Above all, saya menemukan bahwa saya bukanlah seorang traveller. Padahal, itulah syarat utama untuk menjadi travelling writer. Tetapi, travelling dan cheff adalah two new hot sexy things around the globe, dan cara termudah untuk mendapatkan uang dari menulis adalah dengan menyatroni majalah- majalah pariwisata. Too bad, saya tidak tertarik membuat tulisan yang mengulas "Been here done that" thing. Hari ini saya ke Borobudur, melihat stupa yang indah dan sungguh mencengangkan... Saya sudah pernah mencoba membuatnya dan gagal dengan sukses. Not my cup of tea. Menulis tanpa sarkasme dan satir? Beratnya hidup....
Anyway, akhirnya saya menemukan satu majalah travelling yang cara penulisan artikelnya cukup menarik minat saya. Travel with a twist. Akhirnya, salah satu bahan note yang sebetulnya sudah saya tulis beberapa saat yang lalu saya kirim ke majalah itu (dengan penghalusan dan penyantunan bahasa disana- sini). Ehehehe, ternyata kiriman pertama ini langsung diterima, walaupun tulisan itu bukan semodel tulisan wisata yang biasa. Here is my first travelling writing, ngiahahahaha (as appeared in Jalanjalan Mags Dec 2012).
![]() |
| Alhamdulilah ketemu majalah yang sealiran cara penulisannya... |
Sebagai seorang warga Indonesia yang tinggal di luar negeri, tepatnya di Melbourne, rasanya sudah menjadi nasib saya untuk menjadi tuan rumah sekaligus pemandu wisata bagi teman, saudara, nenek, dan tetangganya nenek yang sedang berkunjung. Banyak suka, duka, serta drama yang saya alami dalam setiap kunjungan saudara sebangsa, namun yang paling mencengangkan adalah saat menerima sepasang teman yang datang dengan gaya backpacker. Pengalaman yang membuat saya tertawa hingga detik ini.
Gaya backpacker memang mewabah. Alih-alih membawa koper berisi baju dan bekal (bude saya memasukkan beras ke kopernya, karena khawatir tidak bisa menemukan nasi di Eropa), kaum backpacker biasanya hanya bermodalkan tas ransel. Masalahnya, backpacker sering disamakan dengan budget traveller. Tak heran, gaya berwisatanya menerapkan prinsip hemat: duit seminim mungkin, melanglang sejauh mungkin. Suatu hari, seorang mantan rekan kerja yang sudah lama menghilang, menyapa saya melalui Facebook. Ia menceritakan sebuah buku berisi perjalanan seorang cewek Indonesia di Australia dengan biaya super irit. "Dia bisa pergi ke Perth, Sydney, Adelaide, dan Melbourne dengan biaya super duper hemat, Meg. Caranya, dia menginap di rumah kenalannya.”
Singkat cerita, ia menanyakan kesanggupan saya menampungnya. “Saya terinspirasi buku si backpacker yang keliling Australia itu!” ungkapnya. Saya menyanggupi. Toh, saya mempunyai satu kamar yang bisa ia gunakan, tepatnya kamar si balita yang, untuk sementara, bisa direlokasi ke kamar ibu bapaknya. “Aku sekarang mau berburu tiket murah dulu ya,” pesan si teman.
Setahun hampir berlalu tanpa komunikasi, teman lama itu tiba-tiba mengirimkan pesan yang berkata ia sudah mendapatkan tiket dan akan terbang dari Jakarta ke Melbourne minggu depan.”Bayangkan, aku hanya bayar dua juta tiket pp Jakarta-Melbourne!” katanya. “Jadi sampai jumpa di Melbourne ya. Oh ya, aku bawa satu teman! Wah, pasti seru ya.”
Ha? Seminggu lagi dia akan datang? Bersama seorang temannya? Suami saya hanya bisa mengerutkan kening saat mendengar rencana itu. Kebetulan pesawat si teman mendarat di hari Minggu, jadi saya bisamenjemputnya. Saya mengeluarkan biaya parkir AUD10 dan tiket jalan AUD7, di luar biaya bensin. Berhubung teman (walau lebih tepat disebut kenalan), saya tidak mau terlalu meributkan soal uang. Saat saya
temui, dari segi penampilan, gaya si teman dan temannya ini cukup mantap: sepatu keds, baju hangat, kupluk ala pendaki Bromo, dan ransel. Tiba di rumah, mereka mandi dan menyantap makan siang, lalu bersama saya berputar-putar di area sekitar rumah. Bagi saya, pemandangan lingkungan suburban tempat saya tinggal biasa saja, tapi kedua turis ini justru sibuk berpose di depan setiap rumah yang kami lalui.
