalau sekedar bantuan sederhana memunguti barang yang jatuh bisa menghindarkan seseorang dari rencana bunuh diri, tentu saja ada kemungkinan satu kata yang kasar atau ketidakacuhan bisa menjadi pemicu seseorang untuk bunuh diri. Satu kalimat pendek “Kamu gemuk” yang diucapkan dengan sambil lalu, siapa yang mengira akan menghasilkan penderitaan bagi yang mendengarnya....
 
Karena kita tidak pernah tahu, kapankah seulas senyuman atau kebaikan hati yang paling sederhana, maupun ketidakacuhan dan kata- kata yang kasar, bisa menimbulkan bekas yang begitu dalam bagi diri seseorang.


 
Makhluk secantik sayapun bisa galau.... #gak penting nggak nyambung, asal bisa memuji diri sendiri








3 comments:

  1. Menarik. Jangankan kata2, Seberkas (emang cahaya?) senyumpun bisa bermakna besar bagi seseorang. Seorang bawahan yang sudah melakukan tugas dgn baik dan mendapat senyum manis dari bosnya....ahhh.....serasa terbang di awang2 saking bangga dan bahagianya.

    ReplyDelete
  2. wakakaka... jadi inget ada yang marah marah gara gara jaketnya aku bilang mirip tukang sate madura :)

    ReplyDelete
  3. Kadang gak nyadar ya kalo kita ngebully orang.
    Semoga bisa kasih senyuman paling ikhlas ke orang-orang sekitar.
    *notetoself*

    ReplyDelete