Apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya
memberikan ASI eksklusif kepada bayi saya selama dua tahun penuh? Salah satunya
kedongkolan hati pada ibu- ibu lain yang dengan bangga memposting foto freezer
mereka yang penuh sesak dengan tumpukan botol berisi ASI perahan, sementara
saya masih terengah- engah kejar tayang memompa ASI agar sekedar cukup untuk
persediaan esok hari. Juga tugas keluar kota yang bisa sebulan tiga kali, yang
membuat saya sampai merasa perlu membeli pendingin portable kecil yang bisa
ditenteng kemana- mana. Sembari menunggu pesawat yang sering di-delay
jadwalnya, dengan santai saya bisa mencolokkan si kulkas mini yang penuh berisi
tumpukan plastik ASI. Ah, benar- benar perjalanan panjang yang penuh kisah
lucu, kekhawatiran, kegagalan dan keberhasilan kecil.
Berawal dari keinginan mencari informasi mengenai
biaya untuk melahirkan di berbagai rumah sakit, tak dinyana saya malah
berkenalan dengan gerakan ASI eksklusif, gerakan yang mulai bergaung di
Indonesia sejak tahun 2000an, tetapi masih asing bagi telinga saya. Sebelumnya,
saya tidak pernah berpikir panjang mengenai ASI. Just go with the flow saja.
Tak terbayang bahwa ternyata diperlukan tehnik yang tepat agar acara menyusui bisa
berlangsung dengan lancar, juga berbagai tips dan trik agar bisa tetap
memberikan ASI meskipun si ibu bekerja di kantor. Inilah sekelumit pengalaman
saya mengenai dua tahun yang penuh keajaiban, suka duka dan canda tawa.
Nah, dari hasil membaca- baca pengalaman para ibu
lain di mailing list, saya menemukan bahwa halangan pertama dalam usaha hanya
memberikan ASI saja adalah rumah sakit dan keluarga. Banyak rumah sakit yang
dengan riang gembira segera memenuhi perut si bayi dengan susu formula, bahkan meskipun
si ibu sudah berkaok- kaok menyatakan menolak susu formula. Baru melahirkan dan
sudah harus sibuk bersitegang dengan perawat dan keluarga? Ahai, males banget.
Jadilah dari hasil gugling secara intensip pake P saya memutuskan untuk
melahirkan di RS. St. Karolus Jakarta. Ini satu- satunya RS di Jakarta yang
mendapat komen positif dari semua emak. Ada rumah sakit yang katanya jargonnya
saja mendukung ASI, tapi ya kalau nggak ketahuan tetap saja pake susu formula.
Ada rumah sakit yang hanya melaksanakan rawat gabung untuk kelas VVIP saja.
Dengan membayar duit 5 juta saja, saya sudah dapat
kelas VIP. Ngelahirinnya pake bidan tapinya, bukan dokter kandungan. Ah, hanya
di Indonesia saja yang seolah semua kelahiran harus ditangani spesialis
kandungan. Di Australia semua juga ditangani bidan kecuali ada kasus yang
membutuhkan penanganan khusus. Dan selama tiga hari di rumah sakit, saya dengan
santai ongkang- ongkang kaki menyaksikan ibu bidan berantem dengan
keluarga-keluarga saya yang tidak terima dengan cara saya. “ASI nya belum keluar gitu lho,” cetus seseorang. Si bidan dengan galak
menatap si ibu, “Belum keluar gimana? Jelas sudah netes gitu. Maunya kayak
gimana? Langsung mancur berliter- liter apa? Emangnya sapi?” Saya terkekeh
geli. Setiap ada yang protes, saya hanya mengangkat bahu sambil berkomentar
polos “Kalau disini emang gak boleh ditambah formula. Mau gimana lagi.....”
Dulunya, saat sedang hamil, salah satu motivasi terkuat saya untuk
memberikan ASI adalah masalah finansial. Bayangin, bisa hemat berapa duit kalau
saya tidak harus membeli berkaleng- kaleng susu formula nan mahal itu? Tetapi
setelah beberapa minggu menyusui Sera, saya hampir give up. Kalau pertimbangan
untuk hanya memberi ASI saja itu semata soal finansial, rasanya kebanyakan ibu
bakal mundur teratur. Kecuali kondisi finansial kita memang sedang sangat
sulit, rasanya semua emak yang baru saja melahirkan lebih memilih mengeluarkan
duit 1 juta per bulan asal bisa mendapat tambahan tidur barang dua jam saja.
