Sewaktu baru saja menikah dulu, sebelum ada si Seradut, saya pernah mengobrol dengan si Okhi mengenai seorang teman kami. Teman kami itu adalah salah satu makhluk paling berbakat yang kami kenal. Maksudnya, kalau diminta mengisi kolom bakat, saya paling- paling bakal mengisi bakat saya dengan kemampuan membuat orang lain sakit hati dengan komentar sarkasme saya. Nah, sementara saya bakal garuk- garuk kepala dengan bingung kalau ditanya apa bakat saya, teman saya itu bakatnya menonjol bak bisul bengkak di ujung hidung; menggambar dan mendesain.
Saat itu kami membandingkan 'nasib' si teman (sebut saja namanya Joko) dengan teman kami yang lain lagi, yang bernama Widodo. Keduanya adalah makhluk yang amat sangat berbakat dalam hal menggoreskan tinta. Sementara si Widodo dulunya berkuliah di jurusan desain produk dan sekarang membuka usaha konsultan yang cukup oke, teman saya si Joko, yang tidak kalah berbakatnya, mengambil kuliah di jurusan manajemen dan menjadi pegawai front desk yang sedang gundah karena status outsourcingnya.
"Kalau saja dulu si Joko kuliah di desain produk juga kayak si Widodo, mungkin dia bakal lebih sukses dari sekarang ya," komentar saya setengah merenung. Walau masa depan siapa yang tahu, tapi menyaksikan sebuah bakat nan cemerlang tidak tersalurkan dan si empunya bakat hanya menjadi pegawai penjawab komplain pelanggan, hati ini agak tidak rela jadinya.
"Kenapa sih dulu si Joko malah ambil manajemen, bukannya desain produk juga?" tanya saya.
"Orang tuanya nggak setuju. Emangnya mau jadi apa nanti? Seniman? Kerja itu ya serius, di kantor," jawab Okhi sambil mengangkat bahu.
Karena saya bukan orang tuanya si Joko, karena saya dari generasi yang lebih muda dari orang tuanya si Joko, karena masa depan Joko bukan menjadi concern utama saya (mau dia sukses atau jadi homeless juga nggak ngefek ke kehidupan saya kan), saya pada saat itu dengan mudah berkomentar "Sayang banget ya. Kalau saja si Joko kuliah di desain, dengan bakatnya dia bakal jadi orang yang menonjol. Lha kalau kuliah di manajemen, ya dia hanya jadi orang rata- rata, dan malah kalah dibanding teman- temannya yang mungkin pintar bahasa Inggris, penampilannya meyakinkan dan pintar ngoceh." Si Joko ini pendiam dan kurang meyakinkan tampangnya.
Tetapi kemudian Okhi memberikan argumennya. "Iya, karena kamu anak muda, kamu tahu bahwa di jaman sekarang ini dunia desain itu besar peluangnya, sementara bagi emak bapaknya Joko yang orang jaman dulu, ya desain itu dunia yang nggak jelas masa depannya. Dalam pikiran mereka, bakat gambarnya Joko itu setara kegunaannya dengan bakat membaca puisi. Nggak bisa untuk cari duit."
Dan kemudian, mengetahui jalan pikiran saya, Okhi bertanya "Sekarang aku tanya, apakah kamu bakal mengijinkan kalau anakmu bilang mau kuliah di sastra Indonesia atau Jawa?"
Hm, pertanyaannya si Okhi jadinya membuat saya termenung- menung. Pada saat itu, saya mempunyai pesimisme terhadap masa depan yang ditawarkan fakultas sastra di Indonesia, terutama kalau jurusan sastra Indonesia atau bahasa daerah (note: itu pandangan saya pribadi, jadi nggak usah dianggap menghina atau didebat ye... At least baca dulu sampai selesai notenya sebelum marah).
