Monday 9 December 2013

My Monday Note -- Sertifikat Halal Obat, Menkesnya Yang Goblok Atau Media Yang Stir Up?

Kata Menkes, obat dan vaksin itu tidak bisa disertifikasi halal karena hampir semua obat itu mengandung babi! 

Demikian saya membaca sebuah link berita yang dibagikan seorang teman di FB. 

He? Semua obat mengandung babi? Tiba- tiba sebuah bayangan menari- nari di benak saya. Bahwa somehow, entah apa alasannya, semua produsen obat ternyata mempunyai ritual memandikan seekor babi di depan pabrik mereka. Dan kemudian air bilasan mandi si babi dialirkan kedalam tong- tong aluminium tempat mereka mencampur adonan obat. Habisnya, bagaimana lagi sampai semua obat ternyata mengandung babi kalau tidak karena ritual itu?

Nah, saya tidak tahu apakah memang bu menkes memberikan pernyataan setolol itu sebagai alasan kenapa ia menolak program sertifikasi bagi obat dan vaksin atau memang si media yang terhormat yang memilih memutarbalikkan pernyataan bu menkes. Entahlah. Dunno dun ker.

However and ever, kebetulan dahulu kala di masa belia, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan yang menjual bahan baku obat bagi perusahaan farmasi, kosmetik dan makanan di Jakarta. Tidak sekali dua kali saya berurusan dengan sertifikasi halal. Tidak sepenuhnya memahami detil pengurusan sertifikat halal sih, karena memang bukan tugas saya. Tugas saya adalah menghibur rekan kerja yang bertugas mengurusi sertifikat halal, eh maksudnya membantu dia dalam pengurusan halal itu. 

Dari pengalaman bekerja sebagai APOTEKER di perusahaan yang menjual bahan baku, saya merasa bahwa untuk obat, dengan kondisi yang ada sekarang, memang sangat berat bila dipaksa harus bersertifikat halal. Bukan, bukan karena semua obat yang beredar di Indonesia itu mengandung air bilasan mandi si babi tadi, tetapi terutama karena situasi teknis yang kita hadapi saat ini. 

Note: saya tidak pernah berurusan dengan bahan vaksin, jadi I have no idea mengenai vaksin.

Ada berapa banyak pabrik farmasi di Indonesia? Banyak. Mereka adalah produsen merk- merk obat yang biasa kita konsumsi, seperti konimex, amoksan, bodrex dan konco- konconya. Bayangkan bahwa pabrik farmasi di Indonesia itu seperti pabrik mie instan. Pabrik mie instan membeli berbagai bahan mentah seperti tepung, minyak goreng, bubuk cabai dan kemudian diolah hingga menjadi sebungkus mie instan rasa ayam bawang (ngiler). Dalam kasus pabrik farmasi, mereka membeli bahan baku serbuk parasetamol, bahan pengisi agar tablet bisa dicetak (dua atau tiga macam), bahan pengikat supaya tablet tidak tercerai berai, bahan penghancur supaya setelah tablet masuk ke perut maka tablet bisa hancur (menghindari tablet masih utuh saat keluar di toilet :D) dan aneka bahan- bahan lainnya. 

Bila memang obat kemudian harus disertifikasi halal, maka tentu semua bahan baku yang digunakan dan proses pembuatan obatnya harus diperiksa dong. Masalahnya adalah, setahu saya sampai saat ini, kebanyakan bahan baku obat itu diimpor dari berbagai negara lain. Jerman, Cina, India, Amerika Serikat dan aneka negeri antah berantah lainnya. Berusaha mensertifikasi halal semua bahan baku obat ini? And cow jump over the moon.... 

Lho tetapi kenapa mi instan yang juga terbuat dari berbagai jenis bahan baku toh bisa disertifikasi halal? Padahal pakai tepung, minyak, cabai, bawang goreng dan micin segambreng. Kenapa bahan baku obat kok tidak bisa? Jawabannya ada tiga.

Yang pertama dan terpenting, it's all about the money, it's all about dum dum daradamdam. Saya akan mencoba memberikan ilustrasi. Bayangkan beberapa belas tahun lalu, saat saya masih bahenol dan semlohai. Saya bekerja sebagai karyawan bagian pembelian bahan baku.

Sebagai karyawan pabrik mi instan saat bertemu bos pabrik tepung gandum di Amerika sono.

Saya     : Mister, saya ingin supaya tepung gandum yang saya beli disertifikasi halal.
Mister  : Seperti apa prosedurnya?
Saya    : Bla bla menerangkan (and yeah, prosesnya rumit, memakan waktu dan biaya)
Mister  : Heh? Ribet amat! Terus apa untungnya saya repot- repot ngurusin halal?
Saya    : Eits, tiap hari tuh orang Indonesia paling enggak makan mi instan  dua bungkus! Jadi dalam setahun perusahaan saya akan membeli 30 juta ton tepung lho! Dan saya teken kontrak 10 tahun!
Mister  : Beres! Saya akan buat satu line produksi yang khusus memproduksi tepung untuk kamu! 

Sekarang saya sebagai karyawan pabrik farmasi

Saya    : Mister, saya ingin supaya disintegran yang anda produksi disertifikasi halal
Mister  : Seperti apa prosedurnya?
Saya    : Bla bla bla menerangkan
Mister  : Hmmm, memangnya kamu mau beli berapa banyak sih dalam setahun?
Saya    : Eh, ya kira- kira setengah kuintal lah setahun ^^
Mister  : Neng, daripada ribet- ribet menghalalkan ini barang, mending kita menghalalkan hubungan kita aja yuk....   
Saya    : Ah mister, saya jadi mau nih, eh malu *sambil menyodorkan daftar alamat KUA se-Jabodetabek.

Dalam bisnis, semua keputusan tentu saja dihitung berdasar untung dan rugi. Sementara bahan baku makanan biasanya dibeli dalam volume yang meruah, bahan baku obat dibeli dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Ya iyalah, bayangkan saja perbandingan ukuran dan bobot antara satu bungkus mie instan dan satu bungkus panadol. Plus lebih banyak mana sih, peminta mie instan dan tablet parasetamol? Saat volume yang dibeli banyak, maka produsen bahan baku bisa mengatur supaya satu line produksi khusus diperuntukkan untuk memproduksi produk kita. Hasilnya, sertifikasi halal menjadi lebih mudah. Kan khusus, tidak harus tercampur baur dengan yang lain.

Tetapi kalau toh dalam setahun kita hanya membeli satu kuintal doang, mana mau produsen membuatkan satu line produksi khusus untuk kita? Ya rugi bandar lah. Masakan mesin berkapasitas 30 ton pertahun hanya dipakai untuk memproduksi 3 ton?  Jadilah line produksi itu akan digunakan untuk membuat beraneka produk dengan spesifikasi yang berbeda. Nah, berarti semua produk yang diproduksi di line tersebut harus diperiksa juga dong? Alamak! Belum lagi karena nature of business itu fleksibel dan mengikuti kebutuhan pasar, maka bisa jadi di bulan depan mesin tersebut akan memproduksi satu spesifikasi tepung yang baru lagi. 

Yang kedua, secara nature, industri farmasi adalah industri yang sangat cepat dalam berinovasi. Sementara mie instan lebih sering berubah kemasan dan bintang iklan sementara rasa dan bentuknya ya sami mawon dari tahun ke tahun, teknologi dalam industri farmasi selalu berubah. Secepat kilat. Tujuannya satu: supaya obat semakin efisien, aman, berkhasiat dan terjangkau harganya (eh itu mah enggak cuma satu ya tujuannya?). Sekedar bahan pengikat yang di setiap tablet hanya dibutuhkan beberapa miligram saja bobotnya (setara sebongkah upil dibagi lima) akan terus berubah komposisinya. Inovasi baru terus terjadi. Dan bila setiap perubahan berarti harus mengurus lagi sertifikasi halal, yah lagi- lagi secara ekonomi it's just impossible. Lha wong inovasinya cepat sekali jeh. Dan terkadang dalam setahun pabrik farmasi hanya akan membeli bahan pengikat ini sebanyak dua karung kecil. Berani minta sertifikat halal? Minta dicipok kiri kanan itu namanya.      

Yang ketiga, ya itu tadi, hampir semua bahan baku obat itu diimpor dari luar negeri. Nggak heran sih, lha wong singkong saja impor kok, huehehehe. Biaya mensertifikasi barang yang berada di luar negeri ya pastinya muhil bin mahal. Belum tiket pesawatnya (kalau penguji dari MUI nya cewek, jadinya yang berangkat dua orang), belum penginapannya, belum biaya translate dokumen, belum biaya sambungan langsung jarak jauh, belum biaya tenaga kerja di eropah sana yang harus mengurus proses ini -_-.

Oke, bagaimana kalau kita deh yang menanggung semua biayanya? Toh demi kemaslahatan umat. Lagi- lagi, belum tentu produsen yang disana bersedia. Suatu kali saya menjajaki untuk membeli semacam garam dari seorang produsen di Australia. Meskipun hanya garam, tetapi spek untuk obat tentu berbeda daripada garam dapur emak saya yang bisa bikin kepala benjol kalau dilempar. Saya meminta supaya si produsen bersedia mengurus halal.  Kami deh yang bayar! (ada pertimbangan bisnis sehingga kami waktu itu bersedia menjadi pihak yang membayar). Setelah negosiasi yang alot dan menerangkan proses yang harus dilalui, si produsen berkata "Saya lebih baik batal menjual ke kamu daripada harus mengurus halal. Repotnya nggak sebanding. Saya harus menyiapkan dokumen ini itu ono. No way." Padahal saat itu saya bersedia membeli dalam jumlah cukup besar bagi industri obat. Tetapi lagi- lagi, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan volume yang dibutuhkan industri makanan.

Dan sialnya lagi, bahan- bahan baku pembuat obat itu seringkali jauh lebih spesifik daripada makanan. Semisal produsen A tidak bersedia mengurus halal, tidak berarti saya bisa dengan mudah membeli dari pihak lain. Bila kemudian saya memutuskan untuk membeli dari produsen lain, saya harus mengulang melakukan riset lagi, untuk memastikan setelah diganti bahan pengikatnya obat saya masih tetap efisien dan aman.

Misalnya obat jantung A sudah diatur agar bahan obat:
1. Mulai diserap setelah dua menit menyentuh lambung,
2. Puncak serapan tertinggi dicapai setelah 30 menit
3. Obat harus sudah terserap habis setelah 4 jam
4. Kadar obat dalam darah harus berada dalam rentang 200- 210

Kalau saya berani mengganti satu bahan saja dalam pembuatan tablet, berarti saya harus melakukan serangkaian uji dan riset untuk memastikan tablet saya akan tetap mempunyai karakteristik penyerapan yang sama. Karena jangan- jangan sekarang tablet saya begitu menyentuh lambung langsung terurai dan terserap dengan cepat. Kadar obat dalam darah langsung melesat hingga 230 atau justru kadar obat hanya berada di level 180 melulu. Kalau saya berani menjual obat itu, berarti saya memberi kesempatan pada pasien saya untuk segera menemui sakratul maut (salam ya buat malaikat penjaga gerbang akhirat). Rentangnya sempit sekali. Akibat nyata bila semua ini harus dilakukan? Harga obat akan melambung tinggi tinggi sekali, kiri kanan kulihat saja, tak ada yang mampu beli ^^. 

Satu hal lain yang akan membuat banyak produsen bahan baku enggan untuk mensertifikasi halal adalah ia akan terikat dan hanya bisa memakai supplier- supplier yang sudah disetujui dan diperiksa juga kehalalannya. Ingat lho, produsen bahan baku ini kan juga mengambil bahan baku dari supplier- supplier. Jadi demi memeriksa satu produk tepung, selain memeriksa proses di pabriknya, juga harus memeriksa kehalalan supplier yang digunakan. Oh no, kepala saya pening! Jadi tidak mungkin nih memeriksa sampai ke tingkat supplier? Mungkin banget. Kalau kita berani membeli banyak sehingga setelah segala kerepotan ini si pabrik tepung masih bisa untung besar dengan berbisnis bersama kita.

Satu contoh nyata adalah gelatin yang dipakai untuk membuat kapsul. Yang tentu saja kita masih impor dong ^^. Gelatin yang dipakai di Indonesia sih dari dulu terbuat dari sapi, bukannya babi (sekedar catatan, gelatin dari babi adalah yang terbaik kualitasnya). Tetapi meskipun dari sapi, gelatin itu tidak bersertifikat halal. Karena ya itu tadi, dia diproduksi di mesin yang juga memproduksi gelatin lainnya. Atau kalaupun mesin tersebut hanya digunakan untuk memrpoduksi gelatin sapi, rumah jagal sapi yang memasok bahan baku gelatin ini tidak bersertifikat juga. Mereka disuruh mengurus halal? Ya ogah. Ribet amat. Beli kagak seberapa, ribetnya bikin kutu rambut berdansa semua.

