Monday 28 January 2013

My Monday Note -- Mengejar Pria Bule? Emangnya Mereka Ayam Lepas....

Suatu malam di tahun 2006. Saya menaiki bus bandara jurusan Gambir dari terminal 1A Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tahun itu adalah tahun kedua saya bekerja di Jakarta. Hanya sendirian di Jakarta sementara semua keluarga berada di Surabaya, dengan gaji yang masih sepenuhnya untuk bersenang- senang, jadilah setiap dua minggu sekali saya selalu mudik ke Surabaya. Sampai- sampai, salah satu petugas check-in Air Asia berkomentar bahwa nama saya terdengar familiar sekali di telinganya. Bahkan, saya mempunyai sopir taksi blue bird langganan untuk dibooking setiap jam empat subuh mengantarkan saya ke bandara. 

Malam itu, setelah meletakkan bokong saya di kursi bis, saya meraih novel Eragon yang merupakan oleh- oleh dari si Okhi yang habis saja menjalankan dinas pertamanya ke luar negeri (oh no, my husband is like a DPR douchebag). Seorang pria kaukasia paruh baya tersenyum ke arah saya dan duduk di kursi  di samping saya. Setelah sekilas membalas senyumnya, saya kembali menekuni novel di hadapan saya. Setengah perjalanan, si pria membuka percakapan "Your book is in English and you're reading it very fast."

"Well, it's not in Arabic..." jawab saya sambil mengangkat bahu. 

Dan ternyata saya mendapatkan teman seperjalanan yang hobi ngobrol. Sambil menghela nafas saya memasukkan si novel ke dalam tas dan meladeni si bapak (membaca adalah salah satu senjata andalan saya untuk bersikap anti sosial dalam perjalanan). Setelah bercakap- cakap beberapa lama, saya tahu bahwa ia berasal dari Jerman, ke Jakarta dalam rangka bertemu seorang teman lamanya sebelum nantinya terbang ke Bali. "So typical," gumam saya dalam hati. Selalu Bali. 

"Are you Malaysian?" tanyanya lagi. 
"Nope," jawab saya sambil menggerutu (emangnye logat gue Mak Cik Pak Cik ape?)  
"O... It's so unusual to meet Indonesian who can speak English," jawabnya sambil tersenyum malu.
"Yeah, cause we're still banging each other heads with coconut," jawab saya sambil memutar bola mata.

Cerita punya cerita, si bapak mengeluarkan kertas bertuliskan alamat hotel tempat dia akan menginap dan bertanya enaknya dia naik apa ya ke hotel itu. Saya melirik alamatnya, dekat sekali dengan stasiun Gambir. "Kamu gak bakal mendapat taksi yang mau mengantar kalau sedekat itu," kata saya. "Aku ke arah Sunter, kita searah, kamu ikut aja deh sama taksiku."     

Jadilah kami berdua masuk ke arah taksi yang sudah antri menunggu di stasiun gambir. Saya serahkan kertas alamat ke sopir taksi sambil menerangkan bahwa tolong nih bapak diantar dulu kesitu lalu lanjut ke daerah sunter. Si sopir menatap saya dengan pandangan aneh. Lalu di jalan, mulailah si sopir bertanya "Kenalan dimana mbak sama dia?" Ya saya ceritakan saja sekilas tentang pertemuan kami, sambil berpikir ni sopir bawel juga yak.

Sesampainya di alamat tadi, lha kok bentuknya si hotel berasa kayak rumah kos- kosan saja ya? Jangan- jangan salah alamat nih. Jadilah karena merasa bertanggung jawab (lha kan saya yang nawarin si bapak ini ngikut saya) saya turun dan bertanya ke seorang yang berada di situ. Eh ternyata benar itu alamat yang dituju. "Oh well, siapa bilang semua orang Eropa itu kaya," pikir saya dalam hati.    

Dan lagi- lagi saya menerima tatapan aneh dari si petugas."Lho embaknya nggak nginep juga disini?" tanya si petugas.

"Lha ngapain, wong rumah saya di Sunter," jawab saya heran. Rugi amat menginap di kandang perkutut semacam itu. Saya padahal tadi sudah menjelaskan juga ke si petugas bahwa saya ini ceritanya berbagi taksi sama si bapak.

Pokoknya saya mendapat kesan bahwa baik si sopir dan petugas ini menyangsikan cerita saya yang hanya sekedar mengantar si bule sebelum kemudian kembali ke rumah saya sendiri. Tetapi pada saat itu saya sih berpikir mereka sulit percaya karena ya masak sih ada cewek ceking berani menawarkan ke seorang pria asing untuk menumpang di taksinya kalau sebelumnya tidak kenal? Call me naive, tapi saya saat itu tidak terpikir untuk takut pada si bapak karena dia kan alien, sementara Jakarta itu kota saya. Berani macam- macam, saya getok kepalanya. Plus saya yakin dia pasti orang baik karena dia ternyata penggemar novel dan mengenal Jack Higgins serta Alistair McLean (oh yeah, what a strong evidence, Vincentia! You're a truly genius @_@).

Saya ingat satu pertanyaan si sopir yang membuat saya mengerutkan dahi dengan heran "Besok ke penginapan situ lagi nggak Mbak? Ada janji nggak sama si bule?

"Emangnya saya pemandu wisata? Kalau bapak mau menawarkan jasa mengantar si bule ya bilang saja sama dia langsung," jawab saya sambil memutar mata. Doh, what a weird night! Padahal bulenya sendiri hanya dengan santai menjabat tangan saya dan berucap terima kasih.

Dan sekarang, setelah tinggal di Australia selama dua tahun, berinteraksi dengan para penduduk sini dan orang Indonesia lain yang tinggal di sini, serta baru saja membaca status seorang pria Indonesia yang menetap di Belanda, saya baru paham kenapa saya menerima tatapan aneh di malam itu.

