Monday 19 November 2012

My Monday Note -- Kan Ada Nenek Dan Pembantu?

Suatu kali, layar facebook saya menampilkan status dari seorang pria yang cukup menggelitik "Kenapa sih nggak ada hari bapak? Kenapa hanya hari ibu saja yang dirayakan?"

Nah, meskipun status yang mempertanyakan kenapa para bapak tampak dianak tirikan dan tidak diberi hari khusus untuk celebrate perannya sebagai seorang ayah itu cukup lucu, yang membuat saya terkekeh adalah salah satu komentarnya. "Sebelum kamu menuntut agar hari bapak dirayakan, kira- kira kamu sudah jadi orang tua dalam arti yang sebenarnya belum untuk anak kamu? Atau kamu hanya sekedar seharian bekerja, kasih duit untuk beli mainan anak dan that's it?"

Saya, kebetulan kenal kedua orang diatas, baik si pembuat status dan si komentator. Si pembuat status adalah seorang bapak baru, yang mempunyai balita berumur satu tahun dan tinggal di Jakarta. Kebetulan pula saya sedikit mengenal kehidupan mereka (alhamdulilahnya dia bukan pembaca mondaynote). Seperti lazimnya para pria di Jakarta, si bapak ini tentu saja juga bekerja full time, lima hari seminggu. Berangkat jam enam pagi, dan sampai kembali di rumah pada pukul delapan malam. Istrinya, juga bekerja. Anak mereka, dijaga pembantu dibawah supervisi neneknya. Disaat istrinya bertugas keluar kota, maka si anak akan diungsikan ke rumah neneknya, full time. Di akhir pekan, saat emak bapaknya ingin pergi berduaan, si anak dititipkan ke neneknya. Kalau kebetulan si ibu ada urusan di akhir pekan, semisal pergi nongkrong bersama teman- temannya, maka si anak dititipkan ke neneknya. 

Sebaliknya, si komentator yang rada sengak itu adalah salah seorang pria Indonesia juga. Seumuran dengan saya. Dan ia mengikuti istrinya bersekolah di Melbourne, bersama dengan anak perempuan mereka yang berumur satu setengah tahun. 


Seorang teman lain yang tinggal di Sydney juga pernah dengan pedas berkomentar bahwa kebanyakan orang Indonesia hanya mau punya anak tetapi tidak mau menerima resikonya. Ia mengambil contoh bahwa anak- anak di Indonesia terbiasa diantar baby sitter atau neneknya ke playgroup atau ke dokter atau bermain di mall. "Nggak heran penduduk Indonesia pada beranak mulu. Habis enak sih, nggak usah susah- susah ngurusin. Tinggal kasih ke pembantu atau embahnya.

Dan sayapun, yang meskipun berlidah tajam tetapi sebetulnya (kayaknya sih) selalu berusaha mengerti posisi orang lain dan berusaha tidak menghakimi, tidak bisa menahan lidah saat seorang teman pria mengajak saya chatting dan mengeluh bahwa dia jadi repot dengan anaknya yang menuntut untuk diajak bermain dan diperhatikan saat istrinya kebetulan lembur dan neneknya sedang tidak bisa membantu. "Awww, you poor little pie. You haven't been warned that it was the whole idea of being a father, have you? Not just "sticking your dick" part?

"Lazy bitch," umpat saya dalam hati (well, teman pria saya tadi pasti juga mengumpat bitch di dalam hatinya :D).

Dan saya mendecakkan lidah tidak sabar saat seorang emak teman saya kebingungan kemana harus menitipkan anaknya di suatu akhir pekan karena ia harus bertugas lembur. Kebetulan si nenek sedang berdarma wisata keluar kota. "Lha kenapa nggak ditinggal saja sama bapaknya sih?" celetuk saya heran.

"Mana mau bapaknya disuruh jaga anak sendiri? Nggak bakal betah dia!"


Terus terang, bagi telinga kebanyakan orang yang saat ini sedang tinggal di negara lain dengan anak kecilnya, saat  mendengar keluhan dari orang yang tinggal di Indonesia mengenai kerepotan mereka atau terbatasnya waktu untuk bersenang- senang, we couldn't help to think "Dasar manja....."

Haha, jangan marah dulu. Mari coba saya share rutinitas sehari- hari yang saya jalani bersama si Okhi dan Serafim, rutinitas yang tampaknya juga dilakoni banyak pasangan lainnya disini. 

