Ceritanya, berabad- abad yang lalu, saya pernah mendengarkan curhatan dari dua orang wanita yang sangat berbeda usia, latar belakang, kondisi sosial ekonomi dan tingkat pendidikan. Yang seorang adalah ibu- ibu paruh baya yang merupakan istri seorang pejabat. Mapan ekonominya, santun tutur katanya, anggun penampilannya. Sementara yang seorang lagi adalah bekas embaknya si Sera. Muda usianya, genit tindak tanduknya, dan senang membawa Sera berjalan- jalan keliling kompleks dengan menggunakan hotpants supaya bisa digoda para tukang bangunan.
Materi curhatannya? Si embaknya Sera ini certanya baru saja menikah. Dan setelah menikah, postingan statusnya selalu berkisar mengenai "Untuk apa aku menikah kalau hanya seperti itu perlakuanmu? Apa gunanya menikah?"
Membaca status itu saya bergumam "Ya gunanya sih biar gak digrebek hansip kalau mau grepe- grepe B-)".
Keesokan harinya, statusnya menjadi "KOq km gak pernah memperhatikan q sich, di matamu q tiada artinya. Cpppkkkkk honey!!!"
Pusing bacanya? Sama. Saya juga. Waktu saya bertanya kenapa dia malah jadi uring- uringan sehabis menikah, sambil mencebik si embak menjawab "Ya gitu Mbak. Suamiku tu nggak pernah tanya gimana kabarku. Nggak pernah sekedar tanya aku udah makan apa belum. Kayaknya dia nggak peduli deh aku mati atau hidup, sakit atau sehat."
Ah, alay pisan ini. Suami mana yang tidak peduli istrinya hidup atau mati? Kan itu menentukan apakah sudah bisa kawin lagi atau enggak. Ckckck.
Mari lupakan sejenak si embak. Sekarang giliran curhat yang saya dengar dari si ibu istri pejabat. Sang istri pejabat ini bercerita bahwa ia merasa pengabdiannya selama belasan tahun sebagai seorang istri tidak dihargai oleh suaminya. "Eh memangnya kenapa Bu?" tanya saya sambil dalam hati membayangkan adegan ala sinetron istri bagi suamiku.
"Saya itu ya Mbak, sudah berkorban segalanya bagi rumah tangga kami. Setiap Bapak bangun, selalu sudah terhidang segelas teh. Makan pagi dan makan siang selalu dengan menu lengkap. Setiap Bapak pulang kantor di sore hari, selalu sudah saya buatkan jajanan kesukaan Bapak. Rumah selalu mengkilat bersih. Dan untuk itu semua, tidak pernah sekalipun Bapak memuji atau mengucapkan terima kasih pada saya...."
Belum sempat saya menimpali, si ibu kembali melanjutkan curhatannya. "Kalau Bapak keluar kota, selalu saya yang paling sibuk menyiapkan semua bajunya, dasinya, kaos kakinya. Dan tahu nggak mbak (mulai emosi nih) masak untuk semua yang sudah saya lakukan, nggak pernah sekalipun Bapak membelikan saya sekedar oleh- oleh!!!!!"
"Tapi duit honor dinas luarnya dikasih ke Ibu atau enggak?" celetuk saya.
"Ya dikasih semua, masih utuh amplopnya. Tapi kan saya nggak hanya butuh duit Mbak! Saya kan manusia, istri, pingin dihargai, diperhatikan," cerocos si ibu dengan mimik sedih.
Dua orang wanita yang berbeda bagai langit dan bumi kondisinya. Toh materi curhatan jeritan hatinya serupa. Suami berhati dingin yang tak mengerti kebutuhan istrinya untuk bermanja, diperhatikan dan diberi curahan cinta berwujud pertanyaan "sudah makan apa belum Dek?"