Ini tulisan status seorang pria Indonesia yang sekarang sedang bekerja dan menetap di Belanda

Sindrom inferioritas orang Indonesia terhadap bule memang sudah akut dan perlu segera diberantas karena memalukan dan merugikan sekaligus.

Betapa banyak di kota-kota Indonesia bule-bule diperlakukan layaknya raja dan gadis-gadis begitu tergila-gila sampai taraf menjijikkan kalau bertemu bule, bahkan banyak bule merasakannya dan juga banyak yang tidak suka. Dan saya kadang trenyuh melihat stigma negatif murahan yang diatributkan terhadap wanita Indonesia.

Mempunyai suami bule adalah semacam kebanggaan setingkat masuk surga buat gadis-gadis ini dan banyak yang menjadi sengak dan sombong hanya karena bersuamikan bule. Bahkan banyak yang mendapatkan bule buangan, bule asal-asalan, siapapun mau dijadikan suami asal bule. Dan lebih parahnya, sindrom ini juga diderita oleh yang dianggap berpendidikan.

Bujubune, macak cih yang dituduhkan si pria Indonesia ini benar adanya? Suatu sore, saya berbincang dengan seorang pria Australia paruh baya. Ni om- om baik hati sih orangnya, tapi mulutnya memang comel. Dia dengan bangga berkata "Kalau aku ke Jogja, cewek- cewek pada rebutan mau kencan sama aku. Bahkan pernah lagi makan malam sama satu cewek, dan kemudian ada dua cewek lain yang berusaha melirik- lirik dan tersenyum. Pokoknya, aku tu laris manis kalau lagi di Indonesia. Padahal disini nggak laku, hahaha."

Memerah muka saya. Dan lalu seorang tukang antar barang, yang gajinya paling hanya sepertiga gaji si Okhi, saat mengantar bed saya berkata "Oh, aku selalu ke Indonesia kalau mencari cewek. Gampang. Murah. Entar duit habis baru balik lagi ke sini. Cewek Indonesia sih gampang, asal ada dolar beres. Kamu kenapa nggak bisnis mendatangkan cewek Indonesia saja kesini? Menguntungkan pasti..."

Jancukan! Jangkrik! Matamu!

Dan ya, saya juga sudah merasakan bagaimana berkumpul dengan beberapa istri bule, yang menurut rangkuman pendapat "Lebih bule daripada bulenya sendiri." Yang berjalan dengan aura "I'm sexy and I know it, tralalalala." Dan ya, saya pernah membaca status temannya si Okhi yang saling bertukar info dimana bisa menggaet para pria bule itu. "Kemarin aku kenalan sama cowok dari Belanda. Kayaknya seleramu deh cyn... Eike kenalin yah?"

Apa benar ada sindrom inferioritas dari bangsa kita, sehingga seolah sekedar berpasangan dengan seorang bule itu berasa naik tingkat? Mungkin juga ya. Bagi para cewek pathetic yang membuat saya harus memerah padam mendengar pelecehan para pria asing terhadap wanita sebangsa saya. Seperti saat saya mendengar kisah pertengkaran dua orang cewek gara- gara cemburu karena pacar bulenya digoda wanita yang satunya lagi. Bollywood mah lewat deh!

Tetapi, tampaknya bukan hanya para pengejar bule ini yang terkena sindrom inferioritas. Seorang teman bercerita saat ia yang memang kebetulan berambut merah dan berkulit tanned sedang membuat SIM di kantor polisi. Kelupaan membawa duit, maka ia berkata dengan logat ala Cinta Laura "Adyuh, shaya lyupa bawa uang... Should I ask my mom?" #teman saya ini orang Indonesia asli, kagak ada darah bule atau aljazairnya.

Dan pak polisi pun dengan gelagapan berkata "Oh eh, nggak usah dik, nggak papa." #padahal itu biaya administrasi wajib.

Seorang teman bercerita bahwa saat seorang bule datang ke perusahaannya, langsung semua pekerja di situ mengiyakan apapun komentar si bule dan tampak segan padanya. Padahal si bule ini kan ya tidak tahu dengan detil kondisi di lapangan, harusnya tuh diajak diskusi dan berdialog, bukannya langsung semua manggut- manggut bak kucing mabuk pindang.

Dan entah sudah berapa kali juga saya mendengar sesama orang Indonesia yang melontarkan pernyataan semacam "Nanti Sera nikah sama bule saja, biar anaknya cakep- cakep." What the heck? Kalau nggak ingat memukul orang itu bisa masuk penjara, saya gampar tuh orang pake baskom. Emangnya anak saya bukan yang paling cakep sejagad raya apa, sampai harus kawin dengan orang bule untuk memperbaiki keturunan?

Saya memang pernah merasa terganggu dengan fenomena para wanita menyebalkan yang merasa dirinya menjelma menjadi setengah bidadari hanya karena berhasil menggaet seorang pria kaukasia (walau yang digaet juga jauh bener bentuknya dari Brad Pitt). Tetapi, yang paling kasihan dengan banyaknya para pemburu bule ini adalah mereka- mereka yang kebetulan memang jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan seorang pria kaukasia. Mereka yang menikah atas dasar memang kebetulan takdir menentukan dia jatuh cinta pada seorang bule.

Seorang teman bercerita bahwa setiap dia berlibur ke Bali bersama suaminya yang orang Australia, semua mata memandang seolah ia adalah seorang pelacur. Padahal teman saya itu dokter yang sudah bergelar master. Dia bertemu suaminya di universitas saat sama-sama menuntut ilmu, bukannya di pojokan gang senggol. Seorang teman yang lain bercerita bahwa ia awalnya enggan saat seorang bule mengajaknya berpacaran. "Lu tahu sendiri kan Meg, kelakuan cewek- cewek yang punya gandengan bule? Norak amit! Bikin eneg! Lha masak sekarang gue yang jadi harus dikira serupa sama mereka?"