Jam lima pagi, saya bangun dan bergegas mempersiapkan sarapan untuk Sera. Malam sebelumnya, baju yang akan dipakai Sera dan perbekalan childcare nya sudah saya siapkan. Jam enam pagi saya berangkat. Di pagi hari itu, tugas bapaknya untuk menyuapi Sera, memeluk si Sera yang terkadang mellow mencari- cari emaknya, mengajaknya pipis, menyikat giginya dan mengganti bajunya, untuk kemudian mengantar si eneng ke childcare. Jam setengah delapan pagi, Okhi menggiring Sera ke mobil, mengantarnya ke childcare dan kemudian langsung pergi kerja. 

Jam tiga sore, saya sampai kembali di rumah, cepat- cepat mandi dan membuat makan malam. Jam empat sore, saya jemput si genduk di childcare, dan totally sampai jam enam sore dihabiskan untuk memanjakan si nona kecil yang sudah seharian ditinggal emak bapaknya. Kalau si Okhi kebetulan tidak ada tugas kuliah, jam enam ia akan sampai di rumah. Setelah memeluk Sera, dia akan bersantai- santai sambil makan yoghurt dan membuka facebooknya atau menonton Naruto. Tentu saja sesekali diganggu Sera yang merangkak menaiki bapaknya atau meminta perhatian. Jam tujuh malam, waktunya Sera dan bapaknya mandi, kemudian either saya menyetrika, atau menyiapkan bekal untuk esok hari atau apalah pekerjaan rumah tetek bengek lainnya. Si Okhi, bertugas menemani Sera bermain. Jam sembilan malam, Sera pun masuk ke kamar. Saya akan menemaninya, membacakan buku dan bernyanyi- nyanyi sampai ia tertidur. Bapaknya, either membersihkan dapur atau bersantai menonton TV atau yang sekarang sering terjadi, segera membuka laptop dan ngebut mengerjakan tugas kuliah yang sudah deadline. Kalau keesokan harinya saya tidak bekerja atau kebetulan Okhi tidak ada ujian, setelah Sera tidur adalah saatnya membuka downloadan film- film nan keren yang sudah seabada lamanya tidak kami lihat di bioskop. Baru kemarin akhirnya bisa melihat si Batman... 

Dan di akhir pekan, it's family time of course. Hari sabtu adalah harinya memanjakan Sera. Bertiga kami akan pergi ke tempat- tempat dimana "Sera suka." Either taman atau playgorund, pantai, kolam renang, atau museum. Di hari sabtu, saya selalu berharap Sera betah tidur sampai jam sembilan, biar emak bapaknya bisa bermalas- malasan di tempat tidur. Tetapi kalau lagi sial, ya terpaksalah jam enam bangun untuk menemani Sera yang sedang feel energetic. Siapa yang bangun duluan? Tergantung siapa yang lebih capek di hari Jumat. Dan tentu saja ngebut membereskan rumah atau berbelanja.

Anyway, intinya adalah Sera sepenuhnya merupakan tanggung jawab kami berdua, tanpa orang lain yang membantu. Saat sedang sakit dan tidak enak badan pun, tidak ada pilihan lain, saya harus menarik diri dari atas kasur untuk mengurus Sera. 

Membaca deskripsi keseharian para orang tua di negara maju, bolehkah saya bilang kalau bagi kami para 'imigran' ini, mendengarkan keluhan soal betapa repotnya merawat anak dan betapa para ayah 'tidak betah' mengurus anak itu seperti mendengar keluhan dari seorang pelari maraton yang baru saja sembuh dari keseleo. Dan si pelari maraton mengeluh pada seorang cacat yang duduk di kursi roda. 

Well, first of all, bagi saya tentu tidaklah adil sepenuhnya menyalahkan kebiasaan orang tua di Indonesia untuk menyerahkan soal pengurusan anaknya ke tangan pembantu atau neneknya. Apakah memang salah sih melihat para bocah balita diantar para embak dan yuk ke kelas playgroupnya sementara di Australia semua anak diantar ayah atau ibunya? Apa salah sih melihat kakek dan nenek yang bertugas mengantar si anak ke dokter, bukannya ayah atau ibunya?

Yang patut diingat, situasinya memang berbeda antara Indonesia dengan Australia. Di Indonesia, rasanya memang sangat jarang term kerja part time. Kerja ya full time, delapan jam sehari lima hari seminggu, jam sembilan sampai jam lima sore. Jadi, bila kedua orang tuanya kebetulan bekerja, ya benar- benar si anak harus diurus oleh orang lain, termasuk mengantar sekolah dan vaksinasi ke dokter.