Maksud saya, kalau kuliahnya di tehnik informatika, ya nantinya bakal jadi programer dan konco- konconya. Kalau kuliah di farmasi seperti saya ya bakal jadi farmasis, bisa buka apotek atau kerja di pabrik obat. Kalau kuliah di akuntansi ya bakal jadi akuntan (mana ada sih perusahaan yang nggak butuh akuntan?). Nah, sekarang kalau kuliah sastra Jawa mau jadi apa? Mau mengarang serat centhini gitu? Atau mau jadi guru bahasa Jawa? Berapa banyak sih pos pekerjaan yang tersedia untuk profesi ini di masa sekarang? Kalau guru matematika masih enak, masih bisa ngasih les atau mengajar di bimbel misalnya. Lha kalau guru bahasa Jawa, mau dapat tambahan penghasilan darimana?
Dan sikap skeptis saya ini makin bertambah saat disuatu ketika, saya dan puluhan mahasiswa lain dari berbagai jurusan sedang mendapatkan 'pencerahan' di ruang kelas. Ceritanya, saya termasuk dalam golongan mahasiswa teladan (yeah, no wonder kampus saya terpuruk dalam jurang kenistaan, semodel saya dijadikan mahasiswa teladan @_@). Saya tentu tidak ingat apa saja materi pengajarannya, tetapi satu yang masih membekas sampai saat ini adalah saat seorang mahasiswa yang saat itu berkuliah di jurusan sastra Indonesia semester awal, bertanya pada narasumber dari rektorat. "Kalau lulusan sastra itu nantinya bisa berkarir di mana Pak?"
Dan si bapak rektorat itu, tentu dong bisa dengan lihai menjawab. Tetapi jawabannya yang selicin belut hanya membuat saya mencibir. "Peluang terbuka lebar bagi para lulusan sastra. Anda bisa menjadi sastrawan seperti Pramoedya Ananta Noer misalnya."
Tak puas, si mahasiswa kembali bertanya "Selain menjadi sastrawan, apalagi dong Pak pilihannya?"
Dan mendongenglah si bapak rektorat akan bagaimana lulusan sastra bisa bekerja di bank juga, ada juga yang kemudian bekerja menajdi marketing di perusahaan, deesbe deesbe. Dalam hati saya bergumam "Kalau kerja di bank masuk dari jalur management trainee mah emang semua lulusan bisa..."
Dan si mahasiswa sastra itu dengan nada pedas berkata (setelah acara selesai) bahwa seharusnya universitas hanya membuka jurusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Bukan asal membuka jurusan padahal nggak ada peluang kerjanya #kayaknya berasa salah masuk jurusan dianya :P.
Beberapa minggu yang lalu, saya diundang barbekyu-an oleh seorang kenalan yang sudah lama bermukim disini dan sudah menjadi warga negara sini. Saya bercerita bahwa saya ingin memasukkan Sera ke les piano kalau dia sudah berumur empat tahun nanti. Si teman (yang kebetulan sudah menikah tapi tidak mempunyai anak) berkomentar "Ngapain piano? Paling nanti jadi guru musik doang, duitnya nggak besar. Mendingan difokusin renang atau atletik saja, itu bidang yang duitnya besar di Australia."
Saya kemudian membalas "Masalahnya Sera tu sama sekali nggak tertarik dengan hal yang berbau olahraga. Dia tertariknya nyanyi sama nari," jawab saya sambil mengingat- ingat betapa riangnya Sera di kelas musiknya, sementara di kelas renang dia adalah salah satu murid terpayah dan tidak antusias.
"Iya, tapi kamu ngeluarin duit banyak untuk bayar musik sama narinya Sera, dan nggak menghasilkan. Kalau renang atau atletik kan bisa menghasilkan." jawab teman saya lagi, tampak tidak paham dengan jawaban saya atas idenya.
"Gitu ya......." jawab saya sambil lalu. Tetapi tanpa perlu berpikir panjangpun, detik itu juga saya tahu bahwa saya tidak akan pernah mengarahkan Sera agar fokus pada bidang olahraga. Nggak terbayang memaksa si genduk melakukan hal yang tidak digemarinya. Saya sih memaklumi jalan pikiran si teman, karena ya dia belum punya anak. Jadi mungkin sulit baginya membayangkan bahwa biarpun masih tukang ngompol, Sera sudah punya preferensinya sendiri, seleranya sendiri. Dan tidak semudah itu dibujuk agar menyukai kegiatan yang dipilihkan emaknya.
