Apakah anda masih ingat note saya yang menceritakan kebingungan dikala diterima menjadi buruh di suatu pabrik pengepakan? Sialnya, terlepas dari semua kebingungan yang harus kami hadapai saat itu, episode kehidupan saya sebagai buruh sangatlah singkat. Seminggu doang. Yah, cemen deh.....
Anyway, walaupun hanya seminggu, pengalaman hidup sebagai buruh pembungkus nugget itu adalah salah satu pengalaman once in a lifetime. Dan mungkin, dari kira- kira seratusan orang yang membaca note saya setiap hari Senin, saya yakin belum ada satu bijipun yang pernah merasakan menjadi seorang buruh dalam arti yang sebenarnya.
Lazimnya orang sebelum mulai bekerja di tempat baru, tentu saya juga mengalami deg- deg an. apalagi pekerjaan kali ini jelas berbeda jauh dari bidang yang saya tekuni selama ini, plus di negara yang baru pula. Hehe, sedikit malu untuk mengakui, tetapi salah satu sumber kegundahan hati adalah "Gimana ya cara pegawai kantoran di pabrik itu menatap saya si buruh kontrak?"
Saya dulu sempat bekerja di sebuah perusahaan multinasional, di bagian marketing. Once in a while, saya akan berkunjung ke pabrik untuk mengikuti rapat, dan tentu saja dalam kunjungan itu saya akan bertemu dan berpapasan dengan ribuan buruh yang bekerja di pabrik. Mind you, saya bukanlah orang yang suka membeda- bedakan. Saya pernah bekerja di distributor raw material, dan teman- teman baik saya adalah para pekerja gudang dan para office boy. Tetapi saya melihat walaupun tidak bersikap kasar ataupun bermaksud angkuh, para satpam pun bersikap berbeda terhadap para buruh. Memandang sebelah mata mungkin? Sedikit meremehkan? Lalu bagaimana dengan nasib saya ini? Apakah sekarang giliran saya untuk diremehkan orang lain para sta kantoran?
Dan ternyata, ketakutan saya tidak terbukti. Semua orang memperlakukan saya sebagai seseorang yang equal. Setara, sederajad. Yah well, ini kan Australia. Perbedaan kelas tidaklah semencolok di Indonesia, dan semua orang memanggil orang lain hanya dengan namanya langsung. Sera memanggil guru di kelasnya Jeanette, saya dipanggil anak tetangga yang berusia tiga tahun dengan Mega saja. Meskipun saya buruh terendah terjunior, saya akan memanggil bapak general manager yang sudah berusia separuh baya dan bergaji ratusan kali lipat gaji saya dengan nama pertamanya saja, Tanpa embel- embel Sir or Mister. Jadi yah, nope, saya tidak merasakan diremehkan.
Nilai plus lainnya, perusahaan saya adalah salah satu perusahaan besar yang mempunyai aturan anti diskriminasi yang kuat. Sejak hari pertama hingga hari terakhir saya bekerja, saya tidak pernah sekalipun merasakan bagaimana rasanya diperlakukan berbeda hanya karena agama, ras atau warna kulit saya. Hanah, personel HRD yang memberikan induksi awal, berkata "Kalau kamu tidak mengerti apa yang saya ucapkan, itu adalah hal yang wajar. Saya berbicara dalam bahasa Inggris berlogat british. Dan bahasa Inggris bukan bahasa ibu kalian. Toh saya pun kesulitan melafalkan nama Raheshan."
Tetapi meskipun tidak merasakan diremehkan, dibentak atau apalah pengalaman mengerikan lainnya yang lazim dialami para TKW seperti diseterika atau disundut rokok, pengalaman selama satu minggu itu memberikan satu pelajaran sangat berharga bagi saya. Tapi sebelum sampai ke pelajaran berharga yang akan mengubah hidup anda dan mengubah cara anda memandang dunia dan sekitarnya, lemme share pengalaman seperti apa sih kehidupan seorang buruh itu (buruh di negara maju at least).
