Monday 28 January 2013

My Monday Note -- Mengejar Pria Bule? Emangnya Mereka Ayam Lepas....

Suatu malam di tahun 2006. Saya menaiki bus bandara jurusan Gambir dari terminal 1A Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tahun itu adalah tahun kedua saya bekerja di Jakarta. Hanya sendirian di Jakarta sementara semua keluarga berada di Surabaya, dengan gaji yang masih sepenuhnya untuk bersenang- senang, jadilah setiap dua minggu sekali saya selalu mudik ke Surabaya. Sampai- sampai, salah satu petugas check-in Air Asia berkomentar bahwa nama saya terdengar familiar sekali di telinganya. Bahkan, saya mempunyai sopir taksi blue bird langganan untuk dibooking setiap jam empat subuh mengantarkan saya ke bandara. 

Malam itu, setelah meletakkan bokong saya di kursi bis, saya meraih novel Eragon yang merupakan oleh- oleh dari si Okhi yang habis saja menjalankan dinas pertamanya ke luar negeri (oh no, my husband is like a DPR douchebag). Seorang pria kaukasia paruh baya tersenyum ke arah saya dan duduk di kursi  di samping saya. Setelah sekilas membalas senyumnya, saya kembali menekuni novel di hadapan saya. Setengah perjalanan, si pria membuka percakapan "Your book is in English and you're reading it very fast."

"Well, it's not in Arabic..." jawab saya sambil mengangkat bahu. 

Dan ternyata saya mendapatkan teman seperjalanan yang hobi ngobrol. Sambil menghela nafas saya memasukkan si novel ke dalam tas dan meladeni si bapak (membaca adalah salah satu senjata andalan saya untuk bersikap anti sosial dalam perjalanan). Setelah bercakap- cakap beberapa lama, saya tahu bahwa ia berasal dari Jerman, ke Jakarta dalam rangka bertemu seorang teman lamanya sebelum nantinya terbang ke Bali. "So typical," gumam saya dalam hati. Selalu Bali. 

"Are you Malaysian?" tanyanya lagi. 
"Nope," jawab saya sambil menggerutu (emangnye logat gue Mak Cik Pak Cik ape?)  
"O... It's so unusual to meet Indonesian who can speak English," jawabnya sambil tersenyum malu.
"Yeah, cause we're still banging each other heads with coconut," jawab saya sambil memutar bola mata.

Cerita punya cerita, si bapak mengeluarkan kertas bertuliskan alamat hotel tempat dia akan menginap dan bertanya enaknya dia naik apa ya ke hotel itu. Saya melirik alamatnya, dekat sekali dengan stasiun Gambir. "Kamu gak bakal mendapat taksi yang mau mengantar kalau sedekat itu," kata saya. "Aku ke arah Sunter, kita searah, kamu ikut aja deh sama taksiku."     

Jadilah kami berdua masuk ke arah taksi yang sudah antri menunggu di stasiun gambir. Saya serahkan kertas alamat ke sopir taksi sambil menerangkan bahwa tolong nih bapak diantar dulu kesitu lalu lanjut ke daerah sunter. Si sopir menatap saya dengan pandangan aneh. Lalu di jalan, mulailah si sopir bertanya "Kenalan dimana mbak sama dia?" Ya saya ceritakan saja sekilas tentang pertemuan kami, sambil berpikir ni sopir bawel juga yak.

Sesampainya di alamat tadi, lha kok bentuknya si hotel berasa kayak rumah kos- kosan saja ya? Jangan- jangan salah alamat nih. Jadilah karena merasa bertanggung jawab (lha kan saya yang nawarin si bapak ini ngikut saya) saya turun dan bertanya ke seorang yang berada di situ. Eh ternyata benar itu alamat yang dituju. "Oh well, siapa bilang semua orang Eropa itu kaya," pikir saya dalam hati.    

Dan lagi- lagi saya menerima tatapan aneh dari si petugas."Lho embaknya nggak nginep juga disini?" tanya si petugas.

"Lha ngapain, wong rumah saya di Sunter," jawab saya heran. Rugi amat menginap di kandang perkutut semacam itu. Saya padahal tadi sudah menjelaskan juga ke si petugas bahwa saya ini ceritanya berbagi taksi sama si bapak.

