Dua minggu lalu, dalam rangka memeriahkan acara nikahan adik saya (sekaligus memastikan nama saya masih tercantum di wasiat), kami bertigapun pulang kampung. Karena mendapat tiket murah Air Asia, si Okhi memutuskan sekalian saja deh mampir ke Singapura dan Kuala Lumpur, jalan- jalan melepas lelah. Note: yang ada malah jadi terlalu lelah. Yah maklumlah, perencanaan memang bukan strong point si Okhi. Not really fancy these two countries, saya agak ogah- ogahan dalam menyambut acara jalan- jalan ini. I'd rather nongkrong di Jogja atau ke Bali. Tapi, yang namanya pengalaman hidup, semua tentu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Plus kan sudah bayar mahal, rugi dong kalau gak dinikmati :D.
Mind you, satu- satunya negara di Asia tenggara yang sudah pernah saya datangi sebelumnya adalah Singapura. Dan yah, meskipun negara seukuran warteg ini bertetangga dengan kita, tetapi kelasnya sudah jauh dong. Bahkan Melbourne pun kalah dalam hal fasilitas, kecanggihan, kerapian dan disiplin. They're in another level lah. Jadi, saya tidak tahu apa yang harus saya harapkan saat mengunjungi negara bernama Malaysia, yang berita- berita tentangnya berkisar songket yang hendak dicolong, TKI yang digebuki atau promosi pariwisatanya yang gila- gilaan, dengan Theme Song yang sangat ear-catching; Malaysia Trully Asia (mari facepalm berjamaah atas kehebatan si pembuat theme song).
Nah, saya tidak hendak membuat ulasan tempat- tempat wisata disana, tetapi this is my 2 cents mengenai apa yang saya rasakan saat mengunjungi negara tetangga yang makin menancapkan kuku di dunia pariwisata ini. Mendarat di LCCT, terminal low-cost yang khusus melayani penerbangan murah, saya berpikir, ini sama dengan bandara di Surabaya. Rame, penuh sesak, banyak orang yang duduk di lantai dengan dikelilingi beraneka kardus barang bawaannya. Kalau penampilannya mirip dengan bandara Juanda di surabaya, lalu apa bedanya dong? Bedanya adalah bandara, bagi pemerintah Malaysia, adalah suatu bagian integral dari bisnis pariwisata yang sedang mereka promosikan dengan berbusa- busa. Contoh paling mudah, mereka memiliki jasa penitipan koper. Terkesan simpel, tapi hal sederhana ini sangat membantu bagi para wisatawan. Saya membaca bahwa kebanyakan turis hanya berkunjung ke Malaysia untuk keperluan transit, untuk kemudian terbang kembali ke negara lain. Tidak seperti Bali yang banyak turis sengaja ngendon selama berminggu- minggu disitu. Bayangkan, pada saat si turis menunggu pesawat berikutnya yang akan membawanya ke Melbourne atau Eropa misalnya, daripada hanya berdiam di bandara, si turis akan 'dipaksa' keadaan untuk menghabiskan harinya dengan berwisata singkat di kota, city tour. Penitipan koper tersedia, berbagai jasa city tour mudah dijumpai. Hendak ke kota? Tak usah bingung, ada berbagai pilihan bis, kereta ekspres dan taksi yang bisa dimanfaatkan. Dan jadinya, dari yang mungkin tadinya hanya berniat transit sebentar, ada turis yang sengaja memperlama waktu tinggal di KL, seperti saya yang kemudian memutuskan untuk tinggal dua hari disana. Karena di internet sangat mudah dijumpai data yang menunjukkan bagaimana menaruh koper saya, dan naik apa dari dan ke bandara.