Seperti lazimnya buruh dimanapun, saya menggunakan seragam dan segala alat pelindung. Meskipun bentuknya jelek dan tidak trendy, tapi saya bersyukur akan pakaian seragam itu. At least baju bagus saya tidak dikotori remah- remah nugget atau lemak ayam. Tapi gara- gara urusan peralatan perang ini, saya jadi merasa bak kurcaci. Well, tinggi saya 160 cm, dengan berat 48 kg, dan ukuran sepatu 36/37. Ukuran normal Jakarta, eh? Dan tentu saja saat saya mencoba baju seragam yang berukuran XS sekalipun, saya seperti meminjam bajunya emak- emak tetangga. Dan sepatu boot saya, harus dipesankan khusus. Saat memasukkan sepatu boot ukuran 6 (ukuran terkecil yang tersedia dan teman- teman cewek lainnya kebanyakan bahkan tidak cukup), saya melangkah menyeret- nyeret si sepatu. Persis si Sera saat ia meminjam sepatu saya. Salutnya, supervisor saya langsung mencatat kebutuhan khusus saya itu, dan dengan tegas berkata bahwa di hari pertama saya bekerja nantinya, saya akan mendapat perlengkapan yang sesuai dengan spesifikasi kurcaci saya.
Bagaimana dengan pekerjaan saya? I can't say that I enjoy it. Istilah orang sini, pekerjaan brain dead. Kerjaan nggak pake mikir. Jadi, apakah pekerjaan jenis brain dead ini mudah? Nope. Jauh dari mudah. Supervisor saya menunjukkan pada saya tempat di depan sebuah mesin berkecepatan tinggi yang semodel dengan ban berjalan di bandara, tempat kita mengambil koper bagasi. Di atas mesin itu, potongan- potongan dada ayam yang sudah dilapisi crumb melintas dengan kecepatan super. Tugas saya sangat sederhana, memasukkan empat potongan dada ayam ke dalam wadah styrofoam. Dengan berat total antara 580- 600 gram. Gampang eh? Yeah, cobalah melakukannya dalam tempo sesingkat- singkatnya. Dan ada saatnya dimana saya stuck, mengambil dan meletakkan kembali dada- dada ayam keparat itu, dan tetap saja berat keempat dada ayam saya dibawah 570 gram. Arghhhhhhh.....
Dua puluh menit kemudian, si supervisor menepuk pundak saya, dan kemudian menunjukkan pos baru saya. Mesin berkecepatan tinggi lainnya, dengan produk serupa tapi lebih kecil. Kali ini masalah berat tidak terlalu membuat pusing, tetapi yang bikin sebel, conveyor ayam bergerak dengan kecepatan luar biasa menggelontorkan berton- ton dada ayam (hiperbola) tanpa henti, sementara conveyor kemasan sering ngadat. Akibatnya, setiap tujuh menit sekali para pekerja harus bersusah payah menahan gelontoran dada ayam, lengan kiri diletakkan di atas conveyor sebagai penghalang, lengan kanan meraup tumpukan dada yang menggunung dan melemparkannya ke kotak- kotak plastik besar yang sudah disediakan. Kemudian secara bergantian seorang pekerja mengambil kotak yang sudah penuh sesak dan menggantinya dengan kotak kosong. Sungguh menjengkelkan.
Setelah merasakan kerja yang intens, tangan bergerak tiada henti menggapai dan memasukkan dada ayam dan berdiri selama delapan jam (setiap dua jam ada istirahat 15 menit dan setelah empat jam ada istirahat 30 menit), then you'll realize bahwa para buruh adalah mereka yang bekerja paling keras di dunia ini. Jam setengah dua belas malam, saya menyetir si sedan honda kembali ke rumah. Hari pertama bekerja, badan masih kuat. Hari kedua, saya berasa nenek- nenek rematik sehabis ikut lomba maraton sepuluh kilometer. Dan mungkin yang lebih membuat lelah adalah di pagi hari saya tidak bisa beristirahat. Jam tujuh pagi si Sera sudah bangun dan menuntut untuk dilayani makan dan bermain.
Lalu kenapa saya kemudian memutuskan untuk berhenti saat baru saja bekerja selama seminggu? Banyak pertimbangan sih. Antara lain karena bersamaan dengan saya diterima bekerja di pabrik ayam itu, si childcare menelpon mengabarkan bahwa mereka membuka cabang baru dan ada spot kosong bagi Sera. Dan perjuangan membiasakan Sera di childcare untuk pertama kalinya itu luar biasa melelahkan. Jadi secara jam, sudah tidak memungkinkan kalau saya hendak meneruskan bekerja. Pilihannya memburuh atau childcare.