Pokoknya saya mendapat kesan bahwa baik si sopir dan petugas ini menyangsikan cerita saya yang hanya sekedar mengantar si bule sebelum kemudian kembali ke rumah saya sendiri. Tetapi pada saat itu saya sih berpikir mereka sulit percaya karena ya masak sih ada cewek ceking berani menawarkan ke seorang pria asing untuk menumpang di taksinya kalau sebelumnya tidak kenal? Call me naive, tapi saya saat itu tidak terpikir untuk takut pada si bapak karena dia kan alien, sementara Jakarta itu kota saya. Berani macam- macam, saya getok kepalanya. Plus saya yakin dia pasti orang baik karena dia ternyata penggemar novel dan mengenal Jack Higgins serta Alistair McLean (oh yeah, what a strong evidence, Vincentia! You're a truly genius @_@).

Saya ingat satu pertanyaan si sopir yang membuat saya mengerutkan dahi dengan heran "Besok ke penginapan situ lagi nggak Mbak? Ada janji nggak sama si bule?

"Emangnya saya pemandu wisata? Kalau bapak mau menawarkan jasa mengantar si bule ya bilang saja sama dia langsung," jawab saya sambil memutar mata. Doh, what a weird night! Padahal bulenya sendiri hanya dengan santai menjabat tangan saya dan berucap terima kasih.

Dan sekarang, setelah tinggal di Australia selama dua tahun, berinteraksi dengan para penduduk sini dan orang Indonesia lain yang tinggal di sini, serta baru saja membaca status seorang pria Indonesia yang menetap di Belanda, saya baru paham kenapa saya menerima tatapan aneh di malam itu.

Ini tulisan status seorang pria Indonesia yang sekarang sedang bekerja dan menetap di Belanda

Sindrom inferioritas orang Indonesia terhadap bule memang sudah akut dan perlu segera diberantas karena memalukan dan merugikan sekaligus.

Betapa banyak di kota-kota Indonesia bule-bule diperlakukan layaknya raja dan gadis-gadis begitu tergila-gila sampai taraf menjijikkan kalau bertemu bule, bahkan banyak bule merasakannya dan juga banyak yang tidak suka. Dan saya kadang trenyuh melihat stigma negatif murahan yang diatributkan terhadap wanita Indonesia.

Mempunyai suami bule adalah semacam kebanggaan setingkat masuk surga buat gadis-gadis ini dan banyak yang menjadi sengak dan sombong hanya karena bersuamikan bule. Bahkan banyak yang mendapatkan bule buangan, bule asal-asalan, siapapun mau dijadikan suami asal bule. Dan lebih parahnya, sindrom ini juga diderita oleh yang dianggap berpendidikan.

Bujubune, macak cih yang dituduhkan si pria Indonesia ini benar adanya? Suatu sore, saya berbincang dengan seorang pria Australia paruh baya. Ni om- om baik hati sih orangnya, tapi mulutnya memang comel. Dia dengan bangga berkata "Kalau aku ke Jogja, cewek- cewek pada rebutan mau kencan sama aku. Bahkan pernah lagi makan malam sama satu cewek, dan kemudian ada dua cewek lain yang berusaha melirik- lirik dan tersenyum. Pokoknya, aku tu laris manis kalau lagi di Indonesia. Padahal disini nggak laku, hahaha."

Memerah muka saya. Dan lalu seorang tukang antar barang, yang gajinya paling hanya sepertiga gaji si Okhi, saat mengantar bed saya berkata "Oh, aku selalu ke Indonesia kalau mencari cewek. Gampang. Murah. Entar duit habis baru balik lagi ke sini. Cewek Indonesia sih gampang, asal ada dolar beres. Kamu kenapa nggak bisnis mendatangkan cewek Indonesia saja kesini? Menguntungkan pasti..."

Jancukan! Jangkrik! Matamu!

Dan ya, saya juga sudah merasakan bagaimana berkumpul dengan beberapa istri bule, yang menurut rangkuman pendapat "Lebih bule daripada bulenya sendiri." Yang berjalan dengan aura "I'm sexy and I know it, tralalalala." Dan ya, saya pernah membaca status temannya si Okhi yang saling bertukar info dimana bisa menggaet para pria bule itu. "Kemarin aku kenalan sama cowok dari Belanda. Kayaknya seleramu deh cyn... Eike kenalin yah?"

