Monday 22 October 2012

My Monday Note -- ASI eksklusif 2 tahun, DONE



Apa yang paling saya ingat dari pengalaman saya memberikan ASI eksklusif kepada bayi saya selama dua tahun penuh? Salah satunya kedongkolan hati pada ibu- ibu lain yang dengan bangga memposting foto freezer mereka yang penuh sesak dengan tumpukan botol berisi ASI perahan, sementara saya masih terengah- engah kejar tayang memompa ASI agar sekedar cukup untuk persediaan esok hari. Juga tugas keluar kota yang bisa sebulan tiga kali, yang membuat saya sampai merasa perlu membeli pendingin portable kecil yang bisa ditenteng kemana- mana. Sembari menunggu pesawat yang sering di-delay jadwalnya, dengan santai saya bisa mencolokkan si kulkas mini yang penuh berisi tumpukan plastik ASI. Ah, benar- benar perjalanan panjang yang penuh kisah lucu, kekhawatiran, kegagalan dan keberhasilan kecil.

Berawal dari keinginan mencari informasi mengenai biaya untuk melahirkan di berbagai rumah sakit, tak dinyana saya malah berkenalan dengan gerakan ASI eksklusif, gerakan yang mulai bergaung di Indonesia sejak tahun 2000an, tetapi masih asing bagi telinga saya. Sebelumnya, saya tidak pernah berpikir panjang mengenai ASI. Just go with the flow saja. Tak terbayang bahwa ternyata diperlukan tehnik yang tepat agar acara menyusui bisa berlangsung dengan lancar, juga berbagai tips dan trik agar bisa tetap memberikan ASI meskipun si ibu bekerja di kantor. Inilah sekelumit pengalaman saya mengenai dua tahun yang penuh keajaiban, suka duka dan canda tawa.


Nah, dari hasil membaca- baca pengalaman para ibu lain di mailing list, saya menemukan bahwa halangan pertama dalam usaha hanya memberikan ASI saja adalah rumah sakit dan keluarga. Banyak rumah sakit yang dengan riang gembira segera memenuhi perut si bayi dengan susu formula, bahkan meskipun si ibu sudah berkaok- kaok menyatakan menolak susu formula. Baru melahirkan dan sudah harus sibuk bersitegang dengan perawat dan keluarga? Ahai, males banget. Jadilah dari hasil gugling secara intensip pake P saya memutuskan untuk melahirkan di RS. St. Karolus Jakarta. Ini satu- satunya RS di Jakarta yang mendapat komen positif dari semua emak. Ada rumah sakit yang katanya jargonnya saja mendukung ASI, tapi ya kalau nggak ketahuan tetap saja pake susu formula. Ada rumah sakit yang hanya melaksanakan rawat gabung untuk kelas VVIP saja.

Dengan membayar duit 5 juta saja, saya sudah dapat kelas VIP. Ngelahirinnya pake bidan tapinya, bukan dokter kandungan. Ah, hanya di Indonesia saja yang seolah semua kelahiran harus ditangani spesialis kandungan. Di Australia semua juga ditangani bidan kecuali ada kasus yang membutuhkan penanganan khusus. Dan selama tiga hari di rumah sakit, saya dengan santai ongkang- ongkang kaki menyaksikan ibu bidan berantem dengan keluarga-keluarga saya yang tidak terima dengan cara saya. “ASI nya belum keluar gitu lho,” cetus seseorang. Si bidan dengan galak menatap si ibu, “Belum keluar gimana? Jelas sudah netes gitu. Maunya kayak gimana? Langsung mancur berliter- liter apa? Emangnya sapi?” Saya terkekeh geli. Setiap ada yang protes, saya hanya mengangkat bahu sambil berkomentar polos “Kalau disini emang gak boleh ditambah formula. Mau gimana lagi.....”  


