Suatu malam di tahun 2006. Saya menaiki bus bandara jurusan Gambir dari terminal 1A Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tahun itu adalah tahun kedua saya bekerja di Jakarta. Hanya sendirian di Jakarta sementara semua keluarga berada di Surabaya, dengan gaji yang masih sepenuhnya untuk bersenang- senang, jadilah setiap dua minggu sekali saya selalu mudik ke Surabaya. Sampai- sampai, salah satu petugas check-in Air Asia berkomentar bahwa nama saya terdengar familiar sekali di telinganya. Bahkan, saya mempunyai sopir taksi blue bird langganan untuk dibooking setiap jam empat subuh mengantarkan saya ke bandara.
Malam itu, setelah meletakkan bokong saya di kursi bis, saya meraih novel Eragon yang merupakan oleh- oleh dari si Okhi yang habis saja menjalankan dinas pertamanya ke luar negeri (oh no, my husband is like a DPR douchebag). Seorang pria kaukasia paruh baya tersenyum ke arah saya dan duduk di kursi di samping saya. Setelah sekilas membalas senyumnya, saya kembali menekuni novel di hadapan saya. Setengah perjalanan, si pria membuka percakapan "Your book is in English and you're reading it very fast."
"Well, it's not in Arabic..." jawab saya sambil mengangkat bahu.
Dan ternyata saya mendapatkan teman seperjalanan yang hobi ngobrol. Sambil menghela nafas saya memasukkan si novel ke dalam tas dan meladeni si bapak (membaca adalah salah satu senjata andalan saya untuk bersikap anti sosial dalam perjalanan). Setelah bercakap- cakap beberapa lama, saya tahu bahwa ia berasal dari Jerman, ke Jakarta dalam rangka bertemu seorang teman lamanya sebelum nantinya terbang ke Bali. "So typical," gumam saya dalam hati. Selalu Bali.
"Are you Malaysian?" tanyanya lagi.
"Nope," jawab saya sambil menggerutu (emangnye logat gue Mak Cik Pak Cik ape?)
"O... It's so unusual to meet Indonesian who can speak English," jawabnya sambil tersenyum malu.
"Yeah, cause we're still banging each other heads with coconut," jawab saya sambil memutar bola mata.
Cerita punya cerita, si bapak mengeluarkan kertas bertuliskan alamat hotel tempat dia akan menginap dan bertanya enaknya dia naik apa ya ke hotel itu. Saya melirik alamatnya, dekat sekali dengan stasiun Gambir. "Kamu gak bakal mendapat taksi yang mau mengantar kalau sedekat itu," kata saya. "Aku ke arah Sunter, kita searah, kamu ikut aja deh sama taksiku."
Jadilah kami berdua masuk ke arah taksi yang sudah antri menunggu di stasiun gambir. Saya serahkan kertas alamat ke sopir taksi sambil menerangkan bahwa tolong nih bapak diantar dulu kesitu lalu lanjut ke daerah sunter. Si sopir menatap saya dengan pandangan aneh. Lalu di jalan, mulailah si sopir bertanya "Kenalan dimana mbak sama dia?" Ya saya ceritakan saja sekilas tentang pertemuan kami, sambil berpikir ni sopir bawel juga yak.
Sesampainya di alamat tadi, lha kok bentuknya si hotel berasa kayak rumah kos- kosan saja ya? Jangan- jangan salah alamat nih. Jadilah karena merasa bertanggung jawab (lha kan saya yang nawarin si bapak ini ngikut saya) saya turun dan bertanya ke seorang yang berada di situ. Eh ternyata benar itu alamat yang dituju. "Oh well, siapa bilang semua orang Eropa itu kaya," pikir saya dalam hati.
Sesampainya di alamat tadi, lha kok bentuknya si hotel berasa kayak rumah kos- kosan saja ya? Jangan- jangan salah alamat nih. Jadilah karena merasa bertanggung jawab (lha kan saya yang nawarin si bapak ini ngikut saya) saya turun dan bertanya ke seorang yang berada di situ. Eh ternyata benar itu alamat yang dituju. "Oh well, siapa bilang semua orang Eropa itu kaya," pikir saya dalam hati.
Dan lagi- lagi saya menerima tatapan aneh dari si petugas."Lho embaknya nggak nginep juga disini?" tanya si petugas.