Nah, gara- gara percakapan disela- sela memanggang sosis bersama teman saya yang menyarankan untuk memasukkan Sera ke kelas renang, jadilah saya mengingat kembali percakapan masalah jurusan kuliah. Dan kemudian membuat skenario di otak saya kalau semisal Sera menyampaikan bahwa ia ingin berkuliah di fakultas sastra kelak, suatu jurusan yang tidak sreg di hati saya. What will I say? Menolaknya mentah- mentah atas dasar "Mama lebih tahu tentang dunia nyata" atau serta merta merestui dengan alasan "Apapun yang membuatmu bahagia"?
Saat mendengar saran si teman untuk memfokuskan si Sera pada kegiatan berenang, saya sadar bahwa it would be a terrible crime untuk memaksa seseorang menggeluti hal yang sangat tidak dia sukai. Saya membayangkan mungkin akan sama rasanya bila saya dipaksa bergelut dengan bahasa pemrograman komputer setiap harinya, sementara membuat kolom- kolom di excel saja sudah membuat saya berkeringat dingin. Jadi, tidak ada ceritanya saya akan memaksa si Sera untuk kelak mengambil jurusan yang jelas- jelas tidak digemarinya. Meskipun misalnya Australia sedang mengalami booming dan membutuhkan software programmer dalam jumlah besar dan bergaji sangat tinggi, nggak akan saya memaksa Sera untuk menggeluti bidang itu kalau saja taraf kebencian Sera pada matematika dan komputer setara dengan saya. Karena berusaha mempelajari hal yang tidak disukai membutuhkan effort empat kali lipat lebih besar, dan nantinya Sera setiap pagi akan berangkat kerja dengan berat hati, karena satu hari lagi harus dihabiskannya untuk mengerjakan hal yang dibencinya.
Tetapi di satu sisi, tidak seperti Sera, saya pun sudah merasakan dunia kerja, merasakan menjadi karyawan di suatu perusahaan dan merasakan seperti apa kehidupan nyata itu sesungguhnya. Yang terkadang tidaklah senaif romantisme para abege yang baru saja lulus SMA. Saya ingat dulu seorang teman memutuskan masuk ke jurusan Hubungan Internasional atas dasar "Aku sangat tertarik berhubungan dengan orang asing, apalagi kalau bisa bekerja di luar negeri."
Pada saat itu sih saya sempat terkagum- kagum akan alasan teman saya. Siapa sih yang tidak ingin bekerja di luar negeri, berjabat tangan dengan orang pirang dan bercakap- cakap dalam bahasa antah berantah? Impian semua anak SMA saya rasa. Tetapi pada saat itu, emak saya yang pragmatis mementahkan keinginan saya untuk masuk ke jurusan HI atas dasar pingin kelihatan keren kerja di luar negeri. Argumennya emak saya, "Kalau kamu masuk HI dan pingin kerja di luar negeri, maka satu- satunya cara adalah dengan kerja di kedutaan. Itu berarti kamu harus lolos jadi pegawai negeri Deplu. Padahal pos untuk itu hanya sedikit, dan kamu bakal bersaing dengan ribuan lulusan HI dari seluruh Indonesia."
Pada saat itu sih saya dengan enteng menerima logika emak, karena toh saya juga bukannya nafsu banget kuliah di HI. Hanya sekedar keren saja membayangkan kerja di luar negeri. Tetapi sekarang, setelah mengetahui situasi dunia sebenarnya, mengetahui bahwa memang lowongan di deplu itu ya terbatas dan not likely saya bisa lolos, dan bahwa hei, tanpa menjadi lulusan HI pun saya sekarang malah sudah jadi permanent resident di suatu negara yang amat menyenangkan ini, ya saya bersyukur juga karena saya dulu tidak mengambil jurusan itu. Malah teman saya yang dulu kuliah di manajemen yang kerja di perusahaan multinasional di Eropa, atau yang dulu mengambil jurusan yang berhubungan dengan pertambangan yang pada melanglang buana.