Itulah stereotype. Mentang- mentang aura para istri bule itu dianggap norak, langsung saja orang  menganggap semua wanita yang bersuamikan pria kaukasia ini sebagai wanita kampung pengejar bule. Padahal tentu saja banyak dari mereka adalah wanita yang jauh lebih terhormat dan sukses dalam karir dibanding saya dan anda yang kebetulan bersuamikan pria Indonesia. Saya ikut sebal juga mendengar kisah mereka yang sering dianggap cewek murahan atau dikerjain petugas rumah sakit dan bandara. Sama seperti stereotype bahwa orang Asia itu tidak gape menyetir.

Tetapi, terkadang saya juga merasa bahwa terkadang permasalahan itu terletak di matakita sendiri,bukannya pada si objek. Saya pernah mendengar orang berkomentar mengejek seorang cewek yang menggandeng bule dan si cewek ini memakai baju kuning ngejreng dengan sepatu boot pendek yang menurut si komentator "Nggak cocok banget. Nggak sadar apa, kulit item kayak salak begitu kok pake baju ngejreng."

Lah, memangnya ada aturannya begitu bahwa hanya orang berkulit terang yang boleh pakai baju berwarna ngejreng? Kalau saya harus menunggu berkulit putih dulu sebelum dianggap pantas memakai baju shocking pink, ya sampai dibungkus kain kafan juga kagak bakal kesampaian lah! Terkadang, setelah menikah dengan pria asing, atau seperti kasus saya yang tinggal di negara lain, gaya berpakaian dan dandanan memang bisa berubah. Perubahan gaya inilah yang kemudian dituduh sebagai sok bule, padahal hanya karena si pengamatnya saja yang sirik tanda bukan juwita.

Nggak tahu juga ya dengan para perempuan lain, tapi kalau saya, saat ini saya 'merayakan' kebebasan bahwa selama saya tidak mengganggu orang, maka orang lain juga tidak akan resek mengomentari saya. Bahwa saya bisa memakai baju apapun dan aksesoris apapun tanpa harus merasa rikuh atau sungkan bahwa akan ada orang yang akan memandang sinis atau bersuit- suit. Tidak selalu berarti rok yang lebih pendek atau malah bikini misalnya, tetapi sekedar memakai sepatu boot di Jakarta bisa membuat orang memandang saya dengan tatapan "Sok artis sih, tampang kayak pembantu gitu." Sementara disini? You can wear anything you like tanpa ada yang bakalan sok merasa sebagai fashion police. And that my friend, is a damn good feeling. Kesadaran bahwa tidak ada orang yang berhak untuk melayangkan pandangan tidak setuju saat saya memutuskan memakai kacamata hitam atau baju berkilau di atas kulit gelap saya. Membayari tagihan listrik saya saja kagak, kenapa situ merasa berhak menentukan warna baju apa yang pantas saya kenakan?      

Omong- omong, kalau saja saya belum menikah dengan si Okhi, apakah lalu saya akan menjadi istri seorang pria bule? Bisa jadi. Bagi saya, pria bule dengan wanita Asia itu pasangan yang win- win solution, bisa saling menguntungkan. Pria bule relatif lebih menghargai perempuan sebagai partner yang setara karena kultur mereka dan juga lebih romantis, sementara wanita Asia lebih 'memanjakan' dan manut terhadap suaminya. Dan tentu saja, dengan badan kecil, rambut hitam dan kulit sawo matang saya, saya akan tampak cukup menarik di mata para pria kaukasia. Terkadang, menyedihkan juga rasanya bahwa rambut hitam dan kulit gelap saya tampak menarik di mata pria asing, sementara para pria sebangsa setanah air justru mendambakan istri berkulit putih dan memuja mereka yang berhidung mancung dan berwajah bak wanita kaukasia. Inferioritas juga dialami kaum pria Indonesia saya rasa......

Oh ya, seorang pria pernah melontarkan teori bahwa wanita Indonesia lebih menyukai pria barat karena ukuran alat kelamin mereka. Well the truth is, in my opinion,

Ukuran alat kelamin seorang pria di mata wanita = ukuran otak seorang wanita di mata pria

selama kagak kecil- kecil amat, tidak termasuk kategori mikro, size doesn't that matter.

Note: tapi tetap sih saya termehek-mehek saat melihat berita seorang artis Indonesia sukses yang menikah dengan seorang bule Melbourne, dan saat melihat wajah si bule, saya dan Okhi sepakat bahwa  dia adalah jenis bule homeless pengangguran tukang mabuk tanpa harapan masa depan yang banyak berkeliaran di kota ini. Oh well, cinta itu kan buta...Tidak semua artis tertarik terhadap pria bule yang sukses seperti suaminya si Maudy. Dan saya yakin si bule Melben ini punya, eh, kelebihan tersembunyi lainnya....#mungkin dia sebetulnya si spiderman?


Kalau sesuai bentuk wajah, ya saya sih cocoknya pakai kacamata kuda...

Emang hanya LittleMissy Yang Boleh Pakai Payung Renda :D

         

Monday 21 January 2013

My Monday Note -- Road Trip Sovereign Hill - Canberra

Pagi hari di Rabu yang cerah. Semua bangun dari tidurnya. Rencana untuk hari Rabu ini adalah seharian memuaskan diri berwisata di museum terbuka yang berbentuk replika kota tua di jaman demam emas tahun 1800an dahulu. Kalau melihat di brosurnya sih tentu saja menarik, tetapi seorang teman pernah berkomentar bahwa ya begitu- begitu sajalah, jalanannya berdebu dan panas. Saya penasaran juga ingin tahu, sebagus apa sih si Sovereign Hill yang terletak di Ballarat ini?