Dulunya, saat sedang hamil, salah satu motivasi terkuat saya untuk memberikan ASI adalah masalah finansial. Bayangin, bisa hemat berapa duit kalau saya tidak harus membeli berkaleng- kaleng susu formula nan mahal itu? Tetapi setelah beberapa minggu menyusui Sera, saya hampir give up. Kalau pertimbangan untuk hanya memberi ASI saja itu semata soal finansial, rasanya kebanyakan ibu bakal mundur teratur. Kecuali kondisi finansial kita memang sedang sangat sulit, rasanya semua emak yang baru saja melahirkan lebih memilih mengeluarkan duit 1 juta per bulan asal bisa mendapat tambahan tidur barang dua jam saja. Sementara bayi yang diberi susu formula bisa diserahkan pada penjagaan orang lain once in a while, saya terikat pada bayi saya 24/7. Setiap malam, baru saja memejamkan mata, akan terdengar lagi tangisan si genduk. Apalagi kalau bayinya seperti si Sera yang rakusnya nggak ketulungan. Plus karena satu dan lain hal saya hanya bisa menyusui dengan posisi duduk, nggak bisa dengan berbaring. Plus puting saya babak belur. Rasanya itu adalah satu bulan paling melelahkan dalam hidup saya. Enggak, saya nggak merasakan kenikmatan atau kebahagiaan saat menyusui bayi saya seperti yang dirasakan ibu- ibu lain. Saya hanya capek. Dan berasa seperti zombie saja.


Merasakan betapa beratnya menyusui secara full terutama di awal- awal, apalagi kondisi tubuh juga belum sepenuhnya fit, saya tidak pernah menghakimi para ibu yang kemudian memutuskan untuk menambah formula misalnya. Saat seorang teman mengatakan dia terlalu lelah dan ingin menambah formula, saya tidak serta merta memberikan kuliah panjang lebar betapa memberi ASI itu kewajiban seorang ibu dan shame on you, kamu bukan ibu yang baik, kamu pembunuh bayimu kalau kamu memberikan formula. Bleh.


Don’t be ASI NAZI lah. Saya sendiri adalah pendukung ASI 100%, tetapi saya sebal melihat para NAZI yang menteror para ibu agar 100% hanya memberikan ASI saja. Yang membuat tidak memberikan ASI 100% equal dengan pembunuh bayi. Oh come on, nggak usah selebay itu lah. Janganlah melakukan pendekatan sekejam itu. Saat ada seorang emak yang mengeluh pada saya masalah pemberian ASI, saya selalu berusaha menempatkan diri pada situasinya, yang mungkin sudah setengah sinting kurang tidur berminggu- minggu. Biasanya saya akan bertanya kenapa, apa masalahnya? Terlalu capek kah, butuh tidur kah, atau bayinya bermasalah dalam menyusui kah. Dan kalimat motivasi saya biasanya semacam “Memang sih, aku dulu juga sebulan pertama bener- bener capek. Rasanya pingin nyumpel mulutnya si bayi biar diem bentar aja, biar aku bisa tidur sejenak. Kalau kamu memang sudah nggak tahan banget, ya sudah coba aja beri formula sehari sekali juga nggak papa. Bayimu nggak bakal mati kok. Kalau aku dulu, setiap pingin menyerah, aku bilang ke diriku sehari ini saja. Sehari lagi saja. Besok kalau mau menyerah ya sudah. Tambah sehari saja si bayi hanya dapat ASI, berarti tambah lagi satu lapisan pelindung di ususnya yang masih bolong- bolong. Aku dulu sih berusaha bertahan paling enggak sebulan saja, biar ususnya Sera sudah sempurna terlindung.”  


Biasanya sih, mereka malah berakhir dengan terengah- engah berhasil menyusui bayinya, tidak hanya sebulan dua bulan, tapi lanjut terus.


Oya, setelah masuk kerja, lain lagi tantangannya. Saya termasuk salah satu orang pertama di ruangan yang sibuk dengan upaya memompa ASI di kantor. Awal memompa bersama beberapa ibu- ibu lainnya, saya sampai ingin menangis frustasi. Sambil mengobrol mereka mengoperasikan pompanya, dan 300 ml ASI segera mengalir keluar. Saya menggigit bibir menahan air mata. Paling banter saya dapat 30 ml. Apalagi kemudian mendengar mereka berceloteh saling membandingkan jumlah ASI nya. Saking mindernya, saya sampai selalu memompa di jam- jam yang sepi, supaya tidak harus bertemu dengan ibu- ibu yang lain.


Untunglah ambisius dan nggak mau kalah adalah sifat saya. Dengan tekun saya gugling di internet, mencari tahu apa yang harus saya lakukan untuk meningkatkan produksi peternakan sapi perah ini. Segala tehnik saya coba, sampai mendatangi pusat laktasi segala. Sampai akhirnya saya menemukan metode memompa dengan menggunakan tangan sendiri, dimana sebelum memerah harus dirangsang dulu, dipijat dulu, diketuk- ketuk dulu. Nggak kayak ibu- ibu lain yang langsung buka beha, tangan sibuk membalas SMS, ASI mengalir melalui pompa. Ahahaha, lumayan, sekali pompa saya bisa dapat 90 ml. Sepertiga para siluman sapi yang lain sih. Tapi dengan congkak saya berikrar “Ha, biar gue sekali mompa hanya dapat 90 ml, tapi gue bakal jauh lebih rajin daripada elu- elu pada, jadi hasil kita bakalan sama.” Dan saya bahkan merelakan bangun tiap tengah malam dan subuh untuk memompa.