Bagaimana perasaan saya mendengar curhatan kedua wanita itu? Nah, saya itu selalu merasa bahwa saya satu spesies dengan cacing tanah. Hermaprodit begitulah. Dulu waktu jaman SMA, banyak teman sekelas mengira bahwa saya adalah contoh operasi transgender yang gagal. Jadi, I can claim bahwa saya bisa memahami jalan pikiran suaminya si ibu pejabat sekaligus jalan pikirannya si ibu pejabat.
Saya sendiri juga nggak pernah tuh merasakan dorongan untuk menelpon Okhi di siang bolong untuk sekedar bertanya "Udah makan sayang?" Dan sebaliknya, saya juga nggak pernah berharap Okhi akan menelepon saya setiap dua jam sekali, mengecek apakah saya masih bernafas atau tidak, dengan siapa saya mengobrol, apakah saya sehat atau tiba- tiba kena stroke. Bukan, bukan karena tidak sayang atau tidak perhatian. Simply enggak kepikir saja.
Mengenai keluhan si ibu pejabat bahwa suaminya tidak pernah membawakan oleh- oleh sehabis dinas ke luar kota, sayapun juga tidak pernah terpikir untuk secara khusus mencarikan suvenir oleh- oleh bagi suami saya tercinta yang menunggu di rumah dengan setia (setia nonton Naruto maksudnya). Dan sebaliknya juga, saya tidak pernah berharap bahwa Okhi akan membawakan saya oleh- oleh setiap ia bepergian. Lagi- lagi bukan karena tidak cinta dan tidak sayang. Hanya nggak kepikiran saja. Tidak menganggap hal itu sebagai suatu hal yang penting. Toh dalam pemikiran saya (dan mungkin juga pikiran Pak Pejabat), kalau pasangan kami memang ingin kami mencarikan suatu barang khusus untuk mereka, ya pasangan kami akan mengutarakannya. "Pak, tolong carikan Ibu kalung mutiara dong kalau dinas di Lombok."
Dan saya yakin pak pejabat akan dengan senang hati mencarikan keinginan istrinya, keluar masuk toko hingga menemukan yang sesuai. Atau yang lebih masuk akal, meminta bantuan anak buahnya yang berjenis kelamin cewek untuk mencarikan kalung mutiara yang diminta istrinya. Karena pak pejabat tidak akan bisa membedakan kalung yang terbuat dari mutiara laut merah jambu yang bulat sempurna dengan kalung dari biji jengkol yang diwarnai sumba merah.
Masalah si pak pejabat tidak pernah memuji dedikasi istrinya dalam merapikan rumah dan menyiapkan pisang goreng setiap sore? Yah well, seberapa sering sih kita ingat untuk mengucap syukur dan berterima kasih karena masih ada oksigen untuk dihirup dan beras untuk ditanak? Not very often I guess. Dan toh rasanya kebanyakan istri juga tidak sering- sering amat memuji suami dan berterima kasih "Makasih ya Pa, karena sudah memberikan uang belanja, sudah membayar uang SPP anak- anak..."
Apa yang sudah menjadi rutinitas setiap hari, kita cenderung menganggapnya lumrah. Biasa saja. Baru saat flu berat menerpa dan hidung buntu sehingga bernafas pun kembang kempis, kita akan ingat "Haduh, enaknya kalau bisa bernafas dengan lega." Baru saat ibu pejabat pergi dan tidak ada pisang goreng tersaji di sore hari maka suaminya akan berkata "Haduh, betapa enaknya kalau ada pisang goreng bikinan ibu."
Apa yang sudah menjadi rutinitas setiap hari, kita cenderung menganggapnya lumrah. Biasa saja. Baru saat flu berat menerpa dan hidung buntu sehingga bernafas pun kembang kempis, kita akan ingat "Haduh, enaknya kalau bisa bernafas dengan lega." Baru saat ibu pejabat pergi dan tidak ada pisang goreng tersaji di sore hari maka suaminya akan berkata "Haduh, betapa enaknya kalau ada pisang goreng bikinan ibu."
