To be honest with you, saya tidak pernah merasa sebagai seorang pecinta history, budaya ataupun segala hal yang berbau seni. Jadi, pergi ke museum tidak pernah ada dalam agenda saya. Barulah setelah saya mempunyai seorang anak balita, dan kemudian menemukan bahwa di Victoria ini museum gratis bagi para balita dan student (meski sudah bangkotan, karena memegang kartu student, ya si Okhi bisa masuk gratis juga, huahaha), saya memasukkan agenda mengunjungi berbagai museum ke dalam acara akhir pekan.
Perkenalan pertama saya dengan museum adalah di Melbourne museum. Dengan malu hati saya harus mengakui bahwa Melbourne museum adalah museum pertama yang saya kunjungi selama kehidupan saya ini (kemane aje selama ini mpok?). Pukul sepuluh kurang, kami sudah mengantri di depan pintu masuk, bersama dengan beberapa keluarga lain dengan anak- anak mereka.
| Tadinya saya berpikir gedung museum adalah gedung kuno yang tampak berwibawa, bukannya bangunan ultra modern dari kaca semua begini ^^ |
More and less, Melbourne museum sesuai dengan ekspektasi saya akan yang namanya museum. Bangunan besar penuh dengan berbagai 'pajangan' dari masa lampau, mulai dari replika- replika rumah penduduk Melbourne di masa lalu hingga kereta kuda kuno.
| Salah satu replika ruang tidur di era 'kegelapan' dulu (sebelum ditemukan listrik) |
Tetapi jauh dari kesan membosankan, Melbourne Museum membuat saya sangat terhibur. Menyaksikan kerangka seekor makhluk yang dipajang di bagian science nya, saya serasa memiliki kedekatan emosional dengan kerangka tersebut... Bahkan saking inginnya melihat lebih dekat, kepala saya terantuk kaca bening yang melingkupi si munyuk.
| Somehow saya merasakan kedekatan batin dengan si munyuk |
Aih, kenapa saya tiba- tiba kangen para sahabat saya terkasih ya....
![]() |
| Piye kabarmu rek? |
Dan tentu saja museum ini menjadi tempat yang menarik bagi para abege. Siapa butuh mall kalau ada museum?
| "Somehow this picture is very clingy..." komentar seorang abege disambut cekikikan teman- temannya. |
Tertata apik, interaktif dan menarik minat, Melbourne Museum adalah contoh bagaimana suatu museum bisa menjadi tempat yang menarik untuk menimba ilmu, menghibur balita dan sekaligus tertawa terkekeh- kekeh.
Selain museum yang standar seperti si Melbourne Museum, saya menemukan suatu jenis museum yang amat sangat menyenangkan untuk didatangi. Museum ini mungkin sejenis dengan benteng Vredeburg di Yogyakarta, suatu bangunan peninggalan kuno yang difungsikan sebagai living museum. Minggu kemarin, saya berkunjung ke sebuah mansion atau rumah besar bernama Rippon Lea (what a beautiful name, isn't it?). Di seputaran Melbourne terdapat beberapa mansion sejenis, dimana kita bisa menikmati taman indah yang mengelilinginya dan mengikuti tur di dalam mansion super besar itu sembari membayangkan bagaimana kehidupan para keluarga ningrat kaya raya yang kebanyakan merupakan pendatang dari Inggris. Mereka berusaha mempertahankan gaya hidup ala British mereka, ditengah daratan Victoria yang merupakan daerah koloni.
| One can only dream bagaimana rasanya sepulang bekerja memburuh, kemudian pulang ke rumah semungil ini... |
Saat melangkah masuk ke dalam rumah melalui pintu depan yang so cutie pie, pemandu wisata kami, seorang bapak sepuh yang menjadi volunteer, berkata "Outside is Victoria, but once you are inside the door, it is England."
Dan kemudian ia memperlihatkan suatu ruangan dengan desain 'sooo telenovela' sambil berkata "Ini adalah ruangan untuk acara yang cukup penting. Kalau suatu hari anda melihat sepatu bagus di kota, membelinya, dan kemudian ingin memaerkannya ke teman- teman anda, bukan disini tempatnya. Ada ruangan yang lain lagi untuk kegiatan memaerkan sepatu baru anda."
What? Ruangan khusus untuk memamerkan sepatu? Kehidupan macam apa itu?
| Ini bukan ruangan untuk memamerkan sepatu baru... Ada ruangan lain untuk keperluan itu... |
| Saya yakin Okhi bakal mimpi buruk kalau disuruh tidur di kasur berbunga- bunga ala Little Missy gini |
Tentu saja rumah mewah dengan ratusan tahun sejarahnya tidak menarik bagi Sera, karena ia lebih tertarik melihat ibu bebek dan anak- anaknya...
| What are yu duing duck? tanya si Sera |
Dan saat memperhatikan poster di salah satu ruang, saya bersyukur tidak tinggal di masa lalu...
| Kostum renang jaman baheula yang seperti daster kecelup.... |
Note: dear reader, please be patient with me... I'm still juggling my professional life (kerja memburuh), domestic role (nyetrika) and writing life (menulis aneka status dan komen sarkasme)...

No comments:
Post a Comment