Monday 15 October 2012

My Monday Note -- Indonesia Ceria, We Can't Change The World, But We Can Give Them The World


Hari Kamis pukul empat lewat tiga puluh menit sore. Mobil kijang silver yang dikemudikan sopir perusahaan perlahan bergerak menembus kemacetan lalu lintas di kawasan Benda, Cengkareng Jakarta. Saya yang duduk sendirian di bangku tengah mobil kijang tersebut membayangkan dengan sebal bahwa selama berjam- jam kedepan, saya bakal terjebak di jalanan Jakarta yang keparat (coarse language, parent’s guidance needed for toddler viewer).



Seharian itu, saya baru saja mengikuti proses proof print untuk suatu desain kemasan baru. Suatu proses yang amat sangat membosankan dan membuang waktu. Pihak supplier kemasan pun telah berhasil membuat saya jengkel karena tidak segera bisa menemukan warna yang sesuai dengan keinginan saya. Baru keluar dari pabrik jam segini, dan masih harus kembali ke kantor di daerah Pancoran untuk mengambil mobil Yaris saya yang diparkir di halaman belakang kantor, untuk kemudian menyetir melewati kolong Cawang menuju Bekasi. Membayangkannya saja sudah membuat saya capek.   



Pada suatu titik, mobil kijang saya berhenti dengan sempurna. Menunggu dua buah truk berbodi sebesar paus biru berusaha untuk tidak menyenggol satu sama lain. Dengan setengah melamun saya mengarahkan pandangan ke luar kaca jendela mobil. Di kiri kanan jalan terhampar deretan pabrik- pabrik kecil, warung- warung tegal dan petak- petak semak belukar liar yang tumbuh tak beraturan. Sudut mata saya menangkap suatu gerakan. Tanpa minat, saya menatap ke arah sekelebat gerakan yang tertangkap ujung mata saya itu. Di pinggir jalan, tampak sesosok makhluk yang bisa jadi pria atau wanita, muda atau tua, saya tidak ambil pusing, sedang merayap di pinggir jalan. Masih tetap dengan pikiran melamun, saya menyaksikan si makhluk yang ternyata berjalan dengan gaya merangkak, mendekati sebuah warteg dan tampak mengoker- oker (apa coba bahasa Indonesianya mengoker) tumpukan sampah di depan warteg. Menemukan sesuatu yang tampaknya seperti bungkus kertas, si makhluk meraup bungkusan tersebut dan mulai menjilatinya. Beberapa orang (mungkin pegawai pabrik) tampak berlalu lalang di depannya. Selesai menjilati bungkusan tersebut, kembali ia merayap menuju tumpukan sampah berikutnya.




Kedua truk yang sopirnya nyaris saling membacok di depan mobil saya sudah bisa menyelesaikan urusannya. Mobil kijang pun kembali melaju. Tatapan saya kembali terarah ke jalanan di depan. “Kalau gini caranya, jam berapa nih baru sampai kantor?” tanya saya ke arah bapak sopir. “Bisa- bisa jam tujuh paling cepat mbak,” komentar sopir saya.    



Kembali kami berdua tenggelam dalam pemikiran kami masing- masing. Pukul tujuh malam, sampailah saya di kantor. Sambil mengangkat tas plastik jumbo yang dipenuhi gulungan plastik hasil proof print, saya menyeret kaki saya menuju ke arah mobil. “Another two hours driving in a hell,” gumam saya malas sambil menstater mobil. Mobil memasuki wilayah Halim, radio mendendangkan sebuah lagu, entah apa saya lupa. Dan tiba- tiba, saat mobil saya masih berhenti di depan lampu lalu lintas yang berwarna merah, saya berseru “Hanjrit!” dan mulai mengumpat- umpat dalam dialek suroboyoan.



Bukan, bukan karena ada sopir kopaja yang nyerempet mobil saya. Saya tiba- tiba merasa butuh meluapkan perasaan saya dengan mengumpat karena satu kesadaran memasuki otak saya yang tumpul akibat kelelahan. Hanjrit, baru beberapa jam yang lalu saya menyaksikan seorang manusia lain merangkak- rangkak dengan tangan dan kakinya, merayap dari satu tumpukan sampah ke tumpukan sampah berikutnya. Dan menjilatinya. Hanjrit, anjing saya saja masih lebih baik nasibnya daripada manusia itu tadi. Anjing saya juga hobi mengorek tempat sampah sih, tapi itu sekedar hobi, naluri ke-anjingannya. Bukan karena dia kelaparan. Dan yang paling bikin hanjrit, saya bahkan melihat itu semua dan tidak merasakan apapun. Biasa saja. Mata saya menyaksikan makhluk berspesies sama dengan saya sedang meniru cara hidup seekor rakun liar, berjalan dengan empat kaki mengorek- orek tempat sampah, and yet otak saya memprosesnya sebagai sesuatu hal yang biasa saja. Same Shit Different Day. I have no idea apa jenis kelaminnya, berapa usianya, bagaimana bajunya... Saya sekilas hanya mengingatnya sebagai seonggok makhluk bernuansa cokelat.