Pesawat mendarat jam delapan pagi, sementara kami baru bisa check in di hotel pukul satu siang. Jadilah diputuskan kami akan berjalan- jalan dulu sebelum pergi ke hotel. Nah, sekarang bayangkan betapa ribetnya urusan mau berjalan- jalan kalau harus membawa dua buah koper jumbo. Menitipkan koper di bandara juga tidak ekonomis, karena hotel kami terletak di tengah kota. Eh ternyata, di stasiun kota KL Sentral, juga tersedia tempat penitipan koper. Praktis bukan? Sementara di bandara koper bisa dititipkan berhari- hari, di sini koper tidak bisa menginap. Cukup cerdik. Itu berarti jasa diadakan sesuai kebutuhan. Saya memutuskan untuk mencoba naik kereta ekspress dari bandara ke stasiun kota. Di bandara, saya membeli tiketnya, dan diberitahukan bahwa saya harus menaiki bis berwarna ungu yang akan membawa saya ke stasiun kereta. Bagaimana bentuk bis nya? Lagi- lagi nggak beda jauh dengan bis bandara di Surabaya. Ber-AC sih, tapi ya tidak mewah. Pegangan kursinya ada yang sudah terlepas. Dan, yang disetel kencang di tapenya adalah lagunya Amy Search yang populer di jaman penjajahan Belanda -___-
Jam sembilan lebih sepuluh menit, sesuai jadwal, bis bergerak. Ini satu lagi yang penting. Bentuk bis boleh tidak mewah, tetapi asalkan cukup layak, dingin dan bersih, serta yang terpenting TEPAT WAKTU, orang tidak akan keberatan. Tidak usah muluk- muluk menyediakan bis dengan bangku berlapis emas. Tepat waktu adalah syarat utama turis akan menganggapnya reliable (ya kan bagi para turis yang terikat jadwal penerbangan, ketepatan waktu adalah syarat utama). Setelah menunggu selama delapan menit, kereta ekspres pun melaju mendekati stasiun. Ha, rupanya jadwal si bis sudah dikoordinasikan dengan jadwal si kereta, sehingga penumpang tidak harung bengong terlalu lama di stasiun. Simpel kan? Yet quite thoughtful.
Bagaimana situasi stasiun pusat kotanya? Lagi- lagi yah sama sajalah dengan di Jakarta. Fasilitasnya sederhana juga. Jauh lah kalau dibandingkan dengan Singapura. Tetapi dari penjelajahan selama dua hari di KL, saya menemukan salah satu kekuatan mereka yang sebetulnya Indonesia juga bisa menyediakan kalau saja ada kemauan. Alat transportasi. Objek wisata sih biasa saja, hotel juga standar, tetapi Malaysia sudah selangkah lebih maju dalam hal transportasi. Hoho, jangan berpikir bahwa alat transportasi disana mewah dan teratur. Nope. Saat berjalan menuju ke Central Market, saya juga terbatuk- batuk terkena kepulan asap dari bis- bis kota yang ngetem menunggu penumpang. Penampilan bis nya juga jauh dari elok. Kernet bisnya bersaudara kembar dengan kernet di terminal Kampung Rambutan. Begitu juga bentuk halte bisnya. Persis sama dengan Jakarta. Dan deretan taksi yang menunggu penumpang? Bentuknya persis taksi Blue Bird yang habis dikunyah Godzila dan dimuntahkan kembali.
| Bentuk taksi dan bis regular di Kuala Lumpur. Bring me Blue Bird anytime please.... |
Jadi apa dong kelebihan transportasinya? Mengerti kebutuhan wisatawan. Yang namanya wisatawan, apalagi yang hanya tinggal barang sehari dua hari, paling- paling ya akan menghabiskan harinya dengan memutari obyek- obyek wisata dong. Masak sih mau mampir ke KUA? Nah, pemerintah ni negara mulai berbenah, sehingga sekarang secara konsep, transportasi turis di KL setara dengan negara- negara maju (konsepnya doang sih, implementasinya masih 'butuh perbaikan'). Tapi it helps a lot. Coba sekarang kalau ada orang luar Jakarta ingin mencari tahu bagaimana caranya dia bisa memutari Jakarta, ke Taman Mini, Monas, Kebun Binatang, Mangga Dua misalnya. Dijamin pening kepala kan? Naik kopaja 02 turun di sini, terus nyambung lagi mikrolet U2 turun di ono. Terus naik bajaj (jangan lupa ditawar ya....). Pusing kan? Ditambah lagi, dimana coba harus mencari informasi semacam itu? Internet? Coba ketik Rute Angkot dari Pejaten ke Taman Mini ya.... Jangan lupa berdoa yang banyak.