Sementara bayi yang diberi susu formula bisa diserahkan pada penjagaan orang
lain once in a while, saya terikat pada bayi saya 24/7. Setiap malam, baru saja
memejamkan mata, akan terdengar lagi tangisan si genduk. Apalagi kalau bayinya
seperti si Sera yang rakusnya nggak ketulungan. Plus karena satu dan lain hal
saya hanya bisa menyusui dengan posisi duduk, nggak bisa dengan berbaring. Plus
puting saya babak belur. Rasanya itu adalah satu bulan paling melelahkan dalam
hidup saya. Enggak, saya nggak merasakan kenikmatan atau kebahagiaan saat
menyusui bayi saya seperti yang dirasakan ibu- ibu lain. Saya hanya capek. Dan
berasa seperti zombie saja.
Merasakan betapa beratnya menyusui secara full terutama di awal- awal,
apalagi kondisi tubuh juga belum sepenuhnya fit, saya tidak pernah menghakimi
para ibu yang kemudian memutuskan untuk menambah formula misalnya. Saat seorang
teman mengatakan dia terlalu lelah dan ingin menambah formula, saya tidak serta
merta memberikan kuliah panjang lebar betapa memberi ASI itu kewajiban seorang
ibu dan shame on you, kamu bukan ibu yang baik, kamu pembunuh bayimu kalau kamu
memberikan formula. Bleh.
Don’t be ASI NAZI lah. Saya sendiri adalah pendukung ASI 100%, tetapi
saya sebal melihat para NAZI yang menteror para ibu agar 100% hanya memberikan
ASI saja. Yang membuat tidak memberikan ASI 100% equal dengan pembunuh bayi. Oh
come on, nggak usah selebay itu lah. Janganlah melakukan pendekatan sekejam
itu. Saat ada seorang emak yang mengeluh pada saya masalah pemberian ASI, saya
selalu berusaha menempatkan diri pada situasinya, yang mungkin sudah setengah
sinting kurang tidur berminggu- minggu. Biasanya saya akan bertanya kenapa, apa
masalahnya? Terlalu capek kah, butuh tidur kah, atau bayinya bermasalah dalam
menyusui kah. Dan kalimat motivasi saya biasanya semacam “Memang sih, aku
dulu juga sebulan pertama bener- bener capek. Rasanya pingin nyumpel mulutnya
si bayi biar diem bentar aja, biar aku bisa tidur sejenak. Kalau kamu memang
sudah nggak tahan banget, ya sudah coba aja beri formula sehari sekali juga
nggak papa. Bayimu nggak bakal mati kok. Kalau aku dulu, setiap pingin
menyerah, aku bilang ke diriku sehari ini saja. Sehari lagi saja. Besok kalau
mau menyerah ya sudah. Tambah sehari saja si bayi hanya dapat ASI, berarti
tambah lagi satu lapisan pelindung di ususnya yang masih bolong- bolong. Aku
dulu sih berusaha bertahan paling enggak sebulan saja, biar ususnya Sera sudah
sempurna terlindung.”
Biasanya sih, mereka malah berakhir dengan terengah- engah berhasil
menyusui bayinya, tidak hanya sebulan dua bulan, tapi lanjut terus.
Oya, setelah masuk kerja, lain lagi tantangannya. Saya termasuk salah
satu orang pertama di ruangan yang sibuk dengan upaya memompa ASI di kantor.
Awal memompa bersama beberapa ibu- ibu lainnya, saya sampai ingin menangis
frustasi. Sambil mengobrol mereka mengoperasikan pompanya, dan 300 ml ASI
segera mengalir keluar. Saya menggigit bibir menahan air mata. Paling banter
saya dapat 30 ml. Apalagi kemudian mendengar mereka berceloteh saling
membandingkan jumlah ASI nya. Saking mindernya, saya sampai selalu memompa di
jam- jam yang sepi, supaya tidak harus bertemu dengan ibu- ibu yang lain.
Untunglah ambisius dan nggak mau kalah adalah sifat saya. Dengan tekun
saya gugling di internet, mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk
meningkatkan produksi peternakan sapi perah ini. Segala tehnik saya coba,
sampai mendatangi pusat laktasi segala. Sampai akhirnya saya menemukan metode
memompa dengan menggunakan tangan sendiri, dimana sebelum memerah harus
dirangsang dulu, dipijat dulu, diketuk- ketuk dulu. Nggak kayak ibu- ibu lain
yang langsung buka beha, tangan sibuk membalas SMS, ASI mengalir melalui pompa.