Saya bisa menyalahkan suplier jahanam yang membuat otak saya setengah pingsan di hari itu. Atau saya bisa berpikir bahwa keadaan yang membuat hati saya menjadi kebal melihat kemiskinan dan penderitaan di sekitar saya.



Dulu, saya berkantor di daerah Kuningan, Jakarta. Setiap hari saya turun dari dalam bus Transjakarta dan menaiki jembatan penyeberangan untuk menuju kantor. Ada beragam orang yang saya temui di atas jembatan. Penjual lupis dan cenil yang menggoda hati (dan membuat saya menemukan peribahasa baru; apa yang tidak membunuhmu, membuatmu diare), penjual novel Laskar Pelangi bajakan, hingga mas- mas berkaos WWF abu- abu yang mencegat saya dan bertanya “Apakah mbak mencintai satwa langka?” Dengan mantap saya menjawab “Of course, I marry one.



Selain para penjaja dan mas WWF, yang selalu menjadi pemandangan wajib di jembatan penyeberangan Jakarta pastinya pengemis. Hayo, berapa banyak sih dari kita yang masih menatap dengan trenyuh ke arah para pengemis itu? Kalau saya melihat ibu- ibu membawa anak kecil yang tertidur pulas di gendongan, paling yang melintas di otak saya adalah “Ni orang pasti pemalas, mending juga jadi pembantu gue” atau semacam “Ni anaknya pasti nyewa anak orang dan dicekokin obat tidur.”



Bukannya saya berhati kejam sih, tapi kalau dalam sehari saya bisa bertemu dua puluh makhluk sejenis, ya lama- lama kebal juga dong. Sama seperti dokter yang lama- lama kebal melihat kematian (ya masuk rumah sakit jiwa lah kalau setiap kematian ditangisi).



Mungkin karena kebanyakan orang Indonesia sudah kebal dengan suguhan kemiskinan dan penderitaan, jadinya untuk membangkitkan kembali perasaan terharu, beramai- ramailah dibuat tayangan semacam Bedah Rumah, Jika Aku Menjadi dan sebagainya. Konsep acaranya sih biasa saja, bantuan yang diberikan juga baik- baik saja, tapi kemasannya, alamak :P. Pokoknya semuanya harus mengharu biru, baik pihak yang dibantu dan yang membantu berebut untuk menangis paling keras. Kalau si fakir miskin yang dibantu tidak menangis menggerung- gerung dan kemudian jatuh pingsan, maka acaranya belum dianggap sukses.



Mahasiswi centil menginap di rumah seorang ibu tua penjual sayur. Acara makan malam. Di depannya terhidang sepiring nasi dengan lauk balado terong dan telur ceplok. Sambil menyuapkan makanan ke mulutnya, si mahasiswi mulai menangis tersedu- sedu. “Makan malam dengan menu yang sangat sederhana, hiks..hiks.... tetapi terasa nikmat karena dimakan bersama- sama, hiks hiks srooootttt.” Si ibu penjual sayur duduk di hadapan si mahasiswi sambil menunduk menekuri piringnya. Saya ikut menunduk menekuri piring di hadapan saya. Isinya nasi dan tempe goreng.  



Itu sih kisah masa lalu saya yang suram, sebelum saya menemukan masa kini yang kelam. Suatu kali, saya melihat postingan di grup FB tempat saya biasa nongkrong untuk menyalurkan hasrat sarkasme saya (another note, another story). Ada foto yang diposting, foto seorang anak dengan bentuk fisik yang tidak normal. Kepalanya membesar terkena hidrosefalus dan tangannya berada dalam posisi yang aneh. Awalnya sih saya ikut membaca postingan itu semata karena yang memosting adalah teman- teman saya di page itu. Yah, takut nggak diaku sebagai teman lagi lah.



Kisahnya mengenai seorang anak bernama Aris. Si anak adalah penderita hidrosefalus. Si ibu yang merupakan orang tua tunggal, berusaha sekuat tenaga menghidupi dan membiayai pengobatan si anak. Si ibu ini sendiri ternyata bukannya sehat walafiat. Tulang tengkorak kepalanya sebagian menghilang dan kondisi fisiknya jauh dari sempurna. Pesannya adalah mari kita bantu mereka, sesama kita yang menderita. Berikan donasi anda pada rekening …....