Tetapi, terlepas dari alasan 'legal' mendahulukan kepentingan Sera dibanding 'karir' saya, deep down inside, hati kecil saya berbisik lega bahwa saya tidak harus lagi datang ke pabrik ayam itu di minggu depan. Sebetulnya agak berat untuk mengakui, tapi kali ini saya harus berbesar hati mengakui bahwa I am too lady to work memburuh. Terlalu berat bagi saya untuk bekerja super intensif selama delapan jam sehari lima hari seminggu di depan mesin berkecepatan tinggi. Apalagi nggak ada si embak yang membantu saya di rumah.
Kalau memang pekerjaan memburuh itu bukannya mudah, lalu kenapa nasib mereka tampaknya rada tersia- sia? Well, kalau di Australia sih bukannya tersia- sia seperti term nasib buruh di Indonesia sebetulnya. Peraturan pemerintah cukup tegas melindungi hak para buruh, semisal mendapat tunjangan pensiun dan mendapat penghasilan lebih banyak 15% karena status mereka adalah kontrak, bukannya pegawai tetap. But still, saat sekedar menjadi cleaner di rumah sakit saja saya langsung diangkat menjadi pegawai tetap (walau upah per jamnya sama dengan buruh), para buruh di pabrik ayam itu sudah bekerja selama lima tahun dan tetap tidak diangkat menjadi pegawai tetap.
Dengan tidak menjadi pegawai tetap, berarti mereka tidak mempunyai hak cuti. Kalau mereka tidak datang bekerja, ya tidak dibayar. Dan tentu saja bisa kapan saja di lay off tanpa uang pesangon (walau hal semacam itu amat jarang terjadi sih). Kalau hendak hutang ke bank untuk membeli rumah, status casual atau kontrak ini tidak terlalu ada harganya. Bank masih akan lebih menganggap pekerjaan cleaner saya yang hanya enam jam seminggu (yang hanya menghasilkan 120 dolar) dibanding pekerjaan para buruh yang 40 jam seminggu (yang menghasilkan 800 dolar seminggu). Ya karena status kontrak mereka itu. Tidak ada jaminan bahwa minggu depan mereka masih akan dipekerjakan kan?
Semua itu bukan karena tugas para buruh mudah. Percayalah, memburuh is a hard working. Tetapi meskipun pekerjaannya berat dan susah, dan saya yakin si Okhi yang tambun bakal langsung pingsan kalau disuruh menggantikan tugas seorang buruh, nasib mereka tidaklah sebaik si Okhi yang hanya bermodal jari telunjuk untuk mengetik, yang bekerja dengan santai sambil menggoyang- goyang kaki dan menyeruput kopi. Dan semua itu adalah karena dimanapun di muka bumi ini, apapun yang MUDAH TERGANTIKAN akan dihargai lebih murah dibanding mereka yang sulit dicari gantinya.
Meskipun kerjanya berat, I'm so sorry to say, tetapi bukan hal yang sulit menemukan orang lain untuk menggantikan tugas seorang buruh. Memang seorang buruh baru mungkin akan membuat produktivitas menurun karena tangannya belum terampil, tetapi hal itu adalah resiko yang lebih baik diambil para pengusaha daripada disuruh mengangkat para buruh menjadi pegawai tetap. Apalagi ini jenis pekerjaan yang sepenuhnya tergantung kebugaran fisik. Kalau saya jadi si pengusaha, saya juga akan berpikir 1000 kali sebelum mengangkat si buruh menjadi pegawai tetap. What for? Toh mencari penggantinya bejibun (apalagi di Indonesia). You may hate me, tapi menurut saya tuntutan para buruh untuk menghapuskan outsourcing adalah tuntutan yang tidak berpijak pada kenyataan. Apalagi Indonesia bersaing dengan negara- negara lain juga (saya dulu bekerja di pabrik multinasional di Indonesia, dan sebelum memutuskan memproduksi suatu barang, direktur akan memperhitungkan cost produksi di beberapa negara sebelum memutuskan hendak diproduksi di negara mana barang tersebut).
Sudahlah, tidak usah menuntut penghapusan outsourcing. Australia yang sangat menghargai setiap tetes keringat para pekerja saja menerapkan sistem itu. Lebih baik force pemerintah untuk memperhatikan perlindungan pada para tenaga kontrak ini. Misalnya perlindungan terhadap lingkungan kerja yang aman dengan asuransi bagi setiap buruh terkait keselamatan di tempat kerja, atau sistem upah yang lebih baik atau apalah. Toh peraturan pemerintah yang berbunyi sesudah bekerja selama lebih dari dua periode (correct me if I'm wrong) maka seorang pekerja harus diangkat menjadi pegawai tetap justru menjadi bumerang bagi para buruh. Seorang teman yang bekerja sebagai manager di pabrik bercerita bahwa hari paling pedih dalam hidupnya adalah disaat harus mengucapkan selamat berpisah dengan para buruhnya, yang sudah bekerja dalam waktu dua periode. Perusahaan lebih memilih memberhentikan para buruh dan mencari yang baru daripada mengangkat mereka menjadi pegawai tetap.