Sampai suatu waktu, salah satu industri makanan ringan di Indonesia ingin menggunakan gelatin ini untuk produksi permen mereka. Hoho, mereka berani membeli berjuta- juta ton asal gelatinnya halal. Ha! Kalau ada insentif seperti ini, si pabrik gelatin ya bakal langsung hijau matanya. Hayuk saja! Proses pengurusan halalnya memakan waktu bertahun- tahun. Si pabrik berkorban membuat satu tempat produksi yang benar- benar terpisah dan tertutup. Rumah jagalpun dipilih, dan sekarang semua proses penjagalannya sudah halalan toyiban. Biaya yang dikeluarkan? Jangan ditanya. Tapi karena kita berani membeli banyak, mereka mau. Dan akhirnya sekarang kita bisa menggunakan gelatin halal ini untuk membuat kapsul obat. Terima kasih pada si pabrik permen ^^ 

Bagi saya, dalam kondisi saat ini, dengan ketergantungan akan bahan baku dari impor, dengan ketidakmampuan kita memproduksi bahan baku obat sendiri, maka pensertifikasian halal bagi obat adalah hal yang absurd. Not feasible. Bagaimana kalau kita mogok nasional, nggak mau beli bahan baku obat impor kalau tidak bersertifikat halal? Ya kembali ke pertanyaan, emangnya kita sudah mampu memproduksi sendiri?

Oke. Lalu apakah memang semua obat itu bebas dari babi? TIDAK. Ada obat- obat yang sampai saat ini memang mau tidak mau suka tidak suka belum ditemukan penggantinya. Sialnya, kok ya babi itu meskipun gendut, jorok dan bau, tetapi DNA nya yang paling sesuai dengan tubuh manusia kalau dijadikan obat. Kenapa nggak kodok saja misalnya? Atau kucing kek. Atau kambing? Dan sialnya lagi, kebanyakan obat- obatan itu adalah obat- obatan yang life- saving, penyelamat nyawa. Kalau kita menolak minum panadol, paling- paling ya kepala puyeng nggak bisa kerja. Tetapi kalau kita menolak minum obat- obat life saving ini, ya sebut saja itu berarti  kita sudah tidak sabar untuk menempati kavling kuburan yang sudah kita cicil sejak tahun lalu ^^.

Kalau memang sertifikasi halal belum memungkinkan untuk obat, bagaimana misalnya kalau ya sudah obat yang mengandung babi saja yang dikasih stempel? MENGANDUNG BABI. Bisa saja sih, tetapi apakah hal tersebut bijaksana? Ingat lho, kebanyakan obat- obat jenis itu adalah kategori life- saving. Bagaimana sih rasanya saat orang tua kita sekarat atau butuh minum obat secara rutin (yang kalau kagak diminum bikin koit) dan kemudian di bungkus obatnya ada tulisan besar- besar MENGANDUNG BABI. Apa ya tidak setiap hari emak babe minum obat sambil mbrebes mili "Duh Gusti, tiap hari aku makan babi...." Bagaimana mau sembuh juga kalau begitu? Would that be wise? Sudah sakit mengkik- mengkik, masih harus menanggung derita batin tak terperi. 

Jadi apakah ya sudah kita berpasrah saja sih? Nasib dah! Sebut saja karena kondisi darurat jadi ya terima nasib mengkonsumsi obat yang belum tentu halal. Sebetulnya, bagi saya, ini kesempatan juga agar industri bahan baku farmasi kita berkembang, supaya tidak kalah dengan Cina dan India. Misalkan ayolah kita bikin pabrik parasetamol saja. Negara harus membantu sepenuh tenaga agar industri ini berkembang. Kalau perlu biayai semua proses sertifikasi halal bagi pabrik parasetamol lokal ini. Dan sebagai insentifnya, semua perusahaan farmasi yang bersedia memakai produk lokal ini untuk membuat panadol atau bodrexin, akan disebut "Turut berperan serta memulai langkah awal ikhtiar menuju obat yang halal". Kampanyekan besar- besaran. Berikutnya, mulai melobi negara- negara muslim lainnya, siapa tahu mereka juga bakal tertarik.

Apabila saat ini semua obat dipaksa untuk bersertifikat halal, itu sama saja seperti memaksa balita umur tiga tahun ikut lomba lari maraton 10 kilometer. One step at a time lah. Mau sombong itu butuh modal dulu. Kemandirian. Jadi kita bisa bilang "Elu nggak mau ngurus halal ya sudah! Ane bisa bikin sendiri kok!" Seharusnya masalah halal- haram ini menjadi tonggak untuk mulai membangun kemandirian kita sebagai bangsa. Seharusnya pemerintah dan MUI duduk bersama, merembukkan supaya sertifikasi halal itu tidak semata menjadi momok bagi industri, tapi menjadi cara untuk menjadikan kita bangsa yang lebih bermartabat dan bisa berdiri diatas kaki sendiri. Apa tidak lebih mulia kalau gerakan menuju obat halal ini membuahkan pabrik gelatin lokal Made in NTT, jadi saya tidak usah susah- susah lagi mengemis cinta eh kesediaan orang RRC untuk mensertifikasi halal gelatin mereka :(  

Kalau sekarang mau boikot, ya paling- paling hasilnya adalah anak kita nggak usah divaksin polio, kita nggak usah divaksin meningitis (dan sebagai akibatnya kagak boleh naik haji), kalau nyokap punya kelainan darah ya sudah segera saja pesankan peti mati berukir emas, dan kalau endas cekot- cekot ya panggil saja Pak Mantep yang pancen oye ^^

Note: kalau begitu mari kita minum obat herba saja! Oh tentu saja, karena kan obat herba itu tidak membutuhkan bahan- bahan tambahan lain... Bahan aktifnya tidak perlu diekstraksi yang juga membutuhkan bahan kimia. Kan cara pembuatan obat herba hanya tinggal memetik daun pepaya, diremas- remas dengan tangan, kemudian langsung dimakan. Tidak butuh dibentuk tablet, tidak butuh kapsul, tidak butuh cairan pelarut, tidak butuh bahan kimia untuk mengekstrak sarinya..... # forgive my rude sarcasm. Saya sedang bete berat pada para pedagang obat herba ini, wekekeke.



Jelas foto yang tidak ada hubungannya dengan pembahasan.
Niatnya emang hanya pamer anak gadis nan cemplon 

   


   



     


  

Monday 21 October 2013

My Monday Note -- Masih Tetap Saling Menyukai

Pindah rumah itu menyebalkan.

Pindah rumah sembari mengecat seluruh dinding rumah sendirian tanpa bantuan tukang itu lebih menyebalkan lagi. 

Pindah rumah, mengecat sembari tetap bekerja full time itu memuakkan. 

Pindah rumah, mengecat, bekerja sembari kuliah itu bikin pingin bunuh diri saja. 

Dan malam ini, di depan meja dapur di rumah baru yang di lantainya masih berserakan aneka kardus dan boks plastik, di depan laptop yang akhirnya bisa digunakan setelah chargernya ditemukan di dalam kardus bertuliskan "Pecah belah dapur" (keluarga saya memang calon penerima nobel fisika), saya belajar dua hal. Pertama,saya terlalu pengecut untuk melakukan bunuh diri. Kedua, kecuali suami saya adalah bandot semacam Patonah yang penghasilannya tanpa batasan nominal dan senyumnya semesum kambing overdosis jamu pasak bumi, ancaman utama dalam pernikahan pasangan normal tampaknya bukanlah deretan penyanyi dangdut pantura yang siap bergoyang diatas pangkuan suami, melainkan kesibukan kehidupan modern (eciye berasa sosialita deh eyke) yang membuat semuanya menjadi just an average day..

Baru sekitar tiga bulan yang lalu saya mulai bekerja di tempat baru. Dan selama tiga bulan pertama ini saya sungguh harus berjuang untuk berangkat ke tempat kerja setiap pagi. Maklum, sindrom tempat kerja baru. Secara bawaan orok, saya adalah tipe orang yang suka melakukan satu pekerjaan dengan tekun dan tidak diburu- buru. Dan saya benci interupsi yang terus menerus. Pokoknya fast paced job jelas bukan my cup of tea. Sialnya, rumah sakit tempat saya bekerja adalah rumah sakit pemerintah terbesar yang melayani seperempat penduduk senegara bagian. Penyakitnya pun bervariasi mulai dari TBC (heeh nggak ada bedanya sama kerja di puskesmas pojok kelurahan), transplan ginjal sampai scabies dan flu babi. Akibatnya, alih- alih mengerjakan resep dengan tenang, saya mengerjakan resep sambil mendengarkan dering telepon tiada henti yang harus diangkat, aliran resep urgent untuk pasien yang ambulansnya sudah nongkrong di pelataran hingga pasien yang tiba- tiba nggeblak di tengah- tengah antrian apotek. Belum lagi nanti si perawat menelepon bahwa si pasien psikiatri mulai mengamuk karena kelamaan menunggu obat. Plus banyak rekan kerja yang yah sebut saja tidak bakal memenangkan kontes miss personality. Lengkaplah penderitaan saya.

Saat kita melakukan hal yang tidak kita sukai, maka energi yang harus dikeluarkan jadilah berlipat- lipat. Saya selalu pulang ke rumah dengan perasaan terkuras dan di pagi hari bangun dengan perasaan sangat berat bin enggan.

Nah, sementara saya merasa lelah terutama karena capek hati, Okhi amat sangat capek karena dia harus bekerja, kuliah plus mengecat rumah. Pagi- pagi buta dia sudah langsung kabur untuk mengecat rumah baru sebelum pergi ke kantor. Malamnya, bila tidak ada kuliah, kembali ia mengecat rumah. Weeekend nongkrong di kampus, kuliah atau membuat paper.

Lupakan artikel di majalah konsultasi pernikahan tentang tips dan trik bagaimana agar pernikahan tetap gemerlap semerbak berbunga merona seperti di kala pacaran, saat sekedar bersentuhan tanganpun sudah bisa membuat berdesir. Lupakan pula nasehat- nasehat sederhana nan logis bahwa sesibuk apapun kita, tetap harus sempatkan waktu untuk pergi kencan berdua. Pada saat- saat tersibuk dalam hidup, saat pulang ke rumah hanyalah untuk makan, mandi dan tidur, maka ancaman terbesar bukanlah bagaimana agar pernikahan tetap panas membara, tetapi bagaimana agar saya tidak membenci si Okhi. Dan bagaimana agar si Okhi tidak membenci saya.

Rumah yang kami beli adalah rumah tua dengan cat yang sudah mengelupas dimana- mana. Sebelum bisa dicat ulang, cat lama di langit- langit harus dikelupas pelan- pelan. Berjam- jam Okhi melakukannya. Kemudian didempul. Kemudian diamplas. Kemudian dicuci. Kemudian dicat dasar. Kemudian ditunggu beberapa jam dan dicat lapisan pertama (menghabiskan seluruh harinya di akhir pekan). Ditinggal dulu ke kantor, dan nanti sorenya sepulang dari kantor akan dicat lapisan terakhir. Dan di sore hari, setelah terburu- buru kabur dari kantor agar bisa menyelesaikan mengecat, ternyata catnya menggelembung dan mengelupas.

Kalau tidak ingat melempari kaca jendela itu akan mengakibatkan kaca pecah berkeping- keping dan berarti harus membeli kaca baru, Okhi pasti sudah gatel pingin ngelempar kaleng cat ke jendela. Kerja keras berjam- jam sia- sia. Dan deadline semakin mepet.

Dan saat si Okhi pulang ke rumah, ia akan bertemu saya yang sedang capek hati karena tadi siang di tempat kerja, seorang rekan kerja separuh baya separuh buaya yang tujuan hidupnya adalah membuat semua makhluk lain sama merananya dengan dirinya, memberikan komentar melecehkan yang membuat saya yang sudah merasa tolol karena belum bisa menyesuaikan ritme di tempat baru menjadi serasa seekor badak yang diberi rok tutu dan didorong ke tengah panggung pertunjukan balet. Perannya? Menjadi black swan.

Tidak perlu Okhi melakukan kesalahan besar tak termaafkan seperti meminta ijin untuk kawin lagi atau saya ketahuan menabrakkan mobil ke tiang jemuran misalnya, sekedar Okhi yang berdehem- dehem secara konstan (Okhi dan musim dingin bukanlah sahabat baik) bisa membuat saya sangat sebal. Atau sekedar kenyataan bahwa saya tidak tahu caranya membayar tagihan (fakta yang sudah diketahui Okhi sejak pertama kali menikah hampir lima tahun lalu) bisa mencetuskan komentar ketus atau nada meninggi yang berakhir dengan saling membentak dan tidur saling memunggungi.

Sudah menikah selama lima tahun dan pacaran selama belasan abad, tentu saya dan Okhi sudah sedikit banyak belajar bahwa kami berdua memiliki sifat kurang terpuji pada saat lelah atau sibuk. Itulah sebabnya saat kesibukan dan kepenatan mulai merasuk, saat cinta serasa memudar dan bahkan sekedar berpelukan di tempat tidur (sambil masing- masing memegang laptop) sudah tidak pernah dilakukan lagi, tanpa sadar saya dan Okhi mulai menerapkan 'our safety net'.

Saat Okhi yang jelas sedang kesal karena catnya yang mengelupas kemudian pulang kerumah dan dengan nada sedikit meninggi bertanya kenapa tadi siang saya tidak bisa dihubungi (yang sudah jelas karena saya bekerja di basement tanpa sinyal), saya menahan diri untuk tidak snap him back. "Elu kan tahu gue nguli di kamp batu bara! Pake nanya lagi kenapa kagak bisa dihubungi!!!"

