Monday 31 December 2012

My Monday Note -- Making Travelling Writing

Above all, saya menemukan bahwa saya bukanlah seorang traveller. Padahal, itulah syarat utama untuk menjadi travelling writer. Tetapi, travelling dan cheff adalah two new hot sexy things around the globe, dan cara termudah untuk mendapatkan uang dari menulis adalah dengan menyatroni majalah- majalah  pariwisata. Too bad, saya tidak tertarik membuat tulisan yang mengulas "Been here done that" thing. Hari ini saya ke Borobudur, melihat stupa yang indah dan sungguh mencengangkan... Saya sudah pernah mencoba membuatnya dan gagal dengan sukses. Not my cup of tea. Menulis tanpa sarkasme dan satir? Beratnya hidup....

Anyway, akhirnya saya menemukan satu majalah travelling yang cara penulisan artikelnya cukup menarik minat saya. Travel with a twist. Akhirnya, salah satu bahan note yang sebetulnya sudah saya tulis beberapa saat yang lalu saya kirim ke majalah itu (dengan penghalusan dan penyantunan bahasa disana- sini). Ehehehe, ternyata kiriman pertama ini langsung diterima, walaupun tulisan itu bukan semodel tulisan wisata yang biasa. Here is my first travelling writing, ngiahahahaha (as appeared in Jalanjalan Mags Dec 2012).

Alhamdulilah ketemu majalah yang sealiran cara penulisannya...

Monday 17 December 2012

My Monday Note -- Boleh Sih Jadi Diri Sendiri, Tapi Versi Suksesnya Lah!

Sewaktu baru saja menikah dulu, sebelum ada si Seradut, saya pernah mengobrol dengan si Okhi mengenai seorang teman kami. Teman kami itu adalah salah satu makhluk paling berbakat yang kami kenal. Maksudnya, kalau diminta mengisi kolom bakat, saya paling- paling bakal mengisi bakat saya dengan kemampuan membuat orang lain sakit hati dengan komentar sarkasme saya. Nah, sementara saya bakal garuk- garuk kepala dengan bingung kalau ditanya apa bakat saya, teman saya itu bakatnya menonjol bak bisul bengkak di ujung hidung; menggambar dan mendesain.

Saat itu kami membandingkan 'nasib' si teman (sebut saja namanya Joko)  dengan teman kami yang lain lagi, yang bernama Widodo. Keduanya adalah makhluk yang amat sangat berbakat dalam hal menggoreskan tinta. Sementara si Widodo dulunya berkuliah di jurusan desain produk dan sekarang membuka usaha konsultan yang cukup oke, teman saya si Joko, yang tidak kalah berbakatnya, mengambil kuliah di jurusan manajemen dan menjadi pegawai front desk yang sedang gundah karena status outsourcingnya.

"Kalau saja dulu si Joko kuliah di desain produk juga kayak si Widodo, mungkin dia bakal lebih sukses dari sekarang ya," komentar saya setengah merenung. Walau masa depan siapa yang tahu, tapi menyaksikan sebuah bakat nan cemerlang tidak tersalurkan dan si empunya bakat hanya menjadi pegawai penjawab komplain pelanggan, hati ini agak tidak rela jadinya.

"Kenapa sih dulu si Joko malah ambil manajemen, bukannya desain produk juga?" tanya saya.

"Orang tuanya nggak setuju. Emangnya mau jadi apa nanti? Seniman? Kerja itu ya serius, di kantor," jawab Okhi sambil mengangkat bahu.

Monday 10 December 2012

My Monday Note -- Di Negara Maju Bisa Menabung 80% Gaji?

Suatu kali, seorang teman saya menulis status "Di Indonesia, bisa menabung 10- 20% dari gaji saja sudah syukur alhamdulilah. Sementara penduduk di negara maju bisa hidup hanya dengan menggunakan 10- 20% gajinya."

Membaca statusnya si teman, saya terkekeh dan menuliskan komentar "Er, negara maju yang mana ya, yang bisa menabung 80% dari penghasilan kita? Gue langsung bedol desa eksodus kesana deh."

Nah kebetulan seorang pembaca monday note kemarin mengirimkan message ke saya, bertanya kenapa saya jarang sekali menuliskan topik mengenai Australia atau berbagi pengalaman tentang bagaimana rasanya hidup di negara orang. "Enak nggak sih Meg, tinggal di luar negeri?"