"Lha ngapain, wong rumah saya di Sunter," jawab saya heran. Rugi amat menginap di kandang perkutut semacam itu. Saya padahal tadi sudah menjelaskan juga ke si petugas bahwa saya ini ceritanya berbagi taksi sama si bapak.
Pokoknya saya mendapat kesan bahwa baik si sopir dan petugas ini menyangsikan cerita saya yang hanya sekedar mengantar si bule sebelum kemudian kembali ke rumah saya sendiri. Tetapi pada saat itu saya sih berpikir mereka sulit percaya karena ya masak sih ada cewek ceking berani menawarkan ke seorang pria asing untuk menumpang di taksinya kalau sebelumnya tidak kenal? Call me naive, tapi saya saat itu tidak terpikir untuk takut pada si bapak karena dia kan alien, sementara Jakarta itu kota saya. Berani macam- macam, saya getok kepalanya. Plus saya yakin dia pasti orang baik karena dia ternyata penggemar novel dan mengenal Jack Higgins serta Alistair McLean (oh yeah, what a strong evidence, Vincentia! You're a truly genius @_@).
Saya ingat satu pertanyaan si sopir yang membuat saya mengerutkan dahi dengan heran "Besok ke penginapan situ lagi nggak Mbak? Ada janji nggak sama si bule?"
"Emangnya saya pemandu wisata? Kalau bapak mau menawarkan jasa mengantar si bule ya bilang saja sama dia langsung," jawab saya sambil memutar mata. Doh, what a weird night! Padahal bulenya sendiri hanya dengan santai menjabat tangan saya dan berucap terima kasih.
Dan sekarang, setelah tinggal di Australia selama dua tahun, berinteraksi dengan para penduduk sini dan orang Indonesia lain yang tinggal di sini, serta baru saja membaca status seorang pria Indonesia yang menetap di Belanda, saya baru paham kenapa saya menerima tatapan aneh di malam itu.
Ini tulisan status seorang pria Indonesia yang sekarang sedang bekerja dan menetap di Belanda
Sindrom inferioritas orang Indonesia terhadap bule memang sudah akut dan perlu segera diberantas karena memalukan dan merugikan sekaligus.
Betapa banyak di kota-kota Indonesia bule-bule diperlakukan layaknya raja dan gadis-gadis begitu tergila-gila sampai taraf menjijikkan kalau bertemu bule, bahkan banyak bule merasakannya dan juga banyak yang tidak suka. Dan saya kadang trenyuh melihat stigma negatif murahan yang diatributkan terhadap wanita Indonesia.
Mempunyai suami bule adalah semacam kebanggaan setingkat masuk surga buat gadis-gadis ini dan banyak yang menjadi sengak dan sombong hanya karena bersuamikan bule. Bahkan banyak yang mendapatkan bule buangan, bule asal-asalan, siapapun mau dijadikan suami asal bule. Dan lebih parahnya, sindrom ini juga diderita oleh yang dianggap berpendidikan.
Bujubune, macak cih yang dituduhkan si pria Indonesia ini benar adanya? Suatu sore, saya berbincang dengan seorang pria Australia paruh baya. Ni om- om baik hati sih orangnya, tapi mulutnya memang comel. Dia dengan bangga berkata "Kalau aku ke Jogja, cewek- cewek pada rebutan mau kencan sama aku. Bahkan pernah lagi makan malam sama satu cewek, dan kemudian ada dua cewek lain yang berusaha melirik- lirik dan tersenyum. Pokoknya, aku tu laris manis kalau lagi di Indonesia. Padahal disini nggak laku, hahaha."
Memerah muka saya. Dan lalu seorang tukang antar barang, yang gajinya paling hanya sepertiga gaji si Okhi, saat mengantar bed saya berkata "Oh, aku selalu ke Indonesia kalau mencari cewek. Gampang. Murah. Entar duit habis baru balik lagi ke sini. Cewek Indonesia sih gampang, asal ada dolar beres. Kamu kenapa nggak bisnis mendatangkan cewek Indonesia saja kesini? Menguntungkan pasti..."
Jancukan! Jangkrik! Matamu!