Maka dengan pengendalian diri yang tidak mudah juga sebenarnya, saya akan menjawab dengan nada datar "Ya kamu kan tahu aku kerja di tempat tanpa sinyal." Saya menolak untuk terprovokasi oleh si Okhi yang sedang mencari cara menyalurkan emosinya, tapi sekaligus memberikan 'peringatan' please don't push your luck mister. Karena kalau dia masih nggerundel lagi atau meneruskan nada tingginya, for sure saya yang juga bukannya sedang riang gembira tralalala akan sangat marah dan dengan segera ikut serta dalam pertengkaran. Begitu juga sebaliknya saat saya yang sedang mulai mencari perkara, saya bisa melihat Okhi menahan dirinya untuk tidak terprovokasi.

Saat menemukan fakta bahwa Okhi membeli jenis cat yang salah, maka kami berdua (masing- masing dengan raut wajah jengkel) akan menutup mulut dan menghindari berkomentar. Biasanya untuk beberapa saat saya dan Okhi akan saling menghindar, dia membersihkan halaman sementara saya berada di dalam rumah sampai emosi sedikit mereda. Saya menahan diri untuk tidak berkomentar "Gimana sih kok bisa salah beli?" dan saya rasa Okhi juga harus menahan mulutnya dari keinginan melampiaskan frustasi dengan berkata "Apa- apa harus aku yang mikir. Kamu nggak mbantuin sama sekali."

Pada saat- saat sibuk dan penat, bukan kata- kata manis atau belaian cinta yang menyelamatkan pernikahan saya (boro- boro mau mikir berkata manis, nggak saling membentak saja sudah untung) tetapi mengendalikan diri untuk tidak menjadi emosi dan menghindari segala bentuk pertengkaran. Disaat- saat hidup terasa penat, kalau saya harus menghadapi pasangan yang emosi dan bertengkar untuk hal- hal yang tidak prinsip itu sungguh melelahkan. Dan emosi semua orang tentu lebih gampang terpantik disaat sedang lelah. Disaat itulah saya memasang safety net erat- erat, kesadaran untuk menekan emosi, mengunci mulut dan menunda komentar yang hanya akan membuat suasana memanas. Dan mencegah diri dari mengatakan hal- hal tak termaafkan yang pada saat itu sungguh memang saya rasakan "Mending cerai aja" atau "Enakan sebelum nikah daripada sekarang".  

Kadang saya jadi berpikir, kalau untuk sekedar tidak bertengkar atau membenci Okhi saja harus berjuang, apakah itu berarti saya sudah tidak cinta dia lagi ya? Apakah pernikahan kami masih berdasar cinta atau sekedar karena kami tidak mau bercerai? Bukankah cinta seharusnya mudah? Bukankah seharusnya saya tetap rindu ingin memeluk dan menciumnya? Kalau toh saya harus menahan diri dari keinginan bertengkar dengan Okhi, apa bedanya dengan perlakuan saya ke teman- teman di kantor? Bukankah saya juga tidak pernah bertengkar dengan mereka karena masing- masing dari kami saling menahan diri? Kan nggak profesional sama sekali kalau jambak- jambakan di kantor atau saling mengumpat?

Malam jumat kemarin, saat sudah tinggal di rumah baru, semua sudah mulai tertata dan kebun belakangpun sudah mulai rada layak pakai, saya duduk santai di atas tempat tidur bersama Okhi. Sera sudah melungker dengan damai di pojok kasur. Sebelah lengan Okhi mendekap saya (suatu gesture simpel yang selalu ia lakukan tetapi sudah selama beberapa bulan tidak pernah dilakukan) sementara satu tangan lainnya sibuk mengklik keyboard laptop. Ceritanya Okhi merasa menemukan website untuk mendownload film- film sensual yang bukan film bokep. Walaupun tidak ada satu filmpun yang berhasil didownload demi menggairahkan percintaan (gemetar membaca judul- judul semacam paint me with red blood dengan cover cewek bertelanjang dada dengan belati di genggaman -- "Ini film erotis atau film horor kampung sih?" kata Okhi bengong), saya berpikir-pikir.

Cinta tidak berarti membuat segalanya mudah setiap saat. Ada saatnya cinta serasa menguap dan saya dengan jujur harus berkata bahwa pada saat itu saya tidak merasakan cinta pada pasangan saya karena otak dan badan saya hanya craving untuk tidur dan beristirahat. Pada saat kehidupan berjalan mudah seperti saat kehidupan sudah mapan atau liburan membentang, cinta terwujud dari kata- kata manis dan romantisme. Pada saat- saat berat, cinta terwujud dari sekedar perjuangan mengendalikan emosi. Dan kalau dipikir- pikir, bisa bertahan hidup serumah dan seranjang berdua selama 24 jam tujuh hari seminggu disaat fase kehidupan sedang low (meskipun minus romantisme dan cinta- cintaan ala abege) dengan sebiji makhluk yang sama, apakah itu bukan berarti cinta?

Di kantor, saya 'bersahabat' dengan dua pria yang kebetulan mempunyai kegemaran yang sama akan dark humor dan kami bisa saling terkekeh saat saling melontarkan komentar sarkas (Why so sad little Meg? -- Oh because today is Friday. I'm so devastated not gonna go to work for 2 days. I'm gonna miss this place...) dan hati saya selalu riang gembira bila kedua pria ini nongol. Sindiran- sindiran yang saling terlontar membuat hidup terasa mudah. Hidup bersama mereka terasa mudah. Tetapi itukan hanya beberapa jam sehari. Dan percakapan yang terjadi di basement pengap itu hanya semacam "Are you busy?" dan dijawab "Nope. I'm just standing here, sunbathing and enjoying the beautiful sky."

What if I have to discuss about house painting or paying bills with them? Saya akan mulai memesan santet dari gunung kawi.

Disaat- saat berat dan penat, memang mudah untuk mempertanyakan apakah masih ada cinta. Tanpa romantisme, tanpa waktu luang untuk bercakap- cakap. Tetapi pada suatu malam, saat Okhi berbalik dan menarik tubuh saya agar mendekat dan memeluk, saya melanjutkan tidur sambil tersenyum. Satu gesture sederhana yang hanya akan bertahan lima menit sebelum Okhi membalik badannya lagi, tetapi mengingatkan saya bahwa I'm loved. Dan disuatu pagi, saya menciumnya sekilas sebelum kami melaju ke arah yang berbeda dengan mobil masing- masing. Semoga dia juga ingat bahwa he's loved.

Cinta itu terkadang go with the wind, kadang harus berjuang melawan angin. Bagaimana kalau saya membiarkan emosi mengambil alih dan bertengkar hampir setiap hari karena saya capek dan penat? Ya suka- suka saya. Toh yang menjalani saya sendiri. Kalau saya ingin hidup dalam pernikahan bak neraka, ya monggo saja. Kata orang betawi, toh elu sendiri yang ngerasain. Hidup hanya sekali, terserah saja ente memutuskan mau berbahagia atau sengsara. Masak sih sudah terlanjur punya suami yang tidak lebih tampan dari bekantan, saya masih juga harus sengsara dengan bertengkar dengannya setiap hari?


Wajah teler sehabis mengecat. Hanya Sera yang tampak bahagia


Monday 23 September 2013

My Monday Note -- Impian Yang Tertunda, Perjalanan Hidup Yang Terpilih

Dua minggu lalu, saya membuka email dan menemukan sebuah pesan yang berbunyi "Halo Vincentia, saya tertarik untuk memuat artikelmu soal kota Melbourne untuk majalah edisi Oktober. Apakah artikel tersebut sudah pernah dimuat di majalah lain?"

Setelah agak bingung selama lima detik, saya teringat satu artikel yang dulu, mungkin tiga bulan lalu, saya kirimkan ke satu majalah. Artikel kedua sekaligus kemungkinan yang terakhir yang akan saya kirimkan ke media untuk tahun ini. Setelah berbalas email dan mengirimkan foto- foto terkait, saya bertanya berapa fee yang akan saya dapatkan. Di email balasan akan pertanyaan saya soal fee, sang editor menyebutkan nominal yang setara dengan gaji saya selama satu setengah hari kerja setelah dipotong pajak 30% #halah, ribet amat.

Gara- gara email itu, saya jadi teringat akan beberapa hal:

1. Saya kangen menulis. Boro- boro mau berpikir soal mengirim tulisan ke majalah, sekedar menulis note dengan rutin saja terasa berat. Maklum, saya kan wanita karir profesional nan sibuk # oles- oles kuteks ke jempol kaki sambil mikir status FB untuk diaplot.

2. Menulis itu sulit untuk membuat orang jadi kaya. Saya kurang tahu juga sih sebetulnya berapa fee yang bisa didapatkan. Mungkin saja kebetulan majalah yang menerima artikel saya ini yang terlalu pelit. Tetapi, saat mencoba googling berapa sih fee yang bisa didapat, dari sebuah majalah cukup terkenal, seorang penulis berkisah kalau biasanya mendapatkan sekitar 300 ribu per artikel. WATTT??? 300 rebu doang? Yang lebih menyakitkan kalau kemudian si duit dialihkan menjadi dolar. 300 ribu rupiah = 30 dolar= tiga piring nasi gudeg di restoran pinggir stasiun.

Walau untungnya honor menulis yang saya terima tidak sememelas itu dan bisa mencapai angka juta per artikelnya (mungkin kalau saya tinggal di Indonesia ya rada lumayan ya), tetap saja bila saya ingin menggantungkan hidup dari menulis dan keluar dari pekerjaan saya sekarang, saya harus mampu memasukkan at least 12 artikel per bulannya! Alamak....  

Apakah mungkin saya mampu untuk membuat 12 artikel yang layak tampil setiap bulannya? Mungkin saja sih, tetapi pasti tidak straight away. Saya tentu harus membaca dulu aneka majalah yang ingin saya kirimi hasil karya saya, mencari tahu gaya penulisan dan jenis artikel yang mereka tampilkan. Karena bahkan dua majalah yang sama- sama membahas soal travelling pun akan mempunyai warna artikel yang berbeda. Kemudian mencoba- coba untuk mengirim artikel ke majalah- majalah tersebut. 

Aih, saya sih tidak sedang ingin menulis tentang kegiatan tulis menulis untuk majalah. Hanya begini lho ceritanya, saya suka sekali menulis. Terkadang, saat sedang mengetik resep di rumah sakit untuk seorang pasien penderita flu babi (agak syok juga waktu membaca resep dan tertulis di tinta ungu HAS SWINE FLU-- langsung buru- buru cuci tangan dan menggosok telapak tangan saya dengan amplas), saya tiba- tiba longing untuk menuliskan ide yang melintas di otak saya. Atau betapa inginnya saya meneruskan membuat rancangan novel mengenai empat orang sahabat yang bekerja di Jakarta yang terkatung- katung setelah mencapai 50 halaman karena sekarang saya simply TOO TIRED to do anything but sleep. Atau betapa saya sudah gatel tingkat dewa untuk meneruskan cerita tentang teman saya seorang dokter PTT dengan  kisah mencengangkannya, mulai dari digedor tengah malam untuk memeriksa keperawanan seorang gadis belia (teman saya ini dokter jejaka belia :P) dan mengusir sekeluarga kadal raksasa yang bersarang di belakang lemari pakaian di rumah dinasnya. 

Tetapi, karena tahun ini adalah tahun sibuk bagi kami dan sekaligus tahun dimana kami sangat butuh duit (Okhi kuliah dan kami baru saja membeli rumah yang menguras tabungan -- tuh kan saya sampai tidak sempat membuat tulisan tentang berburu rumah ini) mau tidak mau saya harus memilih; apakah bekerja di rumah sakit besar (yang bentuk bangunannya dari luar tampak seperti gudang batubara kumal) yang membuat saya terlalu lelah untuk melakukan hal lain tetapi menghasilkan pemasukan yang rutin, atau keluar dari pekerjaan itu dan mempunyai banyak waktu luang untuk melakukan hal yang saya sukai, menulis. Konsekuensinya, saya harus berusaha membuat kegiatan menulis ini bisa menghasilkan duit. Dan itu sama artinya seperti berusaha membangun bisnis saya sendiri. Butuh waktu dan usaha sebelum benar- benar berhasil. Saya baru pernah mengirim dua tulisan dan dua- duanya dimuat. Jadi yak, meskipun tidak sekelas Marah Rusli, saya yakin masih mungkinlah tulisan saya tentang tips dan trik memasak dan memanggang kue diterima oleh majalah :P. 

Tetapi, dua tulisan dalam tempo setengah tahun jelas not good enough dari segi materi. Itu mah hanya cukup buat beli selusin beha berbusa tebal doang. Dan seperti lazimnya membangun bisnis atau usaha baru, dibutuhkan pengorbanan waktu dan usaha yang tidak serta merta akan menghasilkan uang. Saya perlu membeli berbagai majalah, memilih yang menarik minat saya dan mempelajari jenis artikel yang mereka butuhkan. Atau kalau saya ingin membuat novel, mungkin setidaknya saya butuh enam bulan untuk menyelesaikan keseluruhan novel, mengeditnya, menulis ulang, menawarkan ke penerbit dan kemudian mengancam akan membakar rumah si penerbit kalau naskah saya tidak diterbitkan. Barulah saya bisa mendapatkan uang untuk usaha saya itu. Menulis untuk mendapatkan uang, jelas tidak sama dengan menulis blog ini yang semau gue-elu protes gue bacok.