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "Sami mawon. Sama wae dengan hidup di Indonesia, karena ada tagihan yang harus dibayar, ada cucian yang harus disetrika, dan ada mobil yang harus diservis di bengkel." Tetapi, terkait dengan status si teman yang berpikir bahwa di negara maju penduduknya bisa menabung 80% dari penghasilan, saya jadi tergelitik untuk berbagi soal sebetulnya sebanyak apa sih penghasilan orang di australia, yang termasuk negara yang cukup makmur juga. Apa iya kami bisa menimbun ratusan lembar dolar setiap bulannya dan menyimpannya di bawah kasur?

Monday 3 December 2012

My Monday Note -- Nilai Moral Yang Berbeda

Suatu hari, seorang teman saya sesama penghuni Melbourne menelepon saya dari Jakarta. Dia sedang pulang kampung ceritanya. Ia mengaku sedang gundah dan butuh menceritakan dilema yang dihadapinya. Dilema yang membuatnya tidak enak makan, tidak enak tidur tetapi tetap enak belanja. "Kenapa sih? Suaminya minta ijin kawin lagi ya mbak?" tanya saya. #kepekaan dan kehalusan budi pekerti memang sifat baik saya.

"Ya enggaklah! Kalau hanya soal itu sih nggak bakal bikin galau. Tinggal dikasih minum baygon juga beres!" sahut teman saya sambil mendecakkan lidah.

Saya langsung membuat mental note untuk tidak menerima tawaran makanan dan minuman dari teman saya itu.

Bukan, bukan suami yang pingin kawin lagi sama abege 18 tahun yang bikin teman saya gundah. Bukan juga dualisme kepemimpinan di PSSI atau gundah menunggu kapan Anas akan gantung diri di Monas. Dilema besar yang dihadapi teman saya adalah soal titipan dari seorang temannya. 

Seperti lazimnya sesama orang Indonesia yang sedang merantau, urusan yang paling sering terjadi ya urusan titip menitip. Saat ada seseorang yang hendak mudik ke tanah air, maka biasanya ada yang kemudian berkata "Eh, kalau bisa aku nitip kerupuk puli dong." atau "Aku boleh nitip obat jerawat nggak?"

Nah, kali ini, sebelum teman saya ini hendak terbang mudik ke Jakarta, seorang temannya berkata ingin menitipkan sebuah tas. "Ya boleh saja kalau hanya tas," jawab teman saya. 

Tak dinyana, sekedar sebuah tas itulah yang membuat teman saya jadi tak enak hati. Ternyatanya, si tas yang hendak dititipkan untuk dibawa dari Jakarta ke Melbourne itu adalah sebuah tas Louis Vuitton. KW super bersertifikat. Keren abis nggak pake mahal euy. "Gimana ya Meg, curhat si teman, aku tu masalahnya mendengar kabar kalau sekarang pihak bea dan cukai itu ketat sekali di bandara. Kalau ketahuan bawa barang palsu begitu, bisa- bisa aku didenda besar lho!"

"Kayaknya sih nggak segitu ketatnya deh Mbak," komentar saya menenangkan. Tetapi beberapa hari berikutnya si teman terus menelepon saya dari Jakarta, menceritakan kegundahan hatinya masalah titipan tas ini. "Aku sudah bilang ke si Ana (nama samaran untuk si penitip tas KW super bersertifikat) alasannya kenapa aku nggak mau dititipin tas itu, tapi dia kayaknya nggak bisa menerima Meg. Sepertinya aku dianggap terlalu mengada- ada. Mungkin dipikir aku cari alesan aja, dan sebetulnya sih hanya akunya aja yang males bawain titipannya."

Masalah imigrasi itu memang bikin ruwet. Saya juga pernah terlanda gonjang ganjing saat ingin menitipkan pembatas buku bergambar wayang yang terbuat dari bahan kulit ke seorang teman yang sedang mudik (pembatas buku itu niatnya untuk suvenir acara natal). Masalahnya, kulit adalah bahan yang dilarang masuk ke Australia. Kalau sampai ketahuan membawa, bisa- bisa teman saya didenda.

Tetapi setelah berbincang melalui telepon jarak jauh untuk kedua kalinya untuk membahas soal yang sama ini, saya menelengkan kepala. My friend kept giving different arguments soal alasannya menolak dititipi tas itu. Dari pengalaman saya, saat seseorang memberikan beragam alasan, biasanya justru alasan yang paling mendasar lah yang tidak disampaikannya. Setelah beberapa kali lagi (dan dengan lebih serius mendengarkan ceritanya), saya menangkap inti keengganannya. Satu kalimatnya "Itu kan nggak etis" membuat saya tersenyum. Aha, gotcha. Alasan paling mendasar kenapa teman saya itu berkeras menolak si tas KW adalah karena nilai moralnya berkata barang KW nan palsu itu adalah sebuah bentuk ketidak etisan.

