Monday 10 December 2012

My Monday Note -- Di Negara Maju Bisa Menabung 80% Gaji?

Suatu kali, seorang teman saya menulis status "Di Indonesia, bisa menabung 10- 20% dari gaji saja sudah syukur alhamdulilah. Sementara penduduk di negara maju bisa hidup hanya dengan menggunakan 10- 20% gajinya."

Membaca statusnya si teman, saya terkekeh dan menuliskan komentar "Er, negara maju yang mana ya, yang bisa menabung 80% dari penghasilan kita? Gue langsung bedol desa eksodus kesana deh."

Nah kebetulan seorang pembaca monday note kemarin mengirimkan message ke saya, bertanya kenapa saya jarang sekali menuliskan topik mengenai Australia atau berbagi pengalaman tentang bagaimana rasanya hidup di negara orang. "Enak nggak sih Meg, tinggal di luar negeri?"

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah "Sami mawon. Sama wae dengan hidup di Indonesia, karena ada tagihan yang harus dibayar, ada cucian yang harus disetrika, dan ada mobil yang harus diservis di bengkel." Tetapi, terkait dengan status si teman yang berpikir bahwa di negara maju penduduknya bisa menabung 80% dari penghasilan, saya jadi tergelitik untuk berbagi soal sebetulnya sebanyak apa sih penghasilan orang di australia, yang termasuk negara yang cukup makmur juga. Apa iya kami bisa menimbun ratusan lembar dolar setiap bulannya dan menyimpannya di bawah kasur?



Tentu saja sama seperti dimanapun di seluruh dunia, life isn't fair for some people. Disinipun, tentu ada para unfortunate, dari mulai homeless sampai mereka yang berpendapatan sangat minim. Sebaliknya, terdapat pula kaum creme de la creme yang uangnya sudah tak berseri, tinggal memetik dari pohon di depan rumah. Tetapi tentu, gambaran paling realistis adalah dengan membahas mereka dengan pendapatan rata- rata. Dari hasil googling, saya menemukan bahwa pendapatan rata- rata penduduk Melbourne adalah berkisar AUD 60.000 - 70.000 setahun di luar pajak. Setara dengan 600 - 700 juta rupiah lah sekarang (sebelum rupiah mengalami pembuangan 00000 tahun depan :D).

Anggap saja dengan gaji 60.000 dolar setahun, maka perbulannya orang sini bisa mendapatkan gaji sekitar 5000 dolar atau 50 juta rupiah. Dari pendapatan sebesar itu, inilah kira- kira pengeluaran keluarga kecil semacam keluarga saya yang tinggal di pinggiran kota, dan bekerja di tengah kota (mirip dengan cerita banyak keluarga di jakarta ya?).

Kontrakan rumah : 1500
Belanja                :  800
Transport            :  300
Asuransi/pajak     :    80
Tagihan               :  110
Parkir                  :    40

Jadi, total pengeluaran paling basic tanpa bermewah- mewah tetapi tanpa harus ngirit banget- banget sekitar 2900 dolar per bulan, atau sekitar 60% dari pendapatan.

Tetapi tentu saja, nggak ada ceritanya hidup hanya dari hal basic saja. Masak nggak pernah mengajak Sera berenang? Masak nggak memasukkan dia ke kelas musik? Masakan nggak pernah membelikan kado ulang tahun untuk anak teman yang berulang tahun atau patungan saat ada teman yang baru saja melahirkan? Masakan tidak pernah makan di restoran sederhana yang 10- 20 dolar satu porsinya? Masakan nggak pernah beli baju atau sepatu? Masakan nggak beli sekedar piring atau blender baru karena yang lama sudah berbau sangit setiap dinyalakan? I will put AUD 1000 untuk segala biaya 'kemewahan' kecil dalam hidup.

Jadi, dengan pendapatan median keluarga Melbourne, setiap bulannya mereka bisa menabung sekitar 1000 dolar atau sekitar 20% dari total gaji. Jadi, sesuai status teman saya yang kalau di Jakarta bisa menabung 10-20% gaji itu sudah syukur alhamdulilah, ya mungkin rata- rata penduduk di sini memang bisa mengucap syukur alhamdulilah :D. Tetapi mengenai klaim bahwa di negara maju masyarakatnya bisa menabung 80% penghasilan, yah well mungkin itu hasil survey yang dilakukan di daerah Toorak, daerah dimana harga satu rumah bisa mencapai 30 juta dolar, dan penghuninya hanya berkenan membuka botol anggur seharga minimal 500 dolar per botolnya, sementara harga anggur yang banyak ditemui di supermarket adalah 5 dolar per botol.  