Saat saya sudah mantap dengan acara pompa memompa ini, dan tidak harus minder terhadap ibu- ibu yang lain, saya menyaksikan dua orang emak yang baru saja bergabung. Dan hanya berhasil memompa beberapa tetes, paling 20 mili saja. Salah seorang diantaranya melihat ke arah saya dan menyatakan bahwa dia iri melihat betapa mudahnya saya memompa dengan tangan dan mendapatkan hasil yang cukup banyak. Dengan bersemangat saya berkata bahwa saya dulu juga memulai dengan beberapa tetes saja. Dan semua ini melalui proses belajar sampai tangan saya sudah dengan gemulainya bisa memompa. “Aku mencoba berbagai cara, sampai ketemu yang cocok. Itu juga harus coba berkali- kali, belajar sampai lancar kayak gini. Kalau mau besok kutunjukin caranya ya, kuprint tehniknya.


Sesudah beberapa kali bertemu dengan mereka, kemudian saya tidak pernah melihat mereka lagi. Dan saat kemudian bertemu di kantin, si emak berkata bahwa dia sekarang sudah memberikan anaknya formula saja, karena memang ASI nya nggak mencukupi. “Dikit banget sih ASI saya.


Saya tercenung. Berarti ruangan ASI selalu dipenuhi para siluman sapi yang bisa menghasilkan berliter- liter ASI adalah karena berlaku seleksi alam. Kebanyakan emak akan bersemangat memompa kalau memang hasilnya banyak. Sementara mereka yang hanya menghasilkan sedikit, mungkin seperti saya akan merasa minder dan menyerah sajalah. Sekali itu saya bersyukur bahwa nggak mau kalah adalah sifat saya. Kepada setiap emak yang bertanya soal ASI ke saya, saya selalu berkata “Mungkin Tuhan hanya ngasih ASI sedikit ke aku karena Dia tahu aku jauh lebih rajin dari emak- emak yang lain.


Dan sialnya lagi, pekerjaan saya menuntut setiap bulan at least dua kali bepergian ke luar kota. Hrrgggghhh. Lagi- lagi untungnya saya adalah makhluk yang paling nggak bisa menerima tantangan. Saat ada seorang meragukan dan berkata “Kamu nggak bakal bisa deh hanya pake ASI saja. Gimana caranya coba kalau kamu keluar kota?” maka saya menyipitkan mata dan berkata “Watch and see!


Mulai lagi deh gugling. Soal bagaimana agar kegiatan memompa luar kota dalam propinsi ini lancar. Awalnya tentu banyak ketidakefisienan yang saya lakukan, tetapi semakin lama saya semakin ahli. Merk cool bag favorit saya untuk bepergian? Pigeon. Besar dan memang khusus untuk mendinginkan, jadi tahan lebih lama. Merk botol favorit? Medela. BPA free dan tutupnya kokoh terpercaya. Harganya nggak semahal Dr.brown, bentuknya nggak aneh2 ngabisin tempat. Plastik ASI? Little giant. Penutupnya rapat, plastiknya tebal. Pensteril? Bawa saja sterilan Pigeon yang kecil itu, masukin koper, beres deh. Pesawat delay lama? Beli kulkas mini di ACE hardware. Mau ente delay 3 jam juga sok atuh, tinggal colokin si kulkas di bandara. Bandara- rumah macet? Tinggal colokin si cooler di mobil. Kulkas di hotel freezernya kecil? Tinggal satronin kulkas- kulkas di kamar teman yang lain, numpang dooonggg. Petugas bandara resek? Print pemberitahuan dari Amerika dan dephub, bahwa untuk ASI boleh dibawa masuk ke kabin tanpa batasan.   


Dan saat sepulang kerja saya berdiri berdesak- desakan di atas busway, dan di samping saya adlaah seorang cewek yang menenteng cool bag tomme tipi, kami bertatapan dan tersenyum simpul. Kami adalah anggota grup rahasia para pemompa ASI, yang tak seorangpun tahu bahwa di dalam tas hitam kami terdapat berbotol- botol ASI yang siap dibawa pulang.
    