Saat ini, saya akhirnya merasakan apa yang dirasakan seorang teman saya beberapa tahun lampau. Impiannya? Menjadi penjahit dan membuat aneka baju anak nan unyu. Saat itu ia sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Menjahit ia lakukan di sela waktu luang, sepulang bekerja dan sehabis menidurkan anaknya. Alhasil, paling- paling dalam sebulan ia semata menghasilkan beberapa pasang baju dan modelnya ya itu- itu saja. Ia tidak punya waktu untuk mempelajari pasar, mencari aneka model baju dan mencoba beraneka tehnik aneh- aneh. Kegiatan menjahit tetap saja sebatas hobi belaka untuk menambah uang jajan, bukan bisnis serius. Mau keluar dari pekerjaan untuk benar- benar serius menekuni kegiatan jahit menjahit, kok ya dia butuh duit... Duit, duit, deritanya tiada akhir......

Membagi waktu antara bekerja di gudang batubara berkedok rumah sakit, membereskan rumah yang baru kami beli (yang artinya mengecat sendiri seantero rumah karena biaya tukang cat disini adalah 450 dolar per kamar) dan membantu si Okhi memperbaiki assignment nya yang bergrammar acakadut, saya mengelus si laptop penuh sayang sambil berucap "See you next year ya....."

Tetapi, sama seperti teman saya si penjahit yang sekarang sudah benar- benar beralih profesi menjadi penjahit, saya tahu sih bahwa kalau tidak benar- benar diniatkan dengan bulat, ya impian untuk menghabiskan hari dengan menulis (dan menghasilkan uang) hanya akan rencana tinggal rencana. Seperti kata Agatha Christie, sekali engkau berhenti menulis, engkau akan semakin malas dan malas. Meski tahun ini saya harus merelakan untuk tidak memulai 'bisnis menulis' saya karena rumah butuh dicat dan lemari dapur butuh digosok, saya tahu bahwa nasib novel saya berada di ujung jurang apabila saya tidak segera menyelesaikannya. Dia akan menjadi naskah yang tak akan terselesaikan. 

Tetapi, tidak seperti teman saya yang sekarang sepenuhnya beralih profesi menjadi penjahit, saya kok ya tidak ingin benar- benar menggantungkan hidup dari menulis ya? At least not for now. Saya menikmati menuliskan apa yang ingin saya tulis, and now and then dapat duit dari kegiatan ini. Dan saya berniat sedikit menseriusinya (bahasa apa pula ini) sehingga tidak lagi dua artikel per enam bulan. Tetapi, sepenuhnya menjadi penulis, dikejar deadline 12 artikel per bulan demi menghidupi uap dapur, apakah akan sepenuhnya menyenangkan? Terkadang, hobi juga bisa berubah memuakkan kalau dilakukan atas dasar kewajiban mencari uang. Mungkin ini yang dirasakan para musisi yang memutuskan untuk ber-indie karir daripada bergabung dengan major label.

Ahahahai, kenapa saya jadi melantur kesana kemari yak... Ngaku deh itu karena saya tidak punya ide apa- apa untuk ditulis di sini. Otak saya terlalu tumpul dan berkarat. But I really longing for next year, saat dimana hopefully, fingers cross, saya akan mempunyai sedikit waktu untuk mengelus si laptop. Doakan rencana mengelus eh membujuk pak direktur agar saya diijinkan hanya bekerja tiga hari berhasil.

Ohya, here's a little bit raw draft tentang my beloved young doctor yang sedang bertugas di pedalaman kalimantan sana. 

Baru berhasil menyuapkan tiga sendok nasi ke mulutnya, Rendy mendengar suara ribut- ribut dari arah depan puskesmas. Sambil menyeka mulutnya, ia beranjak keluar dari ruangannya untuk melihat ada keributan apa. Serombongan orang tampak menggotong seorang wanita paruh baya yang terbaring di atas tikar. Dengan segera Rendy memerintahkan agar si pasien dibaringkan di atas tempat tidur poli. Dengan sigap Rendy segera mengambil stetoskop dan mulai memeriksa pasien. “Pasien mengorok. GCS 1-2-1. Pupil mata anisokor.” 

Rendy memeriksa tekanan darah pasien. 239/110. “Kalah deh voltase listrik,” gumamnya sambil bersiul perlahan. “Jelas ini stroke, curiganya intracerebral haemorrhage karena perdarahan otak,” kata Rendy kepada Dokter Ari yang berdiri disampingnya."   

“Ibu sudah pernah terkena stroke sebelum ini dok, sekitar dua tahun lalu,” kata seorang wanita berusia tiga puluh tahunan yang rupanya adalah anak si pasien. “Ibu juga punya darah tinggi tapi nggak pernah mau diajak periksa ke puskesmas,” tambahnya lagi. 

Tak lama berselang, si ibu tidak mengorok lagi, melainkan henti nafas. Dengan segera Rendy melakukan manuver Jaw Thrust, mengangkat rahang pasien untuk membebaskan jalan nafasnya. Karena kesadaran pasien terus menurun, seluruh lidahnya jatuh ke belakang dan menyumbat kerongkongannya. Bulir- bulir keringat mulai menghiasi dahi Rendy. Manuver jaw thrust sungguh melelahkan. Bayangkan saja, menahan rahang agar terus keatas. Di rumah sakit bear, terdapat alat yang khusus dipergunakan untuk menahan rahang yang kolaps, tetapi di pueskesmas di pedalaman ini, terpaksalah Rendy menahan secara manual dengan kedua tangannya.

“Dok, kami memutuskan supaya Ibu dibawa ke rumah sakit,” kata Ibu Jumiyah kearah Rendy yang sedang menahan rahang pasien. 

“Oke, saya yang akan mengantar,” kata Rendy. 

Akhirnya diputuskan Rendy yang akan mengantar pasien ke rumah sakit dengan didampingi Pak Mulana yang akan menyetir ambulans. “Dari keluarga pasien dua orang saja yang ikut ya,” ujar Rendy. “Nggak cukup ambulansnya kalau semua mau ikut.”

Sambil rahang pasien terus dipegang oleh Rendy, si ibu segera didorong menuju ke ambulans yang sudah diparkir tepat di pintu depan puskesmas. Pak Mulyana sudah bersiaga di belakang kemudi. Mas Aris dan tiga orang keluarga pasien dengan berhati- hati menaikkan pasien ke dalam ambulans. Dua orang anak si ibu ikut serta di dalam ambulans. Pintu ambulans ditutup, dan ambulans melaju diiringi tatapan sendu dari keluarga pasien. Baru saja ambulans berjalan sejauh lima ratus meter, kembali si ibu mengalami henti nafas. “Pak, berhenti dulu Pak!” perintah Rendy pada Pak Mulyana. 

“Pak pegang seperti ini ya, tahan rahang ibu,” perintah Rendy lagi pada anak laki- laki si ibu yang ikut menemani di dalam ambulans. Segera Rendy memompa jantung si ibu dan meniup dengan ambu bag. Lima menit kemudian, si ibu kembali bernafas. Sambil mengusap peluh, Rendy berkata “Ayo jalan lagi Pak Mulyana!”  

Kira- kira tiga kilometer dari puskesmas, kembali si ibu mengalami henti nafas. Kembali ambulans berhenti. Jalan yang berlubang dan tidak rata serta fasilitas ambulans yang kurang layak membuat kegiatan memompa jantung tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan kondisi ambulans berjalan. Lima menit berlalu. Belum ada tanda- tanda pasien mulai bernafas. Sepuluh menit. Rendy memeriksa pupil mata pasien. “Masih belum midirasis, belum melebar,” pikir Rendy, pertanda pasien masih hidup.

Keringat membasahi baju seragam Rendy yang berwarna cokelat tua. Nafasnya tersengal- sengal dan wajahnya merah padam. “Duh Gusti, aku capek banget. Nggak kuat lagi ini….” pikir Rendy sambil menghela nafas dan mengusap dahinya dengan lengan kemejanya.  

Akhirnya si ibu kembali bernafas. Dengan suara lusuh Rendy berkata “Ayo Pak, jalan!" 

Pak Mulyana menggerakkan tongkat persneling, bersiap menjalankan ambulans. “Ya ampun, henti nafas lagi,” desah Rendy sambil kembali memompa jantung sang pasien. 

Beberapa menit berlalu. Bagian dalam ambulans dipenuhi suara nafas Rendy yang menderu ditingkahi isak tangis kedua anak si ibu. Sampai akhirnya Bu Jumiyah, berteriak dengan histeris dan tersedu- sedu menangis “Sudah Pak!!!! Berhenti Pak Dokter!!!! Jangan dipompa lagi Ibu, biar ibu meninggal dengan tenang… Ya Allah Ya Robbi,” jeritnya. 

Dengan lemas Rendy menghentikan gerakannya dan merosot terduduk di lantai ambulans. Kedua anak si ibu saling berpelukan, menangis tersedu- sedu dan kemudian memeluk tubuh ibunya. Rendy membuka pintu ambulans, melangkah keluar dan menghirup nafas dalam- dalam. Ditengadahkannya kepalanya dan disekanya wajahnya yang basah. Pak Mulyana ikut keluar dari mobil ambulans dan menjajari Rendy. “Minum Dok,” ujarnya sambil menyorongkan sebotol air putih.

Rendy mengambil botol yang disorongkan ke arahnya dan tanpa berkata- kata meneguk habis air di botol. Keduanya menatap kearah mobil ambulans yang masih dipenuhi isak tangis. Setelah beberapa saat, Rendy berjalan kembali ke arah ambulans dan berkata “Saya ikut berduka yang sedalam- dalamnya ya Bu, Pak.”

Malam harinya, Rendy memijat- mijat lengannya yang terasa pegal dengan balsam. “Gila, berasa kayak fitness tujuh jam nonstop,” gumamnya sambil mengoleskan lagi balsam ke lengannya.   

Jam sembilan malam, blackberrynya berdering. “Oh no, jangan bilang ada orang lain yang sekarat,” dengus Rendy dengan ekspresi pasrah.

“Halo Dokter Rendy?” terdengar suara Mas Aris, perawatnya di puskesmas.

“Ya Mas, ada apa?” jawab Rendy.

“Oh, saya hanya mau memberi tahu Dok, baru saja Nenek Pixie meninggal. Tadi jam delapan malam,” ujar Mas Aris. Nenek Pixie adalah seorang pasien yang mengalami alergi obat, yang membuatnya harus mendapatkan perawatan albumin yang mahal. Karena ketiadaan dana, terpaksalah si nenek dirawat seadanya di rumah.

“Oh, ikut berduka… Makasih ya Mas sudah memberitahu saya. Dikubur malam ini nenek?” tanya Rendy lagi.

Saat memutus telepon, rasa bersalah menyengat hati Rendy. Tadi secara otomatis, ia merasa lega bahwa Mas Aris menyampaikan berita tentang kematian seseorang, bukannya ada pasien sekarat yang membutuhkan pertolongannya. Sungguh malam ini ia tidak ingin keluar rumah. Kedua lengannya kaku dan bengkak tak bisa digerakkan, sekujur tubuhnya seperti habis digebukin orang sekampung.  

“Tuhan, tolong untuk malam ini saja, jangan kirim orang sekarat ke tempat saya,” pintanya sebelum membaringkan diri di atas kasur udara bermotif Spongebob yang mulai mengempis. “Aku capek sekali Tuhan. Tolong biarkan aku istirahat semalam ini saja…”

Memompa jantung pasien terus menerus jelas menguras tenaga. Tetapi yang lebih membuat Rendy merasa lelah dan terkuras adalah menyaksikan selama empat bulan ini bagaimana kondisi medis yang seharusnya masih bisa tertolong, tetapi karena sikap abai ataupun keterbatasan dana, menjadi kasus tak tertolong. Betapa nyawa manusia lebih murah daripada serum tetanus seharga Rp. 50.000,-. Betapa ambulans yang lebih mirip kotak sabun tanpa ketiadaan alat penunjang membuat si ambulans mengantarkan pasien ke liang kubur, bukannya rumah sakit. Menyaksikan itu semua tanpa bisa melakukan apa- apa sungguh membuat frustasi. 

“Apa kumatikan saja ya blackberryku,” pikir Rendy. “Semalam ini saja, toh aku nggak ada kewajiban juga kok selalu online. Emangnya dokter on call 24/7?”

Tetapi setelah menimbang- nimbang sejenak, ia mengurungkan niatnya. Hati kecilnya tidak tega melakukannya. “Semalam ini saja Tuhan…” bisik Rendy sambil memejamkan mata.  

Semesta rupanya mendengarkan doa Rendy. Malam itu ia tidak terbangun sama sekali. Tidur nyenyak seperti orang mati. Bahkan suara pak tokek yang biasanya selalu membangunkannya setiap pukul tiga pagi tidak didengarnya.

Monday 26 August 2013

My Monday Note -- Hujan Batu di Negeri Sendiri Masih Lebih Enak Dari Hujan Emas Di Negeri Orang

"I'm moving back to Indonesia. For good." kata seorang teman melalui telepon.
"Why? Why why why?" tanya saya.
"Yah, after long consideration and lots of thought sih," jawabnya.