Note: tentu perhitungan ini tidak berlaku bagi para mahasiswa Indonesia disini. Apalagi kalau mahasiswa yang mendapat beasiswa dan kemudian juga bekerja disini. Mereka bisa bertindak ekstrim, menyewa kamar kecil yang bisa membuat burung merpati bangga akan luas sangkarnya, bekerja mati- matian sampai tengah malam dan bangun lagi subuh, dan benar- benar mengirit dalam semua lini pengeluaran. Semuanya demi menumpuk pundi dolar, sehingga tiga tahun lagi saat pulang kampung ke Indonesia, mereka bisa menjadi OKB, thanks to nilai tukar dolar Australia yang setara dengan 10.000 rupiah per dolarnya. Gimana nggak ngiler kalau bisa membawa pulang duit 800 juta rupiah dari hasil bekerja serabutan selama empat tahun di Australia? Berapa tahun gaji profesor tuh?

Kira- kira, siapa sih pemilik gaji 60 ribu dolar setahun itu, yang merupakan rata- rata nya penduduk Melbourne? Sebelum membahas para makhluk rerata itu, saya akan coba menjelaskan latar belakang para pekerja disini. First of all, orang Australia itu rada- rada nggak maniak sekolah. Kalau di Indonesia, anak dari keluarga menengah pasti akan pergi kuliah. Itu sudah lumrah lah ya, keharusan. Paling umum ya S1, paling minim ya D3. Nah disini, that's not the case. Mereka yang bernilai akademis sempurna akan masuk ke fakultas kedokteran, mereka yang dari latar belakang asia atau memang senang sekolah, pergi kuliah. Sisanya, mereka pergi mencari sertifikat- sertifikat ke TAFE. Mau bekerja di childcare? Ambillah sertifikat children service. Mau bekerja di bakery? Ambil sertifikat bakery. Mau kerja di cafe? Sertifikat barista. Mau jadi tukang? Ambil sertifikat tradie. Lamanya sekitar 6 bulan - 1 tahun. Sisanya, yang maksimal hanya lulusan SMA, jadi tenaga kerja kasar; jadi kitchen hand, cleaner, buka tutup toko dan sebagainya.

Untuk mereka yang mempunyai skill yang 'high recognition' seperti akuntan, dokter, farmasis, software developer, they could easily get above average salary. Rata- rata gaji farmasis adalah AUD 7000 per bulan. Dan gaji itu mereka dapatkan dengan jam kerja yang normal, 9 to 5, lima hari seminggu nggak pake kerja weekend. Bagi para pemegang sertifikat, mereka biasanya dihargai 20- 30 dolar per jam nya, dan merekalah yang akan mendapat gaji average, 4000 dolar per bulan dengan jam kerja yang kadang harus dimulai jam 7 pagi atau berakhir jam 7 malam juga. Kerjanya cukup melelahkan secara fisik.

Sisanya, mereka yang tidak memiliki ketrampilan khusus, dan menjadi kitchen hand, loper koran dsb, harus lebih bersusah payah untuk mendapat gaji average. Mengambil dua job, kerja di akhir pekan atau mengambil shift malam (jam 12 malam sampai subuh) misalnya. Pekerjaan tersebut tentu melelahkan secara fisik.

Sama seperti orang Indonesia, orang Australia pun sekarang mulai mengalami kesulitan dalam membeli rumah. Sebuah artikel memuat bahwa para average sekarang tidak bisa lagi menjangkau rumah, bahkan yang terletak di daerah pinggiran. Dengan harga rumah yang diatas 400.000 AUD, banyak orang muda yang terpaksa tinggal di rumah orang tuanya dulu demi bisa mengumpulkan uang muka rumah.

