Monday 21 January 2013

My Monday Note -- Road Trip Sovereign Hill - Canberra

Pagi hari di Rabu yang cerah. Semua bangun dari tidurnya. Rencana untuk hari Rabu ini adalah seharian memuaskan diri berwisata di museum terbuka yang berbentuk replika kota tua di jaman demam emas tahun 1800an dahulu. Kalau melihat di brosurnya sih tentu saja menarik, tetapi seorang teman pernah berkomentar bahwa ya begitu- begitu sajalah, jalanannya berdebu dan panas. Saya penasaran juga ingin tahu, sebagus apa sih si Sovereign Hill yang terletak di Ballarat ini?

Karena sehabis dari museum kami berencana langsung cabut ke Canberra, maka pagi ini juga niatnya sekalian check-out. "Jam berapa ya kita harus check- out?" tanya adik saya sambil bersantai- santai membuka facebook di hape. "Nggak tahu ya, paling- paling juga jam 12an," jawab saya sambil membalik- balik buklet hotel.

Di satu halaman, mata saya tertumbuk pada paragraf bertuliskan Check out information. Disitu tertulis bahwa kami harus check-out paling lambat jam 10 pagi. Watefuk?!!! "Oi rek, kita harus check- out jam 10 lho ternyata!" seru saya sembari melambai- lambaikan si buklet.

Semua orang membeku dalam posisinya masing- masing. Dan tiga detik kemudian semua dengan panik berjumpalitan. "Jam berapa ini?" tanya emak saya. "Setengah sembilan," jawab saya sembari melirik jam di hape. "Tenang, masih banyak waktu, hehehe."

Tetapi tentu saja waktu kami sempit. Maka dengan bergegas kami berbagi tugas. Ada yang segera ke kamar mandi, menggosok gigi dan memercikkan air ke muka agar tampak sedikit lebih segar. Koper- koper masih terbuka dan isinya berhamburan. Makanan untuk bekal belum di-pack. Saya segera bergegas menyelesaikan isu terpenting bagi seorang wanita.
"Aku bagusnya pakai kaos yang mana ya, biar cocok sama rokku?"
"Kamu mau pake rok yang mana?" jawab adik saya.
"Yang bunga- bunga biru. Mana ya rok itu?" tanya saya sembari mulai membongkar- bongkar koper. "Nggak ada e, apa aku lupa bawa ya?" tanya saya lagi dengan bingung.

Kemudian terdengar suara tertawa geli dan kami menoleh ke arah sumber suara.

Si pencuri rok emak

Menangkap si pencuri yang berusaha kabur

Eniwei, dengan sedikit keajaiban, jam sepuluh kurang seperempat kami sudah berhasil mengemasi semua perbekalan, sudah sikat gigi dan mencuci muka dan siap untuk check out. Saya dan Okhi menuju ke kantor administrasi untuk mengembalikan kunci. Petugasnya, seorang wanita pirang, dengan ramah menerima kunci kami dan menjelaskan tentang Sovereign Hill. "Ok, have fun and have a nice day," kata si petugas. Nggak pakai acara mengecek dulu kamar kami untuk melihat apakah ada handuk atau keset yang dicuri para tamu :P.

"Thank you and merry Christmas," jawab Okhi sambil tersenyum.

Tertegun sejenak, si petugas buru- buru menjawab salam kami dan kemudian dengan nada berbisik berkata "Yang datang kesini kebanyakan turis asing dan kami tidak tahu mana yang merayakan natal dan mana yang tidak. Jadi untuk amannya kami tidak mengucapkan selamat natal."

"How about saying happy holiday then?" jawab saya.

"Aaa, good idea indeed! That's easier!" jawab si petugas sambil tersenyum.

Wokeh, sesuai petunjuk ibu petugas, kami beranjak menuju ke Gold Museum yang terletak di seberang Sovereign Hill. Tiketnya sudah termasuk satu paket dengan tiket Sovereign Hill. Museumnya biasa saja sih, tapi lumayanlah kalau hanya sekedar untuk berfoto.

Di museum emas, dan ini yang ditemukan si Okhi @_@



Biji emas, semacam inilah bentuknya

Dan tentu saja, di balik kisah glamor berbagai logam mulia dan berlian, selalu tersimpan kerja keras, kondisi kerja yang berat dan.... pekerja anak- anak....