Karena sehabis dari museum kami berencana langsung cabut ke Canberra, maka pagi ini juga niatnya sekalian check-out. "Jam berapa ya kita harus check- out?" tanya adik saya sambil bersantai- santai membuka facebook di hape. "Nggak tahu ya, paling- paling juga jam 12an," jawab saya sambil membalik- balik buklet hotel.

Di satu halaman, mata saya tertumbuk pada paragraf bertuliskan Check out information. Disitu tertulis bahwa kami harus check-out paling lambat jam 10 pagi. Watefuk?!!! "Oi rek, kita harus check- out jam 10 lho ternyata!" seru saya sembari melambai- lambaikan si buklet.

Semua orang membeku dalam posisinya masing- masing. Dan tiga detik kemudian semua dengan panik berjumpalitan. "Jam berapa ini?" tanya emak saya. "Setengah sembilan," jawab saya sembari melirik jam di hape. "Tenang, masih banyak waktu, hehehe."

Tetapi tentu saja waktu kami sempit. Maka dengan bergegas kami berbagi tugas. Ada yang segera ke kamar mandi, menggosok gigi dan memercikkan air ke muka agar tampak sedikit lebih segar. Koper- koper masih terbuka dan isinya berhamburan. Makanan untuk bekal belum di-pack. Saya segera bergegas menyelesaikan isu terpenting bagi seorang wanita.
"Aku bagusnya pakai kaos yang mana ya, biar cocok sama rokku?"
"Kamu mau pake rok yang mana?" jawab adik saya.
"Yang bunga- bunga biru. Mana ya rok itu?" tanya saya sembari mulai membongkar- bongkar koper. "Nggak ada e, apa aku lupa bawa ya?" tanya saya lagi dengan bingung.

Kemudian terdengar suara tertawa geli dan kami menoleh ke arah sumber suara.

Si pencuri rok emak

Menangkap si pencuri yang berusaha kabur

Eniwei, dengan sedikit keajaiban, jam sepuluh kurang seperempat kami sudah berhasil mengemasi semua perbekalan, sudah sikat gigi dan mencuci muka dan siap untuk check out. Saya dan Okhi menuju ke kantor administrasi untuk mengembalikan kunci. Petugasnya, seorang wanita pirang, dengan ramah menerima kunci kami dan menjelaskan tentang Sovereign Hill. "Ok, have fun and have a nice day," kata si petugas. Nggak pakai acara mengecek dulu kamar kami untuk melihat apakah ada handuk atau keset yang dicuri para tamu :P.

"Thank you and merry Christmas," jawab Okhi sambil tersenyum.

Tertegun sejenak, si petugas buru- buru menjawab salam kami dan kemudian dengan nada berbisik berkata "Yang datang kesini kebanyakan turis asing dan kami tidak tahu mana yang merayakan natal dan mana yang tidak. Jadi untuk amannya kami tidak mengucapkan selamat natal."

"How about saying happy holiday then?" jawab saya.

"Aaa, good idea indeed! That's easier!" jawab si petugas sambil tersenyum.

Wokeh, sesuai petunjuk ibu petugas, kami beranjak menuju ke Gold Museum yang terletak di seberang Sovereign Hill. Tiketnya sudah termasuk satu paket dengan tiket Sovereign Hill. Museumnya biasa saja sih, tapi lumayanlah kalau hanya sekedar untuk berfoto.

Di museum emas, dan ini yang ditemukan si Okhi @_@



Biji emas, semacam inilah bentuknya

Dan tentu saja, di balik kisah glamor berbagai logam mulia dan berlian, selalu tersimpan kerja keras, kondisi kerja yang berat dan.... pekerja anak- anak....

Di bawah tanah dengan ditopang tiang- tiang begini......


Next time you wear your precious gold necklace, remember their face, hihihi


It was a teenager face

Penjelajahan museum kira- kira membutuhkan waktu paling lama sekitar satu jam lah. Sehabis itu, kami beranjak memasuki yang namanya Sovereign Hill. Menyerahkan tiket masuk, saya melihat bahwa sekeliling saya dipenuhi orang- orang bertampang... Cina, Korea dan India. Tehehehe, benar juga kata si petugas, isinya turis asing semua, kagak ada bulenya XD.

Jadi, garis besarnya, Sovereign Hill adalah semacam replika dari kota di jaman demam emas di tahun 1800an. Memasuki kompleks kota, saya jadi teringat gambaran Laura Ingals di Little House In a Prairie. Jalanan berdebu selebar kurang lebih lima meter, diapit deretan bangunan- bangunan yang mengingatkan pada film koboi di televisi.


Peta kompleks kota 

Sewaktu menulis tentang jalanan berdebu yang diapit deretan bangunan kuno, saya mencari- cari foto di folder Ballarat yang berisi ratusan foto, berusaha mencari satu saja foto yang bisa memberi gambaran tentang tempat yang saya ceritakan ini. Sayangnya, semua foto dikotori oleh penampakan orang- orangan sawah narsis yang memaksa berada di setiap frame. Note to you: kalau bepergian, masing- masing pihak wajib membawa kameranya masing- masing, karena sementara anda tertarik untuk mengabadikan keelokan tempat yang didatangi, ada beberapa manusia yang yah, memberi arti baru bagi istilah jatuh cinta pada pantulan bayangannya sendiri

Bayangkan kondisinya tanpa dua disturbing images di bagian tengah foto

Bangunan bengkel pandai besi #dengan dua lalat yang kebetulan melintas

Tetapi di kota koboi yang mendebarkan hati, bukan gadis cantik bergaun mekar atau koboi gagah yang menarik minat suami saya yang jantan dan perkasa.