Malam harinya, sambil menyantap makanan yang saya masak (lagi), kedua tamu bertanya: “Besok kita mau ke mana?” Saya dan suami saling memandang. “Kita? Apakah maksudnya dengan kita?” Dengan bingung saya bertanya. “Memang kalian belum punya rencana?” Jawabannya membuat saya gemetar. “Oh, saya pikir kamu sudah merencanakan kita bakal ke mana saja seminggu ini. Kamu kan tinggal di sini, jadi harusnya tahu dong tempat yang bagus.”
Saya hanya bisa melongo. Memang, saya tidak bekerja di kantor, tapi hampir setiap hari saya bertugas mengantar anak saya ke berbagai kelas menyanyi dan bermain. Belum lagi pekerjaan rumah tangga yang harus saya kerjakan sendiri tanpa pembantu. Saya menenangkan diri, kemudian membuka laptop dan mengajak kedua turis berselancar di dunia maya. Karena tidak bisa mengantar mereka setiap hari, saya menunjukkan obyek- obyek yang mudah dijangkau dengan angkutan umum. “Melbourne Museum bagus. Ada fosil dinosaurus, ruang pamer hewan, dan pameran kehidupan Melbourne tempo dulu. Tiketnya 10 dolar per orang. Kalau mau foto sambil membelai koala, kita bisa pergi ke Maru Park, biayanya sekitar 25 dolar.”
Kedua teman saya bertukar pandang. “Ini Victoria Market. Pasarnya unik, kalian pasti suka. Kalau beli suvenir di sini, santai, yang jaga stan biasanya mahasiswa Indonesia,” saya terus berceloteh. “Tiket angkutan umum hanya 10 dolar sehari. Kalau mau makan di restoran, harganya rata-rata 10 dolar per porsi. Kalau mau lebih murah, ke McD atau Hungry Jack. Minumnya bawa dari rumah, air botolan mahal.”
Dengan perlahan, teman saya berkomentar: “Kok mahal sekali ya. Naik trem saja sepuluh dolar sehari? Masuk museum sepuluh dolar?” Dengan nada agak ketus, saya menimpali. “Ya ia-lah, secara Melbourne itu masuk jajaran kota termahal sedunia.” Suami saya yang penyabar kemudian bertanya: “Kalian bawa duit berapa? Biar kita bisa enak merencanakannya.”
Teman saya bilang, mereka masing-masing membawa sekitar AUD200. Saya syok mendengarnya. Sebelum sempat berkomentar, ia meneruskan kata-katanya. “Yang 100 dolar akan dipakai beli oleh-oleh untuk teman sekantor dan keluarga.”
Akhirnya, suami rela menyusun rencana untuk Senin. Pagi hari, dalam perjalanan ke kantor, ia mengantar kedua teman saya ke Victoria Market, tempat mereka bisa membeli oleh- oleh untuk tetangga. Pulang dari pasar suvenir, keduanya mengunjungi wilayah CBD. Sore harinya, mereka bertemu dengan suami saya lagi di stasiun kereta untuk pulang bersama. “Kalian bawa bekal makan siang dari rumah, besok pagi kita masak nasi goreng,” kata suami sembari melirik ke arah saya.
Jadilah selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu, kedua tamu ajaib kami berputar-putar di pusat kota yang mudah dijangkau angkutan umum. Seperti nenek saya, mereka juga membeli banyak suvenir. Tiap malam, suami saya menyusun jadwal tur. Dengan lihai, ia mengombinasikan antara tempat yang gratis dan tidak. Ia juga dengan telaten menerangkan berbagai jalur trem yang harus ditempuh. Saya, sebaliknya, menyibukkan diri di dapur sembari menebarkan aura suram.
Rabu, saat kedua tamu berpelesir di Royal Botanic Gardens, saya menghubungi seorang teman yang menetap di Jerman dan menceritakan kelakuan kedua turis yang tidak bermodal itu. Setelah puas tertawa terbahakbahak, teman saya memberi nasihat: “Sebetulnya temanmu itu bergaya orang Indonesia pada umumnya. Coba kamu pikir, kalau kamu berkunjung ke rumah saudaramu di kota lain, otomatis saudaramu bakal menyediakan makanan untuk kamu, mengantar ke berbagai tempat, dan tidak memungut bayaran untuk semua itu.”