Jadi, inilah pendekatan yang kira- kira akan saya gunakan saat anak saya kelak mulai menyusun masa depannya (sekarang sih masih sebatas menyusun kaos kaki cadangan untuk ke childcare).
Semisal si Sera ternyata sangat berbakat dalam hal bermain piano, seperti si Joko dalam hal menggambar, dan ia ingin menghabiskan hidupnya dengan melakukan hal yang dicintainya, maka tidak bisa tidak saya akan dan harus legowo untuk mendukung keinginan Sera. Tetapi tentu, meskipun doing what you love is the best thing in the world, there are bills need to be paid every months. Money can't buy everything, but you definitely CANNOT buy anything without money.
Oke, berarti saya dan Sera sepakat bahwa Sera akan menghabiskan hidupnya dengan berkarir yang berhubungan dengan musik. Sekarang, berkarir yang seperti apa? Mari duduk dan mendiskusikannya. ""Aku pingin menjadi artis penyanyi dan pemain piano sekaligus seperti Alicia Keys," semisal begitu kata Sera dengan mata berbinar- binar.
Sebagai emaknya, kacamata subyektif saya tentu menganggap Sera jauh lebih baik dari Alicia Keys. Tetapi, kacamata obyektif saya menyadari berapa banyak cerita calon artis yang berakhir dengan menjadi pelayan di restoran cepat saji di Hollywood. Jadi, saya akan berdiskusi serius dengan Sera, memastikan bahwa kalaupun nantinya ia tidak menjadi seorang artis, dia akan tetap bisa hidup dengan layak. Saya akan mengajak Sera 'memetani' aneka jurusan pendidikan yang berhubungan dengan musik. Apakah bachelor of music yang cocok untuknya? Apakah dia lebih condong menjadi seorang akademis yang mengkaji aneka partitur musik? Apakah kira- kira ia akan tertarik menjadi terapis musik? Atau jangan- jangan karena Sera juga sangat gemar dengan bayi- bayi kecil, menjadi instruktur musik bagi kelas balita adalah pilihan karir yang cocok untuknya. Dan selain belajar memainkan piano, Sera akan perlu mempelajari ilmu children education atau malah ilmu bisnis, sehingga nantinya ia akan bisa membuka pusat pelatihan musik bagi balita miliknya sendiri. Dan misalkan di Indonesia saya masih meragukan peluang yang tersedia bagi seorang pemusik, maka kami juga harus mempertimbangkan dimana sebaiknya Sera menjalani pendidikannya. Mungkin ya dia harus sekolah di Eropa, dimana konser dan opera mungkin hal yang lebih jamak daripada di Indonesia.
Kemudian misalkan si Sera seperti saya, senang menulis sebagai hobi. Apakah lalu ia sebaiknya menjalani pendidikan jurnalistik? Dulu, saya mengidentikkan kegiatan tulis menulis dengan profesi wartawan. Dan karena berkejar- kejaran dengan nara sumber atau kucing- kucingan berusaha mewawancarai tokoh ternama is not my cup of tea (saya pernah mengikuti semacam pelatihan jurnalistik dan ternyata tidak tertarik saat disuruh meliput konferensi pers), ya saya mengesampingkan impian menjadi penulis. Ternyata, menulis itu tidak sesempit dengan hanya menjadi wartawan. Jadi, kalau misalnya si Sera yang berkata dia senang menulis, ya saya akan mengajaknya berdiskusi mengenai menulis seperti apa yang ia inginkan? Apakah ia memang ingin menjadi seorang wartawan sepenuhnya, atau seperti saya yang lebih suka menulis sebagai sambilan atau malah ingin seperti Agustinus Wibowo yang menjadi seorang traveller writer yang berpetualang ke pelosok Afghanistan? Dan apakah memang sebaiknya dia mengambil jurusan jurnalistik dan nantinya bekerja di media atau mengeksplor kemungkinan lain, misalnya menjadi seorang dokter dan nantinya bisa menjadi penulis handal dalam bidang kesehatan. Lalu, apa saja yang harus dia lakukan untuk mempersiapkan dirinya sebagai penulis handal? Kalau ia ingin menjadi penulis traveler, ya dia harus belajar bahasa asing juga, dan sejak di bangku kuliah dia harus sering melatih dirinya menuliskan pengalamannya berwisata dan mencoba mengirimnya ke majalah- majalah travelling misalnya.