Sementara di Australia, banyak orang memilih bekerja part time, dua atau tiga hari seminggu, yang jam dan jadwalnya bisa disesuaikan. Dan yah, dengan hanya seorang yang bekerja pun (ayah atau ibu saja), hidup sudah cukup layak disini, karena kami tidak harus repot memikirkan dana kesehatan dan pendidikan. Sementara di Indonesia, banyak orang strugling untuk sekedar membuat tabungan bagi kuliah si anak besok. Jadi tentu saja situasinya berbeda, dan saya bisa mengerti sepenuhnya kenapa para bocah playgroup diantar para embak berbaju seragam.

Tetapi, dari apa yang saya saksikan di lingkungan sekitar saya di Indonesia dan yang saya alami sendiri dulu sebelum pindah ke Australia, seperti dalam segala hal, fasilitas dan kemudahan itu cenderung membuat kita manja. Sementara disini saya bergegas memasak agar nantinya bisa menghabiskan waktu untuk bermain bersama Sera meskipun badan lelah sepulangnya bekerja, dahulu di Jakarta saya merasa bahwa saya berhak untuk bersantai setelah lelah membanting tulang di kantor (padahal ya ngetik doang sih di depan komputer). Jadilah saya dengan tenang makan sambil nonton TV sementara si Sera diajak si embak jalan- jalan keliling kompleks. Sera sudah bersih dan wangi, jadi saya tidak harus repot- repot lagi.

Begitu juga saat saya berjalan- jalan di mall di Indonesia di suatu akhir pekan, betapa mudahnya saya menyaksikan anak- anak yang sedang bermain bersama embaknya, sementara orang tuanya, karena sudah lelah kan bekerja lima hari penuh, pergi berbelanja atau nonton bioskop.

Saya kan capek pulang dari kantor, jadi ya wajar kalau anak tetap dipegang pembantu sementara saya beristirahat. Saya kan bosan bekerja terus seharian, jadi pulang kantor ya saya pingin santai- santai dulu nongkrong minum kopi. Saya kan capek bekerja lima hari seminggu, jadi ya weekend adalah waktunya saya santai. Saat ke mall bareng anak, saya kan pingin belanja dan cuci mata, jadi ya biar si anak main di timezone sama si embak....


I am not saying Okhi adalah penjaga anak yang handal. Setiap saya hendak meninggalkan Sera dalam asuhannya, saya harus dengan detil mempersiapkan baju yang mana yang harus dipakai di pagi hari, apa yang harus dimakan Sera pagi itu, lalu jam berapa dia harus diberi makan siang dan segala hal remeh temeh semacam "Hari ini kasih Sera sandal, jangan sepatu." Dan tentu saja saat saya pulang di suatu hari Sabtu setelah mengikuti ujian SIM, saya menemukan Sera menangis dan basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Lagi mbersiin Sera habis eek, trus dia kepleset di bathtub," penjelasan si bapak yang tampak sangat lega karena ada yang mengambil alih tugas maha berat itu. Ckckck, ngapain juga harus dibersihkan di bathtub sih? Kurang kerjaan.

Tetapi bagi saya, ya itulah intinya menjadi orang tua, baik ayah maupun ibu, kita adalah orang yang harus repot mengurus anak kita sendiri. Kalau salah satu berhalangan, ya pasangannya yang harus melakukan. Karena meskipun Okhi tidak terampil, tidak ahli dan clumsy, dia adalah orang yang bertanggung jawab untuk menjaga Sera saat saya tidak ada atau harus melakukan kerja yang lain. Kalau saya sedang tidak available, tidak ada pertanyaan atau keraguan siapa yang harus menjaga Sera. Itu sudah pasti tugas bapaknya, bukan neneknya atau tantenya atau siapa lah. Selama bapaknya available, ya he is in charge. Nenek atau pembantu seharusnya adalah pilihan disaat si ayah dan ibu sedang berhalangan, dan tidak seharusnya hal tersebut terjadi setiap hari. 

Sometimes I feel lucky karena keadaan memaksa kami untuk memainkan peran sebagai orang tua 24/7, tanpa seorangpun yang bisa kami seret untuk dilimpahi tugas dan tanggung jawab untuk memperhatikan dan mengurus anak kami. Dan lingkungan pun memberi contoh bahwa ya memang itulah resikonya menjadi orang tua. Di kelas musiknya Sera, saya bertemu dengan dua orang bapak yang membawa anaknya, lengkap dengan tas diaper besar dan aneka botol air dan bungkusan biskuit. Hari itu adalah harinya mereka untuk mengasuh anak, bergantian dengan si ibu. Dan di taman, adalah pemandangan jamak untuk melihat seorang ayah bersama dua orang anaknya dan seekor anjing mereka. Si ibu? Entah sedang apa. Mungkin bekerja, mungkin beres- beres rumah atau mungkin sedang memakai jatah waktu untuk bersenang- senang sejenak. 