"Could I have one sausage roll, please?"
Langsung jadi yang pertama antri di toko kue  yang berdesain kuno

Tetapi tentu harganya mengikuti currency yang berlaku saat ini di jaman modern...
Manusia memang suka berlaku seenaknya.... 

"Lumayan juga nih museum, serius membuat replikanya," pikir saya sambil mengamati bagian dalam sebuah bangunan berjudul kantor pos. Kemudian, di depan saya berlenggang sepasang manusia yang membuat saya mengarahkan kamera dan menjepretkannya.

Sepasang manusia dengan baju ala Laura Ingals melintas

Dan kemudian, semakin banyak makhluk- makhluk sejenis bermunculan. Ohoho, ternyata mereka adalah para figuran yang memang sengaja diadakan untuk menambah kesan original. Mereka berseliweran, masuk keluar toko, saling menyapa dan menggoda (orang ostrali sudah genit semenjak dulu) dan ternyata oh ternyata, sama sekali tidak keberatan dihentikan sejenak untuk diajak berfoto.



Beberapa bangunan adalah toko yang benar- benar menjual barang aneh2 (dengan harga yang lebih 'aneh') dengan penjual berbusana baheula

Si lady sibuk mondar- mandir, toh dengan ramah berhenti dan berpose saat kita minta

Um, is it only me atau anda juga tiba- tiba merasakan kebencian tak beralasan pada motif pelangi bergaris- garis? I wonder why....


Oya, salah satu atraksi populer tentu saja mendulang emas di sungai yang dengar- dengar beritanya diguyur butiran- butiran kecil biji emas oleh pengelolanya untuk membuat wisatawan bahagia merasa menemukan sisa- sisa emas.

Kalau ada yang penasaran akan perasaan seekor kerbau saat membajak sawah.... 

Saya ngapain dong? Jadi kuli panggul bagi Sera yang pingin melihat domba butut yang sedang pipis dan eek 

Jadi, bagaimana kesimpulannya akan si kota koboi ini? Oke banget, terutama kalau anda orang yang suka narsis berfoto atau yang senang dengan sejarah dan kehidupan di masa lampau. Untuk anak kecil juga cukup oke. Hanya, karena jaraknya cukup jauh dari Melben dan harga tiket masuknya lumayan menguras kantong dan air mata, maka saran saya adalah datanglah pagi- pagi, jam 10 saat mereka mulai buka. Semakin siang, pengunjungnya ramai beud. Jadi bikin galau, ini mengunjungi kota koboi atau sedang antri pembagian BLT. Yang kedua, jangan ragu untuk mengajak berpose semua orang yang berkostum jadul. Mereka memang digaji untuk itu, jadi bertanyalah saja dengan sopan "Would you mind taking a picture with me?" #saya sih nggak tertarik, soalnya cinta saya hanya pada Okhi seorang.....

Oya, karena lokasinya yang terbuka dengan jalan- jalannya yang berpasir, memang ini obyek wisata yang skala kenikmatannya sangat tergantung cuaca. Bila cuaca terlalu panas, dingin atau berangin kencang, alamat pening kepala. Masalahnya, Victoria adalah negeri empat musim dalam satu hari, jadi bila anda pengunjung dari Indonesia dengan waktu berkunjung yang terbatas, pasrah saja dan banyak berdoa, huehehehe. Siapkan koyo cabe sajalah.

Jam tiga siang, puas menjelajah dan tampaknya si Sera sudah mulai mengantuk, segeralah kami bergegas. Tujuan selanjutnya: tujuh jam perjalanan ke Canberra. Canberra itu adalah ibukota Australia, kota buatan yang terletak di antara Sydney dan Melbourne. Kota ini didirikan sebagai bentuk kompromi, gara- gara Sydney dan Melbourne bersaing sengit memperebutkan titel ibu kota hingga siap saling bacok.

Pemandangan sepanjang jalan adalah bentangan padang rumput maha luas dengan bukit dan lembah yang dihiasi bintik- bintik hitam para sapi yang sedang merumput.
"Kok pagarnya pendek semua gitu ya, apa nggak lompat sapinya?" tanya adik saya.
"Kalau sapi sini itu punya sopan santun, nggak suka nerabas pagar kayak sapi di kampungnya Simbah," jawab saya yakin.
"Itu semua pagarnya dialiri listrik..." kata Okhi kalem.
"Oooooo..."

Perjalanan mulai jam tiga sore hingga jam sebelas malam membuat saya bisa menikmati pemandangan mulai dari siang masih benderang, matahari mulai terbenam hingga keremangan malam menjelang.


Pemandangan standar di Victoria dan Australian Capital Teritorry

Menjelang matahari terbenam

When sun has gone to bed

Apapun cuacanya, Sera tak pernah mati gaya

Ohya, kalau anda berjalan- jalan ke daerah sekitaran Melbourne, biasanya akan banyak papan bertuliskan hati- hati binatang liar melintas atau nomer telepon yang bisa dihubungi bila kita melihat wombat cedera atau tertabrak mobil kita. Sejauh ini, yang pernah saya lihat tergeletak dalam kondisi tak bernyawa adalah possum dan wombat (sebesar anjing lah). Giliran jalan antar kota antar provinsi, kangguru berbagai ukuran, ibu dan anak, rubah dan aneka hewan lainnya banyak menghiasi pinggir jalan tol.

Mungkin ada selusin kangguru yang kami lihat dalam perjalanan ke Canberra
Biasanya, hewan- hewan ini melintasi jalan raya saat senja, disaat jarak pandang para pengemudi buruk, ditambah kecepatan yang minimal 100 km/ jam. Yuck. Poor (not so) little things.