Pemerintah Malaysia menyediakan line transportasi yang disesuaikan dengan kebutuhan para wisatawan. Selama satu hari, saya menaiki bis Hop On Hop Off, bis yang memutari kota dan berhenti di berbagai tempat wisata populer di KL. Konsep Hop On Hop Off ini adalah satu konsep yang sangat populer di berbagai kota (Melbourne punya trem dan bis sejenis ini) dimana wisatawan bisa naik dan turun sesuka hati. Saya kemarin misalnya, naik si bis dari halte butut di depan Pasar Seni. Kemudian saya turun di halte museum. Selesai berkunjung di museum, saya menunggu lagi di halte di depan museum, menunggu bis hop on hop off berikutnya. Begitu terus, saya akan turun di obyek wisata yang menarik minat saya. Durasi si bis cukup cepat, setiap 30 menit sekali (dulunya satu jam sekali). Praktis kan? Akibatnya saya tidak usah pusing berpindah tempat wisata. Dalam sehari bisa menjelajahi belasan tempat sekaligus. Enggak nyangkut di mikrolet di pinggir jalan.
| Si bus hop on hop off yang menyenangkan |
Selain si bis hop on hop off yang berbayar ini, ternyata ada bis baru yang gratis. Rutenya serupa dengan si hop on hop off, tetapi lebih pendek. Istilahnya, kalau si hop on ini lengkap rutenya menjangkau berbagai tempat yang cukup jauh, si bis City Circle ini hanya menjangkau tempat- tempat yang berada di pusat kota. Nah, siapa yang menolak ditawari bis ber-AC yang gratis, yang memang menuju ke tempat- tempat yang saya butuhkan. Memperhatikan rutenya, saya haqul yakin rute kedua bis ini dirancang setelah pengamatan yang mendalam atas pola pelancongan para turis. Pasti anggota DPR di Malaysia tidak pernah berhenti studi banding ke berbagai negara.....
Di atas bis, saya berpikir. Membandingkan pengalaman ini dengan dua tempat favorit liburan saya, Yogya dan Bali. Yang saya ingat, bepergian di Bali adalah pain in the ass kalau tidak membawa kendaraan sendiri. Padahal tidak semua orang bisa menyetir dan ingin menyetir di suatu tempat yang asing baginya. Saya pernah tergeletak kelelahan menunggu angkot yang tak kunjung tiba di tepi Pantai Kuta. Begitu juga dengan Yogya. Kalau mau menyewa mobil, bahkan harus dengan sopirnya. Tidak menyewa mobil? Saya bingung bagaimana harus mencapai berbagai tempat yang saya inginkan, Taman Sari, Kotagede. Sungguh, dengan potensi pariwisata yang sebesar itu, kenapa tidak ada yang terpikir untuk menyediakan bis- bis semacam ini ya? Karena tidak semua wisatawan tertarik mencoba berbagai rute kopaja dan mikrolet. Wisatawan, ingin bisa berpergian dengan cepat dan nyaman, menjangkau sebanyak mungkin beraneka obyek wisata dalam waktu singkat. Jangan buat saya bercerita soal Jakarta. Ke laut aja deh.
Selama di KL, saya merasa juga bahwa negara ini sebetulnya masih tertatih- tatih mencoba memperbaiki wajah. Contoh paling gampangnya, bis City Circle sudah didesain agar bisa mengangkut stroler bayi atau kursi roda penyandang cacat (pintunya lebar, tanpa tangga dan lantainya datar). Tetapi, prasarana kotanya belum tertata. Seharusnya untuk bis semacam ini, tinggi lantai pintu sejajar dengan trotoar. Di KL, trotoarnya masih acakadut, sehingga terpaksa Okhi mengangkat strolernya Sera (sekaligus balitanya) naik turun bis. Bis hop on berkonsep modern, tetapi kernetnya terkadang lupa menutup pintu bis bagian bawah (bis bertingkat dua). Dua kali saya harus berteriak "Close the door please!" Halah dalah, bis sudah melaju dengan kencang, dan pintu lebar masih terbuka lebar, dengan Sera sibuk berlalu lalang! Dan saat bis berhenti, pintu akan lupa dibuka. Sehingga percuma saja si pintu yang stroler friendly. Kami harus naik tangga untuk turun dari pintu depan :D. Juga di suatu halte, bis berhenti lebih lama dari seharusnya. Saat mengintip keluar jendela, bapak kernet sedang asyik merokok, dan bapak sopir sedang menyantap nasi kotak, berbagi dengan petugas yang ada di halte. Saya dan seorang turis bule tertawa lebar melihatnya.