Apa benar ada sindrom inferioritas dari bangsa kita, sehingga seolah sekedar berpasangan dengan seorang bule itu berasa naik tingkat? Mungkin juga ya. Bagi para cewek pathetic yang membuat saya harus memerah padam mendengar pelecehan para pria asing terhadap wanita sebangsa saya. Seperti saat saya mendengar kisah pertengkaran dua orang cewek gara- gara cemburu karena pacar bulenya digoda wanita yang satunya lagi. Bollywood mah lewat deh!

Tetapi, tampaknya bukan hanya para pengejar bule ini yang terkena sindrom inferioritas. Seorang teman bercerita saat ia yang memang kebetulan berambut merah dan berkulit tanned sedang membuat SIM di kantor polisi. Kelupaan membawa duit, maka ia berkata dengan logat ala Cinta Laura "Adyuh, shaya lyupa bawa uang... Should I ask my mom?" #teman saya ini orang Indonesia asli, kagak ada darah bule atau aljazairnya.

Dan pak polisi pun dengan gelagapan berkata "Oh eh, nggak usah dik, nggak papa." #padahal itu biaya administrasi wajib.

Seorang teman bercerita bahwa saat seorang bule datang ke perusahaannya, langsung semua pekerja di situ mengiyakan apapun komentar si bule dan tampak segan padanya. Padahal si bule ini kan ya tidak tahu dengan detil kondisi di lapangan, harusnya tuh diajak diskusi dan berdialog, bukannya langsung semua manggut- manggut bak kucing mabuk pindang.

Dan entah sudah berapa kali juga saya mendengar sesama orang Indonesia yang melontarkan pernyataan semacam "Nanti Sera nikah sama bule saja, biar anaknya cakep- cakep." What the heck? Kalau nggak ingat memukul orang itu bisa masuk penjara, saya gampar tuh orang pake baskom. Emangnya anak saya bukan yang paling cakep sejagad raya apa, sampai harus kawin dengan orang bule untuk memperbaiki keturunan?

Saya memang pernah merasa terganggu dengan fenomena para wanita menyebalkan yang merasa dirinya menjelma menjadi setengah bidadari hanya karena berhasil menggaet seorang pria kaukasia (walau yang digaet juga jauh bener bentuknya dari Brad Pitt). Tetapi, yang paling kasihan dengan banyaknya para pemburu bule ini adalah mereka- mereka yang kebetulan memang jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan seorang pria kaukasia. Mereka yang menikah atas dasar memang kebetulan takdir menentukan dia jatuh cinta pada seorang bule.

Seorang teman bercerita bahwa setiap dia berlibur ke Bali bersama suaminya yang orang Australia, semua mata memandang seolah ia adalah seorang pelacur. Padahal teman saya itu dokter yang sudah bergelar master. Dia bertemu suaminya di universitas saat sama-sama menuntut ilmu, bukannya di pojokan gang senggol. Seorang teman yang lain bercerita bahwa ia awalnya enggan saat seorang bule mengajaknya berpacaran. "Lu tahu sendiri kan Meg, kelakuan cewek- cewek yang punya gandengan bule? Norak amit! Bikin eneg! Lha masak sekarang gue yang jadi harus dikira serupa sama mereka?"

Itulah stereotype. Mentang- mentang aura para istri bule itu dianggap norak, langsung saja orang  menganggap semua wanita yang bersuamikan pria kaukasia ini sebagai wanita kampung pengejar bule. Padahal tentu saja banyak dari mereka adalah wanita yang jauh lebih terhormat dan sukses dalam karir dibanding saya dan anda yang kebetulan bersuamikan pria Indonesia. Saya ikut sebal juga mendengar kisah mereka yang sering dianggap cewek murahan atau dikerjain petugas rumah sakit dan bandara. Sama seperti stereotype bahwa orang Asia itu tidak gape menyetir.

Tetapi, terkadang saya juga merasa bahwa terkadang permasalahan itu terletak di matakita sendiri,bukannya pada si objek. Saya pernah mendengar orang berkomentar mengejek seorang cewek yang menggandeng bule dan si cewek ini memakai baju kuning ngejreng dengan sepatu boot pendek yang menurut si komentator "Nggak cocok banget. Nggak sadar apa, kulit item kayak salak begitu kok pake baju ngejreng."