Meskipun tidak diremehkan atau diperlakukan kasar, pengalaman saya memburuh memberikan pengalaman betapa tidak enaknya menjadi seseorang yang mudah tergantikan. Saat saya berkata bahwa saya hendak berhenti, maka pihak personalia tidak ambil pusing. Mereka tentu jengkel karena harus repot mengurus dokumen gaji saya, tetapi mereka tidak bertanya apa alasan saya berhenti. Dan boro- boro berusaha mencegah kepergian saya, mereka hanya mengingatkan bahwa saya harus mengembalikan kunci dan seragam kerja. Di pos sekuriti di depan. Keinginan saya untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada si Hanah saja ditanggapi resepsionis dengan "There is no point to do so."
Believe me, menjadi orang yang mudah tergantikan itu tidaklah enak.
Tetapi meskipun tidak merasakan diremehkan, dibentak atau apalah pengalaman mengerikan lainnya yang lazim dialami para TKW seperti diseterika atau disundut rokok, pengalaman selama satu minggu itu memberikan satu pelajaran sangat berharga bagi saya. Tapi sebelum sampai ke pelajaran berharga yang akan mengubah hidup anda dan mengubah cara anda memandang dunia dan sekitarnya, lemme share pengalaman seperti apa sih kehidupan seorang buruh itu (buruh di negara maju at least).
Seperti lazimnya buruh dimanapun, saya menggunakan seragam dan segala alat pelindung. Meskipun bentuknya jelek dan tidak trendy, tapi saya bersyukur akan pakaian seragam itu. At least baju bagus saya tidak dikotori remah- remah nugget atau lemak ayam. Tapi gara- gara urusan peralatan perang ini, saya jadi merasa bak kurcaci. Well, tinggi saya 160 cm, dengan berat 48 kg, dan ukuran sepatu 36/37. Ukuran normal Jakarta, eh? Dan tentu saja saat saya mencoba baju seragam yang berukuran XS sekalipun, saya seperti meminjam bajunya emak- emak tetangga. Dan sepatu boot saya, harus dipesankan khusus. Saat memasukkan sepatu boot ukuran 6 (ukuran terkecil yang tersedia dan teman- teman cewek lainnya kebanyakan bahkan tidak cukup), saya melangkah menyeret- nyeret si sepatu. Persis si Sera saat ia meminjam sepatu saya. Salutnya, supervisor saya langsung mencatat kebutuhan khusus saya itu, dan dengan tegas berkata bahwa di hari pertama saya bekerja nantinya, saya akan mendapat perlengkapan yang sesuai dengan spesifikasi kurcaci saya.
Bagaimana dengan pekerjaan saya? I can't say that I enjoy it. Istilah orang sini, pekerjaan brain dead. Kerjaan nggak pake mikir. Jadi, apakah pekerjaan jenis brain dead ini mudah? Nope. Jauh dari mudah. Supervisor saya menunjukkan pada saya tempat di depan sebuah mesin berkecepatan tinggi yang semodel dengan ban berjalan di bandara, tempat kita mengambil koper bagasi. Di atas mesin itu, potongan- potongan dada ayam yang sudah dilapisi crumb melintas dengan kecepatan super. Tugas saya sangat sederhana, memasukkan empat potongan dada ayam ke dalam wadah styrofoam. Dengan berat total antara 580- 600 gram. Gampang eh? Yeah, cobalah melakukannya dalam tempo sesingkat- singkatnya. Dan ada saatnya dimana saya stuck, mengambil dan meletakkan kembali dada- dada ayam keparat itu, dan tetap saja berat keempat dada ayam saya dibawah 570 gram. Arghhhhhhh.....
