Monday 14 January 2013

My Monday Note -- Road Trip (Great Ocean Road- Ballarat)

Rencana heroik: bangun jam empat pagi, bersiap- siap memasak bekal dan by the latest jam tujuh pagi sudah harus berangkat. Mobil sudah harus bergerak menuju ke tujuan pertama dari serangkaian acara road trip yang direncanakan dengan seksama akan memakan waktu sekitar seminggu.

Hari selasa subuh. Jam empat pagi benar- benar semua peserta road trip sudah bangun, segera menuju dapur menyiapkan bekal (dalam rangka pengiritan karena Australia adalah negara yang aje gile mahalnya) dan menata semua barang di koper. Minus si Sera yang sampai detik terakhir dengan damai nungging di kasur, tertidur pulas sambil ngiler.

Meski menginap di hotel, bantal tetap wajib dibawa 
  
Bangun bersamaan dengan mentari terbit itu siksaan...

Bawa balon segala, sekalian ikut karnaval 17an


Dan tentu saja Serafim adalah yang tersibuk....

Jam setengah tujuh pagi, semua orang sudah siap di dalam mobil. "Berangkat!" adik saya berseru dengan penuh semangat. Wah, alamat sukses ini road trip nya! Bayangkan, kami berangkat setengah jam sebelum jadwal! Mobil jumbo sewaan dengan mulus membelah jalan Glen Waverley yang masih lengang. Berhenti di lampu merah, kira- kira sepuluh menit jaraknya dari rumah, dengan iseng saya bertanya ke si Okhi yang duduk di belakang kemudi, "Eh tadi kamu udah matiin pemanas kan?"

Pertanyaan tolol. Okhi pun menjadi galau dan akhirnya mobil kembali diarahkan ke rumah. Saya beranjak turun dari mobil, berniat segera berlari dan memeriksa pemanas dengan kecepatan kilat. "Eh aku jadi pingin pipis lagi," jawab adik saya malu- malu. "Ya udah cepetan!" omel saya dengan sebal. Eh mendengar ada yang mau pipis, suaminya adik saya, si Mario, ikut- ikutan pingin pipis. Melihat om dan tantenya pingin pipis, Sera ikut berteriak minta ke toilet juga. Dari yang tadinya hanya berniat berhenti dua menit sekedar mengecek apakah si pemanas sudah mati, akhirnya kami menghabiskan waktu lima belas menit di dalam rumah. 

Akhirnya, perjalanan berlanjut kembali. Kira- kira berjalan sekitar satu setengah jam, kembali adik saya berkata bahwa dia butuh pipis. "Sumpah deh, kamu tu kayak nenek tua ber-kandung kemih soak. Jangan- jangan kamu  berpenyakit serius dan udah mau mati," komentar saya serius. 

Adik saya menjelaskan bahwa hasrat ingin pipisnya 'berkaitan dengan mental'. Jadi setiap hendak bepergian jauh, otaknya langsung mengolah data bahwa dia harus sesering mungkin pipis, daripada sudah terlanjur kebelet dan tidak bisa menemukan toilet. "Ya sudah nanti kalau lihat pom bensin kita berhenti," dengus saya. "Oke," jawab adik saya riang sambil mulai membuka bekal makanan. 

Tak berselang lama, mobil menjadi hening. Saya mengintip dari kaca spion dalam, dan melihat keempat makhluk di bangku belakang mobil sudah terlelap semua dalam damai. "Tuh ada pom bensin, jadi mau berhenti nggak?" tanya si Okhi. Saya menggelengkan kepala. Mumpung para bawel sedang tidur, marilah kita segera memacu gas dan secepatnya melaju. 

Tujuan pertama kami adalah salah satu jalur road trip paling tersohor di Australia, The Great Ocean Road. Sebetulnya cara paling afdol untuk menikmati jalur ini adalah dengan berhenti di berbagai tempat menarik di sepanjang jalur dan kemudian menginap. Pemandangan matahari terbit atau terbenam di lepas pantainya dengan 12 tiang karang yang diberi nama 12 Apostles (12 Rasul dari kisah 12 rasul Yesus, red) adalah sang jawara. Sayangnya karena keterbatasan waktu, kami tidak menginap plus tidak banyak berhenti di berbagai museum dan tempat menarik yang ada disitu. 