Lah, memangnya ada aturannya begitu bahwa hanya orang berkulit terang yang boleh pakai baju berwarna ngejreng? Kalau saya harus menunggu berkulit putih dulu sebelum dianggap pantas memakai baju shocking pink, ya sampai dibungkus kain kafan juga kagak bakal kesampaian lah! Terkadang, setelah menikah dengan pria asing, atau seperti kasus saya yang tinggal di negara lain, gaya berpakaian dan dandanan memang bisa berubah. Perubahan gaya inilah yang kemudian dituduh sebagai sok bule, padahal hanya karena si pengamatnya saja yang sirik tanda bukan juwita.

Nggak tahu juga ya dengan para perempuan lain, tapi kalau saya, saat ini saya 'merayakan' kebebasan bahwa selama saya tidak mengganggu orang, maka orang lain juga tidak akan resek mengomentari saya. Bahwa saya bisa memakai baju apapun dan aksesoris apapun tanpa harus merasa rikuh atau sungkan bahwa akan ada orang yang akan memandang sinis atau bersuit- suit. Tidak selalu berarti rok yang lebih pendek atau malah bikini misalnya, tetapi sekedar memakai sepatu boot di Jakarta bisa membuat orang memandang saya dengan tatapan "Sok artis sih, tampang kayak pembantu gitu." Sementara disini? You can wear anything you like tanpa ada yang bakalan sok merasa sebagai fashion police. And that my friend, is a damn good feeling. Kesadaran bahwa tidak ada orang yang berhak untuk melayangkan pandangan tidak setuju saat saya memutuskan memakai kacamata hitam atau baju berkilau di atas kulit gelap saya. Membayari tagihan listrik saya saja kagak, kenapa situ merasa berhak menentukan warna baju apa yang pantas saya kenakan?      

Omong- omong, kalau saja saya belum menikah dengan si Okhi, apakah lalu saya akan menjadi istri seorang pria bule? Bisa jadi. Bagi saya, pria bule dengan wanita Asia itu pasangan yang win- win solution, bisa saling menguntungkan. Pria bule relatif lebih menghargai perempuan sebagai partner yang setara karena kultur mereka dan juga lebih romantis, sementara wanita Asia lebih 'memanjakan' dan manut terhadap suaminya. Dan tentu saja, dengan badan kecil, rambut hitam dan kulit sawo matang saya, saya akan tampak cukup menarik di mata para pria kaukasia. Terkadang, menyedihkan juga rasanya bahwa rambut hitam dan kulit gelap saya tampak menarik di mata pria asing, sementara para pria sebangsa setanah air justru mendambakan istri berkulit putih dan memuja mereka yang berhidung mancung dan berwajah bak wanita kaukasia. Inferioritas juga dialami kaum pria Indonesia saya rasa......

Oh ya, seorang pria pernah melontarkan teori bahwa wanita Indonesia lebih menyukai pria barat karena ukuran alat kelamin mereka. Well the truth is, in my opinion,

Ukuran alat kelamin seorang pria di mata wanita = ukuran otak seorang wanita di mata pria

selama kagak kecil- kecil amat, tidak termasuk kategori mikro, size doesn't that matter.

Note: tapi tetap sih saya termehek-mehek saat melihat berita seorang artis Indonesia sukses yang menikah dengan seorang bule Melbourne, dan saat melihat wajah si bule, saya dan Okhi sepakat bahwa  dia adalah jenis bule homeless pengangguran tukang mabuk tanpa harapan masa depan yang banyak berkeliaran di kota ini. Oh well, cinta itu kan buta...Tidak semua artis tertarik terhadap pria bule yang sukses seperti suaminya si Maudy. Dan saya yakin si bule Melben ini punya, eh, kelebihan tersembunyi lainnya....#mungkin dia sebetulnya si spiderman?


Kalau sesuai bentuk wajah, ya saya sih cocoknya pakai kacamata kuda...

Emang hanya LittleMissy Yang Boleh Pakai Payung Renda :D

         

24 comments:

  1. Eh siapa tuh artis yang nikah sama bule Melbern? gak pernah liat gosip tuh.
    Embyeer inferiority complex emang parah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ebuset, gak nasionalis bener sih ente! Jangan2 nggak tahu juga ya kalau Rafi Ahmad sudah putus dari Yuni Shara :D. Gak tahu, gue juga lupa namanya tu artis, hihihi. Pokoknya suaminya tampangnya kayak bule yg biasa nggedor pintu gereja trus nanya "Hey mate, dou you have 2 dollars for dinner?"