Dua puluh menit kemudian, si supervisor menepuk pundak saya, dan kemudian menunjukkan pos baru saya. Mesin berkecepatan tinggi lainnya, dengan produk serupa tapi lebih kecil. Kali ini masalah berat tidak terlalu membuat pusing, tetapi yang bikin sebel, conveyor ayam bergerak dengan kecepatan luar biasa menggelontorkan berton- ton dada ayam (hiperbola) tanpa henti, sementara conveyor kemasan sering ngadat. Akibatnya, setiap tujuh menit sekali para pekerja harus bersusah payah menahan gelontoran dada ayam, lengan kiri diletakkan di atas conveyor sebagai penghalang, lengan kanan meraup tumpukan dada yang menggunung dan melemparkannya ke kotak- kotak plastik besar yang sudah disediakan. Kemudian secara bergantian seorang pekerja mengambil kotak yang sudah penuh sesak dan menggantinya dengan kotak kosong. Sungguh menjengkelkan.
![]() |
| Bukan di pabrik saya sih, tapi kira- kira beginilah situasinya |
Setelah merasakan kerja yang intens, tangan bergerak tiada henti menggapai dan memasukkan dada ayam dan berdiri selama delapan jam (setiap dua jam ada istirahat 15 menit dan setelah empat jam ada istirahat 30 menit), then you'll realize bahwa para buruh adalah mereka yang bekerja paling keras di dunia ini. Jam setengah dua belas malam, saya menyetir si sedan honda kembali ke rumah. Hari pertama bekerja, badan masih kuat. Hari kedua, saya berasa nenek- nenek rematik sehabis ikut lomba maraton sepuluh kilometer. Dan mungkin yang lebih membuat lelah adalah di pagi hari saya tidak bisa beristirahat. Jam tujuh pagi si Sera sudah bangun dan menuntut untuk dilayani makan dan bermain.
Lalu kenapa saya kemudian memutuskan untuk berhenti saat baru saja bekerja selama seminggu? Banyak pertimbangan sih. Antara lain karena bersamaan dengan saya diterima bekerja di pabrik ayam itu, si childcare menelpon mengabarkan bahwa mereka membuka cabang baru dan ada spot kosong bagi Sera. Dan perjuangan membiasakan Sera di childcare untuk pertama kalinya itu luar biasa melelahkan. Jadi secara jam, sudah tidak memungkinkan kalau saya hendak meneruskan bekerja. Pilihannya memburuh atau childcare.
Tetapi, terlepas dari alasan 'legal' mendahulukan kepentingan Sera dibanding 'karir' saya, deep down inside, hati kecil saya berbisik lega bahwa saya tidak harus lagi datang ke pabrik ayam itu di minggu depan. Sebetulnya agak berat untuk mengakui, tapi kali ini saya harus berbesar hati mengakui bahwa I am too lady to work memburuh. Terlalu berat bagi saya untuk bekerja super intensif selama delapan jam sehari lima hari seminggu di depan mesin berkecepatan tinggi. Apalagi nggak ada si embak yang membantu saya di rumah.
Kalau memang pekerjaan memburuh itu bukannya mudah, lalu kenapa nasib mereka tampaknya rada tersia- sia? Well, kalau di Australia sih bukannya tersia- sia seperti term nasib buruh di Indonesia sebetulnya. Peraturan pemerintah cukup tegas melindungi hak para buruh, semisal mendapat tunjangan pensiun dan mendapat penghasilan lebih banyak 15% karena status mereka adalah kontrak, bukannya pegawai tetap. But still, saat sekedar menjadi cleaner di rumah sakit saja saya langsung diangkat menjadi pegawai tetap (walau upah per jamnya sama dengan buruh), para buruh di pabrik ayam itu sudah bekerja selama lima tahun dan tetap tidak diangkat menjadi pegawai tetap.
Dengan tidak menjadi pegawai tetap, berarti mereka tidak mempunyai hak cuti. Kalau mereka tidak datang bekerja, ya tidak dibayar. Dan tentu saja bisa kapan saja di lay off tanpa uang pesangon (walau hal semacam itu amat jarang terjadi sih). Kalau hendak hutang ke bank untuk membeli rumah, status casual atau kontrak ini tidak terlalu ada harganya. Bank masih akan lebih menganggap pekerjaan cleaner saya yang hanya enam jam seminggu (yang hanya menghasilkan 120 dolar) dibanding pekerjaan para buruh yang 40 jam seminggu (yang menghasilkan 800 dolar seminggu). Ya karena status kontrak mereka itu. Tidak ada jaminan bahwa minggu depan mereka masih akan dipekerjakan kan?