Tetapi tentu saja saya juga seorang wanita (suer, nggak bohong). Di suatu sore dimana saya sudah menghabiskan sepanjang siang membuat kue klepon, dan kemudian menyajikan hasil karya saya yang ciamik (hijau pucat dan gula merahnya bocor dimana- mana), deep down inside hati saya berharap suami saya akan menghargainya. Bukan hanya karena terhidang sepiring klepon kempes yang bocor disana- sini, tetapi karena saya membuatnya sebagai kejutan bagi suami saya. Karena saya membuatnya dengan mengabaikan kenyataan bahwa sebetulnya saya bisa saja santai- santai menghabiskan waktu dengan membuka aneka toko online, alih- alih menguleni adonan dan repot- repot membersihkan dapur yang dipenuhi tumpahan gula merah dan tepung dimana- mana.
Bagi para istri, janganlah berharap suami anda adalah pembaca pikiran yang bisa menerka suara hati anda yang ingin dibelikan oleh- oleh atau sekedar ditanyakan kabar. Saya sih selalu menganggap tingkat sensitivitas seorang pria itu setara dengan tumbuhan putri malu. Yang sudah digips. Setelah dua kali ucapan "Aku kok nggak enak hati ya," hanya menghasilkan komentar sambil lalu "Emang kenapa lho?" sembari sang empunya suara tidak mengalihkan pandangan dari layar laptop yang sedang dipenuhi gambar wanita- wanita berdada mutan, maka sambil berkacak pinggang saya akan bersabda "Oi ndut! Aku tu lagi nggak enak hati! Tutup laptop, move your butt dan peluk aku!" Daripada saya terjaga semalaman hanya untuk dengan pedih memikirkan "Suamiku enggak cinta aku lagi... Hiks hiks, aku memang istri yang paling sengsara sedunia akhirat....." Mending juga kalau yang jadi bahan pemikiran sadar. Paling juga ngorok.
Bagi para suami, ingatlah bahwa makhluk geje yang bisa marah pada anda tanpa alasan itu adalah makhluk yang sama yang bersedia menyimpan bayi anda di perut selama sembilan bulan, mengeluarkannya dengan susah payah, dan menyusuinya selama dua tahun. Upah karena bukan anda yang harus melakukannya? Mendengarkan omelannya dengan sabar hingga akhir hayat anda B-). Dan kalau istri anda adalah ibu rumah tangga sepenuhnya, ingatlah bahwa saat anda menerima pujian dan imbalan karena pekerjaan anda (dapat gaji, dipuji presentasinya oleh bos, naik pangkat), maka istri anda hanya bisa mengharapkan pujian dan penghargaan dari suaminya atas kerja kerasnya.
Bersyukurlah kalau istri anda masih menganggap anda adalah makhluk sensitif yang bisa membaca pesan tersirat dari kalimat "Enggak, aku nggak minta hadiah apa- apa kok untuk ulang tahun..." Berarti mereka masih berpikiran positif akan kepandaian anda. Kalau saya sih sudah sadar bahwa yang namanya ciptaan awal adalah prototype, sebelum diciptakan si masterpiece.
Para pria itu bego? Tentu saja. Kalau tidak bego, bagaimana mungkin mereka mau menikahi kita, mendengarkan omelan kita dan membayari tagihan kita...
Pria yang sensitif, yang mengerti hati wanita, yang modis, yang bisa menjadi woman's best friend, mereka memilih menjadi gay...
![]() |
| Kenapa harus repot- repot merangkai pesan tersirat bahwa anda ingin dibelikan oleh- oleh? Otak mereka terlalu sederhana untuk bisa memahami kedalaman makna pesan nan puitis. |

artikel yang menarik mbak!
ReplyDeleteCoba baca buku 5 love language.
ini akan menjelaskan klo memang ada org yang merasa dicintai klo dapat pemberian (gift) atau hanya dengan pujian, dsb.
aaaak.. tetiba kangen Okhi. pake jaspun masih tetep Okhi ya. hihihi.
ReplyDeletematurnuwun loh artikel tentang suwaminya. saya lebih bisa memahami diri sendiri. hihihi...