Melihat anak- anak diantar ke playgroup oleh embaknya di hari kerja, itu wajar. Melihat anak- anak diurus embaknya, disuapin makan sementara orang tuanya duduk di sebelahnya dan asyik makan dan mengobrol, itu hal lain. Mendengar cerita seorang ayah yang rada dogol dalam mengurus anak itu wajar. Mendengar bahwa ada seorang ayah yang beranggapan si nenek lebih berkewajiban mengurus anaknya disaat istrinya berhalangan, itu membuat saya bersyukur bahwa pria itu bukan suami saya. 

Kalau nggak mau repot, nggak usah punya anak. Saat memutuskan untuk punya anak, ya berarti resikonya sampai dia remaja, waktu luang kita akan habis untuk mengurusi dia. Pergi kencan mungkin bisa setiap beberapa saat, sebulan dua kali misalnya. Tetapi kalau setiap dua hari sekali pergi nonton berdua dengan alasan agar 'cinta tetap bersemi dan refreshing' sementara si anak dititipkan ke neneknya atau pembantu, ya itu namanya mau anaknya nggak mau repotnya. 

Meladeni balita can be boring, melelahkan, membuat jenuh, but that's the whole point of being a parent.. Kalau hanya menghidupi dan sesekali menggendong dan membelai kepala, apa bedanya dengan memelihara anjing?





















5 comments:

  1. mega, salam kenal..
    kalau sama okhi sudah kenal tentunya ;)),
    gak semua ah bapak dan ibu di indo kayak gitu, tergantung prinsip orang masing2, ya toh ?
    saya dulu punya anak 1 juga kerja, tapi pulang kerja, masih sempat masak buat makanmalam, dan nyicil2 buat besuk, nidurin anak malam etc, bapake juga gitu, sabtu-minggu ya gantian ngasuh, pokoknya kita gak mau anak jadi anak pembantu, mkn karna jauh dari ortu,jadi gak pernah mikir mo lahiran datengin ortu, mau kerja lembur datengin ortu, duh berat diongkos :P.
    kemarin dimailist MPASI sempat lihat ada ribut2, yg tinggal di LN pada sok pinter,pokoknya ngejudge ibu2 di indo pada goblok ndak ngerti MPASI :)), dimanapun orang tinggal, tergantung orang menyikapinya masing2, klo gendeng ya tetap wae gendeng, kalau gak mau berubah

    ReplyDelete
  2. emang banyak sih orang indonesia kek gitu Bu. tapi yang masih waras dan (bapak) ngurus anaknya juga banyak kok. Nenek dan nanny emang gak didesain untuk ngasuh anak dan emang gemes denger orang sini yang nganggep anaknya itu bukan kewajiban mereka buat ngurus. dipikir kerja seharian di kantor udah cukup sebagai penjabaran sebagai orang tua.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Golden rule Dan, dimanapun itu, akan selalu ada orang baik dan orang jahat. Akan ada bapak yang perhatian dan bapak yg merasa sudah cukup dengan sekedar ngasih duit utk bayar SPP. Aku hanya berkaca dari pengalaman sendiri juga, saat ada kemudahan dalam bentuk nanny, ya kadang kita terlena. Nannyku dulu aja heran saat Sera tidur sama aku. Oh biasanya kalau sama majikan saya yg dulu2, anak selalu tidur sama saya, biar nggak ganggu bapak ibunya... Wakakakaka

      Delete
  3. kalau di indonesia memang banyak ortu2 terutama mahmud yang menuntut me time tiap sabtu minggu dan berburu mid night sale sepulang kerja, karna buat apa 'bayar' pembantu kalo harus saya yg urus anak
    punya anak dg jarak pendek bukan masalah, karna ga pernah 'kompolan' anak
    terlalu banyak majalah perempuan yg membahas me time disini, poor kid :(

    ReplyDelete
  4. Sebagai nenek saya sangat suka momong cucu. Momong disini sebagai hiburan, bukan tanggung jawab penuh atas kehidupan sang cucu. Tanggung jawab tetap pada orang tua bukan pada si nenek kakek. Kegiatanku (bukan tugasku) bersama cucuku adalah jalan2 keliling komplek, bermain, berenang, sekali kali mengantar sekolah, menonton TV bareng, membacakan cerita, serta mengawasi kerja pembantu/pengasuh. Soal masak, mencuci, mempersiapkan segala kebutuhan anak, bukan urusanku. Anakkulah yg mengatur semuanya dan menugaskan pembantunya unt menjalankan. Aku juga berusaha mengikuti metode anakku dalam merawat anak walau berbeda dgn metode jadulku.

    ReplyDelete