Karena kebetulan pada saat itu saya sedang bekerja, jadi perbincangan tidak bisa dilanjutkan panjang dan lebar. But then I reckoned that many people I know memutuskan hal serupa. Sudah tiga tahun tinggal disini dan akhirnya mendapatkan Permanent Resident, kok ya kemudian memutuskan untuk kembali saja ke Indonesia? Why?

Kenapa sampai harus heran saat seseorang yang sudah mempunyai Permanent Resident (PR) Australia misalnya kemudian memutuskan untuk pulang kampung ke Indonesia, melepaskan status Permanent Residentnya? Ilustrasinya begini. Demi penghematan, Okhi selalu memotong rambutnya di tukang cukur pinggir jalan alias tukang cukur kelas teri xD. Nah, sembari menunggu giliran dicukur atau sembari dicukur rambutnya, ia mendengarkan obrolan orang disekitarnya. Selalu dan selalu pembicaraan para imigran ini terkait dengan perjuangan mereka untuk mendapatkan PR. Ada yang sudah tinggal di Melbourne selama sepuluh tahun, mengajukan permohonan PR berkali-kali, dan lagi dan lagi permohonannya ditolak. Ada mahasiswa yang selepas kuliah dan belum mendapat PR, kemudian terpaksa mendaftar untuk ikut kursus ini itu supaya diperbolehkan tinggal di Australia, sembari mencoba lagi melamar PR. Dan saat orang tahu bahwa si Okhi mendapat PR tanpa dia harus sekolah dulu di Australia dan kami cukup mendaftar dari Jakarta (jadi kami tidak merasakan luntang- lantung terlunta- lunta hanya demi mendapatkan PR), maka setengah tidak percaya mereka akan berkomentar "You are so lucky! I've been applying for years without success!!!!"

Mendapatkan visa PR seolah seperti mendapatkan kunci pembuka sukses. Kamu akan bisa hidup di Australia, merasakan berbagai fasilitas dan kenyamanan hidup, pendidikan dan kesehatan yang terjamin bagi anakmu. Kamu akan serupa dengan warga negara Australia, hanya kagak boleh ikut pemilu (siapa juga yang tertarik ikut pemilu). Dan untuk mendapatkan status PR itu tidak mudah ataupun murah. Berliku dan makan biaya. Jadi kalau PR itu sesuatu yang didambakan, sesuatu yang akan memberikan garansi kehidupan yang nyaman dan bermasa depan, kenapa banyak juga orang yang kemudian memutuskan untuk pulang kampung sajalah ke Indonesia???

Saya jadi tertarik untuk mengintip ke artikel dan blog yang ditulis orang lain. Apa ya yang ada di pikiran mereka? Entah itu tulisan yang dibuat seseorang yang memutuskan untuk pulang atau yang memutuskan bertahan dalam perantauannya. Blog pertama yang saya baca ditulis seorang pria yang meskipun sudah mendapat tiket menuju 'tangga kesuksesan' di Australia, kemudian memutuskan untuk pulang karena ia yakin masih banyak yang bisa diperbuatnya bagi bangsa dan negara. "Negara tercinta masih membutuhkan saya.", demikian alasannya.

Walau tentu saya menghargai semangat heroiknya, saya tidak bisa merasakan keterikatan dengan alasannya. Too rhetoric for my liking :P. Awas aja kalau terakhir- terakhirnya kerja di Jakarta :P. Di blog lain, saya menemukan seorang yang memutuskan bertahan untuk tetap menetap di Eropah dan bercerita bahwa iya memang hidup di Eropah (pake H) itu berat, nggak ada pembantu, makanannya aneh dan beraneka kendala hidup di negara asing lainnya. Tapi dia memutuskan untuk bertahan. Menurutnya "Ya masalahnya tergantung tingkat kemanjaan masing- masing orang. Kalau kamu termasuk orang manja yang nggak bisa hidup tanpa pembantu, ya kamu bakal pingin pulang aja ke Indonesia. Kalau aku sih memutuskan bertahan."

Saya terkekeh dan berniat menunjukkan artikel tersebut ke teman saya yang memutuskan untuk mudik tadi. "Oh, jadi elu itu termasuk orang manja yang butuh pembantu untuk nyebokin elu ya... xD"

Anyway, sebetulnya saya pernah (dan masih) mempertanyakan keputusan untuk menetap di Australia ini. Saya juga pernah (dan masih) berpikir untuk kembali sajalah ke Indonesia. Kenapa? Hm, butuh merenung juga saya untuk menemukan kenapa sih saya masih dan masih ingin kembali ke Indonesia? Dan lucunya perasaan itu menguat justru setelah saya bekerja full time di rumah sakit, menjadi asisten apoteker (saya dulu seorang apoteker di Indonesia, walau kagak pernah menyentuh resep sama sekali. Apoteker abal- abal :D).

Setelah saya berusaha merenung apa sih alasan mendasar saya masih memikirkan untuk pulkam saja, saya menemukan bahwa hal tersebut karena perasaan I don't belong. I don't belong here..... I don't belong dengan jenis pekerjaan saya, I don't belong dengan teman- temannya, I don't belong dengan bahasanya. I just don't belong. Setiap makan siang, saya berkumpul dengan sesama asisten lainnya. Don't get me wrong, bukannya saya bermaksud merendahkan, tetapi I just don't belong. Seorang asisten tertarik dengan supir perusahaan ekspedisi yang tiap siang mengantar obat ke rumah sakit. Saya tidak bisa berbagi ketertarikan itu. Saya tidak serta merta secara otomatis akan tertarik melihat si sopir kiyut dengan tato di sekujur lengannya dan rambut cepaknya. Tetapi saya terpikat saat seorang apoteker senior menerangkan tentang program hormon dengan gaya yang oh-so-smart.

Bukan, bukan saya tidak akan sudi menikahi si sopir misalnya. Saya membayangkan tetangga sebelah rumah saya yang tukang bikin kebun. Apakah saya bisa tertarik padanya? Bisa banget. Karena saya kenal dia dan menemukan bahwa dia sangat menyenangkan, santai dan baik hati. Tapi saya tidak bisa berkata bahwa melihat dia mengangkut adukan semen membuat hati saya berdesir. Topik yang dianggap menarik oleh teman- teman asisten saya, saya tidak tertarik.

Tetapi runyamnya, saya juga tidak bisa masuk dalam golongan para apoteker. Saya tidak paham dengan apa sih yang mereka omongkan? Saya tidak familiar dengan bahasan- bahasan mereka. Ditambah lagi sepintar- pintarnya saya berbahasa Inggris, saya itu terbiasa dengan Inggris gaya Amerika. Memahami gaya Australia ini sungguh membuat perut melilit.

Sejak dulu saya sadar, saya bukanlah orang yang cekatan dan terampil. Oleh karena itu saya tidak bakal sukses kerja di bagian Quality Control di pabrik farmasi yang harus berurusan dengan berbagai peralatan tetek bengek kecil- kecil misalnya. Sialnya, disini ya satu- satunya jenis pekerjaan yang bisa saya jangkau adalah level technician. Yang berarti harus cekatan dengan tangan mereka. Saya sering memandang para apoteker klinis yang sibuk membaca aneka jurnal, membuat paper dan mempresentasikannya. Dan itulah jenis pekerjaan yang I belong. Bukan menghitung kapsul. Sumprit jari- jari saya ini sebengkak jemarinya kudanil :(.

Sebagai manusia yang dikarunia sifat tidak pandai bergaul, no matter how I really want to mingle with the locals, I just can't. I just don't belong.

Dan perasaan I belong ini yang dulu saya rasakan di Indonesia. I belong to my own kind. To the kind of job I'm good at. Lalu apa yang membuat saya memutuskan untuk bertahan sampai saat ini? Karena pertimbangan what matter most for me. Serafim. Dengan gayanya si Serafim, sampai saat ini saya berpendapat bahwa model pendidikan di Australia adalah yang lebih sesuai baginya. Dengan tinggal disini pun, meskipun kami tidak bisa seberfoya- foya di Indonesia yang masih memungkinkan untuk makan di restoran tiap saat dan beli cemilan di Indomaret, tapi kami akan mampu membiayai Serafim untuk bersekolah dimanapun dia mau. Setinggi apapun dia mau. Keahlian Okhi sebagai programmer dihargai tinggi disini, sementara di Indonesia tidak.

Kemudian, saat saya berkesempatan untuk berbincang panjang lebar dengan si teman yang memutuskan untuk mudik, saya menemukan alasannya adalah sama persis dengan alasan saya. Hanya berkebalikan. Alasannya adalah anaknya. Baginya, pendidikan di Indonesia lebih sesuai dibandingkan pendidikan di Australia yang hanya diajari menyanyi menari haha hihi dansa dansi. Dan sementara pendapatan kami disini lebih memadai daripada di Indonesia, teman saya yang seorang dokter itu sebetulnya berpeluang untuk hidup lebih berada bila dia tinggal di Indonesia. Dokter gitu lho. Apalagi kalau spesialis. Dibandingkan dengan disini dimana dia bekerja banting tulang dan masih saja harus menyewakan salah satu kamar di apartemen sewaannya demi menekan pengeluaran. Dengan menjadi dokter di Indonesia, dia akan sanggup membiayai anaknya besekolah dimanapun.

Tentu tentu, ada pertimbangan tambahan semacam kesulitan hidup jauh dari sanak keluarga. Kalau kondisi lagi baik- baik saja sih memang tidak masalah. Tetapi saat Serafim sakit sementara emak bapaknya ahrus bekerja misalnya, atau emaknya sakit parah sementara si balita harus tetap diurus, itu benar- benar menyesakkan jiwa raga. Atau ya itu tadi nggak ada pembantu yang bisa membantu saya. Apalagi kalau si Okhi juga kuliah seperti sekarang. Atau juga kenikmatan di Australia dimana kehidupan berjalan aman nyaman tentram karta raharja. Dengan rumah- rumah yang luas dan asri. Tetapi semua pertimbangan itu saya yakin hanyalah tambahan. What matter the most for your life, itulah yang akan menentukan keputusan seorang imigran untuk tetap bertahan atau balik badan pulang kampung.

Ah... a toddler... Semua keputusan selalu tergantung si toddler cilik, isn't it? Apapun untuk mereka...

Tersenyum walau dikepang pake selotip ama tante santi

Bangga jadi kucing
     


      






Monday 12 August 2013

My Monday Note : Thanks to you, dear writers....

Saya tidak sering- sering amat mengucap syukur. Tidak seperti adik saya yang selalu berdoa sebelum makan, saya amat sangat jarang melakukannya. Mungkin kalau saya sehabis tersesat di gurun Gobi selama dua minggu, baru saya akan mengucap syukur saat melihat segelas es teler di hadapan saya. Tidak seperti suami saya yang terbiasa berdiam sejenak saat bangun pagi untuk berdoa bagi hari baru yang membentang, saya selalu terbangun dengan gerutuan, karena menyeret tubuh dari atas tempat tidur adalah siksaan terberat bagi seorang pemalas seperti saya. Tetapi satu hal tidak pernah membuat saya lupa untuk berucap "I thank God because of you."

Saat pulang ke Indonesia kemarin (sepenuhnya bukan liburan karena hanya satu minggu yang diisi dengan naik pesawat setiap dua hari), saya tidak sempat menyambangi aneka tempat makan yang sudah saya idam- idamkan untuk memenuhi dahaga akan makanan kampung halaman. Saya gagal mengunjungi bu Rudi dan sambal udangnya dan satu- satunya empek- empek yang sempat saya santap hanyalah yang dijual di Carefour saat saya membeli magic jar baru untuk dibawa ke Australia. Rasa empek- empeknya? Lebih mirip lem sagu yang diduduki gajah lima hari lima malam. Tetapi, meskipun gagal mengunjungi restoran ataupun bertemu sahabat- sahabat lama saya, saya toh tetap meluangkan waktu untuk dua kali datang ke Gramedia dan menikmati rak demi rak yang dipenuhi berbagai harta karun yang membuat mata saya lebih berbinar daripada jika melihat gantungan baju di butiknya Oscar Lawalata. 

Kelak kemudian, di dalam bandara LCCT yang sumpek dalam rangka penerbangan kembali ke Melbourne, saya membuka ransel dan mengeluarkan buku bersampul biru kuning dengan gambar seorang pemuda melompat dari atas batang pohon yang sudah meranggas kering. Mungkin melompat ke tengah danau berair jernih atau sungai berlumpur yang dihiasi sekuintal sampah yang mengambang. Novel yang mengisahkan cerita perjalanan dari seorang pemuda ceking ke negeri- negeri nun jauh; dusun di kaki gunung Himalaya, tanah Mongol hingga kota Kabul yang sulit membedakan kata turis dan teroris. 



Menikmati lembar demi lembar novel itu, tentu saya menikmati alun untaian kisah dari negeri antah berantah yang nyaris tidak akan pernah saya datangi dalam kehidupan saya ini. Bukan hanya karena saya tidak punya duit untuk kesana, tetapi lebih karena saya tidak punya setetes pun keinginan untuk mengunjungi pasar di Kabul, dimana hanya sekedar membeli sayur di pasar pun mempunyai peluang besar untuk membuat seseorang pulang tinggal nama. Dan siapa pula orang 'waras' yang akan memilih melakukan perjalanan lintas benua dengan kereta api? Bukan kereta sekelas Argo Bromo, tetapi kereta dimana kaki kotor orang lain bertemu muka dengan wajah kita di tengah udara gurun dengan debu kemerahan beterbangan menyesaki paru- paru. 