Menjelang jam tujuh malam, kami mulai gelisah. Dimana ini restoran???? Dimana ini pom bensin untuk membeli bensin dan pipis? Kemudian kami melihat papan petunjuk yang tampak menjanjikan surga dunia. 15 menit lagi, begitu tertulis di papan itu. Sepuluh menit kemudian, karena ada satu ruas jalan tol yang sedang diperluas, maka papan petunjuk jalan mengarahkan kami memasuki sebuah kota kecil. "Ayo sambil lihat- lihat, ada restoran nggak," kata si Okhi.

Mata mendelik melihat kesana kemari. Banyak restoran dan kafe dan kemudian kami juga menemukan surga dunia yang dijanjikan papan petunjuk. Tapi, semuanya tutup karena sedang masa libur natal. Mampus deh! Tinggal tunggu sebentar lagi, Sera bakal mulai bernyanyi kelaparan.

"Ya sudah deh, pasrah saja..." kata saya dengan lesu. Dan kemudian berkata ke adik saya "Kalau kamu kebelet pipis, nanti kita berhenti di semak- semak. Semoga nggak dibumerang orang Aborigin ya."

Melanjutkan perjalanan dengan lunglai. Dan kemudian, di pinggir jalan ada papan bertuliskan KFC dan pom bensin. Hati mulai lagi bergejolak, tetapi ragu- ragu, takut ditipu lagi dan ternyata bangunan KFC nya sudah dibuldozer. Dan kemudian.... diterangi cahaya surgawi yang dihasilkan puluhan lampu neon, tampaklah pria tertampan di dunia yang membuat mata kami semua berkaca- kaca bahagia.


Seharusnya beliau sudah naik pangkat menjadi Jenderal Besar karena jasanya bagi kemanusiaan

Menggenggam bungkusan besar penuh berisi ayam berbagai jenis dan kentang, serta sebotol besar pepsi (bagian dari paket, padahal kami bukanlah peminum soda), saya berdiskusi serius dengan Okhi. Masalah hidup mati. Apakah mau makan di restoran atau mau makan sambil jalan saja?

Akhirnya, kami memutuskan untuk makan sambil jalan saja, agar si eneng tidak bosan. Oh boy, how good was 3 dollars coffee after 4 long hours beside your husband...

Langsung kembali ceria sesudah disentuh cinta kasih pak kolonel

Jam sebelas malam. Sampailah ke penginapan, sebuah service apartment dimana kita bisa memasak dan mencuci baju. Ya ampun, lega sekali rasanya.... Langsung berebut ingin mandi dan segera merebahkan diri.

Lumayan, ada dapur, kamar mandi, tempat mencuci

Aahh, adakah yang lebih indah daripada pemandangan keluarga yang duduk bersantai di sofa bersama- sama?Banyak....

Pagi harinya, lagi- lagi kami harus langsung check out.Dan lagi- lagi di brosur tertulis check out jam 10. Mungkin memang penginapan di Australia rata- rata mempunyai waktu check out lebih pagi dari Indonesia.

Berkendara membelah Canberra."Buset deh, ni kota nggak bisa lebih sepi lagi gitu?" gumam saya. Semua tampak hening dengan deretan gedung perkantoran. Menarik sekali... bagi pensiunan. Tak heran tetangga sebelah rumah mengernyitkan kening saat saya menyatakan rencana mengunjungi Canberra. "Kamu mau lihat apa disana?" tanyanya.

Berhubung kalau hanya mau lihat gedung- gedung tua, Melbourne lebih yahud, sejak awal saya langusng memutuskan akan menuju ke Cockington Garden, taman miniatur berbagai bangunan di dunia. Setengah bangunannya adalah aneka model bangunan di Inggris sonoh. Yah, namanya juga persemakmurannya Inggris, jadi wajib dong hukumnya menunjukkan dedikasi pada negeri leluhur. Long live the queen!!!

Eh ada Borobudur... Jadi ingat rencana menginap di hotel butik nan mahal di Magelang #ah, semahal- mahalnya ya nggak mahal lah, toh 1 dolar Australia = 10 rebu... #ternyata kursnya si hotel dolar juga, yeah :( USD 350 dolar, tetep wae mahal. Gombal pisan tuh hotel #ekspatriat kere numpang ngedumel 

Oya, membaca brosur taman ini, saya bergairah saat melihat ternyata ada tiruannya Machu Pichu, my long desire dream to go... Mungkin kalau sudah melihat miniaturnya, gairah akan kembali terpacu dan segera mulai menabung.


Yaelah, ternyata tiruannya si Machu Pichu hanya serupa kuburan cina habis digusur.....


Salah satu bangunan gaya Tudor yang banyak juga terdapat di Melben


Persiapan sebelum pertunjukan topeng monyet 


Kalau ada yang mau demo.....

Dari sekian banyak miniatur,apa favoritnya Sera?

Sampai terkantuk- kantuk menunggu si kereta kecil


Here comes the train.....


Penantianku usai sudah....

Toiletnya dibangun oleh pembenci wanita

Oh well, kepala saya sudah pening nih membuat note ini.Maklum, tiba- tiba bos memanggil menyuruh masuk di hari senin.Antara malas kerja tapi kok ya 200 dolar itu bisa untuk belanja satu minggu..... #dilema


Monday 14 January 2013

My Monday Note -- Road Trip (Great Ocean Road- Ballarat)

Rencana heroik: bangun jam empat pagi, bersiap- siap memasak bekal dan by the latest jam tujuh pagi sudah harus berangkat. Mobil sudah harus bergerak menuju ke tujuan pertama dari serangkaian acara road trip yang direncanakan dengan seksama akan memakan waktu sekitar seminggu.