Apabila Sera tertarik mengambil kuliah di bidang yang populer, semisal ingin menjadi software programmer atau dokter misalnya, saya mungkin akan lebih mudah untuk setuju, karena ya lapangan pekerjaan untuk hal itu banyak sekali kan. Kamu tidak perlu menjadi programmer terbaik untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Tetapi misalkan Sera memilih jurusan yang pasarnya tergolong niche, sangat spesifik dan hanya sedikit lapangan kerja tersedia (saya nggak kebayang juga sih contohnya apa yah), ya saya akan sangat menekankan ke si Sera bahwa tidak bisa tidak, kalau dia memilih bidang semacam itu maka konsekuensinya dia harus menjadi yang terbaik. Bila menjadi mahasiswa rata- rata di bidang IT tidaklah terlalu bermasalah, maka untuk bidang yang ini ya dia harus menjadi lulusan terbaik, dan dia harus mengerahkan effort untuk memberi nilai lebih bagi dirinya. Sera harus membuka mata dan telinga, dan rajin mencari info tambahan ilmu apalagi yang harus ia pelajari, semisal mengikuti sertifikat ini dan itu atau belajar bahasa asing misalnya, untuk membedakannya dengan ratusan mahasiswa lainnya yang sama- sama bersaing memperebutkan hanya lima lowongan kerja yang tersedia. Sorry Sera, tapi kalau kamu memilih bidang yang aneh, ya berarti konsekuensinya kamu harus lebih repot mempersiapkan masa depan, karena unlikely kamu akan mudah menemukan lowongan pekerjaan berhamburan di koran untuk bidang unikmu...
Jadi, kalau nanti Sera berkata ia ingin menjadi mahasiswa sastra, apa tanggapan saya? Yang jelas saya tidak akan mengijinkannya masuk ke jurusan apapun, termasuk sastra dengan modal 'knowledge' seperti teman saya si mahasiswa sastra jaman kuliah dulu, yang setelah dua semester masih mencari jati diri "Nanti habis lulus gue mau ngapain ya?"
Itu pertanyaan yang seharusnya sudah dipertimbangkan dan didapatkan gambarannya sebelum memutuskan jurusan yang ingin diambil.
Tetapi, saya tidak ingin menjadi seperti sepasang emak dan bapak yang keukeh memaksa anaknya masuk ke fakultas kedokteran, sementara si anak ingin sekali masuk ke fakultas tehnik. Dan akibatnya, setelah menyelesaikan kuliah kedokteran selama 6 tahun, si anak menyerahkan ijazahnya ke depan bapak ibunya dan berkata "Saya sudah mengikuti keinginan bapak dan ibu. Ini ijazah yang kalian idamkan. Sekarang giliran saya mengikuti impian saya." Dan kemudian mendaftarlah si anak ke fakultas idamannya... Setelah enam tahun menyia- nyiakan hidupnya....
Saya tidak akan serta merta menolak keinginan Sera untuk masuk ke sastra. Saya bakalan googling informasi sebanyak mungkin, untuk membuka cakrawala saya mengenai dunia sastra yang asing di mata saya dan tampak tidak berprospek ini. Sebaliknya, sayapun akan meminta Sera datang ke saya dengan master plan, apa yang dia rencanakan bagi amsa depannya di bidang sastra ini. Bakal saya gebuk bokongnya si Sera kalau ia berkata "Pokoknya aku mau kuliah di sastra!!! Urusan nanti mau kerja apa ya biar dipikir nanti saja."
Minat dan bakat adalah pondasi terpenting saat memutuskan pilihan pendidikan. Tetapi untuk satu jenis minat dan bakat, toh ada beragam jalan dan rute yang bisa ditempuh dalam berkarir nantinya....
Money can't buy happiness, but I'd rather cry in a Ferrari....