      Delete
    2. gw taulah siapa artis itu, hahahahaah... dah tenar bngt malah laki bulenya jd ikut ngartis bareng dia, jd penggembira...hahahahaah

      Delete
  2. Kalau masalah diskusi dgn bule dan manggut2 mungkin krn gak bisa bahasa Inggris dgn baik. Untuk amannya ya manggut2 saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
    2. PEngalaman pribadi ya? :D.Kebetulan kl yang ini sih sebetulnya lumayan bisa bahasa inggris, hanya kan kita itu rendah hati terhadap para meneer

      Delete
  3. Interesting topic! Saya setuju banget sama apa yg dibilang penulis. Kenapa sih wanita asia cenderung merasa bangga kalau berpasangan dengan bule? Setelah sekian tahun tinggal di negara bule dan berinteraksi dengan mereka, mulai yg level blue collar sampai white collar... kesimpulan saya pribadi, mereka ngga ada bedanya dengan ras2 bangsa lain. seharusnya menilai seorang pria dari level intelegensi and integritas'nya (aka. honesty) dan bukan krn ras!
    Pernah sekali saya duduk di sebelah wanita muda asal Bali dalam penerbangan Denpasar ke Melbourne. Si mbak ini rupanya sudah bertahun2 terpaksa terbang bolak-balik Indo-Aust demi bisa bertemu/tinggal dengan pasangannya (bukan berstatus suami) yg adalah bule Aust. Yang bikin saya kasian dari cerita yg dia share ke saya.. Dari semua trip dia selalu mengurus semua dokumen sendiri, pergi dan pulang juga sendirian, padahal dia ada phobia terbang dan selalu mengalami air sickness yg membuat sakit sampai berhari2. Trus saya tanya, kenapa ngga partner'nya aja yg ke Bali, atau get married aja supaya bisa dapat visa lebih lama tinggal di aust.. Dia jawab masih belom bisa karena alasan pekerjaan si bule (katanya owner of a farm somewhere in vic), n msh dalam proses divorce. Duhh.. dalam hati saya mikir, kenapa ini mbak mau cari repot sendiri, dan kenapa keluarga/orang tuanya ngga melarang.. Saya hati2 coba tanya, dan dia bilang justru ortunya mendukung sepenuhnya buat cari bule.. dengan harapan supaya bisa hidup lebih terjamin (Apa iya?) Terakhir saya tanya lagi (kasian sama kondisinya di pswt udh lemas n pucat begitu), nanti dijemput?? Si mbak bilang.. "Oh engga, saya biasa naik bis sendiri, lbh affordable." Lha.. kalau partnernya aja is a business owner, n dia bisa afford tiket return dps-melb every 3months, trus seberapa mahalnya sih nambah ongkos jemput ke airport, biarpun lokasi farm'nya di ujung victoria. ckckck...love is blind?
    Atau cerita lain lagi, ada teman kuliah saya, yg stlh bersuamikan bule white collar, efek sampingnya merasa insecure n sampai merubah penampilan (eg.berpakaian seksi n agak terbuka) pdhl saya kenal banget dulunya dia adalah gadis yg sangat modest n cenderung pemalu. It's ok kalau gaya berpakaian spt itu memang pilihan dia sendiri, expressing her trueself! Tapi dari bbrp ceritanya, saya menangkap kesan dia pun sebenernya ngga merasa comfortable tapi terpaksa karena circle of friends'nya sekarang adalah bule2 cewek yg memang gaya pakaiannya 'berani'. (Takut suaminya digaet orang?) Duhh.. miris ngga sih? -.-"
    Dan yg kadang msh juga bikin saya sebel bin jengkel (biarpun yah pada akhirnya maklum sendiri krn org indonesia memang punya syndrom inferioritas).. kalau saya pulang ke kampung halaman dan ketemu teman2 'lokal' (ie. lahir dan besar di indonesia, dan kebanyakan memang belom berkesempatan menjelajah negara bule), salah satu pertanyaan/komentar yg seringkali saya dapat adalah: "ada kenalan bule ngga? lain kali bisa titip kenalin satu" (kadang malah 'bawain' -apaan coba, emang bule bisa dibawa2? Koala aja msh lbh masuk akal) -itu kalau cewek yg nanya.. Atau kalau cowok.. "beruntung yah bisa cari suami bule disana, jadi ngga usah balik lagi ke indo" -.-" gdubrak!!! Ngga perlu kawin sama bule juga suka2 gw kalau mau balik apa engga! Duhh.. kalau mentalitas orang indo majority kaya gitu..selamanya nasib bangsa kita ngga akan berubah! Feel sorry for Kartini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, kalau saya paling sering ditanya Udah putih belum sekarang? Udah biru belum matanya? Udah pirang belum rambutnya? Lha yang pingin jadi kulit putih sama rambut pirang siapa? Ane mah seneng2 aja sama bentuk ane :P