Intinya adalah, memperbaiki prasarana itu sulit. Tetapi memperbaiki mental, itu tantangan yang sesungguhnya. Tetapi melihat situasi di KL dengan segala keterbatasannya, saya juga menarik pelajaran. Tidak harus berharap hasil yang sempurna, mewah dan megah. Yang terpenting adalah konsep yang jelas, dan kemudian dengan perlahan dan bertahap mewujudkannya. Seperti bis hop on yang tadinya berdurasi lebih dari satu jam, durasi yang terlalu lama antar bisnya. Tetapi that's fine. Konsepnya jelas, dan kemudian perlahan- lahan diperbaiki.
Berjalan- jalan di seputaran KL, saya salut akan tingkat percaya diri mereka dalam menyebut sebuah tempat sebagai obyek wisata. Di Indonesia, terbiasa dengan kedahsyatan berbagai obyeknya, yang layak disebut obyek wisata adalah yang semenakjubkan Pura Besakih atau Prambanan. Di KL, bis saya berhenti di danau yang mengingatkan saya pada Danau Sunter di Jakarta. Ini disuruh ngapain coba? Lalu bis berhenti juga di depan Istana Negara (lupa namanya), dan yang dijual hanyalah gerbang besar dengan penjaga berkudanya untuk difoto. Sebagai orang asli Indonesia yang tinggal di Melbourne, saya hanya dengan sinis berpikir "Menarik Sekali...." But hey, it apparently works! Banyak wisatawan menyerbu keluar bis dan berfoto ria di depan si penjaga. Tidak usah dibandingkan dengan Yogyakarta yang so soulful, Surabaya yang selama ini tidak pernah kita anggap sebagai kota wisata pun sebetulnya memiliki potensi untuk mengalahkan KL. Bayangkan bila ada bis hop on yang melintasi Kebun Binatang Surabaya (melihat komodo bercacing kremi -___-), Pasar Atom dan Pasar Turi (ha, tidak terbayang kan pasar semacam ini bisa jadi obyek wisata), Kampung Ampel menikmati kuliner Arab dan wisata religi, Taman Bungkul dan Kebun Bibit, Tugu Pahlawan (belum ke Surabaya kalau belum berpose di depannya, sama seperti tidak sah ke KL kalau tidak nampang di depan Petronas), Kotamadya Surabaya dan sekitarnya yang bergedung kuno ala Belanda, dan aneka tempat lain. You name it. Karena seperti KL, Surabaya juga banyak didatangi para pelancong untuk kepentingan bisnis atau transit semata. Kenapa tidak dimanfaatkan untuk wisata singkat sebelum terbang ke Bali atau Jakarta?
Diluar segala hal teknis itu, berjalan- jalan di negara tetangga kita itu membuat saya teringat Mangga Dua. Penuh barang bagus, tetapi semua KW. Mungkin KW super bersertifikat, tetapi intinya KW. Semuanya terasa dangkal, tidak berjiwa, dan telinga saya mendengar jeritan "I'm fake" dari berbagai penjuru. "I'm pretty but with no soul." Mungkin perbandingan ekstrimnya adalah bila dibandingkan saat saya menjelajah jalan dan gang kecil di Malioboro, dengan jajaran penjual ronde dan pecelnya, tumpukan batik dan wayangnya, serta lorong- lorong bernama jalan yang ditulis dalam aksara Jawa berwarna putih dengan dasar hijau cerah. Hatipun otomatis berdendang "Pulang ke kotamu....Musisi jalanan mulai beraksi...."