Seperti saat membaca majalah perjalanan wisata, novel ini mengajak saya menikmati deskripsi mengenai surga eksotis yang selama ini hanya bisa dikhayalkan. Tetapi, saat engkau beruntung membaca goresan pena seorang anak manusia yang merupakan seorang pejalan sederhana, seorang musafir, engkau juga akan mendapati kisah manusia di balik monumen megah dan alam yang eksotis. Bahwa di kaki gunung di Nepal, trekking menjadi sumber pendapatan terbesar dari pariwisata, meski dibayangi oleh para gerilyawan Maois yang menteror para turis. Bukan dengan bom atau senapan, tetapi sekedar pajak yang tak seberapa tanda dukungan kepada gerakan pembebasan mereka yang mulia. Dan si teroris pun bukannya sosok seram memanggul senapan mitraliur, tetapi seorang pria kecil bersuara lembut yang memalak dengan menambahkan kata "please..." di akhir kalimatnya.

Bahwa kalau engkau ingin melihat jajaran penis dan pantat yang terpampang tanpa malu dan ragu di dunia nyata, stasiun kereta api di pelosok India adalah tempatnya. Saat kereta beranjak, engkau mungkin akan mendapatkan rejeki nomplok melihat deretan penis dengan berbagai bentuk dan ukurannya, yang bergelantungan dan mengucurkan air dengan santai di hadapan ribuan anak manusia yang menyemuti stasiun. 

Dan lebih dari sekedar gambaran tentang penis yang lonjong ataupun bulat, engkau akan mengerti bahwa ada alasan budaya yang melatar belakangi cara seseorang bertindak. Dulu, saat bekerja di perusahaan ekspor impordi Jakarta, satu hal yang paling saya benci adalah bekerja dengan penjual dari Pakistan. Kapan engkau akan mengirim produk itu ke Indonesia? -- Besok pagi, Inshalah! Dua hari kemudian tanpa kabar berita, dengan asumsi si barang sudah dikirim, saya bertanya lagi, "Apakah produk sudah dikirim?" -- Besok pasti, Inshalah! Dan selanjutnya sampai dua minggu kemudian saya kelimpungan mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi pada produk yang sudah saya pesan dan bayar ini. Kesimpulan saya, orang Pakistan adalah penipu dan kalimat Inshalah bagi mereka sama artinya dengan "Kalau ane nggak lupa ye, kalau lupa ya derita ente."       

Dan di Asia Tengah, si penulis novel menemukan bahwa konsep waktu di belahan dunia itu totally completely different. Waktu adalah abadi. Tak perlu kau terburu- buru. Dan memang janji adalah hutang. Tidak seperti di India, tidak ada orang yang akan menipumu di Pakistan, tidak ada penarik rickshaw yang akan sengaja membawamu tersesat. Karena agama melarang mereka menipu. Dan saat engkau adalah seorang tamu, maka mereka akan menyembelih satu- satunya lembu yang mereka punyai untuk mengenyangkanmu sementara mereka bersedia kelaparan. Saat engkau menginap di rumah seorang Pakistan dan uangmu raib (entah siapa yang mengambil), maka diam- diam tuan rumah akan menggantinya lebih banyak. Malu! Aib! Bila tetamu kecurian di rumah mereka. Jadi apakah para Pakistani yang mengartikan besok adalah hari sesudah hari ini (bisa esok hari atau esok lusa atau esok abad) simply adalah seorang penipu atau sekedar mempunyai konsep yang berbeda soal ketepatan waktu? You decide.

Dan saat sepenjuru dunia sibuk berdebat mengenai kesetaraan gender, agama, perdamaian ataupun menumpas Taliban, bagi penduduk lokal Afghanistan masalah terpenting dan satu- satunya yang merasuki benak mereka adalah soal MAKAN. Apa untuk dimakan hari ini? Dimana bisa mendapat makan untuk si bayi yang berusia tujuh bulan tetapi kerut merut wajahnya serupa dengan wajah kakek renta tujuh puluh tahun? Dan negara yang dulunya adalah tanah persinggahan, tanah surgawi persilangan dua kebudayaan, sekarang adalah tanah suram yang bahkan korban bom pun sudah tidak didata lagi namanya. Bayangkan bila ada bom meledakkan sebuah bus di tengah pasar Senen dan menewaskan 35 petugas polisi muda, tentu sepenjuru Jakarta akan terhenyak. Koran- koran nasional akan dihiasi headline dengan berbagai variasi, namun intinya 35 nyawa yang melayang sia- sia itu jelas suatu tragedi nasional. Di Afghanistan? Mendengar suara ledakan bom, penjual sayur tetap meneruskan melayani pelanggannya. Toko dan warung tetap buka seperti biasa. Hanya para jurnalis dan polisi yang kalang kabut menuju tempat ledakan. Dan seorang ayah dengan merenung berucap apakah ia sebaiknya menjadi pelaku bom bunuh diri saja, karena walaupun mati paling tidak ia akan mendapat imbalan sejumlah uang untuk memberi makan anaknya.   

Menutup novel setebal 552 halaman itu, saya berucap "Thank God because of you, dear writer!"

Weekend kemarin,sembari menunggu Sera memilih buku di perpustakaan, saya memutuskan meminjam satu buku tentang kisah seorang pendaki gunung kawakan dari Australia. Ia menceritakan kisahnya mendaki puncak Himalaya.



Sementara bila yang membaca buku itu adalah seorang pecinta alam juga, mungkin yang paling menarik minatnya adalah deskripsi tentang tehnik dan kesulitan memanjat. Tetapi bagi saya yang seumur- umur hanya pernah memanjat Gunung Taliwongso, tentu kesulitan pendakian Himalaya tidak bisa sepenuhnya meresap ke dalam sanubari saya.

Gunung Taliwongso yang biasa saya panjat adalah gundukan berbatu dengan jalan tanah setapak berdebu dan hanya ramai di masa lebaran. Itu adalah gunung terkenal di desa Tlingsing, Klaten, desanya simbah saya (Gunung adalah istilah hiperbola bagi gundukan tanah ini :D). Sementara di sepanjang pendakian menuju puncak Himalaya si penulis harus membangun belasan camp di tengah salju, saya harus melewati belasan warung bakso dan es buah yang menghiasi jalan menuju puncak Taliwongso. Sementara si penulis harus berhati- hati dalam mengambil gambar dari puncak Himalaya karena luas tanah datar yang sangat sempit dan lengah sedikit ia akan terjun bebas menuju kematian instan, saya harus berhati- hati agar dompet saya tidak kecopetan ditengah konser dangdut nan meriah yang digelar di atas puncak 'gunung' taliwongso. Sementara selama perjalanan mendaki Gunung Taliwongso itu yang saya temui adalah bangkai tikus yang setengah terburai ususnya, si pendaki Himalaya menemui tiga tubuh beku para pendaki yang sudah tewas setahun yang lalu. Hawa dingin di atap dunia yang melayang diatas awan membuat mayat- mayat itu terjaga kesegarannya, menjadi semacam mumi penunggu abadi "Dewi Bumi Semesta" (sebutan para sherpa bagi si puncak Himalaya). 

Anda bertanya kenapa mayat- mayat pendaki ini tidak dibawa turun dari puncak Himalaya? Mungkin jawaban filosofis akan  pertanyaan itu adalah "Adakah kuburan yang lebih baik bagi para pecinta gunung ini selain di puncak tertinggi yang selalu menjadi mimpi mereka?" Jawaban yang lebih logis namun kurang romantis tentu saja karena tidak ada cara untuk membawa sesosok mayat turun. Semua pendaki gunung berpengalaman tahu bahwa naik ke puncak gunung adalah bagian yang lebih mudah daripada menuruninya.

Si penulis buku menceritakan mengenai Sir Edmund Hillary, pendaki pertama yang menjejakkan kaki di puncak Himalaya dan Tenzing Sherpa. Ia menuliskan bahwa sesudah keberhasilannya, Sir Hillary terus dan terus datang ke Himalaya. Bukan untuk mendakinya lagi, tetapi untuk menancapkan paku pada dinding kayu bangunan sekolah yang ia sumbangkan bagi anak- anak para sherpa. Para sherpa adalah penduduk termiskin dari negara termiskin. Si Sir berkeliling dunia mengumpulkan dana sumbangan dan ia mewujudkan rasa terima kasih pada sherpa yang membantunya dnegan membangun sarana lapangan terbang dan sekolah bagi mereka. 

Sebelumnya, dalam novel Titik Nol, saya membaca bahwa saat mencapai puncak Himalaya, si Sir Hillary meluapkan perasaannya dengan berteriak "Saya berhasil menaklukkan si Bastard!" dan kemudian mengencinginya. Membuat saya menganggap sosok si Sir serupa dengan anjing kurap yang menandai daerah teritorinya dengan pipis crit crit crit. Sementara itu, si sherpa dengan khusuk bersujud dan mengucapkan sembah pada "Dewi Semesta Alam yang Agung".

Di buku petualangan yang baru saya baca, saya menemukan bahwa si Sir bukannya berhati bajingan. Ia berhati mulia tetapi dengan kepongahan ala Columbus yang menganggap semua bentang alam adalah lawan yang harus ditundukkan. 

Bukannya si bule habis ikut nyoblos pemilu di 10 TPS, tetapi beginilah penampakan jari- jari yang terkena frosbite gara- gara mendaki si Dewi Semesta Alam

Sebelum membaca buku petualangan si Australia ini, saya tahu sherpa adalah semacam porter untuk melayani dan membantu para pendaki mencapi puncak. Sekarang, saya tahu bahwa sherpa berarti orang sher dan mereka semua miskin semiskin- miskinnya orang. Dan toh mereka adalah orang- orang paling berbahagia di dunia. Si penulis menuturkan bahwa ia menemukan kunci kebahagiaan mereka adalah pada keyakinan Budha yang mereka anut. Sekarang saya tahu bahwa kalau saya ingin bahagia, maka pilihannya dua; menganut ajaran Budha atau menang lotere 30 juta dolar. Saya belum bisa memutuskan yang mana yang hendak saya ikuti. 

Penulis- penulis terbaik membagikan perasaan hati dan kehidupan mereka dengan jujur. Mereka membuka dunia bagi para pembacanya. Tidak perlu bersusah payah menggurui atau membenarkan pandangan mereka. Mereka membiarkan imaji pembaca mengembara, membuka jendela pengetahuan baru. Dan tidak selalu novel based on true story atau yang bermuatan filosofis. Banyak pula para penulis yang menawaran kisah ringan, syahdu tanpa mengharu biru. Tarian Bumi adalah novel yang membuat saya terguguk tanpa harus menangis. Novel ini meraih penghargaan penulisan sastra dan saat membacanya saya mengakui bahwa ini adalah salah satu karya penulisan terbaik yang pernah saya baca. Tetapi lucunya, saya hanya bisa membaca novel ini sekali, sementara saya bisa berulang kali membaca novel berisi kisah cinta seorang pemuda alim yang sedang menuntut ilmu di negeri nun jauh dan abrakadabra ternyata karena takdir kok ya ndilalah menikah dengan seorang gadis jutawan Jerman cantik jelita berkakhlak mulia. Hadiah perkawinan bagi si pemuda? Kartu ATM berisi jutaan dolar (Cinderella versi Mesir, eh?).

Bahwa kisah si cinderella jantan Mesir ini jauh lebih terkenal dan difilmkan dengan laris dibanding si Tarian Bumi yang mendapat anugerah penulisan sastra terbaik, hal itu membuktikan bahwa semua orang berhak mempunyai seleranya masing- masing akan jenis tulisan yang membuat mereka bahagia. Karena memang akan lebih mudah bahagia membaca tulisan yang mengaduk- aduk emosi dan berakhir bahagia walau sedikit absurd daripada menikmati tulisan yang tidak jauh beda daripada realita kehidupan nyata. Di Tarian Bumi, si tokoh utama yang seorang gadis bangsawan menikahi pria idaman  (yang membuatnya diusir dari puri) dan hidup miskin tapi bahagia. Bahagia dong? Hehe, not really. Beberapa saat kemudian, si pria meninggal mendadak, meninggalkan si gadis bangsawan dalam kemiskinan dan kepapaan hidup bersama anak semata wayang mereka. Dan sampai akhir novel, tetap saja si gadis tidak bertemu pria yang eh kok ya ndilalah anaknya Aburizal Bakrie yang mempunyai rumah selebar waduk Lapindo. Novel yang menyebalkan bagi pemburu kebahagiaan instan ala Cinderella seperti saya ^^. Bring back si Cinderella Mesir again please....  


Wahai Agustinus Wibowo, Oka Rukmini, Frances Hodgson, I thank God because of you.....

Saya sih bukannya sedang membuat resensi buku, hanya sedang mengucap terima kasih bagi anugerah yang diberikan kehidupan pada saya; para penulis luar biasa yang karyanya membuat hidup saya lebih berwarna.  