“Tapi mereka bukan saudara! Kenal baik juga kagak! Dan mereka mengaku mau berwisata gaya backpacker? Backpacker kok pergi ke tempat asing dengan pengetahuan nol besar begitu?” Saya menjawab penuh nada sebal.
Namun saya juga mengambil hikmah dari percakapan tersebut, bahwa kedua tamu saya itu tidak berniat jahat, tapi semata “kurang berwawasan”. Kebetulan Kamis adalah hari libur. Meskipun hati jengkel, saya tidak tega melihat kedua orang yang sudah sangat menipis cadangan devisanya itu. Jadilah saya dan suami mengantarkan mereka ke Phillip Island. Suami mengarahkan mobil ke berbagai pantai dan tebing, lalu memberi makan ikan pari sore harinya. Yang penting gratis! Hanya satu tempat di mana kami harus membayar tiket cukup mahal: Maru Park, tempat berpose bersama koala dan memberi makan kanguru. Iya, kami yang membayari tiket mereka berfoto dengan koala, karena apalah arti ke Australia tanpa barang bukti berupa foto bersama binatang gendut itu. Hari itu, kami makan siang di restoran cepat saji dan merogoh kocek AUD40, belum termasuk bensin yang jelas harganya tidak disubsidi pemerintah.
Jumat, suami saya mengambil cuti, lalu kami kembali menjadi pramuwisata. Kami ke daerah Perbukitan Dandenong yang dihuni berbagai taman indah. Karena saya sudah kehabisan bahan mentah untuk dimasak, terpaksa kami kembali makan siang di restoran. Saya hanya bisa menghela napas saat menggesekkan kartu kredit. Hari berikutnya, usai mengantarkan kedua tamu ke bandara, saya segera membuka buku Backpacking Hemat ke Australia yang dibanggakan keduanya. Jangan-jangan buku ini memuat bab tentang “cara membuat tuan rumahmu membiayai seluruh liburanmu.”
Setelah saya membalik-balik halaman, tidak ada bab tentang cara merampok tuan rumah. Si penulis memang menginap gratis di rumah kenalannya, dan bahkan diajak jalan-jalan ke area Pecinan di Sydney. Tapi si tuan rumah hanya mengantarkannya sehari, bukannya seminggu penuh. Plus, tuan rumahnya menawarkan diri untuk mengantar dan mereka juga sudah mendiskusikan rencana ini sebelumnya. Satu fakta lain lagi, si penulis buku tidak datang dengan otak kosong. Ia sudah googling tempat yang hendak didatangi, sehingga tahu cara menjangkaunya dan dana yang dibutuhkan. Memang, ia menerima banyak kebaikan: diantar ke stasiun kereta, dibayari tiket masuk ke kebun binatang, diberi sarapan gratis, dan sebagainya. Namun ia menuliskannya dengan gaya bersyukur atas rezeki mendadak itu. Bukannya sejak awal mengharapkan rezeki nomplok.
Dua tamu saya menafsirkan informasi di buku dengan ngawur, gerutu saya sembari menunjukkan buku tersebut ke suami. Mereka hanya menghayati bab berisi sarapan gratis dan tas ransel jumbo, tapi melewatkan bab soal pencarian informasi. Suami menepuk-nepuk kepala saya sembari berkomentar sejuk: “Nah, sekarang kamu tahu bagaimana perasaan pohon mangga saat ditempel benalu.”
Note: tulisan saya dikomentari sebagai kocak. Padahal menulisnya penuh keseriusan... -_-
![]() |
| The best part is seeing my beautiful pretty face smiling at me saying "You're awesome girl!!!" # sombong adalah kodrat saya |
.jpg)

Hi mba vincentia, salam kenal!
ReplyDeleteTernyata masih ada juga ya orang yg gak "tahu diri" ya. Masih mending hanya sehari dua hari ,ini seminggu jadi "benalu" + "ngerepotin" lagi. Abis baca artikelnya jadi geli sendiri.
Being a "backpacker" is not that easy. Traveling needs plan,budget :)
Sukses trus u/ blognya ya mba!
Saya dulu juga pingin jadi budget traveller yg menghitung semua detil pengeluaran. Tapi ternyata nggak betah :P. Perjuangan mencari yg paling murah itu berat, Jendral, hahaha
DeleteSaya jg month nunut yo meg :)
ReplyDeleteBtw: okhi ciyus sabar ya? :))
Nggak tahu ya kalau di dunia kerja, tapi kalau di rumah okhi itu sabar dan tertindas....
Delete