Oke, berarti saya dan Sera sepakat bahwa Sera akan menghabiskan hidupnya dengan berkarir yang berhubungan dengan musik. Sekarang, berkarir yang seperti apa? Mari duduk dan mendiskusikannya. ""Aku pingin menjadi artis penyanyi dan pemain piano sekaligus seperti Alicia Keys," semisal begitu kata Sera dengan mata berbinar- binar.
Sebagai emaknya, kacamata subyektif saya tentu menganggap Sera jauh lebih baik dari Alicia Keys. Tetapi, kacamata obyektif saya menyadari berapa banyak cerita calon artis yang berakhir dengan menjadi pelayan di restoran cepat saji di Hollywood. Jadi, saya akan berdiskusi serius dengan Sera, memastikan bahwa kalaupun nantinya ia tidak menjadi seorang artis, dia akan tetap bisa hidup dengan layak. Saya akan mengajak Sera 'memetani' aneka jurusan pendidikan yang berhubungan dengan musik. Apakah bachelor of music yang cocok untuknya? Apakah dia lebih condong menjadi seorang akademis yang mengkaji aneka partitur musik? Apakah kira- kira ia akan tertarik menjadi terapis musik? Atau jangan- jangan karena Sera juga sangat gemar dengan bayi- bayi kecil, menjadi instruktur musik bagi kelas balita adalah pilihan karir yang cocok untuknya. Dan selain belajar memainkan piano, Sera akan perlu mempelajari ilmu children education atau malah ilmu bisnis, sehingga nantinya ia akan bisa membuka pusat pelatihan musik bagi balita miliknya sendiri. Dan misalkan di Indonesia saya masih meragukan peluang yang tersedia bagi seorang pemusik, maka kami juga harus mempertimbangkan dimana sebaiknya Sera menjalani pendidikannya. Mungkin ya dia harus sekolah di Eropa, dimana konser dan opera mungkin hal yang lebih jamak daripada di Indonesia.
Kemudian misalkan si Sera seperti saya, senang menulis sebagai hobi. Apakah lalu ia sebaiknya menjalani pendidikan jurnalistik? Dulu, saya mengidentikkan kegiatan tulis menulis dengan profesi wartawan. Dan karena berkejar- kejaran dengan nara sumber atau kucing- kucingan berusaha mewawancarai tokoh ternama is not my cup of tea (saya pernah mengikuti semacam pelatihan jurnalistik dan ternyata tidak tertarik saat disuruh meliput konferensi pers), ya saya mengesampingkan impian menjadi penulis. Ternyata, menulis itu tidak sesempit dengan hanya menjadi wartawan. Jadi, kalau misalnya si Sera yang berkata dia senang menulis, ya saya akan mengajaknya berdiskusi mengenai menulis seperti apa yang ia inginkan? Apakah ia memang ingin menjadi seorang wartawan sepenuhnya, atau seperti saya yang lebih suka menulis sebagai sambilan atau malah ingin seperti Agustinus Wibowo yang menjadi seorang traveller writer yang berpetualang ke pelosok Afghanistan? Dan apakah memang sebaiknya dia mengambil jurusan jurnalistik dan nantinya bekerja di media atau mengeksplor kemungkinan lain, misalnya menjadi seorang dokter dan nantinya bisa menjadi penulis handal dalam bidang kesehatan. Lalu, apa saja yang harus dia lakukan untuk mempersiapkan dirinya sebagai penulis handal? Kalau ia ingin menjadi penulis traveler, ya dia harus belajar bahasa asing juga, dan sejak di bangku kuliah dia harus sering melatih dirinya menuliskan pengalamannya berwisata dan mencoba mengirimnya ke majalah- majalah travelling misalnya.