Di Kuala Lumpur, saya melihat suatu tempat yang dengan bersusah payah berusaha memamerkan nafas Trully Asia nya di segala penjuru, berusaha menempelkan denyut seni di berbagai pojokannya yang hampa.
Di Kuala Lumpur, saya melihat suatu tempat yang dengan bersusah payah berusaha memamerkan nafas Trully Asia nya di segala penjuru, berusaha menempelkan denyut seni di berbagai pojokannya yang hampa.
Tadinya, saya sempat berpikir seharusnya Indonesia mempunyai lagu se-ear catching jingle Malaysia, Trully Asia. Setelah penjelajahan saya di negara itu, saya tetap sih berpendapat bahwa Indonesia sungguh harus menyewa konsultan kaliber untuk memoles citra negeri ini (Singapura menggunakan jasa konsultan paling beken untuk pencitraannya) termasuk untuk membuat theme song yang yahud. Tetapi, Indonesia bukanlah sekedar trully Asia (negara manapun yang terletak di benua Asia ya trully Asia to?). Indonesia adalah rangkaian petualangan yang penuh sesak oleh budaya dan adat yang turun temurun pada ratusan generasi, yang mempenetrasi semua aspek kehidupan manusianya.
Negara dengan bis hop on canggih tetapi masih bersusah payah mencari jiwa hingga merasa perlu mengklaim tarian tetangganya....
atau
negara yang segala pojokannya dipenuhi budaya dan adat yang sekental ingusnya Sera dengan lanskap bak pahatan Tuhan, tetapi yang masih harus bersusah payah memperbaiki mikrolet dan bajajnya......
Pilihan yang mudah. Karena lebih mudah membeli bis modern daripada membeli budaya songket dan laut membiru, rumah bagi splendid reef fish.
Indonesia, negara yang dengan sedih kucinta..... (Ayu Utami)
Note: tulisan pendek hasil dari menjelajahi Malaysia selama satu setengah hari, dengan konsentrasi yang terpecah untuk mengurus balita tukang ribut. Pengamatan yang dihasilkan dari mendatangi hanya tiga obyek wisata karena Sera sudah bosan :D. Saya sampai merinding membayangkan laporan mendalam yang dihasilkan para anggota dewan kita yang terhormat, yang tahun lalu bersedia bersusah payah melaksanakan studi banding ke Spanyol beramai- ramai, dan sibuk memotret dirinya di depan stadionnya Real Madrid demi memajukan dunia wisata Indonesia... What a deep thoughtfull report I bet......
Proyek saya saat pulang kampung berikutnya: melanglang Surabaya dengan gaya wisatawan yang sama sekali tidak mengenal kota tempat saya dibesarkan ini. Dari Melbourne saya akan mengecek informasi pariwisata via internet, dan dari bandara saya akan mencoba angkutan umumnya. Dan coba ya, bagaimana pengalaman saya naik angkutan umum mencoba mendatangi berbagai obyek wisata yang menarik minat saya. First hand report.
Proyek saya saat pulang kampung berikutnya: melanglang Surabaya dengan gaya wisatawan yang sama sekali tidak mengenal kota tempat saya dibesarkan ini. Dari Melbourne saya akan mengecek informasi pariwisata via internet, dan dari bandara saya akan mencoba angkutan umumnya. Dan coba ya, bagaimana pengalaman saya naik angkutan umum mencoba mendatangi berbagai obyek wisata yang menarik minat saya. First hand report.

kita kan sudah ada jingle nya : " I love the blue of Indonesia .." ..he..he..he..
ReplyDeleteHahahahha (ketawa ngenes ane)... Saran jitu, panggil tu perusahaan rokok, paksa menyerahkan jingle pada kementerian pariwisata. Atau yg lebih msuk akal, tanya siapa konsultannya, huahahahha. Eh, bagi nama dong bang/ neng, jadi saya nggak memanggil bang anonymous nih ^_^
Deletebelum punya google account...bukan blogger soalnya :)
DeleteGak papa, yang penting punya account bank.....
