Monday 26 November 2012

My Monday Note -- Dari Museum ke Museum

To be honest with you, saya tidak pernah merasa sebagai seorang pecinta history, budaya ataupun segala hal yang berbau seni. Jadi, pergi ke museum tidak pernah ada dalam agenda saya. Barulah setelah saya mempunyai seorang anak balita, dan kemudian menemukan bahwa di Victoria ini museum gratis bagi para balita dan student (meski sudah bangkotan, karena memegang kartu student, ya si Okhi bisa masuk gratis juga, huahaha), saya memasukkan agenda mengunjungi berbagai museum ke dalam acara akhir pekan. 

Perkenalan pertama saya dengan museum adalah di Melbourne museum. Dengan malu hati saya harus mengakui bahwa Melbourne museum adalah museum pertama yang saya kunjungi selama kehidupan saya ini (kemane aje selama ini mpok?). Pukul sepuluh kurang, kami sudah mengantri di depan pintu masuk, bersama dengan beberapa keluarga lain dengan anak- anak mereka. 

Tadinya saya berpikir gedung museum adalah gedung kuno yang tampak berwibawa, bukannya bangunan ultra modern dari kaca semua begini ^^

Monday 19 November 2012

My Monday Note -- Kan Ada Nenek Dan Pembantu?

Suatu kali, layar facebook saya menampilkan status dari seorang pria yang cukup menggelitik "Kenapa sih nggak ada hari bapak? Kenapa hanya hari ibu saja yang dirayakan?"

Nah, meskipun status yang mempertanyakan kenapa para bapak tampak dianak tirikan dan tidak diberi hari khusus untuk celebrate perannya sebagai seorang ayah itu cukup lucu, yang membuat saya terkekeh adalah salah satu komentarnya. "Sebelum kamu menuntut agar hari bapak dirayakan, kira- kira kamu sudah jadi orang tua dalam arti yang sebenarnya belum untuk anak kamu? Atau kamu hanya sekedar seharian bekerja, kasih duit untuk beli mainan anak dan that's it?"

Saya, kebetulan kenal kedua orang diatas, baik si pembuat status dan si komentator. Si pembuat status adalah seorang bapak baru, yang mempunyai balita berumur satu tahun dan tinggal di Jakarta. Kebetulan pula saya sedikit mengenal kehidupan mereka (alhamdulilahnya dia bukan pembaca mondaynote). Seperti lazimnya para pria di Jakarta, si bapak ini tentu saja juga bekerja full time, lima hari seminggu. Berangkat jam enam pagi, dan sampai kembali di rumah pada pukul delapan malam. Istrinya, juga bekerja. Anak mereka, dijaga pembantu dibawah supervisi neneknya. Disaat istrinya bertugas keluar kota, maka si anak akan diungsikan ke rumah neneknya, full time. Di akhir pekan, saat emak bapaknya ingin pergi berduaan, si anak dititipkan ke neneknya. Kalau kebetulan si ibu ada urusan di akhir pekan, semisal pergi nongkrong bersama teman- temannya, maka si anak dititipkan ke neneknya. 

Sebaliknya, si komentator yang rada sengak itu adalah salah seorang pria Indonesia juga. Seumuran dengan saya. Dan ia mengikuti istrinya bersekolah di Melbourne, bersama dengan anak perempuan mereka yang berumur satu setengah tahun. 

Monday 12 November 2012

My Monday Note -- Kalaupun Harus Menjadi Buruh, Jadilah Buruh di Australia

Apakah anda masih ingat note saya yang menceritakan kebingungan dikala diterima menjadi buruh di suatu pabrik pengepakan? Sialnya, terlepas dari semua kebingungan yang harus kami hadapai saat itu, episode kehidupan saya sebagai buruh sangatlah singkat. Seminggu doang. Yah, cemen deh..... 

Anyway, walaupun hanya seminggu, pengalaman hidup sebagai buruh pembungkus nugget itu adalah salah satu pengalaman once in a lifetime. Dan mungkin, dari kira- kira seratusan orang yang membaca note saya setiap hari Senin, saya yakin belum ada satu bijipun yang pernah merasakan menjadi seorang buruh dalam arti yang sebenarnya. 

Lazimnya orang sebelum mulai bekerja di tempat baru, tentu saya juga mengalami deg- deg an. apalagi pekerjaan kali ini jelas berbeda jauh dari bidang yang saya tekuni selama ini, plus di negara yang baru pula. Hehe, sedikit malu untuk mengakui, tetapi salah satu sumber kegundahan hati adalah "Gimana ya cara pegawai kantoran di pabrik itu menatap saya si buruh kontrak?"