Dan ya, saya juga sudah merasakan bagaimana berkumpul dengan beberapa istri bule, yang menurut rangkuman pendapat "Lebih bule daripada bulenya sendiri." Yang berjalan dengan aura "I'm sexy and I know it, tralalalala." Dan ya, saya pernah membaca status temannya si Okhi yang saling bertukar info dimana bisa menggaet para pria bule itu. "Kemarin aku kenalan sama cowok dari Belanda. Kayaknya seleramu deh cyn... Eike kenalin yah?"
Apa benar ada sindrom inferioritas dari bangsa kita, sehingga seolah sekedar berpasangan dengan seorang bule itu berasa naik tingkat? Mungkin juga ya. Bagi para cewek pathetic yang membuat saya harus memerah padam mendengar pelecehan para pria asing terhadap wanita sebangsa saya. Seperti saat saya mendengar kisah pertengkaran dua orang cewek gara- gara cemburu karena pacar bulenya digoda wanita yang satunya lagi. Bollywood mah lewat deh!
Tetapi, tampaknya bukan hanya para pengejar bule ini yang terkena sindrom inferioritas. Seorang teman bercerita saat ia yang memang kebetulan berambut merah dan berkulit tanned sedang membuat SIM di kantor polisi. Kelupaan membawa duit, maka ia berkata dengan logat ala Cinta Laura "Adyuh, shaya lyupa bawa uang... Should I ask my mom?" #teman saya ini orang Indonesia asli, kagak ada darah bule atau aljazairnya.
Dan pak polisi pun dengan gelagapan berkata "Oh eh, nggak usah dik, nggak papa." #padahal itu biaya administrasi wajib.
Seorang teman bercerita bahwa saat seorang bule datang ke perusahaannya, langsung semua pekerja di situ mengiyakan apapun komentar si bule dan tampak segan padanya. Padahal si bule ini kan ya tidak tahu dengan detil kondisi di lapangan, harusnya tuh diajak diskusi dan berdialog, bukannya langsung semua manggut- manggut bak kucing mabuk pindang.
Dan entah sudah berapa kali juga saya mendengar sesama orang Indonesia yang melontarkan pernyataan semacam "Nanti Sera nikah sama bule saja, biar anaknya cakep- cakep." What the heck? Kalau nggak ingat memukul orang itu bisa masuk penjara, saya gampar tuh orang pake baskom. Emangnya anak saya bukan yang paling cakep sejagad raya apa, sampai harus kawin dengan orang bule untuk memperbaiki keturunan?
Saya memang pernah merasa terganggu dengan fenomena para wanita menyebalkan yang merasa dirinya menjelma menjadi setengah bidadari hanya karena berhasil menggaet seorang pria kaukasia (walau yang digaet juga jauh bener bentuknya dari Brad Pitt). Tetapi, yang paling kasihan dengan banyaknya para pemburu bule ini adalah mereka- mereka yang kebetulan memang jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan seorang pria kaukasia. Mereka yang menikah atas dasar memang kebetulan takdir menentukan dia jatuh cinta pada seorang bule.
Seorang teman bercerita bahwa setiap dia berlibur ke Bali bersama suaminya yang orang Australia, semua mata memandang seolah ia adalah seorang pelacur. Padahal teman saya itu dokter yang sudah bergelar master. Dia bertemu suaminya di universitas saat sama-sama menuntut ilmu, bukannya di pojokan gang senggol. Seorang teman yang lain bercerita bahwa ia awalnya enggan saat seorang bule mengajaknya berpacaran. "Lu tahu sendiri kan Meg, kelakuan cewek- cewek yang punya gandengan bule? Norak amit! Bikin eneg! Lha masak sekarang gue yang jadi harus dikira serupa sama mereka?"
Itulah stereotype. Mentang- mentang aura para istri bule itu dianggap norak, langsung saja orang menganggap semua wanita yang bersuamikan pria kaukasia ini sebagai wanita kampung pengejar bule. Padahal tentu saja banyak dari mereka adalah wanita yang jauh lebih terhormat dan sukses dalam karir dibanding saya dan anda yang kebetulan bersuamikan pria Indonesia. Saya ikut sebal juga mendengar kisah mereka yang sering dianggap cewek murahan atau dikerjain petugas rumah sakit dan bandara. Sama seperti stereotype bahwa orang Asia itu tidak gape menyetir.
