Monday 3 September 2012

My Monday Note -- Orang Sukses Pun Berhak Galau



Beberapa saat yang lalu, seorang teman saya yang dalam pandangan umum orang Indonesia sangatlah sukses; bekerja di perusahaan minyak di Eropa, sudah keliling dunia, punya suami bule, punya anak semodel Cinta Laura, menuliskan status di facebook “Yeahhhhh MSc... so what..just MSc.. hmfffff”

Bagi para orang katrok, MSc itu maksudnya Master of Science, suatu gelar S2 yang didapat dari universitas di luar negeri (kalau di Indonesia MSi *err, Master of Singa?). Jadi ceritanya, temen saya yang keren ini galau, karena dia sudah berhasil menyelesaikan pendidikan S2nya di salah satu universitas teknik terbaik di Eropa, tetapi dengan nilai thesis yang jelek; tujuh puluh lima. Iya, jelek banget, TUJUH PULUH LIMA. Hah, sudah ada yang mulai rolling eyes?
 
Dan faktanya, si teman ini sebetulnya sejak dia belum luluspun, sudah diterima bekerja dengan posisi menggiurkan di sebuah perusahaan minyak besar di salah satu negara Skandinavia. Jadi, mau nilai thesisnya 75 kek, 100 kek atau 50 sekalipun, asal dia lulus, beres perkara. Nggak ngefek cuy.


Dan whining lah teman saya, meratap bahwa apalah arti gelar MSc yang disandangnya, toh kerja kerasnya menggarap thesis tidak dihargai. Toh dia nggak bisa lulus cumlaude. Kemudian curhatlah dia ke saya. Nah, apa yang harus terlintas di benak saya saat seorang yang:
 
1. Malang melintang bekerja profesional di sepenjuru dunia
2. Punya gelar master dari universitas ternama di Eropa
3. Sudah diterima bekerja di perusahaan besar

mengeluh kepada saya yang pada saat dia berkeluh kesah sedang:
 
1. Berkutat mencoba membersihkan panci yang gosong terbakar akibat lupa menambahkan air
2. Sedang stres mencari pekerjaan untuk membayar childcare nya Sera
3. Mau ambil sertifikat sederhana saja masih belum terlaksana
4. Pernah bekerja jadi buruh pengepakan nugget ayam.

Apa nggak minta dilempar panci itu namanya? Kan seperti mengeluhkan kenapa koleksi jaket saya baru mencapai 24 warna yang berbeda, dan mengeluhnya kepada seseorang yang hanya punya satu jaket saja, dan warnanya pun krem berbelang biru karena kelunturan seprai.

Yang mengomentari status teman saya kebanyakan adalah teman- temannya yang mirip perjalanan hidupnya dengan si teman, sedang sekolah di Eropa atau sedang bekerja disana. Komentarnya adalah penghiburan bahwa gelar MSc itu sudah something banget lho. Sudah keren. Jadi ya disyukuri sajalah!

Itu saat yang komen adalah ‘sesamanya’. Nah sekarang kalau yang dimintai penghiburan, a shoulder to cry on itu sebangsa saya, yang masih luntang lantung kagak jelas juntrungan di negara orang, apa nggak termehek- mehek saya jadinya? Hu hu hu, ente meributkan soal nggak lulus cum laude, sementara ane boro- boro mikir kuliah. Dapat kerjaan jadi cleaner hotel saja sudah syukur alhamdulilah.

Tetapi, meskipun keluhannya si teman ini mungkin terdengar kurang sensitif karena disampaikan ke orang lain yang tidak seberuntung dirinya (aka. saya), saya tetap saja bertanya “Kenapa kamu merasa segitu nggak puas? Kenapa kamu marah sekali soal nggak lulus cum laude semata?