Note: dari hasil mengamat- amati berbagai novel di Gramedia, tampaknya yang menjadi tren sekarang adalah novel bernuansa religi atau yang bernafas luar negeri. Mengejar pelangi di Antartika, bertasbih di kota New York, sepenggal hati di Palermo, senja di Alexandria dan aneka judul nan syahdu lainnya. Mengikuti tren ini, novel yang akan saya tulis akan berjudul "Terengah- engah Membayar hutang KPR di Melbourne" -- based on true story       

“The person, be it gentleman or lady, who has not pleasure in a good novel, must be intolerably stupid.” 
― Jane Austen

Monday 22 July 2013

MyMondayNote-- Please Be Patient

Please be patient with me... Saya sedang jadi budak belian berkantor di basement tanpa akses internet. Please be kind dan mulailah menyumbang ke rekening yang tertera di bawah note, gerakan pengumpulan koin untuk Mega. Save Mega dari perbudakan agar bisa menulis lagi :(

#Next week yak man teman... Hiks... # Basement ini membunuhku

Monday 8 July 2013

My Monday Note -- A Mom, Something or Nothing?

"Mum, when did you decide you didn't want to be anything?" 

Pertanyaan itu menjadi kalimat pembuka dari artikel di majalah yang saya baca di perpustakaan, sembari menunggui si Seratun yang sedang asyik berpura- pura membaca buku. Note: Sera justru tidak pernah membaca buku di perpustakaan, dia terlalu sibuk mencoba aneka bantal bola dan karpet abjad. Hanya karena emaknya selalu mengajak pulang setiap Sera tampak tidak sedang membaca, jadi now and then dia harus pura-pura membaca (walau bola matanya tetap terarah ke si karpet norak penuh huruf dan angka).

So funny question yang dilontarkan anak laki- laki yang berusia lima tahun kearah ibunya dalam perjalanan pulang dari sekolah. Lucu karena sejauh ini yang pernah saya baca adalah cerita 'penggugah semangat' saat suatu hari seorang anak pulang dari sekolah dan menyerahkan karangan yang berjudul "Cita- citaku saat aku dewasa kelak." Dan tentu saja jawaban si anak membuat ibunya mbrebes mili terharu biru, karena ia menuliskan "Aku ingin menjadi Ibu seperti ibuku, yang senantiasa menemaniku di rumah."

Tapi oh tapi, pertanyaan butt hurt semacam ini, yang 'menuduh' bahwa ibunya is not anything, cukup untuk membuat saya memutuskan menulis ulang artikel itu disini. Begini kelanjutan artikel lucu ini.

Tekanan darah saya langsung meningkat dengan pesat. Kami (si ibu dan si anak laki- laki) sebelumnya sudah sering bercakap- cakap mengenai apa yang ingin ia lakukan saat ia dewasa kelak; ilmuwan, tukang pos, pekerja pabrik hingga bintang Rock and Roll. Tetapi kemudian anak saya mengarahkan perenungannya pada diri saya dan dalam sekejap mata saya melihat bagaimanakah diri saya dimata anak saya. Saya adalah semacam 'neutral person', bukan 'something.'

Anak laki- laki saya tahu bahwa ayahnya adalah 'something' karena setiap pagi ayahnya akan berdandan rapi dan kemudian mengejar kereta api di stasiun untuk pergi ke gedung tinggi di tengah kota dimana orang- orang dewasa bekerja di depan komputer. Sementara saya, bermarkas di rumah, memberi makan si bayi, mendorong ayunan di taman, membeli barang, memasak dan membersihkan rumah. 

Saya meneruskan mengemudi sampai kemudian memarkir mobil di depan halaman rumah. Saya kemudian menoleh kearah si sulung dan siap memberikan kuliah mengenai konsep ibu bekerja/ ibu yang tinggal di rumah, sebelum saya kemudian sadar bahwa ia tidak sedang ingin menginterogasi atau menghakimi saya. Sebaliknya, anak saya memberikan saya kesempatan untuk menjelaskan tentang apa sih yang sehari- hari saya kerjakan dan saya juga perlu meyakinkannya bahwa saya adalah 'something.' Saya kemudian menjelaskan bahwa saya sudah memilih untuk memfokuskan diri merawat dia dan dua adiknya, karena masih banyak tugas yang belum bisa dikerjakan ketiganya. Ada banyak hal yang saya ingin mereka pelajari di usia dini, dan saya ingin sayalah yang mengajarkannya ke mereka bertiga. Dan terlepas dari tugas- tugas rutin sehari- hari, saya menikmati menggunakan pemikiran dan kreativitas saya dalam tugas saya sebagai seorang ibu. 

Anak laki- laki saya menatap dengan skeptis. "Saya adalah seorang ibu," saya berkata. "Itu adalah salah satu profesi paling penting yang mengambil seluruh waktu saya saat ini." Anak laki- laki saya mengangguk mengerti.

Saya kemudian berbagi kisah mengenai kehidupan saya sebelum ia dan adik- adiknya lahir. Tampaknya saya menikmati berusaha menjelaskan status 'tanpa identitas' saya saat ini. Saya bercerita bagaimana saya sudah menjelajah penjuru dunia, bekerja di beberapa tempat yang berbeda dan bahkan mendapatkan gelar dari universitas. 

Merasa kagum, anak saya tersenyum dan bertanya "Jadi Mum benar- benar pernah bersekolah ke universitas?" Saya tidak yakin apakah anak saya merasa kagum karena ia tahu apa itu universitas atau karena ia baru menyadari bahwa ibunya pernah juga muda. Apapun alasannya, saya percaya bahwa inilah pertama kalinya anak saya menyadari bahwa ibunya adalah seorang yang berpengetahuan luas, dan bukan hanya seseorang yang terkait dengan kehidupan bayi di rumah. 

"Jadi kau lihat, Ibu tidak pernah memutuskan untuk tidak menjadi 'something', Ibu selalu adalah 'something'', tetapi ada banyak jenis 'something'. Saat ini, Ibu memutuskan untuk menjadi Ibu yang tinggal di rumah bagi kalian, agar bisa menjaga, mengajari dan mencintai kalian."

Saya kemudian juga menjelaskan bahwa akan tiba saatnya anak sulung saya dan adik- adiknya akan tumbuh dan melakukan hal- hal bagi mereka sendiri. Mereka akan bepergian dan menjelajahi dunia yang lebih luas lagi dan belajar dari berbagai orang yang mereka temui. Apabila saat itu tiba, maka job description saya akan berganti, dan saya akan mempunyai target dan tujuan yang lain lagi dalam hidup saya. "Dan tahu nggak, suatu saat kamu akan bisa menambahkan di daftarmu bahwa kamu ingin menjadi seorang ayah, just as Dad did." 

Menutup majalah tersebut, saya tersenyum kecil. Tentu si ibu itu menurut pendapat saya sudah berhasil memberikan tanggapan yang paling bijaksana. Alih- alih dengan berapi- api berusaha menekankan bahwa ibu adalah profesi paling mulia dan merupakan 'pengorbanan' tertinggi dari seorang wanita, ia bisa dengan sederhana menjelaskan bahwa menjadi stay at home mum adalah salah satu profesi yang bisa dipilih dari profesi- profesi lain yang tersedia. 

Membaca artikel tersebut, membaca tanggapan si ibu saat ia menceritakan pencapaian- pencapaian yang telah ia raih di kehidupan sebelum menyandang status ibu, saya memandang kehidupan saya sendiri dan mengucap syukur. Apabila misalnya Serafim melontarkan pertanyaan yang serupa dengan si anak laki- laki tadi, saya juga bisa mengatakan hal yang sama. Bahwa saya selalu menjadi 'something'. Dalam setiap fase kehidupannya, emaknya Serafim selalu mempunyai tujuan hidup, selalu mempunyai impian dan bekerja keras demi tujuan dan target tersebut. Emaknya Serafim berjuang untuk meraih pendidikan yang setinggi- tingginya (berlebihan ding, berjuang apanya wong persentase saya nongkrong di kantin lebih tinggi daripada porsi nge-lab saya). 

Sama seperti ibu si anak laki- laki tadi, emaknya Serafim juga sudah pernah bekerja di beberapa bidang yang berbeda, bertemu dengan orang- orang dari berbagai penjuru dunia. Emaknya sudah melanglang ke berbagai tempat. Dan saat kemudian emaknya memutuskan untuk menjadi stay at home mum, hal itu bukan karena emaknya Serafim tidak bisa menjadi 'something' di dunia luar. Bukan karena emaknya tidak punya pengetahuan di luar urusan dapur yang membuat si emak memilih menghabiskan harinya di dapur (again, pengkultusan diri sendiri demi membuat citra diri sebagai ahli kuliner). Bukan karena si emak not good enough atau not brave enough untuk berjibaku di dunia luar yang membuat si emak mundur mengkeret masuk ke dalam cangkang siput yang aman.

Emaknya Serafim sudah melihat dunia luar, ia sudah menapakkan kaki dan berhasil bertahan dalam dunia karir. Dan kemudian saat Serafim lahir, dan kemudian si emak mengambil keputusan untuk meletakkan sejenak fokusnya pada dunia karir dan berganti fokus untuk semaksimal mungkin hadir secara fisik di samping Serafim, itu adalah keputusan untuk mengganti 'something' ke 'something' yang lain. Emaknya Serafim bisa menjadi apa saja, tetapi tentu tidak semua peran bisa dijalankan dalam waktu yang bersamaan. Sampai Serafim berusia tiga tahun, emaknya memutuskan bahwa yang ingin ia lakukan adalah mengejar impiannya untuk menjadi orang pertama dan utama yang mendidik Serafim, mengajarinya untuk senang makan sayur mayur (dan gagal total). Dan itu berarti mengurangi atau bahkan sementara menghilangkan kegiatan berkarir.

Dan tentu saja bahkan saat si Serafim belum berusia genap empat tahunpun, sudah mulai terasa bahwa ia tidak membutuhkan kehadiran fisik emaknya se-intens dulu lagi. Ia sudah membutuhkan berinteraksi dengan teman- temannya dan orang dewasa lain. Yang membuat emaknya sendirian terbengong- bengong di rumah saat ditinggal si Sera ke kinder. Akan tiba saatnya ia bersekolah dari pagi hingga petang, lima hari seminggu. Pada saat itulah saya akan menjadi 'something' yang lain, mengarahkan fokus pada impian yang lain. Menerbitkan novel chick lit mungkin :P. 

Have a blast fruitful life outside motherhood, have a wonderful meaningful motherhood experience, and preparing to pursue other dreams afterwards, that will make life joyful and fulfilled :D 

La la la









Monday 17 June 2013

My Monday Note -- Yang Penting Kerja Halal.....

"Dia kan sarjana, mana mau kerja jadi sales gini. Gengsi lah!"

Kalimat tersebut dilontarkan seorang pemuda lulusan SMK yang saat itu bekerja sebagai salesman pada sebuah perusahaan FMCG multinasional. Sehari- hari, ia berkeliling dengan menggunakan motor bebeknya, mendatangi warung, pasar dan minimarket yang termasuk dalam wilayah kerjanya, menawarkan produk perusahaan semacam detergen, sabun dan pembalut.

Beberapa tahun lalu, saya baru saja bergabung dengan salah satu perusahaan consumer goods sebagai staf marketing. Sebagai staf marketing, nantinya tugas saya adalah duduk manis di depan komputer, mengikuti aneka meeting dan presentasi mengenai strategi pemasaran dan iklan untuk mendongkrak market share produk. Tetapi, sebagai pegawai baru, salah satu materi orientasi saya meliputi 'sehari bersama mas salesman', membonceng motor bebeknya dan mengikut si Mas mampir dan menyapa para pedagang serta keluar masuk lapak- lapak di pasar. Membantunya menata barang dagangan di warung Abah sembari mengobrol mengenai kesebelasan sepakbola jagoan Abah yang baru kalah bertanding. "Bah, pesan sabunnya tambahin ya Bah, biar targetku masuk," rayu si Mas pada Abah.

"Atur deh, tambahin aja selusin- selusin untuk warna ijo sama biru," jawab Abah pemilik warung.

Saat jam makan siang, mas salesman mengajak saya ke warung langganannya. Saat melangkah ke dalam warung, si Mas melihat salah seorang temannya yang ternyata juga sedang makan siang di warung itu. Jadilah kami makan siang bertiga sambil mengobrol. "Ini seragam perusahaan ya?" tanya teman si Mas Salesman sambil menunjuk kemeja yang digunakan oleh saya dan Mas salesman. Kebetulan pada hari itu saya memakai hem bergaris- garis hijau sementara si Mas Salesman memakai baju seragam dengan logo perusahaan yang kok ya kebetulan bermotif sama dengan kemeja saya.

"Wei, biarpun kelihatannya mirip, ya beda. Si Mbak ini nantinya kerja di kantoran, nggak kayak aku muter- muter seharian. Dia juga nggak perlu pakai seragam. Hanya sales yang pake seragam, kalau staf sih enggak. Bebas merdeka!" kata si Mas Salesman menjelaskan kedudukan saya tanpa diminta.

Dalam perjalanan kembali ke kantor, si Mas bercerita bahwa temannya itu sudah enam bulan lebih menganggur, selepas lulus dan menyandang gelar sarjana. "Tiap hari masih keluyuran aja kerjaannya," komentar si Mas.

"Kenapa nggak diajak jadi sales kayak kamu?" usul saya.
"Mana mau, dia kan sarjana. Ya gengsi lah!" jawab si Mas.
"Ya sementara saja, anggap batu loncatan sampai dapat pekerjaan yang sesuai. Lha daripada nganggur?"
"Mana ada sarjana yang mau kerjaan ginian, Mbak. Mending nganggur daripada disuruh keliling- keliling jualan gini," jawab si Mas lagi sambil tertawa.
"Ah, kerjaan apapun kan yang penting halal!" sanggah saya.