Ahahaha, lumayan, sekali pompa saya bisa dapat 90 ml. Sepertiga para siluman
sapi yang lain sih. Tapi dengan congkak saya berikrar “Ha, biar gue sekali
mompa hanya dapat 90 ml, tapi gue bakal jauh lebih rajin daripada elu- elu
pada, jadi hasil kita bakalan sama.” Dan saya bahkan merelakan bangun tiap
tengah malam dan subuh untuk memompa.
Saat saya sudah mantap dengan acara pompa memompa ini, dan tidak harus
minder terhadap ibu- ibu yang lain, saya menyaksikan dua orang emak yang baru
saja bergabung. Dan hanya berhasil memompa beberapa tetes, paling 20 mili saja.
Salah seorang diantaranya melihat ke arah saya dan menyatakan bahwa dia iri
melihat betapa mudahnya saya memompa dengan tangan dan mendapatkan hasil yang
cukup banyak. Dengan bersemangat saya berkata bahwa saya dulu juga memulai
dengan beberapa tetes saja. Dan semua ini melalui proses belajar sampai tangan
saya sudah dengan gemulainya bisa memompa. “Aku mencoba berbagai cara,
sampai ketemu yang cocok. Itu juga harus coba berkali- kali, belajar sampai
lancar kayak gini. Kalau mau besok kutunjukin caranya ya, kuprint tehniknya.”
Sesudah beberapa kali bertemu dengan mereka, kemudian saya tidak pernah
melihat mereka lagi. Dan saat kemudian bertemu di kantin, si emak berkata bahwa
dia sekarang sudah memberikan anaknya formula saja, karena memang ASI nya nggak
mencukupi. “Dikit banget sih ASI saya.”
Saya tercenung. Berarti ruangan ASI selalu dipenuhi para siluman sapi
yang bisa menghasilkan berliter- liter ASI adalah karena berlaku seleksi alam.
Kebanyakan emak akan bersemangat memompa kalau memang hasilnya banyak.
Sementara mereka yang hanya menghasilkan sedikit, mungkin seperti saya akan
merasa minder dan menyerah sajalah. Sekali itu saya bersyukur bahwa nggak mau
kalah adalah sifat saya. Kepada setiap emak yang bertanya soal ASI ke saya,
saya selalu berkata “Mungkin Tuhan hanya ngasih ASI sedikit ke aku karena
Dia tahu aku jauh lebih rajin dari emak- emak yang lain.”
Dan sialnya lagi, pekerjaan saya menuntut setiap bulan at least dua kali
bepergian ke luar kota. Hrrgggghhh. Lagi- lagi untungnya saya adalah makhluk
yang paling nggak bisa menerima tantangan. Saat ada seorang meragukan dan
berkata “Kamu nggak bakal bisa deh hanya pake ASI saja. Gimana caranya coba
kalau kamu keluar kota?” maka saya menyipitkan mata dan berkata “Watch
and see!”
Mulai lagi deh gugling. Soal bagaimana agar kegiatan memompa luar kota
dalam propinsi ini lancar. Awalnya tentu banyak ketidakefisienan yang saya
lakukan, tetapi semakin lama saya semakin ahli. Merk cool bag favorit saya
untuk bepergian? Pigeon. Besar dan memang khusus untuk mendinginkan, jadi tahan
lebih lama. Merk botol favorit? Medela. BPA free dan tutupnya kokoh terpercaya.
Harganya nggak semahal Dr.brown, bentuknya nggak aneh2 ngabisin tempat. Plastik
ASI? Little giant. Penutupnya rapat, plastiknya tebal. Pensteril? Bawa saja
sterilan Pigeon yang kecil itu, masukin koper, beres deh. Pesawat delay lama?
Beli kulkas mini di ACE hardware. Mau ente delay 3 jam juga sok atuh, tinggal
colokin si kulkas di bandara. Bandara- rumah macet? Tinggal colokin si cooler
di mobil. Kulkas di hotel freezernya kecil? Tinggal satronin kulkas- kulkas di
kamar teman yang lain, numpang dooonggg. Petugas bandara resek? Print
pemberitahuan dari Amerika dan dephub, bahwa untuk ASI boleh dibawa masuk ke
kabin tanpa batasan.