Di bawah tanah dengan ditopang tiang- tiang begini......


Next time you wear your precious gold necklace, remember their face, hihihi


It was a teenager face

Penjelajahan museum kira- kira membutuhkan waktu paling lama sekitar satu jam lah. Sehabis itu, kami beranjak memasuki yang namanya Sovereign Hill. Menyerahkan tiket masuk, saya melihat bahwa sekeliling saya dipenuhi orang- orang bertampang... Cina, Korea dan India. Tehehehe, benar juga kata si petugas, isinya turis asing semua, kagak ada bulenya XD.

Jadi, garis besarnya, Sovereign Hill adalah semacam replika dari kota di jaman demam emas di tahun 1800an. Memasuki kompleks kota, saya jadi teringat gambaran Laura Ingals di Little House In a Prairie. Jalanan berdebu selebar kurang lebih lima meter, diapit deretan bangunan- bangunan yang mengingatkan pada film koboi di televisi.


Peta kompleks kota 

Sewaktu menulis tentang jalanan berdebu yang diapit deretan bangunan kuno, saya mencari- cari foto di folder Ballarat yang berisi ratusan foto, berusaha mencari satu saja foto yang bisa memberi gambaran tentang tempat yang saya ceritakan ini. Sayangnya, semua foto dikotori oleh penampakan orang- orangan sawah narsis yang memaksa berada di setiap frame. Note to you: kalau bepergian, masing- masing pihak wajib membawa kameranya masing- masing, karena sementara anda tertarik untuk mengabadikan keelokan tempat yang didatangi, ada beberapa manusia yang yah, memberi arti baru bagi istilah jatuh cinta pada pantulan bayangannya sendiri

Bayangkan kondisinya tanpa dua disturbing images di bagian tengah foto

Bangunan bengkel pandai besi #dengan dua lalat yang kebetulan melintas

Tetapi di kota koboi yang mendebarkan hati, bukan gadis cantik bergaun mekar atau koboi gagah yang menarik minat suami saya yang jantan dan perkasa.

"Could I have one sausage roll, please?"
Langsung jadi yang pertama antri di toko kue  yang berdesain kuno

Tetapi tentu harganya mengikuti currency yang berlaku saat ini di jaman modern...
Manusia memang suka berlaku seenaknya.... 

"Lumayan juga nih museum, serius membuat replikanya," pikir saya sambil mengamati bagian dalam sebuah bangunan berjudul kantor pos. Kemudian, di depan saya berlenggang sepasang manusia yang membuat saya mengarahkan kamera dan menjepretkannya.

Sepasang manusia dengan baju ala Laura Ingals melintas

Dan kemudian, semakin banyak makhluk- makhluk sejenis bermunculan. Ohoho, ternyata mereka adalah para figuran yang memang sengaja diadakan untuk menambah kesan original. Mereka berseliweran, masuk keluar toko, saling menyapa dan menggoda (orang ostrali sudah genit semenjak dulu) dan ternyata oh ternyata, sama sekali tidak keberatan dihentikan sejenak untuk diajak berfoto.



Beberapa bangunan adalah toko yang benar- benar menjual barang aneh2 (dengan harga yang lebih 'aneh') dengan penjual berbusana baheula

Si lady sibuk mondar- mandir, toh dengan ramah berhenti dan berpose saat kita minta

Um, is it only me atau anda juga tiba- tiba merasakan kebencian tak beralasan pada motif pelangi bergaris- garis? I wonder why....


Oya, salah satu atraksi populer tentu saja mendulang emas di sungai yang dengar- dengar beritanya diguyur butiran- butiran kecil biji emas oleh pengelolanya untuk membuat wisatawan bahagia merasa menemukan sisa- sisa emas.

Kalau ada yang penasaran akan perasaan seekor kerbau saat membajak sawah.... 

Saya ngapain dong? Jadi kuli panggul bagi Sera yang pingin melihat domba butut yang sedang pipis dan eek 

Jadi, bagaimana kesimpulannya akan si kota koboi ini? Oke banget, terutama kalau anda orang yang suka narsis berfoto atau yang senang dengan sejarah dan kehidupan di masa lampau. Untuk anak kecil juga cukup oke. Hanya, karena jaraknya cukup jauh dari Melben dan harga tiket masuknya lumayan menguras kantong dan air mata, maka saran saya adalah datanglah pagi- pagi, jam 10 saat mereka mulai buka. Semakin siang, pengunjungnya ramai beud. Jadi bikin galau, ini mengunjungi kota koboi atau sedang antri pembagian BLT. Yang kedua, jangan ragu untuk mengajak berpose semua orang yang berkostum jadul. Mereka memang digaji untuk itu, jadi bertanyalah saja dengan sopan "Would you mind taking a picture with me?" #saya sih nggak tertarik, soalnya cinta saya hanya pada Okhi seorang.....