Dan kemudian saya membaca inti dari ketidakpuasannya adalah karena perlakuan tidak adil yang dirasakannya. Cerita punya cerita, si dosen selalu menunda- nunda memeriksa thesis teman saya yang sudah dikerjakannya dengan mati- matian. Dan disaat terakhir, dengan enteng berkata thesisnya kayak sampah saja. Pokoknya teman saya itu di-harrass. Nah biasanya nih di barat, mau dosennya benci sama kamu kek, mau punya sentimen pribadi kek, itu tidak mempengaruhi nilai. Saya punya teman yang bersekolah perhotelan di Swiss dan kemudian ia bekerja magang di suatu hotel yang pemiliknya ternyata benci pada orang Asia. Mampus teman saya diberi tugas berat, dihina dan dilecehkan. Sementara teman magangnya yang bule selalu disapa dengan ramah dan diberi tugas yang enak. Tetapi saat penilaian akhir, ternyata teman saya itu mendapat nilai bagus, mengalahkan si bule. Kalau kinerjanya bagus, ya tetap saja akan diberi nilai bagus meskipun sambil dicemberutin.
 
 
That’s not the case dengan teman saya yang malang ini. Dia mendapat nilai yang sama (sama rendahnya) dengan para mahasiswa-mahasiswa yang memang enggak niat dalam membuat thesisnya. Yang memang sekedar mencari asal lulus.  

Mungkin keluhannya teman saya itu tampak sombong dan seolah tidak bersyukur. Sudah berhasil lulus master di universitas yang mungkin kebanyakan orang Indonesia lainnya hanya bisa bermimpi untuk berfoto di depan gerbangnya, kok ya masih bisa- bisanya mengeluh soal nilai yang kagak cum laude. Doh, makan tuh cum laude.
 
Tetapi, inti kekecewaan teman saya bukan soal “Kok aku nggak bisa cum laude ya” melainkan sesuatu yang memang manusiawi sekali. Manusia mana sih, dari yang paling miskin sampai yang paling kaya, yang paling jelek sampai yang seseksi saya, yang tidak ingin usahanya dihargai? Manusia mana sih yang tidak akan kecewa saat usahanya yang sudah dilakukan dengan bersungguh- sungguh tidak dihargai? Padahal pengorbanannya tidaklah kecil, karena dia hanya bisa tekun menggarap thesis selepas balita kecilnya sudah tidur. Bayangkan, kuliah master sambil merawat sendiri seorang balita tukang ribut, sementara suaminya sering bepergian karena urusan kerjaan. Nggak ada baby sitter, yuk, bulik, iyem atau siapalah yang bisa membantu. Siapa yang nggak stres coba?

Jadi yah, meskipun teman saya itu lebih beruntung dari saya karena bisa meraih gelar master, dia sebetulnya masih mempunyai hak yang sama untuk mengeluh juga sih. Karena kekecewaan saat merasa usahanya tidak dihargai itu universal adanya. Manusiawi sekali. Bukan hanya hak nya orang yang tidak sukses.
 
 
Begitu juga saya mencoba untuk mengerti kenapa seorang teman yang sudah memiliki dua apotik yang cukup sukses benar- benar kesal saat rencananya untuk membuka cabang yang ketiga kandas akibat ditelikung teman dekatnya. Mungkin bagi saya yang boro- boro punya apotik barang sebijipun, ya ngapain sih kesal sekali? Toh apotiknya sudah makmur, dia juga sudah cukup kaya, kenapa harus berambisi untuk membuka lagi yang baru?
 
 
Tetapi kan memang ambisi dan rasa tidak puas itu lah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya kan? Tanpa adanya kedua hal itu, ya sampai sekarang mungkin kita masih hidup di gua, memakai celana dari kulit gajah dan sehari- harian berlari- lari berburu bison. Ambisi itulah yang sudah membawa manusia mendarat ke bulan (walau katanya sih itu hoax bikinan NASA). Ambisi itulah yang membuat kita semua beranjak mencari kehidupan yang lebih baik, demi masa depan anak kita.