Membaca postingan itu, awalnya sih perasaan saya serupa dengan perasaan seorang pembaca di Australia yang ditanya bagaimana perasaannya saat melihat permintaan donasi di jalan. “I’ve seen too much. Setiap aku melangkah, selalu ada yang meminta sumbangan. Di pojokan jalan ada Cancer Society, lalu di gerbang stasiun ada Salvation Army, lalu di lampu merah ada Daffodil day.” Dimana- mana ada orang appealing for donation, jadi lama- lama ya terbiasa dan tidak sebegitunya tergerak membuka dompet. Dan masalah melihat seorang anak dengan bentuk fisik kurang sempurna, yah, saya sudah pernah melihat lusinan anak dengan bentuk semacam itu di panti asuhan tempat Sera merayakan ulang tahun pertamanya. Yang lebih ‘aneh’ pun banyak. Yang lebih miskin juga banyak.



Tetapi ‘demi teman’ saya melanjutkan juga mengikuti perkembangan si grup FB yang mendedikasikan dirinya untuk Indonesia yang lebih ceria ini. Dengan runtut grup ini menceritakan tahapan demi tahapan pengobatan yang sedang dijalani oleh ibu dan anak ini, dengan uang donasi yang telah terkumpul. Cerita yang disampaikan benar- benar matter of fact. “Saat ini ibu Paijem sedang menerima beberapa treatment medis dari tim RS Panti Rapih Jogjakarta berupa beberapa obat-obatan yang dikonsumsi terkait beberapa diagnosa terkait gejala yang dialami ibu Paijem.”  

Nggak ada bunga- bunganya, nggak ada usaha membuat kalimat yang lebih puitis atau menyayat hati penuh keharuan. Nggak ada appeal untuk “Save Bu Paijem, Save Human Race.

Dan kemudian, di postingan terakhir, saya termenung.



Selamat pagi dan selamat hari Minggu semuanya. Apa kabar? Gak terasa sekarang sudah tanggal 14 Oktober. Besok 15 Oktober donasi untuk ibu Paijem dan Aris akan kami tutup dan akan kami sampaikan kembali rincian donasi yg masuk maupun pengeluaran. Sementara ini ibu Paijem menjalani terapi oral (minum obat) yg diberikan Dr. P. Sudiharto. Sambil menunggu respon terapi tersebut (sekitar 2 bulan) saya ingin mengundang partisipasi teman2 semua, apa yg bisa kita lakukan utk menolong ibu Paijem. Sedikit gambaran, tempat tinggal beliau skrg adl menumpang di rumah saudara, berjarak sktr 3-4 km dari akses kendaraan umum (Jl Bantul atau Jl Parangtritis). Setiap minggu dg kondisi beliau sendiri yg masih sakit, beliau harus menggendong Aris dan berjalan kaki sejauh itu utk kmd naik bis ke RS Panti Rapih menjalani terapi (buat Aris). Ada bbrp usul kmd dari kita utk mencarikan tempat tinggal lain buat beliau dan Aris yg lebih memudahkan beliau dlm hal akses ke kendaraan umum atau ke RS. Dan yg tidak kalah pentingnya adl memberikan beliau mata pencaharian baru, karena beliau sendiripun tidak ingin selamanya bergantung pada orang lain. Kami tunggu ide dan saran teman2 ya. Siapa saja boleh ikut usul, apalagi jika rekan2 tinggal di Jogja sehingga tahu persis kondisi transport di Jogja. Salam ceria.


Sumpeh lu, saya bisa membuat paragraf yang lebih menyayat hati untuk menggambarkan kondisi ibu dan anak ini, yang berjalan menembus terik matahari yang membakar ubun- ubun, dengan terseok- seok menggendong bocah kecil permata hatinya..... Dan mungkin membuat yang membaca paragraf saya bakalan mbrebes mili berlinang air mata.



But no. Page ini didirikan oleh sekelompok anak muda yang ingin giving back to Indonesia, bukan menjadikan kemalangan nasib seseorang sebagai komoditas opera sabun peraup simpati publik yang termehek- mehek. Tidak ada haru biru tangisan tersedu- sedu. Yang ada adalah sekelompok anak muda yang saat ini baru memiliki kemampuan untuk mengurusi dua jiwa. Mereka bergantian mencarikan jalan untuk pengobatan kedua jiwa ini, mencarikan dokter yang tepat, mencari celah agar mendapat keringanan biaya atau sekedar membuatkan cover picture. Mereka rela repot. Yang mereka tidak punya, rekening bank yang tanpa batas. Oleh karena itu mereka meminta donasi.