      Delete
  4. Pengen donk punya suami bule... (sudah sempat gagal sama pria lokal sebelumnya)

    ReplyDelete
  5. artis indo yg kawin sama bule kere asal melbourne itu : melani ricardo, suami ayu azhari bule finland jg penganguran trusyg terakhir mike tramp yg dulu jd vocalis white lion setelah bubar ya ngangur jd bergantung dgn ayu azhari yg penting bule ha ha ha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau para artis itu dapet pengangguran ya masih nggak papa kali bang, secara mereka kaya, hahahaha #viva le emansisapi

      Delete
  6. Topiknya cukup menarik mbak.. Saya seorang mahasiswa di jakarta. Saya punya beberapa temen bule, tujuannya ya untuk memperlancar bahasa inggris saya. Saya juga bekerja sebagai tour guide yang sebagian besar client saya adalah Caucasian/Bule. Setiap saya jalan bareng client dan teman saya saya selalu mendapat pandangan agak aneh dari orang orang sekitar, apalagi saya berkulit tanned yang bagi orang indonesia mengganggap saya adalah tipe pria bule. Saya sering kali dianggap sebagai pacar bule2 tsb. Awalnya saya agak risih setiap nge guide mereka, apalagi cowok-cowok Indonesia sering kali melontarkan kata2 yang tidak mengeenakkan dan sangat menjijikan. Suatu hari saya memandu turis bule yang masih muda, lalu segerombolan remaja seumuran saya berceloteh ," banana..banana.. i like banana". Sungguh miris melihat tingkah bangsa ini.

    ReplyDelete
  7. hahaha, tulisan yang lucu! tapi masih lebih mending (eh, mending gak ya?? :P) cewek2 indonesia sih, dibandingkan cewek2 thailand. di sana malah ada agen khusus utk menjodohkan cewek2 di sana dengan pria (tua) kulit putih. dan itu dianggap normal aja di sana! (dari film dokumentari Louis Theroux). nontonnya speechless :D

    ReplyDelete
  8. Kayaknya bukan cuma bule aja deh. Berdasarkan pengalaman saya, klau bisa punya, kenalan, temen, pacar, suami atau pun bos orang dari luar negri harga dirinya bakal meningkat beratu-rtus kali lipat

    ReplyDelete
  9. Suami ku bule dan anakku indo bule, tapi aku tetep biasa aja dan nggak kumpul ama bini bini bule (cewek indonesia yang sok sok kereen). Pengen hidup normal aja. Sibuk dengan suami dan anak. Penampilanku nggak sexy norak kayak dangdutan, tapi rapih tertutup dan ber merk sih hehehehe, keren terpelajar donk, wong lulusan s2 ui dan nggak pernah nge jablay kok hehehehe

    ReplyDelete
  10. interesting sekali.tulisanya... sangat mengena....kebetulan saya sendiri kawin dengan bule amerika...sudah jalan thn ke Sembilan .jujur saja,,saya pribadi juga gerah dengan opini masyarakat kita yg akhir2 ini yg cenderung suka menyama ratakan perempuan yg jalan/kawin dengan bule pasti...ngga bener....untuk menghindari hal2 kurang mengenakan..saya sengaja tidak banyak bergaul dengan sesama istri bule yg kebetulan seleranya agak ''WAH..misalnya dandan sexy,,,rambut dicat warna..warni..klo ngomong/komunikasi pada keminggris.......saya tetep memilih berbaju sopan sesuai adat timur,dan lebih milih diem di rumah ngurus anak ma suami....jauh dari gossip...jauh dari musuh.....