Tentu saja bukannya saya tidak pernah sebal terhadap para makhluk beruntung yang masih mengeluh juga. Salah seorang kenalan saya pernah mengeluh akan kebosanannya bekerja di Australia ini. Bosan bekerja sih wajar, hanya disaat saya sedang berjuang mencari kerja, dan dia mengeluh bosan bekerja, dan saya tahu betapa seringnya dia berganti- ganti kerja karena sering membolos, ya bagi saya itu sudah bukan keluhan yang manusiawi lagi. Itu babiawi namanya. Ente memang pemalas. Dan karena toh posisi saya tidak lebih beruntung daripada dia, karena toh saya sedang berjuang mencari kerja, ya jangan harap saya bersedia meluangkan waktu mendengarkan ratapan seorang pemalas. Dan dengan kalem hanya berucap "Cewek itu boleh malas kerja kalau dia cantik dan bahenol, jadi bisa jadi istrinya konglomerat."  
 
 
I guess the challenge is to determine, kapankah seseorang yang dimata kita tampak  beruntung, mengeluh karena alasan yang manusiawi, atau karena pada dasarnya dia hanya ingin feeling better dengan mengeluh ke orang lain yang tidak seberuntung dirinya dan mungkin malah ingin pamer terselubung *if you know what I mean. Tidak ada yang lebih memuakkan daripada kerendah-dirian yang palsu ("Masak kata suamiku dia mau beliin aku BMW untuk hadiah ultah, tapi hanya yg seri tahun lalu. Bikin bete ih!"--"Pilih mana, naik seri tahun lalu dan disangka pembantu minjem mobil majikan, atau naik seri mutakhir dan dikira maling mobil?")   

Ohya, nasehat saya untuk teman saya yang galau gagal cum laude itu adalah go cry over it for a week then. Whining and angry and curse him. Get drunk. Well, boleh juga sih ke gereja dan berdoa, wahahha. Just curse him and then suck it babe. You have job on hand already anyway. F*ck you mister unfair, old fart man. I’'m gonna be fabulous without you.

Oh well, kalau memang ingin kalimat motivasi yang indah, teman saya seharusnya pergi ke page nya Mario Teguh Loving You As Always *emang kapan kenalannya sampai bisa loving you as always?
 
 
Loving You As Always Cekci.....


7 comments:

  1. Kebahagiaan dimulai ketika kita merasa cukup, tapi bukan cukup itu dijadikan dasar untuk kemalasan ..

    ReplyDelete
  2. Beberapa kali baca tulisan yang dipost Okhi di fb pagenya dan sekarang ketemu page ini. Kenalan dulu deh. :D

    Ternyata orang sukses galaunya beda ya. Galaunya tingkat dewa. Dan memang rasa ketidakadilan itu bisa bikin galau di semua lapisan masyarakat.

    Karena baru lihat potonya Cekci komenin juga ah. (ada) mirip Okhinya ya?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaman *shake hand.

      Memang, seperti saya juga galau kenapa dapat suami yang... ah sudahlah... terlalu menyakitkan untuk dibahas... *galau tingkat dewa

      Cekci tentu tidak mirip Okhi... Kalau sampai mirip, betapa merananya hidup si cekci...

      Delete
    2. cekci = 98% okhi..
      bukti : hidung ama pipi !

      ya tapi kalau galau mulu kebangetan meg...
      banyak hal yang bisa bikin bahagia...

      buat okhi : wah alhamdulillah, ternyata bener cekci anak gw...

      piss

      Delete
  3. Yang nyebelin tuh kalau sepertinya mengeluh tetapi sebenarnya hanya mau pamer. Atau selalu mengeluh tetapi tidak berbuat apa2 unt mengurai masalahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. High five bro, ane juga paling pingin ngelempar panci kalau ada yg pura2 mengeluh hanya utk mendapatkan pengakuan "Kamu kan lebih kaya, lebih pinter, lebih cantik, bla bla bla"

      Delete