Hari selasa subuh. Jam empat pagi benar- benar semua peserta road trip sudah bangun, segera menuju dapur menyiapkan bekal (dalam rangka pengiritan karena Australia adalah negara yang aje gile mahalnya) dan menata semua barang di koper. Minus si Sera yang sampai detik terakhir dengan damai nungging di kasur, tertidur pulas sambil ngiler.

Meski menginap di hotel, bantal tetap wajib dibawa 
  
Bangun bersamaan dengan mentari terbit itu siksaan...

Bawa balon segala, sekalian ikut karnaval 17an


Dan tentu saja Serafim adalah yang tersibuk....

Jam setengah tujuh pagi, semua orang sudah siap di dalam mobil. "Berangkat!" adik saya berseru dengan penuh semangat. Wah, alamat sukses ini road trip nya! Bayangkan, kami berangkat setengah jam sebelum jadwal! Mobil jumbo sewaan dengan mulus membelah jalan Glen Waverley yang masih lengang. Berhenti di lampu merah, kira- kira sepuluh menit jaraknya dari rumah, dengan iseng saya bertanya ke si Okhi yang duduk di belakang kemudi, "Eh tadi kamu udah matiin pemanas kan?"

Pertanyaan tolol. Okhi pun menjadi galau dan akhirnya mobil kembali diarahkan ke rumah. Saya beranjak turun dari mobil, berniat segera berlari dan memeriksa pemanas dengan kecepatan kilat. "Eh aku jadi pingin pipis lagi," jawab adik saya malu- malu. "Ya udah cepetan!" omel saya dengan sebal. Eh mendengar ada yang mau pipis, suaminya adik saya, si Mario, ikut- ikutan pingin pipis. Melihat om dan tantenya pingin pipis, Sera ikut berteriak minta ke toilet juga. Dari yang tadinya hanya berniat berhenti dua menit sekedar mengecek apakah si pemanas sudah mati, akhirnya kami menghabiskan waktu lima belas menit di dalam rumah. 

Akhirnya, perjalanan berlanjut kembali. Kira- kira berjalan sekitar satu setengah jam, kembali adik saya berkata bahwa dia butuh pipis. "Sumpah deh, kamu tu kayak nenek tua ber-kandung kemih soak. Jangan- jangan kamu  berpenyakit serius dan udah mau mati," komentar saya serius. 

Adik saya menjelaskan bahwa hasrat ingin pipisnya 'berkaitan dengan mental'. Jadi setiap hendak bepergian jauh, otaknya langsung mengolah data bahwa dia harus sesering mungkin pipis, daripada sudah terlanjur kebelet dan tidak bisa menemukan toilet. "Ya sudah nanti kalau lihat pom bensin kita berhenti," dengus saya. "Oke," jawab adik saya riang sambil mulai membuka bekal makanan. 

Tak berselang lama, mobil menjadi hening. Saya mengintip dari kaca spion dalam, dan melihat keempat makhluk di bangku belakang mobil sudah terlelap semua dalam damai. "Tuh ada pom bensin, jadi mau berhenti nggak?" tanya si Okhi. Saya menggelengkan kepala. Mumpung para bawel sedang tidur, marilah kita segera memacu gas dan secepatnya melaju. 

Tujuan pertama kami adalah salah satu jalur road trip paling tersohor di Australia, The Great Ocean Road. Sebetulnya cara paling afdol untuk menikmati jalur ini adalah dengan berhenti di berbagai tempat menarik di sepanjang jalur dan kemudian menginap. Pemandangan matahari terbit atau terbenam di lepas pantainya dengan 12 tiang karang yang diberi nama 12 Apostles (12 Rasul dari kisah 12 rasul Yesus, red) adalah sang jawara. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak menginap plus tidak banyak berhenti di berbagai museum dan tempat menarik yang ada disitu. 

Jam sebelas siang, adik saya menggeliat terbangun dari tidur. "Kita sudah mau sampai belum? Aku sudah laper nih, kapan kita makan siang?" "Bentar lagi sampai kok," jawab Okhi. 

Sambil membuka- buka bekal lagi, adik saya berceloteh "Aku tu paling susah tidur kalau di jalan. Pinginnya sih tidur, tapi susah kalau di mobil atau pesawat."

Saya dan Okhi berpandangan. "Maklum, anak pungut," bisik saya perlahan.

Jam setengah satu siang, sampailah kami ke mercusuar. Sebelum berjalan- jalan menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, marilah menikmati keindahan sambal teri ciptaan simbah gendut yang khusus dibawa sebagai bekal.



Persaingan sengit terjadi karena tidak ada yang mau membawa si magic jar. Menurunkan pamor itu namanya

I hate you. I hate you more. I hate you most. I hate you for eternity.

Tempat ideal untuk foto prewed


Titanic. Versi simpanse

Oh iya, ini mercusuarnya # memang saya ini penulis travelling yang handal 

Do you know if black box is actually orange?

Setelah puas menikmati mercusuar, Okhi mengajak untuk mampir di air terjun sangat indah sekali yang layak masuk tujuh keajaiban dunia

Seindah keran bocor 

Rapat di bawah air terjun #mencari cara supaya harta warisan dibagi segera

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya sampailah kami di 12 Apostles yang tersohor. Bulan Desember adalah musim panas, tetapi tetap saja angin bertiup dengan hebohnya, membuat pening kepala. Bahkan di tengah teriknya matahari dan ributnya ratusan pengunjung, saya harus mengakui bahwa pemandangan tebing berpantai di situ memang ciamik. "Beach mama, beach!!!" teriak Sera menunjuk ke pantai yang berada di bawah. Aih, kalau saja kami tidak terburu- buru, pasti saya ajak Sera turun menyusuri pantai. Kali ini, terpaksa Sera hanya menelan ludah saat diajak kembali naik ke dalam mobil. "Sori Sera, besok ya ke pantainya. Nanti mama ajak ke playground deh," jawab saya membujuk Sera yang sendu.