    ReplyDelete
  11. Berbagi pengalaman tentang bule disini,rasanya saya nggak sendiri. Saya pernah pacaran 2 kali dengan bule,memang mereka luarbiasa baik,sopan,n lembut banget dibanding pria lokal (ex actually) Satu yang perlu harus hati2 disini girls..tidak semua bule memang berniat lurus untuk mencintai dengan tulus. Hati-hati. Take us for granted?? No way,just stay away from me..tell them that girl. Jangan terlalu obsesi pengen pacaran ama bule,smpe akhirnya logika gak jalan. Tapi,,buat saya,memang pacaran ama bule nggak nyesel...mau lagiiii :P

    ReplyDelete
  12. Menyedihkan, karna saat ini aku lg in relationship dgn pria bule swedia, kami berdua sama2 bukan orang kaya, kita sama pekerja keras dan banyak diskusi juga soal agama. Cinta kami jg tumbuh karna waktu dan kebersamaan. Sekarang kita lagi menabung untuk bisa mengunjungi satu sama lain. Bisa dibayangkan dgn usaha dan keringat dia menabung untuk bisa mengunjungi saya di Indonesia nanti disambut dengan kesan negatif spt itu, pasti sedih dan malu,

    ReplyDelete
  13. sorry aku telat banget commentnya, hbs br nemu blog ini. sangat menarik tulisannya. saya juga punya pengalaman berpacaran dengan pria asing (bukan caucasian tapi arabian). dan sekarang saya sudah menikah dengan pacar arab saya itu. tetap saja pandangan orang jelek terhdap saya. pernah ketika kami pulang dari saudi, kami menginap di sebuah hotel di kawasan pasar baru karena kemalaman mau pulang ke Bogor. Pihak resepsionis sangat ramah terhadap suami saya, sambil senyum dan berbicara lembut tapi kepada saya mereka sangat judes dan tidak ramah, mereka memandang saya dengan sinis. saya jadi bingung, apa salah saya ya?. ketika keesokan harinya kami check out dr hotel dan meminta tolong untuk di panggilkan taxi, waktu taxi datang, security dan sopir taxi dengan cepat mengangkat koper suami saya sementara koper saya dibiarkan saja di depan saya. lalu suami saya berteriak kepada security "kenapa kamu hanya mengangkat koper saya, itu bawa juga koper istri saya. dia istri saya...". seketika semua orang yang ada di lobby hotel melongo....

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. kalau mau kehidupannya lebih terjamin, ya lbh baik targetnya diubah..hunt anak pejabat indonesia aja. Asetnya dmn2, pelayan banyak, kebal hukum jg toh? kl cm nyari keturunan jd cakep tp masa dpn blm tentu terjamin ya go ahead hunt bule asal2an

    ReplyDelete
  16. sy sudah menikah 10thn dg suami yg asalnya dari amerika. dulu ketemu saat kita kuliah (di amrik) mungkin karena wajah saya agak oriental dan cara berpakaian saya selalu sopan, karena tuntutan karir, jadi waktu kita di indonesia beberapa tahun ga ada yg lihat/perlakukan saya dengan pandangan merendahkan. kebetulan dia jg cuma setahun lebih tua. cm memang yg risih itu byk cewe indonesia yg kaya mupeng banget kalau lihat suami, tapi biasanya mereka mundur sendiri pas lihat istrinya si bule jauh lebih cantik dan berkelas daripada embak2 yg godain hihi...sadar kalau bukan saingan. sy juga heran ko bule2 di indo demen bgt ya sm yg item2 jelek2 dekil2, kalau di amerika byk sekali pasangan bule asia tp cewe asianya putih2 oriental gitu, byk yg cantik2 apalagi kl bulenya ganteng. sekarang sih kita di USA, kita berdua punya karir, tp karir saya di sini jauh di atas suami. ini cuma sekedar share kalau ga semua perempuan indonesia yg nikah dg bule itu notabene aji mumpung. kr ada jg yg berpendidikan dan berkarir dan emg jodohnya bule mao diapain juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya Tuhan, anda rendah hati sekali *sarkas*

      Delete
  17. Hmm,ga semua bsa dpt in anak pejabat,tau sendiri klo anak pejabat itu seleranya gmn..bule ga smua mo cr perempuan asia yg asal2an,mrk lbh pinter dlm selera skrg..jodoh bisa dr mana aja,mau dia org kulit putih ,hitam,latin,arab,dsb..tp mslhnya kbnyakan org2 yg dpt in bule or org asing gayanya memuakkan,tp buat org2yg selalu menjudge org2 baik yg mendptkan kan jodoh pasangan beda ras dan nation itu kebanyakan menyebalkan..WTHFU.

    ReplyDelete