Apabila Sera tertarik mengambil kuliah di bidang yang populer, semisal ingin menjadi software programmer atau dokter misalnya, saya mungkin akan lebih mudah untuk setuju, karena ya lapangan pekerjaan untuk hal itu banyak sekali kan. Kamu tidak perlu menjadi programmer terbaik untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Tetapi misalkan Sera memilih jurusan yang pasarnya tergolong niche, sangat spesifik dan hanya sedikit lapangan kerja tersedia (saya nggak kebayang juga sih contohnya apa yah), ya saya akan sangat menekankan ke si Sera bahwa tidak bisa tidak, kalau dia memilih bidang semacam itu maka konsekuensinya dia harus menjadi yang terbaik. Bila menjadi mahasiswa rata- rata di bidang IT tidaklah terlalu bermasalah, maka untuk bidang yang ini ya dia harus menjadi lulusan terbaik, dan dia harus mengerahkan effort untuk memberi nilai lebih bagi dirinya. Sera harus membuka mata dan telinga, dan rajin mencari info tambahan ilmu apalagi yang harus ia pelajari, semisal mengikuti sertifikat ini dan itu atau belajar bahasa asing misalnya, untuk membedakannya dengan ratusan mahasiswa lainnya yang sama- sama bersaing memperebutkan hanya lima lowongan kerja yang tersedia. Sorry Sera, tapi kalau kamu memilih bidang yang aneh, ya berarti konsekuensinya kamu harus lebih repot mempersiapkan masa depan, karena unlikely kamu akan mudah menemukan lowongan pekerjaan berhamburan di koran untuk bidang unikmu...
Jadi, kalau nanti Sera berkata ia ingin menjadi mahasiswa sastra, apa tanggapan saya? Yang jelas saya tidak akan mengijinkannya masuk ke jurusan apapun, termasuk sastra dengan modal 'knowledge' seperti teman saya si mahasiswa sastra jaman kuliah dulu, yang setelah dua semester masih mencari jati diri "Nanti habis lulus gue mau ngapain ya?"
Itu pertanyaan yang seharusnya sudah dipertimbangkan dan didapatkan gambarannya sebelum memutuskan jurusan yang ingin diambil.
Tetapi, saya tidak ingin menjadi seperti sepasang emak dan bapak yang keukeh memaksa anaknya masuk ke fakultas kedokteran, sementara si anak ingin sekali masuk ke fakultas tehnik. Dan akibatnya, setelah menyelesaikan kuliah kedokteran selama 6 tahun, si anak menyerahkan ijazahnya ke depan bapak ibunya dan berkata "Saya sudah mengikuti keinginan bapak dan ibu. Ini ijazah yang kalian idamkan. Sekarang giliran saya mengikuti impian saya." Dan kemudian mendaftarlah si anak ke fakultas idamannya... Setelah enam tahun menyia- nyiakan hidupnya....
Saya tidak akan serta merta menolak keinginan Sera untuk masuk ke sastra. Saya bakalan googling informasi sebanyak mungkin, untuk membuka cakrawala saya mengenai dunia sastra yang asing di mata saya dan tampak tidak berprospek ini. Sebaliknya, sayapun akan meminta Sera datang ke saya dengan master plan, apa yang dia rencanakan bagi amsa depannya di bidang sastra ini. Bakal saya gebuk bokongnya si Sera kalau ia berkata "Pokoknya aku mau kuliah di sastra!!! Urusan nanti mau kerja apa ya biar dipikir nanti saja."
Minat dan bakat adalah pondasi terpenting saat memutuskan pilihan pendidikan. Tetapi untuk satu jenis minat dan bakat, toh ada beragam jalan dan rute yang bisa ditempuh dalam berkarir nantinya....
Money can't buy happiness, but I'd rather cry in a Ferrari....
| Money can't buy you a pretty kid, tapi bisa untuk beli DSLR untuk motret si Genduk.... |
berbobot juga monday note hari ini.
ReplyDeletetadi pagi sarapan jangkar kapal soalnya...
Deletekayaknya ini ada hubnya sm curcol eike kemaren ya ciiiyyyyn :p
ReplyDeleteHahaha, enggak langsung sih bu, lebih krn ane rada terhenyak saja saat ada yg maksa nyuruh jadiin si sera atlet renang, padahal sera lebih mirip ulet bulu kecemplung empang kalau berenang :P. Tapi jadi mikir boleh juga curhat ente yg kemarin dijadiin bahan note someday :P
Delete