Dan saat sepulang kerja saya berdiri berdesak- desakan di atas busway,
dan di samping saya adlaah seorang cewek yang menenteng cool bag tomme tipi,
kami bertatapan dan tersenyum simpul. Kami adalah anggota grup rahasia para
pemompa ASI, yang tak seorangpun tahu bahwa di dalam tas hitam kami terdapat
berbotol- botol ASI yang siap dibawa pulang.
Intinya, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Seorang teman bahkan
merelakan naik ojek tiap tengah hari, mengantarkan ASI nya yang kejar tayang.
Tetapi, berkaca dari betapa beratnya menjalani itu semua, saya lagi- lagi
bisa berempati apabila ada ibu- ibu yang kemudian berkompromi menambah formula.
Kan kondisi setiap orang memang berlainan. Sebagai sesama emak, kita seharusnya
menjadi orang terakhir yang buka suara menghakimi sesama kita.
Memberi ASI atau tidak, tentu itu hak asasi setiap ibu. Tidak tahu
caranya memberi ASI? Tanya ke orang lain, tanya ke ahlinya, tanya ke sesama
emak yang lain. Terlalu bodoh untuk bisa memberi ASI? Ah, gukguk saya yang
nggak sekolah, yang kemana- mana nggak pake baju aja bisa kok memberi ASA ke
anaknya...
Sudah berusaha sekuat tenaga dan tetap tidak cukup? Nggak usah panik.
Bayi nggak bakal mati kok kalau dapat tambahan formula.
Dengarkan pendapat semua orang sebelum mengambil keputusan. Buka telinga
lebar- lebar. Setelah mengambil keputusan, tutup telinga rapat- rapat.
| Kegiatan menyusui paling hardcore yang pernah saya lihat. Emaknya diserbu sepuluh babi sampai teguling. |
Menarik. Mudah2an gerakan ASI tdk kalah dgn iklan susu formula yg begitu gencar.
ReplyDeleteAminnnn *sok religius
Deleteaku dulu juga iri bgt ma temen kerja yang memerah cuma 15 menit sudah penuh botolnya. sedangkan aku cuma dpt 80ml itupun hampir 45 menit, tangan pegel, keringat bercucuran. tp untung ibu2 pemerah kasih semangat, jd bisa tetep kasih asi meskipun kerja... =)
ReplyDeleteWah, waktu aku yg mencoba ngasih semangat kok gak mempan ya? Apa karena mereka lihat aku lebih banyak dari mereka? Atau tampangku yg nggak meyakinkan kali ya, hehehe
Deletega usah sombong lah Meg dgn tampang yg pas2an..hahaha.. jadi penasaran pgn ketemu langsung... :D
Deletewhaaa Meg.. sammaa.. aku juga fave nya cooler bag pigeon dan botol medela.. *toss!
ReplyDeleteWahahaha, really? Kalau saja harganya lebih murah ya? *merenung
DeleteSekarang lagi baru akan lulus 6 bulan asi nih. Sebisa mungkin lanjut terus sampe 2 tahun. Saya sih gak ikutan ngerasain. tapi istri dah bertekad kok, jadi ya tinggal support. :D
ReplyDeleteWah itu sih udah lulus yg paling berat, hehehehe.
DeleteSekarang baru mulai makan dong? Repotnya lain lagi deh, ahahahaha. Tapi puassss kalau makannya banyak. Kalau sera dulu ga pake bubur dan, langsung aja disuruh makan sendiri, pegang sendiri. Aku pake Baby Lead Weaning namanya. Gak repot B-)
Saya mau tanya pemberian asi ke sera pakai dot?
ReplyDeleteAku pakai dot karena much easier bagi si baby sitter. Hanya pernah saat sera masih 3 bulan dia ngalamin bingung puting. Dan menolak menyusu langsung. Nah pas itu langsung semua dot dikunci di brankas dulu dan 'memaksa' si embak untuk mau berepot2 menyendoki atau pakai cupnya medela itu. After a while, sera sudah gak bingung puting lagi, baru balik ke dot. Pokoknya dot hanya utk ASI dan gak boleh berlama2 dikenyot. Susu habis ya sudah. JAngan sampai keterusan tidur masih ngenyot dot.
DeleteSalam Kenal,
ReplyDeleteMbak, coolerbox yang beli di ace hardware itu hanya chiller/fridge atau freezer ya?sehingga ASI tetap beku?
Makasih.
Yuki
Sorry for late reply. Hanya cooler, jadi biasanya aku tambahin blue ice juga biar bisa tetep beku
Delete