DeleteSalam kenal abang Dhammasukha #ngajak salaman, nyodorin tangan
kan sudah kenal juga..yang komen pertama di facebook tadi pagi :P
DeleteYaelah... Ini nama alias demi menghindari pantauan istri gitu ya -____- Padahal sudah terlanjur seneng dipikir dapet kenalan cowok baru, kali2 berondong alay #kecewa berat
Deletenggaklah...istri juga tahu kok nama ini :). Ini demi menghindari pantauan Okhi..lol ...
DeleteMerinding bbnget gw baca ini. Siapa yang bisa gw tendang nih biar Indonesia bangun?! Sumpah gemeeess..
ReplyDeleteIndonesia emang lebih dari sekedar truly Asia. Beneran mahal ya jasa konsultan buat bikin jingle yang menusuk otak gitu? Kalo dibanding sama korupsinya mestinya gak semahal itu ya
huaaa. Setres sendiri.
Indonesia, negara yang dengan sedih sangat kucinta..
Pemerintah thailand (yg nggak sekaya Singapur deh) menyewa Tyler Brule sebagai konsultan rebranding negaranya. Mahal? Pasti. Tapi saya yakin rakyat tidak keberatan, dibanding disuguhi berita studi banding yang lebih murah. Website kita? Kayak dibuat salah satu pegawai yang mengcollect datanya dari wikipedia, dan membuatnya sebagai pekerjaan sampingan belaka. Dan di majalah Australia, hanya bali dan bali lagi yg TERKADANG dibahas. Oh yeah, jangan marah ya kalau orang utan dan bunga raflesia nangkring dengan sukses di kolom berita Serawak Malaysia, huahahaha
DeleteOh ya dani rachmat, untuk membuat ente tambah belingsatan, tahukan ente kalau di beberapa tempat wisata di Indonesia skr mulai berlaku peraturan membawa kamera harus membayar? Coba dirimu renungkan. New Zealand, sehabis hancur lebur terserang gempa, berusaha sekuat tenaga membuat semua wisatawan bersedia menuliskan pengalaman dan share foto2 wisatanya di negeri itu demi membangkitkan pariwisatanya lagi. Di negera kita (uhuk) mau memfoto borobudur dan memajangnya di blog bukannya diencourage tapi disuruh bayar, huahahahha
DeleteUntungnya sejauh ini Bali belum yah menerapkan kalau foto harus bayar. Moga moga sih nggak. Kayaknya pertama Indonesia harus reformasi menteri / departemen pariwisatanya dulu. Dua tiga tahun lalu habisin dana banyak untuk visit Indonesia Year hasilnya cuma tulisan / stiker di buntutnya pesawat Garuda :). Kenapa Mega nggak mulai saja mengadakan sayembara pembuatan jingle, dan promosi pariwisata. Nanti kalau sudah dapet pemenangnya, jual ke negara untuk hadiah pemenangnya. Online saja, penjurian juga online :)
Deletewahahaha, aku juga bukan ahlinya urusan bikin sayembara gitu. Tapi sebetulnya nggak heran duit visit indonesia year terbuang percuma, krn ya kan birokrat memang bukan marketer rebranding wahid. Lha wong Unilever yg dipenuhi pakar marketing aja pas urusan bikin iklan ya nyewa konsultan kok. "Serahkan pada ahlinya"----> maksud ane bukan si Foke ya, hehehe
DeleteWahid !!
ReplyDeleteNOOOOOO!!! Not here!!!! -___-
Deletetumben komene akeh.. nek ngono aku rasah komen ae lah... kan kamu udah tau jalan pikiranku
ReplyDelete:)
Aku tahu warna celana dalammu dan ukuran sepatumu, tapi aku kurang tahu jalan pikiranmu......
Deletetulisan pendek hasil dari menjelajahi Malaysia selama satu setengah hari...?cukupkah? dengan berputar-putar pada satu titik (KL) lalu membuat kesimpulan parawista hanya ada di KL sahaja tanpa menimbang ada 13 buah negeri dan 3 wilayah persekutuan yg semuanya itu juga termasuk dalam perkembangan wisata Malaysia dan wisata itu tidak hanya di KL sahaja. hebatnya...menilai wisata sesebuah negara hanya dengan berpandu pada satu titik dan satu setengah hari. Hebat kamu.
ReplyDelete