You may call her sok suci, tapi saya bisa mengerti perasaannya dia. Dan tentu saya juga bisa mengerti alasan si teman yang meradang karena ditolak keinginannya menitipkan tas KW. Saya sendiri, tidak pernah tertarik memakai barang KW, entah baju atau tas. Untuk apa mengumumkan pada seluruh dunia bahwa saya 'pingin banget' pakai tas Louis Vuitton tetapi saya terlalu miskin untuk membeli yang asli? Saya sih lebih memilih memakai tas bermerk antah berantah, yang hanya Tuhan dan si pencipta merk yang tahu eksistensinya di dunia. At least saya bisa dikira memang sederhana orangnya dan nggak mau neko- neko beli tas selebritis. Tetapi, sayapun tidak akan keberatan untuk dititipi sebuah tas KW. Karena walaupun saya akan memandang si tas KW sambil tersenyum melecehkan, bagi saya tindakan menyentuh tas KW ini tidak termasuk kategori dosa.

Hidup di dunia ini, banyak hal yang sepertinya mayoritas dari kita bisa sepakat mana yang hitam dan mana yang putih. Mencuri uang kas perusahaan itu berdosa, tapi apakah nitip ngeprint beberapa lembar kertas resume (untuk ngelamar kerja di perusahaan lain) di printernya perusahaan itu dosa? Membolos bekerja selama satu minggu tanpa pemberitahuan itu sudah jelas salah, tapi apakah salah kalau hanya membolos sehari dengan alasan sakit? Toh kalau minta cuti baik- baik jangan- jangan malah tidak diijinkan.... Toh perusahaan sering menyuruh lembur tanpa digaji?

Nah, tetapi disaat menolak permintaan tolong seorang teman untuk membantunya mencuri tas di toko itu adalah hal yang mudah, menolak permintaan seseorang untuk membantunya membeli tas KW itu ternyata cukup berat. Mencuri tas itu sudah jelas salah. Membeli tas KW? Bisa salah bisa tidak. Bisa dosa bisa juga biasa saja. Tergantung hati nurani masing- masing orang. Seperti teman saya tadi, dia enggan mengungkapkan alasan penolakannya karena ya itu tadi, mungkin takut dianggap sok suci atau sok lurus. "Belagu banget sih, kayak orang suci aja," begitu mungkin tanggapan orang lain kalau mendengar ia mengatakan kegiatan memakai tas KW yang sudah umum dilakukan di Indonesia itu adalah dosa dan tidak etis.

Saya sendiri sih bukan orang yang lurus dan suci. Saya tidak keberatan berbohong sakit ke bos atau memperlama waktu makan siang saya saat seharusnya saya sudah kembali bekerja. Tetapi saya ingat suatu kali, saat seorang teman ingin menumpang mobil saya, tetapi ia enggan menggunakan carseat untuk bayi kecilnya. "Kalau hanya kugendong saja gimana Meg? Toh kita hanya ke mall di depan, nggak sampai sepuluh menit nyetir?"

Saya sih bisa mengerti kenapa teman saya berkata begitu. Karena kami harus mengangkut si carseat besar dari rumahnya, memasangnya di mobil saya dan nanti membongkarnya lagi. Itu untuk perjalanan sepuluh menit doang. Dan ya karena teman saya itu orang Indonesia juga, memakai carseat bukanlah sesuatu yang sudah secara otomatis dilakukan setiap waktu.

Saya beralasan bahwa kaca mobil saya kurang gelap, sehingga saya tidak berani melakukannya. "Lha kalau tiba- tiba pas kita berhenti di lampu merah, dan ternyata di samping kita mobilnya polisi, bisa masuk penjara kita berdua," demikian alasan saya.

Tetapi, saat sesudah mendengar alasan keberatan saya dan teman saya masih saja berusaha dengan berkata bahwa ia akan menutupi bayinya dengan selimut dan sebagainya, saya kehilangan kesabaran. Di permukaan, saya tetap tenang dan berkeras bahwa kami harus memakai car seat karena saya tidak mau menanggung resiko didenda 300 dolar, tetapi dalam hati saya iritate sekali. Karena walaupun saya memberikan alasan takut didenda, the real reason adalah hati kecil saya tidak bisa berkompromi untuk hal ini. Iya, saya tentu takut kehilangan uang 300 dolar, tetapi yang paling unbearable adalah pemikiran bahwa saya bisa- bisa bertanggung jawab atas kematian seorang anak kecil akibat kecerobohan saya. Siapa bisa menjamin sih perjalanan singkat selama 10 menit itu akan aman tentram. Siapa bisa menjamin tidak akan ada pengemudi mabuk yang dengan kecepatan tinggi menabrak mobil saya dari belakang, membuat kami semua tersentak dan terjungkal. Dan tetap aman karena saya dan teman saya terikat sabuk pengaman. Tetapi karena si bayi hanya didekap ibunya, dia terlempar dan kemudian menabrak jendela, gegar otak atau malah meninggal seketika. Dan hal tersebut sebetulnya bisa dicegah kalau saja si bayi aman terikat di dalam carseat.