Oya, karena lokasinya yang terbuka dengan jalan- jalannya yang berpasir, memang ini obyek wisata yang skala kenikmatannya sangat tergantung cuaca. Bila cuaca terlalu panas, dingin atau berangin kencang, alamat pening kepala. Masalahnya, Victoria adalah negeri empat musim dalam satu hari, jadi bila anda pengunjung dari Indonesia dengan waktu berkunjung yang terbatas, pasrah saja dan banyak berdoa, huehehehe. Siapkan koyo cabe sajalah.

Jam tiga siang, puas menjelajah dan tampaknya si Sera sudah mulai mengantuk, segeralah kami bergegas. Tujuan selanjutnya: tujuh jam perjalanan ke Canberra. Canberra itu adalah ibukota Australia, kota buatan yang terletak di antara Sydney dan Melbourne. Kota ini didirikan sebagai bentuk kompromi, gara- gara Sydney dan Melbourne bersaing sengit memperebutkan titel ibu kota hingga siap saling bacok.

Pemandangan sepanjang jalan adalah bentangan padang rumput maha luas dengan bukit dan lembah yang dihiasi bintik- bintik hitam para sapi yang sedang merumput.
"Kok pagarnya pendek semua gitu ya, apa nggak lompat sapinya?" tanya adik saya.
"Kalau sapi sini itu punya sopan santun, nggak suka nerabas pagar kayak sapi di kampungnya Simbah," jawab saya yakin.
"Itu semua pagarnya dialiri listrik..." kata Okhi kalem.
"Oooooo..."

Perjalanan mulai jam tiga sore hingga jam sebelas malam membuat saya bisa menikmati pemandangan mulai dari siang masih benderang, matahari mulai terbenam hingga keremangan malam menjelang.


Pemandangan standar di Victoria dan Australian Capital Teritorry

Menjelang matahari terbenam

When sun has gone to bed

Apapun cuacanya, Sera tak pernah mati gaya

Ohya, kalau anda berjalan- jalan ke daerah sekitaran Melbourne, biasanya akan banyak papan bertuliskan hati- hati binatang liar melintas atau nomer telepon yang bisa dihubungi bila kita melihat wombat cedera atau tertabrak mobil kita. Sejauh ini, yang pernah saya lihat tergeletak dalam kondisi tak bernyawa adalah possum dan wombat (sebesar anjing lah). Giliran jalan antar kota antar provinsi, kangguru berbagai ukuran, ibu dan anak, rubah dan aneka hewan lainnya banyak menghiasi pinggir jalan tol.

Mungkin ada selusin kangguru yang kami lihat dalam perjalanan ke Canberra
Biasanya, hewan- hewan ini melintasi jalan raya saat senja, disaat jarak pandang para pengemudi buruk, ditambah kecepatan yang minimal 100 km/ jam. Yuck. Poor (not so) little things.

Menjelang jam tujuh malam, kami mulai gelisah. Dimana ini restoran???? Dimana ini pom bensin untuk membeli bensin dan pipis? Kemudian kami melihat papan petunjuk yang tampak menjanjikan surga dunia. 15 menit lagi, begitu tertulis di papan itu. Sepuluh menit kemudian, karena ada satu ruas jalan tol yang sedang diperluas, maka papan petunjuk jalan mengarahkan kami memasuki sebuah kota kecil. "Ayo sambil lihat- lihat, ada restoran nggak," kata si Okhi.

Mata mendelik melihat kesana kemari. Banyak restoran dan kafe dan kemudian kami juga menemukan surga dunia yang dijanjikan papan petunjuk. Tapi, semuanya tutup karena sedang masa libur natal. Mampus deh! Tinggal tunggu sebentar lagi, Sera bakal mulai bernyanyi kelaparan.