Pada detik itu, saya sepenuhnya percaya pada pendapat semua pekerjaan itu baik dan terhormat. Selama pekerjaan itu halal, kenapa harus malu? Yang malu itu kalau nggak punya pekerjaan, pengangguran dan harus terus dibiayai emak bapak yang sudah tua renta. Itu baru malu.

Tetapi tentu saja, selama tinggal di Indonesia, saya selalu mempunyai pekerjaan yang sesuai dengan level pendidikan dan sosial saya. Sebagai seorang sarjana, saya selalu menjadi pekerja kantoran, staf yang punya meja sendiri, kubikel saya sendiri. Saya mengerjakan pekerjaan yang memang sesuai dengan kapasitas otak saya. Bukannya saya menganggap pekerjaan saya di Jakarta dulu bergengsi sih, lha wong gajinya ya segitu- segitu saja, standarnya karyawan lah, tetapi saya juga tidak merasa bahwa pekerjaan itu dibawah 'level' saya. Saya tidak harus malu atau salah tingkah saat seseorang bertanya "Kerja dimana?" atau "Kerja di bagian apa?"

Nah, saat saya kemudian pindah ke Australia, barulah saya bisa merasakan bagaimana sih rasanya mempunyai pekerjaan yang tidak sesuai dengan 'level' saya. Bulan November tahun lalu, saya diterima bekerja untuk menjadi cleaner di satu rumah sakit. Gajinya lumayan lah, 20 dolar per jam. Pekerjaannya juga sebetulnya menyenangkan, nggak dikejar- kejar waktu dan cukup mudah. Dan saya dibiarkan bekerja sendiri, dengan ritme sesuka hati saya. Yang penting kerjaan beres! Yang lebih menyenangkan lagi, rumah sakit tempat saya bekerja ternyata diisi oleh orang- orang yang sebagian besar ramah dan menyenangkan, yang tak segan menyapa dan tersenyum setiap berpapasan dengan saya yang sedang memegang kemoceng.

Tetapi bahkan dengan lingkungan kerja yang se-egaliter itu, dimana para direktur pun menyapa ramah dan profesor senior dengan hangat berkata "Thanks Darling," setelah saya membersihkan meja kerja beliau, tapi tak bisa dipungkiri ada rasa 'kecil hati' yang saya rasakan. Sebagai seorang tukang bersih- bersih, saya merasa menjadi yang terendah dalam piramida karyawan. Sementara para suster berlalu lalang untuk mengurus pasien dan para fisioterapis dengan sabar berjalan dibelakang para simbah, sementara para pegawai administrasi sibuk mengetik di depan komputer mereka dan para eksekutif dalam setelan jas duduk di ruang rapat, tugas saya bukan berhubungan dengan perawaan pasien atau strategi rumah sakit agar bisa bertahan dalam masa- masa peotongan budget.Tugas saya berhubungan dengan mengosongkan tempat sampah di bawah meja, merapikan meja dan kursi serta mengoperasikan alat untuk mengepel. Aduh, penting sekali ya, vital sekali peran saya... # ya memangnya penting sih, kalau dua hari saja tempat sampah nggak dikosongkan kan ya berabe. Tetapi disaat orang- orang lain sibuk dengan misi pentingnya menyelamatkan dunia, saya sibuk dengan misi saya menyelamatkan toilet dari sindrom 'kehabisan tisyu toilet', kondisi medis sangat genting yang membuat korbannya menggeram kesal. Jadi ya, pekerjaan saya juga sangat penting!!!

Saat makan siang di ruangan, seorang cleaner senior yang berasal dari Fiji dan bermulut cablak dengan blak- blakan bercerita bahwa di awal- awal menjadi cleaner di sebuah nursing home, ia melihat saudaranya datang ke nursing home tersebut untuk menengok seseorang. "Aku langsung lari ngibrit meninggalkan trolley ku, pokoknya jangan sampai kelihatan saudaraku itu. Waduh, bisa hilang muka aku kalau sampai ketahuan jadi tukang bersih- bersih!"  

Seorang cleaner yang lain, orang lokal Australia dengan sedikit heran bertanya "Emangnya di Fiji nggak ada cleaner?" Mungkin dia heran kok sampai segitunya malu hati kalau ketahuan jadi cleaner.

Si Fiji menjelaskan bahwa di Fiji ya tukang bersih- bersih itu benar- benar orang- orang yang miskin, yang sudah tua dan tidak berpendidikan. Nah, jadinya saya berpikir juga. Selama ini saya merasa cukup ringan menjadi cleaner ya karena saya tinggal di negara asing. Tidak ada kenalan, teman atau saudara yang akan kebetulan melintas saat saya sibuk mengelap jendela. Jadi sejauh ini saya hanya merasa kecil hati karena merasa job desc saya itu paling tidak penting semata. Sekarang bagaimana kalau misalnya saya menjadi cleaner di satu mall di Surabaya? Dan setiap menit harus was- was bahwa ada teman kuliah atau sepupu saya yang sedang makan di food court dan sayalah yang bertugas membersihkan meja mereka?

Dan sekarang saya tidak senaif dulu lagi yang dengan gagah perkasa berkata bahwa kerja apa saja itu terhormat selama halal!!!! Nope, ada masalah harga diri dan gengsi yang memang tidak mungkin dinafikkan.

Seperti yang saya tuliskan, menjadi cleaner di negara asing itu lebih mudah karena tidak ada seorangpun yang tahu kapasitas asli saya. Semua orang berpikir saya adalah imigran dari negara antah berantah yang memang tidak punya pilihan lain selain menjaid cleaner. Supervisor saya tahu bahwa saya adalah seorang farmasis dan dia berkata suatu hari nanti saya harus menjelaskan kenapa seorang farmasis mau- maunya menjadi cleaner. Tapi he kept the information for himself. Masalah timbul saat saya menjalani placement di rumah sakit lain yang ternyata satu grup dengan rumah sakit tempat saya menjadi cleaner. Salah satu pharmacy technician di rumah sakit itu ternyata juga menjadi technician di rumah sakit saya, dan dia bercerita ke salah satu cleaner bahwa saya adalah farmasis yang sekarang sedang menjalani placement di tempatnya.

Dan saudara- saudara, saat saya sendiri tidak merasa bermasalah menjalani profesi maha rendah yang jauh di bawah kapabilitas saya, ternyata orang- orang di sekitarlah yang 'tidak siap' dengan keputusan saya itu. Saya mulai menerima komentar yang bagi saya terasa sangat menyebalkan. "You'll do the pharmacy today right?" Dan kemudian dilanjutkan "A pharmacist do the pharmacy." 

Tadinya saya enggan untuk berhenti menjadi cleaner, maunya tetap saja sehari bekerja menjadi cleaner sementara hari lain kerja di farmasi, tetapi mendengar komentar itu tekad saya langsung membulat untuk meninggalkan pekerjaan ini. Walaupun saya sangat menyukainya karena bersih- bersih itu memberi saya ketenangan, sementara bekerja di farmasi itu dikejar- kejar dan tidak bisa santai.  

Itu yang saya rasakan di tempat kerja. Di lingkungan sosial lain lagi. Kalau di lingkungan orang Indonesia sebetulnya justru tidak terlalu bermasalah, karena teman- teman saya kebanyakan adalah mahasiswa yang juga sama- sama terbiasa bekerja apapun asal bayarannya dolar. Dan ya maklum saja kalau ada yang menjadi tukang cuci di dapur atau buka tutup toko atau loper koran. KArena ya itu memang pekerjaan yang terbuka bagi para mahasiswa yang bukan penduduk tetap. Toh pas nanti balik ke Indonesia, uang sekedar menjadi loper koran sudah bisa untuk membeli mobil.  

Tetapi lingkungan sosial saya yang berhubungan dengan orang lokal sini, itu lain perkara. Saya tinggal di suburb yang cukup bagus, saya memasukkan Sera ke kelas- kelas bermain yang berbayar, childcare Sera terletak di daerah mahal. Aktivitas itu adalah aktivitas yang biasanya dijalani anak- anak yang orang tuanya seorang profesional. Temannya Sera di kelas musik bukan orang kaya raya, tetapi jelas tidak ada yang ibunya berprofesi sebagai cleaner. Karena kalau ibunya seorang cleaner, ya kemungkinan besar bapaknya juga berlevel technician. Dan bila kedua orang tuanya adalah technician, kecil kemungkinannya mereka akan membeli rumah di suburb saya sekarang ini dan memasukkan anak- anaknya ke kelas- kelas itu. Karena bagi para cleaner, menghabiskan uang 20 dolar untuk kelas satu jam balita tiga tahun jelas pemborosan. Sementara saya, karena latar belakang saya adalah seorang profesional berpendidikan tinggi, ditambah saya adalah orang Asia, cara berpikir saya tentu berbeda. Kelas semahal apapun itu, selama Sera suka, be it! Walau itu berarti bisa dihitung berapa sering kami makan diluar atau membeli baju.

Jadi, memang agak berat untuk mengakui bahwa saat ini saya adalah seorang cleaner misalnya, saat teman- teman Sera di childcare memiliki orang tua seorang dokter atau agen real estate atau guru. Saya harus mengakui bahwa saya agak tertolong dengan fakta bahwa saya bisa berkata "Saya sekarang menjadi cleaner sembari mengambil sertifikat." Jadi saya bisa mencari 'pembenaran' bahwa wajarlah saya menjadi cleaner, karena saya masih sekolah, jadi sekedar kerja sambilan, bukan profesi saya yang permanen.

Nah, mulai minggu depan saya akan mempunyai pekerjaan baru sebagai seorang pharmacy technician. Sebetulnya dari segi pendapatan sih nggak sebegitunya berbeda dari menjadi cleaner, hanya beda 3 dolar per jam, dan sama- sama sekelas blue collar sebetulnya. Tetapi, gengsinya berbeda. Masuk akal bagi saya yang seorang farmasis dari negara lain untuk menjadi asisten farmasi disini, karena untuk diakui sebagai farmasis saya harus mengikuti banyak tes (yang saya malas melakukannya). Saat ditanya dimana tempat kerja saya, saya bisa berkata saya bekerja di rumah sakit A di bagian farmasinya, dengan tugas untuk dispensing resep. Sounds nice eh? Dibanding saat saya harus berkata saya adalah seorang cleaner yang tugasnya mengosongkan tempat sampah.

Kalau saya sudah membuktikan sendiri bahwa idiom kerja apapun yang penting halal itu tidak semudah kedengarannya, lalu apakah sekarang saya setuju dengan si mas yang lebih baik menganggur daripada bekerja yang di bawah levelnya? Absolutely not. Walau sekarang saya bisa memahami rasa gengsi dan malu hati yang mungkin harus kita rasakan saat menjadi sarjana yang jadi tukang bersih- bersih misalnya, tetapi kenyataan hidup mengajarkan bahwa bagaimanapun juga tukang bersih- bersih menghasilkan uang, sementara pengangguran menengadahkan tangan minta uang. Dan yang lebih penting, pekerjaan seremeh apapun itu bisa menjadi pembuka jalan untuk masa depan yang lebih baik, sementara keluyuran luntang lantung atau mendekam di rumah tidak. Sejak awal saya bersemangat dalam bekerja dan menjadi cleaner yang berdedikasi. Saya tidak bekerja berdasar "Yang penting melakukan minimal effort tapi nggak dimarahin." Saya bekerja dengan code of conduct saya sendiri, puas bila saya merasa sudah melakukan yang terbaik. Dan beberapa kali pipi saya memerah saat seorang staf berkata "I love the way yo cleaning. Nobody ever clean the desk before" atau seorang bapak tua yang menjadi relawan disitu sambil mendorong seorang pasien di kursi roda berkata ke pasiennya "This little girl always works so hard. She's all over the place!"

Dan saat seseorang melakukan hal yang terbaik dan bersungguh- sungguh dalam pekerjaannya, semesta akan membukakan jalan. Semesta campur tangan mengatur agar saya menjalani magang di rumah sakit yang merupakan satu grup dengan rumah sakit tempat saya menjadi cleaner. Semesta mengatur agar pada saat ini seorang technician sedang cuti hamil selama setahun. Dan meskipun saat ini adalah saat yang paling suram karena semua rumah sakit cutting budget dan bahkan teman saya yang lain ditolak untuk sekedar menyerahkan CV nya di tempatnya magang, tanpa babibu saya diterima bekerja di rumah sakit tempat saya magang. Bahkan sebelum saya lulus.

Saya beruntung? Sangat. Tapi coba bayangkan kalau pada saat saya menjadi cleaner kemudian saya bekerja ogah- ogahan karena toh itu hanya pekerjaan sementara dan pekerjaan itu terlalu rendah bagi saya, dan kemudian rumah sakit magang saya ingin mempekerjakan saya. Karena berada dalam satu grup, direktur farmasi bisa saja menelpon manager saya untuk bertanya tentang etos kerja saya. Apa nggak mampus kalau kemudian manager saya berkata bahwa saya adalah cleaner paling malas yang pernah dikenalnya, yang selalu datang terlambat?

Kitalah dirigen untuk orkestra jalan hidup kita sendiri.