Intinya, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Seorang teman bahkan merelakan naik ojek tiap tengah hari, mengantarkan ASI nya yang kejar tayang.


Tetapi, berkaca dari betapa beratnya menjalani itu semua, saya lagi- lagi bisa berempati apabila ada ibu- ibu yang kemudian berkompromi menambah formula. Kan kondisi setiap orang memang berlainan. Sebagai sesama emak, kita seharusnya menjadi orang terakhir yang buka suara menghakimi sesama kita.


Memberi ASI atau tidak, tentu itu hak asasi setiap ibu. Tidak tahu caranya memberi ASI? Tanya ke orang lain, tanya ke ahlinya, tanya ke sesama emak yang lain. Terlalu bodoh untuk bisa memberi ASI? Ah, gukguk saya yang nggak sekolah, yang kemana- mana nggak pake baju aja bisa kok memberi ASA ke anaknya...


Sudah berusaha sekuat tenaga dan tetap tidak cukup? Nggak usah panik. Bayi nggak bakal mati kok kalau dapat tambahan formula.  


Dengarkan pendapat semua orang sebelum mengambil keputusan. Buka telinga lebar- lebar. Setelah mengambil keputusan, tutup telinga rapat- rapat.




I bet not many moms have this kind of hardcore cooler B-)
Beraneka botol yang sudah saya coba sebelum menemukan yang pas di hati. Belilah perlengkapan ASI terbaik yang terjangkau oleh kantong. Kalau mampu beli medela, ya jangan beli botol kodian bertutup bekas fanta. Pengiritan lebih baik dalam hal lain saja lah.


Kegiatan menyusui paling hardcore yang pernah saya lihat. Emaknya diserbu sepuluh babi sampai teguling.





13 comments:

  1. Menarik. Mudah2an gerakan ASI tdk kalah dgn iklan susu formula yg begitu gencar.

    ReplyDelete
  2. aku dulu juga iri bgt ma temen kerja yang memerah cuma 15 menit sudah penuh botolnya. sedangkan aku cuma dpt 80ml itupun hampir 45 menit, tangan pegel, keringat bercucuran. tp untung ibu2 pemerah kasih semangat, jd bisa tetep kasih asi meskipun kerja... =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, waktu aku yg mencoba ngasih semangat kok gak mempan ya? Apa karena mereka lihat aku lebih banyak dari mereka? Atau tampangku yg nggak meyakinkan kali ya, hehehe

      Delete
    2. ga usah sombong lah Meg dgn tampang yg pas2an..hahaha.. jadi penasaran pgn ketemu langsung... :D

      Delete
  3. whaaa Meg.. sammaa.. aku juga fave nya cooler bag pigeon dan botol medela.. *toss!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha, really? Kalau saja harganya lebih murah ya? *merenung

      Delete
  4. Sekarang lagi baru akan lulus 6 bulan asi nih. Sebisa mungkin lanjut terus sampe 2 tahun. Saya sih gak ikutan ngerasain. tapi istri dah bertekad kok, jadi ya tinggal support. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah itu sih udah lulus yg paling berat, hehehehe.
      Sekarang baru mulai makan dong? Repotnya lain lagi deh, ahahahaha. Tapi puassss kalau makannya banyak. Kalau sera dulu ga pake bubur dan, langsung aja disuruh makan sendiri, pegang sendiri. Aku pake Baby Lead Weaning namanya. Gak repot B-)

      Delete
  5. Saya mau tanya pemberian asi ke sera pakai dot?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pakai dot karena much easier bagi si baby sitter. Hanya pernah saat sera masih 3 bulan dia ngalamin bingung puting. Dan menolak menyusu langsung. Nah pas itu langsung semua dot dikunci di brankas dulu dan 'memaksa' si embak untuk mau berepot2 menyendoki atau pakai cupnya medela itu. After a while, sera sudah gak bingung puting lagi, baru balik ke dot. Pokoknya dot hanya utk ASI dan gak boleh berlama2 dikenyot. Susu habis ya sudah. JAngan sampai keterusan tidur masih ngenyot dot.

      Delete
  6. Salam Kenal,

    Mbak, coolerbox yang beli di ace hardware itu hanya chiller/fridge atau freezer ya?sehingga ASI tetap beku?

    Makasih.
    Yuki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sorry for late reply. Hanya cooler, jadi biasanya aku tambahin blue ice juga biar bisa tetep beku

      Delete