Dan ya, bagi mereka bu Paijem dan Aris bukanlah sekedar proyek belaka. Cobalah mengeja nama bu Paijem menjadi Painem, pasti mereka akan terburu- buru memperbaiki ejaan anda. Bu Paijem bukanlah sekedar proyek belaka, ia adalah satu pribadi yang sama pentingnya dengan anda dan saya. Sama uniknya dengan nama saya; VINCENTIA pake NNNNNN!!!!!



Enggak, saya yang terutama tidak sekedar mengajak para pembaca note saya untuk menjadi donatur bagi Indonesia Ceria. Donatur bagi proyek Bu Paijem dan Aris, dan kedepannya proyek- proyek kemanusiaan lainnya. Tapi saya ini sedang intropeksi diri sendiri. Sejak kapan sih saya merasa seorang anak yang hidrosefalus itu ‘biasa saja”? Sejak kapan sih saya melihat permintaan bantuan dan menganggapnya just another shit appeal? Sejak kapan sih saya merasa tiada artinya membantu satu jiwa yang membutuhkan, karena toh tidak akan mengubah keadaan? Toh kalaupun saya berhasil menolong yang satu ini, masih ada ribuan anak hidrosefalus lain yang mati enggan hidup tak mau? Dan sejak kapan sih sekedar melihat foto ibu dan anak yang jelas- jelas sedang membutuhkan bantuan itu tidak lagi cukup untuk melembutkan hati saya? Apa saya menunggu mereka berlutut dulu di depan saya, menyembah memohon uluran tangan saya?



Anda boleh sekedar menyisihkan 50 ribu per bulan untuk si Aris, dan pemilik page Indonesia Ceria pasti akan senang bukan kepalang. Atau anda boleh memutuskan untuk mempunyai proyek anda sendiri. Atau anda boleh lebih memilih terketuk hatinya oleh permintaan bantuan dari panti asuhan di sebelah rumah. Whatever suits you. Tetapi yang kita tidak boleh, menjadi tawar hati melihat penderitaan dan kesengsaraan orang lain.



Toh ribuan anak balita meninggal karena kurang gizi setiap harinya di Indonesia, apa bedanya si Aris ini hidup atau mati? Urusan yang mati itu 1000 anak atau 1001 anak itu urusannya pemerintah. Urusan statistik sebagai bahan kampanye “Dalam masa pemerintahan saya jumlah anak balita yang meninggal karena cacingan berkurang 5%.” Biarlah itu menjadi urusannya politisi yang berjualan citra whitening lotion.



Dengan membantu Aris (atau Rudi atau Paijo atau Siti atau siapapun yang diantarkan nasib ke kehidupan kita), kita tidak mengubah dunia. Nope, dunia akan tetap dihiasi kemiskinan dan penderitaan. Tetapi dengan mengulurkan tangan kepada satu jiwa ini, kita mengulurkan dunia kepada mereka. An eye for an eye seharusnya bermakna karena satu ‘mata’ sehat yang sudah dianugerahkan bagi kita, tugas kita untuk membalasnya dengan membantu satu jiwa lain menemukan ‘mata’ yang sehat.

Dan semoga, si Aris atau Rudi atau Paijo atau Siti, di suatu malam yang senyap, akan memuliakan nama Tuhan yang maha pengasih dalam doa mereka. Karena mereka sudah merasakan kasih nyataNya melalui tangan saya. Atau anda. Atau KITA......


An eye for an eye.....
Kaos yang desainnya dikerjakan secara gotong royong (satu desainer bekerja. ratusan komentator  bawel ngegerecokin). Saya sampai menguap menunggu kapan kelarnya

Nama mereka bisa berlainan dalam kehidupan kita. WWF bagi saya, Aris bagi  tim Indonesia Ceria, Harjo bagi anda... Janganlah menjadi tawar hati hanya karena has seen them too often

5 comments:

  1. Subhanallah. semoga tulisan sampean bisa memberikan sentuhan dan penyadar terutama bagi saya dan semua orang yang membacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau habis baca masih belum sadar juga, saya sudah sedia air keras kok So untuk nyiram :D. Mungkin bakal jadi agak ganteng sedikit ^_^

      Delete
  2. Bagus tulisannya. Salute!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh why, makasih makasih... Jadi terharu tumben ada yang memuji....

      Delete
  3. Kalau sulit untuk merubah dunia, maka marilah kita mulai merubah diri sendiri dulu.

    ReplyDelete