Tetapi, terkadang saya juga merasa bahwa terkadang permasalahan itu terletak di matakita sendiri,bukannya pada si objek. Saya pernah mendengar orang berkomentar mengejek seorang cewek yang menggandeng bule dan si cewek ini memakai baju kuning ngejreng dengan sepatu boot pendek yang menurut si komentator "Nggak cocok banget. Nggak sadar apa, kulit item kayak salak begitu kok pake baju ngejreng."
Lah, memangnya ada aturannya begitu bahwa hanya orang berkulit terang yang boleh pakai baju berwarna ngejreng? Kalau saya harus menunggu berkulit putih dulu sebelum dianggap pantas memakai baju shocking pink, ya sampai dibungkus kain kafan juga kagak bakal kesampaian lah! Terkadang, setelah menikah dengan pria asing, atau seperti kasus saya yang tinggal di negara lain, gaya berpakaian dan dandanan memang bisa berubah. Perubahan gaya inilah yang kemudian dituduh sebagai sok bule, padahal hanya karena si pengamatnya saja yang sirik tanda bukan juwita.
Nggak tahu juga ya dengan para perempuan lain, tapi kalau saya, saat ini saya 'merayakan' kebebasan bahwa selama saya tidak mengganggu orang, maka orang lain juga tidak akan resek mengomentari saya. Bahwa saya bisa memakai baju apapun dan aksesoris apapun tanpa harus merasa rikuh atau sungkan bahwa akan ada orang yang akan memandang sinis atau bersuit- suit. Tidak selalu berarti rok yang lebih pendek atau malah bikini misalnya, tetapi sekedar memakai sepatu boot di Jakarta bisa membuat orang memandang saya dengan tatapan "Sok artis sih, tampang kayak pembantu gitu." Sementara disini? You can wear anything you like tanpa ada yang bakalan sok merasa sebagai fashion police. And that my friend, is a damn good feeling. Kesadaran bahwa tidak ada orang yang berhak untuk melayangkan pandangan tidak setuju saat saya memutuskan memakai kacamata hitam atau baju berkilau di atas kulit gelap saya. Membayari tagihan listrik saya saja kagak, kenapa situ merasa berhak menentukan warna baju apa yang pantas saya kenakan?
Omong- omong, kalau saja saya belum menikah dengan si Okhi, apakah lalu saya akan menjadi istri seorang pria bule? Bisa jadi. Bagi saya, pria bule dengan wanita Asia itu pasangan yang win- win solution, bisa saling menguntungkan. Pria bule relatif lebih menghargai perempuan sebagai partner yang setara karena kultur mereka dan juga lebih romantis, sementara wanita Asia lebih 'memanjakan' dan manut terhadap suaminya. Dan tentu saja, dengan badan kecil, rambut hitam dan kulit sawo matang saya, saya akan tampak cukup menarik di mata para pria kaukasia. Terkadang, menyedihkan juga rasanya bahwa rambut hitam dan kulit gelap saya tampak menarik di mata pria asing, sementara para pria sebangsa setanah air justru mendambakan istri berkulit putih dan memuja mereka yang berhidung mancung dan berwajah bak wanita kaukasia. Inferioritas juga dialami kaum pria Indonesia saya rasa......
Oh ya, seorang pria pernah melontarkan teori bahwa wanita Indonesia lebih menyukai pria barat karena ukuran alat kelamin mereka. Well the truth is, in my opinion,
Ukuran alat kelamin seorang pria di mata wanita = ukuran otak seorang wanita di mata pria
selama kagak kecil- kecil amat, tidak termasuk kategori mikro, size doesn't that matter.
Note: tapi tetap sih saya termehek-mehek saat melihat berita seorang artis Indonesia sukses yang menikah dengan seorang bule Melbourne, dan saat melihat wajah si bule, saya dan Okhi sepakat bahwa dia adalah jenis bule homeless pengangguran tukang mabuk tanpa harapan masa depan yang banyak berkeliaran di kota ini. Oh well, cinta itu kan buta...Tidak semua artis tertarik terhadap pria bule yang sukses seperti suaminya si Maudy. Dan saya yakin si bule Melben ini punya, eh, kelebihan tersembunyi lainnya....#mungkin dia sebetulnya si spiderman?
| Kalau sesuai bentuk wajah, ya saya sih cocoknya pakai kacamata kuda... |
| Emang hanya LittleMissy Yang Boleh Pakai Payung Renda :D |