Mungkin perbedaannya dengan di Indonesia, duit tabungan yang dikumpulkan orang sini biasanya murni untuk 'bersenang- senang', bukannya untuk biaya kuliah anak, tabungan hari tua atau jaga- jaga kalau ada yang harus masuk rumah sakit. Tabungan tersebut entah untuk membeli mobil baru (yang harganya bahkan bisa jadi lebih murah dari harga di Indonesia untuk jenis yang sama) atau berlibur ke luar negeri (well, komentar banyak orang Australia yang berlibur ke Amerika Serikat adalah "Gila, murah banget harga makanan dan barang- barang di Amrik kalau dibandingkan di Oz"). Kami tidak perlu terlalu khawatir masalah kesehatan dan sekolah. Asalkan Sera mau kuliah di Melbourne Uni, emak bapaknya tidak perlu mengumpulkan duit banyak- banyak, karena biayanya sangat murah bagi orang lokal. Kesehatan? Asuransi dong... Itu kenapa setiap bulan saya merogoh kocek 50 dolar untuk asuransi, sebagai tambahan bagi asuransi dasar yang disediakan pemerintah. Masalah pensiun? Semua pekerja disini mempunyai dana pensiun, mirip- mirip sistemnya pegawai negeri di Indonesia.

Intinya, menurut kesimpulan orang- orang Indonesia yang sudah merasakan tinggal di negara maju, Indonesia adalah surga kalau kamu orang kaya, karena kamu akan bisa hidup sangat mewah dengan harga murah. Punya pembantu lima, sopir tiga, rumah satu hektar, anak belajar di sekolah internasional, beli tas hermes. Sementara bos pemilik perusahaannya si Okhi, yang cukup kaya dengan investasi di mana- mana, meskipun rumahnya berharga jutaan dolar dan anaknya bersekolah di sekolah private yang ratusan ribu dolar biayanya, tetap saja kemana- mana menyetir sendiri mobilnya, dan istrinya yang mengantar jemput anak- anaknya.

Bagi orang kebanyakan, yang bergaji rata- rata (berapa sih gaji rata- rata di Indonesia sekarang?), Indonesia adalah tempat yang lebih 'challenging' dalam segi finansial, karena kita harus berjuang untuk kebutuhan- kebutuhan dasar semacam pendidikan dan kesehatan, yang tidak murah dan tidak dibantu pemerintah.

Oya, satu hal yang membedakan antar negara adalah persentase pajak. Di Amerika Serikat, persentase pajak terhadap penghasilan kecil, Australia menengah dan Eropa besar. Karena pungutan pajak di Amerika kecil persentasenya, negara tidak menanggung biaya kesehatan penduduknya. Istilahnya Barney Stinson dari How I met your mother,  soal kesehatan di Amerika, poor people die. Sebaliknya di Eropa yang pajaknya tinggi sekali, pengangguran saja bisa hidup layak karena tunjangan yang besar. Australia, berada di tengah- tengah. Tidak seliberal Amerika Serikat, tetapi juga tidak sesosialis Eropa yang tagihan gas saja dibayari pemerintah.

Nah, somebody told me kalau sebetulnya persentase pajak yang ditarik di Indonesia hampir setara dengan persentase pajak di Australia, tetapi fasilitas yang disediakan pemerintah bagi rakyatnya dalam hal pendidikan dan kesehatan misalnya, setara dengan Amerika Serikat. Haha, siapa bilang Indonesia tidak dipimpin oleh orang- orang pandai dan berotak :D


Dan tentu saja, cara termudah memperkaya diri adalah..... TOGEL!!!!! 














2 comments:

  1. Jadi sami mawon ya Meg intinya. Pinter-pinter kita ngatur pengeluaran dan pemasukan.
    Gw cukup bersyukur bisa nabung lebih dari 10-20% gaji tiap bulan di Indo meskipun memang dengan pengiritan luar biasa.

    ReplyDelete
  2. Dari pengalaman pribadi ya, I will say mencoba menabung di Indonesia (jakarta) itu much harder dari di Melbourne. Disini, asal mau ngirit, pasti bisa nabung, sementara di jakarta, banyak pengeluaran yg memang sudah nggak bisa diirit lagi, terutama soal transportasi. Biaya transportasi itu kan idealnya 10% gaji, tapi di Jakarta way much higher. Lha masak mau jalan kaki biar murah :P.

    ReplyDelete