"Ya sudah deh, pasrah saja..." kata saya dengan lesu. Dan kemudian berkata ke adik saya "Kalau kamu kebelet pipis, nanti kita berhenti di semak- semak. Semoga nggak dibumerang orang Aborigin ya."

Melanjutkan perjalanan dengan lunglai. Dan kemudian, di pinggir jalan ada papan bertuliskan KFC dan pom bensin. Hati mulai lagi bergejolak, tetapi ragu- ragu, takut ditipu lagi dan ternyata bangunan KFC nya sudah dibuldozer. Dan kemudian.... diterangi cahaya surgawi yang dihasilkan puluhan lampu neon, tampaklah pria tertampan di dunia yang membuat mata kami semua berkaca- kaca bahagia.


Seharusnya beliau sudah naik pangkat menjadi Jenderal Besar karena jasanya bagi kemanusiaan

Menggenggam bungkusan besar penuh berisi ayam berbagai jenis dan kentang, serta sebotol besar pepsi (bagian dari paket, padahal kami bukanlah peminum soda), saya berdiskusi serius dengan Okhi. Masalah hidup mati. Apakah mau makan di restoran atau mau makan sambil jalan saja?

Akhirnya, kami memutuskan untuk makan sambil jalan saja, agar si eneng tidak bosan. Oh boy, how good was 3 dollars coffee after 4 long hours beside your husband...

Langsung kembali ceria sesudah disentuh cinta kasih pak kolonel

Jam sebelas malam. Sampailah ke penginapan, sebuah service apartment dimana kita bisa memasak dan mencuci baju. Ya ampun, lega sekali rasanya.... Langsung berebut ingin mandi dan segera merebahkan diri.

Lumayan, ada dapur, kamar mandi, tempat mencuci

Aahh, adakah yang lebih indah daripada pemandangan keluarga yang duduk bersantai di sofa bersama- sama?Banyak....

Pagi harinya, lagi- lagi kami harus langsung check out.Dan lagi- lagi di brosur tertulis check out jam 10. Mungkin memang penginapan di Australia rata- rata mempunyai waktu check out lebih pagi dari Indonesia.

Berkendara membelah Canberra."Buset deh, ni kota nggak bisa lebih sepi lagi gitu?" gumam saya. Semua tampak hening dengan deretan gedung perkantoran. Menarik sekali... bagi pensiunan. Tak heran tetangga sebelah rumah mengernyitkan kening saat saya menyatakan rencana mengunjungi Canberra. "Kamu mau lihat apa disana?" tanyanya.

Berhubung kalau hanya mau lihat gedung- gedung tua, Melbourne lebih yahud, sejak awal saya langusng memutuskan akan menuju ke Cockington Garden, taman miniatur berbagai bangunan di dunia. Setengah bangunannya adalah aneka model bangunan di Inggris sonoh. Yah, namanya juga persemakmurannya Inggris, jadi wajib dong hukumnya menunjukkan dedikasi pada negeri leluhur. Long live the queen!!!

Eh ada Borobudur... Jadi ingat rencana menginap di hotel butik nan mahal di Magelang #ah, semahal- mahalnya ya nggak mahal lah, toh 1 dolar Australia = 10 rebu... #ternyata kursnya si hotel dolar juga, yeah :( USD 350 dolar, tetep wae mahal. Gombal pisan tuh hotel #ekspatriat kere numpang ngedumel 

Oya, membaca brosur taman ini, saya bergairah saat melihat ternyata ada tiruannya Machu Pichu, my long desire dream to go... Mungkin kalau sudah melihat miniaturnya, gairah akan kembali terpacu dan segera mulai menabung.


Yaelah, ternyata tiruannya si Machu Pichu hanya serupa kuburan cina habis digusur.....


Salah satu bangunan gaya Tudor yang banyak juga terdapat di Melben


Persiapan sebelum pertunjukan topeng monyet 


Kalau ada yang mau demo.....

Dari sekian banyak miniatur,apa favoritnya Sera?

Sampai terkantuk- kantuk menunggu si kereta kecil


Here comes the train.....


Penantianku usai sudah....

Toiletnya dibangun oleh pembenci wanita

Oh well, kepala saya sudah pening nih membuat note ini.Maklum, tiba- tiba bos memanggil menyuruh masuk di hari senin.Antara malas kerja tapi kok ya 200 dolar itu bisa untuk belanja satu minggu..... #dilema


No comments:

Post a Comment