Tiang batu yang disebut 12 murid Yesus. Sudah mulai terkikis ombak dan angin, yah, sama juga dengan nasib para murid di kehidupan nyata, wahahahaha #hm, saya mencium bau gosong, snif snif

Pantai yang seharusnya Sera jelajahi....

Gadis cilik yang sendu...

Kalah antrian minyak tanah


Terburu- buru karena kami sudah harus mencapai Ballarat sebelum pukul tujuh malam, mobil pun bergegas kembali dijalankan. Hari yang tidak terlalu menyenangkan bagi si Sera, karena ia tidak mendapat kesempatan bermain sama sekali. Surprisingly, she was very sweet dan menyenangkan. "Kita mau kemana sekarang?" tanya emak saya. 
"Ballarat," jawab saya.
"Itu sudah masuk ke New South Wales?" tanya emak saya lagi. 
"Belum, masih masuk Victoria.
"Itu sudah dekatnya Sydney belum?" tanya adik saya. 
"Sydney itu ibukotanya New South Wales! Jadi ya jelas aja kita belum dekat Sydney, lha wong masih di Victoria! Udah, nggak usah tanya- tanya. Terima aja beres! Percuma juga diterangin capek- capek!" jawab saya gusar. 
"Dia itu emang nyebelin gitu orangnya kalau ditanya," adik saya menerangkan pada suaminya yang mengangguk- angguk mengiyakan.

Jam tujuh malam, sampailah kami di kota kecil Ballarat. Karena musim panas, jadi jam tujuh pun masih terang benderang bak jam tiga sore. Setelah menerima kunci kamar penginapan dan meninjau kamar, Okhi memutuskan bahwa sebaiknya kami segera berjalan- jalan menyusuri Ballarat selagi hari masih terang. Sera yang sudah bersenang- senang di ranjang tingkat, memasang wajah marah dan menolak untuk diajak keluar kamar. "I stay here!" jawabnya. "No car!" Si eneng sudah eneg dengan mobil tampaknya. 

Tempat tidur tingkat yang mempesona si Sera

I sleep here!
Bentuk depan si penginapan

Tukang kebunnya


Peri hutannya

Hama werengnya

Demi membujuk si Sera, sayapun berkata bahwa kita akan menuju ke playground. "Horay," teriak Sera penuh semangat. Dalam hati saya bergumam, "Ah gampang, asal diajak ke taman kan Sera pasti senang." Mencomot brosur yang tersedia di pintu masuk penginapan, saya mencari- cari enaknya kemana ya kami sore itu. "Gimana kalau ke danau ini nih Khi?" tanya saya sambil menunjuk foto danau dengan rumah- rumah perahu yang tampak apik. Menyetir membelah kota, saya berkomentar "Kota tua ya... Tapi nggak se-apik Williamstown yah." Williamstown adalah kota tua bekas pelabuhan tempat kami biasa menghabiskan akhir pekan.



Membaca brosur dengan seksama

Danau mulai terlihat. Saat mencari parkir, terlihatlah playground di sisi kiri jalan. "Playground!!!!" teriak Sera histeris. Saya berpandangan dengan Okhi. Ya sudahlah, namanya juga tadi sudah kadung berjanji membawa Sera ke playground. Kami pun menghentikan mobil di depan playground. Saat bapaknya melepaskan dirinya dari sabuk pengaman, dengan suara tersekat penuh keharuan Sera berkata "Oh thank you Daddy. Thank you... Thank you very much....

Kami semua saling berpandangan. Wah, si Sera berpikir bahwa kami memang benar- benar berniat serius membawanya ke playground rupanya :P. Merasa bersalah juga jadinya... Jadilah satu jam berikutnya dihabiskan untuk menemani Sera yang seperti keledai rabies berlari berputar menjelajahi area playground. Sialnya, angin berhembus dengan kencang. Plus dingin menggigit. Apalagi matahari mulai beranjak turun. Tetapi rasa bersalah sudah berniat menipu seorang balita membuat keempat orang dewasa dengan perut berkerucukan karena lapar ini mengalah. Dan dengan tawakal membiarkan diri mereka dibelai- belai angin jahanam yang membuat bulu lengan berdiri tegak. Bahkan si om dan tante berbaik hati ikut menemani Sera bermain seluncuran. 

Kesurupan melihat playground sebesar kastil


Diupload sebelum dihapus selamanya dari hard disk saya

Berbagai macam unggas di sekeliling playground di pinggir danau #sayang nggak bawa senapan angin

Sera likes it more, though....

Demi ponakan.....

Just right. Tempatnya tidak kesempitan kok....

Demi Sera.....

Bergaya di musim panas 

Kostum ideal musim panas di Victoria

Buta huruf dan tidak sadar ukuran adalah kelebihan beliau...

Sekembalinya ke kamar, saya menyaksikan adik saya mengomeli si Mario dan memaksanya untuk tidur dalam posisi sesuai kemauannya dia. "Nah, sekarang kamu baru bersyukur kan dapat aku. Coba kalau dapet adikku, apa nggak lebih sengsara nasibmu?" kata saya ke arah si Okhi.

"Iya, si momok (panggilan sayang Okhi untuk adik saya) itu bawel banget sih. Kamu ya juga ngatur kapan Mario harus bernafas gitu ya?" tanya Okhi ke arah adik saya. 

"Iya nih, bawel banget kok emang si Vidi ini," jawab Mario, merasa senang karena dibela.  

Tetapi akhirnya rasa kantuk mengalahkan kami semua. Tidurlah kami untuk besok memulai petualangan di kota koboi Sovereign Hill yang tersohor. Note minggu depan karena sekarang saya harus menyeterika baju. Hidup saya memang penuh keglamoran....