Jam sebelas siang, adik saya menggeliat terbangun dari tidur. "Kita sudah mau sampai belum? Aku sudah laper nih, kapan kita makan siang?" "Bentar lagi sampai kok," jawab Okhi. 

Sambil membuka- buka bekal lagi, adik saya berceloteh "Aku tu paling susah tidur kalau di jalan. Pinginnya sih tidur, tapi susah kalau di mobil atau pesawat."

Saya dan Okhi berpandangan. "Maklum, anak pungut," bisik saya perlahan.

Jam setengah satu siang, sampailah kami ke mercusuar. Sebelum berjalan- jalan menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, marilah menikmati keindahan sambal teri ciptaan simbah gendut yang khusus dibawa sebagai bekal.



Persaingan sengit terjadi karena tidak ada yang mau membawa si magic jar. Menurunkan pamor itu namanya

I hate you. I hate you more. I hate you most. I hate you for eternity.

Tempat ideal untuk foto prewed


Titanic. Versi simpanse

Oh iya, ini mercusuarnya # memang saya ini penulis travelling yang handal 

Do you know if black box is actually orange?

Setelah puas menikmati mercusuar, Okhi mengajak untuk mampir di air terjun sangat indah sekali yang layak masuk tujuh keajaiban dunia

Seindah keran bocor 

Rapat di bawah air terjun #mencari cara supaya harta warisan dibagi segera

Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya sampailah kami di 12 Apostles yang tersohor. Bulan Desember adalah musim panas, tetapi tetap saja angin bertiup dengan hebohnya, membuat pening kepala. Bahkan di tengah teriknya matahari dan ributnya ratusan pengunjung, saya harus mengakui bahwa pemandangan tebing berpantai di situ memang ciamik. "Beach mama, beach!!!" teriak Sera menunjuk ke pantai yang berada di bawah. Aih, kalau saja kami tidak terburu- buru, pasti saya ajak Sera turun menyusuri pantai. Kali ini, terpaksa Sera hanya menelan ludah saat diajak kembali naik ke dalam mobil. "Sori Sera, besok ya ke pantainya. Nanti mama ajak ke playground deh," jawab saya membujuk Sera yang sendu.






Tiang batu yang disebut 12 murid Yesus. Sudah mulai terkikis ombak dan angin, yah, sama juga dengan nasib para murid di kehidupan nyata, wahahahaha #hm, saya mencium bau gosong, snif snif

Pantai yang seharusnya Sera jelajahi....

Gadis cilik yang sendu...

Kalah antrian minyak tanah


Terburu- buru karena kami sudah harus mencapai Ballarat sebelum pukul tujuh malam, mobil pun bergegas kembali dijalankan. Hari yang tidak terlalu menyenangkan bagi si Sera, karena ia tidak mendapat kesempatan bermain sama sekali. Surprisingly, she was very sweet dan menyenangkan. "Kita mau kemana sekarang?" tanya emak saya. 
"Ballarat," jawab saya.
"Itu sudah masuk ke New South Wales?" tanya emak saya lagi. 
"Belum, masih masuk Victoria.
"Itu sudah dekatnya Sydney belum?" tanya adik saya. 
"Sydney itu ibukotanya New South Wales! Jadi ya jelas aja kita belum dekat Sydney, lha wong masih di Victoria! Udah, nggak usah tanya- tanya. Terima aja beres! Percuma juga diterangin capek- capek!" jawab saya gusar. 
"Dia itu emang nyebelin gitu orangnya kalau ditanya," adik saya menerangkan pada suaminya yang mengangguk- angguk mengiyakan.

Jam tujuh malam, sampailah kami di kota kecil Ballarat. Karena musim panas, jadi jam tujuh pun masih terang benderang bak jam tiga sore. Setelah menerima kunci kamar penginapan dan meninjau kamar, Okhi memutuskan bahwa sebaiknya kami segera berjalan- jalan menyusuri Ballarat selagi hari masih terang. Sera yang sudah bersenang- senang di ranjang tingkat, memasang wajah marah dan menolak untuk diajak keluar kamar. "I stay here!" jawabnya. "No car!" Si eneng sudah eneg dengan mobil tampaknya. 