Semua itu bukan karena tugas para buruh mudah. Percayalah, memburuh is a hard working. Tetapi meskipun pekerjaannya berat dan susah, dan saya yakin si Okhi yang tambun bakal langsung pingsan kalau disuruh menggantikan tugas seorang buruh, nasib mereka tidaklah sebaik si Okhi yang hanya bermodal jari telunjuk untuk mengetik, yang bekerja dengan santai sambil menggoyang- goyang kaki dan menyeruput kopi. Dan semua itu adalah karena dimanapun di muka bumi ini, apapun yang MUDAH TERGANTIKAN akan dihargai lebih murah dibanding mereka yang sulit dicari gantinya.
Meskipun kerjanya berat, I'm so sorry to say, tetapi bukan hal yang sulit menemukan orang lain untuk menggantikan tugas seorang buruh. Memang seorang buruh baru mungkin akan membuat produktivitas menurun karena tangannya belum terampil, tetapi hal itu adalah resiko yang lebih baik diambil para pengusaha daripada disuruh mengangkat para buruh menjadi pegawai tetap. Apalagi ini jenis pekerjaan yang sepenuhnya tergantung kebugaran fisik. Kalau saya jadi si pengusaha, saya juga akan berpikir 1000 kali sebelum mengangkat si buruh menjadi pegawai tetap. What for? Toh mencari penggantinya bejibun (apalagi di Indonesia). You may hate me, tapi menurut saya tuntutan para buruh untuk menghapuskan outsourcing adalah tuntutan yang tidak berpijak pada kenyataan. Apalagi Indonesia bersaing dengan negara- negara lain juga (saya dulu bekerja di pabrik multinasional di Indonesia, dan sebelum memutuskan memproduksi suatu barang, direktur akan memperhitungkan cost produksi di beberapa negara sebelum memutuskan hendak diproduksi di negara mana barang tersebut).
Sudahlah, tidak usah menuntut penghapusan outsourcing. Australia yang sangat menghargai setiap tetes keringat para pekerja saja menerapkan sistem itu. Lebih baik force pemerintah untuk memperhatikan perlindungan pada para tenaga kontrak ini. Misalnya perlindungan terhadap lingkungan kerja yang aman dengan asuransi bagi setiap buruh terkait keselamatan di tempat kerja, atau sistem upah yang lebih baik atau apalah. Toh peraturan pemerintah yang berbunyi sesudah bekerja selama lebih dari dua periode (correct me if I'm wrong) maka seorang pekerja harus diangkat menjadi pegawai tetap justru menjadi bumerang bagi para buruh. Seorang teman yang bekerja sebagai manager di pabrik bercerita bahwa hari paling pedih dalam hidupnya adalah disaat harus mengucapkan selamat berpisah dengan para buruhnya, yang sudah bekerja dalam waktu dua periode. Perusahaan lebih memilih memberhentikan para buruh dan mencari yang baru daripada mengangkat mereka menjadi pegawai tetap.
Meskipun tidak diremehkan atau diperlakukan kasar, pengalaman saya memburuh memberikan pengalaman betapa tidak enaknya menjadi seseorang yang mudah tergantikan. Saat saya berkata bahwa saya hendak berhenti, maka pihak personalia tidak ambil pusing. Mereka tentu jengkel karena harus repot mengurus dokumen gaji saya, tetapi mereka tidak bertanya apa alasan saya berhenti. Dan boro- boro berusaha mencegah kepergian saya, mereka hanya mengingatkan bahwa saya harus mengembalikan kunci dan seragam kerja. Di pos sekuriti di depan. Keinginan saya untuk sekedar mengucapkan terima kasih pada si Hanah saja ditanggapi resepsionis dengan "There is no point to do so."
Believe me, menjadi orang yang mudah tergantikan itu tidaklah enak.

itulah bagaimana dunia bekerja. gw rasa juga pemerintah indonesia ga bakal menghapus outsourcing. meskipun komitmen mereka meningkatkan kesejahteraan buruh juga diragukan.
ReplyDeleteMasalahnya kesejahteraan para pegawai kantoran pun juga bukannya sudah mapan kan? Maksudnya kayak sekarang para buruh menuntut UMR 2.9 juta per bulan, lha itu kan bercanda banget, sementara banyak sarjana bergaji 2,5 juta :D
Delete"Believe me, menjadi orang yang mudah tergantikan itu tidaklah enak."
ReplyDeleteIt happen on every aspect of life, even as wife / husband :)
Life is short, have an affair.... :P
Deleteyou mean..always prepare backup ? ;-)
Delete