Tetapi entah kenapa, seperti juga teman saya yang tidak berterus terang bahwa dia menolak dititipi tas KW itu karena urusan moral, saya juga lebih memilih memberikan alasan soal denda dan penjara, daripada memberitahukan bahwa alasan sesungguhnya adalah nilai moral saya menolak untuk menempatkan seorang anak kecil dalam bahaya hanya karena kemalasan yang tampak sepele. Mungkin sama seperti teman saya, saya juga takut dianggap lebay, berlebihan, sok suci atau apalah.

Nilai moral yang dipegang teguh setiap orang itu berbeda, dan mungkin tampak konyol di mata orang lain. Suatu kali, saya sedang ingin menjadi seorang cleaner, dan saya membutuhkan referensi dari seseorang yang menyatakan bahwa saya pernah bekerja di rumahnya sebagai tukang bersih- bersih. Intinya sekedar berkata saya itu bisa dipercaya dan pekerja keras. Toh saya hanya mau jadi tukang nyapu ngepel, bukannya mau membangun roket. Saya meminta tolong ke seorang teman "Eh, lu pura- pura pernah jadi bos gue dong. Bilang aja gue tu rajin dan teliti. Jujur."

Teman saya tampak tertegun. Dan kemudian dengan terbata- bata memberikan alasan bahwa ia takut tidak bisa menjawab pertanyaan dari calon bos saya dan sebagainya. Setelah dua kalimat yang ia katakan, saya nyengir dan berkata "You know what, just forget it. Iya, gue gak berpikir panjang. Nanti kalau calon bos gue tanya macem- macem kan elu bisa bingung sendiri, dan gue malah bakal ketahuan bohong."

Teman saya tersenyum lega. Saya pun beralih mencari orang lain untuk berpura- pura menjadi referensi saya. Stupid me, saya lupa bahwa teman saya yang satu itu sungguh tidak mau berbohong untuk hal apapun juga. Dulu sih saya sempat jengkel, toh white lies itu tidak merugikan siapapun, dan bukannya saya ini maling juga kan, saya hanya butuh bantuan agar saya bisa bekerja. Tetapi yah gimana lagi, nilai moral si teman melarangnya berbohong walau hanya untuk hal sepele membantu teman jadi tukang gosok toilet. Dan meskipun bagi saya hal tersebut menggelikan dan lebay, ya tetapi itulah nilai moral yang dipegang si teman. Memaksanya berbohong, akan membuatnya tidak enak tidur, membuatnya merasa bersalah dan tak nyaman sepanjang hari. Dan saya menghargainya. Meskipun bagi saya sikap teman saya itu menggelikan cenderung menyebalkan, tetapi itu haknya dia untuk berpegang pada apa yang dipercayainya. Toh saya juga sangat terganggu saat ada orang yang mempertanyakan kenapa saya 'kejam' menolak mengangkut balita tanpa carseat di mobil saya. Jangan ditanya. I don't know the reason. Hanya hati kecil tidak mengijinkan saya melakukan hal itu.

Saat seseorang berkhotbah berapi- api mengenai mengapa suatu hal itu dosa besar dan pelakunya akan dibakar di dalam neraka tujuh tingkat, biasanya dia memang mengalami sindrom nabi yang merasa dirinya better dari the rest of us (kecuali para pemuka agama ya, kan emang tugas mereka untuk berkhotbah soal dosa). Tetapi saat seorang teman tampak tidak nyaman saat kita mengajaknya melakukan suatu 'bukan kejahatan tetapi juga bukannya nggak salah', please respect bahwa hati kecilnya mungkin tidak mengijinkannya melakukan hal tersebut. Tidak usah menanyakan alasannya.

Ma, boleh gak minta duit dari papa, bilangnya untuk beli buku padahal untuk beli bajunya igle pigel?
Ya boleh aja Ser, asal mama dibagi duitnya.....