Tempat tidur tingkat yang mempesona si Sera

I sleep here!
Bentuk depan si penginapan

Tukang kebunnya


Peri hutannya

Hama werengnya

Demi membujuk si Sera, sayapun berkata bahwa kita akan menuju ke playground. "Horay," teriak Sera penuh semangat. Dalam hati saya bergumam, "Ah gampang, asal diajak ke taman kan Sera pasti senang." Mencomot brosur yang tersedia di pintu masuk penginapan, saya mencari- cari enaknya kemana ya kami sore itu. "Gimana kalau ke danau ini nih Khi?" tanya saya sambil menunjuk foto danau dengan rumah- rumah perahu yang tampak apik. Menyetir membelah kota, saya berkomentar "Kota tua ya... Tapi nggak se-apik Williamstown yah." Williamstown adalah kota tua bekas pelabuhan tempat kami biasa menghabiskan akhir pekan.



Membaca brosur dengan seksama

Danau mulai terlihat. Saat mencari parkir, terlihatlah playground di sisi kiri jalan. "Playground!!!!" teriak Sera histeris. Saya berpandangan dengan Okhi. Ya sudahlah, namanya juga tadi sudah kadung berjanji membawa Sera ke playground. Kami pun menghentikan mobil di depan playground. Saat bapaknya melepaskan dirinya dari sabuk pengaman, dengan suara tersekat penuh keharuan Sera berkata "Oh thank you Daddy. Thank you... Thank you very much....

Kami semua saling berpandangan. Wah, si Sera berpikir bahwa kami memang benar- benar berniat serius membawanya ke playground rupanya :P. Merasa bersalah juga jadinya... Jadilah satu jam berikutnya dihabiskan untuk menemani Sera yang seperti keledai rabies berlari berputar menjelajahi area playground. Sialnya, angin berhembus dengan kencang. Plus dingin menggigit. Apalagi matahari mulai beranjak turun. Tetapi rasa bersalah sudah berniat menipu seorang balita membuat keempat orang dewasa dengan perut berkerucukan karena lapar ini mengalah. Dan dengan tawakal membiarkan diri mereka dibelai- belai angin jahanam yang membuat bulu lengan berdiri tegak. Bahkan si om dan tante berbaik hati ikut menemani Sera bermain seluncuran. 

Kesurupan melihat playground sebesar kastil


Diupload sebelum dihapus selamanya dari hard disk saya

Berbagai macam unggas di sekeliling playground di pinggir danau #sayang nggak bawa senapan angin

Sera likes it more, though....

Demi ponakan.....

Just right. Tempatnya tidak kesempitan kok....

Demi Sera.....

Bergaya di musim panas 

Kostum ideal musim panas di Victoria

Buta huruf dan tidak sadar ukuran adalah kelebihan beliau...

Sekembalinya ke kamar, saya menyaksikan adik saya mengomeli si Mario dan memaksanya untuk tidur dalam posisi sesuai kemauannya dia. "Nah, sekarang kamu baru bersyukur kan dapat aku. Coba kalau dapet adikku, apa nggak lebih sengsara nasibmu?" kata saya ke arah si Okhi.

"Iya, si momok (panggilan sayang Okhi untuk adik saya) itu bawel banget sih. Kamu ya juga ngatur kapan Mario harus bernafas gitu ya?" tanya Okhi ke arah adik saya. 

"Iya nih, bawel banget kok emang si Vidi ini," jawab Mario, merasa senang karena dibela.  

Tetapi akhirnya rasa kantuk mengalahkan kami semua. Tidurlah kami untuk besok memulai petualangan di kota koboi Sovereign Hill yang tersohor. Note minggu depan karena sekarang saya harus menyeterika baju. Hidup saya memang penuh keglamoran.... 

























4 comments:

  1. Okhi ganteng ya sekarang.. Hihihihi..
    Senangnyaaa roadtrip sekeluarga.
    Senyum-senyum sendiri baca caption potonya. Hihihi.
    Bahagia lihat Sera main di playground..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulilah ada yang menganggap okhi ganteng... Saya pikir selama ini hanya emaknya...

      Delete
  2. wakakaka..... komen dani lebih lucu dari note nya... hayo meg.... mosok kalah sama dani :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masalah selera so... Menyandingkan kata okhi dan ganteng dalam satu kalimat yang sama itu lucu dan kiyut untuk beberapa orang memang XD

      Delete